Artikel

Living between Truth and Social Media

“Eh, baca berita sepanjang minggu ini ga? Soal demo-demo yang mau dibikin terus sepanjang masa pilkada ini? Gw baca banyak yang ngeshare pas lagi baca-baca FB.” ujar Pipi memecah keheningan suatu ruang berkumpul.

“Iye tu. Ah gila. Ga mungkin lah itu demo bisa terus-terusan tiap minggu. Isunya doang lah.” sahut Koko tampak sangsi.

“Bisa lah itu. Lu ga tau aja ada praduga-praduga yang bilang di balik itu tu ada yang danain.” argumen Sese yang tampak sangat meyakinkan.

“Tau dari mana lu, Se?” Pipi menyeletuk.

“Ada lah berita-beritanya. Yang analisis juga banyak. Lu bayangin, demo tu habisin waktu berjam-jam. Lu cuti kerja atau bahkan bolos. Kalo yang udah berkeluarga, emang ga mikirin anak istri gimana untuk kasih makannya? Kalo praduganya bener dapat dana, uda pasti orang demo terus-terusan juga ga masalah.”

“Hm.. Tapi ya, emang suasana lagi pas sih. Pilkada gini, bisa jadi “ladang” demo berkali-kali.” Maman turut mengonfirmasi apa yang diungkapkan Sese.

“Hm…” Lili tampak mengangguk-angguk mendengarkan cerita-cerita dari teman-temannya yang lain.

“Eh, lu orang baca berita dari mana dulu nih?” secara mendadak Henhen menyelutuk dengan sangat nyaring.

“Kenapa? Lu mau ikut demo, Hen?” goda Sese.

“Kaga. Gw cuma mau pastiin kalau dapat berita tuh yang bener. Sumbernya yang bener, jadi jelas bisa dipercaya sebagai informasi apa engga. Belajar di dunia yang penuh informasi ini biar ga salah percaya.”

“Itu yang beberapa bulan lalu, soal makar-makar itu juga banyak hembusan beritanya. Yang ngomong tu dari yang berwenang loh. Disiarin live di TV-TV waktu pernyataan itu dilontarkan lagi.” tambah Pipi.

“Iya.. Kalo yang uda gitu sih bisa lah dipercaya. Cuma gw berusaha memilah-milah sumber-sumber informasi biar gw ga asal telen informasi begitu saja.”

“Hm…” Lili kembali mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai tanda sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Henhen.

“Ya.. itu emang mesti. Kalo dari website abal-abal gitu, ngapain lu baca. Apalagi broadcast-broadcast ga jelas gitu kan. Lihat aja kemarin pas demo yang malamnya ricuh. Banyak juga berita yang asal-asalan ga bisa dikonfirmasi. Cuma bikin suasana makin panas aja. Informasi banyak, tapi tetep harus konfirmasi dulu infonya bener atau ga.”

“Iya, Se. Lagian dunia internet tuh bikin orang makin banyak dan cepet dapat info. Jadi kayak bisa tau banyak hal.”

“Apalagi smartphone di tangan dan kuota cepet. Lu mau info apa, juga ada. Lu mau tutorial bongkar handphone lu juga ada.” sela Pipi.

“Ya.. Tapi, internet cepet buat ape? Banyak informasi buat ape? Itu info bisa terlalu banyak sampe jadi kayak sampah malah. Kita tu uda “Information overload”. Informasi yang kita tahu itu sama dengan pengetahuan kita?” celetuk Koko.

Perkembangan teknologi komunikasi dari masa ke masa, dapat dikatakan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Melalui internet, setiap perangkat gadget dapat menciptakan komunikasi antarmanusia menjadi semakin mudah. Maka, proses “mengoper” informasi terasa sangat cepat, singkat, dan praktis. Internet pun menyediakan berbagai fasilitas yang dapat digunakan oleh setiap orang untuk membagikan maupun mencari berbagai informasi.

Melalui kemajuan internet ini, keadaan sosial manusia di dunia perlahan-lahan menjadi berbeda, apalagi dengan kehadiran media sosial. Media sosial sejatinya sudah ada di awal tahun 2000. Akan tetapi, karena keterbatasan kemampuan gadget dan sulitnya jaringan internet masa itu, media sosial masih sangat terbatas. Dengan perkembangan akses internet yang semakin luas menjangkau berbagai belahan dunia, media sosial semakin berkembang. Hal ini disertai juga dengan perkembangan perangkat gadget, melalui perangkat smartphone. Maka, Voila! Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Media sosial pun menjamur ke semua kalangan manusia dan tak terbendungkan lagi.

Perkembangan media sosial ini tentu dimanfaatkan sebagai “peluang bisnis” dan pembentukan “minat” sosial manusia. Dahulu pemberitaan disebarkan melalui media cetak, lalu perlahan-lahan beralih ke dunia maya. Hal ini karena akses lebih luas yang ditawarkan oleh internet, sehingga dapat “menangkap” lebih banyak pembaca. Akibatnya, pembaca pun semakin beralih mencari informasi di dunia maya, karena dianggap cepat, praktis, dan dapat diakses di mana dan kapan saja. Media sosial yang sudah mempunyai massa sangat banyak dan melimpah ruah menjadi suatu “ladang basah” untuk promosi. Media sosial dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi dan menarik para pembaca agar mengakses ke portal media tertentu. Dengan sejumlah biaya, para pemilik portal media dapat membuat media sosial memprioritaskan informasi dari portal mereka di dunia maya.

Maka, media sosial saat ini bukan sekadar media untuk membagikan kegiatan-kegiatan, bukan juga sekadar stalking apa yang doi kerjakan belakangan ini, media sosial menjadi suatu lahan untuk mendapatkan dan mencari informasi, mengetahui berbagai opini-opini atas informasi tersebut, baik dari pakarnya maupun sekadar opini dari orang-orang “biasa”. Bahkan media sosial bisa “mempromosikan” informasi yang sedang booming dan paling sering dicari oleh setiap orang. Dan tentu, media sosial pun saat ini menjadi sarana informasi dan pengetahuan yang semakin booming digunakan oleh netizen (para “penduduk” dunia internet) untuk mendapatkan dan menggali informasi. Keunggulannya adalah akses yang lebih cepat dan terkadang “melimpah” dibanding pemberitaan dari media massa lain, meskipun pemberitaan tersebut sarat dengan pemberitaan yang tidak benar (dikenal dengan kata hoax).

Dalam sebuah kasus nyata dan unik di pilpres negara adikuasa yang lalu misalnya. Mereka memunculkan tudingan salah seorang tim pemenangan mengenai kekalahan kandidatnya, yang disebabkan oleh media sosial paling popular di dunia saat ini. Media sosial tersebut dikatakan mempunyai perhitungan algoritma yang dapat membaca pola dan kesukaan pengguna media sosial, sehingga hanya akan memunculkan berita-berita yang sesuai dengan keterkaitan si pengguna. Apabila masyarakat menyukai seorang kandidat dan terus-menerus membuka informasi mengenai kandidat dukungannya, maka algoritma media sosial tersebut akan terus-menerus hanya memprioritaskan berita-berita terkait yang muncul di timeline akun pengguna. Hal inilah yang diprotes karena menjadikan media sosial tersebut sebagai alat untuk mengendalikan opini publik dengan memunculkan hanya kelebihan sang kandidat dan tidak memunculkan sisi keburukannya.

Fakta-fakta di atas membuat kita melihat dan mulai mengerti bahwa dialog di atas (pada bagian awal artikel) akan sering kita jumpai di berbagai tempat dan setiap lapisan masyarakat. Akan tetapi, apakah kondisi media sosial saat ini dapat menjadikan kita seseorang yang kaya akan pengetahuan akan dunia ini? Atau kita hanya menjadi orang-orang yang menerima, menyerap berbagai informasi, lalu menjadikan kita “information overload” dan tidak membawa kita ke mana-mana? Apakah seiring dengan informasi yang semakin banyak kita ketahui, menjadikan kita seorang yang berpengetahuan? Kalau ini benar, tanpa diragukan lagi, mbah Google adalah orang yang paling berpengetahuan di dunia. Jika informasi yang banyak menjadikan kita makhluk yang berpengetahuan, apa bedanya kita dengan mesin pencari Google? Bahkan kita lebih “cupu” dibanding mbah Google yang adalah benda mati.

Pengetahuan saat ini dianggap sebagai upaya manusia untuk mengerti tatanan alam yang ada di dunia ini serta mengungkap rahasia-rahasia yang ada di baliknya. Akan tetapi, bapa gereja Agustinus menyatakan bahwa pada dasarnya rangkaian upaya-upaya tersebut akan sia-sia apabila Allah tidak berkenan membukakan kebenaran itu dan memberikannya kepada manusia. Sehingga upaya-upaya pencarian yang dikerjakan manusia hanya bersifat sebagai wadah-wadah yang manusia “sediakan”. Selanjutnya, saat Allah Roh Kudus mengisi wadah-wadah tersebut dengan kebenaran-Nya, saat itulah rahasia alam pun disingkapkan kepada manusia dan manusia baru dapat mengerti dunia yang diciptakan oleh Allah. Inilah yang menjadi dasar pengetahuan, yaitu Allah yang berinisiatif memberikan kebenaran kepada manusia. Pengetahuan yang sejati (true knowledge) adalah saat kebenaran-kebenaran itu dinyatakan, kita dapat mengontemplasikannya di hadapan Allah yang sejati dan berdampak terhadap hidup kita.

Bagaimana seseorang melakukan kontemplasi di hadapan Allah? Sebuah kalimat sederhana yang cukup sering kita dengar ketika menyinggung Calvin, yaitu “Mengenal Allah, mengenal diri. Mengenal diri, mengenal Allah.” Inilah yang menjadi dasar kontemplasi kita di hadapan Allah. Ketika kita mengenal Allah maka kita dapat mengenal tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita, yaitu menjadi cerminan Allah di tengah-tengah dunia ini dan di sepanjang sejarah. Ketika kita dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab itu dengan benar, maka kita pun semakin mengenal siapakah Allah yang sedang kita “wakilkan” di tengah-tengah dunia ini. Tentu hal ini dapat terjadi apabila Allah yang sejati, yaitu Sang Pengetahuan itu sendiri yang mewahyukan diri-Nya kepada manusia, termasuk menyatakan rencana kekal-Nya untuk dunia ini dari permulaan hingga akhirnya. Sehingga sebagai manusia, kita pun seharusnya dapat belajar mengetahui apa yang “telah”, “sedang”, dan “akan” Allah kerjakan, serta tujuan dari pekerjaan-pekerjaan tersebut.
Lalu, bagaimana dengan kita sebagai pemuda Kristen yang telah mendapatkan kebenaran dari Allah melalui Alkitab? Apakah kita dapat melihat ke mana arah zaman dan dunia pada saat ini? Allah telah menyatakan pemeliharaan-Nya atas umat-Nya sepanjang sejarah dan dengan pemeliharaan itu juga Allah mempersiapkan wadah-wadah yang ada untuk umat-Nya berada. Ketika informasi yang begitu banyak dan mudah untuk didapatkan, apakah kita menganggap hal tersebut sebagai “pengetahuan”? Atau dapatkah kita mengontemplasikannya di hadapan Sang Pengetahuan itu sendiri? Hal ini penting agar kita dapat mengerti pekerjaan Allah saat ini dan melakukan tanggung jawab sebagai gambar dan rupa Allah di zaman ini.

Theologi Reformed percaya bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Dan setiap kebenaran yang dinyatakan kepada manusia, akan dituntut pertanggungjawabannya oleh Tuhan. Jikalau kita, para pemuda Kristen, masih tidak acuh dengan kondisi dunia informasi saat ini, sudah dipastikan kita menjadi pemuda yang tidak bertanggung jawab di hadapan Allah. Ketika kita membiarkan diri dipenuhi dengan berbagai informasi tetapi tidak memikirkan dan menganalisisnya dengan bijaksana, sama saja kita sedang menganggap sepi kebenaran Allah. Pengabaian akan kebenaran akan menjadikan hati kita semakin keras dan tidak peka akan pimpinan Tuhan, ini adalah konsekuensi yang sangat mengerikan. Oleh karena itu di tengah zaman “ledakan informasi” ini, sebagai orang Kristen kita harus memohon dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan untuk memberikan kebijaksanaan dalam meresponi informasi. Dan dengan kebenaran Allah serta pimpinan Roh Kebenaran, kita memfilter atau memisahkan informasi yang salah dan informasi yang benar. Sehingga hidup kita bukan diisi dengan hoax atau sampah, tetapi menjadi hidup yang terus diisi dengan kebenaran Allah . Dengan demikian, panggilan kita sebagai wadah kebenaran tergenapi.

Lydia Salim & Paulina Prasetyo
Pemudi FIRES

Lydia, Paulina Prasetyo

Januari 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲