Artikel

Loving Our Enemies and Christian Nationalism

“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Mat. 5:43)

Manusia diciptakan sebagai makhluk berpribadi, sehingga memiliki sifat sosial. Manusia secara natur, butuh membangun relasi dengan manusia lainnya. Sebagai pribadi, manusia juga memiliki pendirian yang unik secara individu, namun bukan sebagai pribadi yang individualis. Melalui relasi manusia dengan manusia lainnya, manusia menjadi pribadi yang bermakna atau signifikan. Sebaliknya, semakin manusia mengisolasi dirinya, manusia akan menjadi pribadi yang kehilangan signifikansi diri. Ini adalah natur manusia sebagai makhluk sosial.

Relasi antarmanusia di dalam sebuah komunitas dapat terjadi saat relasi keunikan setiap pribadi saling melengkapi satu dengan lainnya terjadi. Di dalam relasi yang harmonis ini, kasih menjadi dasar yang sangat penting. Tetapi realitas dosa menjadikan relasi ini sulit harmonis. Natur dosa menjadikan manusia self-centered sehingga sifat egois atau individualis muncul di dalam relasi antarmanusia dan sekaligus menggantikan kasih sejati dengan kasih yang tertuju kepada diri. Konflik kepentingan pribadi terjadi di dalam relasi seperti ini. Saat konflik terjadi, kasih kepada diri menjadi utama dan kasih kepada sesama berubah menjadi kebencian. Karena itu, membangun sebuah relasi yang saling mengasihi jauh lebih sulit dibanding merusak sebuah relasi dalam kebencian. Akhirnya pengalaman manusia mengajarkan kita, bahwa diperlukan waktu bertahun-tahun untuk membangun suatu relasi, tetapi sering kali hanya perlu satu kata yang salah untuk merusaknya.

Munculnya kebencian di dalam manusia berelasi jelas berakar dari sifat manusia yang egois atau individualis. Karena itu, perbedaan ideologi, budaya, atau karakter sangat mudah dapat menjadi penyebab munculnya kebencian. Hal inilah yang menjadi isu dalam kehidupan bernegara di Indonesia saat ini. Perbedaan (diversity) dilihat sebagai ancaman karena perbedaan ini dianggap dapat menjadi penghalang terpenuhinya ambisi atau keinginan diri. Perbedaan ras atau agama bahkan perbedaan pandangan dalam agama yang sama pun, dianggap sebagai sebuah penghalang yang harus dihilangkan agar dapat mempertahankan keunikan pribadi atau homogenitas. Inilah salah satu cara pandang yang diajarkan oleh dunia ini, kesatuan hanya dapat terealisasikan saat semua manusia seragam mengikuti suatu ideologi yang sama dan tidak ada ruang bagi perbedaan. Di sisi lain ada cara pandang yang menekankan perbedaan tetapi dengan jalan kompromi dan bukan dengan mencari harmoni, sehingga sikap mengasihi hanya ditafsir dengan cara kompromi terhadap ideologi lain.

Alkitab mengajarkan kepada kita agar senantiasa berdiri teguh dalam mempertahankan iman kita dan tidak berkompromi terhadap dunia. Namun di sisi lain, kekristenan pun tetap memberikan ruang bagi perbedaan pandangan, bahkan seseorang yang dikategorikan sebagai musuh sekalipun. Berikut ini kita akan membahas bagaimana kasih yang sejati dinyatakan tanpa menghilangkan keunikan, serta bagaimana kebencian yang alkitabiah sebagai wujud dari kasih yang sejati itu. Kasih yang sejati seperti inilah yang akan menjadi fondasi dalam membangun nasionalisme Kristen yang unik dan sekaligus menjunjung tinggi keberagaman.

Loving Our Enemies
Cinta kasih dalam kekristenan bukanlah sekadar perasaan atau sebuah perjanjian tak tertulis untuk saling “baik-baik saja” atau sebuah konsensus di antara kedua belah pihak untuk tidak saling mencampuri urusan satu sama lain atau semacam perilaku saling memerhatikan. Kasih di dalam Alkitab dinyatakan sebagai pribadi. Allah adalah kasih. Kasih yang personal ini dinyatakan melalui kerelaan Allah Bapa yang memberikan Anak-Nya yang tunggal bagi kita – manusia berdosa, manusia yang telah mengkhianati kasih Allah, mengkhianati Allah. Kasih ini juga dinyatakan melalui Allah Anak yang rela berinkarnasi dan memberikan nyawa-Nya bagi kaum pilihan Bapa yang tidak mampu mengasihi-Nya kembali sebagaimana kasih yang telah diterima oleh mereka. Kasih juga terus dinyatakan di dalam karya Allah Roh Kudus yang tiada henti-hentinya, mulai dari melahirbarukan kita, membangkitkan kekaguman kita akan Allah, menuntun kita kepada kebenaran, menyadarkan kita akan dosa, memimpin kita kepada pertobatan demi pertobatan, bahkan dengan setianya menguduskan kita dari hari ke hari sambil rela terus didukakan oleh kebebalan kita yang berdosa ini. Inilah kasih, kasih itu memberikan dirinya untuk disakiti, dilukai, dikhianati, dan dimusuhi, demi membangun yang dikasihinya. Kita mungkin dapat dengan mudah mengamini dan mengucap syukur akan kasih seperti ini. Semua ini terasa mengharukan dan indah, karena kita berada di pihak penerima kasih, dan Allah ada di pihak yang disakiti. Tetapi ketika realitas dibalik, semua kesan yang indah itu akan menguap, semua kebanggaan itu akan lenyap, semuanya akan diganti dengan air mata dan kemarahan yang tiada habis-habisnya. Kemarahan dan kesedihan seperti ini pasti mempunyai sisi kebenarannya. Pembenaran ini akan ditunjang penuh dengan rasionalisasi yang dihasilkan oleh natur berdosa manusia, sehingga semuanya akan terdengar sangat rasional dan terkesan benar. Kemarahan yang ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kita sedang menghadirkan sifat keadilan Allah. Melalui kemarahan, kita ingin menyatakan keadilan Allah. Walaupun di balik semua itu, alasan paling mendasar adalah, “Saya telah menjadi korban, saya sudah diperlakukan tidak adil! Saya tidak terima! Saya tidak rela!” Sebenarnya fokusnya terletak pada “saya” dan bukan “keadilan Allah”.

Kasih dan keadilan memang menjadi sulit dipadukan ketika yang harus mendapat kasih adalah yang melakukan ketidakadilan. Coba tanyakan bagaimana mengasihi musuh, kepada korban pemerkosaan Mei 1998. Coba tanyakan bagaimana mengasihi musuh kepada seorang korban fitnah. Coba tanyakan bagaimana mengasihi musuh kepada seorang yang telah ditipu miliaran rupiah. Coba tanyakan bagaimana mengasihi musuh kepada mereka yang telah merasakan kejamnya kehidupan. Coba tanyakan bagaimana mengasihi musuh kepada mereka yang telah tertikam, kepada mereka dengan bekas luka yang dalam di hati. Jangankan mengasihi, untuk memaafkan saja kita akan butuh waktu yang tidak sebentar. Kita tahu persis apa alasan logis untuk memaafkan, namun hati kita tidak ingin, tidak rela melepaskan kemarahan itu. Namun sebagai orang Kristen, kita harus dapat merelakan kebencian yang berdosa ini. Kita harus belajar untuk mengasihi musuh kita seperti yang diajarkan oleh Alkitab, karena itulah teladan yang diberikan Allah kepada kita sebagai pengikut-Nya.

Jikalau kita menelusuri kembali Matius 5:43-48, perintah untuk mengasihi musuh diberikan bukan agar kita diterima Allah. Ini juga bukan perintah yang dijalankan agar kita memperoleh imbalan atas keberhasilan kita. Justru kebalikannya, kita adalah orang-orang yang sudah diterima oleh Allah sewaktu kita masih menjadi seteru Allah. Jadi, kita dahulu adalah musuh-musuh Allah, tetapi Dia menunjukkan belas kasihan-Nya dengan memberikan Anak tunggal-Nya bagi kita, bukankah teladan inilah yang perlu kita hidupi sebagai orang yang tertebus? Sifat mengasihi musuh haruslah merupakan natur dari anak-anak Allah yang telah menerima kasih Allah sewaktu masih menjadi musuh-Nya. Saat kita membenci musuh kita, kita harus mengingat akan hal ini. Sebagaimana Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita yang tidak layak, kasih yang sama harus kita nyatakan kepada musuh kita.

Di dalam Matius 5 ini juga dijelaskan bahwa musuh kita ini adalah orang-orang yang menyakiti, menyatakan perlawanan, atau ketidaksetujuan terhadap kita. Hal ini berarti, musuh kita bukan hanya orang-orang yang secara terang-terangan berbuat tindakan jahat terhadap diri kita, tetapi juga orang yang memiliki cara pandang berseberangan dengan kita. Mungkin kita tidak ada pertikaian secara langsung dengan orang tersebut tetapi secara ideologi orang yang memiliki pandangan berbeda, dikategorikan sebagai musuh yang harus kita kasihi. Inilah kasih yang sejati. Sebagaimana Allah mengasihi kita yang dulu berdosa, demikian juga kita mengasihi musuh-musuh kita.

Hate
Di dalam dunia yang berdosa ini, bukankah adalah hal yang wajar ketika kita melihat ketidakadilan di sekitar kita? Tidakkah kita ingin mengepalkan tangan kita ketika kita melihat ketidakadilan dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam ekonomi, sosial, serta politik yang memanipulasi gejala sosial? Kalau Allah pun membenci ketidakadilan, masa kita tidak? Apakah alasan kita membenci ketidakadilan, serupa dengan alasan Allah? Atau kita hanya menyembunyikan keegoisan di balik alasan yang terlihat sangat rohani ini? Apakah kita membencinya karena ketidaknyamanan yang ditimbulkan bagi diri kita?

Lalu apakah alasan seorang Kristen membenci ketidakadilan dan ketidakbenaran? Alkitab menggambarkan kasih yang sejati mengandung kasih yang juga membenci. Kasih sering kali disalahmengerti sebagai penerimaan atas segala yang terjadi, baik yang benar maupun yang salah. Kasih demikian adalah kasih yang kompromi, karena kasih seperti itu hadir tanpa ada sifat kebencian atas ketidakbenaran di dalamnya. Itu bukanlah kasih yang sejati. Jikalau kita benar-benar mengasihi seorang berdosa, kita pasti akan membenci dosa orang itu dan juga orang yang berbuat dosa itu juga. Kebencian demikian adalah kebencian terhadap kebodohan orang itu dalam berbuat dosa yang selain mendukakan Tuhan, juga merusak orang yang berdosa itu sendiri. Kebencian ini lahir dari kasih kita kepada orang tersebut. Kita ingin orang itu kembali hidup dalam kebenaran. Inilah kasih sejati yang juga mengandung kebencian yang sejati.

Di sisi lain, kita membenci karena kasih kita kepada Tuhan. Kebencian akan segala sifat yang bertentangan dengan sifat Allah merupakan akibat dari mengasihi Allah dan memiliki sebuah relasi pribadi yang dekat dengan Allah. Seperti seorang yang begitu mencintai pemandangan sebuah gunung, akan begitu marah ketika ada sebuah gedung yang berdiri menutupi gunung itu. Ia membenci gedung tersebut karena keindahan pemandangan itu menjadi rusak, tereduksi, dan terganggu. Ketika ketidakadilan dan kerusakan terjadi, kita marah karena manusia tidak lagi menghargai Tuhan, mereka bertindak seakan Tuhan tidak ada. Kita benci, karena Tuhan seakan diinjak-injak dan nama Tuhan tidak dimuliakan. Inilah kebencian yang kudus.

Love, Hate, and Nationalism
Tuhan menciptakan manusia di dalam dimensi ruang dan waktu. Kita ditempatkan di sebuah titik antara deret linear waktu. Kita juga ditempatkan di sebuah titik antara pulau-pulau yang membentang luas di tengah bumi ini. Kelahiran kita di dalam sebuah negara dan pada suatu waktu tertentu, bukanlah sebuah hal yang terjadi secara random, tetapi terjadi dalam kehendak Allah. Maka, kelahiran di dalam suatu ruang dan waktu adalah kelahiran yang juga disertai tanggung jawab yang harus kita berikan kepada Allah. Lalu apa yang harus kita lakukan di dalam masa ini, di dalam negara di mana kita ditempatkan? Kita harus mencintai negara kita. Cinta akan tanah air bukanlah sebuah hal yang bertentangan dengan identitas kita sebagai warga negara sorga atau anak-anak Allah. Sebaliknya, kita dipercayakan untuk mengelola tanah yang kita injak, sebagai sebuah tanggung jawab yang diberikan Sang Raja kepada kita. Allah jelas mencintai dunia ini, dan bila kita mencintai Allah, kita tentu akan berusaha mengerjakan apa yang telah Ia percayakan kepada kita sebaik mungkin.

Sebagai seorang Kristen kita dipanggil untuk menyatakan kasih dan benci yang sejati di tengah negara tempat kita hidup. Kita harus dengan teguh mempertahankan iman kita karena kita mengasihi Allah kita. Kita menyatakan nasionalisme bukan dengan mengompromikan iman kita. Tetapi kita tetap mempertahankan kesejatian iman karena itu adalah wujud kasih kita terhadap Allah. Kecintaan kita terhadap tanah air dimanifestasikan dengan mendukung negara ini dalam menegakkan keadilan dan kebaikan bagi banyak orang. Kita berbagian dalam menyukseskan program-program pemerintah yang bertujuan untuk keadilan dan kebaikan orang banyak. Inilah salah satu perspektif dari kasih yang sejati.

Perspektif yang lain dari perwujudan kasih adalah dengan mendukung pemerintah dalam menghukum setiap oknum yang berbuat tidak adil dan mengganggu ketenteraman masyarakat. Dukungan ini kita berikan karena kasih terhadap kebenaran dan kebencian atas kejahatan, sehingga setiap dosa harus ditindak dengan adil. Hal ini diwujudkan bukan sebagai pelampiasan nafsu dendam kita, tetapi sebagai kasih terhadap kebaikan dari orang banyak, termasuk orang-orang yang berbuat ketidakadilan ini. Karena saat mereka berbuat tidak adil, mereka sedang merusak banyak orang dan juga diri mereka sendiri. Keadilan ditegakkan agar mereka dapat berhenti berbuat jahat dan kembali dalam hidup yang benar.

Di dalam konteks perbedaan, prinsip kasih ini pun mendukung semangat nasionalisme kita sebagai orang Kristen. Kita menghargai keberadaan orang-orang non-Kristen sebagai gambar dan rupa Allah. Pilihan ideologi atau agama adalah hak dari manusia. Sehingga semangat nasionalisme Kristen tidak akan mendorong kita untuk berbuat anarkis terhadap orang-orang yang berbeda pandangan. Justru kita akan secara terbuka berdialog dengan mereka dan menyatakan pandangan kita. Pdt. Jimmy Pardede mengatakan adanya orang-orang lain yang tidak sevisi dengan kita, bukan diselesaikan dengan membasmi mereka. Tetapi sebaliknya, mereka adalah manusia yang harus diundang untuk mengenal Tuhan, untuk menerima kabar baik. Dan ketidakrelaan mereka menerima undangan tersebut tidak menegasikan mereka sebagai gambar dan rupa Allah yang harus dikasihi.
Menjadi seorang Kristen yang merupakan minoritas di negara Indonesia tentunya tidak mudah. Kita dipanggil menjadi orang-orang yang menjadi terang dan garam di tengah-tengah masyarakat, senantiasa memuliakan Tuhan, menjadi pembawa kebenaran meskipun dibenci, mewujudkan adanya buah-buah Roh di tengah masyarakat. Kita dipanggil menjadi penduduk Indonesia, yang mewujudkan cara hidup sorgawi di tengah-tengah masyarakat, yang mengusahakan kehendak Bapa sebagaimana doa yang senantiasa kita ucapkan: “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”

Marilah kita berdoa, meminta Tuhan memberikan kita hati yang ingin menjadi laskar Kristus yang mau dipakai Tuhan untuk berjuang bagi negeri ini. Marilah kita berjuang menjadi lilin-lilin kecil, yang rela dibakar untuk menerangi sekitar. Marilah kita bekerja keras, bersusah payah, bahkan berkorban, melayani Sang Raja. Marilah kita menjadi sebuah pasukan yang senantiasa mengenakan jubah kebenaran, yang terus memuliakan Raja segala raja, sebagai wujud kasih kita kepada-Nya, kepada negara di mana kita ditempatkan-Nya, dan kepada sesama bangsa Indonesia yang Tuhan hadirkan untuk hidup bersama kita di zaman ini. Soli Deo Gloria.

Steffie Jessica
Pemudi GRII Bandung

Referensi:
PA “Roh Kudus dan Radikalisme” oleh Pdt. Jimmy Pardede.
But I Say to You, Love Your Enemies” oleh John Piper di http://www.desiringgod.com.
“Khotbah di Bukit” oleh Sinclair Ferguson.

Steffie Jessica

Agustus 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

Halo Jones, Saya sendiri juga melayani dalam wadah sekolah minggu (SD). Tanggapan singkat saja dari saya. Untuk...

Selengkapnya...

Bagaimana caranya kita menerapkan pemahaman alkitab terhadap anak anak seperti saudara kita yang belajar di mda misalnya

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲