Artikel

Mantan Kriminal yang Diangkat Anak

Dalam khotbah-khotbahnya, Pak Tong seringkali mengatakan, ”Ada anak-anak setan yang sedang indekos di dalam gereja. Dan ada anak-anak Allah yang masih indekos di luar gereja.” Besar kemungkinan banyak orang yang mendengar kalimat ini sulit untuk mencernanya. Mungkinkah ada orang-orang di dalam gereja, bahkan di dalam gereja Reformed, yang bukan anak-anak Allah? Apalagi jika dikatakan bahwa orang-orang yang sudah ‘sibuk’ pelayanan bertahun-tahun belum tentu adalah anak-anak Allah?

Istilah menjadi anak-anak Allah adalah istilah yang sering kali disalah mengerti oleh banyak orang. Bukan hanya orang di luar keKristenan, tetapi justru lebih banyak lagi orang yang mengaku diri Kristen tetapi tidak mengenal ajaran tentang keselamatan itu sendiri. Itu sebabnya banyak orang masih terus hidup di dalam dosa walaupun mengaku sudah beriman kepada Kristus. Sebagian lagi merasa bahwa mereka tidak perlu memikirkan keselamatan karena mereka masih muda dan karena keselamatan hanya berhubungan dengan kehidupan setelah kematian. “Yang penting setelah mati nanti saya masuk surga.” Ini adalah kesalahan fatal. Ini adalah cara Setan untuk menjauhkan manusia dari Tuhan dan anugerah-Nya. Itulah sebabnya mengapa pengertian tentang Doktrin Keselamatan yang benar dalam iman Kristen yang sejati sangatlah penting, yaitu: supaya kita memahami dan menghargai karya keselamatan dari Allah, serta benar-benar menghidupi hidup dalam keselamatan tersebut dengan sikap benar.

Ada 3 kerangka pokok dalam pengertian yang benar mengenai keselamatan: Kesatuan dengan Kristus (Union with Christ), Pembenaran (Justification), dan Adopsi (Adoption). Kesatuan dengan Kristus mencakup sebagian besar dari pengertian dalam Keselamatan. Keseluruhan hidup kita dalam keselamatan dimulai dan ditandai dengan karakteristik kita di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita. Ketika hal ini terjadi, Allah tidak lagi memperhitungkan dosa kita, melainkan kita dibenarkan. Dalam hal ini, Allah menyatakan orang berdosa benar di hadapan-Nya, bukan karena kebenaran yang terdapat dalam dirinya sendiri, tetapi karena kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepadanya melalui iman (Roma 3:22).

Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, bukan hanya hukuman dosa yang mengancam manusia. Akan tetapi juga terjadi perubahan status di hadapan Allah: hubungan kita dan Allah terputus selamanya (indefinitely); kita menjadi seteru Allah. Di dalam karya keselamatan Kristus, bukan hanya hukuman atas dosa saja yang dicabut, akan tetapi juga terjadi pemulihan hubungan manusia dengan Allah: yang tadinya musuh menjadi anak Allah. Inilah signifikansi pengertian kita tentang Adopsi. Doktrin Adopsi dapat dimengerti secara sederhana seperti orang tua yang mengadopsi seorang anak yang tidak mempunyai hubungan darah dengan mereka menjadi keluarga mereka sendiri.

Bilamanakah adopsi terjadi?

Adopsi terjadi bersamaan dengan regenerasi (lahir baru), pembenaran, dan kesatuan dengan Kristus. Sama seperti pembenaran dan regenerasi, adopsi merupakan kondisi seorang percaya yang hidup untuk seterusnya. Ketika Roh Kudus bekerja dalam diri seseorang untuk menghidupkan kembali rohaninya yang telah mati karena dosa (regeneration), maka orang tersebut juga akan mengalami pembenaran (justification), dan pada saat yang sama dia bukan lagi seseorang yang dimurkai Allah, tetapi diterima kembali sebagai anak Allah. Jadi, hanya orang-orang yang dibenarkan dan diregenerasi yang merupakan orang-orang yang diadopsi, begitu pula sebaliknya. Adopsi manusia yang berdosa menjadi anak-anak Allah adalah penyataan dari tindakan Allah yang sudah memilih siapa yang akan diadopsi di dalam kekekalan sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4-5).

Apakah yang terjadi ketika kita diadopsi?

Di dalam adopsi terjadi perubahan, baik status maupun kondisi. Pertama-tama, adopsi mengubah status kita menjadi anak-anak Allah. Kita tidak lagi dianggap sebagai musuh yang harus dibasmi ataupun sebagai seorang terpidana yang terbukti bersalah dan menunggu hukuman mati, namun sebagai anak-anak Allah. Hubungan kita yang original berdasarkan kondisi awal dalam Penciptaan yaitu sebagai anak-anak Allah, telah hilang karena manusia telah memberontak di dalam Adam. Namun ketika Allah mengadopsi kita, kita dikembalikan ke dalam hubungan awal tersebut. Selain itu, Allah tidak lagi melihat kita sebagai manusia yang patut dimurkai, namun sebagai manusia yang berkenan di hadapan-Nya dikarenakan kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepada kita. Kita menikmati hubungan Bapa-anak. Kita tidak perlu lagi melihat Allah sebagai Allah yang murka, tetapi sebagai seorang Bapa yang mengasihi dan menggandeng tangan kita. Ketika diadopsi, kita mendapatkan suatu pengalaman yang tidak mungkin terjadi kepada orang-orang yang tidak percaya (1 Yohanes 3:1).

Apakah dampak adopsi dalam hidup orang percaya?

Yang pertama adalah pengampunan. Kalau ada orang bertanya, ”Di manakah tempat yang layak bagi kita?” Jawabannya adalah salib dan neraka. Tapi kenyataannya, bukan kita yang disalibkan, melainkan Kristus. Karena dosa kita, Kristus harus menderita dan mati disalibkan, tempat yang cocok untuk orang-orang berdosa seperti kita. Allah tidak menimpakan kepada kita hukuman yang seharusnya kita terima, tetapi Kristus yang menerimanya. Dia yang tidak berdosa dibuat menjadi dosa, lalu kita malah menganggap Dia-lah yang dikutuk Allah. Namun oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh, kita mendapatkan pengampunan di hadapan Allah. Semua anak-anak Allah hidup dalam pengampunan di dalam Kristus. Dia membuang jauh-jauh dosa dan pelanggaran kita, dan Dia menunjukkan belas kasihan seperti seorang bapa kepada anaknya bagi orang-orang yang takut kepada-Nya (Mazmur 103:10-14). 

Hidup di dalam pengampunan tidak hanya berarti bahwa kita dibebaskan dari segala rasa bersalah dan hutang karena dosa-dosa kita, tetapi itu juga berarti bahwa kita harus hidup penuh pengampunan kepada orang lain yang bersalah kepada kita. Di bukit Golgota ketika penyaliban terjadi, Yesus adalah satu-satunya yang berhak menuntut hukuman kepada orang lain. Namun Dia-lah justru yang berdoa kepada Bapa-Nya bagi orang-orang yang menyalibkan Dia, ”Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.”

Yang kedua, adopsi membawa pendamaian. Adopsi mengakhiri perseteruan kita dengan Allah. Kalau kita timbang-timbang secara logis, yang perlu berdamai dengan Allah itu manusia, bukan Allah yang perlu berdamai dengan manusia. Karena sejak awal, manusialah yang memutuskan hubungan damai dengan Allah. Manusia memutuskan untuk memberontak terhadap Allah. Dan ketika hubungan manusia dengan Allah terputus, kerugian terjadi di pihak manusia, bukan di pihak Allah. Di dalam keadaan yang demikian, Allah di dalam anugerah-Nya, berinisiatif untuk memulihkan hubungan yang telah dirusak oleh manusia yang berdosa. Dan ini sama sekali bukan inisiatif manusia. (Roma 5:8,10) Pendamaian (reconciliation) bukanlah sesuatu yang hanya sampai pada apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Paulus di dalam IIKor. 5:17-19 menulis bahwa Allah dengan perantaraan Kristus  telah mendamaikan orang-orang beriman dengan diri-Nya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Tidak hanya demikian, Paulus kemudian berkata bahwa Allah di dalam Yesus Kristus telah memberikan pelayanan (berita) pendamaian itu kepada kita, orang-orang yang telah didamaikan dengan Allah. Tidaklah cukup bagi kita untuk berpuas hati bahwa kita sudah didamaikan dengan Allah, tanpa mempedulikan orang-orang yang belum berdamai dengan Allah. Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, “Sudahkah saya memberikan pelayanan berita pendamaian kepada orang lain?” Atau jangan-jangan kita sendiri yang belum berdamai dengan Allah, sehingga tidak ada damai sejati yang bisa kita beritakan kepada orang lain?

Ketiga, sebagai anak-anak Allah, kita menerima kebebasan. Perlu diingat bahwa kebebasan ini bukan kebebasan yang semau gue untuk berdosa, akan tetapi merupakan suatu kebebasan untuk taat kepada Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita tidak lagi menuruti perintah Allah karena suatu ikatan (bondage) atau tekanan (compulsion), di mana kita terpaksa ’taat’ karena takut dihukum. Ini bukan ketaatan, tetapi ketakutan. Banyak orang yang ‘taat’ beragama karena berusaha menghindari hukuman, baik hukuman dari norma-norma agamanya, hukuman dari hati nurani (guilty feeling), ataupun hukuman dari allah yang mereka sembah. Tapi anak-anak Allah taat akan kehendak Allah karena kasih-Nya terlebih dahulu kepada kita, dan kemudian kasih kita kepada Allah sebagai respon yang seharusnya. Inilah kebebasan sejati yang kita terima, bebas mengasihi Allah karena Dia terlebih dahulu mengasihi kita.

Keempat, oleh karena Allah mengadopsi kita sebagai anak-anak-Nya, kita mendapat hak untuk menerima kasih seorang Bapa dari Allah sendiri (Roma 8:16-17). Sebagai ahli waris, kita memiliki akses kepada segala kelimpahan milik Allah Bapa. Dia sanggup mencukupi segala yang kita perlukan menurut belas kasih dan kebijaksanaan-Nya. Hal ini tidak berarti bahwa kita akan hidup di-manja, karena sebagai seorang Bapa yang telah mengadopsi kita, Ia juga akan memastikan bahwa kita hidup di dalam disiplin demi kehendak-Nya agar anak-anak-Nya hidup kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya.

Kelima, melalui adopsi, tidak hanya hukuman dosa yang dicabut, tetapi Allah dalam anugerah-Nya memberikan kita perlakuan baik (goodwill). Jika tidak demikian, ini hanya berarti bahwa kita tidak akan dihukum di masa mendatang, tetapi tidak menjamin suatu perlakuan baik dari Allah terhadap kita. Di suatu malam buta di kota anu, seorang perampok menyelinap masuk ke rumah sebuah keluarga. Tiba-tiba anak satu-satunya di keluarga tersebut terbangun dari tidurnya dan berusaha mencegah perampokan terjadi, tapi sang perampok menusuknya sampai mati. Singkat cerita, perampok itu tertangkap dan dia dijatuhi hukuman penjara 20 tahun. Dia mendapatkan ganjarannya. Bertahun-tahun kemudian, dia dilepaskan dari penjara. Penalti atas tindak kejahatannya sudah dibayar. Pertanyaannya, jika Anda adalah penghuni kota tersebut, atau bahkan adalah orang tua dari anak tunggal yang dibunuh itu, adakah goodwill bagi perampok tersebut? Seorang kriminal yang hukumannya sudah terbayarkan pun belum tentu mendapatkan perlakuan baik dari komunitasnya. Kenyataannya, orang-orang tetap curiga dan sulit mempercayai seorang residivis yang keluar dari penjara. Jangankan goodwill, bahkan hampir mustahil bagi dia untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun tidak demikian dengan kasih Allah. Allah tidak lagi memperlakukan kita seperti seorang mantan kriminal yang telah membunuh Anak-Nya yang tunggal, tapi Ia telah mengaruniakan kepada kita goodwill, dan bukan sekedar perlakuan baik biasa saja, tapi bahkan meng-adopsi kita sebagai anak-anak Allah. Ia memberikan kasih, kepercayaan, dan perlakuan baik-Nya yang sangat kita perlukan sebagai seorang mantan kriminal. Dia tidak menahan sedikit pun segala kebaikan dan kasih-Nya kepada kita, seperti layaknya seorang bapa yang mengasihi anaknya dengan sepenuhnya.

Pewaris Allah, Penerus Misi Allah

Sebagai ahli waris Allah, kita dapat mewarisi segala hak sebagai anak-anak Allah seperti yang sudah dibahas di atas. Namun tidak hanya hak saja yang kita warisi sebagai anak-anak-Nya. Allah juga mewariskan kepada kita tanggung jawab yang merupakan satu paket anugerah tersebut. Sekali lagi, ini merupakan tanggung jawab, bukan suatu kewajiban. Kewajiban berarti sesuatu yang harus kita lakukan untuk mempertahankan hak kita. Tanggung jawab adalah dampak dari suatu status yang kita miliki. Apakah tanggung jawab yang Allah berikan sebagai anak-anak-Nya? Dengan status kita sebagai anak-anak Allah, kita mewarisi misi Allah di dalam dunia ini (misio Dei) untuk membawa dunia ini tunduk di bawah Kingship of Christ (kuasa Kristus sebagai Raja).

Melalui renungan singkat mengenai pengadopsian kita menjadi anak-anak Allah, marilah kita tidak hanya memikirkan hak (privilege) yang kita terima, tetapi juga bersama-sama kita merenungkan, “Sudahkah kita menjalankan tanggung jawab kita sebagai anak-anak Allah dan bersama-sama bekerja di dalam anugerah-Nya untuk menundukkan seluruh dunia baik kerohanian dari individu-individu (mandat Injil), maupun juga aspek-aspek budaya masyarakat dari segala bangsa (mandat budaya), demi kemuliaan nama Tuhan. Soli Deo Gloria.

Michael Senjaya Kang

Pemuda GRII Singapura

Michael Senjaya Kang

November 2008

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Bersyukur untuk Konvensi Internasional 500 Tahun Reformasi yang telah diadakan pada tanggal 14-20 November 2017 di Jakarta.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
148. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 22 January 2018: 138. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata...

Selengkapnya...

138. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 26 December 2017: Sebelum saya memberi komentar terhadap...

Selengkapnya...

Anda mengatakan "hyper grace" mengjijinkan berbuat dosa,mana buktinya,.?Tidak jelas penjelasan anda.Anda...

Selengkapnya...

Disini anda mengatakan,bahwa Allah tidak melupakan dosa,padahal alkitab mengatakan bahwa Allah membuang,tidak...

Selengkapnya...

Sangat memberkati. Kondisi zaman ini membuktikan kemajuan pengetahuan theologia meningkat, keterampilan dalam...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲