Masa Muda dan Ilusi - Buletin Pillar

Artikel

Masa Muda dan Ilusi

Setiap awal tahun, Buletin PILLAR khusus membahas mengenai tema “Pemuda dan Gerakan Reformed Injili”. Kelompok pemuda memiliki peran spesifik untuk mempersiapkan diri dalam melanjutkan pekerjaan Tuhan di masa mendatang. Sudah sewajarnya kelompok pemuda mempelajari dengan saksama cara Tuhan bekerja di masa lampau, menggumulkan arah hidup dan takaran dalam masa sekarang, dan mempersiapkan diri untuk bisa dipakai Tuhan dalam waktu-waktu yang akan datang. Pembaca bisa melihat berbagai ulasan artikel mengenai tema-tema ini dalam edisi Buletin PILLAR di tahun-tahun sebelumnya.

Artikel kali ini sebenarnya berawal dari pengalaman pribadi dan refleksi penulis. Dalam beberapa waktu terakhir, ada beberapa kenalan pribadi penulis (khususnya yang masih termasuk golongan pemuda) yang menderita sakit parah, mengalami musibah/kecelakaan, atau dipanggil bertemu Tuhan. Setelah melewati momen-momen pembesukan, interaksi, dan perbincangan lebih jauh dengan kenalan-kenalan tersebut, penulis terdorong untuk menulis lebih jauh mengenai “Masa Muda dan Ilusi”.

Ilusi
Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu. (Mzm. 90:4-6)

Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria. (Pkh. 7:2-4)

Masa muda identik dengan potensi, gairah, dinamika, vitalitas, semangat, masa depan yang panjang, dan optimisme. Dalam periode ini, seseorang biasanya mulai memikirkan dan merencanakan mengenai bidang studi yang akan ditempuh, pasangan hidup yang akan didekati dan dinikahi, bidang pekerjaan yang akan digeluti, ataupun pencapaian-pencapaian masa depan yang akan dikejar. Kerap kali, hal-hal ini direncanakan dan dijalani dalam “gelembung sabun idealisme” yang tidak teruji. Seorang muda sangat rentan untuk terjebak dalam ilusi masa depan yang ia pikirkan dalam benak sendiri.

Dari pengalaman pribadi penulis, seorang muda akan menjadi begitu kaget, depresi, dan putus asa ketika mengalami suatu tragedi yang berada di luar rencana atau pemikirannya. Bentuk tragedi ini bisa berupa penolakan oleh orang yang ia sedang kejar atau kasihi, penyakit parah yang tidak bisa disembuhkan, kesulitan mendapatkan pekerjaan yang diidam-idamkan, ditinggalkan oleh orang yang ia kasihi, ataupun menderita kelumpuhan atau cacat karena kecelakaan. Dalam contoh yang lebih makro, pernah dilakukan survei terhadap kelompok pemuda di negara-negara Eropa yang terkena imbas Global Financial Crisis, ternyata cukup banyak kelompok pemuda di sana yang menjadi begitu pesimis dan kehilangan pengharapan karena masa depan ekonomi dan stabilitas yang tidak menentu. Mereka tidak lagi memiliki semangat untuk melanjutkan studi, mencari pekerjaan, atau membangun keluarga, karena negara mereka mengalami lilitan hutang ekonomi yang mengerikan dan jumlah pengangguran yang begitu tinggi.

Beranjak dari poin ilusi masa muda, penulis teringat akan dua tokoh, yakni Yohanes Calvin dan Jonathan Edwards. Dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup, dua tokoh ini pernah menganjurkan untuk mengarahkan hati kita kepada kehidupan kekal yang akan datang. Yohanes Calvin sendiri mengalami hidup yang penuh air mata dan penderitaan yang tidak habis-habis. Dalam bukunya mengenai kehidupan Calvin, Herman Selderhuis menuliskan bahwa hidup Calvin bagaikan dikelilingi oleh ribuan kematian. Calvin sendiri menuliskan mengenai topik Meditating on the Future Life (Book 3, Chapter 9) dalam buku Institutes of the Christian Religion. Dalam bagian itu, Calvin menyatakan, “Whatever be the kind of tribulation with which we are afflicted, we should always consider the end of it to be, that we may be trained to despise the present, and thereby stimulated to aspire to the future life. For since God well knows how strongly we are inclined by nature to a slavish love of this world, in order to prevent us from clinging too strongly to it, he employs the fittest reason for calling us back, and shaking off our lethargy.” Mengenai Jonathan Edwards, ia pernah membuat suatu komitmen atau ketetapan hati sebelum ia berumur 20 tahun. Dalam usia yang masih begitu muda, Edwards sudah sungguh-sungguh memikirkan mengenai kematian, sorga, neraka, dan kehidupan kekal. Berikut adalah contoh ketetapan hatinya, “Resolved, that I will live so as I shall wish I had done when I come to die… Resolved, to endeavor to my utmost to act as I can think I should do, if I had already seen the happiness of heaven, and hell torments… Resolved, to think much on all occasions of my own dying, and of the common circumstances which attend death.

Mati Muda
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. (Mzm. 90:12)

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Ef. 5:15-16)

Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. (Yoh. 19:30)

Jika pemuda-pemudi di sekitar kita ditanya mengenai kesiapan mereka kalau mereka harus mati muda, sangat mungkin hampir semua akan menjawab “tidak siap”. Bahkan sangat mungkin, memikirkan atau membayangkan dengan serius mengenai kematian pun tidak pernah. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah menegur kaum pemuda karena mereka cenderung memiliki ilusi pemikiran bahwa mereka akan hidup lama sampai tua, dan akhirnya justru menyia-nyiakan waktu yang sedang dimiliki.

Dalam sejarah dan catatan Alkitab, pernah dicatat beberapa contoh orang yang mati muda. Contoh pertama adalah Yan Hui (顏ªÿ), murid kesayangan dari Konfusius. Ia adalah murid yang sangat rajin dan berdedikasi. Ketika diberi tahu atau dikoreksi kesalahan yang dibuatnya, Yan Hui tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Yan Hui dicatat meninggal ketika hanya berumur 29 tahun. Konfusius meratap dengan begitu sedih dan merasa bahwa langit sedang mengutuknya. Contoh kedua adalah sosok pemuda Indonesia bernama Soe Hok Gie. Ia dikenal sebagai seorang yang idealis, berani, fasih berpidato, dan sangat piawai dalam menggerakkan massa. Ia menjadi inspirator dan dipercaya oleh berbagai sosok penting di organisasi mahasiswa di kampus tempat ia menimba ilmu, yakni Universitas Indonesia. Sejak awal, Gie sepertinya tahu bahwa umurnya tidak panjang. Ia berpikir bahwa nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Satu hari sebelum ia berumur 27 tahun, Gie meninggal karena ia menghirup gas beracun ketika sedang mendaki Gunung Semeru. Ia mewariskan buku harian berjudul “Catatan Seorang Demonstran” yang berisi opini dan pengalamannya.

Dalam Perjanjian Baru, ada dua sosok panutan yang ternyata juga meninggal dalam usia relatif muda. Dua sosok tersebut adalah Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus. Yohanes Pembaptis dalam hidup pelayanannya yang singkat, dengan jelas mengetahui peran dan posisinya untuk mempersiapkan jalan bagi Kristus. Dari mulutnya keluar kalimat-kalimat kristal yang menjadi isi hati Tuhan dalam Perjanjian Lama. Mengenai Yesus Kristus, Ia sudah sadar bahwa Ia harus berada di rumah Bapa-Nya semenjak Ia masih berumur 12 tahun. Dalam menjalani hidup-Nya di dunia, detik demi detik, hari demi hari, Kristus menjalani secara persis apa yang diinginkan oleh Bapa-Nya. Dalam masa-masa terakhir ketika Ia harus mati di atas kayu salib, tidak ada kalimat penyesalan yang keluar. Kristus dengan tegas menyatakan bahwa seluruh tugas-Nya di dunia sudah selesai dengan sempurna. Pdt. Dr. Stephen Tong pernah membandingkan kematian Kristus dengan kematian berbagai filsuf dan pendiri agama. Ada filsuf yang dalam masa-masa terakhir, masih belum menyelesaikan tanggung jawab secara moral (misalkan hutang materi terhadap sesamanya). Dibandingkan pendiri agama lain, umur dan durasi pelayanan Kristus jauh lebih singkat. Namun pengaruh dan signifikansi Kristus begitu besar, luas, dan sampai selama-lamanya.

Penutup
Melalui artikel singkat ini, penulis memiliki harapan sederhana. Bagaimanakah kita menjalani hidup hari demi hari? Apakah kita bisa dengan yakin mengatakan kalau kita sudah melakukan kehendak Bapa dalam keseharian hidup kita? Jika Tuhan tidak memberikan kita umur panjang, sudah siapkah kita bertemu dengan Tuhan? Bagaimanakah seharusnya kita menjalani sisa hidup kita? Semoga perenungan sederhana melalui artikel ini bisa mendorong kita untuk hidup lebih mengasihi dan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan.

High King of Heaven, my victory won,
May I reach Heaven’s joys, O bright Heav’n’s Sun!
Heart of my own heart, whatever befall,
Still be my Vision, O Ruler of all.

Juan Intan Kanggrawan
Redaksi Bahasa PILLAR

Juan Intan Kanggrawan

Januari 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk KKR Regional yang sedang berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. Berdoa untuk setiap tim yang sedang melayani baik hamba Tuhan maupun pembicara awam, berdoa kiranya Roh Kudus menyertai mereka dan memberikan mereka kuasa dan hikmat untuk memberitakan Injil kepada siswa-siswi di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Luar biasa penjabaran yg kumplit dan jelas tentang Iman ditunggu tentang Pengharapan dan Kasih.

Selengkapnya...

Pada artikel Manusia: Peta Teladan Allah (Bagian 12), halaman 2 paragraf ke-4 terdapat kode html yang masuk ke dalam...

Selengkapnya...

Dimulai dari halaman 4 paragraf kedua merupakan pengulangan dari halaman 1. Mungkin bisa dihapus agar tidak...

Selengkapnya...

Dimulai dari halaman 4 paragraf kedua merupakan pengulangan dari halaman 1. Mungkin bisa dihapus agar tidak...

Selengkapnya...

Doktrin Yesus adalah 100%Allah dan 100% Manusia sunguh benar dan tidak terbantah. Kalau pengikut Kristus...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲