Artikel

Melukis Gereja

Sudah beberapa menit Anton berdiam diri di hadapan kanvasnya sambil memandang ke arah gedung gereja tua tersebut. Tangan kanannya masih memegang kuas dan palette cat minyaknya juga masih berada di tangan kirinya. Dari mukanya jelas terlihat bahwa Anton sedang termenung.

Merupakan suatu agenda tetap Anton kalau ia mengunjungi satu daerah yang baru, ia pasti menyempatkan diri untuk membuat lukisan gedung gereja di daerah tersebut. Ia begitu senang melihat berbagai bentuk gedung gereja di tempat yang berbeda-beda. Selain mengagumi bangunannya, ia juga selalu menyediakan waktu untuk mendapatkan informasi tentang sejarah dari gereja tersebut. Kali ini pun tidak terkecuali. Dengan talenta yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, ia sepertinya tidak mengalami kesukaran sama sekali dalam mengabadikan berbagai bentuk gedung gereja ke dalam kanvasnya, termasuk gereja-gereja yang begitu megah, indah, dan bernilai tinggi secara arsitektural.

Tetapi kali ini tampak lain daripada biasanya, Anton tidak langsung melukiskan gedung gereja tua yang tidak seberapa besar tersebut. Secara arsitektural, gereja itu begitu sederhana tanpa bentuk-bentuk hiasan yang memperindahnya. Gedung itu hanya merupakan suatu bangunan biasa dengan tanda salib di atasnya.

Yang mengakibatkan Anton tidak langsung mulai melukisnya pasti bukan karena tingkat kerumitan bangunan gereja tersebut. Tapi justru ketika berhadapan dengan gedung gereja yang sederhana, Anton tiba-tiba mulai terpicu untuk memikirkan lebih dari sekedar sebuah bangunan gereja. Anton segera meletakkan kuas serta palette cat minyaknya, tetapi matanya tetap memandang ke arah gedung gereja itu sambil kembali merenungkan khotbah kemarin pagi dan kehidupan jemaat gereja tersebut yang begitu berkesan baginya. Salah satu hal yang menarik bagi Anton adalah semangat yang berkobar-kobar dan begitu nyata ketika sang pendeta berkhotbah. Anton juga dapat merasakan bagaimana setiap prinsip firman Tuhan yang dikhotbahkannya begitu ketat di dalam doktrinnya.

Selain itu, Anton juga tergugah melihat sikap ibadah jemaat yang hadir, baik yang masih muda maupun yang sudah tua. Sebelum kebaktian dimulai pun ruangan ibadah sudah penuh dengan jemaat yang mempersiapkan diri dengan bersaat teduh dan berdoa. Kesungguhan jemaat tampak ketika mereka bernyanyi maupun mendengarkan firman Tuhan. Sungguh suatu suasana beribadah yang sudah semakin jarang dialami Anton ketika beribadah di kota-kota metropolitan. Kehangatan persekutuan serta semangat pelayanan dari jemaat pun dapat Anton rasakan. Termasuk ketika ia menghadiri persekutuan doa di sana.

Anton sempat bertanya-tanya di dalam hati mengenai apa rahasia dari kehidupan bergereja yang terlihat demikian sehatnya. Terutama ketika ia membandingkan dengan kehidupan orang Kristen di gereja-gereja yang besar dan mapan. Khotbah Pak Pendeta kemarin membuka pikiran Anton. Kemarin pagi Pak Pendeta melanjutkan seri khotbah eksposisi yang diambil dari Yohanes 15:1-17. Fokus pembahasan kemarin adalah ayat ke-16, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu....” Ayat tersebut juga dikaitkan dengan surat Efesus 1:4, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Khotbah kemarin tidak lain dan tidak bukan berkaitan dengan doktrin pilihan! Doktrin pilihan sudah tidak asing bagi Anton, tetapi yang menjadi bahan perenungan lanjut bagi dirinya adalah ketika Pak Pendeta memberikan penjelasan secara panjang lebar mengenai kaitan doktrin tersebut dengan kehidupan orang-orang percaya. Secara tegas dipaparkan bahwa gereja sebagai persekutuan orang-orang yang sudah dipilih seharusnya menghidupi konsep pilihan tersebut. Yang menjadi teguran di hati Anton adalah ketika Pak Pendeta mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang sudah mempelajari doktrin pilihan tetapi tidak ada transformasi di dalam hidup mereka. Banyak orang Kristen yang dari kehidupannya lebih mencerminkan seperti orang yang “memilih” daripada orang yang “dipilih”. Dalam Yohanes 15, dengan jelas Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia yang memilih para murid bukan para murid yang memilih Tuhan Yesus. Hal ini sangat kontras dengan sikap hati seorang murid yang merasa memiliki hak untuk memilih-milih guru yang mau diikuti atau merasa kalau ia dipilih pun itu karena kehebatan dirinya. Sungguh satu cara berpikir dan sikap hati yang bertolak belakang dengan konsep pilihan yang dinyatakan di dalam Alkitab.

Di dalam khotbahnya, Pak Pendeta juga mengingatkan setiap jemaat untuk bercermin kepada firman Tuhan dan mengevaluasi diri masing-masing agar tidak jatuh ke dalam sikap hati yang tidak menghidupi konsep ”dipilih” tersebut. Dia membeberkan empat bahaya yang dapat muncul di dalam diri orang Kristen yang demikian:

  1. Kesombongan rohani

Kesombongan rohani merupakan dampak secara langsung yang muncul dalam kehidupan seorang yang menyebut dirinya Kristen tetapi kenyataannya seperti sudah melupakan status diri yang dipilih oleh Tuhan atas dasar anugerah Tuhan dan bukan atas dasar kebaikan dirinya sendiri. Satu aspek utama dari kesombongan rohani tersebut adalah berupa penilaian diri yang tidak tepat, yaitu merasa diri yang lumayan baik sehingga layak untuk dipilih menjadi anak Tuhan. Secara pemikiran, mereka mungkin masih mengakui ada doktrin pilihan, tetapi secara praktek di dalam hidup justru tidak mencerminkan doktrin tersebut dan bahkan memiliki gaya hidup yang lebih mencerminkan seperti seorang yang layak dan mampu memilih daripada seperti seorang yang sadar telah dipilih dalam ketidaklayakkan dirinya. Sungguh suatu kekeliruan ketika orang Kristen mengerti doktrin pilihan sebagai satu alasan untuk menyombongkan diri karena merasa he or she is something special sehingga Tuhan memilih dirinya untuk mendapatkan keselamatan.

Sebenarnya firman Tuhan justru dengan jelas menyatakan bahwa tidak ada dasar apapun bagi manusia untuk menyombongkan dirinya karena Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Allah telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4). Lalu, atas dasar apa Tuhan memilih kita? Pasti bukan berdasarkan kebaikan kita atau apapun yang ada pada kita yang memenuhi syarat pilihan Tuhan. Apalagi ketika firman Tuhan juga menyatakan bahwa semua manusia berdosa di hadapan Allah dan upah dosa adalah maut.

Contoh lain dari kesombongan rohani adalah hidup yang berpusatkan diri (self-centered life). Segala sesuatu dinilai dari kesenangan, keuntungan, kenyamanan, dan kepuasan diri sendiri. Contoh yang umum terjadi dapat dilihat ketika seseorang memilih beribadah di gereja yang cocok dengan keinginannya, termasuk keinginan untuk memilih khotbah yang enak didengar. Bahkan menjadi sangat berbahaya ketika di dalam kesombongan rohaninya orang tersebut merasa pantas untuk memilih Tuhan yang sesuai dengan keinginannya.

  1. Sikap pelayanan yang salah

Dampak lanjutan dari orang Kristen yang melupakan status sebagai orang pilihan berdasarkan anugerah juga akan nampak di dalam kehidupan pelayanannya. Ia tetap memiliki kesadaran untuk melayani Tuhan tetapi dengan sikap hati yang salah, di antaranya adalah sikap hati yang suka memilih-milih pelayanan yang mau dikerjakan (karena suka atau sesuai hobby); pelayanan sebagai aktualisasi diri, merasa diri hebat dan dapat membantu gereja dengan kemampuan yang ada pada dirinya, dan bahkan sampai merasa gerejalah yang membutuhkan dirinya. Sikap yang salah di dalam pelayanan tersebut juga diiringi pelayanan yang tidak disertai komitmen, dapat mengubah atau bahkan membatalkan pelayanan sesuai jadwal dia. Orang yang demikian tidak lagi menyadari dan menghargai anugerah Tuhan yang telah memilih dia.

Sebaliknya, jikalau kita semakin menyadari kebenaran firman Tuhan akan doktrin pilihan, maka kita akan semakin diingatkan bahwa kita dapat melayani adalah karena anugerah yang diberikan oleh Tuhan yang memiliki pelayanan dan yang mengutus kita untuk melayani-Nya. Kita juga akan semakin didorong oleh luapan hati yang bersyukur untuk melayani Dia seturut kehendak-Nya dengan setia pada setiap kesempatan yang Tuhan berikan.

  1. Hati yang tidak mau menerima teguran

Orang yang merasa diri sudah cukup baik akan sulit menerima teguran baik dari firman Tuhan maupun dari orang lain. Kacamata yang selalu dipakai adalah melihat diri lebih baik daripada orang lain. Walaupun mungkin dapat terlihat orang tersebut memiliki semangat belajar firman Tuhan bahkan sampai kepada mahir berkhotbah, tetapi apa yang dikejar hanyalah pengetahuan kognitif tanpa adanya suatu perubahan hidup. Yang terlupakan oleh orang tersebut adalah suatu panggilan bagi orang pilihan untuk tidak berhenti pada status dipilih, tetapi terus berlanjut dalam proses sanctification sehingga kita semakin dimurnikan untuk menjadi kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya (Ef. 1:4).

  1. Ketiadaan hati yang rindu memberitakan Injil

Memandang diri layak mendapatkan keselamatan akan menjadikan seseorang tidak memiliki hati untuk memberitakan Injil. Yang ada hanyalah menganggap diri lebih baik daripada orang yang belum percaya.

Semestinya, semakin kita mensyukuri anugerah keselamatan yang telah diberikan kepada kita, kita akan semakin didorong untuk membagikan sukacita tersebut kepada orang-orang lain.

Sambil mengingat kembali keempat hal tersebut di atas, Anton juga mengevaluasi dirinya serta kehidupan bergereja selama ini. Secara pribadi dia bersyukur atas teguran firman Tuhan. Dia juga mulai memahami bagaimana jemaat gereja di tempat itu menghidupi doktrin pilihan dengan sikap hati yang benar sehingga terpancar keluar di dalam kehidupan mereka sebagai kesaksian yang indah. Hal itu memberikan Anton ide tentang apa yang akan dimasukkannya ke dalam lukisannya. Ia tetap akan melukis gedung gereja tua tersebut, tetapi dia akan memfokuskan ke bagian papan nama gereja tersebut di mana tertulis “Sola Gratia”. Dan tidak seperti biasanya, selain gedung gereja, dia juga akan memasukkan kehidupan jemaat yang menghidupi doktrin pilihan di dalam lukisannya. Dia rindu agar melalui lukisannya, baik dirinya maupun orang lain yang melihat lukisannya akan disadarkan akan anugerah Tuhan yang telah memilih Gereja-Nya di dalam kekekalan – anugerah yang seharusnya terpancar keluar secara natural dalam kehidupan sehari-hari.

 

Daniel Gandanegara

Diaken GRII Singapura

Daniel Gandanegara

Oktober 2009

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

Halo Jones, Saya sendiri juga melayani dalam wadah sekolah minggu (SD). Tanggapan singkat saja dari saya. Untuk...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲