Artikel

Memahami Nubuat di Alkitab dari Perspektif Kitab Yoel

Seperti yang kita ketahui, Alkitab banyak menuliskan tentang nubuat atau wahyu. Sejak kejatuhan manusia pertama saja, Allah menyatakan nubuat tentang keselamatan melalui keturunan perempuan, tetapi banyak di antara kita yang tidak memperhatikan secara detail setiap perkataan nubuat, sehingga kita sering kali kehilangan atau melewatkan makna yang limpah darinya. Salah satu penyebabnya adalah kita sama sekali tidak mempunyai cara pandang atau perspektif bagaimana nubuat itu dinyatakan. Kita hanya sekadar membaca saja, tanpa berusaha memikirkan kelanjutan dan implikasinya. Jikalau kita mengerti makna nubuat tersebut, kadang kita tidak tahu bagaimana proses nubuat itu tergenapi atau pengertian itu dapat diketahui. Misalnya dari khotbah Petrus di Kisah Para Rasul 2:16-21 yang mengutip Yoel 2:28-32. Tujuan kutipan tersebut adalah untuk menyatakan bahwa turunnya Roh Kudus saat itu merupakan penggenapan nubuat di Kitab Yoel. Pada bagian yang dikutip tertulis tentang matahari menjadi gelap dan bulan menjadi darah, sedangkan di Kisah Para Rasul 2 tidak diceritakan peristiwa demikian. Jadi, bagaimana Petrus dapat menyatakan bahwa nubuat Nabi Yoel telah tergenapi sementara tidak semua yang dinubuatkan terjadi? Kita yang menerima pertanyaan ini pasti kesulitan untuk menjawabnya karena kebanyakan dari kita membaca Alkitab hanya sambil lewat saja.

Lalu, bagaimana mengatasi masalah ini? Salah satu solusi yang pasti adalah membaca buku-buku penunjang seperti study Bible atau buku tafsiran, tetapi sebagian besar dari kita tidak suka dengan solusi tersebut. Kita cenderung mencari solusi yang instan dan gampang dimengerti. Oleh karena itu, melalui artikel singkat ini, penulis akan memaparkan prinsip dasar memahami makna nubuat atau wahyu di Alkitab melalui salah satu kitab nabi-nabi kecil, yaitu Kitab Yoel. Kenapa memilih kitab ini? Karena secara keseluruhan, Kitab Yoel menuliskan tentang nubuat yang masing-masing memiliki tema theologis yang sama. Tema nubuat pada Kitab Yoel adalah tentang Hari Tuhan (the Day of the Lord). Nabi Yoel banyak mengaitkan berbagai peristiwa sebagai harinya Tuhan. Seperti wabah belalang yang merusak hasil pertanian, serangan dari Kerajaan Utara, turunnya Roh Kudus, hingga penghakiman terakhir menjadi manifestasi dari harinya Tuhan. Kitab Yoel ini sangat membantu kita untuk memahami prinsip nubuat di Alkitab. Sebelum membahas prinsip tersebut, mari kita coba telusuri terlebih dahulu tema utama pada Kitab Yoel ini.

The Day of the Lord
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tema utama Kitab Yoel adalah mengenai Hari Tuhan, the Day of the Lord. Ada sekitar lima[1] kali frasa ini disebutkan dalam Kitab Yoel, menunjukkan bagaimana Nabi Yoel mau memberikan penekanan pada tema tersebut. Sebagian dari kita pasti banyak mengasosiasikan frasa tersebut dengan penghakiman terakhir, kedatangan Kristus yang kedua kali, orang fasik akan dibinasakan, atau momen orang percaya akan diselamatkan. Pengertian kita akan frasa tersebut cenderung mengarah kepada peristiwa yang sifatnya eskatologis.

Tetapi Nabi Yoel tidaklah demikian ketika menuliskan frasa tersebut, walaupun pengertian Hari Tuhan sebagai datangnya penghakiman akhir tidak sepenuhnya salah. Kitab Yoel ini justru ingin memperluas pemahaman kita mengenai Hari Tuhan yang tidak hanya terkurung pada peristiwa eskatologi, tetapi juga melihat relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana bisa? Tentu bisa, karena lima kali penyebutan frasa tersebut, ada empat peristiwa yang dipakai oleh Nabi Yoel untuk menyatakan peristiwa itu sebagai Hari Tuhan. Keempat peristiwa tersebut berbeda satu sama lain, yaitu wabah belalang (Yl. 1:2-20), invasi dari Kerajaan Utara (Yl. 2:1-11), simbol turunnya Roh Kudus (Yl. 2:28-32), dan penghakiman kepada seluruh bangsa (Yl. 3:1-21). Empat peristiwa ini saja sudah mengindikasikan maksud dari Nabi Yoel mengenai Hari Tuhan. Tidak hanya sekadar bayang-bayang apa yang akan terjadi, tetapi juga merupakan peristiwa yang terjadi saat ini. Sehingga kita tidak perlu menyempitkan pengertian akan Hari Tuhan hanya sebatas pada penghakiman akhir saja.
Bagi Nabi Yoel, harinya Tuhan adalah hari di mana Allah menggenapkan rencana-Nya, entah itu di dalam penghakiman akhir ataupun keselamatan bagi umat Tuhan.[2] Hari di mana kehendak Allah tergenapi dan Allah dimuliakan melalui setiap peristiwa tersebut. Tetapi setiap peristiwa tersebut bukanlah tujuan akhir dari penggenapan kehendak Allah. Setiap peristiwa itu hanyalah variasi dari tema Hari Tuhan yang dimanifestasikan oleh Allah di dunia ini. Akhir atau final dari kehendak Tuhan yang akan digenapi adalah tentunya ketika penghakiman terakhir itu tiba, penggenapan akhir yang ditandai dengan kedatangan Kristus Yesus yang kedua kali. Penghakiman terakhir menjadi puncak penggenapan Hari Tuhan, hari di mana keadilan dan kesucian Allah dinyatakan. Ada dua peristiwa yang penulis akan bahas untuk memahami bagaimana tema Hari Tuhan dapat diterjemahkan dalam peristiwa yang disebutkan oleh Nabi Yoel, sehingga kita juga dapat memahami prinsip nubuat yang ingin ditekankan olehnya. 

Wabah Belalang (Yl. 1:2-20)
Kitab Yoel dimulai dengan peristiwa wabah belalang yang menjangkiti tanah-tanah pertanian di Israel, wabah yang sangat parah hingga terjadi gagal panen dan kelaparan di mana-mana. Bagi Nabi Yoel, peristiwa wabah ini adalah penghukuman dari Allah supaya Israel bertobat dari dosa-dosanya. Nabi Yoel menyebutkan secara spesifik setiap golongan masyarakat. Mulai dari tua-tua, para peminum, petani, imam, hingga masyarakat secara umum dituntut untuk segera berbalik dari kesalahannya masing-masing. Salah satu golongan masyarakat yang perlu kita perhatikan adalah golongan peminum atau pemabuk (drunkards). Berbeda dengan golongan lainnya yang dapat dikategorikan baik sebagai bagian dari kelas sosial maupun jabatan, pemabuk agaknya tidak sesuai dengan kategori lainnya. Golongan pemabuk ini sebenarnya mau menunjukkan bagaimana wabah ini cukup parah hingga tidak ada lagi waktu untuk bersenang-senang. Sehingga dari ayat ini kita dapat memperkirakan bahwa sebelum wabah ini terjadi, ada kelimpahan di tengah-tengah bangsa Israel. Kelimpahan ini justru membuat bangsa Israel terlena dan melupakan Tuhan yang adalah sumber kelimpahan. Maka wabah ini juga merupakan peringatan kepada setiap orang yang telah terikat kepada kelimpahan dan kekayaan untuk kembali mengingat Tuhan.

Peristiwa ini barulah peringatan yang pertama karena di ayat 15 dituliskan bahwa Hari Tuhan sudah dekat. Ayat ini mau menyatakan bahwa peringatan Tuhan tidak hanya sampai pada wabah belalang saja, tetapi akan menyusul peristiwa lainnya sebagai peringatan yang kedua. Nabi Yoel menubuatkan peringatan kedua ini sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan, yaitu datangnya tentara Kerajaan Utara (Yl. 2:1-11). Uniknya, Nabi Yoel menggambarkan datangnya tentara ini seperti wabah belalang yang sebelumnya sudah terjadi (Yl. 2:5). Peristiwa ini pun dinubuatkan sebagai datangnya Hari Tuhan (Yl. 2:11). Hari di mana tidak ada satu pun yang sanggup bertahan di hadapan Tuhan. Jika ada yang bertanya seperti apakah Hari Tuhan? Maka Nabi Yoel akan menjawab seperti belalang yang dengan dahsyatnya menyerang setiap tempat lahan pertanian, maka tentara Kerajaan Utara dengan keperkasaannya akan membabat habis apa pun di setiap perjalanan yang ia lewati (Yl. 2:3).

Roh Allah Dicurahkan (Yl. 2: 28-32)
Pada bagian sebelumnya kita telah membahas bagaimana Hari Tuhan adalah hari di mana Tuhan memberi hukuman kepada bangsa Israel. Wabah belalang dan tentara Kerajaan Utara adalah gambaran betapa dahsyatnya penghakiman Allah. Setelah mengalami peringatan ini, maka pada bagian berikutnya Nabi Yoel menyerukan kepada bangsa Israel agar berespons terhadap hukuman tersebut dengan pertobatan (Yl. 2:12-19). Sehingga bagi mereka yang bertobat, akan dijanjikan pemulihan kembali dari segala malapetaka yang telah mereka alami. Pemulihan ini digambarkan seperti kebalikan dari dua peristiwa sebelumnya. Pertama, tentara Kerajaan Utara akan diusir oleh Tuhan (Yl. 2:20). Kedua, pemulihan terhadap lahan pertanian yang telah diserang oleh wabah belalang (Yl. 2: 21-27).

Barulah kemudian kita masuk pada bagian ini, yaitu Allah menyatakan janji bahwa Ia akan mencurahkan Roh-Nya kepada umat manusia (Yl. 2:28-29). Janji ini mencakup keseluruhan golongan masyarakat, dari laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak muda, hingga para hamba atau budak. Suatu tanda akan mengikuti ketika Roh itu datang, yaitu mereka dapat bernubuat, mendapat mimpi, dan penglihatan. Pada ayat ini, Nabi Yoel tidak menekankan tanda tersebut sebagai sesuatu yang harus eksplisit terjadi, tetapi lebih menekankan pada adanya keintiman relasi antara manusia dan Allah. Ketika Roh itu datang, manusia dapat berelasi langsung dengan Allah tanpa melalui nabi ataupun imam, berbeda dengan kebiasaan bangsa Israel yang harus diwakili oleh imam atau melalui para nabi. Inilah Hari Tuhan itu, hari di mana Roh Allah dicurahkan kepada umat manusia.

Selain itu, ketika nabi bernubuat tentang Roh Allah yang dicurahkan, tanda tersebut biasanya terkait dengan datangnya era baru, era keselamatan, atau era zaman akhir (the coming age). Hal ini dapat kita temukan di kitab-kitab nabi lainnya seperti Yehezkiel 36:26-27. Kedua ayat tersebut menuliskan bahwa di zaman yang akan datang, ketika Roh Allah dicurahkan, hati setiap orang akan diubahkan dan mereka dimampukan untuk taat kepada Tuhan. Begitu juga pada bagian Yesaya 44:3-5 yang berisikan janji akan adanya komunitas dan umat Tuhan yang baru, ketika Roh Allah itu datang. Ketiga nabi ini, walaupun mengambil perspektif yang berbeda, tetap menyatakan satu poin utama, yaitu ketika Roh Allah itu datang, ada semacam pembaruan atau pergantian era. Sesuatu yang memang dikehendaki oleh Tuhan. Ketika era itu datang, maka saat itulah kehendak Allah tergenapi. Maka dari itu, Nabi Yoel menyebutnya sebagai Hari Tuhan.

Kunci Memahami Nubuat di Alkitab – Tema Theologis
Banyak theolog telah memikirkan berbagai metode untuk memahami makna nubuat di Alkitab. Salah satu metode yang umum digunakan adalah setiap perkataan nubuat dari para nabi memiliki makna ganda (double meaning). Maksudnya adalah nubuat tersebut dapat berupa peristiwa saat itu, tetapi juga sekaligus membicarakan apa yang akan terjadi di masa depan. Contoh dapat kita temukan pada Yesaya 7:14 yang membicarakan tentang tanda kepada Raja Ahas sekaligus kelahiran Kristus melalui seorang perawan. Metode ini cukup banyak diandalkan dan banyak kita temukan dalam penulisan Perjanjian Baru mengenai penggenapan nubuat.

Duane A. Garret melalui bukunya The New American Commentary: Hosea, Joel memberikan alternatif metode berdasarkan Kitab Yoel. Pada bagian sebelumnya, Nabi Yoel telah menubuatkan berbagai macam peristiwa baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Mulai dari wabah belalang, serangan dari Kerajaan Utara, hingga pemulihan kepada bangsa Israel. Semua peristiwa itu menunjuk kepada satu tema, yaitu Hari Tuhan atau the Day of the Lord. Tema Hari Tuhan dimanifestasikan dalam berbagai peristiwa tersebut. Masing-masing nubuat tidak dimaksudkan hanya sebagai peristiwa yang terpisah satu sama lain, melainkan memiliki kesatuan tema atau makna mengenai Hari Tuhan. Jadi, salah satu metode untuk memahami nubuat adalah memahami tema theologis dari nubuat tersebut.

Prinsip ini membuka pandangan baru mengenai nubuat di Alkitab, bahwa nubuat tidak harus selalu dipahami sebagai sesuatu yang terjadi saat itu ataupun peristiwa secara spesifik. Perspektif nubuat dari Nabi Yoel membuka jalan akan adanya peristiwa lainnya di masa depan yang dapat menggenapi nubuat tersebut, dengan catatan peristiwa itu memiliki makna Hari Tuhan yang ia maksud. Tetapi setiap peristiwa itu hanya menggenapi sebagian kecil saja dari makna theologis Hari Tuhan, karena sesungguhnya setiap peristiwa itu harus menunjuk kepada puncak penggenapan Hari Tuhan, yaitu kedatangan Kristus yang kedua kali, hari di mana Tuhan Yesus datang sebagai Sang Hakim untuk menjatuhkan penghukuman bagi orang bukan percaya dan pemulihan bagi umat Tuhan.

Hal ini jugalah yang menjadi kunci bagaimana penulis di Perjanjian Baru dapat mengutip nubuat di Perjanjian Lama sebagai penggenapan atas peristiwa yang telah terjadi. Salah satunya pada kasus khotbah Petrus di Kisah Para Rasul 2:16-21. Di perikop itu, Petrus berkhotbah bahwa turunnya Roh Kudus saat itu adalah penggenapan dari nubuat Nabi Yoel, sedangkan ada bagian lain yang agaknya tidak tergenapi sepenuhnya, yaitu mengenai matahari yang menjadi gelap dan bulan menjadi darah. Sebelum itu, kita perlu mengerti dahulu bahwa para murid saat itu punya pengertian tentang tanda kemunculan era mesianik atau era zaman akhir.

Dua tanda tersebut, mengikuti pengajaran Yohanes Pembaptis, antara lain adalah dicurahkannya Roh Kudus dan hari penghakiman terakhir. Hal ini senada dengan perikop di Kitab Yoel, bahwa dicurahkannya Roh Kudus juga akan disertai dengan peristiwa benda-benda langit yang sebenarnya merujuk pada penghakiman terakhir.
Duane A. Garret dengan teliti menemukan bahwa Petrus mengganti kata “kemudian” pada Yoel 2:28 dengan kata “hari-hari terakhir” pada Kisah Para Rasul 2:17. Hal ini dikarenakan tanda turunnya Roh Kudus ini adalah tanda pertama “hari-hari terakhir” tersebut. Turunnya Roh Kudus menjadi bukti bahwa era zaman akhir sudah tiba. Sekarang, orang Kristen sedang menunggu saat-saat penghakiman terakhir akan digenapi juga (1Pet. 1:20, 2Pet. 3:3).[3]

Cara Petrus melihat bagaimana nubuat Tuhan digenapi masih konsisten dengan apa yang dimaksudkan oleh Nabi Yoel. Nubuat yang ia tulis tidak harus diartikan sebagai peristiwa yang terjadi secara bersamaan. Nabi Yoel lebih menekankan nubuat tentang bagaimana Hari Tuhan digenapi. Hari itu dapat berupa datangnya pemulihan kepada umat-Nya melalui kedatangan Roh Allah, tetapi juga dengan tanda-tanda penghakiman (Yl. 2:30-31). Nabi Yoel tidak tahu secara detail waktu pastinya kapan nubuat ini akan tergenapi, apakah keduanya akan datang bersamaan atau ada jeda waktu di antaranya, tetapi yang pasti adalah Nabi Yoel berfokus kepada bagaimana Hari Tuhan itu tiba, nubuat tentang hari di mana Tuhan mencurahkan Roh Kudus kepada umat-Nya. Petrus menangkap maksud tersebut dan melihat peristiwa turunnya Roh Kudus merupakan penggenapan pertama janji yang telah Allah sampaikan melalui Nabi Yoel.

Terakhir, memahami nubuat di Alkitab memang tidaklah mudah. Ada banyak hal yang mesti kita perhatikan ketika ingin memahami dan menafsirkan setiap nubuat. Salah satu yang mesti kita perhatikan adalah perspektif kita dalam memahami nubuat. Penulis berharap prinsip makna theologis pada Kitab Yoel ini dapat menjadi acuan dan pedoman bagi kita untuk memahami dengan tepat setiap nubuat di Alkitab. Juga tidak lupa untuk terus bertekun dalam doa karena Allahlah Sang pemilik hikmat. Ia sendiri yang akan membuka jalan bagi kita untuk memahami setiap nubuat tersebut. Amin.

Trisfianto Prasetio
Pemuda FIRES

Endnotes:
[1] Hal ini mengacu pada pencarian frasa “the Day of the Lord” pada versi KJV.
[2] Garrett, Duane A. The New American Commentary: Hosea, Joel, vol. 19A, 306.
[3] Idem, 373.

Trisfianto Prasetio

Februari 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan terhadap Calvin Institute of Technology (CIT) yang sedang dalam tahap Penerimaan Mahasiswa Baru untuk Tahun Ajaran 2019/2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Artikel kotbah di atas isinya singkat padat dan jelas. Tuhan berkati penulisnya. Ijinkan saya kiranya dapt...

Selengkapnya...

Terimakasih,sangat terberkati artikel ini Tuhan Yesus Memberkati

Selengkapnya...

Sdr.Martua S; Sesuai dgn tertulis diatas:Inilah Anak yg kukasihi,kepadaNyalah Aku berkenan.Jelas Bapa dan Anak adalah...

Selengkapnya...

Saya pernah dulu dengar pak Tong khotbah Maz 23. Dan saya hari ini Feb 7,2019 mencoba kontemplasi Mazmur 23:4....

Selengkapnya...

Bagus

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲