Artikel

Memercayai Alkitab yang Kita Miliki

Tanpa kepercayaan total terhadap Alkitab, gereja tidak akan mempunyai suara dan otoritas yang jelas. Tanpa kepercayaan total terhadap Alkitab, orang Kristen akan makin ragu terhadap otoritas Alkitab itu sendiri. Secara historis, “inerrancy” (ineransi) dan “infallibility” (sempurna) adalah dua kata yang sering kali dipakai gereja untuk menyatakan otoritas dan kebenaran Alkitab yang mutlak. Sebagai orang Kristen, pentingnya Alkitab pasti bukanlah sebuah rahasia yang baru bagi kita. Tetapi ironisnya, survei-survei dan juga observasi terhadap lingkungan di mana kita hidup akan dengan cepat menunjukkan bahwa tidak semua orang Kristen memberikan perhatian yang cukup untuk membaca Alkitab. Pada ujungnya, pertanyaan yang kita perlu renungkan bersama adalah seberapa jauh kita, secara pribadi, seharusnya memercayai Alkitab? Jawaban kita terhadap pertanyaan ini akan sangat memengaruhi sejauh mana kita akan menghidupi iman kita. Dengan penemuan-penemuan arkeologis yang kurang mendukung, bagian-bagian Alkitab yang sepertinya berkontradiksi, dan keagamaan yang kerap penuh dengan kesimpangsiuran, apakah kita sungguh-sungguh masih bisa memegang bahwa Alkitab itu sempurna dan tanpa kesalahan?

Apa yang dimaksud dengan Alkitab yang “tanpa kesalahan”?

Tanpa kita sadari, terkadang kita bisa menyamakan ineransi dengan “ketepatan”, tetapi makna leksikal dari kata ineransi sendiri sebenarnya adalah untuk “memberitahukan kebenaran”. Di dalam buku The Doctrine of God, John Frame menjelaskan bahwa meskipun “ketepatan” dan “kebenaran” itu mempunyai kesamaan, tetapi keduanya bukan hal yang sama. Sesuatu yang “tepat” pasti “benar”, tetapi suatu kebenaran tidak selalu bisa kita katakan sebagai sesuatu yang tepat. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan “tanpa kesalahan”?

Dua Timotius 3:16-17 menyatakan bahwa Alkitab adalah ilham Allah untuk manusia bisa hidup sebagai manusia yang sejati. Oleh sebab itu, kita perlu mengingat bahwa tujuan primer Alkitab bukanlah untuk menulis segala sesuatu dengan ketepatan yang maksimal, melainkan untuk menyampaikan pesannya kepada kita agar kita semua dapat mengerti dan menjalankan apa yang menjadi kehendak Allah bagi kita.

Sebagaimana kebenaran tidak selalu dikomunikasikan di dalam bentuk yang 100% tepat ataupun literal, kita pun juga perlu mengaplikasikan prinsip dan norma yang sama kepada para penulis Alkitab. Frame menjelaskan bahwa sebagian besar dari Alkitab ditulis dengan bahasa sehari-hari. Implikasi dari hal ini adalah bahwa di dalam mengekspresikan kebenaran, para penulis Alkitab dapat menggunakan bahasa sehari-hari, yang sering kali diwarnai dengan ketidaktepatan, metafora, hiperbola, dan sebagainya. Oleh karena itu, pengertian ineransi yang benar adalah bahwa Alkitab itu benar tetapi belum tentu tepat secara maksimal. Sejauh presisi diperlukan untuk menyampaikan kebenaran, Alkitab cukup tepat, tetapi Alkitab tidak selalu memiliki tingkat presisi yang terkadang diharapkan oleh sebagian pembaca modern. Alkitab memiliki tingkat ketepatan yang cukup untuk tujuannya sendiri, bukan untuk tujuan yang mungkin dimiliki oleh pembacanya. Untuk mengetahui klaim yang dibuat oleh para tokoh asli dan penulis, adalah penting untuk kita mengetahui tentang bahasa dan budaya orang-orang yang menulis dan pembaca yang menjadi target dari kitab tersebut. Ketika kita mengatakan bahwa Alkitab tidak mungkin salah, yang kita maksudkan adalah bahwa Alkitab membuat klaim yang baik dan tepat untuk tujuannya sendiri.

Memercayai Alkitab yang kita miliki

Fondasi dari argumentasi dan keyakinan kita untuk memercayai Alkitab yang sempurna dan tanpa cacat sebenarnya terletak pada klaim bahwa Alkitab bukanlah sekadar buku yang penuh dengan kebijaksanaan dan pelajaran, tetapi bahwa Alkitab adalah firman Tuhan (2Tim. 3:16). Di dalam zaman yang cenderung makin skeptis terhadap keagamaan, mujizat, tanda, atau bukti yang kelihatan adalah hal-hal yang sering dicari untuk memverifikasi kebenaran dan kuasa dari sebuah agama. Di satu sisi, kita harus mengakui bahwa mujizat yang diberikan Tuhan, pada dirinya sendiri, adalah sesuatu yang baik dan yang masih bisa terjadi bahkan terus terjadi sampai hari ini. Tetapi 2 Petrus 1:16-21 juga telah memberikan kepada kita case study untuk merenungkan apa yang tertulis mengenai mujizat dan firman Tuhan.

Pada ayat 16-18, Petrus menegaskan kepada kita bahwa dia tidak berkata-kata dengan sembarangan dan bagaimana dia secara pribadi menyaksikan transfigurasi Kristus. Tetapi yang mengherankan di sini adalah fakta bahwa pada ayat yang selanjutnya, Petrus langsung menomorduakan testimoni pribadinya. Petrus seperti mengatakan bahwa sekalipun aku telah menyaksikan transfigurasi Kristus, kita memiliki sesuatu yang lebih trustworthy dari semua kesaksian yang manusia dapat berikan. Kita memiliki sumber pengetahuan tentang Kristus yang lebih pasti dan lebih layak untuk dipercayai. Ayat 20-21 kemudian memberikan kepada kita penjelasan bahwa keyakinan Petrus sebenarnya bersandar kepada pekerjaan Roh Kudus yang memberikan pengertian dan dorongan kepada orang-orang untuk bersaksi di dalam nama Allah. Melalui perikop ini, kita bisa melihat bahwa Alkitab sebenarnya memberikan prioritas dan otoritas kepada firman Tuhan lebih dari segala kesaksian lainnya.

Firman yang kita pegang adalah firman yang hidup. Setiap orang yang percaya kepada Kristus pasti sudah pernah merasakan kuasa-Nya. Di dalam konteks kita yang berbeda-beda, Alkitab yang kita miliki adalah Alkitab yang hidup dan dapat berbicara kepada kita semua dengan cukup jelas. Cukup jelas kepada seorang anak kecil untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawabnya, tetapi juga cukup jelas untuk berbicara kepada seorang profesor theologi. Inilah yang biasanya disebut sebagai doktrin“clarity of Scripture”.

Banyak orang mengira bahwa agama hanyalah masalah opini, dan karena demikian, mereka tidak mau memercayainya dengan “iman” yang begitu saja. Mereka menginginkan penjelasan sebelum memercayai. Tetapi, untuk menginginkan penjelasan sebelum iman adalah hal yang mustahil, karena pengertian itu bukanlah hal yang bergantung kepada rasio kita saja. Hanya Tuhan yang bisa bersaksi terhadap perkataan-Nya, maka perkataan-Nya tidak akan mendapat pengakuan jikalau Roh Kudus tidak berkata-kata di dalam hati setiap dari kita. Roh yang sama yang berbicara kepada para nabi, harus menghidupkan hati kita yang sudah mati, untuk meyakinkan kita bahwa firman yang tertulis dan diberitakan adalah perkataan Ilahi yang telah diilhamkan. Calvin mengatakan bahwa iman di dalam doktrin tidak memiliki dasar apa pun sampai kita percaya bahwa Allah adalah Pemberinya. Maka, bukti tertinggi yang kita bisa dapatkan untuk memercayai bahwa Alkitab adalah benar, adalah dari memercayai karakter Dia yang perkataan-Nya tertulis bagi kita.

Karena Allah tidak mungkin berbohong (Ibr. 6:8) dan tidak mungkin membuat kesalahan, kita memercayai bahwa Alkitab tidak mungkin membuat kesalahan. Jikalau Alkitab tidak sempurna dan tidak tanpa cacat, Alkitab hanyalah sebatas buku yang baik dan kekristenan hanyalah keagamaan yang ditopang oleh manusia. Pribadi Allah itu sendirilah yang menjadi landasan dan jaminan untuk seluruh argumentasi ineransi. Tanpa Alkitab yang tanpa kesalahan, kita tidak akan bisa memercayai Alkitab sebagai otoritas tertinggi. Penolakan kepada kebenaran total Alkitab pada akhirnya akan mendorong kita untuk bersandar kepada manusia untuk menggantikan dan menghakimi Alkitab. Contoh yang paling nyata bisa kita lihat di dalam peristiwa di mana sebagian gereja sekarang menerima pernikahan sesama jenis.

Di dalam Surat Efesus, Paulus menuliskan bahwa gereja dibangun di atas dasar perkataan para rasul dan para nabi, maka firman yang diajarkan oleh para rasul dan para nabi bisa dikatakan adalah alasan dari eksistensi gereja itu sendiri. Dengan demikian, doktrin dan perkataan para nabi dan para rasul sebenarnya memiliki kepastiannya bahkan sebelum gereja ada. Oleh karena itu, di dalam bukunya Institutes of the Christian Religion, Calvin menjelaskan kekonyolan dari orang-orang yang berpikir bahwa Kitab Suci bisa dihakimi oleh gereja yang sebenarnya ada karena firman itu.

Peran gereja bukanlah untuk mengotorisasi Alkitab sebagai suatu hal yang sebaliknya diragukan. Peran gereja jugalah bukan untuk memilih dan memilah bagian firman Tuhan yang benar dan yang salah. Peran gereja sebenarnya adalah untuk memberikan cap otoritasnya untuk mengakui kebenaran yang sudah tertulis di dalam Alkitab. Berkenaan dengan bagaimana kita dapat diyakinkan bahwa Alkitab itu berasal dari Allah, Calvin menjawab, “Alkitab menunjukkan bukti kebenarannya sebagaimana warna putih dan hitam menunjukkan warnanya, dan sebagaimana manis dan pahit bisa kita ketahui dari apa yang kita bisa rasa.

Terlepas dari opini kita terhadap ineransi Alkitab, pada akhirnya, kita semua harus mengakui bahwa Kristus adalah Firman yang menjelma menjadi daging, Kristus adalah pribadi yang dinubuatkan oleh para nabi di PL dan yang dibicarakan oleh para rasul di PB. Kristus adalah pusat dari seluruh Alkitab, dan Dia adalah Firman itu sendiri yang ada sebelum dunia dijadikan. Alkitab adalah wahyu Allah yang diinspirasikan dan terus-menerus dikonfirmasikan oleh Roh Kudus. Seperti ada tertulis, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Mat. 24:35).

Komentar-komentar akhir berkenaan dengan ineransi Alkitab

Salah satu kesulitan yang kita hadapi sebagai orang Kristen adalah bagaimana kita bisa merekonsiliasikan penemuan-penemuan arkeologis yang sepertinya bertentangan dengan cerita historis yang Alkitab catat. Penemuan-penemuan tersebut telah banyak mengguncang iman dari para theolog dan orang-orang Kristen secara umum.

Di dalam bukunya Total Truth, Nancy Pearcey memberikan observasi bahwa kita hidup di dalam zaman yang makin dualistis. Sebagian besar dari masyarakat kita hidup dan dididik untuk memercayai bahwa kebenaran itu seolah ada dua macam: pertama, kebenaran yang bersifat universal (objektif), yaitu pengetahuan ilmiah, dan kedua, kebenaran yang bersifat privat (subjektif), yaitu preferensi-preferensi moral dan religius kita. Tanpa kita sadari, metode ilmiah (scientific method) telah menjadi dasar yang paling absolut untuk membuktikan kebenaran yang kita percayai, dan di waktu kita berhadapan dengan penemuan-penemuan baru, kita cenderung untuk skeptis terhadap Alkitab. Di sini kita perlu sekali lagi belajar bahwa kekristenan bukanlah agama yang berdasarkan bukti saja, melainkan kita percaya berdasarkan iman yang diberikan kepada kita melalui perkataan dan pekerjaan Roh Kudus yang mengaplikasikan firman yang kita dengar. Bukti-bukti yang ditemukan, hal-hal baru yang disetujui, semuanya itu harus kita terima sebagai kebenaran yang kita tahu hari ini, tetapi sebagai orang-orang Kristen, kita mempunyai obligasi untuk benar-benar melihat apakah hal tersebut adalah kebenaran yang akurat atau kebenaran yang sangat mungkin masih bisa berubah.

Di satu sisi, kemajuan di dalam ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan arkeologi tidak bisa kita abaikan dan diskreditkan begitu saja. Kita tidak bisa tidak menerima penemuan-penemuan tersebut, tetapi kita mempunyai tanggung jawab untuk berhati-hati dan melihat kebenaran yang manusia ketahui sebagai kebenaran yang bersifat progresif. Maka, dengan penuh kehormatan kita perlu untuk terus menggali Alkitab dan mengamati perkembangannya. Karena apa yang sedang kita pertaruhkan di waktu kita menerima penemuan-penemuan baru ini adalah sesuatu yang masih bisa terus berkembang dan berubah, sedangkan implikasi dari penolakan ineransi Alkitab adalah membuang Alkitab itu sendiri pada hakikatnya.

Doktrin ineransi Alkitab adalah doktrin yang tidak bisa tidak kita percayai. Di momen kita menganggap Alkitab sebagai buku yang mungkin salah, maka kita sudah tidak mungkin melihatnya lagi sebagai firman Allah itu sendiri. Jikalau Alkitab itu mungkin salah, siapakah yang akan menentukan bagian-bagian yang benar dan salah? Fakta dan logika membuktikan bahwa ini adalah serangkaian argumen yang pasti berujung kepada liberalisme yang memosisikan rasio manusia di atas Alkitab. Sebagaimana sudah tertulis di bagian sebelumnya, seluruh premis dari iman Kristen adalah bahwa Alkitab bukanlah tulisan manusia saja, tetapi Alkitab adalah wahyu yang diilhamkan Allah melalui agen manusia. Dan sebatas naskah yang ditulis di dalam bahasa aslinya, kita percaya bahwa Alkitab diinspirasikan oleh Roh Kudus dan tidak mungkin bersalah. Di ujung dari semua ini, kita perlu untuk sekali lagi mengintrospeksi diri kita masing-masing; ineransi Alkitab tidak bisa berhenti sampai argumentasi yang hanya berteori. Pada ujungnya, challenge saya kepada kita semua adalah untuk kita bisa berkomitmen untuk membaca dan memercayai Alkitab yang sudah Tuhan berikan. Maukah kita?

Jack Setio

Pemuda GRII Melbourne

Referensi:

1. Calvin, J. (2008). Institutes of the Christian Religion translated by Henry Beveridge. United States: Hendrickson Publishers Inc.

2. Frame, J. M. (2012, May 21). Is the Bible Inerrant? Retrieved from frame-poythress.org: https://frame-poythress.org/is-the-bible-inerrant/.

3. Mohler, R. A., Bird, M. F., Vanhoozer, K. J., Enns, P. E., & Franke, J. R. (2013). Five Views on Biblical Inerrancy. Zondervan Academic.

4. Packer, J. I. (2012). Engaging the Written Word of God. United States: Hendrickson Publishers Inc.

5. Pearcey, N. (2008, Mar 31). Total Truth: Liberating Christianity from Its Cultural Captivity. Wheaton, United States, IL,, United States: Crossway.

6. Piper, J. (2014, March 12). What Is Inerrancy? Retrieved from Desiring God: https://www.desiringgod.org/interviews/what-is-inerrancy/.

7. Taylor, J. (2013, July 26). What Does “Inerrancy” Mean? Retrieved from TGC: https://www.thegospelcoalition.org/blogs/justin-taylor/what-does-inerrancy-mean/.

Jack Setio

April 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲