Artikel

Mengapa Gereja Perlu Kebangunan Rohani?

Mengapa gereja masih perlu kebangunan rohani? Bukankah gereja sudah terdiri dari orang-orang yang sudah Kristen? Oh, tetap perlu… karena meskipun Kristen toh mereka belum menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh. Tetapi orang Kristen yang sungguh-sungguh itu seperti apa sih? Yang sudah yakin masuk surgakah? Yang rajin pelayanankah? Atau apa? Siapa sebenarnya yang perlu kebangunan? Cara berpikir sempit dari orang-orang yang, katanya, paham iman Kristen seringkali mendorong mereka untuk membagikan dua jenis golongan orang yang perlu dilayani. Yang perlu Injil dan yang perlu follow up. Mereka yang sudah percaya tidak perlu dengar Injil lagi. Mereka sudah tahu kok. Mereka perlu follow up. Jadi sebaiknya jangan KKR. Jadi siapa yang perlu KKR? Ya yang belum Kristen. Maka sebaiknya adakan KKR di tempat ibadah agama lain, itu baru pas. Tetapi gereja? Gereja tidak perlu! Jadi apakah kebangunan rohani itu? Apakah kebangunan rohani terjadi karena penyampaian Injil? Injil itu apa? Lalu apa dampak orang yang telah menerima Injil? Injil berarti berita tentang Kristus yang datang menyelamatkan manusia. Dan dampak orang yang telah menerima Injil adalah… dia sudah yakin masuk surga! Nah, jadi kalau sudah yakin masuk surga dia tinggal perlu follow up. Tidak perlu KKR. Bukankah KKR berguna supaya orang-orang yang tadinya belum masuk surga sekarang bisa masuk surga? Selesai. Kristus telah menyelamatkanmu dan sekarang kamu pasti ke surga. Amin. Mari berdoa… Sedangkal itukah konsep mengenai kebangunan rohani? Mencetak KTP untuk calon warga surgawi? Tetapi apakah para warga surga itu sudah memiliki kesadaran akan dosa yang sungguh-sungguh? Apakah para tetangga malaikat surgawi itu sudah memiliki kejelasan menjalankan hidup dengan penuh kemurnian? Apakah para kaum beriman, yang setelah mati sudah tahu mau kemana itu, sudah sungguh-sungguh gentar dan mengasihi Allah, sehingga seluruh hidupnya didorong oleh kerelaan mengasihi dan mengikuti Tuhan dengan mengorbankan apapun harga yang harus dikorbankan? Sebab jika tidak maka mereka masih perlu kebangunan rohani. Mereka dan kita semua! Mereka dan kita semua yang sedang bermimpi dan merasa nyaman dengan mimpi-mimpi itu sehingga tidak merasa perlu sebuah kebangunan. Kalau begitu apakah kebangunan rohani itu?

Søren Kierkegaard pernah mengekspresikan kekagumannya kepada Socrates karena Socrates sangat keras mengritik orang-orang yang menerima tradisi tanpa terlebih dahulu melakukan refleksi mengapa tradisi tersebut harus diterima. Orang-orang yang menerima tradisi maupun orang-orang yang menolak tradisi tanpa merenungkannya dalam-dalam terlebih dahulu sudah jatuh di dalam kebodohan yang sama. Demikian juga orang-orang yang giat di dalam pelayanan KKR ataupun orang-orang yang anti “buang-buang” tenaga, waktu, dan uang untuk kebaktian-kebaktian kebangunan rohani akan jatuh di dalam ketololan yang sama jika dia tidak sungguh-sungguh merenungkan apa sebenarnya kebangunan rohani itu. Jadi kita akan mencoba membahas apa sebenarnya kebangunan rohani itu. Kemudian apakah kaitan kebangunan rohani dengan Kebaktian Kebangunan Rohani. Apakah kebangunan rohani hanya dapat terjadi dengan sebuah KKR? Untuk merenungkan hal inilah saya akan berusaha membagikan tiga pemikiran yang pernah dikemukakan Yohanes Calvin di dalam Institutes of Christian Religion untuk berusaha menjawab pertanyaan mengapa gereja perlu kebangunan rohani sejati. Edisi ini akan memuat alasan pertama, kemudian dua edisi berikut akan membahas dua hal lain lagi dalam pemikiran Calvin.

1. …kita menggantikan kebenaran yang sejati dengan gambaran kebenaran yang palsu dan kita merasa puas dengan gambaran palsu itu. (Inst. I.I.2.)
Memulai buku Institutes-nya, Calvin mengatakan: “Hampir semua bijaksana yang kita miliki, yaitu bijaksana yang benar, terdiri dari dua bagian: mengenal Allah dan mengenal diri kita sendiri.”[1] Kalimat yang rupanya cukup berkesan di dalam batin seorang pemikir Perancis abad ke-20, Michel Foucault, sehingga ketika dia menulis bukunya, History of Madness, dia dengan tepat mengutip dan menjabarkan perkataan Calvin ini. Foucault mengatakan bahwa kegilaan seseorang terjadi ketika dia sibuk melihat dan mengamati bayangan dirinya sendiri. Sebab dengan demikian, “…ketidakmampuan untuk menyadari bahwa dirinya sedang terbelenggu dan sengsara adalah kelemahan yang membuat seseorang gagal untuk naik ke atas dan menemukan apa yang baik dan yang benar, dan membuat dia tidak mengetahui kegilaan apa yang sebenarnya ada padanya.”[2] Calvin, sebagaimana dikutip Foucault, memberikan contoh mengenai hal ini. Jika seseorang terus melihat ke arah tanah pada siang hari, maka dia berpikir bahwa tanah tersebut sudah cukup terang. Tetapi kalau dia melihat ke arah matahari, barulah dia sadar apa itu terang yang sesungguhnya.[3] Ketika seseorang sibuk melihat dirinya, dia tidak akan sadar kegilaan apa yang sebenarnya sedang ada padanya. Mengapa? Karena ukuran standarnya adalah diri sendiri. Orang gila menjadikan dirinya standar kewarasan dan menyelidiki dirinya sendiri. Maka diagnosa yang dia temukan adalah bahwa dirinya cukup waras. Waras? Ya. Karena ukuran kewarasan adalah kegilaannya sendiri. Demikian juga orang berdosa. Dia akan terus merasa dirinya baik, murni, dan suci. Karena dia mengukur dirinya dengan dibandingkan dengan standar yang adalah dirinya sendiri. Alangkah bodohnya orang-orang seperti ini.[4] Tetapi ini berlaku bukan hanya bagi orang gila di luar sana. Ini juga berlaku bagi orang-orang gila di dalam gereja yang perlu bertobat dari kegilaan mereka. Orang-orang yang sambil jalankan bisnis dengan cara kotor, tetapi masih bisa senyum manis sambil berikan persembahan bagi gereja. Orang-orang yang sambil menjadi maling elegan di luar, tetapi masih bisa menduduki jabatan tinggi di dalam gereja. Orang-orang yang sambil mendewakan hawa nafsunya sepanjang enam hari kerja, ternyata juga dapat menjadi biarawan-biarawati yang penuh penyangkalan diri ketika tiba hari sabat. Orang-orang yang tidak pernah mau mengubah dirinya, tetapi mau mengubah gereja untuk sesuai dengan selera diri yang tidak karuan. Orang-orang yang tidak mungkin bertobat kalau mereka masih terus melihat dirinya dan berpuas atas pencapaian diri yang kosong dan tidak berarti itu. Jangan bilang gereja tidak perlu kebangunan. Hanya salah satu dari orang-orang gila di atas itulah yang mengatakan gereja tidak perlu kebangunan. Tetapi gereja tidak akan mungkin bisa mengalami kebangunan kalau gereja masih menjadikan diri sebagai standar, dan membandingkan diri dengan standar itu. Alangkah bodohnya gereja sedemikian.

Tetapi inilah yang dilakukan kalau gereja tidak dikoreksi oleh firman. Ini persis yang terjadi ketika gereja tidak ditundukkan kepada berita Injil. Berita Injil bukan hanya seruan “Yesus Kristus adalah Juruselamatmu!” Berita Injil dimulai dengan teriakan, “Bertobatlah! Kerajaan Allah sudah dekat!” Teriakan yang pernah diserukan Jan Hus yang berakibat pembakaran dirinya oleh gereja. Teriakan yang makin memuncak 102 tahun setelah kematian Jan Hus, yaitu ketika Martin Luther memakukan 95 tesisnya. Teriakan yang dengan kekerasan berusaha dibungkam oleh pemimpin-pemimpin gereja yang lebih suka untuk terus menjadi orang-orang gila. Tetapi sejak dahulu gereja terus dipelihara oleh Tuhan dengan seruan-seruan untuk bertobat yang hingga kini masih menggema. Teriakan yang menghindarkan Gereja Tuhan dari kesalahan melihat diri sebagai standar untuk mengoreksi diri. Inilah sebabnya Calvin mengatakan bahwa manusia tidak akan sadar bahwa dia menderita, hidup di dalam ketelanjangan, dan terus meluapkan tindakan-tindakan najis[5] jikalau dia tidak mengenal Allah. Demikian juga gereja akan makin rusak, kotor, dan najis karena tidak mengenal Allah.

Tetapi gereja tidak menyukai firman Tuhan. Tidak suka teguran Tuhan. Dan karena mengabaikan penghakiman Tuhan, gereja lebih suka menyembah Allah yang diletakkan di pojok surga, menganggur di sana, dan tidak usah ikut campur kehidupannya.[6] Berapa banyak orang-orang Kristen yang menyadari hal ini? Orang-orang Kristen lebih suka menghadiri KKR-KKR untuk dihibur, disenangkan, ditenangkan, dan mengalami suatu semangat baru, tetapi tidak suka dikoreksi. Tetapi tanpa ada firman Tuhan yang mengoreksi, bukankah ini berarti bahwa kebangunan-kebangunan rohani sedemikian akan menjadi sarana yang subur bagi bertumbuhnya orang-orang Kristen yang menjadikan diri sebagai standar, lalu mengukur “kewarasan spiritualnya” dengan standar yang adalah dirinya sendiri itu? Kalau begitu, sebagaimana dikatakan Michel Foucault di atas tadi, bukankah ini akan mengarah kepada kegilaan? Jadi kegiatan-kegiatan sedemikian lebih cocok disebut Kebaktian Kegilaan Rohani. Kan sama-sama KKR toh?

Tetapi Calvin mengingatkan, jika kita belum mau keluar dari diri kita sendiri, dan mulai belajar merenungkan kehendak Allah dan menerimanya sebagai aturan universal, maka kita sedang membentuk ilah palsu, dan dengan demikian, sedang menyembah berhala.[7] Kalau sebuah stadion besar diisi oleh puluhan ribu orang yang siap mendengar suara dari seorang gila, dan puluhan ribu orang tersebut mengaku diri sebagai Kristen, masih adakah orang yang mengatakan gereja tidak perlu kebangunan rohani? Sudah terlalu banyak pengkhotbah-pengkhotbah kebangunan rohani saat ini yang jika diukur oleh iman yang sejati dan akal yang sehat, adalah orang-orang yang lebih cocok dikelompokkan sebagai orang-orang sakit jiwa ketimbang pemimpin spiritual! Tetapi mereka punya pengikut fanatik! Yah, mungkin memang benar kata pepatah… orang agung akan menarik orang agung. Maka orang gila juga akan menarik orang-orang gila. Jika seorang berkhotbah dengan pengajaran yang ngawur dan gereja menerima pengajaran ini, maka gereja sedang menuju kepada kegilaan. Jika pengkhotbah menghina firman Tuhan dan menginjak-injak perkataan Allah yang sedang menyatakan diri kepada manusia, bagaimana mungkin dia bisa luput dari hukuman Tuhan? Tetapi terlalu banyak orang Kristen yang tidak sadar bahwa seorang pengkhotbah yang mengangkat diri mereka ke level yang sama dengan Kristus, dia sedang menghina Allah dengan cara menginjak-injak perkataan Allah. Bukankah dia tidak merasa perlu untuk, dengan kesungguhan hati, menyatakan pesan Allah melalui mengkhotbahkan firman-Nya? Terlalu banyak orang Kristen yang tidak sadar akan hal ini karena mereka terus membanjiri KKR-KKR yang dipimpin oleh penipu-penipu ini dengan semangat militan yang luar biasa. Kalau puluhan ribu orang Kristen lebih senang mendengar seorang pengkhotbah yang sering travelling pulang pergi dari surga atau neraka, lebih sering dari Sisyphus, dan memilih untuk membuat telinga mereka berpaling dari ajaran firman untuk mendengar tukang melantur dari dunia akhirat ini berbicara, betapa kasihannya gereja… Jika orang lebih senang melihat show seorang pengkhotbah “membantai” jemaat hingga semua berjatuhan dengan kibasan jas putihnya daripada mendengar Tuhan berbicara… apakah salah kalau Tuhan membuang gereja seperti dahulu Dia membuang Israel? Sungguh! Jika Tuhan memilih untuk membuang kita semua, Dia bersih dalam penghukuman-Nya![8] Sebab jika umat-Nya lebih suka untuk melihat show seorang badut menjatuhkan orang-orang dengan lambaian jasnya, lebih daripada mendengar seorang hamba Tuhan menyampaikan firman Tuhan… sampai kapan Dia harus sabar dan tidak menghukum? Dan jika badut-badut itu masih berani naik mimbar dan berbicara kepada puluhan ribu orang mengenai dongeng gila mereka… sampai kapan Tuhan menahan diri dan tidak mengikatkan batu kilangan pada leher mereka?[9]

Tetapi Tuhan mengasihi gereja-Nya. Dia tidak akan membiarkan gereja tanpa adanya kebangunan yang sejati. Pada zaman Jan Hus, abad ke-15, gereja Tuhan dipimpin oleh dua orang Paus. Yang seorang, Paus Gregory XII, memerintah di Roma. Tetapi orang-orang di Perancis, di kota Avignon, merasa bahwa Tuhan telah memindahkan kota suci ke tempat mereka. Maka mereka mengangkat Paus, yaitu Benedictus XIII. Untuk mencegah perpecahan gereja di tengah kondisi politik gereja yang makin kacau ini, maka sebuah konsili di Pisa mengangkat Paus ke-3, Paus Alexander V. Ternyata Roma menolak paus ini. Maka penerus Paus Alexander V, yaitu Paus Yohanes XXIII melancarkan perang melawan Napoli, yang dianggap sebagai pelindung Gregory XII. Untuk peperangan inilah direkrut pasukan perang salib. Perang salib? Ya. Untuk berperang melawan siapa? Melawan gereja. Gereja melakukan perang saudara! Dan pasukan perangnya disebut perang salib! Bukankah kondisi kacau ini sepertinya sudah tidak mungkin diperbaiki? Lalu Tuhan membangkitkan Jan Hus untuk bersuara menentang kesewenang-wenangan gereja. Seorang yang pengaruhnya terlalu kecil sehingga sepertinya akan padam bersamaan dengan eksekusi matinya. Tetapi sebelum mati Jan Hus mengatakan bahwa suaranya tidak akan sanggup dibungkam. Seratus tahun lagi suara ini akan menggema dengan lebih besar. Ternyata 102 tahun kemudian Martin Luther memakukan 95 thesis kontroversialnya yang bersuara dengan gema lebih besar dari suara Hus. Tuhan begitu mengasihi gereja-Nya sehingga tidak pernah ada periode di mana Tuhan membiarkan gereja-Nya sama sekali tersesat. Tetapi pemeliharaan Tuhan ini selalu dilakukan dengan menyatakan seruan firmanNya yang memanggil kembali umat-Nya. Seperti apakah dampak dari seruan firman ini? Calvin, di dalam buku Institutes-nya, membahas mengenai apa yang terjadi ketika Tuhan menyatakan panggilan-Nya dengan menyatakan firman-Nya dalam kalimat berikut:

“Tetapi begitu kita mulai melihat Allah, merenungkan sifat-sifat-Nya, dan menyadari betapa sempurna kebenaran, kebajikan, dan kuasa-Nya –yang merupakan standar dengan mana kita semua harus dibentuk- maka, apa yang semula tersamar sebagai sesuatu yang benar dan menyenangkan di dalam diri kita, akan segera terlihat sebagai sesuatu yang kotor dengan segala kejahatan-kejahatannya.” (Institutes I.I.2.)

Firman Tuhan dinyatakan kepada gereja Tuhan sehingga gereja Tuhan melihat Allah. Mulai masuk ke dalam relasi dengan Pribadi yang menciptakan dia. Pribadi yang mempunyai sifat-sifat yang sempurna dan tidak bercacat. Pribadi yang baik, yang benar, yang berkuasa, yang penuh kasih, yang adil. Pribadi yang akan membuat kita bersujud dan takluk karena keagungan sifat-Nya. Pribadi yang akan membuat kita takut, gentar, tetapi sekaligus mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Pribadi yang setelah kita kenal, akan membuat seluruh dunia menjadi suram oleh sinar kemuliaan-Nya. Tidak ada cita-cita, keinginan, gairah, dan tujuan hidup yang dahulu kita pegang dan cari dengan giat, yang sekarang tidak menjadi remeh dan gelap jika dibandingkan dengan kemuliaan Pribadi Allah. Dan kesadaran akan sifat mulia dari Allah ini akan langsung diikuti dengan kesadaran akan diri yang mempunyai sifat demikian terkutuk dan tercela. Kesadaran ini akan membuat kita bersujud kepada Tuhan dan bersyukur karena Tuhan telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.[10] Kesadaran yang membuat kita merasa tidak layak untuk datang dan mengangkat wajah kepada-Nya.[11]

Lalu setelah memiliki kesadaran akan hal ini, Calvin mengatakan, gereja akan memiliki iman yang sejati. Iman yang digabungkan dengan rasa takut yang tulus kepada Allah.[12] Rasa takut dan hormat yang rela diberikan kepada Allah. Ini adalah rasa takut dan hormat yang berbeda dengan rasa takut dan hormat karena ancaman hukuman. Seorang akan hidup suci jika dipaksa dengan todongan pistol di dahinya. Tetapi jika todongan pistol itu sudah ditarik, masihkah dia hidup suci? Kalau Tuhan sudah menyelamatkan gereja-Nya, maka iman yang sejati adalah ketika gereja tetap mengekang diri untuk tidak berdosa, bukan karena takut hukuman, tetapi karena dia mengasihi dan menghormati Allah sebagai Bapa, dan memuja dan mengagumi Dia sebagai Tuhan. Walaupun tidak ada neraka, dia akan tetap gentar untuk menyinggung hati Allah.[13]

Meskipun seluruh pembahasan ini adalah pembahasan yang dapat diterapkan kepada pertobatan individu-individu, tetapi saya mau mengingatkan kita semua bahwa Allah mengutus Kristus untuk memanggil gereja-Nya yang kudus. Demikian juga panggilan kita adalah untuk menjadi satu tubuh. Bukan hanya saya dan Tuhan saya. Bukan hanya saya dan teman-teman sekelompok kecil yang saya kasihi. Bukan hanya saya dan adik-adik KTB yang saya kasihi. Tetapi gereja yang adalah tubuh Kristus. Gereja yang kudus dan am, yang di dalam sejarah dinyatakan melalui gereja yang kelihatan. Jika demikian kebangunan rohani harus dimulai dengan kesadaran individu-individu yang bertobat, tetapi tidak boleh berhenti di sini. Orang-orang tersebut harus rindu seluruh gereja Tuhan dibangunkan. Dengan kesadaran seperti inilah kita sekarang harus berjuang bagi pekerjaan Tuhan. Kalau ada sebagian orang-orang yang kita kenal begitu giat melakukan sesuatu demi kebangunan yang sejati ini, di manakah kegiatan yang sama itu di dalam diri kita? Sebelum kematian George Whitefield, seorang sahabatnya mendengar khotbah kecil Whitefield yang diberitakan di depan pintu kamarnya. Whitefield waktu itu berkhotbah sambil memegang lilin. Setelah selesai berkhotbah, dengan sisa tenaga yang masih ada Whitefield masuk ke dalam kamar tersebut. Itu adalah khotbah terakhirnya karena dia meninggal di dalam kamar tersebut. Maka sahabatnya mengatakan bahwa dia sangat terharu mendengar khotbah sambil melihat lilin yang masih bersinar sambil menghabiskan dirinya. Baik lilin di tangan George Whitefield maupun “lilin” yang bernama George Whitefield. Itulah gambaran yang dia lihat mengenai kehidupan George Whitefield. Membakar diri hingga meleleh demi memberikan terang. Whitefield hanyalah satu dari begitu banyak orang yang melakukan hal yang sama. Bodohkah mereka? Membuang semua demi mengharap ada suatu kebangunan yang sejati? Merekakah yang bodoh? Atau para penghina mereka yang bodoh? Tetapi mungkin yang lebih bodoh adalah orang yang setuju dengan mereka tetapi tidak mewarisi semangat yang sama. Yang mengamini perlunya sebuah kebangunan rohani dengan mulut, tetapi tidak dengan hati, dedikasi, dan kerelaan berkorban. Mengapakah kebangunan rohani diperlukan? Karena gereja Tuhan sedang kehilangan identitas jika dia terus menerus melupakan firman. Jikalau pekerja-pekerja bagi kegiatan “kegilaan rohani” begitu giat, di manakah pejuang-pejuang sebuah kebangunan rohani yang sejati? Pejuang-pejuang yang digerakkan oleh kekaguman kepada Tuhan dan belas kasihan kepada gereja Tuhan yang sedang lesu dan tersesat.

Ev. Jimmy Pardede
Gembala GRII Malang

Endnotes:
[1] Institutes I.I.1.
[2] Michel Foucault, History of Madness (London: Routledge, 2009), hlm. 32.
[3] History of Madness hlm. 29.
[4] Band. 2 Korintus 10:12.
[5] Institutes I.I.1.
[6] Institutes I.IV.2.
[7] Institutes I.IV.3.
[8] Band. Mazmur 51.
[9] Band. Matius 18:6.
[10] Band. Lukas 1:48.
[11] Band. Lukas 18:13.
[12] Institutes I.II.2.
[13] Institutes I.II.2.

Ev. Jimmy Pardede

Oktober 2011

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲