Artikel

Mengenal Dia, Mengenal Diri

“Siapa lagi yang mengenal kita selain kita sendiri?” Kalimat ini menjadi pendorong bagi banyak orang dalam menjalani hidupnya. Mereka merasa bahwa apa yang mereka lihat dalam dirinya adalah suatu kebenaran yang menyatakan siapa mereka sesungguhnya. Mereka beranggapan bahwa mereka benar-benar mengetahui apa yang menjadi hobinya, kelemahannya, kelebihannya, dan bahkan tujuan hidupnya. Sehingga tidak heran jika orang seperti itu terlihat begitu mahir dalam mengatur hidupnya untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, apakah pengenalan itu sudah tepat?

Kita pasti setuju dengan kalimat, “Pengenalan diri yang tepat akan membuat kita menjalani hidup ini dengan tepat.” Namun, yang menjadi masalahnya adalah bagaimana kita bisa mengenal diri dengan tepat. Sebagai orang percaya, kita harus memegang prinsip bahwa pengenalan akan diri dimulai dari pengenalan akan Allah yang benar.

Pertama, Allah adalah Pencipta dan kita adalah ciptaan. Sebagai Pencipta, Allah itu kekal, sehingga Ia tidak dibatasi ruang dan waktu, sedangkan manusia diciptakan dalam ruang dan waktu. Dari pengertian tersebut, kita harus menyadari bahwa kita adalah manusia yang terbatas. Kita bukan Allah yang dapat mengontrol seluruh kehidupan kita. Manusia tidak akan tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya dan tidak bisa mengatur apa yang harus dialaminya. Maka, kesadaran akan keterbatasan itu harusnya membuat kita tidak mempunyai ruang untuk menyombongkan diri, melainkan membuat kita selalu menyatakan kebergantungan diri kepada Sang Pencipta.

Kedua, Allah menciptakan manusia bukan tanpa tujuan. Sebagai mahkota ciptaan, tujuan tertinggi dalam kehidupan manusia adalah menikmati Allah dan memuliakan Dia. Namun selain itu, Allah menetapkan tujuan lain yang berbeda-beda untuk setiap orang. Ini yang biasa disebut panggilan. Alkitab memberikan kita banyak contoh perihal panggilan Allah bagi umat-Nya. Sejak manusia pertama diciptakan, Allah sudah memanggil Adam untuk memenuhi dan menaklukkan bumi, meskipun Adam gagal untuk taat. Selain itu, di dalam Perjanjian Lama kita bisa menemukan kisah ketika Allah memanggil Musa untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Sedangkan di Perjanjian Baru, kita bisa melihat Yohanes Pembaptis yang Allah panggil untuk menjadi orang yang mempersiapkan jalan bagi Yesus, dan masih banyak kisah lainnya yang bisa kita temukan.

Setelah melihat beberapa contoh di atas, kita bisa mengetahui bahwa panggilan yang Allah tetapkan berada di dalam rancangan penggenapan kehendak-Nya di dunia, sehingga sudah seharusnya kita mengarahkan seluruh hidup kita untuk menjalankan panggilan tersebut. Orang dunia mungkin bisa merancangkan tujuan hidup yang harus ia capai, namun bagi kita orang percaya, tujuan hidup kita ditentukan Allah dan itulah yang harus kita kejar. Segala sesuatu yang kita atur dalam hidup kita adalah untuk mencapai tujuan yang Allah sudah tetapkan.

Ketiga, Allah adalah Allah yang berdaulat, namun Ia bukan Allah yang diktator. Allah yang menentukan setiap hal dalam hidup kita, namun Ia tidak memperlakukan kita sebagai robot yang tidak mempunyai pilihan. Allah memberikan free will kepada manusia, sehingga kita pun bisa menentukan pilihan bagi hidup kita. Namun, pengertian ini harus dipahami dengan tepat. Kita sering kali jatuh pada ekstrem yang salah. Di satu sisi, kita mengakui kedaulatan Allah itu mutlak dan kita tidak bisa berbuat apa pun untuk mengubahnya, sehingga kita akan mengabaikan tanggung jawab kita. Di sisi lainnya, kita bisa menjunjung tinggi free will manusia. Hal tersebut membuat kita sangat menekankan andil manusia dalam karya keselamatan yang Allah kerjakan, padahal Alkitab sudah menyatakan bahwa keselamatan itu sepenuhnya anugerah Allah. Untuk menghindari hal tersebut, satu prinsip yang kita harus pegang adalah bahwa Allah berdaulat dan manusia harus menjalankan tanggung jawabnya. Kita harus belajar memahami paradoks antara dua hal tersebut.

Ada banyak hal lain yang harus kita kenal dari Allah agar kita dapat mengenal diri dengan benar, namun Allah yang tidak terbatas itu tidak akan bisa kita kenali dengan sempurna. Ini bukan berarti kita dapat menyerah dan berhenti mencari tahu tentang Dia, karena Allah yang penuh kasih akan menolong kita untuk makin mengenal-Nya. Di dalam pengenalan itu, kita akan bisa mengenal diri kita dengan benar dan menjalani kehidupan yang berkenan bagi Allah.

Rose Purba

Pemudi FIRES

Rose Purba

Oktober 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲