Artikel

Menggumulkan Lima Kebangunan: Kebangunan Etika (Sebuah Pengantar)

Setelah dua bulan terakhir Buletin PILLAR membicarakan tentang dua kebangunan yang merangkai kerohanian seorang Kristen, kini kita akan membicarakan tentang kebangunan etika. Biasanya, pembicaraan tentang etika merupakan pembicaraan yang paling membosankan, terutama di kalangan generasi muda, karena gambaran umum yang hinggap pada benak generasi belia terkait dengan etika adalah soal rules, rules,dan rules. Manusia postmodern agak alergi dengan hukum. Ia selalu dianggap mewakili pengekangan. Ia pun selalu terasosiasi sebagai bagian dari otoritas yang bersifat represif. Tidak heran, gereja menjadi salah satu institusi yang paling ditinggalkan generasi muda beberapa dekade terakhir.

Rasa takut akan ditinggalkan oleh generasi penerus menjadikan gereja mengubah haluan mereka dalam cara menjangkau pemuda. Pendekatan yang lebih menghibur dirasa menjadi sebuah solusi karena alasan “zaman memang sudah berubah”. Gaya yang sangat berorientasi pada massa ini punya efek samping yang sangat merusak bagi komunitas kristiani untuk jangka panjang. Karena tanpa hukum, tanpa rules, kehidupan bergereja tidak akan pernah ada edifikasi. Jemaat tidak akan pernah terdidik untuk mengupayakan hidup yang saleh. Tanpa ada disiplin rohani secara pribadi, dan tanpa pendisiplinan secara institusional, masyarakat muda kristiani justru terjerumus pada kehidupan iman yang paling santai. Tanpa tuntutan, tanpa pengejaran.

Pada titik inilah kekristenan semakin sekarat. Bayangkan, dunia saja terus “bertumbuh” di dalam cara-caranya untuk membunuh iman kristiani, tetapi pada saat bersamaan iman generasi muda Kristen terus merasa puas di dalam ukurannya yang bonsai (pendek). Di sinilah kebangunan etika harus terjadi. Kebangunan etika adalah ketika umat Allah sekali lagi dipanggil untuk menjalankan ketetapan Tuhan. “Berjalan sesuai dengan ketetapan dan hukum-hukum Tuhan” menjadi sebuah gambaran dari orang-orang yang mengasihi Tuhan. Narasi ini menjadi sebuah kesimpulan yang mewakili semangat orang-orang saleh dalam Perjanjian Lama.
Setelah terjadi kebangunan doktrinal dan epistemologikal, kebangunan etika harus terjadi.

Masyarakat kristiani yang sesungguhnya sedang dibangunkan Tuhan tidak mungkin tidak makin ingin menghidupi hukum-hukum Tuhan. Keinginan mengenal bagaimana hidup yang benar di hadapan Tuhan menjadi keinginan yang begitu mendalam dalam hati setiap orang yang dibangkitkan. Mau mencari kebenaran dan berani menghidupinya adalah tanda kebangunan yang sejati. Dari dahulu dua frasa sederhana ini selalu menjadi tongkat pengukur soal iman kita. Seberapa antusias kita mengerti apa yang benar dan sampai sejauh mana kita berani menghidupinya.

Etika Umat Allah: Berangkat dari Merespons Tuhan
Di dalam percakapan dengan banyak pemuda, baik mahasiswa maupun pekerja, saya menemukan sebuah gambaran umum tentang etika Kristen. Menjadi seorang kristiani yang beretika adalah soal bagaimana performa moral kita tidak sama dengan kelakuan yang rusak di “luar sana”. Baik di dalam kampus maupun tempat bekerja, nilai kejujuran, profesionalitas, ketekunan, kinerja yang baik, dan sebagainya, menjadi tolok ukur yang utama. Nilai-nilai ini nanti diterjemahkan ke dalam bentuk seperti tidak menyontek, tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuat laporan palsu, tidak mencuri, dan seterusnya. Dahulu kami aktivis pelayanan mahasiswa kampus pun dididik seperti demikian.

Nilai-nilai dan ekspresi ini memang baik adanya, tetapi sering kali gambaran akan konteks yang diberikan tidak lengkap. Gambaran dari setting masyarakat di luar sana seolah-olah begitu rusak. Sehingga, ketika kami berhasil menjalankan ekspresi-ekspresi etika yang sederhana, kami mudah merasa puas. Kami menempatkan pengertian soal etika kristiani pada sebuah perbandingan horizontal, dan buruknya kami membandingkan diri dengan orang yang lebih jelek standar etikanya. Tentu saja membandingkan diri dengan mereka yang lebih tak rupawan akan menjadikan kita berpredikat “lebih” tampan. Tetapi sesungguhnya hal tersebut tidak menjadikan kita tampan sungguhan. Worse is always better than the worst, but worse is still bad.

Sampai kami menemukan orang-orang non-kristiani yang kehidupan intelektual dan moralnya begitu baik, bahkan lebih baik dari kami, runtuhlah semua nilai-nilai yang digantungkan dari perbandingan horizontal tersebut. Pertanyaannya, kalau secara moral, intelektual, dan bahkan soal praktik keagamaan ada orang-orang non-Kristen yang bisa lebih serius, lebih rajin, lebih berani berkorban, lebih berani menjalankan pemahaman akan iman, dan kesemuanya itu menjadikan mereka pribadi yang sering kali lebih pandai, lebih baik, lebih bijaksana, dan bahkan lebih rendah hati dari orang Kristen, apa bedanya (baca: gunanya) lagi memegang iman Kristen? Di situ iman kami nyaris terguncang. Selama ini kami merasa iman kami baik-baik saja karena kami tidak pernah bersinggungan dengan orang-orang non-Kristen yang semacam demikian.

Lalu apa yang menjadikan iman Kristen begitu spesial ketika apa yang dianggap sebagai buah yang mewakili iman kita ternyata dapat dicapai oleh orang-orang di luar sana? Apa yang membuat Kristus, yang sampai harus turun menjadi manusia, mati di kayu salib, dan bangkit pada hari yang ketiga menjadi so special ketika pada akhirnya kualitas yang diharapkan muncul pada orang yang sudah ditebus ternyata dapat dimiliki pula oleh orang yang bukan Kristen? Jadi kuasa penebusan kalah efektif dari komitmen dan kerja keras manusia biasa?

Betul bahwa masyarakat Kristen harus memiliki standar etika yang baik. Adalah suatu keharusan bagi kita untuk mengupayakannya. Tetapi sekali lagi standarnya bukanlah perbandingan horizontal. Sebagai contoh sederhana, andaikan kita tinggal pada masyarakat yang terbiasa mencuri 10 barang, lalu kita mencuri hanya 1 saja, apakah dengan demikian kita lebih baik? Tentu tidak. Kita diperintahkan untuk jangan mencuri. Dan bukan saja kita dipanggil untuk tidak mencuri, melainkan lebih dari itu, kita dipanggil untuk memberi.
Di lain pihak, ketika kita menemukan kehidupan yang lebih mulia dari sekelompok masyarakat di luar kekristenan, maka hal tersebut menjadi suatu cermin bagi kita untuk berkaca. Mungkin memang ada yang salah ketika kita, yang telah menerima firman dan kuasa penebusan, keputusan-keputusan etisnya malah jauh lebih buruk. Hal ini biasa terjadi pada konteks-konteks di mana masyarakat kristiani besar dan mayoritas secara kuantitas. Pada tempat di mana menjadi Kristen justru sangat menguntungkan secara materiel, di sana pula biasanya disaksikan betapa iman Kristen merosot secara signifikan.

Hal semacam demikian memang sudah seharusnya menjadi sebuah jendela refleksi. Apakah sesungguhnya arti dari menjadi seorang Kristen yang saleh? Pertanyaan-pertanyaan semacam demikian seharusnya muncul di dalam pergulatan umat kristiani, terutama kalangan muda. Sehingga, sebagai sebuah titik permulaan, kita harus menyadari bahwa etika Kristen pertama-tama bukan soal berespons terhadap kondisi horizontal. Etika Kristen pada permulaannya harus dimulai dari satu kesadaran untuk merespons panggilan Tuhan.

Etika Umat Allah: Narasi Besar yang Memayungi
Ketika kita berbicara tentang etika umat Allah, maka kita tidak pernah bisa lepas dari kerangka besar panggilan Allah terhadap umat-Nya. Nilai dari setiap keputusan etis kita akan sangat bergantung kepada sejauh mana ia berbagian di dalam narasi besar yang disebut sebagai Kerajaan Allah. Maka dari itu, mengerti kesinambungan dari apa yang sedang Tuhan kerjakan akan menjadi sangat krusial.

Kerajaan Allah yang rentang waktu perjalanannya begitu besar ini terekspresikan secara umum di dalam seluruh dunia ciptaan, dan secara khusus pada kisah perjalanan umat Tuhan. Etika manusia secara umum dapat kita mengerti di dalam konteks manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Nilai-nilai soal keagungan, keindahan, kemuliaan, kebijaksanaan, kebajikan, cinta kasih, keadilan, kebenaran, dan segala macam nilai yang luhur lainnya harus berangkat dari satu standar bahwa manusia adalah citra yang menjadi reflektor sifat ilahi. Sebab memang untuk itulah manusia diciptakan, berdasarkan firman Tuhan.

Masuk lebih jauh, umat kristiani memiliki standar ekspresi etisnya yang melampaui kriteria umum. Sebab, mereka adalah orang-orang yang ditebus Tuhan secara khusus pada konteks dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Keberadaannya membawa suatu natur yang bersifat khusus karena melalui mereka yang dikumpulkan sebagai Gereja, Tuhan mau menyatakan kuasa penebusan-Nya terhadap dunia. Maka, setiap dasar pertimbangan dari baik atau tidaknya suatu perbuatan akan sangat bergantung kepada sejauh mana ia menyatakan kuasa penebusan.

Kembali lagi kepada pengandaian soal mencuri di atas. Itulah mengapa nanti kita akan melihat bahwa tidak berbagian di dalam kejahatan secara pasif saja tidak cukup. Kuasa penebusan yang diberikan oleh Tuhan merupakan sebuah kekuatan yang aktif, sehingga umat Tuhan bukan saja secara pasif tidak melakukan kejahatan, melainkan didorong juga untuk secara aktif melakukan kebaikan.
Sebagai seorang individu kristiani, baik buruknya standar sebuah keputusan etika kita akan sangat bergantung kepada persinggungannya terhadap konteks umat Allah ini. Sampai di sini biasanya kita sulit menerimanya. Karena kenapa keputusan-keputusan pribadi kita, yang secara umum tak salah dan sah-sah saja, malah harus diatur dan disesuaikan dengan sekelompok orang? Inilah yang dilakukan oleh Rasul Paulus ketika ia berbicara soal boleh atau tidak menyantap makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala. Paulus mengatakan tidak salah bila engkau memakannya. Karena setiap makanan yang datang dari Tuhan, dan yang disambut dengan ucapan syukur, halal adanya. Tetapi apa yang halal itu ketika menjadi suatu ganjalan bagi saudara/i seiman yang masih belum mengerti, maka Paulus menyatakan bahwa ia tidak akan memakannya.

Dasar pertimbangan dari segenap tindak-tanduk kehidupan pribadi kita ternyata harus dikaitkan dengan kondisi umat Tuhan. Sampai sejauh mana setiap ekspresi itu berguna dan membangun orang lain, secara khusus saudara/i seiman. Demikianlah apa yang Paulus contohkan. Ia melakukan segala sesuatunya supaya iman orang lain bisa dibangunkan, dan dengan demikian gereja Tuhan semakin mendapatkan keuntungan. Ketika kehidupan pribadi kita membuka celah yang lebar untuk dunia menghina Gereja, di sana kita perlu bertobat. Motivasinya yang terutama bukan supaya hidup kita boleh menjadi lebih baik, melainkan agar nama Tuhan jangan sampai dihina orang. Nilai-nilai etika seperti kebaikan, kebajikan, moralitas, baik dan buruk, semuanya dibangun oleh kita dalam rangka, dan hanya supaya, buahnya dapat berguna bagi pekerjaan Tuhan dan Gereja-Nya.

Etika Umat Allah: Potret dari Pernikahan Nabi Hosea
Di sepanjang sejarah kekristenan, mungkin tidak pernah ada orang yang dipanggil semenyakitkan Hosea. Nabi ini secara khusus dipanggil Tuhan untuk menyatakan kehendak dan isi hati-Nya dengan cara disuruh menikahi seorang pelacur. Dahulu ada seorang teman bercanda mengenai bagian ini, bahwa Gomer pasti sangat cantik sekali. Ya iyalah pasti cakep, karena jadi pelacur memang perlu tampang sebagai modal. “Ga apa-apa pelacur, yang penting cakep.” Kira-kira begitu maksud dia. Hosea tidak rugi-rugi amatlah.

Tetapi permasalahannya, tubuh indah dan wajah jelita dari Gomer tidak akan pernah cukup untuk mengganti rasa sakit hati Hosea sebagai suaminya. Manisnya senyuman Gomer tak akan pernah bisa mengobati kemarahan Hosea ketika ia dengan sadar mengetahui bahwa wanita itu telah tidur dengan banyak lelaki lain, bahkan setelah mereka menikah. Di sinilah Hosea menjadi suatu perwujudan dari bagaimana sakit hati Tuhan terhadap umat-Nya yang terus berzinah dengan cara menyembah ilah-ilah palsu.

Ada sebuah fenomena etika yang menarik di sini, yaitu Hosea harus menikahi seorang pelacur. Dalam konteks pandangan masyarakat dunia Perjanjian Lama, menikahi seorang pezinah adalah suatu kenajisan. Bahkan hingga kini, seseorang yang menikahi pelacur akan sangat dipertanyakan keberadaan moralitasnya. Tetapi kejadian ini menjadi suatu ekspresi yang sangat unik di dalam kekristenan. Bahwa pertimbangan soal baik buruknya sebuah tindakan memang bukan bergantung pada untung ruginya kita, ataupun standar penilaian dari masyarakat sekitar pada umumnya. Standar dari baik atau buruknya etika seorang Kristen sangat bergantung pada sampai sejauh mana melalui seorang individu, tindakan tersebut akan menggenapkan kehendak Allah.

Jantung dari etika umat Allah memang adalah lebih dari sekadar perbandingan horizontal. Etika umat Allah berbicara soal kehidupan umat yang dikhususkan sebagai wadah dari apa yang Allah mau nyatakan pada waktu tersebut. Kisah Hosea menjadi satu gambaran bagaimana Tuhan memakai kesalehan yang ia bangun selama puluhan tahun (sebagai seorang yang bertaraf nabi) dengan cara menyuruhnya menikahi seorang pelacur. Sungguh kontras.

Pada sepanjang sejarah kekristenan, kita memang akan selalu menemukan kisah-kisah kesaksian orang percaya yang begitu kontras. Ada orang-orang yang rela meninggalkan cita-cita, harta, dan bahkan keluarga yang mereka cintai demi menjalankan panggilan Tuhan. Sebuah keputusan yang sering kali dipandang tak manusiawi. Biasanya konteks keluarga menjadi topik yang paling sering dibenturkan pada masa kekristenan belakangan ini. Betul, tidak dapat kita pungkiri bahwa ada pihak-pihak yang memang dengan sengaja mengabaikan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga sambil mengatasnamakan panggilan Tuhan. Ini memang tidak benar. Tetapi pada desain awalnya, keluarga dan panggilan Tuhan tidak pernah berbenturan.
Jadi kalau begitu, bagaimana kita dapat memahami mana yang sesungguhnya merupakan keputusan moral yang benar, yang bukan hanya sekadar serupa ataupun kontras terhadap standar umum? Di sinilah peran penting dari dua kebangunan sebelumnya. Sampai sejauh mana keputusan etis kita mengakar dalam kebenaran doktrin dan epistemologi Kristen.

Etika Umat Allah: Menaruh Hidup di dalam Hukum Tuhan
John Calvin pernah menjelaskan tentang tiga fungsi dari hukum Taurat yang ditaruh ke dalam hati setiap manusia. Yang pertama sebagai sebuah alat untuk menyatakan kebenaran Tuhan. Melaluinya kita tahu bahwa kita adalah manusia yang berdosa. Ia bagaikan cermin untuk berkaca bahwa memang ada noda di wajah kita. Fungsi yang kedua adalah untuk menahan kerusakan moral lebih jauh. Hukum Taurat tersebut menimbulkan rasa takut dalam hati orang fasik sehingga mencegahnya dari melakukan kejahatan.[1] Dan yang ketiga secara khusus, menurut pendapat Calvin, adalah fungsi utama dari Taurat yang hanya diperuntukkan bagi orang percaya. Taurat diberikan kepada orang-orang beriman agar melaluinya Roh Kudus mematikan kedagingan.[2] Hukum Taurat, yang menjadi kematian bagi orang-orang berdosa, kini justru malah dijadikan sebagai alat yang membawa kehidupan dan pertumbuhan di dalam kehidupan orang percaya.

Pada akhirnya, bicara tentang kebangunan etika tidak akan pernah terlepas dari kerelaan dan sukacita seseorang di dalam mengikuti batasan dan keharusan dari apa yang ditetapkan oleh hukum Tuhan. Batasan serta keharusan tersebut justru membebaskan kita dari keterikatan yang salah. Dengan terbangunnya etika kristiani yang tepat, kesalehan hidup seorang Kristen tak mungkin tak berlanjut kepada pertumbuhan yang lebih jauh, yaitu melayani Tuhan di dalam kebangunan pelayanan dan mandat budaya. Dengan hadirnya kebangunan doktrinal dan epistemologikal yang sejati, mustahil kebangunan etika tidak terjadi. Sebab mereka yang sesungguhnya dibangunkan oleh Tuhan akan mengejar kebenaran lalu berani menjalankannya.

Kebangunan etika adalah buah dari dua kebangunan sebelumnya, dan yang akan menghantarkan kita kepada dua kebangunan selanjutnya. Masyarakat kristiani yang sungguh saleh tidak mungkin tak berbagian secara positif terhadap perkembangan institusi gereja dan dunia. Dengan demikian seluruh dunia boleh mendapatkan berkat dari Tuhan melalui kebangunan yang Ia kerjakan dalam diri orang percaya. Kiranya Tuhan berkenan mengerjakannya di dalam kita.

Nikki Tirta
Pemuda FIRES

Endnotes:
[1] Wendel, Francois. 2010. Calvin: Asal Usul dan Perkembangan Pemikiran Religiusnya. Momentum: Surabaya.
[2] Ibid.

Nikki Tirta

Agustus 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Pengalaman Pak Heru membuat renungan ini lebih sarat makna. Thank you

Selengkapnya...

Salah tafsir Yesus bukan Allah atau hanya sbg ciptaan belaka ( ciptaan sbg manusia saja atau malaikat seperti...

Selengkapnya...

Hambatan-hambatan gereja baik eksternal dan internal,serta terangkan keberadaan Allah dan Sifat-sifat Allah

Selengkapnya...

Saya harus sampaikan ini Artikel sesat sebaiknya di hapus, ini tidak alkitabiah buah pemikiran penulis bukan...

Selengkapnya...

Salomo Depy : kmu over sensitif. Ini artikel tujuan utk membangun, tp kamu spt salah minum obat

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲