Artikel

Meninjau Ulang Teknik Abstraksi dalam Kesenian Modern Menurut Perspektif Kekristenan

“Artists are the sensitive antennae of society.”[1] (Seniman adalah antena dari masyarakat)

Alfred H. Barr Jr., (1966) What is Modern Painting?

Introduksi

Karya seni merupakan cerminan yang baik akan keadaan dari sebuah zaman. Tidak sedikit orang mengaitkan pergolakan besar dalam dunia kesenian di zaman post-enlightenment dengan kemajuan teknologi, sains, dan sekularisme yang berkembang. Teknik figurative yang banyak dipakai untuk melukiskan tema-tema kekristenan di masa lalu diganti dengan teknik abstraksi menggunakan garis dan warna solid gaya kubisme untuk menggambarkan kemajuan zaman dan meninggalkan tema-tema kekristenan yang dianggap kuno. Maka dari itu, banyak pembacaan akan kesenian modern diwarnai dengan perspektif sekularisme sehingga menurunkan keterlibatan orang Kristen terhadap kesenian modern. Namun, ini bukanlah cara pandang yang sepenuhnya dapat dipertahankan, apalagi ketika seniman Kristen di zaman ini mulai mengkritisi pandangan yang cenderung menolak kesenian modern. Menganalisis karya seni modern memang bukanlah hal yang mudah karena konteks agama dan konten theologis yang membentuk mereka sangatlah kompleks dan sering kali bertentangan satu sama lain.[2] Harapan dari penulis adalah agar para pembaca menyadari kompleksitas hermeneutika dalam kesenian dan berjuang untuk mengambil posisi dalam menginterpretasi kesenian modern dari sudut pandang yang lebih berdasar pada iman Kristen, bukan seperti yang ditawarkan oleh perspektif sekularisme yang mengakibatkan kurangnya kontribusi orang Kristen dalam kesenian modern.

Seperti argumen Abraham Kuyper dalam ceramahnya mengenai Calvinisme, beliau berkata bahwa Reformasi membebaskan seni dari kekangan struktur gereja.[3] Hal ini menyatakan bahwa nilai-nilai iman Kristen bukan hanya dituangkan lewat kesenian bertema Alkitab atau tradisi saja, namun tercermin dalam segala macam seni, termasuk kesenian modern dan kontemporer.

Konteks Sekularisme dan Pembacaan akan Kesenian Modern

Ada sebuah pemikiran bahwa tidak ada relasi yang jelas antara pertumbuhan kesenian visual di zaman modern dan iman Kristen. Bahkan banyak yang berpikir bahwa agama tidak berperan dalam zaman modern. Secara dasar, definisi dari modernisme menurut Charles Taylor menyangkut tiga hal: (1) bentuk dan praktik institusi baru yang berpusat pada kota dan diatur berdasarkan prinsip sains, teknologi, ekonomi, dan produk industrial, (2) nilai dan perilaku baru yang menekankan individualisme, demokrasi, dan rasionalitas, dan (3) bentuk penyakit baru, termasuk alienasi, kehilangan arti hidup, dan perpecahan sosial.[4] Karena hal tersebut, muncul banyak sekali penulisan tentang sejarah seni modern yang ditulis dari sudut pandang sekularisasi.

Namun hal ini merupakan peninjauan dangkal (superficial) dari sebuah zaman. Paul Greenhalgh, seorang sejarawan seni, berkata bahwa di dalam analisis terhadap karya desain modern, theologi memegang peranan yang penting, di mana seseorang meninggikan filsafatnya sampai kepada derajat yang sama dengan komitmen beragama.[5] “Hal ini menekankan bahwa desain bukan hanya berkaitan dengan gaya (styles) tetapi dengan cara melihat dunia (worldview),” kata Greenhalgh.[6] Worldview dan komitmen terhadap sebuah kepercayaan menjadi ilah/allah yang mereka sembah dan terpancar dalam karya seni yang mereka buat.

Berbagai Pandangan Reformed terhadap Kesenian Modern

Salah satu tokoh yang telah memberikan perspektif Kristen Reformed mengenai kesenian modern adalah Hans Rookmaaker. Hendrik (Hans) Roelof Rookmaaker adalah seorang profesor sejarah seni yang mengajar di Free University yang didirikan oleh Abraham Kuyper, pada tahun 1960-1970. Di dalam bukunya yang terkenal, Modern Art and the Death of a Culture, beliau berargumen mengenai keunikan Theologi Reformed yang tidak memisahkan antara anugerah dan alam (grace and nature), dan antara dunia spiritual dan dunia material.[7] Pandangan Neo-Calvinisme terhadap budaya oleh theolog Reformed Belanda seperti Abraham Kuyper dan Dooyeweerd telah memengaruhi cara berpikir Hans Rookmaaker yang kemudian diterapkan dalam sejarah kesenian. Beliau berpendapat bahwa pandangan dualisme dari kebanyakan orang Kristen telah membiarkan kesenian modern menjadi sekuler.[8]

Namun, buku tersebut berangkat dari berbagai konteks latar belakang dan menggunakan metode interpretasi tertentu yang memengaruhi pembacaan beliau. Buku tersebut ditulis ketika terjadi konflik internasional, kekerasan rasisme, demonstrasi dari mahasiswa, perang Vietnam, dan pembunuhan Martin Luther King, Jr. dan Robert Kennedy, sehingga pembacaan Rookmaaker atas kesenian modern cenderung bersifat negatif.[9] Walaupun beliau menegaskan bahwa buku tersebut bukanlah keseluruhan dari narasi kesenian modern, namun buku tersebut telah memberikan sebuah pandangan mengenai sejarah. Beliau menilai bahwa seni modern menggambarkan realitas yang tidak memanusiakan manusia (dehumanizing) dan tidak ada arah (disorienting). Kemudian, interpretasi Rookmaaker tidak secara luas mengkritisi latar belakang pemikiran pelukis namun hanya mengacu kepada lukisan itu sendiri untuk menilai cara pandang (worldview) yang mau disampaikan.[10]

Sejarawan Kristen abad ke-21, seperti Jonathan Anderson dan William Dyrness, mengkritisi pandangan Rookmaaker atas sejarah kesenian modern dalam berbagai aspek. Pertama, pandang Rookmaaker dinilai sebagai sebuah cerita yang terus menurun menuju nihilisme dan ketidakmasukakalan (absurdism).[11] Kedua, cara interpretasi Rookmaaker yang terlalu membesarkan pembacaan ontologis dari sebuah representasi visual telah melupakan fungsi seni yang lain.[12]

Anderson dan Dyrness berargumen bahwa keterkaitan antara theologi dan seni modern dapat dijelaskan melalui dua alasan sederhana. Pertama, bahwa tradisi religius telah membentuk dan memengaruhi secara mendalam pemikiran dari banyak seniman penting di era Modern.[13] Contohnya, Picasso, Paul Cézanne, dan Andy Warhol memiliki latar belakang Katolik. Lalu Van Gogh dan Piet Modrian bertumbuh dengan pengaruh Protestan. Kedua, bahwa pencarian dari seni modern sangatlah bersifat theologis. Pencarian akan makna hidup dengan relasinya kepada keberadaan atau ketidakberadaan Allah sangat terlihat dalam kesenian modern, terlepas dari apakah mereka secara eksplisit mengutarakannya atau tidak.[14]

Teknik Abstraksi Piet Mondrian

Secara spesifik, penggunaan teknik abstraksi oleh Piet Mondrian menyatakan akan pencarian theologis tersebut. Secara pengertian, abstraksi dalam konteks kesenian modern adalah suatu teknik representasi menggunakan bentuk dasar seperti persegi, garis, bentuk organik, dan warna dasar yang terinspirasi dari gaya Kubisme (Cubism).[15] Ini merupakan sebuah hal yang meninggalkan tradisi representasi figuratif dan simbol-simbol tradisional yang biasa tampak pada seni lukisan dan pahatan. Teknik abstraksi juga dapat diartikan sebagai pencarian manusia akan allah yang bersifat energi dengan kekuatan kosmis dan impersonal.[16] Hal ini dapat terlihat dari karya-karya akhir Piet Mondrian seperti lukisan Composition with Large Red Plane, Yellow, Black, Gray, and Blue yang menggunakan garis horizontal dan vertikal, warna dasar biru, merah, dan kuning untuk mengekspresikan suatu energi yang universal.[17]

Piet Mondrian. (1921). Composition with Large Red Plane, Yellow, Black, Gray, and Blue

Sejarawan Kristen telah memberikan berbagai pandangan mengenai teknik abstraksi ini. Menurut Rookmaaker, karya Piet Mondrian dinilainya bersifat gnostik dengan cara berpaling dari dunia (escapist) dan berusaha membangun sesuatu yang terlepas dari realitas.[18] Namun, Anderson dan Dyrness memberikan pembacaan berbeda mengenai karya Mondrian melalui proses penelusuran konteks kehidupan Mondrian yang menunjukkan kaitan yang erat dengan iman kekristenan.

Piet Mondrian (1872-1944) bertumbuh dari keluarga Calvinist yang saleh dan secara aktif berpartisipasi dalam gereja Reformed Belanda (Gereformeerde Kerk).[19] Keterampilannya melukis dimulai dengan lukisan bertema Protestan dan penuh simbolisme figuratif seperti lukisan setengah lingkaran berjudul Thy Word Is the Truth (1894). Simbolisme lampu minyak dan jam pasir diletakkan di tengah-tengah mahkota dan topeng perang menandakan kematian dan kehidupan di tengah-tengah kekuasaan dan kenikmatan manusia. Namun di tengah itu semua ada Alkitab yang terbuka dan firman yang diambil dari Roma 5:1, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Kemudian di atasnya ada tulisan yang mengonklusikan keseluruhan lukisan tersebut, yakni “Uw Woord is de Waarheid” yang berarti “Firman-Mu adalah kebenaran”.

Piet Mondrian. (1894). Thy Word Is the Truth

Namun, ironisnya Mondrian mengalami krisis dalam imannya di tahun 1900 di mana dia mulai meninggalkan gereja dan menganut agama esoterik seperti teosofi.[20] Meskipun banyak sejarawan seni menginterpretasi bahwa gaya seni abstrak Mondrian sebagai sebuah perlawanan terhadap kekristenan, namun hal ini mengabaikan pandangan lain yang berkata bahwa justru teknik abstrak menyatakan kesinambungan dengan iman Reformed yang menjadi akar dari masa kecilnya.

Ketika karya abstrak Mondrian yang penuh dengan garis dan warna primer dianalisis, kritikus seni menyatakan bahwa komposisi setiap elemennya berkaitan erat dengan karya Mondrian akan tema “alam”. Contohnya, pada karya Ditch near Landzicht farm (1900), dapat dilihat bahwa komposisi garis mengikuti akan komposisi pohon, langit, dan padang rumput.[21] Bagi Mondrian, dia mengadopsi gaya Kubisme untuk menyatakan pencariannya akan hal yang paling murni dari suatu objek, bukan menghindari realitas objek tersebut seperti yang dikatakan Rookmaaker. Proses mengabstraksikan suatu objek bukanlah menghancurkan atau mengurangi makna dari objek yang direpresentasikan, namun ini adalah cara untuk menjelaskan relasi yang ada di dalam segala sesuatu yang tidak berubah (immutable), sehingga membentuk makna dalam dunia.[22]

Wall Street Journal. (2017). Deconstructing Mondrian: The Story Behind an Iconic Design. Analysis of Mondrian’s Ditch Near Landzicht Farm

Hal ini menyatakan bahwa Mondrian berusaha mencari hal yang merupakan bayang-bayang Allah yang tidak berubah (immutable) dengan mengeluarkan esensi dan keterkaitan antara segala sesuatu dalam alam ini. Bahkan, argumen Mondrian dapat disandingkan dengan argumen Kuyper mengenai seni. Di dalam ceramahnya tentang “Calvinisme dan Seni”, beliau berkata, “Ini adalah panggilan seni, bukan hanya untuk mengobservasi hal yang terlihat dan terdengar, tetapi untuk mengerti dan mereproduksi objek tersebut secara artistik, tetapi lebih dari itu, untuk menemukan dalam bentuk natural tersebut suatu aturan mengenai keindahan dan dengan itu menghasilkan dunia yang indah yang melebihi keindahan alam.”[23] Dapat dikatakan bahwa Mondrian secara tidak sadar menerapkan iman Calvinisme yang dia sendiri berusaha untuk tinggalkan.[24] Ini selaras dengan perkataan Alkitab di Roma 1:18-22 di mana Tuhan telah menyatakan diri-Nya melalui anugerah umum akan karakter ketidakberubahan-Nya (immutability), namun manusia tetap saja melawannya. Terbukti bahwa pencarian itu tetap dinyatakan melalui anugerah umum di dalam lukisan Mondrian.

Penerapan Bentuk Kesenian Modern dengan Pesan Kekristenan

Namun, di dalam praktik menjadi seorang seniman Kristen, tetap ada ketegangan (tension) dalam menggunakan gaya bentuk kesenian modern seperti teknik abstraksi. Menurut Francis Schaeffer, seorang filsuf Kristen, tidak ada gaya seni yang Kristen (godly) atau gaya seni yang tidak Kristen (ungodly).[25] Seni dikembangkan melalui sistem simbolis untuk cara pandang (worldview) tertentu. Namun demikian, sebuah gaya seni pasti memiliki limitasi yang terbentuk dari worldview yang memengaruhinya. Bentuk yang dipakai dalam menyampaikan sebuah cara pandang (worldview) dapat melemahkan atau menguatkan isi pesan tersebut, meskipun pembacanya tidak menganalisis dengan saksama. Karena itu, penggunaan sebuah gaya seni haruslah diterapkan secara bijaksana sehingga worldview dasar dari gaya tersebut tidak mendominasi dan menutupi pesan dari worldview kekristenan yang jauh berbeda.

Konklusi

Worldview di balik pembacaan sejarah seni sangat berpengaruh terhadap respons seniman Kristen. Pertama, seniman Kristen perlu menyadari peranan anugerah umum seperti dalam teknik abstraksi Mondrian yang menunjukkan bahwa manusia mencari bayang-bayang dari Allah sejati yang tidak berubah (immutable) dan berkuasa secara universal. Kedua, orang Kristen perlu menebus narasi kesenian modern dari sekularisme sehingga menghasilkan respons yang lebih mendorong seniman Kristen untuk dapat berkarya di zaman ini. Seperti Anderson dan Dyrness, penulis mengundang sebuah hermeneutika yang berlandaskan theologi yang kembali kepada rencana dan maksud Allah. Bukan menuju kepada nihilisme dan keputusasaan, melainkan menuju kepada restorasi total dari dunia ciptaan ini. Soli Deo gloria.

Filia Christy

Pemudi GRII Pusat

Endnotes:

[1] Alfred Barr. (1966). What is Modern Painting?

[2] Dyrness & Anderson. (2016). Modern Art and the Life of a Culture.

[3] Abraham Kuyper. (1943). Lectures on Calvinism. Calvinism and Art.

[4] Charles Taylor, Modern Social Imageries. as cited on Dyrness & Anderson (2016). Modern Art and the Life of a Culture.

[5] Paul Greenhalgh. (1997). Introduction to Modernism in Design.

[6] Ibid.

[7] Hans R. Rookmaaker. (1970). Modern Art and the Death of a Culture.

[8] Ibid.

[9] Anderson & Dyrness. (2016). Modern Art and the Life of a Culture.

[10] Ibid.

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] John Walford. (2002). Great Themes in Art.

[16] Ibid.

[17] Billy Kristanto (ed.). (2016). 50 Lukisan Agung dan Makna di Dalamnya.

[18] Hans R. Rookmaaker. (1962). Art and Entertainment.

[19] Anderson & Dyrness. (2016). Modern Art and the Life of a Culture.

[20] Ibid.

[21] Wall Street Journal. (2017). Deconstructing Mondrian: The Story Behind an Iconic Design. Analysis of Mondrian’s abstract composition.

[22] Anderson & Dyrness. (2016). Modern Art and the Life of a Culture.

[23] Ibid.

[24] Ibid.

[25] Francis A. Schaeffer (1973). Art and the Bible.

Filia Christy

Maret 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk kondisi masyarakat pada masa pandemi COVID-19 ini, di dalam masa sulit ini kiranya Tuhan berbelaskasihan dan memberikan kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan baik dalam masalah ekonomi, kesehatan, sosial, dan lainnya. Kiranya gereja diberikan kepekaan untuk dapat melayani jiwa-jiwa yang membutuhkan penghiburan dan pertolongan dalam masa sulit ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲