Artikel

Misi Kerajaan Allah

Suatu hari ada seorang pengkhotbah di dalam sebuah gereja meneriakkan, “Siapakah yang mau sembuh hari ini dari segala penyakitnya? Siapakah yang ingin lepas dari kesulitan dan kemiskinan? Siapakah yang ingin mencapai kesuksesan dan hidup sebagaimana layaknya anak raja? Mintalah seluruhnya kepada Tuhan dengan penuh iman dan engkau akan mendapatkannya. Berdoalah lebih keras dan giat agar Tuhan mendengar doamu!” Gambaran seorang pengkhotbah seperti ini telah banyak kita lihat dan dengar di zaman sekarang. Kita tahu bahwa ada sesuatu yang salah dengan orang ini. Apa salahnya? Yaitu dia memperlakukan Tuhan seperti mesin pemuas keinginannya. Kita tahu hal ini salah dan terbalik. Kitalah yang justru harusnya memuaskan keinginan Tuhan.

Kita bisa membahas panjang lebar mengenai kesalahan yang terdapat pada orang ini, tetapi bukan itu tujuan hal tersebut dipaparkan di sini. Ketika Anda mendengar apa yang dikatakan oleh orang tersebut, apakah yang Anda pikirkan? Kita sering kali mudah melihat masalah yang jelas ada pada orang lain dan kita berpikir bahwa hal itu tidak mungkin kita lakukan. Kita tidak mungkin seperti orang itu. Kita berbeda karena sudah tahu kebenaran. Benarkah demikian?

Kita sering kali tidak sadar bahwa kita juga tidak kebal dari kesalahan seperti orang itu. Jika kita tidak berhati-hati, kita pun bisa menjadi seperti itu tanpa kita sadari dengan bentuk yang lebih halus. Apakah yang menjadi standar kita menilai dalam hal ini? Standar menilai diri adalah firman, apa yang firman katakan mengenai relasi Allah dan manusia. Dalam firman Tuhan kita mengerti bahwa Kerajaan Allah hadir dalam dunia untuk mengembalikan relasi kita yang telah putus dengan Allah. Relasi yang benar dengan Allah adalah Allah sebagai pencipta dan kita adalah ciptaan. Kita harus taat kepada-Nya dan bukan sebaliknya. Relasi kita dipulihkan bukan supaya manusia bisa punya kekuasaan dalam sebagian hidupnya, melainkan supaya seluruh hidup tanpa terkecuali dikuasai oleh Allah.

Tidak sedikit pemuda Kristen yang berkata dengan mulutnya, “Tuhan adalah yang utama,” tetapi yang terjadi dalam hidupnya tidak pernah demikian. Tidaklah mudah mewujudkan kalimat itu. Kita cenderung mudah untuk menempatkan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai tambahan. Kita biasa dengan leluasa hidup mengejar karier dan edukasi tanpa memikirkan Allah. Mengapa? Karena yang seperti itulah yang mudah dan terasa natural. Akan terasa aneh jika kita membawa-bawa Allah ke dalam aktivitas kita yang lain. Menjadikan Allah dan kekristenan sebagai tambahan adalah hal yang paling mudah dan menenangkan hati nurani. Apa bedanya mahasiswa Kristen dengan yang tidak Kristen? Ya sama saja, hanya saja yang Kristen berdoa kepada Yesus dan yang lain tidak. Apa bedanya sekolah Kristen dan yang bukan sekolah Kristen? Sama saja, tetapi yang Kristen ada doa dan renungan firman Tuhan setiap pagi. Sisanya? Sama saja. Dalam bekerja juga seperti itu. Bedanya apa? Yang Kristen berdoa kepada Tuhan Yesus dan berusaha menjadi orang yang sebaik mungkin bekerja. Pada akhirnya segala yang kita lakukan ujung tombaknya adalah moral. Punya moral yang baik di masyarakat sama dengan memiliki hidup kekristenan yang baik.

Bisakah kita keluar dari pola pikir yang demikian? Apakah kita malah berpikir, “Ya memang begitu kan? Mau bagaimana lagi? Memangnya tidak cukup? Mau jadi orang ekstrem?” Jika kita berpikir demikian, berarti kita juga sebenarnya tidak ada bedanya dengan orang yang diceritakan di atas tadi. Bagaimana bisa? Allah memulihkan kita untuk menyerahkan seluruh aspek hidup kepada Dia. Allah tidak minta hidup yang setengah-setengah, apalagi hidup yang menempatkan Allah sebagai tambahan saja. Jika kita hidup seperti demikian, kita sedang memperlakukan Kristus sebagai alat saja untuk masuk ke dalam sorga. Keamanan hidup kita adalah mengetahui bahwa kita sudah menjadi Kristen dan pada saat mati nanti Tuhan Yesus akan membawa kita ke sorga. Maka paling tidak hiduplah baik-baik dalam dunia ini secara moral. Kita tidak bisa hidup seperti demikian. Mau sampai kapan pemuda Reformed Injili hidup seperti itu? Mau sampai kapan hidup tidak ada bedanya dengan orang dunia? Kita bahkan mengejar-ngejar dan mendambakan hidup yang seperti orang dunia. Sungguh keadaan yang ironis dan menyedihkan.

Kita perlu bersyukur karena telah mengenal Theologi Reformed yang mengajarkan kita untuk hidup utuh di hadapan Tuhan. Orang yang sudah ditebus oleh Tuhan dan sudah sadar tidak mungkin akan tinggal diam. Dia akan terus gelisah mencari bagaimana bisa mempersembahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Theologi Reformed menegaskan bahwa Yesus bukan hanya Juruselamat, tetapi juga Tuhan. Yesus menjadi Tuhan dalam hidup kita berarti seluruh aspek hidup kita harus ada di dalam komando-Nya. Kita harus percaya bahwa Kristus bukan hanya sanggup menyelamatkan jiwa kita, tetapi juga sanggup mengubah seluruh aspek hidup kita, menjadikan kita hidup dalam Kebenaran yang utuh.

Jika kita menjadi mahasiswa, maka kita harus tahu bagaimana belajar yang benar. Kita harus tahu apa yang kita pelajari, harusnya belajar sampai sejauh apa, bagaimana merelasikan apa yang kita pelajari dengan Kerajaan Allah dan ilmu-ilmu yang lain. Jika tidak, kita pasti akan termakan oleh gaya pendidikan modern yang membuat pengetahuan kita terkotak-kotakkan. Kita tidak bisa hanya menjadi mahasiswa yang pasif, tidak mau tahu, dan tidak mau ambil pusing. Kita tidak bisa hanya berargumen bahwa kita tidak menyontek sebagai mahasiswa. Itu bukan mahasiswa Kristen. Banyak orang dunia juga bisa tidak menyontek, bahkan lebih rajin belajarnya daripada kita. Percayalah, jika kita tidak kembali mengintegrasikan firman Tuhan dan prinsipnya ke dalam aktivitas kita, kita benar-benar tidak ada bedanya dengan dunia ini.

Apakah mudah menjadi mahasiswa melakukan hal yang disebutkan di atas tadi? Tentu tidak. Kita perlu berjuang jauh lebih susah daripada mahasiswa lainnya. Sementara mereka tidak perlu memikirkannya sama sekali, kita malah pusing tujuh keliling. Sementara mereka bisa hidup bersenang-senang, kita malah bergumul dengan Allah mati-matian. Siapa bilang bahwa menjadi mahasiswa Kristen itu mudah dan hanya soal kepintaran otak saja? Jika kita tidak bergumul dengan Allah, berdoa minta Tuhan agar dimengertikan, menggali firman, menganalisis pelajaran, mengaitkan satu aspek dengan yang lainnya, maka jangan harap kita bisa menjadi mahasiswa Kristen yang benar. Hal ini berlaku bukan hanya untuk mahasiswa, tapi bagi segala aktivitas dan profesi kita yang kita kerjakan.

Kita harus sungguh-sungguh bersyukur jika kita diperkenalkan kepada Gerakan Reformed Injili. Misi Kerajaan Tuhan adalah untuk memulihkan manusia agar bisa kembali hidup seutuhnya bagi Allah, tetapi untuk melakukan hal yang besar itu Tuhan memberikan visi sebagai arah kita, suatu pewahyuan Allah mengenai apa yang Tuhan mau kerjakan di zaman ini. Visi inilah yang diemban oleh Gerakan Reformed Injili. Tuhan memberikan kita kesempatan untuk hidup di dalamnya. Segala hal yang sudah kita bahas di atas tidak mungkin tercapai tanpa Theologi Reformed dan semangat Injili yang berapi-api. Pemuda Reformed Injili sebenarnya sudah tidak memiliki waktu lagi untuk memikirkan dirinya sendiri saja. Visi Tuhan sudah begitu jelas dan mendesak bagi kita untuk hidup sesuai dengan firman. Pemuda Reformed Injili harus membuat arus pemuda yang bersama-sama hidup seperti demikian. Hanya dengan cara inilah kita bisa memengaruhi dunia, menjadi garam dan terang dunia yang sesungguhnya. Kita tidak akan mampu jika kita tercerai-berai dan masih egois dengan diri kita sendiri. Kita terlalu sombong jika mengira dapat mengubah dunia dan memberi dampak besar pada dunia secara sendirian.

Mari kita sebagai pemuda bangkit dari keterpurukan kita yang tidak ada habisnya. Berhentilah mengasihani diri dan mulailah berjalan maju bersama-sama. Kita punya theologi dan semangat yang jelas dan kita tahu benar. Mau sampai kapan mutiara itu kita pendam dan membiarkan orang lain memengaruhi pemuda Indonesia? Kita mungkin tidak sadar bahwa banyak sekali orang di luar sana yang tidak memiliki ajaran yang jelas, bahkan mungkin ajarannya sesat tetapi mereka sedang gencar memengaruhi pemuda. Mau sampai kapan pemuda Reformed Injili diam? Mari kita bangkit bersama-sama dan mewujudkan misi Kerajaan Allah yang seutuhnya, yaitu mengembalikan keseluruhan hidup manusia yang utuh kepada Tuhan.

Rolando
Pemuda FIRES

Rolando Kaizer

September 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲