Artikel

Mission to the Unreached

Apa yang dimaksud dengan kata “unreached”? Saat kita berbicara tentang misionaris dan pekerjaan misi, kata “unreached” jika diterjemahkan secara sederhana berarti “yang belum terjangkau”. Apa artinya belum terjangkau? Apa yang belum dijangkau? Jawabannya adalah orang-orang. Belum dijangkau oleh apa? Belum dijangkau oleh Injil Kristus.

Jadi “the unreached” adalah orang-orang di luar sana, di negeri-negeri lain, yang tidak pernah mendengar tentang Injil Kristus. Tempat-tempat di mana persentase kekristenan sangat kecil atau bahkan tidak ada sama sekali; tidak ada orang Kristen, tidak ada penginjil, tidak ada gereja. Pada dasarnya, tidak ada sarana bagi orang-orang di tempat tersebut untuk mendengar tentang Yesus Kristus. Menurut joshuaproject.net, suatu situs yang menunjukkan statistik orang-orang yang belum dijangkau oleh Injil Kristus, dari 7,67 miliar populasi manusia di muka bumi, ada sekitar 3,19 miliar manusia yang belum dijangkau oleh Injil Kristus—itu hampir setengah dari total populasi dunia.

Artikel ini akan berbicara tentang beberapa alasan kenapa kita harus pergi menginjili, khususnya kepada orang-orang yang belum dijangkau Injil Kristus. Apa pentingnya semua ini? Apa hubungannya orang “unreached” ini dengan kita?

  1. Perintah dan Mandat dari TuhanMatius 28:18-20 kita kenal sebagai Amanat Agung Tuhan Yesus, dan ini menunjukkan bahwa kita orang Kristen dipanggil untuk menyebarkan Injil Kristus. Tetapi lebih dari itu, jika kita melihat dengan teliti, kita bisa melihat suatu perintah spesifik, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Semua bangsa! Jadi saat Kristus memberikan amanat ini kepada murid-murid-Nya, yang ada di pikiran Kristus itu bukan hanya orang-orang sekitar mereka yang Tuhan telah tempatkan, tetapi semua bangsa dan negeri. Termasuk orang-orang yang belum pernah mereka temui, bahkan yang hidup dengan cara yang sangat berbeda dengan mereka. Hal ini juga berlaku untuk kita yang mengikuti Kristus di abad ke-21 ini. Perintah untuk mengabarkan Injil ke semua bangsa. Ini berarti sama seperti utusan Kristus Yesus kepada murid-murid-Nya, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat. 28:19), “kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Semua ini juga berlaku bagi kita. Kita telah diutus ke dunia dan ini berarti orang-orang unreached harus ada di target penjangkauan gereja Tuhan Yesus.
    Saya pernah mendengar teman saya bercerita tentang suatu kejadian saat dia berbincang-bincang dengan seorang street preacher (penginjil yang berdiri di pinggir jalan dan berkhotbah kepada orang-orang). Orang itu mengatakan kepada teman saya, “We should stop taking the Great Commission as the Great Suggestion.” Kita harus berhenti memperlakukan Amanat Agung dari Kristus hanya sebagai suatu usulan atau saran yang kita boleh saja tidak kerjakan. Pemberitaan Injil bukan usulan tetapi suatu perintah. Ini adalah suatu perintah yang jelas mencangkup negeri-negeri dan suku-suku yang belum pernah mendengar Injil Kristus, karena hati Tuhan adalah agar seluruh dunia memuji dan memuliakan Dia karena Injil keselamatan.
  2. Kenyataan Neraka dan Injil KristusThe Christians who are around me wouldn’t share the Gospel with me and I never realized why. I concluded either they didn’t believe the Gospel was true, or if they did believe it, they didn’t care if I went to hell.” – Nabeel Qureshi
    Neraka adalah suatu konsep Kristen yang mungkin jarang kita pikirkan dan renungkan. Di satu sisi, ini wajar, siapa yang mau memikirkan tentang neraka? Apalagi kita sekarang hidup di zaman dengan banyak versi “kekristenan” yang hanya mau bicara tentang kasih Tuhan dan tidak pernah menyinggung tentang penghakiman dan kemarahan Tuhan terhadap dosa. Penghakiman ini adalah suatu konsep yang nyata, terutama di dalam keselamatan kita. Itu adalah neraka, tempat penghakiman Tuhan yang akan berlangsung sampai kekekalan. Tempat adanya penderitaan karena kemarahan Tuhan selama-lamanya. Bukan tentang setan menyiksa orang berdosa, tetapi tentang penghakiman Tuhan yang suci, kepada orang berdosa dan juga setan. Kita yang telah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat telah ditebus dari kemarahan dan penghakiman Tuhan agar kita bisa memiliki relasi pribadi dengan Tuhan dan menyaksikan-Nya kepada dunia.
    Apa hubungannya ini dengan misi kepada unreached? Coba pikirkan untuk sejenak, orang yang belum pernah mendengar Injil keselamatan dari Yesus Kristus adalah orang berdosa yang ada di bawah penghakiman dan kemarahan Tuhan; “murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh. 3:36). Bayangkan ini, penghakiman Tuhan yang kekal yang dahulu ada di atas kita, masih ada di atas mereka dan tidak ada yang memberitakan Injil Kristus kepada mereka. Tidak ada sarana bagi mereka untuk mendengar Injil, percaya kepada Kristus, dan diselamatkan dari hukuman dosa. Tidak ada sama sekali, kecuali ada yang pergi kepada mereka. Apakah kita bisa diam saja dalam terang kebenaran ini? Lebih dari tiga miliar orang masih hilang tanpa terang Injil sedikit pun, dan mereka sedang berjalan di dalam dosa menuju neraka. Bagaimana mungkin kita bisa tinggal diam dan tidak memikirkan cara untuk menjangkau jiwa-jiwa ini? Kita betul-betul harus berdoa minta belas kasihan Tuhan agar hati kita bisa memiliki suatu sense of urgency terhadap jiwa-jiwa yang terhilang ini.
  3. Gairah untuk Kemuliaan Tuhan

Sekarang kita masuk ke alasan ketiga kenapa penjangkauan kepada suku-suku yang belum pernah mendengar Injil sangat mendesak, yaitu bahwa Tuhan belum dipermuliakan di suku-suku tersebut.

“The highest missionary motives is neither obedience to the Great Commission (important as that is), nor love for sinners who are alienated and perishing (strong as that incentive is, especially when we contemplate the wrath of God…), but rather zeal—burning and passionate zeal—for the glory of Jesus Christ . . . . Only one imperialism is Christian . . . and that is concern for His Imperial Majesty Jesus Christ, and for the glory of his empire.” – John Stott

Paragraf di atas ditulis oleh seorang theolog bernama John Stott dan dikutip oleh John Piper dalam bukunya “Let the Nations Be Glad!” Suatu buku yang baik untuk mendapatkan perspektif misi yang berpusat kepada Tuhan. Paragraf itu mengatakan bahwa dorongan yang terpenting bagi misi adalah gairah atau semangat agar nama Tuhan dipermuliakan. Alkitab penuh dengan perkataan Tuhan, pekerjaan Tuhan, yang semuanya bertujuan untuk satu hal, demi nama Tuhan dipermuliakan (Yeh. 36:22; Yes. 43:25; 1Kor. 1:31; Rm. 11:36).

Dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian Baru, Tuhan memiliki suatu komitmen untuk kemuliaan nama-Nya, karena Dia sajalah yang layak menerima semua kemuliaan selama-lamanya. Dia layak dipermuliakan sebagai Pencipta. Dia layak dipermuliakan sebagai Penopang hidup manusia. Dia layak dipermuliakan sebagai Sumber segala berkat. Dia layak dipermuliakan sebagai satu-satunya Juruselamat. Dia layak menerima segala kemuliaan dan pujian, bukan saja dari beberapa bagian dari dunia ini, tetapi Dia layak menerimanya dari seluruh dunia, dari satu ujung ke ujung yang lain.

“Missions is not the ultimate goal of the church. Worship is. Missions exists because worship doesn’t. Worship is ultimate, not missions, because God is ultimate, not man. When this age is over, and the countless millions of the redeemed fall on their faces before the throne of God, missions will be no more. It is a temporary necessity, but worship abides forever.” – John Piper

Misi ada karena ada negara di mana orang-orang masih menyembah ilah-ilah lain. Misi ada karena ada suku di mana orang-orang masih mempersembahkan korban kepada nenek moyang mereka. Misi ada karena ada negara-negara di mana atheis tidak percaya Tuhan dan oleh karena itu mereka tidak memuji dan memuliakan Tuhan. Misi penting karena ada banyak negara dan suku di dunia, di mana orang masih belum memuliakan Tuhan di atas segala-galanya.

RESPONS

Di dalam terang apa yang sudah kita diskusikan dalam artikel ini, mungkin kita bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan di hadapan kenyataan ini?”

  1. Pergilah MenginjiliBagi saya, penginjilan bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali tantangan, seperti orang yang tidak suka kekristenan, pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sering kali tantangan yang terbesar adalah perasaan takut karena keberdosaan saya. Tetapi yang saya juga alami adalah bahwa saat saya tunduk dan turut kepada kehendak Tuhan, Dia membentuk karakter dan hati saya. Dari orang yang takut penginjilan, menjadi orang yang sadar pentingnya penginjilan. Dari orang yang melakukannya hanya karena diajak teman, menjadi orang yang menggumuli dan merenungkan pentingnya penginjilan. Ini tidak mengubah semuanya menjadi sesuatu yang gampang. Namun, biarlah fakta bahwa Kristus telah mengutus kita, fakta bahwa banyak sekali orang berdosa yang hilang di luar sana, dan fakta bahwa Kristus belum dipermuliakan oleh orang-orang hilang tersebut, mendorong kita untuk menginjili. Biarlah dalam ketaatan kita, Allah membentuk hati kita seturut kehendak-Nya demi kemuliaan nama-Nya.
  2. Gumulkanlah MisiMungkin ada beberapa dari kita yang berpikir, “Apakah semua ini berarti saya harus menjadi misionaris?” Saya akan menjawab bahwa itu patut digumuli. Tentu banyak faktor yang masuk dalam pertimbangan ini, tetapi kita harus sadar bahwa bisa saja Tuhan sedang memanggil kita untuk berespons terhadap panggilan Dia untuk memberitakan Injil ke tempat-tempat yang belum dijangkau. Ini bukan panggilan yang main-main. Dengan realitas yang kita sudah lihat di atas, mana mungkin kita bisa main-main dengan panggilan ini.
    Bukan hanya itu, respons apa pun yang Saudara dapatkan dari menggumuli pekerjaan misi, Gereja Tuhan tetap dipanggil untuk berkorban demi memberitakan Injil ke seluruh dunia. Izinkan saya memberikan suatu analogi dari khotbah yang saya dengar dari Paul Washer, seorang pendeta dan juga misionaris. Saya akan men-parafrasanya, “Pekerjaan misi adalah seperti pekerjaan menimba air dari sumur yang dalam. Di dalam pekerjaan ini ada dua orang yang terlibat. Satu orang di ujung tali yang dikirim ke dalam sumur untuk menimba air, dan satu orang lagi yang ada di luar sumur, di daratan, dan sedang memegang tali itu dengan erat, membantu orang satunya lagi. Bagaimanapun juga, kedua orang itu akan ada bekas luka di tangan mereka.”
    Inilah panggilan Tuhan, entah kita dipanggil untuk keluar menjadi misionaris penuh waktu atau menjadi orang yang mendukung pekerjaan misionaris-misionaris, Gereja Tuhan tetap menerima panggilan yang sama, yaitu kita harus berkorban dan menyebarkan Injil ke ujung dunia.
  3. Doakan Orang-Orang Unreached

Poin terakhir yang ingin saya bagikan adalah doa. Doakanlah orang-orang unreached ini. Siapa yang bisa melakukan pekerjaan sebesar ini kecuali Tuhan? Ini mungkin hal yang paling sederhana dan juga hal yang paling sulit untuk dilakukan. Sering kali lebih mudah menginjili orang di jalanan daripada berdoa untuk orang yang kita injili. Sering kali lebih mudah melakukan suatu pelayanan beramai-ramai dengan teman-teman kita daripada menggunakan waktu untuk menyendiri dengan Tuhan dan berdoa bagi orang lain. Tanpa sepengetahuan kita, kita sudah menggantikan peran doa dan pekerjaan Roh Kudus dalam pekerjaan misi dengan aktivitas manusia yang tidak didasarkan pada kebersandaran kepada Roh Kristus. Wajar saja sering kali pekerjaan kita tidak menghasilkan buah yang sejati.

Kita harus berdoa. Siapa yang bisa memuliakan Tuhan ke seluruh dunia jika bukan Tuhan yang mengerjakannya? Pekerjaan misi, bahkan pekerjaan pelayanan kita yang lain, harus ditopang oleh Tuhan, jika tidak, mungkin saja semua itu sia-sia. Jika Tuhan sedang bekerja, mau selemah apa pun kita, dalam ketidakberdayaan kita, Tuhan akan bekerja dan membawa orang-orang kembali kepada Dia dan memuliakan nama-Nya yang kudus.

Kiranya artikel ini menjadi berkat bagi kita semua dan membawa kemuliaan hanya bagi nama Allah Tritunggal. “Let all the peoples praise you, O God; let all the peoples praise you!” (Mzm. 63:7, ESV)

Cristofer Soenarto

Pemuda GRII Melbourne

Referensi:

- Stott, J. (1994). The Message of Romans: God’s Good News for the World. IVP Academic.

- Piper, J. (2010). Let the Nations be Glad! The Supremacy of God in Missions. 3rd ed. Baker Academic, p.10,35.

Cristofer Soenarto

Maret 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk situasi global dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini, berdoa kiranya setiap umat Kristen diberikan kekuatan oleh Tuhan di dalam menghadapi situasi ini dan mampu untuk menyaksikan Tuhan di dalam kehidupan mereka.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲