Artikel

Mosaic Covenant: Living under God's Law

Kebebasan adalah sebuah tema yang cukup populer bagi generasi muda saat ini, khususnya bagi kaum milenial. Hal ini sering kali diidentikkan dengan kehidupan yang dapat memilih jalan hidup sesuai dengan kata hati atau keinginan mereka, tidak peduli apa yang menjadi aturan atau tradisi turun-menurun. Apa pun yang dianggap benar atau tepat bagi hati mereka, itulah yang menjadi dasar dari keputusan hidup mereka. Inilah konsep kebebasan yang dimengerti oleh generasi muda saat ini. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jikalau berbagai institusi, baik dunia kerja, pendidikan, maupun berbagai organisasi sosial dan budaya, harus mengubah norma atau peraturan yang ada dalam organisasi mereka demi merangkul generasi muda saat ini.

Namun, realitas menyatakan bahwa kehidupan yang bebas tanpa adanya aturan adalah kehidupan yang tidak berbeda dengan seorang barbar. Bahkan binatang pun hidup di dalam kendali hukum alam yang Tuhan tetapkan. Maka, adalah ketidakmungkinan untuk seorang manusia hidup dengan kebebasan yang sebebas-bebasnya. Kebebasan yang sejati adalah kebebasan di dalam batasan, layaknya kereta api yang dengan bebas bergerak ketika berada di dalam rel. Sehingga, pada beberapa tahun terakhir ini muncul arus pemikiran yang mencoba untuk mengembalikan manusia hidup bertanggung jawab. Jadi, dibanding hidup hanya menekankan kebebasan dan hak, maka pada arus pemikiran ini manusia diajak kembali memikirkan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia.

Arus berpikir yang mendorong manusia untuk kembali memikirkan tanggung jawabnya ini dapat kita lihat di dalam pesan dari beberapa film terkenal yang kita saksikan akhir-akhir ini. Misalnya saja di dalam film “Spider-Man: Into the Spider-Verse” dan juga dalam “Avengers: Endgame”. Di dalam film Spider-Man: Into the Spider-Verse, kita dapat melihat tokoh utama, yaitu Miles Morales, yang bergumul di dalam mengendalikan kekuatannya, hingga ia tertekan dan melarikan diri dari tanggung jawabnya. Namun, suatu peristiwa terjadi yang menjadi titik balik dari karakter Miles, hingga ia menyadari akan tanggung jawabnya, lalu ia menjadi rela untuk memikul tanggung jawabnya sebagai seorang superhero. Pada mula film ini, karakter Miles digambarkan sebagai anak muda yang sangat menginginkan kebebasan, namun plot cerita membawa dirinya mengalami titik balik dan menjadi seorang yang berkarakter penuh tanggung jawab akan tugasnya. Hal ini menjadi sebuah kritikan terhadap filsafat postmodern yang terlalu menekankan kebebasan individual tetapi akhirnya mengabaikan tanggung jawabnya.

Kritik yang serupa pun tergambar dengan jelas dalam film Avengers: Endgame. Salah satu karakter yang perlu disoroti dalam film ini adalah karakter Iron Man. Ia memutuskan untuk mengorbankan dirinya demi menyelamatkan umat manusia dari ambisi seorang Thanos yang ingin melenyapkan setengah penduduk alam semesta. Di dalam kisah ini, kita dapat melihat perbedaan yang begitu drastis antara karakter Thanos di Infinity War dan karakter Thanos di dalam Endgame.

Dalam kedua film ini, Thanos digambarkan sebagai seorang tokoh yang kental dengan semangat postmodern. Pada Infinity War, kita dibuat bingung mengenai Thanos yang sebenarnya bisa merupakan seorang yang jahat atau justru penyelamat. Karena pada dasarnya ia tidak menyukai apa yang ia lakukan, tetapi ia merasa hal tersebut harus ia lakukan demi menyelamatkan kehidupan di alam semesta. Namun, di sisi yang lain, ia melakukan usaha penyelamatannya itu dengan mengorbankan banyak hal, bahkan hingga anaknya sendiri. Hal ini sangat kontras dengan karakter Thanos di Endgame, yang kental dengan ambisinya yang jahat, yaitu melenyapkan seluruh alam semesta. Namun karakter ini masih mencerminkan semangat postmodern, yaitu embrace the meaninglessness. Thanos sudah tahu bahwa dirinya akan mati, tetapi ia tetap berjalan bahkan mendekati orang-orang yang akan menghabisi nyawanya. Namun karakter yang bersemangat postmodern ini dihancurkan oleh seorang Iron Man yang digambarkan sebagai seorang yang menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Menariknya, karakter Iron Man dalam film-film sebelumnya digambarkan sebagai orang yang nyentrik dan hidup bebas sebagaimana yang ia ingin lakukan. Namun, di akhir hidupnya ia melakukan suatu usaha penyelamatan yang begitu besar dan signifikan sebagai wujud dari tanggung jawabnya sebagai seorang superhero.

Bercermin dari semangat untuk membawa kembali manusia ke dalam tanggung jawabnya, maka kita perlu kembali memikirkan apa itu artinya kebebasan. Apakah kebebasan itu berarti hidup liar tanpa batas atau kekangan? Atau justru kebebasan yang sebenarnya memerlukan ikatan dan batasan? Semangat yang ingin membawa manusia kembali ke dalam tanggung jawabnya, belum bisa menjawab hal ini karena mereka hanya berhenti di dalam pemikiran bahwa kita harus bertanggung jawab. Mereka tidak memberikan arahan yang lebih lanjut yaitu tanggung jawab mana yang harus kita jalankan? Hal ini belum ada jawaban yang jelas. Namun, Alkitab menyatakan hal ini dengan jelas, yaitu kita harus hidup bertanggung jawab di bawah ketetapan yang Allah berikan kepada kita. Khususnya, sebagai umat Allah, kita dipanggil dan ditebus-Nya bukan untuk sekadar hidup dalam kebebasan yang liar. Kita dipanggil untuk hidup sebagai umat Allah yang tunduk kepada segala perintah-Nya dan menjalankan segala kehendak-Nya. Inilah definisi kebebasan Alkitab!

Di dalam artikel-artikel sebelumnya, kita pun sudah mempelajari bahwa sebagai umat Allah, kita hidup dalam ikatan perjanjian dengan-Nya. Maka, kehidupan sebagai umat Allah adalah kehidupan yang tunduk kepada-Nya. Kita harus hidup berdasarkan kehendak dan aturan yang Ia berikan kepada kita. Dengan kata lain, kita dituntut untuk hidup bertanggung jawab kepada-Nya berdasarkan perintah yang Ia sudah nyatakan. Inilah yang menjadi salah satu tema dalam perjanjian Allah dengan Musa, yaitu dinyatakan-Nya hukum Allah yang menjadi dasar atau prinsip kehidupan umat Allah. Pada artikel ini kita akan melihat secara overview mengenai covenant of law, dan bagaimana hal ini menjadi bagian penting dari kehidupan umat Allah.
Mosaic Covenant
Sebelum terjadinya perjanjian Allah dengan Musa, bangsa Israel sudah berada di dalam ikatan perjanjian dengan Allah sebagai kelanjutan dari perjanjian Allah dengan Abraham. Narasi ini dimulai ketika Allah mendengarkan keluhan atau seruan dari bangsa Israel, “Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub” (Kel. 2:24). Perjanjian Allah dengan Musa dilaksanakan setelah Allah membebaskan Israel dari Mesir dan menyatakan diri-Nya sebagai Allah atau Tuhan dari Israel. Allah mengadakan Covenant of Law dengan Musa ketika di Gunung Sinai, di mana melalui perjanjian inilah Sepuluh Hukum Allah dinyatakan kepada umat-Nya. Sehingga pengertian kita akan Sepuluh Hukum Allah seharusnya dilatarbelakangi oleh konteks sejarah ikatan perjanjian Allah dengan umat-Nya yaitu, “ I am the LORD your God, who brought you out of the land of Egypt, out of the house of bondage.” Untuk menjelaskan keterkaitan antara law dan covenant, seorang theolog bernama W. Gutbrod menjelaskan seperti demikian:

“The Law have their place in the doctrine of the covenant. Yahweh has chosen Israel as His people, and Israel has acknowledged Yahweh as its God. This fundamental OT principle is the direct basis of these laws.”

Maka, perjanjian Allah dengan umat-Nya adalah konsep yang lebih besar atau lebih tinggi dari hukum Allah. Di dalam perjanjian, orang-orang yang terkait diikat berdasarkan peraturan yang dicantumkan dalam perjanjian tersebut. Hal ini adalah aspek legal dalam perjanjian. Seperti yang kita telah pelajari dalam artikel-artikel sebelumnya, perjanjian-perjanjian yang Allah buat dengan umat-Nya adalah bagian dari karya penebusan-Nya, dan di dalam konteks ini, hubungan perjanjian Allah dengan umat-Nya diperbarui dalam perjanjian dengan Musa yang lebih menekankan aspek legal dari relasi tersebut. Di dalam konteks inilah kita seharusnya mengerti Sepuluh Hukum Allah.

Palmer Robertson menjelaskan bahwa covenant of law ini menjadi ciri khas dari Mosaic Covenant. Ia menyatakannya demikian:

“The Mosaic Covenant manifests its distinctiveness as an externalized summation of the will of God. The Patriarchs certainly were aware of God’s will in general terms. On occasion, they received direct revelation concerning specific aspects of the will of God. Under Moses, however, a full summary of God’s will was made explicit through physical inscripturation of the law. This external-to-man, formally ordered summation of God’s will constitutes the distinctiveness of the Mosaic Covenant.”

Namun, pemberian Sepuluh Hukum Allah ini tidak boleh kita samakan dengan covenant of works yang diberikan oleh Allah ketika manusia belum jatuh ke dalam dosa. Covenant of law ini diberikan oleh Allah kepada manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Bedanya, covenant of works diberikan oleh Allah dengan sebuah tuntutan untuk manusia taat secara sempurna terhadap perjanjian ini sebagai syarat untuk manusia menerima anugerah hidup yang kekal. Namun, sejarah membuktikan manusia gagal untuk memenuhi tuntutan Allah ini, dan manusia akhirnya jatuh ke dalam dosa. Berbeda dengan covenant of works, covenant of law diberikan ketika manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Hukum ini diberikan bukan dengan maksud agar manusia taati secara sempurna sehingga akhirnya bisa menerima kehidupan yang kekal. Hukum ini diberikan sebagai bagian yang menyatu dengan sistem korban persembahan sebagai bagian dari karya keselamatan Allah yang progresif. Pdt. Stephen Tong mengibaratkan Sepuluh Hukum Allah ini seperti rontgen yang menunjukkan betapa berdosanya manusia dan memerlukan anugerah keselamatan dari Allah. Oleh karena itu, Sepuluh Hukum Allah ini tidak boleh dipisahkan dari karya keselamatan yang puncaknya digenapi dalam diri Yesus Kristus.

Palmer Robertson menjelaskan keterkaitan antara covenant of law dan karya keselamatan seperti demikian:

“The Covenant of Law as revealed at Sinai would be best divorced from ‘covenant of works’ terminology. The ‘covenant of works’ refers to legal requirements laid on man at the time of his innocency in creation. The covenant of law refers to a new stage in the process of God’s unfolding the richness of the covenant of redemption. As such, the Law which came through Moses did not in any way disannul or suspend the covenant of promise.”

Maka untuk mengerti lebih jelas lagi signifikansi atau kesinambungan covenant of law ini dengan covenant lainnya, kita perlu mengerti 3 aspek tersebut:

1. Covenant of law berkait secara organik dengan karya penebusan Allah secara total.
Hukum yang Allah berikan pada masa Musa bukanlah hukum yang diberikan secara terpisah dan hanya berlaku pada zaman Musa saja. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Robertson, covenant of law merupakan externalized summation of the will of God. Hal ini berarti apa yang Allah nyatakan dalam Sepuluh Hukum Taurat bukanlah sesuatu yang baru muncul pada era Musa, tetapi merupakan kristalisasi dari apa yang sudah Allah nyatakan sebelumnya. Perbedaannya, pada era-era sebelumnya kehendak Allah hanya dinyatakan secara parsial, sedangkan pada era Musa kehendak Allah secara menyeluruh dikristalisasikan dan dinyatakan secara eksternal atau dalam bentuk yang tertulis. Namun, secara isi dari hukum ini kita dapat melihat keterkaitannya dengan kehendak Allah yang dinyatakan baik pada era-era sebelum Musa maupun era-era setelah Musa. Hal ini secara jelas tercermin di dalam isi dari perjanjian yang Allah adakan dengan umat-Nya, di mana ketaatan umat Allah kepada perintah-Nya akan membawa mereka kepada kehidupan yang penuh berkat, sedangkan umat Allah yang hidup dalam ketidakbenaran atau pemberontakan kepada Allah akan membawa penghakiman bagi perbuatan dosa mereka. Sehingga di dalam konteks ini, seluruh umat Allah di dalam segala zaman akan dihakimi berdasarkan perbuatan mereka. Hal ini pun terus berlaku bagi kita di zaman ini. Walupun keselamatan diberikan melalui iman kepada karya Kristus saja, penghakiman Allah atas umat-Nya didasarkan kepada perbuatan mereka selama kehidupannya. Di dalam konteks inilah kita dapat mengerti bahwa hukum Allah tidak pernah menjadi usang dan selalu relevan hingga saat ini.

2. Covenant of law berkait secara progressive dengan keutuhan karya keselamatan Allah.
Seperti yang kita mengerti bahwa wahyu Allah dinyatakan secara progresif, sehingga wahyu Allah yang dinyatakan tidak akan pernah usang di zaman-zaman berikutnya, tetapi akan terus berproses hingga mencapai titik puncaknya yaitu di dalam diri Yesus Kristus. Hal ini berarti hukum Allah yang diberikan pada zaman Musa merupakan kesinambungan dari wahyu pada era-era sebelumnya, dan hukum Allah ini bukanlah akhir dari pernyataan Allah, melainkan menjadi pijakan bagi pernyataan selanjutnya hingga mencapai puncaknya di dalam diri Kristus. Berkaitan dengan hal ini Palmer Robertson menyatakan seperti demikian:

“The life-experience of the believer under any epoch always will have a direct relationship to the revelation that has been made available to that point. The self-revelation of God throughout the ages may be regarded as the ‘raw material’ used by the Holy Spirit to apply the benefits of redemption to the life-experience of the believer. For this reason, advancement in revelation involves advancement in life-experience. The believer under the old covenant may have experienced by believers under the new covenant. But heightened revelation also involves a deeper and richer experience of deliverance from sin and its consequences.”

3. Covenant of law tergenapi di dalam diri Yesus Kristus.
Seluruh kisah di dalam Alkitab, baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, menyatakan suatu fakta bahwa tidak ada satu pun manusia yang sanggup menjalankan hukum Allah ini secara sempurna. Hanya di dalam diri Kristuslah kepatuhan sempurna terhadap hukum Allah ini dapat dilakukan. Sementara di sisi lain, Ia juga menanggung hukuman atas kegagalan kita mematuhi hukum Allah ini.

Kesimpulan
Sebagai umat Allah, kita tidak hanya dipanggil keluar dari perbudakan dosa, tetapi juga dipanggil untuk hidup berdasarkan hukum yang Allah sudah nyatakan di dalam Alkitab. Meskipun kita sudah dibebaskan dari dosa, bukan berarti kita dapat mengabaikan hukum Allah. Justru anugerah keselamatan itu menjadi dasar untuk kita mengejar kehidupan yang bertanggung jawab dan taat kepada Allah. Sebagai orang Kristen, kita harus menyadari bahwa kebebasan yang liar hanya akan menghancurkan hidup ini bahkan akan makin menjerat kita di dalam dosa dan makin jauh dari kebebasan yang sejati. Oleh karena itu, kita harus rela untuk taat dan menjalankan segala perintah yang Allah nyatakan, karena itulah kebebasan hidup yang sejati. Hak kehidupan akan terjamin jikalau kita menjalankan tanggung jawab kita. Hidup di dalam berkat Allah yang berlimpah dapat kita rasakan ketika kita hidup secara bertanggung jawab menjalankan segala perintah Allah. Kiranya Tuhan memimpin dan membentuk kita untuk terus taat menjalankan segala kehendak-Nya.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Agustus 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Kita mengucap syukur untuk penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas rangkaian Gospel Rally, Seminar, dan Grand Concert Tour di Australia dan Selandia Baru pada akhir Oktober dan awal November ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dear Kartika. Seperti yg disampaikan di awal, Tuhan Yesus pun 'dipilih' Allah sebagai Juruslamat...

Selengkapnya...

Allah Tritunggal mengasihi manusia tidak terbatas, hanya sebagai ciptaan kita manusia memiliki keterbatasan menerima...

Selengkapnya...

wuih mantap jiwa. sangat menjadi berkat bagi saya. terimakasih ya

Selengkapnya...

Bgm caranya sy bs memiliki buletin pillar edisi cetak?

Selengkapnya...

@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲