Artikel

Nahum Bukan Sekadar Soal Kejatuhan Asyur

Sejarah memang berada di dalam pengaturan tangan Tuhan, hal tersebut dapat kita temukan pada Kitab Nahum secara gamblang. Bagaimana nasib sebuah bangsa yang besar, keberadaan, serta masa depannya, sungguh tidak dapat diduga. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa Asyur, beserta Niniwe yang besar itu, dapat runtuh dan kini tak berbekas. “Apakah yang menyebabkan sebuah kaum dapat bertahan?” menjadi sebuah pertanyaan pokok. Kita akan melihat, ternyata jawabannya bukan karena kekuatan militernya, bukan karena kekuatan ekonominya, bukan karena stabilitas politiknya, dan bukan pula karena besar luas wilayah jajahannya.

Kitab Nahum sendiri sebenarnya tergolong tulisan yang pendek. Hanya terdiri dari tiga pasal. Gaya penulisannya pun berbentuk puisi yang menggambarkan bahwa Allah adalah Tuhan atas alam semesta, dan murka serta kemuraman akan ditimpakan-Nya atas Asyur beserta Niniwe. Asyur secara keseluruhan menjadi sebuah contoh bagaimana Allah menyatakan keadilan-Nya atas setiap bangsa. Allah tidak akan pernah membiarkan kejahatan tanpa hukuman. Tetapi lebih dari itu, Tuhan juga menyatakan bahwa bangsa sebesar Asyur pun hanyalah sebuah ruang pembelajaran yang Ia sendiri munculkan. Sebuah kelas yang Tuhan hadirkan, dan yang sekaligus Ia juga yang akan menutupnya ketika maksud-Nya telah selesai. Hal ini menjadi salah satu tema sentral dalam Kitab Nahum, yang akan kita coba tarik pesan reflektifnya yang universal.

Neo-Assyrian: Sebuah Pengantar
Sebagai konteks, Kitab Nahum ditulis pada masa Neo-Assyrian dengan tujuh rajanya yang terkenal. Di bawah ketujuh raja inilah Asyur mencapai masa-masa puncak kejayaannya. Inilah latar belakang situasi dari kisah umat Israel yang tercatat dalam Alkitab. Raja-raja tersebut adalah Ashurnarsipal II (883-859 SM), Shalmaneser III (858-824 SM), Tiglath-Pileser III (744-727 SM), Sargon II (721-705 SM), Sennacherib (704-681 SM), Esarhaddon (680-669 SM), dan Ashurbanipal (668-627 SM). Akan disertakan secuplik bagian dari Kitab Yunus di dalam pembahasan Nahum ini, sebab keduanya saling berkaitan, dan memiliki latar situasi yang berkesinambungan.

Kisah Yunus dan pertobatan Niniwe diperkirakan terjadi pada era Raja Yerobeam II (786-746 SM) memerintah Israel Utara. Saat itu, ketika Israel sedang mencapai masa-masa terbaiknya pada kepemimpinan Yerobeam II (baik secara militer, kesejahteraan, maupun luas wilayah), Kerajaan Asyur malah sedang mengalami stagnasi. Bermula dari perebutan kekuasaan pasca meninggalnya Raja Shalmaneser III, Asyur masuk ke dalam masa perang saudara. Raja Shamsi Adad V (824-811 SM) harus berperang dengan saudara kandungnya untuk memperebutkan kekuasaan. Karena Shamsi meninggal pada tahun 811 SM, Kerajaan Asyur untuk sementara waktu dipimpin oleh Ratu Shammuramat (811-806 SM) sambil menunggu putra mahkota mencapai usia dewasa. Di bawah pengelolaannya, stabilitas politik Asyur berhasil dikembalikan. Melalui tangan dingin dari satu-satunya “kaisar” wanita dalam sejarah Asyur ini, akhirnya Asyur dapat kembali memulai ekspansi wilayah kekuasaannya; setelah sebelumnya terhenti pasca wafatnya Shalmaneser III.

Adad Nirari III (putra mahkota penerus takhta Shamsi Adad V) meneruskan perbaikan yang telah dikerjakan ibunya, dan sempat memperluaskan kekuasaan Asyur lebih jauh, namun tetap tidak signifikan. Dan, apa mau dikata, sejarah mencatat para raja penerus selanjutnya lebih memilih untuk menikmati saja apa yang sudah dicapai oleh raja-raja sebelumnya. Pada masa ini Asyur masuk dalam kemandekan. Kekuatan militer mereka menciut, terutama di bawah pemerintahan dari raja-raja seperti Ashur Dan III dan Ashur Nirari V. Kebangkitan kekuatan Asyur baru terjadi lagi pada masa Tiglath-Pileser III. Seorang raja yang nantinya Raja Ahas (raja Yehuda) meminta bantuan untuk melawan Rezin (raja Syria) dan Pekah (raja Israel); tercatat dalam Kitab Yesaya dan 2 Raja-raja. Apa yang menarik di sini adalah pertobatan Niniwe, yang dikisahkan di dalam Kitab Yunus, terjadi pada masa di mana Asyur sedang mengalami stagnasi. Pengutusan Yunus (diperkirakan terjadi pada waktu Yerobeam II berkuasa, 786-746 SM) terjadi persis pada masa pasca kematian Shalmaneser III dan sebelum Tiglath-Pileser III (sekitar 824-
744 SM).

Dari catatan sejarah dunia dan Alkitab, kita dapat melihat bahwa nantinya pertobatan Niniwe dimaksudkan Tuhan untuk mempersiapkan Asyur menjadi alat pendisiplinan bagi Israel. Sebab, setelah terjadi pertobatan di Niniwe (sebagaimana yang ditulis Alkitab), sejarah dunia mencatat bahwa Asyur mulai bangkit dari stagnasinya. Kekuatan adidaya ini akhirnya dapat kembali melanjutkan ekspansi militernya yang sempat tertahan selama kurang lebih 80 tahun pasca meninggalnya Raja Shalmaneser III.

Pertobatan Niniwe: Sebuah Pertobatan Satir
Untuk membaca Nahum, kita tidak bisa melupakan apa yang pernah terjadi pada Kitab Yunus. Event yang terjadi pada Kitab Nahum memiliki jarak waktu sekitar 100-an tahun setelah apa yang terjadi pada Kitab Yunus. Kitab Yunus mencatat bagaimana Niniwe, ibu kota Asyur pada saat itu, mengalami pertobatan secara massal. Pertobatan yang terjadi secara menyeluruh dalam aspek sosiologi, politik, ekonomi, dan militer ini membawa dampak yang sangat besar. Asyur menjadi bangsa yang makin kuat. Padahal sebelumnya Asyur sudah menjadi bangsa yang adidaya. Maka tidak heran, salah satu ketidakrelaan Yunus ketika ia diutus kepada Niniwe adalah keberadaan Asyur yang memang menjadi ancaman potensial bagi Israel.

Kebangunan rohani yang dikerjakan Allah di Niniwe adalah sebuah kebangunan yang sangat unik dan menarik. Unik dan menarik karena, jika kita perhatikan, pesan “pertobatan” yang disampaikan oleh Yunus kepada masyarakat Niniwe sebenarnya sangat tidak jelas. Yunus 3:4 mencatat bahwa Nabi Yunus hanya menyampaikan bahwa 40 hari lagi Niniwe akan ditunggangbalikkan, hanya itu saja pesan yang disampaikannya. Tidak ada seruan untuk bertobat, lalu kepada siapa, dan bagaimana caranya. Yunus juga tidak mendeklarasikan sama sekali Allah yang mana yang mengutusnya (berbeda ketika ia berada di perahu yang akan berangkat menuju Tarsis pada Yunus pasal 1).

Lagi pula Yunus adalah seorang asing dari bangsa yang tidak signifikan bila dibandingkan dengan Asyur pada masa itu. Jadi bagaimana seseorang yang tidak dikenal, dengan pesan yang sangat tidak jelas, dapat menghasilkan sebuah pertobatan massal di tengah-tengah sebuah bangsa yang jauh lebih besar, lebih kuat, dan jauh lebih punya banyak alasan untuk melihat Yunus sebagai seorang yang sedang gila saja pada saat itu?

Ditambah lagi, kata “Tuhan” yang dipakai oleh Yunus pada 3:6-10 adalah kata “Elohim”, bukan “YHWH”. Bagi bangsa Israel, kata Elohim memang merujuk kepada Yahweh. Tetapi bagi bangsa Asyur, yang tidak mengenal Yahweh, kata tersebut mengarah kepada Allah yang tidak diketahui dan hanya bicara soal The Supreme God atau Tuhan yang paling berkuasa. Siapa Allah itu? Mereka tidak mengetahuinya. Jadi, bagaimana mungkin masyarakat Niniwe harus bertobat kepada Allah yang mereka kenal saja tidak? Tetapi tetap saja pertobatan yang besar itu terjadi di tengah-tengah bangsa Asyur, yang saking besarnya, kuasa pertobatan tersebut menyentuh seluruh lapisan dan golongan, bahkan sampai termasuk “golongan” hewan ternak. Mulai dari raja yang paling berkuasa, hingga lembu sapi dan kambing domba harus berpuasa, memohon belas kasihan dari Tuhan. Ini sangat “gila” bukan?

Kita bisa melihat bagaimana Tuhan mau menyindir bangsa Israel. Tuhan seolah mau menyatakan bahwa bangsa asing saja, di tengah-tengah kondisi yang paling tidak memungkinkan untuk terjadinya pertobatan, malah bisa bertobat. Ia mengirimkan Yunus, seorang nabi yang ogah-ogahan, kepada suatu bangsa yang lebih besar, kuat, dan maju ketimbang Israel. Ia datang dengan pesan yang sangat tidak jelas, menggantung, dan bahkan “di-sabotase”, tetapi tetap saja Niniwe bertobat bahkan sampai ternak-ternaknya. Raja asing ini, yang begitu berkuasa, berasal dari negara adidaya, dan yang tidak mengenal Yahweh saja bertobat. Israel, yang jauh lebih kerdil (dan satu-satunya yang mengenal Yahweh), kok tidak? Bahkan Tuhan perkeras pesan-Nya secara lebih kasar. Tuhan seperti mau menyampaikan bahwa umat-Nya jauh lebih dungu dari sapi dan lembu. Mereka yang merasa dekat dengan Tuhan ternyata memiliki hati yang begitu jauh dari Dia.

Pertobatan Niniwe: Hukuman bagi Kerajaan Israel Utara dan Runtuhnya Niniwe
Pertobatan Niniwe nantinya akan memulai suatu masa baru dari pendidikan Tuhan terhadap umat-Nya. Selain Tuhan ingin menyatakan belas kasihan-Nya kepada bangsa asing (yang sekaligus menyindir umat Israel tentunya), pertobatan Niniwe pun mengawali ekspansi militer Asyur yang baru di bawah Raja Tiglath-Pileser III. Kebangkitan Asyur ini sudah dinubuatkan oleh Nabi Amos di Amos 6:13-14. Amos adalah nabi yang hidup sezaman dengan Yunus, dan yang juga bernubuat kepada Yerobeam II, raja Israel Utara. Dan Alkitab mencatat bahwa Yerobeam II adalah raja yang jahat.

Alkitab (2Raj.16) mencatat bagaimana Ahas, raja Yehuda, memohon bantuan dari raja Asyur, Tiglath-Pileser III untuk melawan Pekah, raja Israel, dan Rezin, raja Aram. Sejarah mencatat kejadian tersebut berlangsung di sekitar tahun 732 SM, di mana raja Asyur berhasil mengalahkan mereka, menguasai wilayah Aram dan menjarah wilayah Israel Utara. Kerajaan Israel Utara tetap eksis setelahnya, namun hanya hingga sekitar tahun 722 SM, di mana raja Asyur, Shalmaneser V memulai pengepungan terhadap ibu kota Israel Utara, Samaria. Dan setelah pengepungan berlangsung selama tiga tahun, Samaria jatuh (2Raj. 17:3-6). Sargon II, yang meneruskan Shalmaneser V, melakukan proses pembuangan dari 10 suku Israel. Mulai saat itulah, kesepuluh suku Israel tidak dikenali lagi keberadaannya. Setelah Kerajaan Israel Utara runtuh dan habis lenyap, usia dari Kerajaan Asyur hanya tinggal 100 tahun. Sebab sejarah mencatat, bagaimana pada tahun 612 SM, Kerajaan Asyur yang luar biasa besar dan kuat itu jatuh. Niniwe, sebagai lambang kebesaran Asyur, harus luluh lantak di bawah kaki Kerajaan Neo-Babylon.

Interaksi-interaksi terakhir Asyur dengan umat Allah selama 722 SM hingga 612 SM, ditandai dengan kegagalan demi kegagalan dalam menguasai Yerusalem. Kerajaan Asyur pada saat itu tetap terus berkembang, dan mencapai puncak kulminasinya pada kepemimpinan Raja Ashurbanipal. Namun, masa kejayaan ini juga secara mengejutkan jatuh dengan sangat cepat karena pemberontakan dari berbagai kelompok wilayah jajahan Asyur, terutama Babel. Alkitab memberikan beberapa catatan bagaimana Allah melindungi Kerajaan Israel Selatan. Dan menjanjikan kejatuhan Asyur karena berani merendahkan Allah Yahweh beserta orang-orang benar-Nya (2Raj. 18-19; 2Taw. 32).

Tuhan memang memakai Asyur untuk menghukum mereka yang jahat. Tetapi Tuhan juga akan menghukum Asyur ketika mereka menindas orang-orang benar, orang-orang yang masih setia dan saleh kepada Tuhan. Asyur hanya menjadi alat yang dipakai Tuhan untuk menghancurkan Israel Utara. Sebuah ruang kelas pembelajaran bagi Kerajaan Yehuda, yang Ia tetapkan untuk meneruskan rencana kekal-Nya sebagai umat Allah di dunia. Tugas Asyur telah selesai. Nantinya untuk kembali mendidik Israel, Tuhan menggunakan Kerajaan Neo-Babel. Sebab sejarah mencatat, pada sekitar tahun 586 SM, umat Israel memulai kelasnya yang baru dengan memasuki masa pembuangan.

Kenapa Asyur jatuh? Karena Tuhan tidak akan membiarkan kejahatan dan mereka yang melakukannya lolos tanpa hukuman. Tetapi bukan karena itu saja, melainkan juga karena tugas Asyur telah selesai. Sebuah “ruang kelas” bagi pembelajaran Israel sudah selesai. Kitab Nahum menjadi sebuah catatan singkat bagaimana kelas itu ditutup oleh Tuhan. Kota Niniwe yang pernah Ia bangkitkan hanya diberikan “usia” sekitar 100 tahunan saja pasca kedatangan Yunus untuk pertama dan terakhir kalinya.

Akhir Kata dan Refleksi Kita
Akhir kata bagi para pembaca, kembali kepada kalimat pembuka yang mengawali artikel ini; bahwa sejarah memang berada di dalam pengaturan tangan Tuhan. Ia yang memunculkan, Ia pula yang menenggelamkan bangsa-bangsa. Dan semuanya berjalan sesuai dengan kehendak-Nya, untuk sekali lagi menyatakan apa yang ingin Ia kerjakan di muka bumi. Asyur yang begitu besar dan bisa mencapai puncak-puncak kemegahannya adalah karena Tuhan yang membangkitkannya.            

Kita melihat bagaimana Asyur menjadi sebuah contoh yang disandingkan dengan Israel. Kerajaan Israel yang begitu kecil kenapa masih dapat tetap bertahan, sedangkan Asyur tidak? Semua hanya karena Allah akan menopang siapa yang ingin Ia topang. Itu saja! Apakah dengan demikian Israel dapat bermegah pada dirinya sendiri? Tidak. Apakah ini menandakan bahwa Israel lebih baik? Tidak. Karena Yunus memberikan catatan yang sangat jelas, bahwa Niniwe pernah bertobat bahkan hingga ke hewan-hewan ternaknya; sedangkan Israel, yang katanya umat Allah, tidak bertobat. Suatu sindiran dari Tuhan, bahwa ternyata hewan ternak pun punya “hati” yang lebih lembut (dan “otak” yang lebih pandai) ketimbang mereka yang merasa umat pilihan Allah.

Karena itu, “takutlah kepada Dia” akan selalu menjadi sebuah pesan yang jelas, kuat, dan universal di sepanjang sejarah keberadaan dunia ini. Tuhan sanggup memunculkan, dan sekaligus meniadakan, sebuah bangsa hanya demi menjadi alat untuk mendidik umat-Nya. Padahal, pada puncak masa kejayaannya di bawah Raja Ashurbanipal, Asyur merupakan kekaisaran terbesar di dunia pada masa itu.

Dari Kitab Nahum kita belajar, mereka yang Tuhan pilih untuk dipelihara bukanlah karena kebaikan datang melalui diri mereka. Israel bukanlah bangsa yang hebat, baik, dan saleh. Justru Alkitab menjadi saksi bagaimana umat Allah berisikan orang yang tegar tengkuk (keras kepala, tidak mau taat). Bukankah itu pula yang menjadi cerminan kita? Jikalau sampai hari ini iman kita masih terpelihara, bukan berarti kita boleh berhenti untuk mengevaluasi diri. Bagi kita yang sekarang sedang berada pada tepi-tepi kerohanian yang berbahaya, mungkin saatnya untuk menjadi takut. Takut kepada Dia, dan mohon belas kasihan-Nya supaya kita dimampukan untuk kembali, dan tidak berlama-lama di dalam kehidupan kita yang menjauh dari Dia. Sehingga sekali lagi kita bisa menikmati baiknya Tuhan, dan bahagia dari-Nya bagi mereka yang berlindung kepada-Nya.

Nikki Tirta
Pemuda FIRES

Referensi:
Neo-Assyrian Empire.
Spirit of Reformation Study Bible – New International Version.
Belibtreu, Erika. “Grisly Assyrian Record of Torture and Death.” Biblical Archaeology Society Jan/Feb (1991).
Elohim.

Nikki Tirta

Juli 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

Apa indikator bahwa gerakan Pentakosta Kharismatik dapat disebut sebagai gerakan pemulihan berikutnya?

Selengkapnya...

Saya diberkati oleh tulisan ini. Tapi pada akhir-akhir tulisan ada bbrp hal yang mengganggu saya, kenapa tulisan2...

Selengkapnya...

Terimakasih atas renungannya sangata memberkati

Selengkapnya...

Terima kasih..sangat memberkati!

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲