Artikel

Not a Single Inch

Warisan pemikiran Abraham Kuyper bagi zaman ini

There is not a single inch of the whole terrain of our human existence over which Christ… does not cry, “Mine!”- Abraham Kuyper

Abraham Kuyper (1837-1920) adalah salah seorang tokoh besar yang berhasil mempengaruhi sejarah manusia. Semasa hidupnya ia pernah menjadi seorang pendeta, reformator gereja, editor surat kabar, theolog, anggota parlemen, pemimpin partai politik, profesor, rektor universitas, dan perdana menteri Belanda. Berbagai posisi penting yang ia pegang memberikan pengaruh yang luas khususnya di Belanda sampai berpuluh-puluh tahun kemudian. Selain itu, melalui tulisan-tulisannya, Kuyper telah mempengaruhi banyak pemikir-pemikir penting di Eropa, Amerika, dan berbagai tempat lain, yang akhirnya menjadi berkat bagi umat manusia. Karya terbesar yang ditinggalkan Kuyper kemungkinan yaitu suatu interpretasi terhadap Calvinisme yang mengaitkannya dengan kehidupan bermasyarakat secara utuh.

Bagi Kuyper, Calvinisme merupakan jawaban atas berbagai problema yang dihadapi oleh masyarakat, dan pemikirannya tetap relevan sampai zaman sekarang.  Kuyper menjelaskan bagaimana Calvinisme sanggup menjawab berbagai sistem pemikiran (worldview) yang menantang kekristenan, dan bagaimana Calvinisme sendiri merupakan sebuah sistem pemikiran yang sejajar, sistematis, dan konsisten untuk melawan arus pemikiran dunia. Calvinisme telah terbukti menjelaskan bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan dunia ini. Dan bahkan lebih jauh lagi, Kuyper percaya bahwa Calvinisme akan membawa peradaban manusia ke derajat yang lebih tinggi, demi kemuliaan Tuhan.

Sebagian besar pemikiran Kuyper tentang Calvinisme ini tertuang dalam kuliahnya yang diberikan di Princeton University pada tahun 1898. Kita akan melihat secara khusus pemikiran Kuyper tentang politik dan ilmu pengetahuan yang didasarkan pada kuliahnya tersebut. Politik, karena di bidang itu Kuyper menyimpulkan, dari Calvinisme, konsep kedaulatan wilayah (sphere sovereignty) yang menjadi solusi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ilmu pengetahuan, karena Kuyper menggabungkan konsep-konsep Calvinisme yang penting dalam memandang ilmu pengetahuan.

Politik

Di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, ada kalanya kita menentang keputusan yang diambil oleh pemerintah. Pemerintah mengeluarkan kebijakan yang mungkin menguntungkan mayoritas masyarakat, tapi di sisi lain merugikan pihak minoritas. Kita juga melihat bagaimana di dunia ini terdapat pemimpin-pemimpin diktator yang berdaulat penuh atas keputusan apapun bagi negerinya. Di sisi lain, kita juga melihat perjuangan untuk memberontak dari pemerintahan yang diktator ini. Keinginan masyarakat untuk merdeka, untuk bebas. Bagaimana kita sebagai orang Kristen menanggapi hal ini? Posisi apakah yang harus diambil oleh orang Kristen dalam sebuah kehidupan berbangsa dan bernegara?

Kuyper menyatakan bahwa dunia ini pada awalnya memiliki hubungan secara langsung dengan Allah. Semua anggota masyarakat saling berdampingan dan kehidupan politik akan mengalir dengan sendirinya dari kehidupan bermasyarakat. Tidak perlu ada polisi, angkatan darat, aparat keamanan, pemerintah, kalau manusia tidak jatuh ke dalam dosa. Akan tetapi, setelah kejatuhan Adam, semua manusia berdosa. Hal ini mengakibatkan putusnya hubungan langsung antara manusia dengan Allah, sehingga natur manusia yang berdosa ini memerlukan arahan dan bimbingan, sehingga muncullah pemerintahan.

Akan tetapi, karena institusi pemerintah ini ada karena dosa dan dijalankan oleh orang yang berdosa, pemerintahan menjadi sesuatu yang tidak natural, sesuatu yang membuat masyarakat memberontak. Pemerintahan menjadi sumber penyalahgunaan kekuasaan bagi mereka yang berkuasa, dan ada pemberontakan terus-menerus dari masyarakat banyak. Inilah asal mula pertentangan berabad-abad antara Otoritas dan Kebebasan. Di sinilah Calvinisme menyatakan bahwa Tuhan yang menempatkan para penguasa itu karena manusia telah jatuh dalam dosa. Di satu sisi kita melihat bahwa pemerintahan ada di dunia ini karena dosa. Di sisi lain kita melihat bahwa kita harus bersyukur karena Tuhan yang membentuk tiap pemerintahan yang ada di dunia ini sebagai alat untuk membimbing masyarakat. Tiap negara ada karena Allah, dan tiap negara ada untuk menyatakan kemuliaan Tuhan.

Lebih jauh, Kuyper menyatakan bahwa dunia ini memiliki berbagai wilayah kedaulatan. Ada kedaulatan pemerintah, kedaulatan masyarakat, dan kedaulatan gereja. Pemerintah di sini berdaulat karena memiliki kedaulatan yang diberikan oleh Tuhan. Begitu juga kehidupan sosial memiliki kedaulatan sendiri yang diberikan oleh Tuhan. Kuyper menyimpulkan dari Calvinisme bahwa kedaulatan ini datang dari Tuhan, dan yang satu tidak lebih tinggi dari yang lain karena semuanya sederajat di mata Tuhan. Pemerintah tidak berdaulat untuk mengatur segala tindakan sosial masyarakatnya. Dan masyarakat tidak dapat mendikte pemerintah. Keduanya sejajar di hadapan Tuhan dan bertanggung jawab terhadap Tuhan atas tindakannya masing-masing.

Meskipun begitu, pemerintah memegang tugas tertinggi untuk memastikan adanya keadilan dan menjamin kesejahteraan rakyatnya, serta menjaga kelangsungan hidup negara. Dalam hal ini pemerintah berhak menjatuhkan hukuman atas kejahatan para kriminal, berperang melawan musuh negara, dan menumpas pemberontakan. Pemerintah memiliki hak dan tugas untuk mengatur apabila terjadi pertentangan antara wilayah kedaulatan yang ada dan menentukan batasan sesuai dengan kesepakatan bersama. Pemerintah juga berkewajiban untuk melindungi individual dan orang-orang yang lemah. Dan warga negara memenuhi kewajibannya untuk menanggung beban personal dan finansial untuk mendukung jalannya pemerintahan.

Dalam dua ekstrim yang berbeda, bagi Kuyper, pemerintah selalu berusaha untuk ikut campur dalam urusan masyarakatnya dan masyarakat selalu berusaha memberontak dari otoritas pemerintah. Calvinisme, dalam penjelasan Kuyper, tidak berada di kedua ekstrim ini. Sebaliknya, Calvinisme menyatakan bahwa kedua kedaulatan ini harus berdiri independen satu sama lain. Untuk mengatur hubungan antara keduanya, maka diperlukan sebuah hukum atau konstitusi negara yang disusun bersama oleh negara dan masyarakat. Di sini kita melihat bagaimana Kuyper menentang kekuasaan tak terbatas yang dipegang oleh negara, dan mendukung adanya demokrasi yang melibatkan segenap masyarakat. Kuyper juga menyinggung bagaimana kita sebagai orang Kristen harus mempergunakan hak kita dengan bertanggung jawab di dalam memilih orang-orang yang akan duduk dalam pemerintahan.

Lebih jauh lagi, Kuyper juga memberikan jawaban atas relasi gereja dengan pemerintah. Calvin menyatakan bahwa urusan keagamaan seharusnya diatur oleh pemerintah. Namun bagi Kuyper, hal ini tidak lagi sesuai dengan kondisi zaman sekarang ini. Calvin mengeluarkan pernyataan ini karena adanya asumsi dasar bahwa pemerintah memiliki kewajiban untuk menyingkirkan ajaran sesat yang ada di negaranya, tentu dengan asumsi bahwa hanya ada satu gereja yang benar dan di luar gereja itu, ajaran yang diajarkan salah. Tentu ini tidak lagi sesuai dengan kondisi zaman di mana banyak aliran gereja berkembang, baik di luar aliran gereja Katolik Roma, maupun di luar aliran Calvinisme.

Dalam hubungannya dengan keagamaan, maka pemerintah memiliki tanggung jawab terhadap Tuhan, terhadap gereja, dan terhadap individual. Yang pertama, terhadap Tuhan, berarti pemerintah berkewajiban untuk menyelidiki tentang Tuhan, dan tidak tunduk di bawah keputusan gereja tertentu. Yang kedua, terhadap gereja, pemerintah tidak berhak menentukan gereja yang mana yang benar dan yang salah, melainkan harus menjamin adanya kebebasan beragama. Pemerintah harus menghargai berbagai gereja yang ada sebagai manifestasi gereja Tuhan di dunia. Yang ketiga, terhadap individu, yang berarti pemerintah tidak boleh memaksa seseorang untuk masuk ke gereja tertentu.

Dari sini kita melihat bagaimana pemikiran Kuyper mempengaruhi hubungan antara pemerintah dengan masyarakat dan gereja. Ketiga bidang ini berdiri berdampingan dan tidak ada yang lebih tinggi dari yang lain. Ketiganya bertanggung jawab secara langsung kepada Tuhan dan memiliki kewajiban untuk memuliakan Tuhan senantiasa. Dalam hubungannya dengan masyarakat, kita melihat bagaimana Kuyper mendukung adanya demokrasi yang melibatkan segenap masyarakat dengan adanya Konstitusi. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, pemikiran bahwa negara mendukung adanya kebebasan beragama bagi masyarakat negaranya.

Ilmu Pengetahuan

Konteks zaman pada waktu Kuyper hidup adalah Modernisme yang menyebabkan ilmu pengetahuan terus berkembang pesat. Pada zaman sekarang, kondisi ini tidak berubah. Dengan pengetahuan yang semakin lengkap tentang DNA, manusia seperti ingin menjadi Tuhan yang mencipta. Psikologi sekuler tidak menganggap dosa manusia sebagai akar masalah dan bahkan menjalar masuk ke dalam Gereja Tuhan. Penebusan umat manusia oleh Yesus tidak dianggap penting di dalam sejarah. Bagaimanakah umat Kristen seharusnya bertindak terhadap ilmu pengetahuan? Kuyper di dalam Stone Lecture memberikan jawaban dengan mendasarkannya pada Calvinisme. Dengan prinsip-prinsip Calvinisme, Kuyper mengembalikan ilmu pengetahuan kepada hakikatnya (domain) dan menunjukkan bahwa Calvinisme mendorong manusia untuk mengejar ilmu pengetahuan, bukan sebaliknya.

Kuyper mengatakan prinsip utama Calvinisme adalah penebusan kosmik (cosmic redemption). Maksudnya adalah Kristus tidak mati untuk menebus umat manusia saja, melainkan juga untuk menebus alam semesta sehingga semua hal di bawah langit dan bumi berada di bawah Kristus (Yoh 1:1-4, Kol 1:16-20, Rom 8:19-23, Mat 19:28, Why 4:11). Hal ini berarti Calvinisme menolak dualisme yang dianut gereja pada abad pertengahan di mana terjadi dualisme sakral dan sekuler. Pada saat itu alam semesta dikategorikan sebagai yang sekuler (duniawi) yang lebih rendah daripada hal yang sakral (rohani), sehingga ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan alam semesta dianggap tidak penting. Sebaliknya, tidak mungkin seorang Calvinis menganggap ilmu pengetahuan sebagai hal yang remeh atau sia-sia karena alam semesta tercakup di dalam rencana penebusan Allah yang kekal adanya. Alam semesta tidak ditempatkan di dalam posisi yang lebih rendah dari keselamatan manusia, tetapi sama-sama merupakan pekerjaan Tuhan dan harus ditujukan bagi tujuan yang ultimat yaitu kemuliaan Tuhan.

Alam, dan karena itu ilmu pengetahuan, telah dikembalikan ke hakikatnya. Kemudian hal apakah yang mendorong kita untuk memperlajari alam ini dan memicu kemajuan ilmu pengetahuan? Kuyper merujuk kepada doktrin predestinasi sebagai jawaban. Kuyper mendefinisikan predestinasi sebagai masuknya ketetapan Tuhan di dalam kehidupan pribadi manusia. Ketetapan Allah berarti keberadaan dan kelangsungan seluruh alam semesta ini berdasarkan pada suatu hukum dan keteraturan yang ditentukan oleh Allah. Seluruh hukum di alam ini, baik natural maupun spiritual merupakan satu kesatuan rencana Tuhan. Iman kepada ketetapan Allah inilah yang mendorong kecintaan pada ilmu pengetahuan dan juga memungkinkan ilmu pengetahuan bukanlah sekedar pengamatan secara empiris. Karena alam tidak berdasarkan pada kemungkinan yang tidak teratur, maka dari fenomena-fenomena yang terdapat di alam, dapat disimpulkan suatu prinsip umum yang dari padanya ilmu pengetahuan dibangun.

Berkaitan dengan ajaran Calvinisme yang lain tentang dosa (total depravity), bukankah itu berarti orang berdosa tidak akan dapat menghasilkan sesuatu yang baik? Tetapi dalam kenyataan, kita bisa melihat bagaimana orang-orang yang di luar Kristus bisa menghasilkan karya yang agung. Calvinisme menjawabnya dengan doktrin anugerah umum (common grace). Allah memberikan anugerah umum untuk ‘mengekang’ efek dosa tetapi tidak menghilangkan dosa. Kuyper memberikan analogi binatang peliharaan. Binatang liar bisa dilatih sehingga ia jinak dan memberi manfaat bagi kita, tetapi ketika binatang itu dilepas maka sifat aslinya akan keluar lagi. Jadi anugerah umum memungkinkan umat manusia untuk tetap hidup dan berkembang maju di bumi ini.

Dengan ini, Calvinisme telah memberikan suatu pandangan terhadap ilmu pengetahuan. Seorang Calvinis tidak menganggap alam sebagai hal yang rendah sehingga mengabaikan ilmu pengetahuan. Melainkan, karena alam adalah pekerjaan Tuhan dan menggambarkan kemuliaan Tuhan, ia akan mensyukurinya, menikmatinya, dan mengolahnya sesuai dengan panggilan yang Tuhan berikan kepadanya. Ia tidak akan menjadi sombong dengan apa yang ia temukan karena semua adalah dari Tuhan, ia juga akan bersyukur dan memberikan kemuliaan kepada Tuhan, bukan menganggap yang dari dunia adalah jahat,  atas apa yang telah ia lihat dari apa yang sudah orang lain (bahkan yang di luar Kristus) hasilkan karena itu semua juga merupakan anugerah dari Tuhan (common grace).

Ilmu pengetahuan bukanlah suatu hal yang netral atau terlepas dari iman, melainkan ilmu pengetahuan dibangun berdasarkan iman yang dimiliki seseorang. Sebenarnya tidak ada konflik antara iman dan ilmu pengetahuan. Konflik yang terjadi dalam wilayah ilmu pengetahuan adalah konflik antara presaposisi yang ada dan pada prinsipnya hanya ada dua presaposisi yaitu apakah semesta ini ‘normal’ atau ‘abnormal’. Normal berarti dunia sedang bergerak menuju kesempurnaan melalui evolusi. Sedangkan abnormal berarti telah terjadi gangguan di masa lampau (dosa) dan hanya kekuatan regeneratif (penebusan) yang dapat memungkinkan dunia mencapai tujuannya. Perbedaan ini terjadi, menurut Kuyper, karena ada orang yang kesadaran dirinya (self-consciousness) belum dilahirbarukan. Perbedaan antara kedua hal ini sangatlah mendasar dan sama sekali berbeda bahkan berlawanan atau disebut bersifat antitesis (Yoh 3:5, 1 Kor 2:14). Konsekuensinya, tiap orang yang berbeda wawasan hidup berhak mengembangkan sepenuhnya setiap aspek hidupnya secara konsisten tanpa paksaan siapapun. Hal ini mengharuskan orang Kristen mengembangkan ilmu pengetahuan yang konsisten dengan presaposisi Kristen, bukan sembarangan meniru-niru apa yang orang lain lakukan (yang belum tentu konsisten dengan presaposisi Kristen). Ini merupakan solusi Calvinisme terhadap konflik dalam wilayah ilmu pengetahuan.

Penutup

Kita telah melihat, khususnya di dalam bidang politik dan ilmu pengetahuan, bahwa Kuyper telah mewariskan kepada kita suatu pemikiran yang penting dan kokoh untuk mengembangkan kehidupan Kristen yang menyeluruh dan konsisten di tengah dunia yang semakin hancur.  Dan pemikiran yang ia hasilkan bersifat otentik, karena Kuyper sendiri menghidupinya.

Warisan terbesar yang pernah diberikan Kuyper bagi dunia ini mungkin adalah kehidupannya sendiri dan teladan yang bisa kita ambil darinya. Kuyper tidak hanya berdiri di depan mimbar dan menyatakan apa yang harus dilakukan, tapi ia sendiri melakukannya. Ia berusaha untuk mengembalikan kemuliaan Tuhan dalam berbagai bidang kehidupan melalui karirnya sebagai jurnalis, pendidik, theolog, politikus, dan perdana menteri. Ia mendirikan Free University of Amsterdam sebagai suatu universitas yang berdiri independen dari negara maupun gereja. Dia menulis dan membangun masyarakat Belanda melalui tulisan-tulisannya di surat kabar, dan melalui keputusan-keputusan yang diambilnya setelah akhirnya ia menjadi perdana menteri Belanda. Di mata Kuyper, tidak ada dikotomi antara kehidupan sekuler dengan kehidupan gereja. Yang ada adalah kehidupan keKristenan yang holistik dan menyeluruh demi kemuliaan Tuhan.

Sekarang, khususnya kita yang terlibat di dalam gerakan Reformed Injili, mendapat keistimewaan untuk bisa mengerti theologi Reformed dan bisa melihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana Pdt. Dr. Stephen Tong sebagai pemimpin gerakan ini menghidupi visi yang Tuhan berikan kepadanya. Tidaklah berlebihan jika kita mengatakan bahwa di zaman kita, ada seorang Abraham Kuyper yang lain yang kita bisa lihat sendiri. Lantas, bagaimanakah respon kita terhadap anugerah Tuhan yang begitu besar ini? Bukankah seharusnya anugerah ini membuat kita bersyukur dan mengekspresikannya dengan taat melakukan apa yang Tuhan rencanakan dalam hidup kita? Sudahkah kita melakukan pekerjaan Tuhan di dalam hidup kita? Mari kita melakukan apa yang menjadi bagian kita di dalam rencana Tuhan supaya kemuliaan Tuhan, ke-Tuhanan Kristus nyata di dalam setiap aspek hidup kita.

Referensi:
1. Abraham Kuyper, Lectures on Calvinism, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1931. (tersedia online di www. kuyper.org/main/publish/books_essays/article_17.shtml)
2. Peter S. Heslam, Creating a Christian Worldview: Abraham Kuyper’s Lectures on Calvinism, Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1998.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

bersyukur dalam segala keadaan, semakin terberkati... biarlah kehidupan ini jadi seperti yang Tuhan perkenankan...

Selengkapnya...

Terima Kasih Yah...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲