Artikel

On Apologetics: The Point of Contact

Introduksi: Sebuah Dilema

Apakah kesan yang paling pertama muncul di benak kita jika mendengar kata “apologetika”? Rumit? “Membela” Allah? Perlu cari banyak bukti? Buang-buang waktu? Biasanya kalau kita mendengar kata ini, kita akan membayangkan ada seseorang (atau sekumpulan orang), yang “setidaknya sudah cukup belajar firman Allah”, sedang berdiskusi dengan orang lain untuk mempertahankan argumen dalam kekristenan atau untuk mematahkan argumen lawan bicara. Supaya lebih dapat sense-nya, silakan buka beberapa video YouTube yang isinya perdebatan terbuka antara kekristenan dan agama lain. Setelah menontonnya, sering kali akan timbul semacam pertanyaan di benak kita, “Apakah ini berguna? Akankah lawan bicara mengerti apa yang apologet ini sampaikan? Mungkin ga sih pihak seberang mengerti?” Pada akhirnya, pertanyaan utamanya adalah adakah titik kontak antara orang Kristen dan non-Kristen yang sedemikian sehingga orang yang non-Kristen ini bisa mengerti kebenaran yang dipaparkan dari sisi kekristenan?

Ternyata di dalam level yang lebih “akademis”, kita juga menemukan beberapa kesan
yang negatif atau pesimistis mengenai apologetika. Kesan ini meragukan kegunaan apologetika dan cenderung bersifat counterproductive. Dari sayap Neo-Ortodoks, Karl Barth (1886–1968) dalam buku Church Dogmatics I.1: The Doctrine of the Word of God, menyinggung kesulitan bagi seorang apologet menjelaskan doktrin Allah Tritunggal. Barth mengatakan:

Men were sure of Trinity, but they were not sure of the language of the world in relation to the Trinity. Nevertheless, they have to speak about the Trinity in this language. They thus had to claim for the Trinity, namely, or witness the Trinity. What happened, then, was not that they tried to explain the Trinity by the world but on the contrary that they tried to explain the world by the Trinity in order to be able to speak about the Trinity in this world. It was not a matter of apologetics but of polemics, not of demonstrating the possibility of revelation in the world of human reason but of establishing the actual possibilities of the world of human reason as the scene of revelation.1

Pada akhirnya, Barth memandang bahwa apologetics ini menghalangi firman menyatakan diri-Nya, karena firman memiliki kapasitas pada diri-Nya untuk diterima dan bukan berdasarkan kemampuan pemikiran manusia. Di sisi sayap theologi lain, Neo-Calvinism, Abraham Kuyper (1837–1920) juga menegaskan mengenai kegagalan apologetika. Kuyper berargumen bahwa ada jurang yang sangat jauh antara orang percaya dan orang tidak percaya, sehingga sia-sialah argumentasi apa pun untuk menjembatani jurang ini. Di dalam buku Principles of Sacred Theology, Kuyper mengatakan:

Apologetics has always failed to reach results, and has weakened rather than strengthened the reason. But just because, so soon as the lines have diverged but a little the divergence cannot be bridged over, it is so much the more important that sharp and constant attention be fixed upon the junction where the two lines begin to diverge. For though it is well known beforehand that even at this point of intersection no agreement can be reached...2

Kedua sayap ini memiliki argumentasi dan pergumulannya masing-masing di dalam konteks modernitas yang mereka hadapi di abad ke-19. Sebagai konteks singkat, salah satu puncak era modern adalah di dalam pemikiran Enlightenment, yang diwakili oleh Immanuel Kant, yang mengajarkan mengenai kemustahilan argumen rasional untuk keberadaan Allah. Hal ini diterima oleh zamannya dan mendorong sayap theologi liberal seperti Friedrich Schleiermacher (1768–1834) untuk mengajarkan bahwa kita bisa mengenal Allah melalui “feeling of dependence”. Hal ini terus berkembang sehingga terus mereduksi theologi menjadi antroposentris dan hanya panduan moral. Yesus hanya menjadi guru moral yang agung saja.

Barth mencoba merespons modernitas ini dengan konsep Allah yang berdaulat mutlak, yang datang kepada manusia melalui Yesus di dalam pengalaman pribadi (crisis encounter with Christ). Hal ini membawa Barth cenderung menolak apologetika yang sudah terasosiasi dengan pendekatan rasional. Di sisi lain, kita melihat Kuyper bergumul dari perspektif dan konteks peperangan wawasan dunia (worldview). Kuyper adalah salah satu theolog utama (setelah James Orr) yang mengembangkan konsep kekristenan sebagai sebuah wawasan dunia (di mana konsep wawasan dunia pada awalnya diperkenalkan oleh Kant). Ia percaya bahwa kekristenan dapat berhadapan dengan sistem dan wawasan dunia lainnya, bahkan baginya Calvinisme merupakan sistem kehidupan yang paling komprehensif. Hal ini akhirnya membawa Kuyper kepada
garis yang sangat mengontraskan kekristenan dan wawasan dunia lain. Kontras ini menghilangkan semua kemungkinan tentang adanya “common ground” antara kedua
pihak.

Dari pergumulan Kuyper ini, Cornelius Van Til (1895–1987) berusaha untuk melihat kembali apa yang Alkitab ajarkan mengenai relasi antara wawasan dunia orang percaya dan orang tidak percaya. Van Til bergumul mengenai “Apakah Alkitab mengajarkan bahwa ada ruang bagi kedua wawasan dunia ini untuk berkomunikasi? Mampukah sang apologet tetap berdiri di posisinya tanpa berkompromi, namun sambil menyatakan kebenaran kepada lawan bicaranya yang berbeda wawasan dunia?”

Artikel ini akan menguraikan pemikiran Van Til yang percaya bahwa semua manusia sesungguhnya mempunyai pengenalan yang sejati akan Allah Tritunggal sehingga sebenarnya orang Kristen sudah memiliki “a ready-made point of contact” dengan orang non-Kristen. Kesimpulan akhir yang akan Van Til utarakan adalah “Deep down in his mind every man knows that he is the creature of God and responsible to God.”3 Hal inilah yang membuat kita mampu berbicara kepada setiap orang mengenai pengetahuan yang sejati tentang Allah tanpa harus mengakui bahwa kita berdiri di atas pijakan yang netral. Untuk menelusuri isu point of contact ini kita akan membahas konsep analogical knowledgerevelation, man’s created knowledgecovenant, dan pada akhirnya merefleksikan Roma 1:18-21.

Analogical Knowledge and Revelation

Pertanyaan pertama yang harus kita diskusikan adalah pengetahuan tentang Allah seperti apa yang kita miliki? Apakah kita bisa mengenal-Nya seperti Allah sendiri mengenal diri-Nya? Untuk menjawab hal ini kita harus sedikit membahas tentang pengetahuan archetypal, pengetahuan ectypal, pengetahuan analogical, dan wahyu.

Archetype berarti asli atau originalGod’s archetypal knowledge adalah pengetahuan milik Allah yang identik dengan keberadaan diri-Nya (His being). Pengetahuan yang identik berarti Allah tidak berproses di dalam memperoleh pengetahuan; pengetahuan Allah itu bersifat sempurna karena Allah adalah sumber pengetahuan itu sendiri. Manusia tidak mungkin memiliki pengetahuan archetype ini karena jika kita sampai memiliki pengetahuan tersebut, pada saat itu juga kita memiliki pengetahuan yang identik dengan Allah sendiri. Tradisi Reformed dengan sangat jelas sudah menegaskan bahwa kita tidak mungkin memiliki pengetahuan ini karena Reformed percaya bahwa ada perbedaan kualitatif antara Pencipta yang sempurna dan ciptaan yang terbatas. Pengetahuan analogis di dalam tradisi Reformed menolak adanya kesamaan antara Allah serta pikiran-Nya dan keberadaan manusia serta pikirannya.

Lalu bagaimana pengetahuan Allah dan pengetahuan manusia berelasi jika mereka berada di dua wilayah yang berbeda? Salah satu jawaban muncul dari seorang skolastik Reformed bernama Franciscus Junius (1545-1602) yang mengatakan bahwa kita mengetahui Allah dengan pengetahuan yang ectypal. Dalam konteks ini, ectype sendiri artinya turunan. Pengetahuan ectypal ini berasal dari pengetahuan archetypal Allah dan pengetahuan ectypal inilah yang dikomunikasikan kepada ciptaan. Theolog-theolog Reformed berusaha menjelaskan ini dengan berbagai cara. Mereka berusaha melakukan pemisahan secara theologis karena pada dasarnya ciptaan bersifat contingent (not necessary, tidak perlu ada, kondisional, bergantung pada eksistensi lain). Jadi kalau kita urutkan, pengetahuan bermula dari pengetahuan archetypal yang identik dengan Allah sendiri, lalu dari pengetahuan ini muncul pengetahuan ectypal Allah yang dikomunikasikan kepada manusia yang
disebut sebagai pengetahuan ectypal manusia. Dalam konteks pengetahuan ectypal manusia, ectype bisa diartikan sebagai turunan, copy, atau imitasi. Dari sinilah kita mulai bisa mengerti relasi antara pengetahuan Allah dan manusia.

Maka, ketika Allah menyatakan atau mewahyukan diri-Nya, itu bukanlah pengetahuan yang identik dengan keberadaan Allah, tetapi berasal dari pengetahuan ectypal-Nya. Oleh karena itu, Allah merendahkan diri-Nya agar ciptaan mampu mengenal-Nya. Kita bisa membayangkan komunikasi ini dengan ilustrasi “baby talk”. Seperti orang dewasa berbicara kepada seorang bayi. Saat orang dewasa lainnya mendengar orang tersebut sedang “baby talk”, dia bahkan mungkin tidak akan mengerti isi pembicaraan tersebut karena orang dewasa itu sedang merendahkan levelnya sedemikian rupa agar bisa berkomunikasi kepada sang bayi.

Man’s Created Knowledge and Revelation

Prinsip dasar lain yang Van Til gunakan untuk menjawab permasalahan titik kontak antara orang percaya dan tidak percaya adalah melalui hubungan pikiran manusia yang merupakan ciptaan dan wahyu. Manusia adalah ciptaan, namun berbeda dari ciptaan lain sebab manusia diciptakan seturut dengan gambar dan rupa Allah. Pikiran manusia adalah pikiran yang dicipta sehingga bersifat turunan dan tidak independent. Ajaran ini berbeda dengan theologi Katolik Roma, Arminian, dan seluruh agama-agama non-Kristen lain yang percaya bahwa di dalam derajat tertentu, pikiran manusia memiliki kecukupan pada dirinya sendiri (ultimacy or self-sufficiency of the mind of man). Ketika God-dependent human mind ini dikaitkan dengan doktrin wahyu, Van Til mengatakan:

The creation of God is a revelation of God. God revealed himself in nature and God also revealed himself in the mind of man. Thus it is impossible for the mind of man to function except in an atmosphere of revelation. And every thought of man when it functioned normally in this atmosphere of revelation would express the truth as laid in the creation by God.4

Kalimat ini menegaskan bahwa pikiran manusia tidak mungkin beroperasi di luar wahyu, karena pikiran manusia itu sendiri diciptakan untuk menerima dan menyatakan kebenaran atau bersifat revelational. Hal ini berarti, manusia diciptakan dengan kapasitas untuk menjadi wadah kebenaran, bahkan manusia itu sendiri pun adalah salah satu pernyataan kebenaran Allah. Tidak ada manusia bisa melarikan diri dari Allah dan mengatakan dia tidak mengenal Allah.

Covenantal Relationship and Revelation

Van Til mengatakan, “Man was originally placed before God as a covenant personality.7 Sebagai ciptaan yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, manusia memiliki relasi yang khusus dengan Allah dibandingkan seluruh ciptaan lainnya. Relasi khusus ini disebut sebagai relasi perjanjian (covenantal relationship). Di dalam relasi perjanjian ini, Allah juga memberikan baik tanggung jawab, larangan, maupun aturan hukuman.

Covenantal relationship ini sesungguhnya sangat indah karena Allah tidak menjadikan manusia sebagai robot yang tidak punya rasio, emosi, dan kehendak. Allah memberikan kemungkinan agar manusia bisa taat dan mengasihi-Nya (menjadi covenant keeper) tetapi covenantal relationship ini juga membuka ruang bagi manusia untuk bisa memberontak dan melanggar perjanjian (menjadi covenant breaker). Dari titik inilah kita bisa melihat bahwa seluruh aktivitas yang manusia sedang lakukan selalu berkait dengan covenant. Van Til mengatakan:

All too easily do we think of the covenant relation as quite distinct and independent of natural revelation. The two should be joined together. To speak of man’s relation to God as being covenantal at every point is merely to say that man deals with the personal God everywhere. Every manipulation of any created fact is, as long as man is not a sinner, a covenant-affirming activity. Every manipulation of any fact, as soon as man is a sinner, is a covenant-breaking activity5

Kalimat ini menegaskan bahwa seluruh manusia di dunia ini (baik Kristen maupun non-Kristen) sedang dalam sebuah relasi dengan Allah, setiap detiknya, entah itu di dalam relasi anugerah (under grace) atau di dalam relasi murka (under wrath). Tidak ada pilihan lain di dalam seluruh ciptaan selain kedua relasi ini sejak adanya dosa sampai nanti di dalam kehidupan kekal.

Refleksi: Roma 1:18-21

Penulis ingin menutup seluruh pembahasaan artikel ini dengan merenungkan ayat ini. Kenapa manusia pasti bisa mengenal Allah? Kita mengenal Allah karena kita satu-satunya ciptaan yang menyandang gelar sebagai gambar dan rupa Allah. Kita mengenal Allah karena wahyu umum, baik secara eksternal maupun internal, yang dengan gamblang menyatakannya kepada kita. Kita mengenal Allah karena kita memiliki God-consciousness. Pengetahuan kita akan Allah tidak muncul dari sejumlah argumen logis atau proposisi panjang yang diuraikan kepada kita! Sederhananya, kita mengenal Allah karena kita adalah manusia yang diciptakan-Nya. Seluruh konsep tentang pengetahuan analogis, ciptaan, wahyu, serta covenant berpijak pada dasar Alkitab ini.

Perkataan Paulus dengan sangat jelas telah menyatakan bahwa manusia memiliki pengetahuan tentang Allah tetapi mereka menolak atau menekannya. Roma 1:18 menyebutkan bahwa kefasikan dan kelaliman manusialah yang menindas kebenaran ini (all ungodliness and unrighteousness of men, who by their unrighteousness suppress the truth). Manusia mengenal Allah tetapi menekan kebenaran itu. Satu-satunya alasan mengapa manusia mampu menekan kebenaran tersebut adalah di dalam konteks relasi perjanjian. Kegagalan manusia mengenal Allah bukan karena tidak memiliki kapasitas, melainkan karena keinginannya sendiri. Ketika setan menggoda Adam dan Hawa, dia berusaha untuk membuat mereka percaya bahwa men’s self-consciousness bersifat ultimat (tidak bergantung kepada Allah). Setan membujuk manusia untuk percaya bahwa mereka mampu menjadikan pikiran manusia sendiri sebagai titik referensi final atas segala sesuatu.

Paulus mengatakan di dalam ayat Roma 1:19 bahwa “Apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata (jelas) bagi mereka, sebab Allah menyatakannya (mewahyukan) kepada mereka.” Sama seperti sebuah lampu di depan mobil berfungsi dengan benar dan cahayanya dapat dengan jelas menerangi perjalanan. Yang membuat cahaya dari mobil ini redup bukannya lampu atau mesin mobil itu sendiri, tetapi lumpur dari luar yang mengotori kaca depan lampu. Demikian wahyu umum sudah cukup, jelas, berotoritas untuk menyatakan siapa Allah, namun dosa manusialah yang menekan pengenalan ini.

Selanjutnya di ayat 20, Paulus menegaskan bahwa diri Allah dengan jelas dapat tampak kepada manusia sejak dunia diciptakan (his invisible attributes, namely, his eternal power and divine nature have been clearly seen). Paulus melanjutkan dalam ayat ini dengan memastikan bahwa manusia tidak dapat berdalih (without excuse). Kata “tidak dapat berdalih” diterjemahkan dari bahasa Yunani anapolog’aytos (anapologetos) yang artinya tidak bebas dari salah atau tidak bisa membela dari (indefensible)Akhirnya, Roma 1:21 mengatakan, “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah.” Jadi masalah terbesar manusia bukanlah manusia tidak mengenal Allah! Masalah terbesar manusia adalah sekalipun kita mengenal Allah, kita tidak menghormati-Nya sebagai Allah!

Point of Contact, Apologetika, dan Injil

Di dalam introduksi buku Christian Apologetics Van Til, William Edgar mengatakan bahwa apologetika Van Til “is profoundly gospel-driven”, “they all belong to the gospel story”, dan “apologetics for Van Til is simply a thoughtful form of evangelism”.6 Van Til bukan hanya seorang scholar yang ahli di dalam menulis tulisan akademis mengenai apologetika, tetapi Van Til adalah seorang penginjil yang setia. Scott Oliphint, seorang murid Van Til, bersaksi bahwa sebelum dia memulai kuliah di Westminster, dia memerlukan tempat tinggal sementara sambil mencari tempat tinggal yang tetap, sehingga dia tinggal di rumah Van Til. Dia mengatakan bahwa setiap hari Van Til berjalan 2 mil (sekitar 3.2 km) di sekeliling perumahannya dan menceritakan Yesus kepada seluruh tetangganya. Van Til percaya bahwa tidak ada seorang pun yang tidak memiliki point of contact di mana Injil tidak dapat diberitakan. Oliphint mengatakan, “Van Til is not a combatan in personality, but not giving an inch theologically. That’s the man I knew.7

Hal ini adalah teladan dari Van Til, sang apologet, yang menghidupi kepercayaan akan adanya point of contact antara orang Kristen dan non-Kristen sehingga dia penuh keberanian memberitakan Injil dengan setia. Di sinilah seharusnya apologetika dan Injil bertemu. Allah menjamin bahwa point of contact ini ada dan merupakan jembatan untuk berapologetika dan menginjili. Sesungguhnya apologetika dan penginjilan adalah dua sisi muka dari sebuah koin. Seharusnya kedua hal ini tidak terpisahkan. Secara internal, apologetika mendorong kita untuk memperkukuh pengajaran yang kita pahami tentang kebenaran Kristen serta mendorong kita memiliki etika/kesaksian kristiani yang makin benar. Secara eksternal, apologetika berfungsi sebagai suatu jalan bagi kita untuk memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya. Dengan ini, seharusnya tidak ada satu pun alasan yang mampu membuat kita lari dari panggilan bahwa kita harus memberitakan Injil. Marilah kita menjadi pemuda/i Kristen di tengah zaman ini yang setia mempertahankan iman, belajar firman, memperjuangkan kesaksian hidup yang benar, dan rela memberitakan Injil kepada orang yang belum percaya.

Abraham Madison Manurung

Pemuda FIRES

Endnotes:

  1. Karl Barth, Church Dogmatics I.1 ed. G. W. Bromiley and T. F. Torrance (Edinburgh: T&T Clark, 1960), 46.
  2. Abraham Kuyper, Principles of Sacred Theology, trans. J. Hendrik De Vries (Grand Rapids: Eerdmans, 1968), 160.
  3. Cornelius Van Til. Christian Apologetics, ed. William Edgar (New Jersey: P&R Publishing, 2003), 119.
  4. Cornelius Van Til. A Survey of Christian Epistemology (New Jersey: P&R Publishing, 1969), 3.
  5. Cornelius Van Til. Common Grace and the Gospel 2nd edition. (New Jersey: P&R Publishing, 2015), 85.
  6. Ibid. (CA, 14).
  7. Understanding Cornelius Van Til, K. Scott Oliphint https://www.youtube.com/watch?v=zNn16CYOna8.

Abraham M. Manurung

November 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲