Artikel

Our Deep Longing for the Supreme King

Dalam beberapa bulan ini, Buletin PILLAR akan membahas tema mengenai pengaruh Reformasi dalam berbagai bidang ilmu. Pembahasan ini menjadi titik awal untuk nantinya kita sama-sama mengenang dan merayakan peringatan 500 tahun Reformasi pada tahun 2017. Suatu peringatan akan momen bersejarah yang menyerukan untuk kembali dengan sepenuh hati kepada firman Tuhan, juga meninggikan Kristus sebagai pusat dari segala yang di langit dan di bumi, secara khusus karya keselamatan-Nya yang begitu agung, yang diberikan menurut anugerah kemurahan-Nya. Artikel ini akan secara spesifik membahas pengaruh Reformasi terhadap aspek politik dan pemerintahan. Karena keterbatasan cakupan artikel ini, penulis akan memberikan fokus utama kepada pemikiran Yohanes Calvin, Abraham Kuyper, dan kaum Puritan secara umum.

Kerinduan
Semua masyarakat setidaknya memiliki kerinduan akan sosok pemimpin yang agung, bijaksana, adil, dan memerhatikan kesejahteraan rakyat. Tidak peduli orang tersebut adalah orang Kristen atau bukan. Sebenarnya bagi yang membaca Alkitab, asal mula kerinduan ini merupakan sesuatu yang begitu jelas dan tidak lagi asing. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Allah yang adalah Penguasa Ultimat juga memberikan perintah kepada manusia untuk mengusahakan atau mengelola Taman Eden. Inilah suatu kondisi yang begitu baik, indah, harmonis, dan teratur. Allah, Sang Raja, berdaulat secara penuh dan sekaligus dengan keadilan dan kasih memercayakan manusia untuk juga bekerja bersama-sama. Inilah suatu kondisi ideal di mana tercapainya kesejahteraan global, masyarakat adil dan makmur, dan relasi kasih yang begitu indah.

Semenjak peristiwa kejatuhan, manusia memiliki niat yang begitu rusak untuk memberontak dan mengudeta Allah dari posisi tertinggi. Suatu posisi yang sebenarnya hanya bisa diemban dan diduduki oleh Tuhan semesta alam. Dengan niat rusak seperti ini, manusia justru menghancurkan diri sendiri dan sekaligus alam semesta. Manusia diusir keluar dari Taman Eden. Semak duri tumbuh di atas tanah. Bumi dikutuk dan berbagai hal mengerikan akhirnya terjadi. Sejak peristiwa kejatuhan sampai sekarang, kebobrokan dalam hati manusia tidak pernah hilang. Manusia mau memerintah, kalau bisa sebebas dan seberkuasa mungkin, tanpa pernah mau diperintah oleh siapa pun (termasuk Allah). Suatu kegelapan hati yang menolak seluruh raja lain kecuali diri sendiri. Inilah kondisi manusia yang sudah begitu jatuh dan terhilang di dalam dosa.

Namun ironis, dengan kondisi seperti ini, ingatan akan Sang Raja agung tidak pernah hilang dari pikiran dan hati manusia. Manusia mengidam-idamkan sosok raja yang memerintah dengan penuh kasih, keadilan, kesucian, kekuatan, dan kebijaksanaan. Pengharapan ini akhirnya ditujukan kepada sosok manusia, yang sebenarnya tidak akan pernah mampu menjawab tuntas pengharapan ini. Manusia kerap kali mengingat-ingat masa-masa kejayaan ketika mereka dipimpin dan diperintah oleh sosok yang mereka rindukan. Misalkan saja, mulai dari ingatan akan masa pemerintahan Daud dan awal-awal masa pemerintahan Salomo atas bangsa Israel. Waktu itu begitu banyak peperangan yang dimenangkan, Bait Allah dibangun, bahkan perak dianggap tidak berharga lagi di Israel karena begitu makmur perekonomian bangsa. Bangsa Mongol memiliki ingatan jelas akan Genghis Khan yang memuncakkan kejayaan Mongolia yang disimbolkan dengan begitu luasnya wilayah yang mereka kuasai. Untuk konteks sejarah bangsa Indonesia, kita mengingat puncak Kerajaan Sriwijaya ketika diperintah oleh Balaputradewa. Pendidikan, agama, kelautan, dan luas wilayah berkembang dengan begitu mengagumkan. Untuk Kerajaan Majapahit, puncak kejayaan tercapai selama pemerintahan Hayam Wuruk (Rajasanegara) dengan bantuan Mahapatih Gajah Mada. Daerah kekuasaan Majapahit meliputi Sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura), dan sebagian kepulauan Filipina. Belum lagi contoh-contoh peradaban dan kerajaan besar seperti Babilonia, Mesir, dan juga Romawi.

Raja dan pemimpin besar dari berbagai zaman dan wilayah datang silih berganti. Seiring juga dengan kekecewaan rakyat ketika melihat realitas terlalu banyak pemimpin yang rusak dan justru menyengsarakan rakyat. Ketika kita membaca Kitab Raja-Raja dan Tawarikh, kita dapat membuat statistik sederhana: Jika dijumlahkan, jumlah raja-raja yang melenceng dan keji di hadapan Tuhan lebih banyak daripada raja yang baik dan saleh. Bahkan raja-raja yang awalnya saleh, bisa saja kemudian melakukan kejahatan yang begitu memalukan. Jika kita lihat dalam konteks sekarang, penulis rasa tidak perlu membeberkan contoh-contoh lebih detail di mana kasus korupsi, kekejaman, ketimpangan, pemerasan, kemerosotan moral, penyalahgunaan kekuasaan, atau penindasan kerap dilakukan oleh pemerintah. Baik itu pemerintah di Indonesia, Taiwan, Filipina, Timur Tengah, dan daerah-daerah lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Namun demikian, ingatan dan angan-angan akan sosok “sang raja idaman” itu masih terus terngiang dan menggema di dalam hati manusia.

Pengaruh Reformasi
Theologi Reformed memberikan perspektif yang begitu kaya, indah, sekaligus realistis dan liveable dalam menjawab kerinduan ini. Theologi Reformed dengan jelas memberikan kesadaran bahwa Allahlah yang seharusnya memerintah secara mutlak dan berdaulat atas hidup manusia. Namun setelah manusia jatuh dalam dosa, Allah yang sama jugalah yang mengizinkan adanya pemerintahan, termasuk sosok raja atau pemimpin. Misalkan saja dalam kasus permintaan tua-tua Israel kepada Samuel mengenai permintaan akan sosok raja yang memerintah Israel.

Dengan pengertian seperti ini, kita sadar bahwa Allah tetap berdaulat dan berkuasa, bahkan termasuk atas pemerintah yang kejam dan menentang Tuhan. Dengan fondasi ini, kita menjadi tenang karena Allah yang kekal tetap berkuasa dan tidak terguncang, meskipun kerajaan dan pemerintahan dunia datang silih berganti. Kita juga tetap mengusahakan kesejahteraan kota dan negara karena Allah telah memercayakan tanggung jawab ini juga kepada kita, manusia berdosa. Di saat yang sama, secara unik, kita juga tidak naif dan buta percaya penuh kepada manusia (baca: pemerintah). Sebaik apa pun pemerintahan tersebut (termasuk yang dipimpin oleh orang Kristen), mereka juga adalah manusia yang berdosa dan penuh dengan keterbatasan. Dalam bagian berikut, akan dipaparkan lebih detail mengenai sumbangsih Theologi Reformed terhadap bidang pemerintahan dan politik.

Kedaulatan Allah
Pengertian akan kedaulatan Allah dan kemuliaan Allah adalah contoh tema sentral dari Theologi Reformed. Allah yang memilih umat-Nya sebelum dunia dijadikan. Allah yang menciptakan kedalaman lautan dan megahnya bintang-bintang di angkasa. Allah yang menertawakan raja-raja dunia yang berusaha memberontak dan menentang Dia. Namun pengertian mengenai Allah yang berdaulat sangatlah jauh dari persepsi diktator yang kejam dan hanya tahu menindas. Sesuai dengan pernyataan dari Arthur Walkington Pink, Allah melaksanakan kedaulatan-Nya sesuai dengan prinsip kasih, kerelaan, dan kebijaksanaan-Nya. Kesadaran akan pribadi Allah yang seperti ini sudah sepatutnya tidak hanya mendatangkan respons takut dan gentar. Namun secara indah ada elemen sukacita, kasih, dan kedekatan. Pengenalan akan pribadi Allah yang seperti demikian akan memberikan pengaruh langsung dan tidak langsung dalam jalannya roda pemerintahan. Pemerintah – yang terlewat berkuasa dan mengekang dengan hukum dan ancaman rasa takut – tidaklah mencerminkan prinsip kedaulatan Allah yang sesungguhnya. Demikian pula halnya dengan pemerintah yang terlalu mengobral pengampunan dan tutup mata atas kesalahan. Keseimbangan kuasa, keadilan, kebenaran, kasih, kesucian, dan kebijaksanaan inilah prinsip kedaulatan yang ditawarkan Theologi Reformed agar dapat digumulkan dan dilaksanakan dalam pemerintahan dunia.

Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, takhtanya tetap kokoh untuk selama-lamanya. (Ams. 29:14)
Melakukan kefasikan adalah kekejian bagi raja, karena takhta menjadi kokoh oleh kebenaran. (Ams. 16:2)

Ordo
Theologi Reformed memberikan pengertian sangat jelas akan ordo dan urutan. Tidak ada seorang pun yang bisa berkuasa dan melakukan kebebasan secara tidak terkontrol atau tanpa batasan. Bahkan antar Pribadi Allah Tritunggal, dengan penuh kerelaan dan kasih, saling membatasi diri dan memiliki peran yang khusus. Misalkan saja Allah Bapa yang mengutus Allah Anak, Allah Anak yang inkarnasi ke dunia, dan Allah Roh Kudus yang tinggal diam di dalam hati orang percaya. Jika pengertian akan ordo ini terganggu atau kacau, pasti jalannya pemerintahan akan juga menjadi kacau dan tidak terkendali. Setiap individu atau elemen memiliki signifikansi dan peran masing-masing. Tidak peduli seberapa besar atau kecil peranan tersebut, yang terpenting adalah agar masing-masing menjalankan peranannya secara harmonis, sehingga mendatangkan kebaikan secara menyeluruh. Penulis rasa analogi tubuh adalah contoh yang paling dikenal dalam menggambarkan hal ini. Masing-masing anggota tubuh memiliki peran yang unik dan masing-masing sinkron bergerak karena kontrol kepala dan sekaligus diharmonikan oleh darah dan saraf yang tersebar ke seluruh tubuh.

Penghayatan mengenai ordo, urutan, dan peran ini nantinya akan semakin berkembang sehingga tercetuslah konsep “checks and balances”. Setiap elemen dalam sistem pemerintahan akan mengikat dirinya secara kovenantal dan memberikan komitmen ketaatan dan kesungguhan dalam menjalankan perannya. Melalui prinsip “checks and balances”, tidak ada satu unit, kelompok, atau individu yang memiliki kuasa penuh. Masing-masing memiliki tanggung jawab untuk menjalankan fungsinya dan sekaligus mengawasi agar kelompok/institusi lain menjalankan tugasnya dengan beres. Dalam pemerintahan, biasanya akan dibagi menjadi tiga bagian, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Prinsip membatasi diri dan saling mengawasi ini begitu penting, sebab khususnya kaum Puritan tahu betapa licik dan mengerikannya hati manusia. Bahkan ketika orang tersebut sudah dilahirbarukan, pergumulan dengan dosa terus berlangsung seumur hidup. Dengan prinsip ini, bibit kerusakan bisa dicegah atau dimonitor, sebelum nantinya menghasilkan ledakan destruktif yang lebih mengerikan. Prinsip ini nantinya juga tidak hanya diterapkan dalam pemerintahan, tetapi juga dalam aspek struktur dan kepengurusan gerejawi. Dalam definisi lebih luas atau perkembangannya, prinsip ini juga kita kenal dengan nama Trias Politica atau Separation of Powers.

Yohanes Calvin
Berbagai prinsip dan konsep penting mengenai pemerintahan juga dicetuskan oleh Yohanes Calvin. Dalam takarannya sebagai hamba Tuhan, Calvin tidak hanya memberikan pengaruh terhadap gereja secara institusi. Kota Jenewa juga mengalami berbagai perubahan oleh ‘sentuhan’ Calvin, baik langsung maupun tidak langsung. Ulasan pendapat dan interaksi Calvin dengan dewan konsili kota Jenewa menunjukkan komunikasi yang sehat dengan posisi yang jelas antara pemerintah dan gereja. Pemisahan peran dan tanggung jawab gereja dan pemerintah adalah satu prinsip yang dipegang kuat oleh Calvin. Ia sangat menentang campur aduk kekuasaan yang hanya berujung kepada penyelewengan dan penyalahgunaan otoritas. Mengenai signifikansi dan nilai mengenai pekerjaan di pemerintahan (civil magistrate/authority), Calvin memiliki pandangan yang tergolong unik pada konteks zamannya. Dalam buku Institutes of Christian Religion bagian terakhir (Book IV Chapter 20: Of Civil Government), Calvin menyatakan bahwa pekerjaan sebagai magistrat adalah pekerjaan yang paling mulia dalam kehidupan di dunia yang sementara ini:

“Wherefore no man can doubt that civil authority is, in the sight of God, not only sacred and lawful, but the most sacred, and by far the most honorable, of all stations in mortal life.”

Yohanes Calvin juga memegang teguh prinsip Amsal 8:14-16, “Padaku ada nasihat dan pertimbangan, akulah pengertian, padakulah kekuatan. Karena aku para raja memerintah, dan para pembesar menetapkan keadilan. Karena aku para pembesar berkuasa juga para bangsawan dan semua hakim di bumi.” Dalam penggalian ayat ini, Calvin menekankan bahwa segala otoritas dan kekuasaan adalah bersumber dari Allah semata. Posisi Allah sebagai Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan tidak berubah sampai selama-lamanya.

Abraham Kuyper
Dalam kapasitasnya sebagai hamba Tuhan dan sekaligus Perdana Menteri Belanda, sangatlah banyak hal yang bisa kita gali dan pelajari dari Abraham Kuyper. Dalam cakupan bagian ini, penulis akan membatasi pembahasan mengenai sphere sovereignty dan pemisahan antara aspek pemerintahan dan sosial. Konsep sphere sovereignty adalah salah satu ide yang paling dikenal dari sosok Abraham Kuyper. Dalam realitas hidup ini, ada banyak lingkup (sphere) yang masing-masing memiliki fungsi atau perannya sendiri, dan masing-masing lingkup harus bertanggung jawab secara langsung kepada Tuhan. Contoh-contoh lingkup tersebut misalkan saja keluarga, sosial/masyarakat, sekolah, pemerintah, dan perusahaan. Masing-masing lingkup tidak boleh ‘menginjak atau melangkahi’ peran yang seharusnya dikerjakan oleh lingkup lain. Dalam konteks zaman tersebut, Kuyper sangat sensitif dalam memisahkan peran pemerintah dan masyarakat. Ia memiliki posisi tegas bahwa masyarakat yang baik harus berkembang secara natural dan organik, tanpa paksaan berlebihan dari pemerintah. Gereja juga tidak sepatutnya memiliki peran langsung dalam pemerintahan. Gereja seharusnya memengaruhi pemerintahan dan masyarakat secara tidak langsung. Posisi ini bisa kita lihat jelas dalam salah satu pernyataannya:

We can exert power for good, therefore, only if we are prepared to drum it into our heads that the church of Christ can never exert influence on civil society directly, only indirectly.”

Dalam konteks zaman Kuyper, globalisasi dan perkembangan teknologi belum secepat dan semaju sekarang. Jenis-jenis lingkup (sphere) juga masih belum terlalu kompleks. Definisi dan peran dari setiap lingkup bisa kita refleksikan dan pikirkan lebih mendalam untuk konteks kita sekarang. Misalkan saja ada perusahaan yang membuat organisasi Corporate Social Responsibility (CSR). Ada lembaga pemerintah yang mendirikan perusahaan atau lembaga sosial. Ada juga jenis lembaga kursus pendidikan tertentu yang lebih bergerak ke arah bisnis karena natur pelajaran/materi yang memang ditargetkan kepada segelintir orang saja (niche market). Akan masuk ke dalam lingkup manakah instansi-instansi tersebut? Sejauh mana batasan dan interaksinya dengan lingkup-lingkup lain?

Injil: Sang Raja Agung yang Mengasihi Kita
Setelah kita melihat berbagai pengaruh dari Theologi Reformed, sekarang kita akan kembali kepada inti kerinduan mengenai sang raja agung. Kalau kita mau jujur, sebenarnya kerinduan kita bukan hanya agar sang raja agung itu bisa memerintah dengan segala kekuasaan, keadilan, kebenaran, dan kebijaksanaan. Lebih dari itu, dalam hati yang terdalam, kita sangat rindu jika sang raja yang mulia itu juga memerhatikan dan mengasihi kita dengan begitu spesial dan mendalam. Suatu kerinduan agar sang raja yang dikagumi oleh seluruh manusia mau mengarahkan wajahnya kepada kita dan mencurahkan seluruh perhatiannya kepada kita. Namun kita langsung sadar dan menepis angan-angan ini. Mana ada raja dunia yang begitu berkuasa mau memerhatikan orang bukan siapa-siapa seperti saya ini? Kerinduan ini kita sebetulnya bisa lihat juga dalam kasus Haman sang pejabat tinggi dan Raja Ahasyweros. Haman memiliki kerinduan mendalam agar ia bisa diperhatikan dan diberikan penghormatan oleh Raja Ahasyweros. Namun hal ini akhirnya justru malah berujung kepada penghinaan dan penghukuman Haman. Bahkan jika kita mau jujur dan terbuka, Raja Ahasyweros sekalipun tidak bisa menjawab tuntas kerinduan Haman ini.

Jawaban tuntas akan kerinduan yang begitu sulit sekaligus mendesak ini hanya bisa ditemukan di dalam Injil. Injil yang sederhana namun ajaib. Injil yang ‘tua’ namun selalu segar. Injil yang tidak berubah namun senantiasa memancarkan keindahan. Injil yang menggerakkan jiwa dan memanggil kita pulang. Suatu berita sederhana bahwa ada Sang Raja Agung yang berkuasa atas seluruh langit dan bumi, sorga, dan seluruh alam semesta. Sang Raja yang berhak menerima pujian, hormat, kuasa, dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Sang Raja itu rela turun, lahir menjadi bayi, hidup menderita, dan akhirnya mati di atas kayu salib. Raja yang perkasa, rela mengosongkan diri-Nya menjadi begitu lemah dan tidak berdaya. Sang Raja yang rela melakukan itu semua, demi kita, gereja-Nya, mempelai wanita yang Ia kasihi. Inilah satu-satunya jawaban tuntas akan kerinduan seluruh umat manusia. Tidak ada sosok lain yang bisa menjawab kerinduan ini. Hanya Yesus Kristus, Allah yang inkarnasi menjadi manusia, yang mampu menjawab dengan tuntas. Dan lebih dari itu, Sang Raja Agung itu tidak hanya mengasihi kita. Namun yang lebih mengherankan, Ia memberikan penghormatan kepada kita.

…demikianlah firman TUHAN--:Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.” (1Sam. 2:30)
“Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” (Yoh. 12:26)

Layakkah kita menerima penghormatan dari Sang Raja di atas segala raja, Tuan di atas segala tuan? Kita yang begitu hina dan pernah memberontak begitu rupa terhadap Dia. Sudah pasti jawabannya, tidak! Namun ayat ini tertulis dengan begitu jelas dan gamblang. Penulis terheran. Penulis terdiam. Penulis terkagum.

Amazing grace! How sweet the sound
That saved a wretch like me!
I once was lost, but now am found;
Was blind, but now I see
The earth shall soon dissolve like snow,
The sun forbear to shine;
But God, who called me here below,
Will be forever mine.
When we’ve been there ten thousand years,
Bright shining as the sun,
We’ve no less days to sing God’s praise
Than when we’d first begun.
(Amazing Grace, John Newton)

Juan Intan Kanggrawan
Redaksi Bahasa PILLAR

Referensi:
http://www.ccel.org/ccel/calvin/institutes.vi.xxi.html
http://www.frame-poythress.org/wp-content/uploads/2012/08/PoythressVernRedeemingSociology.pdf
http://www.desiringgod.org/books/the-supremacy-of-christ-in-a-postmodern-world
Jesus Our King
The Man the King Delights to Honor
Corporate Governance
Politics, Economics, and Competing Visions of Human Flourishing

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲