Patria Protestas - Buletin Pillar

Artikel

Patria Protestas

Bapak Darius tidak membeli kembali timbangan itu untuk yang ketiga kalinya. Dengan demikian dibatalkanlah patria potestas terhadap putranya. Ia tak lagi berhak disebut ayah, tak lagi berkuasa atas anaknya, sekaligus tak lagi bertanggung jawab atas segala kebutuhannya. Proses adopsi telah separuh jalan, dan akan dilanjutkan oleh upacara serta acara-acara berikutnya.

Proses pengangkatan anak di lingkungan Romawi adalah proses yang sangat serius dan cukup berbelit-belit karena adanya konsep patria potestas, yaitu kekuasaan ayah atas keluarganya (anak, cucu, dan seluruh anggota keluarga). Dalam patria potestas, seorang ayah berhak untuk menerima atau menolak, membuang atau menguasai kehidupan anaknya. Bahkan pada mulanya sang ayah berhak menentukan hidup-mati sang anak. Dalam hubungannya dengan sang ayah, seorang anak Romawi tidak akan pernah bisa dianggap dewasa, tak peduli berapa pun umurnya. Ia, seumur hidup, berada di bawah kepemilikan mutlak dan kuasa absolut sang ayah. Karena konsep inilah maka proses pengangkatan anak merupakan hal yang sulit dan suatu langkah yang sangat berat. Dalam pengangkatan anak, seseorang harus terlepas dari satu patria potestas dan masuk di bawah yang lainnya.

Ada dua langkah dalam pengadopsian anak. Yang pertama adalah mancipatio, yaitu proses pembatalan satu patria potestas yang dilakukan secara simbolik melalui suatu proses jual-beli dengan menggunakan timbangan dan anak timbangan. Pada tahap ini seorang ayah akan melakukan tiga kali penjualan simbolis. Pada dua kali penjualan simbolis pertama, menyatakan sang ayah menjual anaknya, namun ia membelinya kembali. Tetapi yang ketiga kalinya ia tidak membelinya kembali dan dengan demikian patria potestas itu dibatalkan. Langkah itu diikuti oleh upacara vindicatio. Sang ayah angkat pergi menghadap praetor, salah seorang pejabat Romawi, dan memohonkan secara hukum pemindahan hak atas seseorang yang diadopsinya ke dalam patria potestas-nya. Seluruh upacara pengangkatan ini harus dihadiri oleh tujuh orang saksi. Apabila semuanya ini telah beres, pengangkatan seseorang anak tersebut telah selesai. Sungguh proses yang serius dan mengesankan.

Tetapi konsekuensi-konsekuensi dari pengangkatan inilah yang lebih mengesankan. Dengan mengerti penggambaran "adopsi Romawi" ini, kita bisa menjadi lebih mengerti pemikiran Paulus mengenai pengadopsian kita melalui karya penebusan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib.

Berikut ini empat konsekuensi pengangkatan anak Romawi.

Yang pertama adalah orang yang diangkat itu kehilangan seluruh hak dari keluarganya yang lama dan mendapat hak sebagai anak yang sah di dalam keluarganya yang baru. Melalui rentetan upacara sah dan sangat mengikat, ia mempunyai seorang ayah yang baru.

Kedua, sebagaimana layaknya seorang anak kandung, ia berhak menerima warisan dari ayah barunya. Sekalipun nanti lahir anak-anak yang lain, kehadiran mereka tidak akan mempengaruhi haknya. Apabila sang ayah meninggal dunia, terjadi percekcokan terhadap haknya, maka salah seorang atau lebih dari saksi-saksi pengangkatannya itu harus maju ke depan dan bersumpah bahwa pengangkatan itu benar. Maka hak anak angkat itu terjamin dan ia boleh menjadi ahli warisnya.

Yang ketiga, seluruh kehidupan lama anak angkat tersebut dihapuskan secara hukum. Misalnya, jika ia mempunyai utang maka semua utangnya tersebut dibatalkan. Ia dianggap sebagai seseorang yang betul-betul baru yang masuk ke dalam kehidupan yang baru, di mana yang lama sudah tidak berlaku lagi.

Keempat, dalam pandangan hukum, ia adalah mutlak anak dari ayah barunya. Sejarah Romawi mencatat suatu contoh yang terkenal mengenai hal ini. Kaisar Claudius yang mengangkat Nero menjadi anaknya sehingga Nero menjadi pewaris takhtanya, sekalipun mereka sama sekali tidak mempunyai hubungan darah. Pada waktu itu Kaisar Claudius sudah mempunyai seorang putri yang bernama Octavia. Untuk mempererat ikatan persekutuan ini, Nero bermaksud menikahi Octavia. Namun, hal ini tidak mungkin sampai Senat Roma membuat perundang-undangan khusus supaya mereka dapat menikah, karena secara hukum mereka adalah saudara satu patria potestas, artinya satu ayah.

Dengan bahasa konsep pengangkatan anak bangsa Romawi, maka dapat dikatakan bahwa kelahiran baru yang dikerjakan oleh Roh Kudus telah membatalkan 'patria potestas' dosa, dan memasukkan orang percaya ke dalam 'patria potestas' Kristus. Dengan demikian, pengadopsian ini menghasilkan konsekuensi-konsekuensi dalam hidup orang percaya, sebagai berikut:

Pertama, kehilangan hak dan kewajiban atas 'keluarga lama'. Dulu kita tinggal di dalam keluarga dosa. Kita berada di dalamnya, di bawah penguasaannya, 'hidup' atau mati kita berada sepenuhnya di bawah naungan sayapnya. Kewajiban kita adalah menuruti keinginan mata, keinginan daging, dan keangkuhan hidup. Mustahil melepaskan diri dari dosa. Hak kita dalam keluarga kita yang lama adalah maut semata (Roma 3:11).

Sekarang semuanya itu tidak berlaku lagi. Kita sekarang berada di bawah ‘patria potestas’ yang sesungguhnya. Allah telah membawa kita ke dalam ikatan kasih-Nya yang mutlak dengan menjadikan kita anggota keluarga Kerajaan Allah. Di dalam keluarga yang baru ini, kita adalah anak dan Allah adalah Bapa kita. Sehingga adalah hak kita memanggil Allah sebagai “Bapa” dan sekaligus adalah kewajiban kita untuk mutlak taat kepada-Nya.

Kedua, kita disebut sebagai anak-anak Allah. Dalam tradisi Romawi, seseorang yang mengadopsi anak biasanya adalah mereka yang tidak mempunyai anak atau tidak mempunyai anak laki-laki. Konsep patrilinear yang menuntut kelahiran anak laki-laki dalam suatu keluarga inilah yang memaksa seseorang mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk mengadopsi anak. Anak yang dipilih untuk diadopsi haruslah anak laki-laki, yang sulung, sehat, berinteligen, dan bertalenta. Tetapi tidak ada keperluan bagi Allah untuk mengadopsi “anak-anak lain” di dalam konteks yang demikian. Demikian juga bagi Anak Allah, Ia tak perlu menambah “saudara-saudara”. Lagipula, jika Allah menetapkan syarat-syarat pengadopsian seseorang untuk dapat menjadi anak Allah, pasti tidak satu pun manusia yang dapat memenuhi tuntutan persyaratan tersebut. Hanya karena Sang Anak yang asli itulah, kepada kita boleh disematkan status yang agung, anak-anak Allah.

Ketiga, sebagai orang yang diperbaharui, menjalani hidup yang baru. Di dalam kehidupan yang baru, memang sepatutnya kita menginginkan dan mengusahakan (atau secara lebih gamblang: sepatutnya kita menuntut) tingkah laku orang Kristen hanya bernafaskan kehendak Allah semata-mata. Jika sepatutnya demikian, maka marilah kita memeriksa dengan teliti kehidupan kita, apakah kita betul-betul menempatkan Allah di paling pertama dan utama atau yang lain lebih utama dan pertama sedangkan urusan dengan Allah hanyalah suplemen bagi hal-hal lainnya agar kelihatan kita cukup rohani? Apakah kita betul-betul menghormati Bapa kita atau lebih peduli pada hormat manusia? Apakah kita betul-betul mengasihi-Nya atau mengasihi diri? Apakah kita selalu ingin menyukakan Dia atau selalu terburu-buru memenuhi hasrat pribadi? Apakah kita rajin mencari jiwa yang terhilang atau "menghilangkan jiwa” karena hidup kita sendiri sebagai orang Kristen tidak menyatakan bahwa kita betul-betul berjuang mati-matian memper-Tuhan-kan Kristus melainkan selalu mencari kompromi sambil menyandang nama Kristus?

Walaupun demikian, tuntutan kesempurnaan yang sesuai dengan firman Tuhan tidak "saklek” seakan-akan barangsiapa yang belum sampai pada tingkatan itu tidak dianggap sebagai orang Kristen. Calvin mengatakan, jika sedemikian "saklek", gereja akan tertutup bagi semua orang, karena belum terdapat seorang pun yang sudah cukup dekat dengan kesempurnaan itu; dan masih banyak yang baru sedikit kemajuannya, tetapi yang tidak sepantasnya untuk ditolak.

Kalimat-kalimat di atas tentu adalah kalimat yang sangat berbahaya, sebab sebagian orang bisa menggunakannya sebagai alasan untuk berlambat-lambat dan bermalas-malasan. Kalimat-kalimat tersebut sama sekali bukan memberi ruang bagi saudara dan saya untuk tidak menghidupi status anak Allah atau tidak semaksimal mungkin menuntut diri untuk menghidupi status tersebut. Kalimat-kalimat di atas bermaksud memberikan ruang pengampunan bagi anak-anak Allah yang telah berusaha dengan ketat menjaga hidupnya bersih di hadapan Tuhan namun terpeleset ke dalam kekhilafan dan kelemahan iman. Sekaligus memberikan dorongan bagi mereka ini untuk bertobat dan bangkit kembali. Kalimat ini tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk mengurangi atau membatasi perjuangan hidup sepenuhnya bagi Allah.

Jonathan Edwards memberikan suatu teladan yang indah dalam hal menjalani hidup sebagai anak-anak Allah. Dia adalah hamba Tuhan yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Melalui khotbahnya (yang sangat terkenal “Sinners in The Hand of An Angry God”), Tuhan membangkitkan begitu banyak orang. Ketika membaca bukunya “Ketetapan Hati” – buku ini tidak pernah dimaksudkan untuk dipublikasikan dan sesungguhnya adalah buku harian yang mencatat ketetapan-ketetapan hatinya terhadap Tuhan – kita bisa menangkap rahasia kesucian hidupnya.

Edwards adalah orang yang bertekad untuk menghidupi pengakuannya bahwa summum bonum[1]-nya adalah “memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya”. Di dalam buku itu, Edwards menginterpretasikan summum bonum tersebut secara konkret dan spesifik ke dalam setiap segi kehidupannya secara pribadi. Ia memperhatikan semua aspek, mulai dari hal makan dan minum hingga berbicara, dari hal berdoa hingga relasinya dengan kehidupan keluarga di hadapan Allah, dari kehidupan rohaninya hingga hasratnya yang terdalam – tidak ada satu hal pun yang tidak dibongkarnya. Setiap ketetapan hati Edwards adalah cerminan betapa ia sungguh-sungguh hanya ingin hidup sesuai apa yang Tuhan inginkan daripadanya, hanya ingin berjuang memberikan yang terbaik untuk Tuhan, dan mempersembahkan dirinya hanya untuk itu.

Pada akhir tulisan ini biarlah kita disadarkan sekali lagi, patria potestas membawa konsekuensi-konsekuensi. Kita bukan lagi berada di bawah patria potestas dosa, tetapi di bawah patria potestas Allah. Siapakah yang tidak merasa terhormat diangkat anak oleh seorang raja? Mungkin hanya orang-orang Kristen yang tumpul imannya yang tidak mengerti betapa terhormatnya hak ini, sehingga secara otomatis alpa terhadap tanggung jawab yang berasal dari kehormatan yang besar itu sendiri. Jangan bodoh! Asahlah imanmu!

Dini Rachman

Pemudi GRII Pusat

Daftar Pustaka:

Barcklay, William. 1986. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Roma. Jakarta: Gunung Mulia.

Calvin, Yohanes. 2005. Institutio: Pengajaran Iman Kristen. Jakarta: Gunung Mulia.

Edwards, Jonathan. 2005. Ketetapan Hati dan Nasihat bagi Petobat Muda. Surabaya: Momentum.



[1]     Orang Yunani kuno mengenal istilah summum bonum atau kebajikan tertinggi, yang artinya adalah: sekalipun ada banyak kebajikan yang untuknya seseorang layak untuk hidup, tetapi ada satu kebajikan yang terbaik, yang tertinggi, yang mengatasi semua kebajikan lainnya.

Dini Rachman

November 2008

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk KKR Regional yang sedang berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. Berdoa untuk setiap tim yang sedang melayani baik hamba Tuhan maupun pembicara awam, berdoa kiranya Roh Kudus menyertai mereka dan memberikan mereka kuasa dan hikmat untuk memberitakan Injil kepada siswa-siswi di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Luar biasa penjabaran yg kumplit dan jelas tentang Iman ditunggu tentang Pengharapan dan Kasih.

Selengkapnya...

Pada artikel Manusia: Peta Teladan Allah (Bagian 12), halaman 2 paragraf ke-4 terdapat kode html yang masuk ke dalam...

Selengkapnya...

Dimulai dari halaman 4 paragraf kedua merupakan pengulangan dari halaman 1. Mungkin bisa dihapus agar tidak...

Selengkapnya...

Dimulai dari halaman 4 paragraf kedua merupakan pengulangan dari halaman 1. Mungkin bisa dihapus agar tidak...

Selengkapnya...

Doktrin Yesus adalah 100%Allah dan 100% Manusia sunguh benar dan tidak terbantah. Kalau pengikut Kristus...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲