Artikel

Pemuda dan Gerakan Reformed Injili: Tempat Kita di dalam Sejarah

Sungguh besar kesetiaan Tuhan jika kita yang sedang membaca saat ini masih bisa masuk ke dalam tahun 2018. Kebesaran Tuhan yang membawa kita masuk ke dalam tahun yang baru ini juga seharusnya membawa kita untuk terus menyadari bahwa pimpinan Tuhan di dalam Gerakan Reformed Injili ini begitu ajaib. Jika kita merenungkan dan melihat ke belakang, apa saja yang sudah dilalui gerakan ini (KKR Regional, SPIK, KPIN, KIN, Refo500, Grand Tour Concert, dan lain-lain), kita tidak bisa tidak mengakui bahwa semua hal tersebut mustahil terjadi jika bukan Tuhan yang memimpin. Pada saat yang bersamaan, sebagai pemuda, mari kita juga tidak membanggakan diri atas pencapaian gerakan di masa lalu, namun terus melihat apa yang seharusnya menjadi bagian kita ke depannya di dalam gerakan ini. Bagaimana kita melihat dari atas, seluruh pergerakan sejarah umat Tuhan, sampai kepada generasi pemuda Reformed Injili yang hidup hari ini?

Pendekatan Perspektifikal dan Tahapan Reformasi
Sebelum kita melihat posisi kita di dalam sejarah, saya ingin mengajak pembaca untuk terlebih dahulu melihat pola perspektif dari buku The Doctrine of the Knowledge of God karya John Frame[1] mengenai aspek situasional, normatif, dan eksistensial. Ketiga perspektif ini akan membentuk suatu kerangka urutan kronologi di dalam garis waktu, yang akan terus berulang (baik skala besar maupun kecil) saat kita melihat pola tahapan terjadinya Reformasi. Ketiga perspektif ini sangat penting untuk dilihat secara berurut (kadang normatif dan situasional masih dapat ditukar). Secara singkat, prinsip dari perspektif situasional adalah suatu tindakan yang terasosiasikan dengan kondisi zaman tersebut; cenderung bersifat universal. Normatif (norma/hukum) berasosiasi dengan hukum/doktrin yang berasal dari Alkitab/firman Tuhan; sifatnya absolut. Eksistensial terkait dengan keunikan dari pribadi atau kelompok kecil yang menjalankan; bersifat partikular.

Frame juga mengatakan bahwa Reformasi cenderung berlangsung di depan tiga buah tahap yang umum yaitu: konfrontasi, konsolidasi, dan kontinuasi.[2] Konfrontasi terkait dengan suatu perlawanan untuk berubah, konsolidasi terkait dengan suatu proses membuat menjadi solid (kuat/kukuh), dan kontinuasi terkait dengan proses melanjutkan pekerjaan yang sudah ada. Jika kita kaitkan dengan pendekatan perspektifikal ini, maka konfrontasi berasosiasi dengan perspektif situasional. Maksudnya adalah ketika ada sesuatu yang salah atau harus diubah pada zaman itu, maka akan terjadi konfrontasi. Konsolidasi berhubungan dengan perspektif normatif, di mana tindakan konfrontasi disolidkan berdasarkan kebenaran normatif yaitu firman Allah. Kontinuasi berasosiasi dengan perspektif eksistensial, di mana setiap generasi berikutnya masing-masing masuk ke dalam periode penerapan (termasuk antisipasi tindakan ilahi di masa depan).

Aplikasi dalam Sejarah
Mari kita melihat beberapa contoh aplikasi dari konsep ini di dalam sejarah. Pola di dalam Alkitab menunjukkan bahwa hal ini teraplikasikan dengan urutan: 1. Tindakan Ilahi, 2. Pembuatan (atau pembaruan) Kovenan, 3. Periode Penerapan.

Pada mulanya hal ini terjadi di dalam kisah penciptaan. Masa “zaman” itu bumi yang gelap dan kosong dikonfrontasi oleh Tuhan sehingga berubah menjadi bumi yang kita hidupi sekarang. Ini adalah aspek situasional. Setelah Tuhan selesai menciptakan, Tuhan memberikan kovenan kepada Adam (normatif-konsolidasi) dan keturunannya harus melanjutkan perintah ini (kontinuasi-eksistensial). Begitu seterusnya terjadi pada Nuh, Abraham, Musa, dan lain-lain.

Pada abad-abad awal gereja (sekitar abad ke-1 s/d 3), pengembangan dari doktrin Trinitarian mengalami hal serupa. Perjuangan contra mundum Athanasius mewakili tahap konfrontasi, Agustinus mewakili konsolidasi, dan periode setelah itu (jika berhasil terus berlanjut sampai masa ini) menerima dan mengembangkan doktrin Trinitas (kontinuasi).

Pada abad ke-16, apa yang Luther kerjakan mewakili konfrontasi. Calvin hadir untuk menjadi konsolidator dari gerakan Luther. Di dalam khotbahnya, The Legacy of John Calvin, Steven Lawson mengutip Martyn Lloyd Jones yang mengatakan, “Luther was a volcano, spilling out fiery ideas in all directions without patterns or systems, but ideas cannot live and last without a body. And the great need of the protestant movement in the last days of Luther was for a theologian with the ability to arrange and to express the new faith within a system.”[3] Lloyd Jones menegaskan bahwa theologian itu adalah John Calvin. Calvinlah yang “menyelamatkan” protestanisme dengan memberikan sebuah sistem theologi kepadanya. Llyod Jones meneruskan, “Without Calvin, the protestant movement would die at the end of the 16th century.” Dalam hal ini, sangat jelaslah sifat dari Calvin sebagai seorang konsolidator dan generasi-generasi berikutnya seperti para kaum Puritan di Inggris, Amerika, dan Belanda menjadi pihak kontinuator.

Bergerak ke abad ke-19 di Belanda, pencetus gerakan yang menimbulkan Afscheiding (pemisahan) oleh Hendrik de Cock merupakan sebuah tahap konfrontasi. Gerakan ini menimbulkan lahirnya Gereformeerde Kerken (Reformed Church) di bawah Abraham Kuyper (konsolidasi). Pada awal abad ke-20 di Amerika, J. Gresham Machen mengonfrontasi pemikiran liberalisme dari Presbyterian Church, U.S.A. Reformasi ini yang memberikan identitas yang berbeda dari Westminster Theological Seminary (WTS) dan Orthodox Presbyterian Church (OPC). Frame mengatakan bahwa Cornelius Van Til merupakan konsolidator dari gerakan Machen. Tanpa Van Til, maka gerakan Machen tidak mungkin bertahan. Generasi penerus dari pemikiran Van Til (kontinuator) memang terbagi menjadi beberapa kelompok tertentu seperti kelompok Frame dan Poythress, kaum Theonomi (Rousas J. Rushdoony, Gary North, dan lain-lain), maupun Francis Schaeffer.

Posisi Pemuda Reformed Injili di dalam Sejarah
Kembali kepada pertanyaan di awal, bagaimanakah kita sebagai pemuda Reformed Injili di zaman ini, melihat posisi kita di dalam sejarah dan arus Reformasi? Secara umum, banyak orang hanya memahami Reformasi sebagai suatu tindakan konfrontasi saja. Pemuda cenderung memiliki semangat yang menggebu-gebu dan menempatkan diri di pihak konfrontator. Dampak negatif dari hal ini adalah, justru suatu gerakan Reformasi yang sudah baik malah bisa hancur karena pemuda yang salah menempatkan posisi mereka di dalam tahapan Reformasi dan malah menjadi konfrontator palsu. Mari kita menyadari bahwa Reformasi bukan hanya memiliki aspek konfrontasi saja. Kita bisa saja dihadirkan oleh Tuhan pada masa konsolidasi maupun kontinuasi di dalam payung besar Reformasi.

Di bagian kedua dari abad ke-20, Tuhan membangkitkan Pdt. Stephen Tong sebagai seorang konfrontator untuk memulai suatu perubahan yang radikal bagi kekristenan di zaman ini. Gerakan ini juga sudah mulai menghasilkan hamba-hamba Tuhan yang mengonsolidasikan pemikiran dari prinsip-prinsip Gerakan Reformed Injili ini. Berdasarkan umur gerakan yang masih relatif muda, para pemuda gerakan ini dapat memandang posisi mereka baik ke dalam tahap konsolidasi maupun kontinuasi. Di sisi konsolidasi, kita terus berharap Tuhan membangkitkan pemuda-pemudi Reformed Injili yang mampu mengembangkan dan mengintegrasikan seluruh theologi dengan bidang ilmu mereka sehingga ada suatu pengembangan kebudayaan atas dasar Theologi Reformed yang solid. Bersamaan dengan itu, kita terus harus mempelajari warisan-warisan prinsip dalam gerakan ini yang penting sebagai bentuk kontinuasi. Teladan Pdt. Stephen Tong di dalam penginjilan harus menjadi suatu api yang terus kita lanjutkan, karena jika pemuda-pemudi gerakan ini tidak memiliki hati yang bulat di dalam penginjilan, maka pasti gerakan kita akan hancur dan kita tidak pantas disebut sebagai kontinuator. Celakalah kita, jika kita hanya menjadi pemuda-pemudi yang menikmati segala jerih payah yang sudah dilakukan pendahulu-pendahulu kita, lalu dengan puas diri kita memanfaatkan kebesaran nama baik gerakan ini hanya untuk meraup keuntungan bagi diri kita sendiri. Celakalah juga kita, apabila kita sengaja berada di dalam gerakan ini tetapi tidak memiliki suatu dorongan keaktifan dalam menghidupi visi gerakan. Kita merasa puas apabila kita sudah ada di dalam, tetapi kita hadir di dalam kepasifan yang menghambat setiap pergerakan yang semestinya gerakan ini kerjakan. Kiranya Tuhan masih berbelaskasihan kepada pemuda-pemudi Reformed Injili pada masa ini, dan di awal tahun ini kita semakin sadar akan posisi kita sebagai Kontinuator Gerakan Reformed Injili di dalam sejarah.

Abraham Madison Manurung
Pemuda FIRES

Referensi:
Frame J., The Doctrine of the Knowledge of God, Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1987.
Frame J., Cornelius Van Til: An Analysis of His Thought, Phillipsburg, NJ: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1995.
Lawson S., The Legacy of John Calvin, https://www.youtube.com/watch?v=xx1g5WfM6Xw.

Abraham M. Manurung

Januari 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Pengalaman Pak Heru membuat renungan ini lebih sarat makna. Thank you

Selengkapnya...

Salah tafsir Yesus bukan Allah atau hanya sbg ciptaan belaka ( ciptaan sbg manusia saja atau malaikat seperti...

Selengkapnya...

Hambatan-hambatan gereja baik eksternal dan internal,serta terangkan keberadaan Allah dan Sifat-sifat Allah

Selengkapnya...

Saya harus sampaikan ini Artikel sesat sebaiknya di hapus, ini tidak alkitabiah buah pemikiran penulis bukan...

Selengkapnya...

Salomo Depy : kmu over sensitif. Ini artikel tujuan utk membangun, tp kamu spt salah minum obat

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲