Artikel

Pemuda dan Pertanggungjawaban Iman

Introduksi

Kita sungguh bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah menghantarkan kita ke dalam tahun yang baru. Dengan bertambahnya tahun-tahun hidup kita sebagai mahasiswa dan pemuda, seharusnya iman kita makin bertumbuh dan pada saat yang bersamaan aspek-aspek yang kita hidupi juga makin bertambah. Tanggung jawab mahasiswa pasti lebih besar dan kompleks dibandingkan saat dia masih SMA (baik secara iman maupun pengetahuan). Tanggung jawab intelektual mahasiswa juga tentu bertambah besar setiap kenaikan semester. Mahasiswa yang masuk tingkat akhir harus mempertanggungjawabkan hasil penelitian atau tugas akhirnya. Bagaimana kita mengaitkan pengetahuan yang kita pelajari dengan pertumbuhan iman kita? Di dunia kerja, iman kita akan makin dipertaruhkan di hadapan uang, karir, atau jabatan. Tidak sedikit kisah pemuda yang berapi-api melayani saat kuliah kemudian terhilang di tengah sekularisme dunia saat bekerja. Pertumbuhan aspek hidup dan pertumbuhan iman ternyata menjadi hal yang begitu krusial di dalam hidup ini. Kehidupan terus menuntut kita untuk memutuskan berbagai macam hal di tengah masyarakat yang plural, di tengah zaman yang memiliki akses yang begitu lebar kepada berbagai macam informasi, dan di tengah kecepatan dunia modern yang makin bergantung kepada teknologi.

Bagaimanakah seorang pemuda bisa memberikan pertanggungjawaban di tengah aspek hidup yang makin bertumbuh ini? Respons seperti apa yang harus kita utarakan kepada masyarakat modern ini? Apa saja risiko dan tantangan saat kita ingin mempertanggungjawabkan iman kita di tengah-tengah dunia ini? Artikel singkat ini ingin mencoba mengajak pembaca berefleksi seputar hal-hal ini. Setengah bagian pertama artikel ini akan membahas pertanggungjawaban dari perspektif 1 Petrus 3:15, dan setengah bagian akhir artikel ini akan merefleksikan pertanggungjawaban Paulus di kota Atena yang merupakan kota paling maju dengan penduduk yang paling modern dan beradab pada masa itu.

Siap Sedia Bertanggung Jawab

“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab [apologia] kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.” (1Ptr. 3:15)

Salah satu kegagalan terbesar kita di dalam mempertanggungjawabkan iman adalah kegagalan kita melihat kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia. Bukankah Allah tidak memerlukan apa pun? Ia adalah Pencipta langit dan bumi. Di Areopagus, Paulus berkata kepada para filsuf bahwa Allah tidak dilayani oleh tangan manusia, “seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang” (Kis. 17:25). Jadi tidak perlu ya bertanggung jawab? Dilema ini serupa dengan kegagalan mengaitkan konsep predestinasi dengan penginjilan. Orang sering beranggapan bahwa jika Allah sudah memilih, untuk apa menyaksikan Injil? Hal ini juga sebenarnya serupa dengan konsep berdoa dan bekerja. Jika Allah mampu menjawab doa kita dengan memberikan apa yang kita perlukan, mengapa kita masih harus bekerja untuk mencapai apa yang kita inginkan? Memang benar, sesungguhnya Allah tidak memerlukan kesaksian Injil kita atau “bantuan” kita membela-Nya, tetapi sekalipun Allah mampu memastikan rencana-Nya tergenapi, Ia memilih untuk melibatkan kita di dalam penggenapan pekerjaan-Nya. Mempertanggungjawabkan iman bukanlah tindakan yang kita lakukan karena Allah tidak mampu membela diri-Nya, tetapi karena itu adalah salah satu sarana yang Ia tetapkan untuk mempermuliakan diri-Nya dan membela kebenaran-Nya.

Mempertanggungjawabkan iman adalah perintah yang Tuhan tetapkan sendiri di dalam Alkitab. Di dalam Yudas 3, tertulis perintah untuk “tetap berjuang mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus”. Sekalipun Allah dapat menjaga firman-Nya dari ajaran bidat, Ia tetap menggunakan Yudas untuk mengingatkan orang Kristen agar berjuang menghadapi kesesatan dan pengajaran palsu. Paulus sendiri mengingatkan Titus agar penilik-penilik gereja harus “sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran itu (yang benar) dan sanggup meyakinkan penentang-penentangnya” (Tit. 1:9). Petrus menuliskan bahwa semua orang percaya harus siap sedia memberi pertanggungan jawab (apologia) dalam membela iman di hadapan tantangan-tantangan dan pertanyaan-pertanyaan yang datang dari orang-orang yang tidak percaya. Greg Bahnsen mengatakan, “Kebutuhan akan apologetika bukanlah kebutuhan Ilahi: Allah pasti dapat melaksanakannya tanpa kita. Kebutuhan akan apologetika adalah kebutuhan moral: Allah telah memilih untuk mengerjakan karya-Nya melalui kita dan memanggil kita untuk melakukan itu.”1

Prinsip di dalam Mempertanggungjawabkan Iman

Bersifat pasif dengan mengangkat tangan dan menyerahkan semua kepada Tuhan tentunya adalah respons yang salah dalam mempertanggungjawabkan iman. Sebaliknya, bersikap overreactive juga hanya membawa kita kepada sisi lain yang sama salahnya, bahkan mungkin lebih parah. Penerjemahan yang salah akan 1 Petrus 3:15 dapat memimpin kita kepada interpretasi mempertanggunjawabkan yang “kebablasan”. Sering kali justru orang-orang Reformed jatuh dalam hal ini, kemudian menjadi batu sandungan. Ada beberapa prinsip yang harus kita perhatikan di dalam ayat ini.

Pertama: sikap yang benar. Ayat ini tidak mengatakan bahwa orang percaya harus mengambil inisiatif dan memulai perdebatan dengan orang tidak percaya. Anak muda biasanya sering belagu dan bergaya, karena sudah mengerti suatu ajaran yang benar, maka ingin menyombongkan diri dan berdebat dengan orang yang dia anggap salah. Hal yang harus kita utamakan bukanlah sikap sengaja mencari-cari pertarungan, melainkan fokus kepada kesempatan untuk memberitakan Injil. Pertanggungjawaban sebenarnya terjadi sebagai respons alami terhadap kesaksian penginjilan kita. Lebih dari itu, teks ini mengajarkan bahwa kita harus menyampaikannya dengan sikap yang “lemah lembut dan hormat”, bukan dengan sikap suka berkelahi. Pertanggungjawaban harus dilakukan dengan sikap rendah hati dan takut akan Tuhan, karena itulah permulaan hikmat (Ams. 1:7). Paulus sendiri menasihati Timotius dengan berkata, “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar” (2Tim. 2:24).

Kedua: bersandar pada anugerah. Ayat ini tidak mengatakan bahwa kita bertanggung jawab membuat lawan kita menjadi orang percaya. Sebagaimana bagusnya argumentasi yang bisa kita berikan tidak menjamin seseorang akan dengan rendah hati menerima jawaban kita, kemudian percaya kepada Tuhan. Bahkan sekalipun lawan bicara kita adalah orang yang tidak bodoh dan memiliki pengetahuan atau argumentasi logis yang kukuh, tetaplah hanya Tuhan yang memegang kunci hati orang tersebut. Kita sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk meregenerasikan hati orang mati dan mencelikkan mata orang buta. Semua hanyalah anugerah Allah. Efesus 1:18 mengatakan bahwa “manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”. Tugas kita pada akhirnya hanya menjadi saksi yang setia bagi kebenaran.

Ketiga: dasar presuposisional. Teks ini tidak mengajarkan kita untuk menggunakan standar lain apa pun selain firman Tuhan sebagai otoritas ultimat di dalam mempertanggungjawabkan iman. Sering kali kita jatuh di dalam ide bahwa proses pertanggungjawaban harus dimulai dari ruang yang netral dan disetujui oleh kedua pihak. Kesalahan paling umum yang sering terjadi adalah menganggap rasio sebagai standar yang dipahami dan dapat diterima secara umum. Di dalam mempertanggungjawabkan iman, kita harus percaya bahwa firman Tuhan memiliki otoritas yang ultimat. Pada bagian pertama dari ayat ini, dikatakan “kuduskan Kristus di dalam hatimu”. Petrus sedang mengajarkan bahwa proses pembelaan iman dimulai dengan presuposisi otoritas Kristus. Kata “hati” di dalam ayat ini tidak berarti sesuatu yang bersifat emosional yang berlawanan dengan rasio. Sebaliknya, hati adalah pusat seluruh aktivitas hidup, termasuk pusat dari pikiran. Jadi, Kristus harus dikuduskan sebagai Tuhan di dalam pertanggungjawaban iman kita. Konsep presuposisional ini sangat penting di mana kita akan melihat bagaimana Paulus meletakkan dasar presuposisionalnya pada otoritas firman Allah saat mempertanggungjawabkan imannya di Atena.

Paulus di Atena

Ketiga prinsip yang baru saja kita baca memiliki aplikasi yang sangat nyata di dalam diri Paulus, khususnya di dalam catatan Alkitab ketika Paulus berada di Atena. Kisah Paulus di Atena sangat menarik karena memiliki keterkaitan yang besar dengan surat-suratnya di Alkitab. Aksi Paulus di Atena bisa dikatakan sebagai salah satu tempat kristalisasi terbaik dari hasil surat-surat Paulus yang dia transformasikan ke dalam bentuk aksi. Martin Debelius mengatakan bahwa khotbah Paulus di Areopagus ditujukan untuk menjadi teladan bagaimana seharusnya misionaris Kristen mendekati orang-orang tidak percaya yang beradab. Kita akan melihat hal-hal dengan lebih jelas seiring dengan apa yang terjadi di Atena. Sinkron dengan 1 Petrus 3:15, kita juga dapat melihat bagaimana Paulus mempertanggungjawabkan imannya dengan sikap yang benar (lemah lembut, tidak berkelahi), bersandar kepada anugerah Tuhan, serta menggunakan metode presuposisional di hadapan filsuf-filsuf terbaik di dunia pada saat itu. Ketika Paulus berada di Atena, terdapat dua setting tempat yang Lukas lukiskan di Kisah Para Rasul 17:16-34. Setting tempat pertama (Kis. 17:16-21) adalah di pasar terbuka (agora) dan tempat kedua (Kis. 17:22-34) adalah di tempat yang pasti kita lebih kenal dan sering baca, yaitu di Areopagus.

Sebelum kita melihat lebih mendalam ke dalam kedua setting tempat tersebut, kita perlu sedikit meninjau ulang latar belakang pendidikan Paulus serta konteks zaman akademis masa itu (khususnya di Yunani). Paulus lahir di Tarsus di tanah Kilikia. Kota ini dikenal sebagai kota pelajar pada masanya dan Paulus tentunya mendapat pengaruh akademis yang besar dari filsafat di kota itu. Kota ini melahirkan beberapa filsuf besar yang berpengaruh pada masanya, seperti Zeno (pendiri mazhab Stoa), Antipater (pengkritisi filsafat Skeptisisme Carneades), Heraclides (dia menolak pandangan bahwa “semua kesalahan itu sama”), dan Athenodorus penganut Stoa (yang merupakan guru dari Kaisar Agustus). Paulus juga belajar di bawah Gamaliel di Yerusalem (Kis. 22:3). Mata kuliah yang sifatnya mengkritisi filsafat dan budaya ada di dalam Talmud. Paulus sendiri adalah salah satu murid Gamaliel di mana murid-murid terbaiknya mendapatkan pujian: “sebuah sumur yang diplester, yang tidak kehilangan setetes air pun” (Avot 2:8). Surat-surat Kitab Suci yang ditulis Paulus sendiri menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh mengerti tentang filsafat dan pemikiran Yunani. Paulus dapat dikatakan sebagai representasi terbaik orang yang mengerti pikiran Yunani dan Yahudi pada masanya.

Kita akan sedikit melihat lanskap dari pemikiran di kota Atena dan filsafat Yunani. Kota Atena sendiri adalah pusat dari filsafat di dunia kuno. Kota ini terkenal dengan empat sekolah utamanya, yaitu Akademi Plato (±287 SM), Lyceum Aristoteles (335 SM), Taman Epikuros (306 SM), dan Serambi Bercorak Zeno (300 SM). Pada abad ke-3 SM, filsafat Skeptisisme berkembang juga di sana di bawah pengaruh Carneades. Pada abad ke-1 SM, Antiochus dari Ascalon mengklaim memulihkan sekolah “Akademi yang lama”, namun sesungguhnya yang terjadi adalah dia memperkenalkan dogmatisme sinkretistik yang memandang Stoikisme sebagai penerus yang sesungguhnya dari Plato. Tradisi Platonik yang “anti-materialis” ini juga mendapat tantangan dari mazhab Peripatetik Aristoteles yang menolak konsep keabadian. Pengaruh materialisme mazhab ini sangat dipengaruhi oleh ajaran Epikureanisme. Epikuros menerima ajaran Demokritos yang menyatakan bahwa dunia ini terdiri dari atom-atom materi yang abadi. Pengikut Epikuros membangun konsep rasionalitas di atas pengertian materialisme sehingga mereka tidak percaya adanya Tuhan dan percaya bahwa fokus dari hidup hanyalah saat ini dan demi mengejar kebahagiaan. Di sisi yang berseberangan, orang Stoa lebih dekat kepada ajaran Panentheistik. Mereka mengejar hidup yang seimbang dengan alam, di mana rasio adalah ekspresi dari alam, sehingga orang Stoa sangat mengedepankan rasio daripada emosi. Pada masa Paulus, aliran Stoik sudah termodifikasi sedemikian rupa menjadi berbagai variasi. Seneca adalah salah satu penganut Stoa yang hidup sezaman dengan Paulus. Filsafat terbaru pada masa itu adalah Neophytagorean yang mengedepankan theologi mistis dan esoterik. Filsafat ini memengaruhi komunitas Eseni dan Philo (seorang filsuf lain yang sezaman dengan Paulus).

Berdasarkan penelusuran singkat di atas, kita telah melihat bahwa Paulus sangat mengerti filsafat yang terjadi di masanya. Kota Atena adalah kota yang sangat modern pada masanya, dan kerumitan filsafat yang terjadi di sana tidak jauh dari kondisi dunia modern saat ini. Konflik wawasan dunia yang berlarut-larut di sepanjang 400 tahun terakhir telah begitu membuat masyarakat Atena bosan, akibatnya mereka haus akan pemikiran-pemikiran baru. Bahkan seorang sejarawan Yunani bernama Thucydides mengatakan, “Anda adalah orang-orang terbaik dalam hal tertipu oleh suatu hal baru yang dikatakan.” Latar belakang ini cukup untuk membawa kita masuk ke dalam kisah Paulus dengan setting agora dan Areopagus.

Paulus di Agora dan Areopagus

Hati Paulus sangat sedih melihat kota Atena yang penuh berhala. Seorang satiris Roma bernama Petronius pernah berkata, “Lebih mudah mencari seorang dewa di Atena daripada seorang manusia; kota ini benar-benar penuh dengan berhala.” Sejarawan-sejarawan juga menulis bahwa jumlah berhala di Kota Atena jauh lebih banyak daripada gabungan dari semua wilayah lain Yunani. Kata “sedih hati” yang dipakai di Kisah Para Rasul 17:16 adalah kata yang sama yang dipakai dalam Perjanjian Lama (Septuaginta) ketika Allah murka terhadap penyembahan berhala bangsa Israel. Paulus berusaha melihat kota Atena seperti Allah melihat kebebalan Israel. Kesedihan Paulus muncul dari fakta bahwa ada begitu banyak berhala di Atena dan hati orang Atena tidak dapat berdalih (Rm. 1:20) seperti hati orang Israel pada masa Perjanjian Lama. Alkitab melanjutkan, “Karena itu ia bertukar pikiran dengan dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar [agora] setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ” (Kis. 17:17). Agora adalah pasar terbuka yang letaknya di kaki Akropolis yang merupakan pusat kehidupan dan perdagangan Atena. Tempat ini adalah tempat yang sama di mana Sokrates bertemu dengan banyak orang untuk mendiskusikan pertanyaan filosofisnya. Dari poin ini, kita dapat melihat bahwa Paulus tidak mencari-cari masalah untuk berdebat dan mempertanggungjawabkan imannya di tengah-tengah masyarakat Atena. Sebaliknya, Paulus rindu memberitakan Injil kepada mereka. Kisah Para Rasul 17:18 mengatakan, “Sebab ia memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya.” Jadi sungguh jelas apa yang Paulus lakukan di agora, yaitu memberitakan Injil, sehingga pertanggungjawaban dan diskusi-diskusi yang ada adalah reaksi alami pasca pemberitaan Injil.

Selanjutnya, Paulus juga menggunakan metode presuposisional di dalam mempertanggungjawabkan imannya. Dia tidak berusaha untuk memulai dari pijakan yang netral di mana kedua pihak bisa sama-sama berdiri. Sekiranya Paulus ingin melakukan hal itu, ia memiliki modal yang lebih dari cukup akan filsafat Yunani. Paulus tidak ingin menggunakan perkataan “hikmat” yang satu daratan dengan mereka supaya salib Kristus tidak menjadi sia-sia (1Kor. 1:17). Kisah Para Rasul 17:18 menuliskan bahwa para filsuf dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia, kemudian menghina dia dengan istilah “peleter”. Istilah ini adalah istilah yang populer bagi seorang pedagang keliling yang sebenarnya merupakan perpanjangan mulut dari penyebar filsafat palsu. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Paulus tidak menggunakan hikmat Yunani di dalam pendekatan diskusinya. Akibat dari metode ini, Paulus dituduh memberitakan dewa-dewi palsu. Gema ini mirip dengan tuduhan Atena kepada Sokrates 450 tahun sebelumnya. Mereka mengira Paulus memperkenalkan pasangan dewa-dewi baru yaitu “Yesus” (bentuk maskulin yang terdengar seperti kata Yunani iasis) dan “kebangkitan” (bentuk feminim). Cara Paulus begitu luar biasa karena dia langsung menantang mereka untuk meninggalkan berhala mereka dan melayani Allah yang hidup melalui pemberitaan akan kebangkitan Kristus. Dasar presuposisional yang Paulus gunakan adalah dia menerima otoritas firman yang menjadikan kebangkitan sebagai fondasi Injil. Meskipun seharusnya bisa, Paulus sengaja tidak mau menggunakan pendekatan dengan modal filsafat Yunani seperti materialisme, determinisme, atau monisme untuk menciptakan dasar-dasar yang memadai secara intelektual di dalam pembicaraannya. Materi perdebatan tentang tubuh, roh, dan kebangkitan sangat melimpah dan beragam di dalam lanskap pemikiran orang-orang Yunani. Di dalam buku Paul at Athens, Van Til sendiri menafsirkan bahwa kerangka pikir tentang kebangkitan yang tepat harus dimulai dari fakta adanya kebangkitan itu sendiri, dan kerangka pikir kebangkitan inilah yang bisa membuat orang melihat kepada fakta kebangkitan; keduanya diterima hanya atas dasar otoritas Alkitab semata dan oleh karya pembaruan Roh Kudus.

Tantangan ini membawa keberatan bagi para filsuf, tetapi bisa juga dianggap sebagai sambutan hangat penduduk Atena yang “tidak punya waktu untuk apapun selain untuk mengatakan atau mendengar segala sesuatu yang baru”. Paulus dibawa ke Areopagus untuk mempertanggungjawabkan ucapannya. Kata “mereka membawa” yang dipakai Lukas sebenarnya lebih sering digunakan di Kisah Para Rasul dalam pengertian menangkap seseorang (bdk. 16:19, 18:17, 21:30). Apa yang terjadi di Areopagus? Saya akan membahasnya lebih detail di artikel berikutnya yang bertemakan apologetika. Detail kejadian di Areopagus sangat menarik dan kaya akan prinsip kebenaran di dalam mempertanggungjawabkan iman. Singkat cerita, Paulus tetap menunjukkan sikap yang lemah lembut dan menggunakan metode presuposisional di dalam khotbahnya di Areopagus. Bagaimana reaksi orang-orang setelah Paulus berkhotbah (atau lebih tepatnya mereka memotong khotbah Paulus)? Ternyata kebanyakan tidak percaya. Seperti yang sudah disampaikan di dalam prinsip kedua, bahwa tugas kita adalah menyatakan apa yang kita percaya, masalah para pendengar kemudian menjadi percaya atau tidak kembali kepada anugerah Tuhan. Kisah Para Rasul 17:34 menceritakan bahwa ada beberapa orang yang menggabungkan diri dan menjadi percaya. Salah satu dari orang tersebut adalah Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris. Tradisi gereja pada sekitar 170 M mengatakan bahwa Dionisius dipilih Paulus sebagai penatua pertama di kota Atena. Ini juga adalah anugerah.

Pertanggungjawaban Kita di Era Modern

Pada bagian akhir dari artikel ini, mari kita coba merefleksikan kehidupan kita serta bagaimana kita sudah mempertanggungjawabkan iman kita selama ini. Di manakah agora di dalam hidup modern kita? Apakah kita saat ini masih bisa melihat manusia-manusia modern yang menyembah berhala? Apakah hati kita sedih saat melihat orang-orang menyembah berhala-berhala modern? Sudahkah kita memberitakan Injil di agora modern tersebut?

Secara offlineagora modern tidak berubah. Dia tetap adalah tempat yang ramai di mana orang bertemu satu dengan lain untuk berinteraksi. Sebagai mahasiswa, agora itu dapat berupa ruang kelas kuliah, kantin kampus, ataupun wilayah seputar kos/apartemen/tempat tinggal. Bagi pemuda dan pekerja umum, agora itu adalah kantor dan masyarakat umum. Berhala-berhala yang mahasiswa sembah tentu bukanlah patung Dewa Zeus atau Dewi Eumenides, tetapi nilai ataupun rasionalitas. Berhala-berhala yang pekerja sembah tentu juga bukan patung Dewa Ares atau Dewi Hermes, tetapi uang, jabatan, ataupun karir. Berhala-berhala itu telah berevolusi sedemikian rupa sejak zaman Yunani Kuno, tetapi tidak pernah hilang. Secara online, dunia internet telah menjadi agora dunia di mana siapa pun dapat bertemu dengan siapa pun dan kapan pun. Media sosial telah menjadi pusat memamerkan berhala utama kita, yaitu diri kita sendiri. Foto dan video narsis yang terus menjadi feed untuk ditonton dunia, simulasi teater yang setiap orang dramakan di hadapan dunia, dan kehausan perhatian yang dibayar dengan viewlikeshearts, dan lain-lain. Handphone telah menjadi mimbar ibadah di dalam hidup manusia modern. Di sanalah semua ritual ibadah hidup modernnya dijalankan. Seperti orang-orang Atena yang terus mau tahu sesuatu yang baru setiap hari, demikian manusia modern yang setiap satu menit menatap handphone untuk menunggu notifikasi baru. Mungkin hal yang paling kejam adalah Areopagus modern. Di masa Yunani Kuno, Areopagus adalah tempat penghakiman untuk menentukan apakah seseorang benar atau salah. Manusia modern gentar di hadapan Areopagus modern, takut dituduh ketinggalan zaman dan tidak mengadopsi semangat dunia. Ternyata semua hal yang Paulus lalui di Atena masih begitu relevan dengan kita.

Satu-satunya solusi yang artikel ini tawarkan adalah pertobatan hati kita menjadi Paulus-Paulus masa kini di tengah agora dan Areopagus modern. Sadarkah kita bahwa buku dari Kisah Para Rasul tidak memiliki bagian penutup? Misi yang sudah berguling dari sejak masa para rasul terus berguling di dalam sejarah dan diestafetkan dari generasi ke generasi sampai kepada masa kita hidup saat ini. Hai para pemuda Kristen, sebagaimana Tuhan telah memanggil Paulus pada masanya untuk melayani-Nya, Tuhan juga memanggil kita untuk menjadi kesaksian di tengah dunia untuk memberitakan Injil, mempertanggungjawabkan iman, dan menghadapi agora serta Areopagus modern ini. Panggilan ini tentu tidak mudah. Kita memerlukan hati yang menguduskan Kristus. Kita memerlukan sesama umat-Nya untuk saling membangun dan menopang. Kita perlu belajar firman Tuhan sedalam-dalamnya dan juga mempelajari wahyu umum sesuai kesempatan dan bakat yang Tuhan percayakan. Kapankah misi ini akan berakhir? Misi ini akan berakhir ketika tidak ada lagi tahun kehidupan yang Tuhan karuniakan bagi diri kita secara pribadi, atau ketika dunia ini mencapai tahun terakhir, yaitu tahun di mana Kristus datang kembali ke dunia untuk menghakimi dan menuntut pertanggungjawaban akhir dari seluruh manusia. Selamat Tahun Baru!

Abraham Madison Manurung

Pemuda FIRES

Abraham M. Manurung

Februari 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk situasi global dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini, berdoa kiranya setiap umat Kristen diberikan kekuatan oleh Tuhan di dalam menghadapi situasi ini dan mampu untuk menyaksikan Tuhan di dalam kehidupan mereka.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲