Artikel

Pemuda dan Pertanggungjawaban Iman: Sebuah Refleksi Internal sebagai Orang Kristen

Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. (1Ptr. 3:15)

Introduksi: Perenungan Singkat mengenai Pemuda

Bulan ini, Buletin PILLAR kembali membahas topik pemuda, secara spesifik dalam konteks pertanggungjawaban iman. Periode pemuda adalah satu transisi penting dalam masa hidup manusia dari seorang anak menjadi dewasa. Berbagai perubahan dan pergolakan kerap terjadi dalam masa-masa ini, termasuk mengenai kepercayaan dan prinsip hidup yang dipegang dan digumulkan. Dalam periode masa muda, seseorang kerap mempertanyakan dan membangun ulang berbagai hal yang telah ia dengar dan percaya sejak masa kanak-kanak, untuk nantinya menjadi pegangan dalam masa hidupnya ketika dewasa. Pdt. Dr. Stephen Tong beberapa kali menjelaskan dalam khotbahnya bahwa periode umur 20-21 tahun biasanya adalah periode terakhir di mana seseorang menjadi terbuka dan sungguh-sungguh untuk memikirkan mengenai iman kepercayaan yang akan ia pegang seumur hidup. Tentu bukan berarti setelah umur 21 tidak ada kesempatan lagi. Tuhan tentu masih bisa bekerja dan mengubah hidup orang yang sudah sangat berumur sekalipun. Namun hal tersebut relatif lebih jarang dan momentum keterbukaan tersebut adalah sangat berbeda jika dibandingkan ketika seseorang berumur 20-21 tahun.

Dalam perjalanan hidup dan pelayanan penulis, penulis kerap berinteraksi dengan berbagai macam pemuda dari latar belakang dan denominasi yang berbeda. Penulis menemukan satu fenomena yang menarik, yakni mengenai aspek kesungguhan dan dinamika pergumulan iman seseorang ketika ia sudah berada dalam keluarga Kristen “baik-baik” sejak kecil. Dalam observasi pribadi penulis, tidak jarang orang-orang dalam golongan tersebut menjalankan segala macam kegiatan gerejawi secara “otomatis”, sekadar mengikuti orang tua/keluarga, sudah nyaman karena komunitas sejak kecil sudah di sana, tanpa adanya kesungguhan pergumulan dan pemahaman kuat mengapa ia melakukan/mengerjakan segala hal yang ia kerjakan (baik itu mengikuti wadah tertentu, terlibat dalam pelayanan tertentu, dan lain-lain). Dalam beberapa kasus, ada kalanya orang-orang tersebut kemudian “guncang” atau mempertanyakan ulang apa yang ia percayai dan kerjakan sejak kecil sampai sejauh ini. Namun terkadang, hal tersebut tidak bisa terungkap/terekspresikan dengan begitu bebas/terbuka karena konteks komunitas Kristen dan berbagai kapasitas pelayanan yang sudah diemban.

Konteks Umum Surat Petrus

Dengan konteks latar belakang seperti itu, penulis teringat mengenai satu bagian dalam surat 1 Petrus. Tentu kita percaya bahwa Alkitab ditulis untuk setiap orang Kristen di segala zaman, tidak hanya untuk kelompok/golongan tertentu saja. Juga termasuk bagian ayat dalam surat Petrus ini juga berlaku bagi seluruh orang Kristen tanpa terkecuali. Namun bagi penulis, secara natural penulis teringat mengenai kelompok orang-orang Kristen yang disebutkan di atas. Penulis sangat mengharapkan, bagi orang-orang Kristen yang sudah sejak kecil ikut ibadah dan berbagai wadah gerejawi, untuk tidak hanya mengikuti hal-hal tersebut karena keharusan/kebiasaan/tradisi. Namun bisa benar-benar yakin dan mempertanggungjawabkan apa yang kita percayai. Dalam konteks surat Petrus, digunakan kata spesifik mengenai “pengharapan yang ada padamu”. Walaupun pengharapan di sini juga bisa diartikan dan sangat dekat kaitannya dengan iman. Dalam pengalaman hidup pribadi penulis dalam rentang umur 18-25 tahun, ada beberapa kali pergumulan internal dan perenungan mendalam mengenai beberapa hal mendasar seperti: Mengapa saya percaya Alkitab? Seberapa jauh Alkitab seharusnya menjadi pedoman dalam hidup? Mengapa Allah yang sejati harus Tritunggal? Mengapa penebus sejati harus bersifat dwinatur? Mengapa Kristus satu-satunya yang unik dibandingkan dengan seluruh tokoh dan pendiri agama lain? Mengapa saya harus hidup bergereja/berkomunitas antarsesama orang Kristen? Bukankah ini membuang-buang waktu? Ini hanyalah segelintir contoh pertanyaan yang penulis hadapi dalam perjalanan sebagai orang Kristen.

Tentu orang-orang Kristen lain juga mengalami pergumulan dan pertanyaan semacam ini dengan berbagai jenis variasinya. Penulis dengan jujur dan bersyukur saat ini bisa mengatakan, oleh anugerah Tuhan, masa-masa tersebut bisa dilewati dan penulis juga boleh memberikan pertanggungjawaban bagi orang-orang di sekitar penulis yang pernah mendiskusikan/menanyakan/memberikan tantangan terkait hal-hal tersebut.

Sedikit konteks mengenai surat Petrus, Rasul Petrus menuliskan surat ini kepada jemaat yang tersebar di berbagai daerah seperti Pontus, Galatia, Kapadokia, dan Asia. Tentu berbeda dengan konteks kekristenan pada zaman sekarang, surat Petrus dituliskan dalam konteks jemaat mula-mula yang secara jumlah masih kecil dan sekaligus mengalami tantangan-tantangan yang begitu sulit. Pada periode ini, agama Kristen masih minoritas, dan kerap mendapatkan tekanan baik dari sisi politik (Kerajaan Romawi) maupun agama (penganut Yudaisme). Dari perspektif Kerajaan Romawi, orang-orang Kristen adalah pemberontak karena tidak mau tunduk kepada kaisar sebagai penguasa tertinggi. Dalam konteks surat Petrus, nuansa dan tema mengenai penderitaan terasa dengan kental. Misalkan saja Petrus memberikan gambaran penderitaan yang dialami oleh orang-orang Kristen adalah bagaikan proses emas yang dimurnikan oleh api. Di bagian lain, Petrus memberikan dorongan dan penghiburan bagi orang-orang yang dianiaya karena Kristus, justru bukan karena melakukan suatu kesalahan/pelanggaran. Dalam surat ini, Petrus juga secara spesifik memberikan dorongan untuk tunduk dan memberikan penghormatan kepada pemerintah.

Pertanggungjawaban Iman: Syarat, Kesediaan, Sikap Hati

Dalam konteks surat dan tantangan jemaat seperti ini, muncul bagian yang akan kita bahas, yakni mengenai tema pertanggungjawaban iman. Iman Kristen bukan iman buta atau takhayul. Iman Kristen adalah iman yang juga bisa dipertanggungjawabkan! Ayat ini ditulis dalam perikop mengenai nasihat agar orang Kristen tetap berbahagia dan bersabar ketika harus menderita bukan karena berbuat salah/dosa. Justru ketika berbuat baik atau melakukan kebenaran, orang Kristen harus bersiap untuk menderita. Sebenarnya dalam ucapan bahagia, Yesus Kristus sendiri pernah mengajarkan hal-hal ini. Upah atau alasan bisa berbahagia, tidak lain dan tidak bukan, karena orang Kristen memandang kepada Yesus Kristus, Sang Teladan Agung. Kristus terlebih dahulu telah mati sekali untuk dosa-dosa kita; Ia yang benar, telah mati bagi kita, orang-orang yang tidak benar.

Dari 1 Petrus 3:15, setidaknya penulis bisa merenungkan dan menggali tiga aspek pertanggungjawaban iman, yakni: (i) syarat, (ii) kesediaan, (iii) sikap hati. Yang pertama mengenai syarat. Sebelum memberikan nasihat untuk mempertanggungjawabkan iman, Petrus memberikan satu syarat penting, yakni menguduskan Kristus sebagai Tuhan! Kita memberikan suatu pertanggungjawaban bukan karena ingin dilihat hebat, ingin menunjukkan otoritas tertentu, ingin membela diri/golongan, ataupun karena marah/benci terhadap lawan kita. Dari sudut pandang ayat ini, tidak ada gunanya kita berdebat begitu hebat atau menjelaskan begitu panjang lebar, tanpa sebelumnya kita menguduskan Kristus sebagai Tuhan dalam hati kita. Sering kali kita mungkin langsung berpikir mengenai koherensi argumen, runutan logika, cara meyakinkan lawan bicara, tanpa terlebih dahulu mengarahkan hati dan pikiran kita kepada Kristus.

Aspek kedua yang direnungkan oleh penulis adalah mengenai kesiapsediaan. Dalam konteks Gerakan Reformed Inijli, kita bersyukur Pdt. Dr. Stephen Tong kerap memberikan teladan dan dorongan untuk berkhotbah “tidak habis-habis”, selalu siap untuk berkhotbah, menjelaskan, atau memberitakan Injil dalam tema “apa pun” kepada golongan/lapisan masyarakat mana pun yang membutuhkan. Petrus juga menasihatkan agar orang Kristen selalu siap sedia dalam segala waktu dan kepada tiap-tiap orang. Kita tidak boleh hanya siap ketika kita baru saja mengikuti suatu seminar, kelas, atau suatu wadah pembelajaran. Tetapi dalam keseharian hidup kita sebagai orang Kristen, iman kita dan kebenaran yang kita yakini, harus melekat begitu erat dalam keseharian kehidupan kita. Dan dengan sikap itu, kita siap kapan pun memberikan pertanggungjawaban iman kepada kelompok orang mana pun yang menanyakan atau membutuhkan penjelasan kita.

Aspek ketiga adalah mengenai sikap hati. Sekali lagi, memberikan pertanggungjawaban bukan hanya mementingkan keabsahan dan sistematika penjelasan. Sikap hati dan cara memberikan pertanggungan jawab juga tidak kalah penting. Bahkan kepada orang yang terlebih dahulu benci, marah, atau memfitnah, kita tetap harus memberikan penjelasan dengan lemah lembut, sikap hormat, dan hati nurani yang murni. Alangkah sedihnya ketika orang Kristen memberikan penjelasan justru dipenuhi oleh kepahitan, kekerasan, dan kesombongan. Sungguh jauh dengan apa yang Alkitab nyatakan melalui surat Petrus! Kiranya kita yang lemah ini, senantiasa meminta pertolongan Tuhan agar emosi kita boleh makin dikuduskan, terutama dalam konteks memberikan pertanggungjawaban iman kepada orang lain.

Penutup

Dalam bagian penutup ini, penulis kembali teringat kepada golongan orang Kristen yang disebutkan di awal. Bagi mereka penulis berdoa, juga bagi pembaca Buletin PILLAR, agar dalam perjalanan hidup kita sebagai orang Kristen, iman kita juga terus bertumbuh. Kita boleh menjadi orang Kristen yang dewasa/matang dan mampu memberikan pertanggungjawaban iman. Dengan pertolongan Tuhan, kiranya kita diberikan kekuatan untuk terlebih dahulu menguduskan Kristus, siap sedia dalam waktu apa pun, dan mampu memberikan suatu pertanggungjawaban iman dengan lemah lembut, penuh hormat, dan hati nurani yang murni. Kiranya orang-orang yang belum percaya, bisa melihat kesaksian yang indah dari hidup orang-orang Kristen, baik itu dari perkataan maupun perbuatan.

Every loving word we say

Every tear we wipe away

Every sorrow turned to praise

Is only by His grace.

(Grace Alone, Scott Wesley Brown)

Juan Intan Kanggrawan

Redaksi Bahasa PILLAR

Referensi:

1. https://ccel.org/ccel/henry/mhc6/mhc6.iPet.iv.html.

2. https://ccel.org/ccel/calvin/calcom45/calcom45.iv.iv.vi.html.

Juan Intan Kanggrawan

Januari 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲