Artikel

Pemuda Reformed Injili dan Kebangkitan Theologi

Kita hidup di tengah dunia yang memiliki berbagai ideologi. Setiap ideologi ini berusaha keras untuk mempertahankan cara pandang mereka, bahkan ada yang menggunakan kekerasan. Semua ini mereka lakukan sebagai sebuah perjuangan akan apa yang mereka percayai. Ideologi ini bukan sekadar sebuah pengetahuan tetapi juga bagian hidup yang mereka terapkan dalam keseharian, bahkan ideologi ini mereka perjuangkan. Perjuangan ini bukan hanya sebuah bentuk defense saja, tetapi juga pengaruh untuk menarik orang lain menjadi bagian dari ideologi tersebut. Ketika pengaruh dari ideologi ini semakin meluas, ajarannya merasuk ke dalam budaya masyarakat, dan menjadi sebuah cara pandang yang umum di dalam budaya tersebut. Akibatnya, mayoritas orang yang hidup dalam budaya tersebut menerima pengaruh ideologi ini sebagai sebuah kewajaran, bahkan menganggapnya sebagai natur dari kehidupan manusia. Ketika kita hidup di dalam masyarakat ini, secara tidak sadar kita akan mengadopsi ideologi tersebut. Kita tidak sadar ketika ideologi-ideologi ini diajarkan di bangku perkuliahan. Kita juga tidak sadar bahwa ideologi-ideologi ini dipaparkan melalui multimedia yang kita nikmati sehari-hari. Bahkan kita juga mungkin tidak sadar bahwa ideologi-ideologi ini sedang diajarkan di dalam keluarga. Maka, secara sadar atau tidak sadar kita dipengaruhi berbagai ideologi di dalam keseharian kita. Namun, seberapa seringkah kita memikirkan, menganalisis, mengkritisi, dan mengoreksi setiap ideologi ini? Kita cenderung menerimanya dengan mudah dan menjadikannya bagian dari hidup kita, tidak peduli dengan kesalahan-kesalahan yang terkandung di dalam ideologi-ideologi tersebut.

Pdt. Stephen Tong pernah menyatakan demikian, “Semua kesalahan ideologi muncul karena kesalahan dalam konsep theologi.” Ketika kita menyebut diri kita sebagai pemuda Reformed Injili, maka kita tidak bisa terhindar dari fakta ini. Seluruh ideologi yang kita serap di dalam keseharian pasti memiliki kesalahan-kesalahan yang berbenturan dengan theologi yang kita pelajari di dalam Gerakan Reformed Injili. Kita perlu menganalisis setiap ideologi di dalam bidang studi yang kita pelajari, ajaran, maupun budaya yang kita peroleh dari keluarga dan pergaulan kita, termasuk insight yang kita peroleh melalui berbagai media. Kita tidak boleh mengabaikan realitas bahwa seluruh ideologi ini lahir dari wawasan dunia yang sangat mungkin bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, khususnya Theologi Reformed.

Di dalam sebuah wawasan dunia, setidaknya terdapat tiga aspek yang harus kita perhatikan, yaitu metafisika, epistemologi, dan etika. Cornelius Van Til mengaitkan ketiga aspek ini menjadi sebuah rangkaian yang holistis, sehingga pergeseran cara pandang di dalam satu aspek akan memengaruhi aspek yang lainnya. Theologi banyak berkaitan dengan aspek metafisika. Di dalam theologi, kita berbicara mengenai Allah, alam semesta ini, dan diri manusia. Pengertian yang salah mengenai Allah akan memengaruhi cara pandang kita dalam mengerti alam semesta, dan diri kita sendiri. Lebih jauh lagi, hal ini akan berdampak terhadap aspek epistemologi (teori mengenai pengetahuan), dan juga aspek etika. Oleh karena itu, kesalahan di dalam theologi akan membentuk sebuah ideologi yang juga salah di dalam berbagai aspek. Inilah suatu kebahayaan yang para pemuda sering kali tidak sadari. Ketidakacuhan kita akan theologi akan berdampak terhadap seluruh aspek kehidupan kita.

Kita perlu menyadari akan kebahayaan yang kita hadapi saat ini, bukan hanya di luar gereja tetapi juga di dalam gereja itu sendiri. Kebahayaan ini adalah semangat theological indifference. Semangat ini adalah semangat yang melihat aliran theologi hanya sebagai sebuah alternatif yang tidak signifikan bagi kekristenan. Saat kekristenan tidak lagi melihat theologi sebagai hal yang signifikan, maka kekristenan akan kehilangan “tulang punggungnya”. Hal ini pernah terjadi di dalam sejarah gereja dan masih berdampak terhadap kita saat ini. Ketika Reformasi terjadi, gereja menyadari arti penting untuk memperjuangkan theologi yang benar. Namun, perjuangan ini memiliki konsekuensi yang tidak mudah diterima oleh banyak orang. Beberapa di antaranya adalah perseteruan yang menuju kepada perpecahan gereja dan juga kesulitan di dalam penjangkauan karena theologi tidak mudah diterima. Untuk mengakomodasi kedua permasalahan ini, muncul arus yang meminimalkan theologi sehingga lebih mudah diterima dan memudahkan penjangkauan. Cara inilah yang sering kali digunakan oleh kelompok Injili. Demi pemberitaan Injil yang luas, theologi disederhanakan sedemikian rupa, tetapi menjadikan kekristenan kehilangan signifikansi ajarannya. Selain kehilangan signifikansi ajarannya, pelemahan dalam theologi ini membuka celah munculnya ajaran-ajaran lain di dalam kekristenan yang menyimpang dan semakin menimbulkan kekacauan di dalam gereja. Mereka menyampingkan theologi demi perdamaian dan persatuan gereja, serta penjangkauan yang lebih luas. Namun, hal ini menjadi bumerang yang mengeroposkan bahkan menghancurkan kekristenan cepat atau lambat. 

Semangat yang sama masih ada di dalam kekristenan, bahkan di dalam kalangan Reformed Injili sekalipun. Pembelajaran theologi yang solid dan berbobot sulit sekali dihargai oleh generasi saat ini. Selain di satu sisi memang dunia semakin menyita habis waktu kita, tetapi di sisi lain antusias di dalam pembelajaran theologi pun semakin memudar. Banyak sekali pemuda Kristen, termasuk pemuda Reformed Injili, yang tidak lagi melihat signifikansi dari Theologi Reformed. Kita mungkin senang mendengarkan Theologi Reformed yang memang memiliki bobot khotbah yang lebih baik dibanding yang lain. Namun kita gagal menjadi seorang yang benar-benar mengerti pentingnya Theologi Reformed, apalagi menjadikan diri sebagai seorang yang menghidupi dan memperjuangkan theologi ini. Kita mungkin menganggap Theologi Reformed hanyalah “one among many other alternatives”, sehingga kegigihan dan keketatan perjuangan tidak lagi kita miliki. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jikalau kita begitu mudah kompromi dengan ideologi-ideologi lain di dalam dunia ini. Dengan mudah bahkan rela menceburkan diri kita ke dalam jeratan hidup yang penuh dengan ajaran-ajaran yang berkontradiksi satu dengan lainnya. Mungkinkah seorang pemuda Reformed Injili dapat berdiri tegak di tengah zaman ini tanpa memiliki kerangka theologi yang kuat? Mungkinkah kita dapat bersuara memberikan dampak kepada dunia ini saat kita memandang Theologi Reformed hanya salah satu alternatif theologi saja?

Untuk bersuara dan memberikan pengaruh di dalam zaman ini, seorang pemuda Reformed Injili harus memiliki kehidupan yang utuh dalam menghidupi kebenaran. Hal ini harus dimulai dengan sebuah kebangkitan di dalam theologi. Kita harus benar-benar mengerti setiap bagian di dalam Theologi Reformed dan menjadikan ajaran-ajaran ini sebagai dasar di dalam membangun jati diri kita sebagai pemuda Reformed Injili. Kebangkitan theologi adalah langkah awal bagi aspek-aspek yang lainnya. Tanpa theologi yang benar, tidak mungkin kita memiliki epistemologi dan kehidupan etika yang benar, sehingga wawasan dunia Kristen kita pun akan berantakan. Jikalau wawasan dunia Kristen kita sudah berantakan, tidak mungkin kita dapat melayani dan menginjili dengan benar apalagi bermandat budaya. Oleh karena itu kita harus bertobat dan memohon kepada Tuhan memberikan kebangunan rohani kepada kita, dimulai dari kebangunan theologi.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Maret 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Akhirnya, kita harus sadar, semakin kita mencoba untuk menarik semuanya untuk diri kita, maka kita akan semakin...

Selengkapnya...

SHALOM, PAK TONG TERIMA KASIH SEKALI, SAYA SANGAT DIBERKATI SEKALI DENGAN PENGAJARANPAK TONG INI, KAPAN YA PAK TONG...

Selengkapnya...

Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲