Artikel

Pemuda Reformed Injili dan Kesetiaan Berjuang bagi Allah

Sebuah dobrakan atau gerakan yang baru dimulai sering kali disertai dengan kekuatan yang masih besar. Banyak orang yang dengan rela hati bahkan antusias mengikuti setiap pergerakannya. Namun, saat kita berbicara kesetiaan dan konsistensi untuk terus berjuang menghadapi pasang surutnya tantangan dan ancaman, tidak banyak yang bisa dengan tekun bertahan. Hal ini seperti yang sering kali diucapkan bahwa “memulai sesuatu itu mudah, tetapi mempertahankan itu adalah hal yang sulit.” Inilah juga yang kita sering kali jumpai mulai dari hal-hal terdekat di kehidupan kita sehari-hari, hingga peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam sejarah umat manusia, termasuk sejarah gereja. Kita bisa melihat di dalam sejarah, sedikit sekali gerakan yang dapat bertahan secara konsisten dalam jangka waktu yang panjang. Hal ini terjadi hanya untuk menyatakan bahwa konsistensi dalam mempertahankan semangat dan kemurnian perjuangan adalah hal yang sangat sulit dan langka. Isu yang sama akan kita jumpai juga di dalam panggilan sebagai pemuda Reformed Injili. Kita sudah membahas hal tersebut di sepanjang tahun ini. Mulai dari lima aspek kebangunan sebagai elemen pertama dari pemuda Reformed Injili, lalu penginjilan sebagai elemen kedua, dan pada artikel ini kita akan membahas mengenai elemen yang terakhir, yaitu semangat perjuangan yang konsisten.

Perjuangan hingga Garis Akhir Pertandingan
Di dalam Alkitab, hanya ada dua tokoh yang secara eksplisit menyatakan bahwa mereka sudah menyelesaikan tugasnya hingga akhir hidupnya. Kedua tokoh ini adalah Paulus dan Kristus. Di dalam 2 Timotius 4:7 Paulus menyatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Perikop ini dimulai dengan sebuah peringatan untuk terus memberitakan firman di dalam situasi apa pun. Bahkan Paulus menyatakan lebih lanjut, bahwa akan datang masa di mana orang-orang sulit untuk mendengarkan pemberitaan firman yang keras dan sejati, karena mereka lebih memilih untuk mendengarkan pemberitaan yang menyenangkan diri mereka. Paulus melanjutkan, bahwa di tengah situasi seperti ini, kita harus tetap teguh, tekun, dan tahan menghadapi penderitaan. Lalu ia menyatakan kalimat ayat 7 tersebut sebagai sebuah teladan yang ia berikan bagi generasi penerusnya. Peringatan ini sangat relevan dengan konteks zaman kita saat ini. Masa di mana mayoritas orang memilih untuk hidup sesuai dengan apa yang menyenangkan dirinya. Mereka bisa dengan cepat beralih dari satu pijakan hidup ke pijakan hidup yang lain, selama hal tersebut menguntungkan mereka. Kesulitan yang kita hadapi saat ini mungkin berbeda dengan kesulitan yang Paulus alami di masa pelayanannya. Namun, hal yang bisa kita teladani adalah bagaimana Paulus dapat setia dan konsisten hingga akhir hidupnya, kendati berbagai tantangan yang ia hadapi. Pertanyaannya adalah apa yang menyebabkan Paulus memiliki semangat yang terus konsisten ini?

Jikalau kita berkaca dari kehidupan Paulus, kita akan menyadari bahwa Paulus sungguh-sungguh menyadari siapa dirinya di hadapan Allah, menyadari akan anugerah yang Tuhan sudah dan terus berikan kepadanya, dan ia pun menyadari akan misi atau tugas dan panggilannya sebagai seorang rasul. Ketiga kesadaran ini dapat kita lihat dengan jelas di dalam perjalanan hidup Paulus. Ia sampai berkali-kali menyatakan dirinya sebagai seorang pendosa yang besar. Mulai dari membandingkan dirinya di antara para rasul, lalu di antara orang percaya, hingga di antara orang-orang berdosa. Hal ini menjadi gambaran dari pertumbuhan rohani Paulus yang makin lama makin menyadari akan siapa dirinya di hadapan Allah. Pada saat yang bersamaan, Paulus pun menyadari betapa besarnya anugerah Tuhan bagi dirinya seorang pendosa besar. Ia yang dahulu telah menganiaya Kristus dan umat-Nya, telah mendapatkan pengampunan, bahkan ia dianugerahkan sebuah misi yang begitu besar, yaitu menjadi seorang rasul, memberitakan Injil, khususnya kepada orang-orang non-Yahudi. Kesadaran ini sendiri pun adalah anugerah yang besar dari Allah bagi Paulus. Kesadaran inilah yang selalu mengingatkan Paulus untuk terus berjuang hingga akhir hidupnya, meskipun ia harus menghadapi berbagai ancaman penderitaan fisik hingga pengajaran sesat yang menyebar di dalam jemaat Gereja Mula-mula saat itu. Jikalau kita membaca 2 Korintus 11:23-29, kita akan melihat sebuah deskripsi singkat mengenai bagaimana sulitnya perjalanan pelayanan Paulus. Segala kesulitan itu ia rela jalani dan lalui semua, demi menyatakan rasa syukurnya kepada Allah dengan hidup setia dan konsisten sebagai pelayan Kristus. Paulus mendedikasikan seluruh hidupnya untuk hidup di bawah otoritas Allah.

Berkaca dari kehidupan Paulus ini, maka kita pun bisa menghubungkannya dengan panggilan kita sebagai pemuda Reformed Injili. Walaupun kita memiliki tantangan yang sangat berbeda dengan Paulus, kita tetap harus memiliki kegigihan dan ketekunan seperti Paulus yang berjuang pada zamannya. Aspek pertama dari pemuda Reformed Injili adalah lima kebangunan rohani (doktrin, epistemologi, etika, pelayanan, dan mandat budaya) serta aspek kedua yaitu penginjilan, seharusnya membawa kita kepada tiga kesadaran seperti yang Paulus miliki (kesadaran siapa diri, siapa Allah, dan misi di tengah zaman ini).

• Kebangunan doktrin menyadarkan kita akan identitas atau keunikan iman kita di tengah dunia ini. Sebagai pemuda Reformed Injili, kita harus menyadari akan pijakan atau kerangka iman kita yang berdasarkan Alkitab, bukan pengajaran atau filsafat dunia mana pun. Hal ini berkaitan dengan kemurnian iman atau identitas kita sebagai orang Kristen di tengah berbagai semangat zaman yang dapat memengaruhi kita melalui berbagai aspek kehidupan ini.

• Kebangunan epistemologi menyadarkan kita untuk memiliki kerangka berpikir sekaligus saringan yang kuat di dalam menghadapi setiap ajaran dunia ini. Disadari atau tidak disadari, berbagai filsafat dunia berusaha untuk meracuni iman kita melalui aspek-aspek kehidupan sehari-hari yang kita anggap wajar dilakukan di tengah konteks bermasyarakat. Namun, ketika kita menganalisis dan mengkritisinya dengan saksama berdasarkan terang firman Tuhan, kita akan menyadari dengan jelas tipuan yang ada “di balik topeng” kewajaran tersebut. Di dalam konteks inilah kebangunan yang kedua menjadi pagar atau saringan di dalam mempertahankan identitas kesejatian iman kita.

• Kebangunan etika menyadarkan kita untuk hidup bukan berdasarkan apa yang dunia ini inginkan, bukan berdasarkan apa yang masyarakat pada umumnya lakukan, atau bahkan bukan berdasarkan tuntutan dari keluarga atau orang tua kita. Etika hidup kita adalah berdasarkan apa yang Alkitab nyatakan, yaitu hidup kudus di dalam berbagai aspek bahkan sampai ke dalam aspek motivasi sekali pun.

Tiga kebangunan ini menyadarkan kita bahwa kita hidup harus tunduk di bawah otoritas Allah bukan dunia ini. Hidup kita adalah hamba dari Allah bukan dunia ini, karena kita sudah ditebus oleh darah Sang Anak Allah, bukan oleh kekayaan dunia ini. Sehingga, baik di dalam aspek iman, pengetahuan, maupun etika kehidupan, kita harus hidup sebagai orang yang tunduk di bawah otoritas Allah dan bukan otoritas lain di dalam dunia ciptaan ini. Kita menyadari bahwa diri kita adalah seorang yang tidak layak, tetapi harus hidup tunduk di bawah otoritas Allah yang telah menebus dosa kita. Hal ini berkaitan dengan kesadaran siapa diri kita dan siapa Allah. Ketiga hal berikutnya yaitu kebangunan pelayanan, kebangunan mandat budaya, dan penginjilan. Ketiga hal ini berkaitan dengan kesadaran akan misi yang Tuhan berikan kepada kita.

• Kebangunan pelayanan menyadarkan kita bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga menjadikan diri ini sebagai saluran berkat bagi sesama orang percaya. Cara hidup yang berbeda dengan orang-orang dunia yang hidup secara egois demi kepentingan diri, tetapi kita hidup untuk menjadi saluran berkat bagi sesama manusia.

• Kebangunan mandat budaya menyadarkan kita akan misi awal yang Tuhan berikan kepada manusia sebelum kejatuhan dalam dosa, yaitu menaklukkan bumi ini dan membawanya bagi kemuliaan nama Tuhan. Kita dipanggil untuk menyatakan identitas kita sebagai orang Kristen di dalam setiap aspek kehidupan dan bidang studi. Paulus menggunakan kalimat, “Menaklukkan segala sesuatu ke bawah Kristus.”

• Penginjilan menyadarkan kita bahwa sebagai seorang yang sudah ditebus dan diselamatkan, kita memiliki misi untuk menyatakan Injil kepada orang-orang berdosa. Sebuah misi untuk membawa kembali domba-domba terhilang kembali kepada Sang Gembala yang Agung.

Maka, baik lima kebangunan maupun penginjilan seharusnya mendorong kita untuk terus berjuang bukan karena imbalan yang akan diberikan, bukan juga demi popularitas yang akan diperoleh, tetapi karena kesadaran akan siapa diri, siapa Allah, dan misi yang sudah diberikan oleh Allah kepada kita. Inilah seharusnya yang menjadi pendorong kita untuk terus berjuang bagi pekerjaan Allah.

Perjuangan di dalam Ketaatan dan Belas Kasihan terhadap Zaman
Tokoh kedua di dalam Alkitab yang secara eksplisit menyatakan diri-Nya telah tuntas menyelesaikan misi hidup-Nya adalah Yesus Kristus. Di atas kayu salib, Ia menyatakan, “Sudah selesai.” Kedua kata ini menyatakan akan tuntasnya misi Sang Bapa yang Kristus jalankan di dalam dunia. Jikalau kita mencari tahu apa yang mendorong Kristus untuk terus berjuang secara konsisten hingga akhir hidup-Nya, kita akan menjumpai bahwa Kristus ingin menyatakan ketaatan-Nya kepada Sang Bapa, sekaligus menyatakan belas kasihan Allah kepada manusia berdosa.

Filipi 2:5-8 menyatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Kalimat ini Paulus nyatakan sebagai sebuah teladan bagi kehidupan orang percaya yang seharusnya rendah hati mengutamakan kepentingan orang lain juga. Dengan kata lain, sebagai orang percaya kita harus menyatakan kepedulian atau belas kasihan kepada orang lain. Untuk menunjukkan hal ini, Paulus menunjukkan Kristus sebagai teladan terbesar bagi orang percaya. Kedudukan-Nya yang tinggi sebagai Anak Allah dianggap sebagai hal yang tidak perlu dipertahankan, dan Ia lebih memilih untuk menjalankan kehendak Bapa di dalam karya penebusan-Nya. Hal ini ditunjukkan melalui ketaatan-Nya sampai mati.

Belas kasihan dan ketaatan kepada Allah, kedua hal inilah yang Kristus tunjukkan melalui hidup-Nya di dalam dunia ini. Dunia ini sering kali menyerukan agar setiap orang mengejar apa yang menjadi “passion” hidupnya. Istilah ini bisa juga diartikan sebagai hal yang mendorong kita untuk mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati. Bahkan hal ini sering kali dikaitkan dengan panggilan (vocation) hidup. Namun, dunia ini memahami hal ini di dalam cara yang bertolak belakang. Dunia ini tidak dapat merelasikan passion dan vocation ini dengan semangat juang yang konsisten. Hal ini terjadi karena mereka melakukannya bukan dengan semangat ketaatan kepada Allah, tetapi dengan semangat pemberontakan terhadap Allah. Apalagi zaman ini begitu memberikan ruang kepada manusia untuk memilih dengan bebas tanpa ada rasa tanggung jawab. Menghadapi semangat zaman seperti ini, sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk mengikuti teladan dari Kristus, bukan teladan dari dunia ini.

Menjalankan panggilan sebagai pemuda Reformed Injili, kita tidak bisa menjalankannya tanpa adanya belas kasihan kepada manusia berdosa dan hati yang taat kepada kehendak Bapa di sorga. Kita harus menyadari dan rela menanggung kesulitan yang akan kita hadapi ketika menjalankan kehidupan sebagai seorang pemuda Reformed Injili. Jikalau kita hanya sekadar ikut-ikutan atau terpaksa menjalankannya, atau bahkan menjalankannya dengan motivasi yang tidak benar, kita pasti gugur di tengah perjuangan.

Kesimpulan
Di tengah zaman yang begitu mengakomodasi kebebasan memilih, bahkan pilihan berdosa sekalipun, kita dipanggil untuk secara konsisten taat kepada Allah. Di tengah zaman yang menghanyutkan kesadaran manusia akan siapa dirinya di hadapan Allah, kita dipanggil untuk sadar akan diri yang berdosa dan begitu besarnya anugerah Allah kepada kita. Di tengah zaman yang memberikan berbagai tawaran yang menggiurkan untuk mengaktualisasikan diri, kita dipanggil untuk menjadi seorang pemuda Reformed Injili yang menyatakan kebenaran dan keagungan Allah. Perjuangan ini memang akan menuntut harga yang sangat tinggi yang harus kita bayar. Panggilan yang Kristus nyatakan untuk kita menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut-Nya adalah panggilan yang harus dengan serius kita jalankan sebagai pemuda Reformed Injili. Kita harus dengan konsisten menjalankan hingga akhirnya bertemu Tuhan dan Ia berkata, “Marilah masuk, hai engkau hamba yang setia.” Marilah kita meneladani Paulus yang dengan kesadarannya memperjuangkan kehidupan yang setia kepada Allah. Marilah kita juga meneladani Kristus yang dengan belas kasihan-Nya kepada manusia berdosa dan ketaatan-Nya kepada Sang Bapa, tuntas menjalankan misi hidup-Nya. Melalui pembahasan mengenai siapa pemuda Reformed Injili yang sejati di sepanjang tahun ini, marilah kita dengan serius menggumulkan dan memperjuangkan masa muda ini agar menjadi persembahan yang harum dan berkenan kepada Allah. Kiranya Allah menolong kita menjalankan panggilan yang mulia di tengah zaman ini bagi kemuliaan nama-Nya.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Desember 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di Sumatra Utara yaitu di kota Kisaran, Rantauprapat, Pematangsiantar, dan Tarutung pada 7-10 Mei 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Mungkin Mordekhai boleh disebut sebagai orang yang tunduk kepada hukum kerajaan, tetapi dia bukanlah orang yang...

Selengkapnya...

Hallo pak Stephen Tong, saya mau bertanya apakah kita percaya terlebih dahulu baru menerima roh kudus? Atau roh kudus...

Selengkapnya...

Salam. Terima kasih sebelumnya, saya sangat terberkati dengan pesan yang disampaikan. Namun alangkah baiknya definisi...

Selengkapnya...

Sangat memberkati. Mohon berbagi renungan harian nya. Terima kasih banyak Tuhan Yesus memberkati

Selengkapnya...

Menurut saya, Yang harus kita tanyakan dalam diri kita adalah apakah musik puji-pujian/lagu yg kita bawakan tersebut...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲