Artikel

Pemuda Reformed Injili dan Penginjilan

Salah satu yang menjadi keunikan Gerakan Reformed Injili adalah sinkronisasi antara keketatan dan kekukuhan Theologi Reformed dan semangat penginjilan yang berkobar-kobar dari kaum Injili. Di dalam sejarah kekristenan, belum ada gerakan atau kubu yang secara jelas menyatukan semangat ini, walaupun ada tokoh-tokoh yang menjalankan kedua semangat ini. Sering kali keketatan dari Theologi Reformed dianggap kaku dan sulit untuk menjangkau orang-orang yang belum percaya. Di sisi lain, semangat kaum Injili dinilai terlalu berkompromi, karena demi menjangkau orang lebih luas sering kali mereka mengompromikan prinsip ajaran firman Tuhan. Kedua semangat ini dianggap bertolak belakang satu dengan lainnya. Namun, di dalam artikel ini kita akan melihat bahwa kedua semangat ini harus ada di dalam kekristenan. Karena dengan menggabungkan kedua semangat ini, kekristenan dapat terus bertahan dan berkembang, bahkan tugas yang Tuhan berikan di dalam Alkitab pun dapat dengan baik dijalankan. Tanpa adanya penginjilan dan kekukuhan Theologi Reformed, perkembangan kekristenan akan timpang, bahkan mematikan. Pada artikel ini kita akan membahas pentingnya membangun Theologi Reformed yang kukuh dan juga memiliki semangat Injili.

Niniwe dan Penginjilan
Salah satu buah dari pelayanan Yunus yang dicatat di dalam Alkitab adalah bertobatnya penduduk Niniwe. Pelayanan dari Yunus ini bisa dibilang sebagai salah satu penginjilan yang paling berkuasa di dalam sejarah umat manusia. Melalui penginjilan yang Yunus lakukan, sekitar 120.000 orang mulai dari rakyat jelata, anak kecil, hingga penghuni kerajaan pun bertobat dan kembali kepada Allah. Karena pertobatan ini, Allah tidak jadi menghukum atau menghancurkan Niniwe seperti yang terjadi dengan kota Sodom dan Gomora. Namun, jikalau kita membaca bagian awal dari Kitab Nahum, kita akan menjumpai kisah kehancuran dari kota Niniwe. Kehancuran kota Niniwe terjadi bersamaan dengan kehancuran bangsa Asyur di tangan bangsa Babel di sekitar 612 SM. Kitab Nahum 1:1-2 mencatatkan bahwa kehancuran kota Niniwe ini merupakan pernyataan murka Allah atas kota ini. Dengan jelas ayat kedua menyatakan, “The LORD is a jealous and avenging God; the LORD is avenging and wrathful; the Lord takes vengeance on his adversaries and keeps wrath for his enemies.” Hal ini berarti kota Niniwe adalah kota yang begitu dibenci oleh Allah karena kota ini adalah kota yang jahat dan tidak mengenal Allah.

Pada masa penjajahan Asyur atas bangsa Israel, Niniwe merupakan salah satu ibu kota Kerajaan Asyur yang besar dan agung. Kebesaran kota ini dapat kita lihat ketika Yunus harus berjalan selama tiga hari untuk menyisiri kota tersebut. Namun, kota yang agung ini adalah kota yang juga menjadi cerminan dari moralitas bangsa Asyur yang dikenal sebagai bangsa paling biadab pada zaman itu. Sehingga tidak heran jikalau Tuhan menyatakan murka-Nya kepada kota ini, meskipun kota ini sempat mengalami pertobatan dan mendapatkan belas kasihan Allah pada masa pelayanan Yunus. Tetapi pertanyaannya adalah, kenapa kota yang telah mengalami pertobatan di masa pelayanan Yunus, pada akhirnya harus mengalami kengerian murka Allah pada masa pelayanan Nabi Nahum? Dalam 150 tahun, kota yang pernah mengalami belas kasihan Allah, akhirnya harus merasakan kengerian murka Allah. Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan alasannya adalah pertobatan kota ini tidak disertai dengan penginjilan. Sehingga pada generasi-generasi selanjutnya, kota ini kembali hidup di dalam kebiadaban moralitas bangsa Asyur.

Kisah kehancuran dari kota Niniwe ini perlu menjadi sebuah perenungan bagi kita sebagai pemuda Reformed Injili. Kita perlu memikirkan apa yang menjadi konsekuensi dari kelalaian sebuah generasi orang Kristen dalam menginjili? Apa jadinya sebuah zaman, jikalau orang-orang Kristen tidak lagi mau atau sadar untuk menginjili zamannya? Jawabannya adalah kehancuran iman dan moralitas dari umat manusia. Konsekuensi ini dapat kita lihat secara jelas dampaknya pada zaman ini, khususnya di dalam dunia Barat. Mengapa pada saat ini kekristenan di dunia Barat dikatakan sedang mengalami kemerosotan? Bukankah seharusnya kekristenan di dunia Barat adalah mayoritas? Mengapa banyak gereja yang begitu sepi bahkan harus ditutup dan dijual pada saat ini? Hal ini adalah konsekuensi dari kelalaian orang-orang Kristen di dalam penginjilan pada masa lalu. Tetapi pertanyaannya adalah apakah cukup hanya dengan menginjili?

Western Great Awakening
Di dalam sejarah kekristenan dunia Barat, setidaknya terdapat empat gelombang kebangunan rohani. Gerakan kebangunan rohani ini dinilai sebagai gerakan yang memberikan dampak besar di dalam aspek kerohanian secara massal. Di antara empat gelombang ini, gelombang pertama dan kedua memiliki perbedaan yang cukup menarik jikalau kita bandingkan. Gelombang kebangunan rohani yang pertama terjadi sekitar tahun 1730-1750-an dengan tokoh besarnya adalah Wesley bersaudara (John dan Charles Wesley), Jonathan Edwards, dan George Whitefield. Gelombang kedua terjadi di sekitar tahun 1790-1840, salah satu tokoh yang terkenal adalah Charles G. Finney. Gelombang pertama didasari oleh semangat dari kaum Pietists dan Puritans yang mendorong setiap orang percaya untuk memiliki kehidupan yang kudus, bukan hanya kuat secara intelektual. Gelombang pertama kebangunan rohani mendorong orang-orang percaya untuk memiliki kehidupan yang benar secara utuh di hadapan Allah. Sedangkan gelombang kedua kebangunan rohani banyak dipengaruhi oleh semangat Romanticism yang menarik orang-orang untuk hidup secara pietis tetapi di dalam tingkat yang ekstrem. Akibatnya, orang-orang ini menjadi cenderung antiintelektual.

Kedua kebangunan terjadi di dalam abad yang sama tetapi memberikan dampak yang begitu berbeda. Gelombang pertama yang menekankan kehidupan secara utuh memberikan dampak positif, bukan hanya di dalam aspek kerohanian saja, tetapi juga hingga ke berbagai aspek yang lain. Salah satu yang jelas terlihat adalah berkembangnya ide demokrasi dan perjuangan bagi hak setiap manusia. Secara cakupan, dampak dari gelombang yang pertama ini lebih luas karena bukan hanya terjadi di Amerika saja, tetapi juga di banyak tempat di Benua Eropa. Sedangkan gelombang yang kedua memberikan dampak yang berbeda. Secara cakupan, pengaruh dari gelombang yang kedua lebih berfokus di negara Amerika, dan pengaruhnya hanya di dalam aspek kerohanian dan moralitas saja. Namun, yang harus disoroti adalah side effect dari gelombang kedua ini melahirkan arus kekristenan yang cenderung anti terhadap doktrin atau theologi. Semangat antiintelektual ini menjadi ciri khas dari kaum Injili yang mereduksi pengajaran Kristen hanya di dalam pengajaran yang sederhana, tetapi tidak cukup untuk membangun fondasi iman seorang Kristen yang kukuh dalam menghadapi tantangan zaman. Inilah dampak dari semangat penginjilan yang tidak disertai dengan Theologi Reformed yang kukuh.
Mandat Budaya dan Mandat Injil
Theologi Reformed menyatakan bahwa Tuhan memberikan dua mandat kepada kekristenan di dunia ini, yaitu mandat budaya dan mandat Injil. Beberapa theolog memparalelkan hal ini dengan tugas yang Tuhan berikan kepada manusia ketika penciptaan, yaitu untuk beranak cucu dan menaklukkan bumi. Manusia diciptakan Allah untuk menjadi perwakilan-Nya di dalam alam semesta ini. Sebagai gambar Allah, manusia adalah mahkota ciptaan Allah yang memiliki otoritas atas ciptaan lainnya. Namun, otoritas ini bukan otoritas mutlak, melainkan otoritas yang diberikan oleh Allah disertai dengan tuntutan tanggung jawab dari manusia kepada Allah. Sehingga tugas untuk memenuhi dan menaklukkan bumi ini harus dijalankan di dalam kebergantungan kepada Allah lalu mengembalikan semuanya bagi kemuliaan Allah. Di dalam Perjanjian Baru, setelah peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa dan juga karya penebusan Kristus di atas kayu salib, tugas memenuhi dan menaklukkan bumi ini memiliki pengertian yang berkembang. Kedua tugas ini tidak lagi dimengerti hanya di dalam aspek fisik saja, tetapi juga di dalam aspek rohani. Kita dipanggil untuk menaklukkan dunia yang berdosa ini melalui mandat budaya dan juga bermultiplikasi secara rohani melalui mandat Injil. Sebagaimana tugas beranak cucu dan menaklukkan bumi menjadikan hidup manusia berarti sebagai gambar Allah, mandat Injil dan budaya pun menjadikan kehidupan orang-orang Kristen berarti sebagai garam dan terang dunia ini.

Di dalam konteks inilah kita dapat mengerti aspek yang kedua dari seorang pemuda Reformed Injili, yaitu penginjilan. Perjuangan penginjilan yang kita jalankan bukan hanya sekadar membawa orang-orang itu bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat saja, kita pun harus memuridkan mereka untuk menjadi orang-orang Kristen yang hidup benar secara utuh hingga menjadi berkat bagi dunia ini. Inilah keutuhan di dalam menjalankan kedua mandat ini. Tanpa menjalankan penginjilan di dalam keutuhannya dengan mandat budaya, hampir mustahil untuk melahirkan generasi-generasi selanjutnya yang memiliki kehidupan yang benar secara utuh dan berdampak bagi dunia ini. Penginjilan yang tidak disertai kekukuhan aspek pertama (lima kebangunan) hanya akan mengulangi kesalahan kaum Injili yang mengompromikan ajaran kekristenan, dan menimbulkan efek samping yang buruk bagi generasi kekristenan selanjutnya.

Sebagai pemuda Reformed Injili, kita harus menyadari bahwa penginjilan yang kita jalankan haruslah menjadi bagian yang utuh dengan semangat membangun Theologi Reformed. Karena penginjilan yang tidak didasari theologi yang kukuh bagaikan membangun sebuah bangunan dengan fondasi yang keropos. Biarlah sebagai pemuda Reformed Injili, kita perlu dengan baik mengerti penginjilan yang utuh, tetapi yang lebih penting adalah kita bukan hanya mengerti tetapi juga menjalankan penginjilan ini di dalam berbagai kesempatan yang Tuhan berikan di dalam Gerakan Reformed Injili ini. Kiranya Tuhan menolong kita untuk menyadari dan rela menjalankan panggilan penginjilan ini demi kedatangan Kerajaan-Nya sampai Kristus datang kembali.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

November 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

bersyukur dalam segala keadaan, semakin terberkati... biarlah kehidupan ini jadi seperti yang Tuhan perkenankan...

Selengkapnya...

Terima Kasih Yah...

Selengkapnya...

puji Tuhan...iamn yg disertai praktek syukur dalam segala musim hidup ini semakin meneguhkan pengharapan akan...

Selengkapnya...

Apakah orang Kristen harus merayakan hari raya Purim juga?

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲