Artikel

Pentakosta dan Sejarah Keselamatan

Pentakosta bukanlah titik berdirinya Gereja, sebab Gereja memang berada dalam sejarah penebusan sejak Adam dan bergulir terus sampai ke zaman Nuh, Abraham, Musa, dan Daud. Puncak sejarah penebusan ini terjadi dalam diri Yesus Kristus melalui kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya. Setelah kenaikan Yesus, Roh Kudus turun sesuai janji-Nya dan pada hari itu juga berdirilah Gereja. Pentakosta tidak memulai Gereja tetapi membuka babak baru dalam sejarah keselamatan, sebab itu Edmund Clowney mengatakan, ”Pentakosta tidak menciptakan umat Allah melainkan membaharuinya.”

[1] Dan Abraham Kuyper mengatakan, “Pada hari Pentakosta, Gereja menjadi Gereja untuk seluruh dunia.” Beliau menggambarkannya dengan menarik:

“Seperti biji pohon Ek tertanam dalam tanah, ada di dalam, walaupun melalui dua masa bertunas dan berakar, dan tumbuh ke atas dan membentuk cabang dan ranting, demikian juga Gereja. Pada awalnya tertanam di dalam tanah Israel, terbungkus dalam kain nasionalitasnya, dan pada hari Pentakosta dinyatakan kepada dunia.”[2]

Dengan turunnya Roh Kudus, pekerjaan Kristus di dunia diteruskan melalui Gereja sampai kedatangan-Nya kembali. Roh Kudus memberikan kuasa kepada Gereja melalui penyertaan-Nya untuk mewakili Kristus dalam dunia. Oleh sebab relasi ini, Gereja disebut juga dengan persekutuan Roh Kudus.

Bagaimana kita memahami Gereja sebagai persekutuan Roh Kudus? Dalam New American Standard Bible, frasa “persekutuan Roh Kudus” hanya ditemukan dua kali (2Kor. 13:13, Flp. 2:1) dan diterjemahkan menjadi “fellowship of Holy Spirit atau fellowship of the Spirit. Keduanya ditujukan kepada Gereja. Pertama, kita perlu mengerti esensi dari persekutuan. Persekutuan berarti berbagi. Dalam bahasa Yunani, kata persekutuan diterjemahkan dari kata koinonia yang berarti berbagi (sharing), suatu model kehidupan bersama Gereja mula-mula. Dalam jemaat mula-mula sendiri, persekutuan dimengerti dalam dua kategori, yaitu berbagi sukacita ataupun penderitaan dan berbagi materi serta kekayaan. Selain berbagi, persekutuan juga mengandung unsur partisipasi pihak-pihak di dalamnya. Jürgen Moltmann, seorang theolog dari Universitas Tübingen, berpendapat bahwa “Persekutuan berarti membuka diri satu sama lain, memberikan pihak lain berbagian di dalam kita” dan partisipasi ini memerlukan resiprositas (saling berbalasan) dan mutualitas (saling menguntungkan) di dalamnya.[3]

Persekutuan Roh Kudus berarti Gereja berbagian dan berpartisipasi dalam pekerjaan Roh Kudus. Jürgen Moltmann membedakan makna ganda dari frasa ini yaitu persekutuan dengan Roh Kudus dan persekutuan dalam Roh Kudus (Holy Spirit’s fellowship and fellowship of Holy Spirit)[4]. Persekutuan dengan Roh Kudus berbicara tentang relasi Gereja dengan Allah sedangkan makna kedua berbicara tentang relasi sesama orang percaya yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Kedua relasi ini tidak boleh dipisahkan. Keduanya dikerjakan oleh Roh Kudus.

Persekutuan dengan Roh Kudus

Persekutuan dengan Roh Kudus tidak boleh dipahami sebagai persekutuan pribadi Roh Kudus dengan Gereja. Roh Kudus tidak keluar dari diri-Nya sendiri, tetapi dari Bapa dan Anak, sehingga persekutuan dengan Roh Kudus berarti persekutuan dengan Allah Tritunggal. Roh Kudus tidak membawa kita kepada diri-Nya, tetapi kepada Allah Tritunggal. Clowney mengatakan bahwa “Dalam Roh-Nya, Allah menjadikan kita milik-Nya dan kita milik Allah.”[5] Dengan kata lain, Allah dan Gereja mempunyai hubungan kepemilikan dan Roh Kudus memeteraikan hubungan ini. Lebih jauh, Moltmann berpendapat tentang persekutuan dengan Roh Kudus sebagai berikut:

“Roh Kudus tidak memiliki persekutuan-Nya sendiri. Dia memberikan persekutuan yang dimiliki-Nya dengan Bapa dan Anak, dan persekutuan yang diadakan-Nya dengan orang percaya berkaitan dengan persekutuan-Nya dengan Bapa dan Anak, berarti persekutuan Allah Tritunggal.”[6]

Kehadiran Roh Kudus menyatukan Allah Tritunggal dan Gereja-Nya dan dengan demikian menggenapi doa Yesus Kristus, “... agar mereka juga di dalam Kita....” (Yoh. 17:21).

Persekutuan dengan Roh Kudus menyatukan Gereja dengan Kristus. Dengan demikian Gereja mengalami Kristus sebagai realitas sekalipun tidak melihat kehadiran fisik-Nya. Gereja turut berbagian dalam penderitaan dan kemuliaan Kristus di dalam persekutuan dengan Roh Kudus. Sehingga Gereja dibawa kepada suatu pengertian oleh Roh Kudus bahwa: “...penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” (2Kor. 4:17).

Dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Gereja menikmati karya Roh Kudus dalam pelayanannya. Karya Roh Kudus dalam Gereja dapat dilihat dalam dua aspek. Aspek pertama yaitu pelayanan Firman. Persekutuan dengan Roh Kudus menjadikan Gereja sebagai satu-satunya komunitas Firman (community of Word) di dalam dunia. Gereja dipanggil untuk menghidupi Firman dalam dunia dan memberitakan Firman kepada dunia dengan keberanian dari kuasa Roh Kudus. Roh Kudus dan Firman tidak mungkin dipisahkan dari Gereja. Abraham Kuyper membagi tiga kaitan Roh Kudus dengan Firman dalam Gereja, yaitu memeteraikan, menafsirkan, dan mengaplikasikan. Dengan memeteraikan, Roh Kudus meyakinkan Gereja akan Firman. Dengan menafsirkan, Roh Kudus menolong Gereja mempelajari Firman. Dengan mengaplikasikan, Roh Kudus menolong Gereja melakukan Firman. Roh Kudus menuntun perjalanan Gereja di dalam dunia melalui firman Tuhan.

Aspek kedua yaitu karunia-karunia. Persekutuan dengan Roh Kudus sendiri merupakan karunia bagi Gereja dan di dalam persekutuan ini, Roh Kudus memberikan karunia-karunia bagi Gereja sebagai satu tubuh. Sebab itu, Roh Kudus disebut sebagai Gift and Giver. Kuyper mengatakan, “karunia-karunia diberikan kepada Gereja bukan kepada individual” dan demi kepentingan seluruh Gereja. Pemakaian karunia untuk kepentingan pribadi sama sekali berlawanan dengan tujuan karunia itu sendiri. Kuyper mengatakan penggunaan karunia untuk kepentingan pribadi seperti seseorang “menyalakan api bukan untuk menghangatkan ruangan melainkan tungkunya.”[7]

Persekutuan dalam Roh Kudus

Selain mempersatukan Gereja dengan Allah, Roh Kudus juga mempersatukan semua orang-orang percaya. Roh Kudus mengikat Gereja menjadi satu dalam kehidupan bersama. Persekutuan terjadi ketika orang-orang yang berbeda memiliki kesamaan, dan ketika suatu kesamaan dimiliki oleh orang-orang yang berbeda.[8] Roh Kudus memberikan kepada orang-orang percaya sebuah pengalaman kebersamaan. Orang-orang percaya dipersatukan oleh Roh Kudus di dalam kematian Kristus. Semua orang percaya sama-sama mengalami kematian di dalam Kristus dan pengalaman ini mempersatukan mereka. Paul S. Minear mengatakan bahwa partisipasi dalam kematian Kristus membawa mutualitas di antara satu sama lain. Pengalaman jemaat mula-mula telah menunjukkan hal ini. Penderitaan seorang percaya dianggap penderitaan seluruh orang percaya. Bagi mereka, penderitaan Kristus telah mempengaruhi seluruh cara kehidupan mereka bersama. Jika seorang Kristen dipenjara maka  semua merasa dipenjara bersama dengan dia. Dengan berbagi di dalam Yesus, mereka turut berbagi dalam penganiayaan dan ketekunan. Mereka hidup dan mati bersama.[9]

Persekutuan dalam Roh Kudus juga berarti persekutuan dalam kebenaran sebab Roh Kudus adalah Roh Kebenaran. Pluralisme agama menawarkan bentuk persekutuan di luar konteks ini. Bahkan semangat pluralisme ini telah merasuk di dalam gereja sebagai gerakan oikumene. Tentu saja tidak salah menginginkan suatu kesatuan tubuh Kristus, tetapi perlu diingat, kesatuan tubuh Kristus tidak mungkin terlepas dari persekutuan Roh Kudus, Sang Roh Kebenaran. Clowney mengatakan, persekutuan Roh Kuduslah yang menjadikan Gereja sebagai tubuh Kristus.

Roh Kudus dan Gereja Hari ini

Gereja senantiasa mendapatkan tantangan sepanjang zaman. Walaupun demikian, Gereja tidak mungkin dimusnahkan sebab adanya pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus menyertai Gereja dan menyatukan seluruh orang percaya di dalamnya. Dengan demikian, Gereja dapat melewati perjalanannya dalam dunia sampai bertemu dengan Sang Mempelai, Anak Domba tersembelih yang telah bangkit, yaitu Yesus Kristus.

 

Calvin Bangun

Mahasiswa Institut Reformed Jakarta

 

 


[1] Edmund P. Clowney, The Church. 1995. (Downers Grove, Illinois: IVP), hlm. 53.

[2] Abraham Kuyper, The Work of Holy Spirit. 1995. (Chattanooga: AMG Publishers), hlm. 191.

[3] Jurgen Moltmann, The Spirit of Life: A Universal Affirmation. 2001. (Minneapolis: Fortress Press), hlm. 218.

[4] Ibid.

[5] The Church, hlm. 50.

[6] The Spirit, hlm. 218.

[7] The Work, hlm. 194.

[8] The Spirit, hlm. 218.

[9] Paul S. Minear, Images of The Church in the New Testament. 2004. (Louisville: Westminster John Knox), hlm. 163.

Calvin Bangun

Desember 2009

2 tanggapan.

1. mitha dari medan berkata pada 14 May 2012:

saya sebagai pengirim imel ini merasa sangat kagum karena kita sebagai umat kristen harus yakin bahwa keselamatan itu datang dari tuhan yesus kristus. gbu.

2. ISHAK PRIBADI dari JAKARTA BARAT berkata pada 11 November 2013:

mohon dapat dikirimkan newsletter trims

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Nama
Kota
Alamat imel
Pastikan alamat imel anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui imel.
 
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk KIN bagi Guru Sekolah Minggu dan Guru Pendidikan Agama Kristen yang telah diadakan pada tanggal 11-16 November 2014. Bersyukur untuk lebih dari 3.000 peserta yang telah menghadiri acara ini, kiranya api penginjilan yang telah dikobarkan terus membara.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Ditengah suasana Natal kita diingatkan untuk melihat dan mengingat dengan pasti pada kedatanganNya yang Pertama...

Selengkapnya...

Struktur dan pembagian al-quran. al-quran terdiri ats 114 bagian yg dikenal dgn nama suroh ( surat ) dan 6666...

Selengkapnya...

Samson memang memiliki karakter yang tidak taat, ketika ia menjadi hakim bagi bangsa Israel, dia juga mengambil...

Selengkapnya...

Terimakasih buat renungannya yang sangat memberkati saya sebagai bahan reference untuk share di big group nanti...

Selengkapnya...

samson dapat menjadi simbol iman ketaatan dan keberanian

Selengkapnya...

© 2010, 2014 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲