Artikel

Perayaan Paskah

Menjelang akhir tahun, biasanya gereja-gereja sudah mulai sibuk dan ramai merencanakan berbagai acara untuk merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Bahkan panitia sudah terbentuk sejak berbulan-bulan sebelumnya dan sudah mulai rutin mengadakan rapat-rapat untuk mempersiapkan perayaan hari Natal. Menjelang bulan Desember inilah mulai banyak acara digelar, seperti konser Natal, Natal Sekolah Minggu, Natal Pemuda, Natal bersama, drama musikal Natal, dan lain sebagainya. Sepertinya orang-orang Kristen begitu sibuk melayani di dalam acara-acara yang diselenggarakan untuk merayakan Natal, dan tidak hanya di dalam gereja, di rumah pun turut sibuk menghias pohon Natal, membeli kado Natal, mengirim kartu Natal, dan lain-lain. Memang Natal merupakan hari yang sangat besar untuk setiap umat Kristiani, karena pada hari itulah Tuhan Yesus lahir ke dunia. Tetapi di tengah-tengah semua acara, aktivitas, dan pelayanan orang-orang Kristen di hari Natal, perlu kita renungkan apakah benar kita merayakan kelahiran Kristus di dunia atau kita hanya merayakan sebuah pesta besar untuk menyenangkan diri atau menjustifikasi diri sebagai orang Kristen? Pernahkah kita benar-benar merenungkan apa tujuan kelahiran Kristus yang kita rayakan di hari Natal itu? Tujuan kelahiran Kristus ke dunia bukanlah untuk bersenang-senang, dan bukan juga untuk menjadi raja atas dunia (walaupun dunia dan segala isinya adalah milik-Nya). Dia datang ke dunia untuk mati mencucurkan darah di atas kayu salib demi menyelamatkan umat-Nya. Sesungguhnya puncak penggenapan rencana Allah jatuh pada perayaan hari Jumat Agung dan Paskah, bukan pada hari Natal. Tetapi anehnya, pernahkah kita melihat orang-orang Kristen begitu sibuk dalam bulan-bulan menjelang Paskah? Kalau ada pun, apakah dalam mempersiapkan acara-acara untuk Jumat Agung dan Paskah kita akan seantusias saat mempersiapkan acara-acara Natal? Jadi, mengapakah kita tidak merayakan hari ini semeriah Natal? Mari kita coba pikirkan arti perayaan Paskah itu melalui perenungan kematian Kristus.

Ketika J. I. Packer (1926-sekarang) menulis kata pengantar untuk buku karangan John Owen (1616-1683), “The Death of Death in the Death of Christ”, ia dengan tegas mengatakan bahwa pemberitaan Injil di dalam gereja pada zaman sekarang lebih menekankan pada keselamatan yang “membantu” manusia mencapai damai, kenyamanan, sukacita, dan kepuasan daripada menekankan kemuliaan Allah. Artinya, Injil yang diberitakan di gereja-gereja saat ini hanyalah demi memuaskan keinginan dan kebutuhan manusia untuk mendapatkan kedamaian jiwa (self-justification because they’re reluctant to bear the cross), tetapi Injil yang menceritakan tentang pengorbanan Kristus di kayu salib, karya keselamatan, dan penebusan dosa dengan harga yang begitu mahal tidak terlalu ditekankan. Sehingga kematian Kristus telah turun derajat menjadi salah satu alat manusia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan diri. J. I. Packer di dalam bukunya juga menunjukkan bahwa di masa lampau, Injil lebih menekankan kemuliaan Allah dan karya keselamatan, sehingga orang lebih dapat melihat pentingnya makna Paskah dalam kemuliaan-Nya.

Pada abad ke-17 ada sekelompok orang yang kini kita sering dengar dengan sebutan kaum Arminian. Mereka percaya bahwa:

  1. Manusia tidak sepenuhnya terkorupsi dosa, sehingga masih ada kemampuan untuk percaya Injil.
  2. Manusia tidak sepenuhnya dikontrol Allah sehingga ada kemungkinan menolak keselamatan.
  3. Kaum pilihan Allah ditentukan karena Allah telah melihat pada akhirnya kaum pilihan-Nya tersebut mempunyai kemampuan untuk percaya.
  4. Kematian Kristus menciptakan kemungkinan keselamatan manusia bila manusia mau percaya.
  5. Kaum percaya harus terus berusaha menjaga anugerah itu dengan memelihara iman mereka.

Kelima pokok yang dipercaya oleh kaum Arminian tersebut oleh J. I. Packer dikontraskan dengan lima pokok Calvinisme yang mengatakan sebagai berikut:

  1. Manusia berdosa pada dasarnya tidak mampu untuk percaya pada Injil maupun hukum Allah.
  2. Allah berdaulat memilih manusia berdosa untuk diselamatkan melalui Kristus dan berdaulat memberi iman demi kemuliaan-Nya.
  3. Karya keselamatan Kristus mempunyai tujuan akhir keselamatan umat pilihan-Nya.
  4. Pekerjaan Roh Kudus untuk membawa manusia dalam iman yang tidak pernah gagal.
  5. Iman dan anugerah keselamatan kaum percaya terus dipelihara melalui kuasa Allah sampai pada kemenangan.

Kesimpulan dari persepsi J .I. Packer di atas adalah, bahwa kaum Arminian menunjuk pada manusia yang dapat ikut andil dalam mencapai usaha keselamatan itu, sedang Calvinisme berpandangan bahwa Allah yang memampukan manusia untuk selamat dan tidak ada sedikit pun jasa manusia di dalam karya keselamatan. Arminianisme melihat Allah mengambil langkah pasif dalam karya keselamatan, sedang Calvinisme melihat langkah aktif Allah dalam karya keselamatan.

Lebih lanjut Calvinisme menekankan bahwa karya keselamatan Allah tidak universal diberikan kepada semua orang. Keselamatan ini hanya diberikan Allah kepada manusia sesuai kehendak-Nya. Lantas, apakah Allah tidak adil? Tidak juga, karena yang adil adalah semua manusia berdosa di mata Allah sehingga semua manusia harus dihukum. Justru karena kemurahan hati Allah di dalam kedaulatan-Nya, ada manusia yang diberi anugerah keselamatan melalui darah Kristus. Hal ini adalah yang dimaksud dalam lima pokok Calvinisme, point-nya yang ketiga.

Di dalam bukunya John Owen memaparkan secara lengkap bahwa Alkitab mencatat kematian Yesus Kristus adalah benar-benar untuk menyelamatkan kaum pilihan-Nya, dan bukan untuk semua manusia. Owen menegaskan kematian Kristus adalah karya keselamatan yang sempurna untuk merekonsiliasi hubungan manusia dengan Allah. Melalui kematian Yesus sebagai korban yang suci, manusia dibenarkan di hadapan Allah karena Allah menerima darah pengorbanan Kristus untuk menggantikan dosa manusia dan menyucikan manusia di hadapan Allah. Dengan demikan manusia diadopsi kembali masuk ke dalam kerajaan Allah dan Allah menganggap kini manusia layak untuk memuliakan Allah di hadapan tahta-Nya.

Owen mengupas bagaimana Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus bekerja secara aktif di dalam karya keselamatan ini. Allah Bapa mengutus Allah Anak dan memberikan segala kuasa untuk menggenapkan rencana ini, Allah Anak dalam ketaatan-Nya menjalankan karya ini, dan Allah Roh Kudus bekerja berdampingan dengan Allah Anak dalam penggenapan rencana keselamatan.

John Owen juga memaparkan argumen-argumen bahwa karya keselamatan tidaklah universal. Di antara argumennya disebutkan bahwa semasa Yesus hidup bersama dengan murid-murid-Nya, berita Injil tidak dikabarkan kepada semua orang, melainkan hanya kepada orang-orang yang Yesus berkehendak memberitakan-Nya. Argumen lainnya mengatakan bahwa di dalam Alkitab tidak pernah disebut bahwa Kristus mati untuk semua orang. Kurang lebih ada 16 argumen yang menyatakan keselamatan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang dipilih-Nya.

Namun di luar argumen-argumen itu, yang terpenting bagi kita adalah arti kematian dan kebangkitan Kristus yang berpusat pada pengembalian kemuliaan Allah. Amat sangat penting bagi kita untuk mawas diri dan sadar apakah Injil yang kita kabarkan pada orang sekitar kita benar-benar mengembalikan kemuliaan kepada Allah. Misalnya waktu kita mengabarkan Yesus yang menjadi Juruselamat pribadi, apakah kita menyodorkan berita bahwa itu adalah pilihan manusia untuk boleh percaya atau tidak pada pesan Injil, sehingga menjadikan manusia sebagai penentu keselamatan dirinya sendiri? Jika ya, kita telah menjadikan karya keselamatan tergantung pada diri saya yang menjadi penentu untuk memutuskan menerima atau menolak karya keselamatan.

Jika memang kita ingin memuliakan Allah, kita perlu juga menyodorkan berita bahwa kondisi keberdosaan manusia tidak memungkinkan mereka untuk percaya isi Injil jika bukan karena anugerah Allah semata. Ini berarti arti kematian Kristus di kayu salib menjadi sangat mahal karena hanya kepada orang-orang yang Allah berkenan akan dinyatakan dan diberikan karya keselamatan itu. Bila benar isi berita Injil itu untuk semua orang, maka nilai darah Kristus menjadi murah adanya.

Ini pula yang mengakibatkan perayaan Natal lebih meriah dari perayaan Paskah. Seperti persepsi kaum Arminian, kita menyambut kelahiran Kristus sebagai sarana yang memampukan kita untuk memperoleh “sorga” kebahagiaan kita. Kita lupa bahwa makna kedatangan Kristus mencapai puncaknya sewaktu Yesus mati di kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga. Kita lupa konsep Kerajaan Allah bukanlah untuk kemuliaan manusia, melainkan kemuliaan Allah.

Bila kita mengerti akan karya keselamatan yang demikian berharga, bagaikan seorang pedagang mencari mutiara-mutiara yang berharga, ketika ia menemukan sebutir mutiara yang luar biasa indahnya, segera ia pergi dan menjual semua miliknya, lalu membeli mutiara yang satu itu (Matius 13:45-46). Selanjutnya apakah tindakan kita? Tidak saja kita harus menyambut Paskah dengan serius, kita juga harus selalu sadar bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib adalah kunci dari keselamatan kita dan Tuhan memberikan pengorbanan-Nya dengan gratis tetapi tidak murah.

Bila selama ini kita telah menyatakan Yesus adalah Juruselamat pribadi saya, marilah kita sama-sama merenungkan sejauh mana kita sebagai orang Kristen telah bersikap dalam menyambut hari Paskah sebagai puncak karya keselamatan yang Allah anugerahkan pada kita. Marilah kita lebih mawas diri dalam menyatakan keagungan harga darah Kristus di kayu salib melalui seluruh aspek kehidupan kita.

Mitra Kumara

Pemudi GRII Singapura

Mitra Kumara

Maret 2008

11 tanggapan.

1. judah dari jayapura berkata pada 6 April 2012:

saya hampir bosan mendengar khotbah paskah di banyak demonimasi gereja, magna paskah terlalu asbstrak, teologis dan seremonial yang sama sekali jauh dari realitas kehidupan orang Kristen di Indonesia. Kemiskinan, banjir, bencana alam dan berbagai kesulitan hidup manusia tidak pernah dijawab oleh gereja dengan adanya paskah. Perlu diketahui bahwa paskah adalah puncak kasih Allah terhadap kemiskinan, sakit penyakit, dan beragam masalah karena dosa manusia. Jadi dihari paskah seperti ini, gereja harus menyatakan kasih Allah kepada banyak orang yang mengalami berbagai kesulitan hidup. Gereja harus keluar dari gedung mewah dan terlibat langsung mengatasi banjir seperti di jakarta, membantu mereka di lumpur lapindo dan masih banyak yang dilakukan gereja. Sangat disayangkan gereja hari ini benar-benar kehilangan kasih dan hanya mengejar tradisi, seremonial, sesuatu terlampau teologis dan abstrak sekali. Doa saya agar ada gereja yang pada saat paskah berlangsung, mereka ada dijalan-jalan dengan pengemis, tukang ojek,pedagangan kaki lima dan mereka menderita kesulitan hidup. salam, judah

2. Natan dari Bandung berkata pada 7 April 2012:

Sist... dalam Yoh 3:16 dikatakan bahwa "karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini" dunia ini tidak mengacu kepada orang-orang pilihan saja, tetapi kepada seluruh orang, manusia di dunia. jadi sy tidak setuju dengan perkataan bahwa kematian Tuhan bila untuk semua orang itu akan menjadi murahan. murahan tidak ditentukan oleh itu! murahan seringkali disebabkan oleh sikap kita sebagai orang Kristen. bila Tuhan Yesus sudah datang maka Dia siap membayar harga. dan harga itu tidak murahan, harga kasih bagi setiap orang. Tuhan ingin semua orang selamat, tidak ingin satupun binasa... pintu keselamatan dan anugrah terbuka bagi semua orang.sejujurnya sy ga terlalu peduli dg konsep predestinasi, itu semua berasal dari manusia, dan jujur saja sebagai org reform-kita seringkali sombong karena kita (menganggap diri sbgai) org pilihan, apa yang Alkitab katakan adalah Allah mengasihi dunia.. jadi marilah kita juga mengasihi mereka, karena kita tahu bahwa karena kasihNya pengorbanan Tuhan tidak menjadi murahan.

3. Abiel dari bandung berkata pada 11 April 2012:

Bro Natan.. menurut anda "murahannya" kematian Kristus ditentukan oleh kita? dengan standar apa? standar iman kita? iman kita dari mana? dari usahamu? Kalau standarnya dari diri kita, justru "BETAPA TIDAK BERHARGANYA" karya penebusan Kristus di kayu salib.. Mungkin dengan membaca YOH 17 sangat jelas untuk siapa Kristus datang.. salam kasih Bro..

4. Carlos dari Pontianak berkata pada 12 April 2012:

Halo Natan, ketika menerima kesaksian Alkitab akan kedatangan Yesus Kristus, ada bagian perkataan Kristus dari Markus 10:45 yang memperjelas : "Karena Anak Manusia juga datang ... untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.". Bukan dikatakan "semua orang", dalam Alkitab bhs Inggris, ESV, lebih jelas menggunakan kata "many" dan bukan "all". Dari Matius 25:41, 46 juga dikatakan bahwa ada orang-orang yang tidak diselamatkan. Jadi aku mengerti Yohanes 3:16 bukan bicara "dunia" dalam pengertian semua orang, karena Yesus Kristus mati hanya untuk orang-orang yang ditebus-Nya =) Secara realita kita juga melihat ada orang-orang yang menolak Kristus hingga akhir hidupnya dan tidak mau percaya.

Apakah predestinasi berasal dari pikiran manusia saja? Efesus 1:4 dan Yohanes 15:16 jelas mengajarkan bahwa Allah yang memilih kita dan bukan kita yang memilih Allah. Jikalau kita mengakui fakta yang disajikan oleh Alkitab dan bukan hasil imajinasi yang meninggikan diri sendiri, itu bukanlah kesombongan =) Kenapa? Karena dengan mengakui bahwa kita berdosa, tidak ada satu halpun dari diri kita yang membuat kita layak, kita juga tidak mampu menolong diri sendiri, maka keselamatan kita bener-bener hanya karena anugerah belas kasih Tuhan. Tanpa Allah yang memilih, satu-satunya jalan adalah kebinasaaan. Benarkah seseorang yang mengakui akan keberdosaan, ketidaklayakan dan ketidakmampuannya menolong diri sendiri, bergantung pada anugerah Tuhan adalah orang yang sombong, yang kurang cinta kasih? =)

Terakhir untuk Natan, aku percaya bahwa percaya predestinasi tidak serta merta pasti membuat orang menjadi kurang cinta kasih kok =) Justru kita ada kekuatan dan keyakinan teguh dalam memberitakan kabar baik dari Tuhan karena ada umat yang sudah dipilih-Nya yang akan berespon, dan dalam pergumulan hidup iman mereka, mereka tidak perlu jatuh digoncang dengan kekhawatiran apakah keselamatannya akan hilang karena keselamatan itu pasti dalam Tuhan yang telah memilih kita sebelum dunia dijadikan =)

5. christian dari Jakarta berkata pada 17 April 2012:

Salam Kasih didalam Yesus Kristus,

Saya punya saudara, sudah lama dan sering ikut ke gereja tetapi sampai sekarang masih belum bisa percaya akan Penebusan Yesus Kristus. Apakah karena saudara saya bukan umat PilihanNya.

thx

Christian

6. Carlos dari Pontianak berkata pada 23 April 2012:

Halo Christian. Karena ada hubungan saudara, menurukut Christian punya kesempatan lebih untuk bisa berkomunikasi secara terbuka dengan saudaramu. Coba pelan-pelan ajak saudaramu bicara sehingga engkau tahu apa yang menjadi kesulitannya atau halangannya untuk percaya pada Yesus Kristus. Berdoalah minta Roh Kudus untuk memberimu kepekaan, juga hikmat dalam berbicara, juga berdoa agar Roh Kudus memimpinmu saudaramu agar ia boleh mengenal kebenaran yang sejati. Kita tidak tahu pasti kepada siapa, kapan dan cara Tuhan bekerja. Jikalau Christian sungguh-sungguh mengasihi saudaramu, tetaplah setia dan jangan mundur untuk mendoakan dia yach =)

7. christian dari jakarta berkata pada 18 May 2012:

Halo Carlos. terima kasih atas tanggapannya. Selama ini saya sudah sering tukar pendapat mengenai gereja dengannya. Dan dia secara pikiran mau percaya , tetapi rasanya masih belum sreg di hatinya. Apakah kesulitan dia untuk percaya, karena memang dia bukan umat pilihanNYA.

thx

Christian

8. reny dari surabaya berkata pada 19 May 2012:

syalom....!!!

berkaitan dengan pemilihan Allah secara berdaulat..., disini saya mau bertanya, bagaimana dengan kasus seperti di bawah ini:

seorang pemudi yang terikat dosa masturbasi berkepanjangan..., hampir 15 ato 20 thn...!!! dia seorang pelayan Tuhan di sebuah gereja. Jatuh bangun dalam pengiringanNya akan Tuhan...., ingin lepas, namun tidak cukup kekuatan untuk lepas dari dosa tersebut. Nah..., apakah memang dia sudah sebgai orang yang memang tidak termasuk dalam umat pilihan....??

tolong sarannya.... Gbu

9. Carlos dari Pontianak berkata pada 25 May 2012:

Halo Christian. Aku pribadi tidak berani untuk langsung mengatakan bahwa seseorang itu bukan orang percaya. Karena ada aspek waktu di depan yang kita tidak tahu. Selama seseorang masih hidup, kesempatan bertobat kembali kepada Tuhan masih ada. Dan hanya Tuhan yang tahu pasti siapa umat pilihan-Nya. (Tentu saja untuk kita yang mengaku sebagai orang pilihan, keyakinan kita bisa diuji dari hasil buah2 hidup kita). Mungkin Christian ada merasa lelah karena sudah mencoba berbicara dengan saudaramu tapi sepertinya tanpa hasil? Aku juga pernah merasakan lelah dan desperate juga mendoakan seseorang lama namun belum bertobat sampai sekarang. Yang jadi penghiburan dan dorongan untuk aku adalah suatu sharing dari seorang rekan dimana ia mendoakan orang tuanya sampai 20 tahun, akhirnya orang tuanya mengenal Tuhan juga. Wah, aku tertegur karen seperempatnya 20 tahun saja belum sampai =D Memang benar aku tidak tahu yang kudoakan ini apakah termasuk umat Tuhan atau bukan. Tapi yang jelas dari bagianku adalah untuk terus menabur, minta kesabaran dari Tuhan untuk mendoakan dan memohonkan belas kasihan Tuhan atas dirinya dan agar ia juga mau membuka hati mengenal Tuhan =)

10. Carlos dari Pontianak berkata pada 25 May 2012:

Halo Reny. Maaf aku tidak mengerti apa maksudmu dengan "jatuh bangun dalam pengiringan-Nya akan Tuhan". Ketika kupikir-pikir, jikalau menjawab "iya" atau "bukan", what's next ya? Jawaban ini mungkin tidak membawa kemana-mana. Sedih ketika mendengar kasus yang Reny ceritakan, tapi aku rasa yang lebih penting ditanyakan dan dijawab adalah apa yang Tuhan mau dari Reny ketika kamu tahu ada kondisi demikian dari saudarimu? Pertama-tama, aku ingin katakan agar kita jangan pernah mempercayai kebohongan dari si jahat bahwa keinginan lepas dari dosa masturbasi hanya sebatas angan-angan saja dan tidak akan pernah menjadi realita. Kristus sudah mematahkan kuasa dosa dalam diri kita lewat kematian dan kebangkitan-Nya, sehingga dengan bersandar pada kekuatan-Nya, kita akan dimampukan untuk menang dari pencobaan. Kita yang sudah ditebus Tuhan, dituntut Tuhan untuk hidup suci. Janganlah lagi menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa dan menuruti keinginannya. Hidup demikian yang kita jalani tidaklah berkenan di mata Tuhan. Aku pernah dengar khotbah yang mengatakan bahwa bertobat itu berarti 3M = Menyesali dosa, Membenci dosa dan Meninggalkan dosa. Jikalau kita merasa berulang-ulang jatuh pada dosa, kita menyesali kebodohan kita, namun kembali jatuh. Rasa bersalah kembali muncul lalu kita berjanji ingin kembali hidup benar. Namun jatuh lagi. Kita merasa hanya bisa menyesal dan menyesal namun tidak bisa meninggalkan dosa. Pertanyaannya yang bisa direnungkan adalah : apakah kita sudah membenci dosa tersebut? Kita mungkin tahu bahwa dosa itu salah dan menyesal, namun apakah dalam hati yang terdalam kita sebenarnya masih mencintai dosa tersebut, sehingga kita bisa dengan "mudah" kembali jatuh dalam dosa tersebut, tidak ada penyangkalan diri yang sungguh-sungguh? Coba berdoa bersama dan minta Tuhan beri kepekaan menilai dan menguji diri akan apa yang menjadi penyebab kita bisa terus menjadikan dosa masturbasi ini sebagai pelarian. Apakah insekuritas, kesepian, perasaan ingin dikasihi yang tidak didapatkan, ingin dihormati, ingin diri berharga, nafsu dll...Dengan mengetahui penyebab utama, Reny bisa bergumul bersama memikirkan jalan keluar. Yang terutama jangan jauh-jauh dari Firman Tuhan yach, isilah hati dengan kebenaran Firman Tuhan yang dapat mengajar, mengkoreksi, menyatakan kesalahan dan memperbaiki kelakuan kita. Misal, coba renungkan 1 Thes 4:1-8 =) Terakhir, ada keinginan seksual tidak salah karena Tuhan menciptakan manusia termasuk dengan keinginan ini..asalkan...dinikmati dengan cara dan waktu yang Tuhan kehendaki =)

11. martin dari Jakarta berkata pada 26 March 2016:

Saya lebih memilih menyebut perayaan kebangkitan Kristus dr pd Paskah. Paskah dlm catatan Alkitab sangat terang sbg sebuah peristiwa eksklusif bagi umat Yahudi dan perintah perayaannya juga demikian ekslusifnya. Atau dapat disebut peristiwa khusus yg dilakukan Allah bagi umat Yahudi. Yg dikenang dlm Paskah adalah pelepasan Yahudi dr bangsa Mesir. Dg berbagai kesamaan substansi maka gereja mensejajarkan peristiwa Paskah bangsa Yahudi dg kebangkitan Kristus. Padahal kebangkitan Kristus jauh lebih 'amazing' , jauh lebih sakral atau jauh lebih esensial ketimbang Paskah. Paskah mmg peristiwa luar biasa krn peran Allah sepenuhnya dan bukti Kasih yg luar biasa. Namun ada hal yg berbeda yg menurut saya tidak bisa disejajarkan dan kemudian diadopsikan atas peristiwa kebangkitan Kristus.

Kebangkitan Kristus menjadi puncak dari pembuktian keIllahian Krustus. Kebangkitan itu tdk berorientasi kpd penyelamatan semata namun kpd perubahan asumsi manusia ttg Allah. Allah yg sebelumnya dianggap begitu jauh da tdk dikenak kemudian hadir dan dikenal manusia. Kebangkitan Kristus adalah 'warning' bagi dunia bhw Allah itu hidup bersama manusia. Agar dengan demikian manusia tdk meraba2 apakah Allah itu mengetahui segala laku tindak kita. Kebangkitan Kristus memecah kebuntuan debat ttg hidup setelah kematian. KebangkitanNya bukan utk satu kaum di waktu tertentu saja, namun bagi semua manusia dmn saja sampai akhir jaman.

Kita umat Kristiani msh terus membiarkan diri kita terkooptasi dlm tradisi Yahudi. Sikap spt ini sangat melemahkan penjabaran nilai ajaran Kristus. Kristus bukan utk dan dari Yahudi tapi utk seisi alam semesta krn DIA berasal dr sang khalik , Allah pencipta dan pemelihara. Jika Yesua dilahirkan di tanah dan dari keturunan Yahudi bukab berarti Dia milik dan utk Yahudi. Itu soal pilihan Allah, yg bisa saja ditentukan berbeda awalnya. Kita harus bisa memilah mana yg aksisental dan situasional , mana yg esensial dan substansial.

Penetapan gereja ttg peristiwa kebangkitan Kristus sebagai Paskah adalah kebodohan gereja dan atau penghinaan atas pengorbanan Kristus.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Akhirnya, kita harus sadar, semakin kita mencoba untuk menarik semuanya untuk diri kita, maka kita akan semakin...

Selengkapnya...

SHALOM, PAK TONG TERIMA KASIH SEKALI, SAYA SANGAT DIBERKATI SEKALI DENGAN PENGAJARANPAK TONG INI, KAPAN YA PAK TONG...

Selengkapnya...

Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲