Artikel

Persatuan Gereja Menurut Paulus di Filipi 2:1-4

Surat Filipi adalah surat perpisahan Paulus dengan jemaat Filipi ketika dia sedang dipenjara.[1] Sebelumnya, jemaat Filipi telah menjadi rekan sepelayanan Paulus dalam pemberitaan Injil (1:5). Sekarang, Paulus dipenjara. Pada zaman itu, penjara bukanlah tempat yang layak dihidupi seperti hari ini. Biasanya orang yang dipenjara akan meninggal karena penyakit, penyiksaan, dan sebagainya. Oleh karena itu, Paulus merasa bahwa hidupnya akan berakhir sebentar lagi (2:17) dan dia ingin memberikan pesan terakhir kepada jemaat Filipi. 

Salah satu pesan Paulus kepada gereja Filipi adalah mengenai kesatuan gereja di tengah penganiayaan yang mereka alami serta serangan dari ajaran-ajaran palsu (1:27-30; 3:17-21). Penganiayaan mereka dan penganiayaan Paulus disebabkan oleh alasan yang sama, yakni karena berita Injil. Di sini Paulus menekankan pentingnya sehati sepikir (1:27) di antara sesama orang percaya di tengah-tengah situasi sulit yang demikian. Dengan demikian, kita melihat keharusan gereja untuk bersatu di tengah penganiayaan dan ajaran palsu. Tanpa adanya persatuan, jemaat yang dididik dengan banyak pengetahuan Alkitab tidak akan dapat bertahan melawan ajaran-ajaran palsu (bdk. 2Yoh. 5-7). Calvin berkata di dalam tafsirannya, “Ketika ada perselisihan pendapat, pasti ada pintu yang terbuka bagi setan untuk menabur ajaran-ajaran jahat. Sementara itu, kesepakatan adalah benteng pertahanan terbaik untuk menangkis ajaran-ajaran tersebut.”[2] Seperti apakah kesatuan gereja yang dimaksud oleh Paulus? Paulus menjabarkan hal ini di Filipi 2:1-4, perikop yang menjadi fokus pembahasan kita dalam tulisan ini.[3]

Struktur Filipi 2:1-4[4]

Jadi jika ada 

    penghiburan dalam Kristus, 

    penghiburan kasih,

    persekutuan Roh,

    kelemahlembutan dan belas kasih,

sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah

    kamu sehati sepikir, 

        dalam satu kasih, 

        satu jiwa, 

  satu tujuan.

Jangan mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. 

Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati, yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri;

    tiap-tiap orang bukan hanya memperhatikan kepentingannya sendiri,

    melainkan juga kepentingan orang lain.

Penjelasan Ayat

Di ayat 1 dan 2, Paulus menjabarkan empat alasan supaya gereja Filipi menyempurnakan sukacitanya. Jemaat Filipi bisa menyempurnakan sukacita Paulus melalui persatuan yang memiliki empat wujud. Kemudian, Paulus menjelaskan di ayat 3 dan 4, bagaimana gereja Filipi harus bersikap supaya persatuan tersebut dapat terwujud.

Paulus tidak memerintahkan gereja Filipi untuk bersatu dengan menggunakan otoritas kerasulannya, tetapi sebagai seorang sahabat. Dia meminta mereka untuk menyempurnakan sukacitanya. Seorang sahabat tentu rela untuk memenuhi permintaan sahabatnya.

Namun, bukankah perintah ini adalah sebuah perintah yang egois? Mengapakah Paulus meminta gereja Filipi untuk menyempurnakan sukacita dirinya? Di sini, kita perlu sadar bahwa Paulus tidak meminta jemaat Filipi untuk melakukan sesuatu supaya dirinya mendapatkan keuntungan, melainkan demi keuntungan jemaat Filipi sendiri. Paulus adalah seorang rasul dan dia bersukacita ketika Gereja Kristus bisa hidup bersatu.

Di ayat 1, Paulus menyebutkan empat alasan persatuan yang Paulus anggap gereja Filipi miliki: penghiburan dalam Kristus, penghiburan dari kasih, persekutuan Roh, serta kasih mesra dan belas kasihan. 

Yang pertama, gereja Filipi memiliki penghiburan dalam Kristus karena mereka sudah mengalami penganiayaan karena berita Injil dan penganiayaan yang sama yang diderita oleh Kristus dan Paulus sendiri (1:29-30; bdk. 2Kor. 1:3-7). Oleh sebab penganiayaan ini dikarenakan anugerah yang sama seperti anugerah iman, penganiayaan ini menandakan bahwa mereka berbagian di dalam Kristus. Dan karena mereka berbagian di dalam Kristus yang sama, sudah sepatutnya mereka bersatu.

Berikutnya, mereka memiliki penghiburan dari kasih, yakni kasih dari Kristus sendiri. Dan jika gereja Filipi sudah menerima kasih ini, sudah sepatutnya mereka bersatu karena kasih tidak pernah mencari keuntungan diri sendiri (1Kor. 13:5), yang adalah sikap yang menyebabkan perpecahan.

Alasan ketiga untuk bersatu adalah persekutuan Roh. Gereja bersekutu, berbagian dalam Roh Kudus yang satu dan sama yang dialami semua orang percaya. Karena hanya ada satu Roh, maka jemaat Filipi juga harus bersatu.

Yang terakhir adalah kelemahlembutan dan belas kasih. Mereka telah mengalami kelemahlembutan (tenderness) dan belas kasih (compassion) Kristus dan mereka juga perlu mewujudkan kelemahlembutan dan belas kasih di antara mereka.

Di ayat 2, Paulus meminta gereja Filipi untuk menyempurnakan sukacitanya dengan bersatu yang diwujudkan dalam empat hal: memiliki pikiran yang sama (being of the same mind), memiliki kasih yang sama (having the same love), satu jiwa (united in spirit), sepikir (of one mind). Keempat hal ini membentuk kiasmus yang terdiri dari dua pasang. Pasangan yang pertama terdiri dari: memiliki pikiran yang sama dan sepikir. Pasangan yang kedua terdiri dari: memiliki kasih yang sama dan satu jiwa.

Pasangan yang pertama adalah mengenai kesatuan pikiran. Di sini, pikiran bukanlah mengenai pengetahuan, melainkan sikap terhadap suatu hal. Misalnya: sikap terhadap Tuhan, terhadap gereja, terhadap dosa, dan sebagainya. Paulus meminta supaya jemaat Filipi memiliki sikap yang sama kepada Kristus (ay. 5-11), yakni mengakui Dia sebagai Kristus dan Tuhan serta meneladani kerendahan hati Kristus.

Pasangan yang kedua adalah mengenai satu kasih dan satu jiwa. Paulus meminta supaya jemaat Filipi memiliki kasih yang sama, yakni kasih kepada sesama yang meneladani kasih Kristus kepada manusia berdosa. Selain itu, Paulus meminta supaya gereja Filipi memiliki satu jiwa yang sama. Bagi orang Yunani (Aristoteles), satu jiwa adalah istilah yang menggambarkan kesatuan hati di dalam pertemanan. Sekelompok teman memiliki tujuan yang sama serta merasa setiap apa yang mereka miliki adalah milik bersama. Seperti itulah harapan Paulus bagi gereja Filipi.

Keempat wujud ini membentuk sebuah kiasmus. Pasangan yang pertama, sepikiran, mengapit pasangan yang kedua, satu kasih. Dari struktur ini, kita dapat menyimpulkan bahwa memiliki pikiran yang sama datang dari memiliki kasih yang sama. Tanpa kasih, tidak mungkin mereka bersatu. Tanpa kasih, tidak mungkin mereka memiliki kesatuan pikiran. Oleh sebab itu, Paulus menempatkan kasih sebagai inti kiasmus ini.

Selanjutnya, di ayat 3 dan 4, Paulus memberikan arah bagaimana jemaat Filipi bisa memiliki kesatuan hati dan sikap. Pertama, dengan menyingkirkan baik ambisi egois maupun pujian kosong. Kedua, dengan rendah hati menganggap orang lain lebih tinggi dari diri sendiri. Kemudian, Paulus menjelaskan bentuknya, yakni dengan tidak hanya memikirkan dan memperhatikan diri, tetapi juga orang lain.

Jika orang-orang di dalam gereja hanya memikirkan apa yang nyaman bagi diri, apa yang menyenangkan bagi diri, apa yang menguntungkan diri tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain, gereja tidak akan mungkin bersatu. Demikian juga jika orang-orang di dalam gereja berlomba-lomba menempati jabatan pelayanan dan kepengurusan hanya untuk mencari pujian manusia yang sia-sia dan bukan mencari pujian dari Allah (bdk. Yoh. 12:43), gereja akan terpecah belah. Pujian manusia sia-sia karena pada akhirnya hanya penilaian Allah yang sungguh-sungguh bernilai kekal.

Lawan dari ambisi egois dan pujian sia-sia adalah kerendahan hati. Orang yang memiliki ambisi egois dan mencari pujian sia-sia, salah menilai diri karena dia menempatkan diri lebih tinggi daripada orang lain. Sebaliknya, orang yang rendah hati menempatkan orang lain lebih tinggi daripada dirinya sendiri. 

Ada dua bentuk kerendahan hati yang salah. Pertama, kita terus memikirkan hal yang jelek tentang diri kita. Misalnya, walaupun kita jago melukis, kita terus memikirkan kalau kita lemah dalam berhitung dan memasak. Kita mencoba “merendahkan diri” dengan memperbesar kelemahan kita yang lain daripada yang seharusnya dan tidak mensyukuri berkat Tuhan. Kedua, kita menggambarkan kelebihan kita lebih jelek daripada kenyataannya. Menggunakan contoh yang sama, saat kita dipuji orang karena lukisan kita yang indah, kita berkata bahwa lukisannya jelek dibandingkan dengan karya Rembrandt. Setiap kelebihan adalah anugerah dari Allah. Jika kita menganggap buruk kelebihan kita, kita menghina anugerah Allah. Ada benang merah dari dua bentuk ini, yakni terus berfokus kepada diri.

Sebaliknya di ayat 3b-4, Paulus mengajarkan kita untuk menempatkan orang lain di atas diri kita. Berarti, orang lain lebih penting daripada diri kita. Dan karena orang lain lebih penting dari kita, kita perlu memperhatikan mereka lebih daripada diri kita sendiri. Paulus tidak mengajarkan bahwa kita sama sekali tidak boleh memikirkan diri, tetapi Paulus mendorong kita untuk memikirkan orang lain juga, selain memikirkan diri.

Demikianlah teladan Kristus, yang kemudian Paulus akan jelaskan di ayat 6-8: Kristus Yesus “... yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Kristus pantas mendapatkan kemuliaan, kemuliaan yang Ia miliki sebelum dunia dijadikan (Yoh. 17:5). Namun, jikalau Kristus tidak menganggap orang berdosa lebih penting daripada kemuliaan-Nya, Ia tidak akan menyelamatkan orang berdosa. Akibatnya, tidak akan ada keselamatan bagi orang berdosa. Syukurlah, Kristus menganggap musuh-musuh-Nya lebih penting daripada kemuliaan-Nya, sehingga Ia mau menjadi seorang hamba, mati terkutuk di kayu salib, dan bangkit demi kita.

Namun, bukankah Yesus Kristus mengatakan, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”? Bukankah itu berarti kita harus mengasihi diri kita sendiri (love myself) sebelum kita bisa mengasihi orang lain (love others)? Demikianlah kata dunia akhir-akhir ini dalam bentuk gerakan self-love, self-respect, self-worth. Dunia ini menjanjikan bahwa jika saya sudah terlebih dahulu mengasihi diri saya, saya akan mendapat kekuatan untuk mengasihi orang lain. Jika saya sudah bahagia, saya akan bisa membahagiakan orang lain. Jika saya sudah mengagumi diri sendiri, saya akan bisa mengagumi orang lain. Sesungguhnya tidak ada yang lebih salah daripada pengertian ini. 

Pengertian ini bertolak belakang dari maksud Tuhan Yesus. Maksud perintah Tuhan Yesus adalah seperti berikut, “Manusia berdosa sangat mencintai dirinya. Tidak ada manusia berdosa yang perlu diajarkan untuk mencintai diri. Setiap manusia berdosa mencintai dirinya sendiri. Namun, Aku menghendaki supaya kamu mengasihi orang lain dengan kasih yang sama kuatnya dengan kasih kepada dirimu sendiri. Kamu sering mengampuni dirimu sendiri, sekarang kamu harus mengampuni orang lain juga. Kamu sering memuji dirimu sendiri, sekarang kamu harus memuji orang lain juga. Kamu sering mementingkan dirimu sendiri, sekarang kamu harus mementingkan orang lain juga.” Singkatnya, Kristus menghendaki supaya kita memindahkan arah kasih kita yang sangat kuat tersebut dari diri kita sendiri kepada sesama kita. Dengan ini kita melihat bahwa perintah Paulus dan perintah Kristus tidak bertolak belakang, malahan selaras.

Pertanyaan yang dapat kita tanyakan bagi diri kita adalah seberapa pentingkah orang lain bagi kita? Seberapa pentingkah jemaat Tuhan dalam hidup kita? Apakah selama ini kita hanya memakai orang lain demi keuntungan kita? 

Jika kita telah mengenal Kristus, marilah kita berbalik dari dosa kita dan mengikuti teladan Tuhan kita. Marilah setiap kita merendahkan diri kita dan menganggap orang lain lebih penting daripada diri kita sendiri. Dengan demikian, Gereja Tuhan bisa bersatu dan menjadi saksi bagi dunia ini (Yoh. 13:35; Kis. 2:41-47).

Akan tetapi, jika kita ternyata belum mengenal Kristus, percayalah kepada Kristus karena Ia sudah mati bagi orang-orang seperti kita. Ia akan memberikan kita hidup yang baru: hidup yang dimampukan oleh Roh Kudus untuk mementingkan orang lain di atas diri kita; hidup yang melayani orang lain.

Menghidupi Persatuan Gereja

Ada beberapa langkah praktis yang kita bisa lakukan. Pertama, mari kita mengenal jemaat lain. Seperti kata peribahasa, “Tak kenal maka tak sayang.” Sering kali kita, termasuk saya sendiri, acuh tak acuh dengan orang yang duduk di samping kita saat kebaktian. Tuhan mengampuni kita! Bagaimanakah kita bisa menganggap orang lain lebih penting daripada diri kita sendiri jikalau kita tidak mengenal mereka?

Berikutnya, kita bisa lebih memperhatikan orang lain. Memang hidup kita sudah susah, pekerjaan kita berat, gaji kita kecil, anak kita rewel, istri kita suka bertengkar, suami kita malas bekerja, dan 1.001 macam penderitaan lain. Namun, perintah Paulus sangat tepat di situasi ini: justru di saat demikian, kita harus menganggap orang lain lebih utama daripada diri kita. Orang lain juga memiliki kesusahan, bahkan mungkin kesusahan mereka lebih berat daripada kesusahan kita. Mari kita memperhatikan orang lain, bukan hanya soal penderitaan material, tetapi keadaan jiwa mereka juga (1Yoh. 3:16-18; 5:16). Bagaimanakah kita dapat memperhatikan orang lain? Kita bisa menanyakan kabar mereka. Kita bisa menanyakan hidup mereka. Kita bisa mendoakan mereka. Kita bisa membantu kesulitan mereka. Kita bisa memberikan nasihat kepada mereka. 

Hidup kita tidak akan bertambah ringan saat kita memperhatikan orang lain. Sebaliknya, ketika kita memperhatikan orang lain, kita juga akan perlu menanggung beban derita mereka. Namun, dengan ini justru gereja akan bisa bersatu.

Selain kita memperhatikan orang lain, kita juga perlu untuk membuka diri supaya orang lain dapat memperhatikan kita. Butuh kerendahan hati untuk membiarkan orang lain menolong kita. Dengan membuka diri kita kepada pertolongan orang lain, maka kita mengakui bahwa kita juga adalah orang yang lemah dan bergantung kepada orang lain.

Semua hal yang disebutkan di sini bisa dilakukan tanpa program gereja tertentu. Justru di dalam gereja yang sehat, semua hal di sini akan terjadi secara alami karena kita memiliki Kristus dan Roh yang satu.

Kristus telah mati bagi kita yang percaya. Ia bukan mati untuk memberikan kita jaminan mengejar ambisi pribadi tanpa hukuman yang menanti, melainkan supaya kita boleh saling mengasihi dan bersatu sebagai gereja. Ketika gereja menjadi satu, barulah gereja bisa menjadi saksi Injil bagi dunia ini (Yoh. 13:35). Gereja bisa terus memberitakan Injil, tetapi tanpa persatuan, gereja tidak akan pernah bisa menjadi saksi bagi dunia yang terpecah belah ini. Oleh sebab itu, marilah kita mengikuti teladan Kristus, yang telah mati bagi kita.

Semoga tulisan ini bisa mendorong kita (termasuk saya) untuk memperjuangkan persatuan gereja, dimulai dari diri kita sendiri. Amin.

Hans Tunggajaya

Pemuda GRII Singapura

Endnotes:

[1] Bruce A. Lowe di A Biblical-Theological Introduction to the New Testament: The Gospel Realized (2016), hlm. 285. 

[2] Calvin, J., & Pringle, J. (2010). Commentaries on the Epistles of Paul the Apostle to the Philippians, Colossians, and Thessalonians. Bellingham, WA: Logos Bible Software.

[3] Tulisan ini banyak meminjam penjelasan dari tafsiran Hansen, G. W., The Letter to the Philippians (2009).

[4] Terjemahan pribadi berdasarkan TB LAI dan juga ESV.

Hans Tunggajaya

November 2021

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Seminar Reformasi dengan tema “What if No Reformation?” yang telah diadakan pada tanggal 30 Oktober 2021. Bersyukur untuk setiap firman yang telah dibagikan, kiranya melalui seminar ini setiap kita makin mengerti dan menghargai arti Reformasi yang telah dikerjakan oleh para reformator yang telah memengaruhi segala aspek kehidupan kita, dan kiranya Gereja Tuhan tetap dapat mereformasi diri untuk selalu kembali kepada pengertian akan firman Tuhan yang sejati. 

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2021 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲