Artikel

Polycarp

Bagaimana keadaan gereja Tuhan setelah para rasul meninggal? Apakah Gembala Agung senantiasa menyertai kawanan domba-domba-Nya? Apakah Sang Penghibur senantiasa hadir memberi kekuatan di kala penganiayaan? Apakah Roh Kebenaran senantiasa memimpin anak-anak Tuhan setia kepada kebenaran dan mempertahankan kebenaran? Pada kesempatan ini, saya ingin memperkenalkan seorang bapak gereja Ante-Nicene (sub-apostolic fathers atau post-apostolic fathers) untuk memperlihatkan semangat perjuangan mempertahankan iman yang murni dan membela kebenaran yang sejati. Walaupun bapak-bapak gereja terdahulu tidak memiliki wibawa seperti para penulis Perjanjian Baru, kita patut mempelajari semangat perjuangan dan pengorbanan mereka.

Mereka disebut sub atau post apostolic fathers karena merupakan penerus pertama setelah para rasul dan mendapat pengajaran langsung dari para rasul (murid-murid Tuhan Yesus). Masa Ante-Nicene berarti dimulai dari permulaan kekristenan hingga sebelum dihasilkannya Pengakuan Nicene (Nicene Creed) pada First Council of Nicaea, pada tahun 325. Bapak-bapak gereja yang termasuk pada masa Ante-Nicene adalah: Barnabas, Clement dari Roma, Ignatius dari Antiokhia, Polycarp, dan dalam cakupan yang lebih besar Hermas, Papias, penulis surat kepada Diognetus dan Didache.[1]

Di antara pembela iman mula-mula adalah Polycarp (Yunani: Πολυκαρπος, Latin: Polykarpos). Polycarp lahir sekitar tahun 69 atau lebih awal, murid dari rasul Yohanes, rekan yang lebih muda dari Ignatius. Polycarp adalah guru dari Irenæus (antara 130-140). Dia menjabat sebagai bishop-presbyter di gereja Smyrna di Asia Kecil pada awal pertengahan abad pertama. Tidak banyak yang dapat diketahui mengenai latar belakang kehidupan, pendidikan, dan pekerjaannya sebelum pertobatan.

Walaupun Polycarp tidak seaktif dan sepintar Clement dan Ignatius, Polycarp dikenal sebagai orang yang memiliki karakter baik, sederhana, dan hidup kudus. Di dalam surat yang ditulis Irenæus dari Lyons kepada sesama murid lainnya, Florinus yang sudah jatuh ke dalam penyesatan Gnostiksisme, menunjukkan betapa setianya Polycarp mengajar muridnya berpegang kepada tradisi para rasul. Polycarp menerima ajaran langsung dari mulut rasul Yohanes bersama dengan beberapa saksi mata lainnya dengan mengkonfirmasikannya dengan Firman Tuhan.[2] Di dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, banyak dikutip Injil Synoptic (Matius, Markus dan Lukas), surat dari Paulus, Yohanes dan 1 Petrus, yang cukup penting bagi sejarah kanonisasi.[3]

Hanya satu atau dua tahun sebelum kematiannya (sekitar tahun 154), Polycarp mengadakan perjalanan ke Roma untuk membicarakan dengan Paus Anicetus mengenai perbedaan pandangan antara jemaat di Asia dengan jemaat di Roma mengenai hari perayaan Paskah. Ketika Polycarp berada di Roma, dia dipakai Tuhan untuk mengubah banyak pengikut Marcion dan Gnostic Valentinus kepada ajaran yang ortodoks dengan kesaksian pribadi terhadap pengajaran yang diterima langsung dari para rasul Tuhan. Kesempatan kunjungan ke Roma ini memungkinkan Polycarp bertemu langsung dengan Marcion dan menyebutnya “anak sulung Iblis”.[4]

Di dalam Ecclesiastical History (iv. 14) dari Eusebius tertulis:

And there are those still living who heard him relate, that John the disciple of the Lord went into a bath at Ephesus, and seeing Cerinthus within, ran out without bathing, and exclaimed, “let us flee lest the bath should fall in, as long as Cerinthus, that enemy of truth, is within.” And the same Polycarp, once coming and meeting Marcion, who said, “acknowledge us,” he replied, “I acknowledge the first born of Satan.”[5]

Ini menunjukkan betapa Polycarp tidak berkompromi terhadap segala ajaran-ajaran yang sesat pada masanya dan mengambil inisiatif untuk meluruskan mereka ke ajaran yang benar.

Pada masa penganiayaan di Symrna, Polycarp tidak tergoyahkan sedikit pun dan bertekad untuk tetap tinggal di kota Smyrna. Tetapi setelah dibujuk oleh jemaat untuk meninggalkan kota, Polycarp pun berpindah ke suatu tempat yang tidak jauh dari kota bersama dengan beberapa rekan sepelayanan. Sepanjang hari di tempat persembunyian, Polycarp tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa bagi Gereja Tuhan di seluruh dunia seperti kebiasaannya. Tiga hari sebelum Polycarp ditangkap, ketika dia sedang berdoa dia melihat suatu penglihatan di mana bantal tidurnya terbakar. Dia memberitahukan kepada orang-orang yang dekat dengannya bahwa dia akan dibakar hidup-hidup.

Dan ketika dia sedang di dalam pencarian, Polycarp berpindah ke tempat lain atas permintaan jemaat di sana. Thither[6] (Ecclesiastical History iv. 15), yang memimpin pencarian tidak dapat menemukannya, tetapi berhasil menawan dua hambanya yang muda dan menyiksa keduanya. Karena tidak sanggup menahan siksaan tersebut, salah satu hamba tersebut akhirnya mengaku dan membawa ke tempat persembunyian Polycarp.

Pada malam hari mereka tiba di tempat persembunyian Polycarp, dan menemukan dia di loteng sebuah rumah. Sebenarnya Polycarp bisa dengan mudah melarikan diri, tetapi dia tidak melakukannya dan mengatakan, “Kehendak Tuhan tergenaplah.” Ketika Polycarp mengetahui para pemburunya sudah tiba, dia turun dari loteng rumah dan berbicara dengan mereka serta menyiapkan hidangan bagi mereka. Polycarp sendiri meminta diizinkan untuk berdoa selama satu jam. Setelah mendapat izin, dia pun berdiri dan berdoa dengan khidmat selama dua jam, dan banyak orang bertobat setelah mendengarkan doanya.

Setelah selesai berdoa, Polycarp dibawa ke hadapan Herod, kepala pasukan, dan Nicetas, ayahnya. Mereka menaikkan Polycarp ke kereta kuda mereka. Mereka duduk bersebelahan dengan dia dan mencoba membujuk dia sambil berkata: “Apa kerugiannya mengakui Kaisar sebagai Tuhan dan mempersembahkan korban demi menyelamatkan nyawamu?” Pada awalnya Polycarp tidak memberi jawab apapun, tetapi setelah didesak, dia mengatakan, “Saya tidak akan melakukan apa yang kalian inginkan.” Setelah mereka gagal membujuknya, mereka mendorongnya dari atas kereta kuda yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi dan melukai kakinya. Tanpa goyah sedikit pun imannya, dia bangkit berdiri dan dibawa oleh pengawal ke colosseum. Ketika akan masuk ke colosseum Polycarp mendengar suara dari surga, “Teguhkan hatimu, Polycarp.” Tidak ada penonton yang melihat siapa yang berkata-kata, tetapi suaranya terdengar oleh beberapa orang jemaat.

Tidak lama kemudian dia dibawa menghadap gubernur, “Dengan mempertimbangkan usiamu, bersumpahlah demi Kaisar, bertobatlah, dan berhenti menjadi ateis!” (jemaat mula-mula dianggap menyembah ilah yang tidak kelihatan, sehingga disebut ateis)

Polycarp memandang penuh belas kasihan kepada para penonton yang ada di situ, sambil mengayunkan tangannya dia berkata, “Enyahlah dengan ateis!”

Gubernur terus mendesak, ”Bersumpahlah dan aku akan melepaskan engkau. Kutuklah Yesus!”

”Delapan puluh enam tahun aku melayani Dia, dan Dia tidak pernah bersalah kepada aku. Bagaimana mungkin aku mengutuki Rajaku yang menyelamatkanku?” jawab Polycarp.

Gubernur tersebut terus mendesak dan berkata, ”Bersumpahlah demi Kaisar.” Polycarp menjawab, ”Janganlah mendesak dengan sia-sia agar aku dapat bersumpah demi Kaisar, tidakkah engkau mengenal aku. Aku adalah seorang Kristen. Jika engkau ingin belajar pengajaran Kristen, berikanlah aku sehari dan dengarkanlah.”

Gubernur itu membalas, ”Engkau mencoba membujuk orang banyak?”

Setelah berselang beberapa percakapan, Polycarp mengatakan, ”Engkau mengancam dengan api yang hanya akan membakar seketika saja dan segera akan padam, ketahuilah bahwa api pada waktu penghakiman dan hukuman kekal akan tiba kepada orang yang tidak percaya. Mengapa engkau menunda-nunda waktu? Mari, lakukan apa yang engkau kehendaki.”

Pada waktu Polycarp mengatakan kalimat ini banyak yang dikuatkan. Wajahnya memancarkan belas kasihan. Bukan saja dia tidak menyangkal imannya, bahkan gubernur juga terkejut dan menyerahkan Polycarp kepada tentaranya. Tentara tersebut mengiringi Polycarp ke tengah colosseum dan berseru tiga kali, “Polycarp mengaku sebagai orang Kristen.”

Tatkala hal ini diucapkan, seluruh penonton dan orang Yahudi yang tinggal di Smyrna berteriak dengan keras, “Ini adalah guru dari Asia, bapak orang Kristen, pemusnah ilah-ilah kami, yang mengajar orang banyak untuk tidak mempersembahkan korban ataupun menyembah ilah.

Mereka meminta Asiarch Phillip untuk melepaskan singa. Tetapi kandang binatang buas telah ditutup. Kemudian penonton serentak berteriak untuk membakarnya hidup-hidup. Hal ini terjadi supaya genaplah penglihatan yang dinyatakan kepadanya.

Orang-orang banyak mulai mengumpulkan kayu-kayu bakar, di antaranya orang-orang Yahudi, terutama zealot juga berbagian. Pada waktu mereka akan menyalibkan dia dan kemudian supaya dibakar, dia berkata, ”Biarkan aku seperti ini. Karena Dia yang memampukan aku menahan terhadap api akan memampukan aku berada di atas onggokan api ini tidak tergoyah, tanpa harus kamu salibkan.”

Oleh sebab itu mereka tidak menyalibnya, hanya mengikat dia dengan tangan di belakang, seperti seekor domba dari kawanan domba yang siap dikorbankan, korban bakaran yang berkenan kepada Allah, dia memandang ke langit dan berdoa.

Setelah Polycarp selesai mengucapkan doanya, api dinyalakan. Dan kobaran api menyala dengan maraknya, tetapi api membentuk seperti kapal yang sedang berlayar tanpa membakar tubuhnya. Melihat hal itu, penonton meminta algojo untuk menikam dia dengan pisau belati. Darah mengalir deras dari tubuh Polycarp dan akhirnya ia meninggal.[7]

Demikianlah Polycarp mati martir demi mempertahankan iman kepercayaannya dan menjadi suatu teladan yang cukup berharga bagi jemaat zaman itu dan bagi kita pada zaman sekarang ini. Bagaimana dengan kita, orang Kristen yang hidup di zaman ini, beranikah kita mengambil langkah seperti Polycarp yang menjaga iman dengan murni dan tidak berkompromi sedikit pun?

Budiman Thia

Redaksi Umum PILLAR


[1] Philip Schaff, Volume II Ante-Nicene Christianity A.D. 100-325, History of the Christian Church, Grand Rapids: Eerdmans, Fifth Edition, 1985, hal. 633

[2] Ibid, hal. 664-665

[3] Ibid, hal. 667 

[4] Cyril C. Richardson, Volume I Early Christian Father, The Library of Christian Classics, Philadelphia: The Westminster Press, 1953, hal. 123-124

[5] Eusebius Pamphilus, The Ecclesiastical History, terj. Christian Frederick Cruse, Grand Rapids: Baker Book House, Sixth Printing, 1971, hal. 142

[6] Ibid, hal. 144

[7] Cyril C. Richardson, Volume I Early Christian Father, The Library of Christian Classics, Philadelphia: The Westminster Press, 1953, hal. 150-154

 

Budiman Thia

Agustus 2006

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Akhirnya, kita harus sadar, semakin kita mencoba untuk menarik semuanya untuk diri kita, maka kita akan semakin...

Selengkapnya...

SHALOM, PAK TONG TERIMA KASIH SEKALI, SAYA SANGAT DIBERKATI SEKALI DENGAN PENGAJARANPAK TONG INI, KAPAN YA PAK TONG...

Selengkapnya...

Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲