Artikel

Potensi dan Tantangan Kehidupan Bergereja dalam Konteks Masyarakat Urban

Gereja
Beberapa bulan lalu Buletin PILLAR membahas tema mengenai Community of the Kingdom. Berkaitan dengan tema ini, penulis tergerak untuk memikirkan secara lebih spesifik mengenai tema persekutuan orang-orang percaya dalam konteks masyarakat urban. Jika kita melihat GRII sendiri, cukup banyak cabang yang dirintis dan didirikan dalam konteks kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Batam. Juga termasuk beberapa kota besar di luar negeri seperti Singapura, Kuala Lumpur, Berlin, Munich, Melbourne, Sydney, dan Boston.[1] Sebagai satu tubuh Kristus, sudah sewajarnya jika kita sama-sama menggumulkan tema ini, agar kita dapat lebih peka dan bijaksana dalam hidup bergereja di tengah-tengah kehidupan kota yang penuh dengan segala kemungkinan dan sekaligus tantangan.

Sebagai permulaan, ada baiknya untuk sekali lagi kita sama-sama merenungkan tema dasar mengenai Gereja. Tema ini sebetulnya pernah dibahas dalam Buletin PILLAR edisi-edisi yang telah lalu. Sebut saja artikel mengenai Gereja Tuhan, Gereja dan Kehidupan Bergereja, dan Gereja dan Kerajaan Allah.[2] Orang Kristen tidak dipanggil untuk hanya berelasi dengan Tuhan dalam level privat dan individu semata. Di sisi yang lain, kehidupan bergereja juga bukan hanya sekadar kumpulan (baca: gerombolan) orang percaya yang tanpa tujuan.[3] Gereja adalah orang-orang yang dipilih Bapa, dikuduskan Roh, dan menerima percikan darah Kristus. Gereja merupakan satu kesatuan sebagai tubuh Kristus, dan sudah seharusnya menjalankan kehendak Tuhan sebagai Kepala Tubuh. Hanya dengan pertolongan dan pimpinan Roh Kudus saja kita, orang-orang berdosa ini, dimampukan untuk melakukan apa yang dikehendaki Bapa.

Sedikit menengok ke belakang, Gereja pada masa permulaan pernah menghadapi situasi yang mirip dengan konteks masyarakat di kota besar zaman sekarang. Perlu diingat bahwa jemaat mula-mula dirintis dalam kota besar Yerusalem dan memiliki anggota jemaat yang terdiri dari banyak etnis dan golongan. Dengan jumlah awal jemaat 3.000 orang dan semakin hari semakin bertambah secara pesat, beberapa tantangan pun mulai muncul[4]. Timbul sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka terabaikan. Dalam perkembangannya sampai Kisah Para Rasul 11, Injil terus dikabarkan sampai ke kota besar Antiokhia (ibukota Siria). Perlu kita sadari bahwa konteks Kerajaan Roma saat itu begitu unik. Tingkat pluralitas dan “globalisasi” begitu kental karena ratusan etnik dan kerajaan semuanya ditaklukkan dan dipersatukan dalam satu bendera kerajaan Romawi.[5] Dengan konteks seperti ini, arus perpindahan penduduk begitu deras terjadi antardaerah dalam wilayah kerajaan Romawi. Antiokhia, yang adalah kota terbesar ketiga dari kerajaan Romawi, memiliki tingkat kepadatan dan sekaligus keragaman penduduk yang begitu tinggi.[6] Lengkap dengan segala rupa-rupa kemungkinan, potensi, dan permasalahan yang ada. Dan yang lebih menarik, justru dalam kota Antiokhialah banyak orang yang bertobat, menerima Kristus, dan mereka pertama kalinya disebut sebagai orang ‘Kristen’ (pengikut Kristus).[7]

Kota
Setelah kita sedikit merenungkan mengenai pengertian Gereja dan konteks jemaat mula-mula, penulis akan melanjutkan untuk membahas beberapa perspektif Alkitab mengenai kota. Ketika kita memikirkan tentang “kota”, mungkin yang langsung terpikir adalah mengenai kesibukan dan kepadatan kota, arus materialisme dalam pusat-pusat bisnis di kota besar, polusi, dan kemacetan kota (khususnya Jakarta), sekularisme yang menggerogoti masyarakat kota, dan berbagai hal negatif lainnya. Dr. Tim Keller membuat pernyataan yang menarik tentang hal ini. Dalam Kitab Kejadian, Allah yang menciptakan segala ciptaan (termasuk institusi keluarga), kemudian memerintahkan manusia untuk menjaga dan mengusahakan taman. Taman ini nantinya akan diperkembangkan menjadi sebuah kota (bandingkan dengan Ibrani 11:10 dan Wahyu 21-22). Setelah manusia jatuh dalam dosa, memang ada banyak keluarga yang rusak dan berantakan. Namun apakah berarti kita akan membiarkan dan membuang keluarga? Tentu tidak! Kita harus mengembalikan makna dan fungsi keluarga sesuai yang Tuhan sudah tentukan. Demikian juga halnya dengan kota. Kita tidak seharusnya berdiam diri, apatis, apalagi melarikan diri. Kita justru harus menjalankan peran kita untuk mengembangkan dan mengembalikan makna dan fungsi kota sesuai dengan kehendak Tuhan.[8]

Sedikit melihat dari perspektif sejarah, permulaan konsep tentang kota muncul ketika manusia yang tadinya hidup berburu dan berpindah-pindah, akhirnya mulai memikirkan untuk tinggal menetap. Kehidupan yang nomaden dan berburu hewan kemudian mulai berubah menjadi kehidupan yang menetap dan bercocok tanam. Dari titik ini, mulai dikembangkan berbagai aspek fasilitas dan infrastruktur untuk mendukung kehidupan yang menetap ini. Mulai dari tempat penyimpanan makanan, tempat tinggal, fasilitas untuk irigasi, dan lain-lain. Hal ini kemudian terus berkembang sampai menjadi peradaban-peradaban besar yang banyak berpusat di kota.[9] Dalam konteks sekarang, fasilitas-fasilitas pendukung tersebut menjadi begitu lengkap dan beragam. Mulai dari tempat berbelanja, tempat hiburan, kawasan bisnis, sarana transportasi, sistem penampungan air, penataan taman kota, pusat pemerintahan, dan masih banyak lagi.

Magnifier
Kembali kepada perspektif dari Dr. Tim Keller, kota dianalogikan sebagai sebuah kaca pembesar (magnifier). Kaca pembesar ini berlaku untuk segala hal yang baik, dan juga sekaligus yang buruk. Segala hal baik dan buruk yang tadinya mungkin sudah ada dan muncul di lingkungan pedesaan/daerah rural/sub-urban, akhirnya diekspos dengan lebih jelas dan intens dalam lingkungan urban. Dengan segala kemungkinan solusi, kekayaan perspektif, dan derasnya interaksi dengan berbagai macam kalangan, lingkungan kota telah luar biasa berhasil menggali dan mengeluarkan segala macam kebaikan (dan sekaligus kerusakan) dalam diri manusia. Kota telah mengekspor segala pengaruh politik dan ekonomi, kemajuan inovasi, musik, ketajaman pemikiran-pemikiran mutakhir, lifestyle, sekaligus dengan segala macam berhala dan berbagai jenis kerusakannya. Dalam Alkitab sendiri, salah satu bagian yang menarik untuk kita cermati adalah Kejadian pasal 4. Kain yang ditulis telah pergi dari hadapan Tuhan akhirnya justru “sukses” mendirikan suatu kota. Dalam kota yang didirikan Kain, berbagai aspek kebudayaan ternyata berkembang dengan subur dan pesat. Mulai dari peternakan, seni kecapi dan suling, kerajinan tembaga dan besi, dan syair. Namun di saat yang sama, tindakan kriminal, kekerasan, pembunuhan dan lirik-lirik syair yang penuh dengan kedengkian, dendam, dan kebencian juga merebak dengan pesat di tengah-tengah kota yang Kain dirikan.

Terbuka
Sangat menarik untuk direnungkan bahwa atmosfer kota telah membuat seseorang lebih terbuka dengan berbagai macam ide dan perspektif yang baru. Orang yang datang ke kota secara mental sadar bahwa ia akan bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai negara, daerah, atau budaya yang berbeda. Cukup kontras dengan lingkungan desa/rural, komposisi dan variasi masyarakat lebih homogen. Sedikit variasi perbedaan mungkin menjadi terlihat begitu mencolok dan cenderung sulit diterima. Maka dari itu, setidaknya orang-orang yang tinggal di lingkungan kota menjadi lebih siap untuk mendengarkan dan berusaha mengerti (walau tidak harus setuju) perspektif lain yang mungkin saja baru ia dengar atau terima. Karena alasan ini pula, proklamasi Injil juga bisa diterima dengan lebih terbuka dan reseptif dalam konteks masyarakat urban. Realitas seperti ini bisa kita lihat dalam Kisah Para Rasul 17. Saat itu, Paulus sedang berada dalam kota Atena. Ternyata di kota itu, ada sekelompok orang yang sangat terbuka dan kerjanya hanya untuk mengatakan dan mendengar segala sesuatu yang baru.[10] Orang-orang ini kemudian mendengarkan dengan saksama pemaparan Injil yang disampaikan Paulus. Walau kita juga tahu, pada akhirnya memang ada orang-orang yang mengejek dan tidak menerima Injil. Tetapi di saat yang sama, juga ada orang-orang yang justru menjadi percaya dan menggabungkan diri. Salah satunya adalah Dionisius yang adalah anggota majelis Areopagus.

Haus
Memang arus materialisme dan sekularisme menyerang masyarakat kota dengan begitu gencar. Namun di saat yang sama, sangat banyak orang yang kesepian, menggumulkan makna dan arah hidup, dan mencari sesuatu yang melampaui aspek materi semata. Justru di lingkungan seperti ini, banyak jiwa yang menjerit karena memerlukan pancaran air segar bagi kekeringan jiwa mereka. Tidak heran, dalam konteks sekarang, aktivitas relaksasi melalui yoga dan meditasi semakin populer. Manusia-manusia kota yang sudah penat bekerja dan sekaligus memiliki kemapanan, sangat memerlukan “peristirahatan dan perteduhan spiritual”. Kota dapat dilihat sebagai ladang yang sudah begitu menguning dan siap untuk dituai. Dr. Tim Keller juga memaparkan bahwa dalam kota-kota peradaban kuno, kerap kali ditemukan ziggurat sebagai tempat pemujaan dewa-dewa.[11] Manusia yang adalah gambar dan rupa Allah, yang sudah ditanamkan bibit agama (seed of religion/sense of divinity), tidak mungkin bisa hidup sama sekali terputus dari Allah dan aspek-aspek spiritual.[12] Setidak-tidaknya, dorongan yang sangat mendasar tersebut akhirnya terpancar melalui penyembahan berhala karena manusia sudah jatuh dalam dosa dan tidak mungkin mampu mencari Allah yang sejati.[13]

Arus Urbanisasi
Secara arus dan jumlah, perpindahan penduduk menuju kota-kota besar terus-menerus bertambah dengan pesat. The Economist memprediksi bahwa pada tahun 2050, 64,1% (untuk negara berkembang) dan 85,9% (untuk negara maju) populasi manusia akan tinggal di dalam kota.[14] Khususnya di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia), akan muncul gelombang besar kalangan menengah ke atas yang baru, dan kalangan ini akan bergerak memenuhi kota-kota besar.[15] Arus pergerakan ini begitu nyata, deras, dan intens. Pertanyaannya sederhana, apakah kita sebagai Gereja sudah mempersiapkan diri dalam menangkap kesempatan hal ini? Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjawab tantangan pergumulan masyarakat kota? Setidaknya Gereja Tuhan harus peka dan mampu menjawab tantangan kota-kota besar dalam aspek-aspek berikut: supremasi Injil Kristus di tengah-tengah ilah-ilah kota (materi, kuasa, pencapaian, pengakuan, kemapanan, kenyamanan), integrasi antara iman Kristen dengan studi dan pekerjaan, mandat budaya sesuai dengan takaran masing-masing jemaat, persekutuan dan kedekatan antarjemaat di tengah-tengah padatnya kesibukan, istirahat sejati di dalam Kristus, dan keseimbangan pendekatan pemberitaan Injil baik melalui words ministry dan good-deeds ministry.

Garam dan Terang
Dalam bagian terakhir ini, penulis ingin mendorong agar kita bisa sama-sama menggumulkan peran dan bagian kita di gereja di mana kita ditempatkan. Saya sendiri berjemaat di Singapura. Satu kota yang unik karena mengalami kemajuan pesat dari negara terbelakang menjadi negara maju hanya dalam kurun waktu 40-50 tahun. Dengan segala kemajuan ekonomi, pendidikan, dan budaya, negara ini memiliki tantangannya sendiri. Walaupun mayoritas penduduknya hidup berkecukupan (bahkan mapan), cukup banyak orang yang hidup tidak puas, tertekan, dan cenderung mengeluh. Memang bisa dimengerti juga biaya hidup di negara ini semakin menggila, terutama harga rumah dan kendaraan bermotor. Di saat yang sama, golongan orang yang mengaku diri sekuler dan free-thinker juga memiliki proporsi yang signifikan.[16]

Menurut penulis sendiri, salah satu aspek yang jauh lebih berbahaya (dan cenderung tidak terlalu diwaspadai) terhadap iman Kristen adalah spirit meritokrasi. Memang pemikiran ini sebetulnya sangat baik karena menekankan tidak adanya diskriminasi secara bias berdasarkan ras, suku, dan agama. Selama seseorang bisa menunjukkan prestasi dan pencapaian, orang tersebut berhak mendapatkan posisi atau penghargaan yang sesuai. Namun masalahnya, spirit ini juga memiliki efek samping yang tidak sedikit. Terlebih lagi, hal ini sudah tertanam dengan begitu kuat, bahkan semenjak anak-anak dalam tingkat SD.[17] Jika tidak hati-hati, manusia akhirnya menjadi disamakan dengan mesin yang diharapkan terus menghasilkan (baca: memproduksi) sesuatu. Semakin banyak output dan results berarti semakin baik. Seseorang bisa diterima atau diakui hanya kalau ia bisa mencapai/menghasilkan sesuatu. Kelemahan, ketidakmampuan, dan keterbatasan dianggap sebagai sesuatu yang begitu tabu dan memalukan.

Dalam konteks negara seperti ini, tentunya menjadi lebih sulit untuk bisa merenungkan dan menghidupi sentralitas Injil. Secara sadar ataupun tidak sadar, kita menjadi berharap Tuhan menerima kita berdasarkan segala pencapaian yang kita lakukan. Kita mungkin merasa lebih dari orang lain karena mungkin terlibat lebih banyak pelayanan, mengikuti kegiatan-kegiatan, menghafal lebih banyak ayat, mengerti bermacam-macam pengajaran, “mempertobatkan” lebih banyak orang, dan sebagainya. Terlebih lagi, menjadi tantangan yang sangat besar untuk bisa memerhatikan orang-orang yang lebih lemah, marginal, tidak menonjol, kurang berpotensi, dan lain-lain. Kita lupa bahwa Kristus telah mati bagi kita ketika kita masih menjadi musuh Allah. Sama sekali tidak ada pencapaian apa-apa. Yang ada justru totalitas kegagalan, pemberontakan, dan ketidakberesan. Dan bahkan setelah menerima Kristus pun, kita masih berkali-kali mendukakan Tuhan. Tetapi Tuhan dalam kesabaran-Nya terus menerima dan sekaligus mendidik anak-anak-Nya.[18]

Dr. Tim Keller kerap menekankan bahwa Injil yang sejati sudah seharusnya memiliki sifat transformatif dan menyentuh langsung kultur yang ada.[19] Salah satu manifestasi langsung dari hal ini sebenarnya adalah eksistensi dari Gereja Kristus sendiri. Gereja seharusnya berani berdiri tegak di tengah-tengah arus kultur yang sudah dilumuri lumpur dosa. Keberanian dalam menunjukkan identitas sesuai kebenaran firman inilah yang justru mampu menjadi daya tarik tersendiri. Tentunya kita masih ingat konteks jemaat mula-mula. Di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai macam suku dan etnis yang mungkin dipenuhi berbagai macam tembok, kecurigaan, ketidakpercayaan, dan tendensi konflik, Gereja mula-mula mampu mengikis habis hal-hal tersebut. Bahkan justru dengan dorongan kasih Kristus, jemaat mula-mula mampu hidup saling mengasihi, saling berbagi, saling menanggung, dan memikirkan kepentingan orang lain.[20]

Penulis juga rindu agar di tengah-tengah konteks negara Singapura yang maju dan kompetitif, Gereja Tuhan juga mampu berdiri tegak dan menunjukkan peran dan keunikannya sebagai garam dan terang. Biarlah justru dalam konteks Gereja, kita boleh belajar memerhatikan orang-orang yang tidak terpandang, tidak terlalu berpotensi di mata dunia, marginal, dan lemah, justru sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Kiranya Gereja Tuhan boleh memiliki kekuatan untuk menerima dan mengampuni kesalahan orang lain. Sungguh sebuah penyangkalan diri yang besar untuk bisa mengakui, menerima, dan mengampuni kesalahan di tengah-tengah derasnya arus meritokrasi dan kultur Timur yang begitu mengidolakan pride dan muka sendiri.[21] Biarlah dalam setiap momen-momen ibadah dan saat teduh, Gereja Tuhan boleh diingatkan mengenai identitas dan posisinya di hadapan Tuhan. Terlepas dari segala macam aksesori pencapaian, pendapatan bulanan, gelar akademis, kuasa, dan kemuliaan yang di luar Tuhan, biarlah hari demi hari Gereja Tuhan boleh disadarkan bahwa kita sebenarnya adalah manusia-manusia yang hidup begitu rusak, sudah selayaknya binasa, dan hanya bisa mengemis anugerah kepada Sang Sumber sembari menunggu kedatangan kembali Sang Raja untuk melepaskan Gereja-Nya dari dunia yang berdosa ini.

Yang menjadi harapan terakhir dari penulis, semoga artikel singkat ini bisa sedikit menggugah dan memberikan perspektif kepada pembaca PILLAR dalam melihat potensi dan tantangan dalam konteks masyarakat urban. Artikel ini tidak diharapkan untuk menunjukkan langkah langsung atau jalan instant untuk menyelesaikan segala persoalan dan tantangan yang ada. Justru sebaliknya, melalui perspektif dan contoh studi kasus (negara Singapura) yang sudah dipaparkan, biarlah kita bisa sama-sama berdoa dan menggumulkan peran kita masing-masing di mana pun kita ditempatkan.

Juan Intan Kanggrawan
Redaksi Bahasa PILLAR

Endnotes:
[1] http://www.grii.org/
[2] http://www.buletinpillar.org/artikel/gereja-tuhan, http://www.buletinpillar.org/artikel/gereja-dan-kehidupan-bergereja#hal-2, http://www.buletinpillar.org/artikel/gereja-dan-kerajaan-allah.
[3] http://www.buletinpillar.org/artikel/bersekutu-or-bergerombol.
[4] Kisah Para Rasul 6:1.
[5] Love for the City – Tim Keller: http://www.youtube.com/watch?v=lVdZKRywKWY
[6] http://global.britannica.com/EBchecked/topic/28297/Antioch.
[7] Kisah Para Rasul 11:26.
[8] Why God Made Cities – Tim Keller: “If sin has twisted the city as it’s twisted the family, and God invented the city, then we don’t abandon it—we build it”.
[9] http://www.bbc.co.uk/history/ancient/egyptians/egypt_importance_01.shtml, http://www.ancient.eu.com/Mesopotamia/.
[10] Hal ini tertulis dalam Kisah Para Rasul 17:21. Pada masa itu, ada sekelompok orang yang kerjanya hanya mau mendengarkan dan mendiskusikan sesuatu yang baru. Hal ini belum tentu sepenuhnya baik dan berdampak positif terhadap iman Kristen. Ada ekses negatif ketika seseorang menganggap enteng suatu khotbah hanya karena ia pernah mendengar poin itu sebelumnya. Sebagai orang Kristen, justru sering kali kita perlu terus-menerus diingatkan akan kebenaran-kebenaran firman yang sudah pernah kita dengar. Misalkan saja pesan sentral mengenai Kristus, penebusan, dan perintah untuk saling mengasihi.
[11] A Biblical Theology of the City – Tim Keller.
[12] Roma 1:19-23 dan http://theologiainvia.wordpress.com/2010/04/05/calvin-general-revelation/.
[13] Roma 1-3.
[14] http://www.economist.com/news/special-report/21564998-cities-are-turning-vast-data-factories-open-air-computers.
[15] http://www.mckinsey.com/insights/asia-pacific/the_archipelago_economy.
[16] https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/sn.html, http://en.wikipedia.org/wiki/Irreligion_in_Singapore.
[17] https://www.healthxchange.com.sg/News/Pages/under-12-and-stressed-out.aspx, http://www.moe.gov.sg/education/primary/changes/#school-based-excellence.
[18] Justified Sinners – Tim Keller: http://www.youtube.com/watch?v=VzAzIAyBAaM.
[19] Gospel Centered Ministry – Tim Keller: http://www.youtube.com/watch?v=FfEnPeKUQcc. Humble Cultural Engagement – Tim Keller: http://www.youtube.com/watch?v=xMgsZKzZp-g.
[20] Kisah Para Rasul 2:42-47.
[21] Dua seri khotbah Pdt. Billy Kristanto mengenai “Anak yang Hilang”.

Juan Intan Kanggrawan

November 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲