Artikel

Redemptive History, Covenantal Relationship, and Christian Identity

Konteks kehidupan modern sering kali membutakan kita akan banyak hal yang pernah ada di dalam sejarah. Bangsa dan masyarakat di dalamnya melupakan atau bahkan mulai meninggalkan budaya yang telah dibentuk berabad-abad. Generasi baru di dalam sebuah keluarga mulai meninggalkan bahkan melupakan tradisi yang sudah terbentuk di dalam keluarga tersebut. Yang lebih ironisnya, hal ini terjadi juga saat ini di dalam keluarga besar Kerajaan Allah, yakni Gereja Tuhan. Banyak generasi muda Kristen yang melupakan sejarah bahkan perjuangan umat Allah dalam meneruskan estafet kehendak Allah di dalam Kerajaan-Nya dari zaman ke zaman. Padahal tradisi dan budayalah yang telah membentuk identitas keberadaan kita saat ini, seperti sebuah pepatah yang mengatakan, “A man who lost his history, also lost his identity.” (Seseorang yang lupa atau kehilangan sejarahnya, adalah seorang yang juga kehilangan identitasnya.) Karena itu, sebagai generasi muda, kita tidak boleh melupakan sejarah yang telah membentuk identitas dan keberadaan kita saat ini.

Hal ini sangat penting untuk kita pikirkan dan sadari karena semangat zaman postmodern mendorong generasi muda untuk melupakan sejarah. Kita digoda untuk berpikir bahwa sejarah adalah hal yang sudah usang sehingga kita harus mendobrak dan membuat suatu tradisi yang baru. Semangat seperti inilah yang sering kita jumpai pada generasi muda saat ini. Mereka begitu responsif terhadap hal-hal yang dianggap sebagai inovasi, dobrakan dari aturan atau tradisi yang ada, tetapi sangat pasif di dalam menghargai sejarah. Semangat atau sikap seperti ini tentu saja mengandung bahaya di dalamnya. Seperti yang Hegel pernah katakan, “Manusia belajar dari sejarah bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah.” (Aus der Geschichte lernen wir, daß wir nichts aus der Geschichte lernen.) Ketika manusia tidak pernah belajar dari sejarah, manusia akan mengulangi kembali kesalahan yang pernah terjadi di dalam sejarah. Tanpa adanya pembelajaran dari sejarah, tidak mungkin kita dapat menjadi orang Kristen yang dapat konsisten berdiri menghadapi berbagai tantangan zaman, karena kita tidak memiliki pijakan tentang siapa kita seharusnya.

Permasalahan seperti ini tidak hanya terjadi pada zaman ini saja, tetapi di sepanjang sejarah manusia, khususnya di antara umat Allah, masalah seperti ini berkali-kali terjadi. Alkitab dengan jelas mencatat kisah jatuh bangunnya Israel di dalam mengkuti Allah. Ketika Tuhan mengirimkan seorang nabi dan menyatakan karya-Nya dengan spektakuler, satu generasi sadar dan bertobat. Mereka kembali berusaha untuk menghidupi identitasnya sebagai umat Allah. Namun ketika berganti generasi atau bahkan masih di dalam generasi yang sama, mereka bisa kembali lupa identitas mereka dan kembali berkompromi dengan berbagai alasan. Yang lebih parah lagi, bukan hanya berkompromi dan meninggalkan Allah, mereka secara terang-terangan melawan-Nya dengan menganiaya bahkan membunuh nabi-nabi yang Allah utus. Inilah jatuh bangunnya umat Allah di dalam sejarah.

Sebagai pemuda di dalam Gerakan Reformed Injili, kita perlu dengan baik-baik kembali merenungkan bagaimana seharusnya kita hidup sebagai bagian dari umat Allah. Kita harus menyadari bahwa kita tidak hanya hidup di dalam relasi dengan zaman ini saja, tetapi kita terkait juga baik dengan sejarah di masa lampau maupun zaman yang akan datang. Sebagai umat Allah kita harus menyadari bahwa kita adalah bagian dari sejarah keselamatan yang Allah kerjakan sejak masa manusia pertama. Sejarah keselamatan ini akan terus berlangsung hingga Kristus datang kedua kalinya dan mengakhiri segala sesuatu di dunia ini. Di dalam konteks inilah kita akan sama-sama merenungkan sebuah tema yang juga merupakan salah satu ciri khas Theologi Reformed, yaitu theologi perjanjian (covenant theology).

Covenantal Relationship
Di dalam theologi perjanjian, hal pertama yang harus kita ketahui adalah adanya ikatan perjanjian antara Allah dan umat yang telah ditebus atau dibebaskan-Nya. Hal ini penting untuk menyadarkan kita bahwa keberadaan kita saat ini pun merupakan bagian dari ikatan perjanjian ini. Namun, ikatan perjanjian di dalam konteks ini bukanlah perjanjian biasa. Perjanjian yang dimaksudkan di sini adalah perjanjian yang sangat serius yang memiliki konsekuensi sangat berat jikalau dilanggar. Konsep covenant di dalam Perjanjian Lama bisa dimengerti sebagai persetujuan antara kedua belah pihak yang setara. Namun, di dalam Alkitab konsep covenant yang lebih sering muncul adalah perjanjian antara raja yang lebih berkuasa dan raja yang lebih kecil kuasanya. Di dalam konteks ini, isi perjanjian tidaklah bersifat timbal balik, tetapi ditentukan secara sepihak oleh raja yang lebih berkuasa.

Di dalam setiap perjanjian, umumnya terdapat lima hal yang dicantumkan:
Nama dari raja yang lebih berkuasa. Bagian ini untuk menyatakan identitas dari raja tersebut.
Latar belakang dari perjanjian ini. Pada bagian ini sang raja menyatakan keuntungan apa saja yang sudah diberikan pada masa lalu.
Aturan yang merupakan harapan dari raja yang lebih berkuasa, untuk dipatuhi oleh raja yang lebih kecil.
Sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa yang patuh akan mendapatkan berkat, tetapi yang tidak patuh akan mendapatkan kutuk.
Provisi untuk menjadi himbauan untuk umum.

Dan kelima elemen ini pun terdapat di dalam pemberian 10 Hukum Taurat:
Allah menyatakan diri-Nya dengan mengatakan, “Akulah TUHAN, Allahmu.”
Allah juga menyatakan karya dan berkat yang sudah diberikan pada masa lalu bagi Israel, dengan menyatakan diri-Nya sebagai pembebas mereka dari Mesir.
Allah memberikan 10 Hukum Taurat sebagai peraturan yang harus dipatuhi oleh bangsa Israel. Keempat hukum pertama berkaitan dengan tuntutan untuk menyatakan kesetiaan yang eksklusif kepada satu Allah dan keharusan membuang penyembahan kepada allah-allah yang lain. Hukum yang lainnya merupakan implikasi dari komitmen ini.
Sanksi dari pelanggaran pun dinyatakan dalam Keluaran 20:5-6, 7b, 12b.
Pada bagian akhir Kitab Ulangan (Ul. 31:9-13) dinyatakan instruksi untuk mengajarkan perjanjian ini secara turun-temurun setelah kematian Musa.

Aturan-aturan yang diberikan dalam perjanjian ini sangatlah penting untuk dipatuhi karena bersifat krusial bagi relasi kedua pihak perjanjian ini. Pelanggaran terhadap aturan ini berarti pelanggaran terhadap perjanjian tersebut. Pelanggaran perjanjian ini memiliki konsekuensi yang sangat berat, yaitu berkaitan dengan hidup dan mati. Dengan kata lain, pelanggar perjanjian harus membayarnya dengan kematian. Inilah relasi perjanjian (covenantal relationship) antara Allah dan ciptaan-Nya, khususnya umat pilihan-Nya. Setiap kali kedua belah pihak melakukan covenant, mereka pasti akan menjalankan suatu ritual yang sarat dengan makna (hal ini akan dijabarkan lebih detail pada artikel selanjutnya).

Di dalam covenantal relationship, kita perlu menyadari bahwa Yahweh adalah Kepala Perjanjian dari Israel. Bahkan Yahweh juga adalah Kepala Perjanjian dari seluruh ciptaan di dalam alam semesta ini. Sebagai ciptaan yang terikat di dalam perjanjian, kita harus menyadari bahwa ada tanggung jawab yang harus kita jalankan sebagai wujud pengabdian kita kepada Allah. Di dalam konteks ini, kita dapat mengerti kedaulatan Allah atas seluruh ciptaan-Nya sebagai Covenantal Lordship.

Selain covenantal relationship, Alkitab menggunakan beberapa cara untuk menggambarkan relasi antara Allah dan umat-Nya. Salah satunya adalah menggunakan relasi pernikahan, di mana Allah sebagai Mempelai Laki-laki, dan kita sebagai mempelai perempuannya. Gambaran relasi inilah yang juga digunakan dalam Kitab Hosea, yang dibahas dalam artikel lain di Buletin PILLAR bulan Januari ini. Bahkan di dalam Alkitab, relasi pernikahan pun dianggap sebagai salah satu bentuk dari covenantal relationship (Yeh. 16:8; Mal. 2:14). Di dalam Kitab Hosea, kita dapat melihat gambaran yang sangat ironis, di mana Israel dianggap sebagai seorang pelacur yang diangkat menjadi istri seorang nabi tetapi masih terus melacurkan dirinya. Gambaran yang ironis ini adalah gambaran kehidupan baik bangsa Israel maupun diri kita sebagai umat Allah yang sering kali berpaling dari Allah kepada ilah-ilah yang lain. Kita hidup sebagai mempelai perempuan yang berulang kali berkhianat terhadap janji setia kita kepada Allah sebagai Mempelai Laki-laki.

Gambaran relasi lain yang digunakan adalah relasi orang tua dan anak. Allah digambarkan sebagai bapak dan kita sebagai anak-anak yang diadopsi oleh-Nya (Mat. 12:50; Rm. 8:14-17; Gal. 4:6; Ef. 1:5). Kita diadopsi sebagai anak-anak Allah karena Kristus telah menebus dan menjadi Tuan atas hidup kita. Karena kita adalah milik Kristus, kita adalah bagian dari keluarga Allah. Di dalam berbagai gambaran relasi ini, satu hal yang paling fundamental adalah adanya tuntutan untuk setia kepada-Nya yang telah menyelamatkan kita dari kematian dan memanggil kita untuk melayani-Nya dengan taat kepada firman-Nya. Di dalam perspektif covenant ini, kita dapat mengerti bahwa kisah Alkitab adalah kisah dari Allah yang membuat perjanjian dan mengerjakan perjanjian ini di dalam sejarah. Melalui perspektif inilah kita sebagai orang Kristen dapat mengerti identitas kita yang sesungguhnya.

Covenantal Relationship and Christian Life
Berkaitan dengan relasi perjanjian tersebut, secara garis besar John Frame membaginya menjadi tiga jenis covenant, yaitu the eternal covenant of redemption, the universal covenant, dan the new covenant. Frame membedakan ketiga jenis covenant ini dengan “time-specific covenant” yang lebih bersifat kontekstual pada zamannya (Noachic Covenant, Abrahamic Covenant, Mosaic Covenant, Davidic Covenant, dll.). Bagi Frame, ketiga jenis covenant di atas lebih langsung berkait dengan kehidupan orang percaya secara umum, sedangkan time-specific covenant berdampak lebih besar terhadap orang-orang pada zaman yang terkait. Pada artikel kali ini, kita akan me-review ketiga jenis covenant ini secara umum. Sedangkan, time-specific covenant akan dibahas dalam artikel-artikel selanjutnya.

The Eternal Covenant of Redemption
Jenis covenant yang pertama ini sepenuhnya bersifat supra-temporal atau tidak terikat di dalam wadah waktu ciptaan. Covenant ini tidak memiliki awal di dalam waktu, atau dengan kata lain tidak ada tanggal atau suatu waktu di mana ritual covenant ini dilakukan. Karena sifatnya yang supra-temporal, maka covenant ini berdampak secara langsung terhadap seluruh umat pilihan Allah di segala zaman. Pada dasarnya, covenant ini merupakan perjanjian antara Allah Bapa dan Allah Anak. Dalam covenant ini, Allah Bapa menyerahkan kepada Allah Anak sekelompok manusia untuk menjadi umat pilihan-Nya (Ef. 1:4, 5 – Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya). Perjanjian ini tidak hanya melibatkan Allah Bapa dan Anak saja, tetapi juga Roh Kudus. Allah Bapa dan Anak sepakat untuk mengirimkan Roh Kudus ke dalam dunia, menjadi saksi dari Kristus, untuk mengajarkan umat Allah mengenai Dia (Yoh. 14:26) dan menyatakan kepada mereka tentang hal yang akan datang (Yoh. 16:13). Di dalam konteks ini, Roh Kudus berkarya di dalam melahirbarukan (Yoh. 3:5) dan membebaskan umat Allah dari dosa (Rm. 8:2). Seluruh yang dikerjakan oleh Allah Roh Kudus adalah hal yang sudah direncanakan sebelum alam semesta ini diciptakan. Oleh karena itu, covenant ini berdampak kepada seluruh orang percaya di setiap zaman.

The Universal Covenant
Jenis covenant yang kedua adalah covenant yang berkaitan dengan dunia ciptaan. Di dalam covenant ini dinyatakan bahwa Allah adalah Raja dari seluruh alam semesta ini. Walaupun istilah Allah sebagai Raja di dalam Alkitab dikaitkan dengan Israel, namun Allah juga adalah Raja atas seluruh alam semesta ini. Ia mengendalikan setiap detail ciptaan sehingga tidak ada satu pun yang dapat berjalan di luar dari kontrol-Nya sebagai Allah. John Frame menyatakan, “Anything God creates is necessarily under His Lordship: under His control, subject to His authority, confronted by His presence.” Sehingga ketika manusia diciptakan, secara otomatis kita berada di dalam ikatan perjanjian universal covenant tersebut. Kita semua diciptakan untuk tunduk terhadap kedaulatan Allah dan kehendak-Nya. Oleh karena itu, setiap manusia diciptakan di dalam suatu tuntutan moral yang bersifat covenant. Jikalau kita taat, kita akan memperoleh berkat, tetapi bagi yang memberontak akan mendapatkan kutuk. Di dalam konteks inilah kita dapat mengerti bahwa umat manusia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu covenant keeper dan covenant breaker.

The New Covenant
Melalui jenis covenant yang ketiga ini, kita akan mengerti bahwa seluruh wahyu, seluruh covenant yang terjadi sebelumnya, tergenapi semua di dalam diri Kristus. Melalui konsep inilah kita dapat lebih mengerti mengapa Alkitab menjadikan Kristus sebagai pusat atau tema utama. Istilah new covenant digunakan untuk menjelaskan bahwa kita memiliki relasi yang baru dengan Allah, yaitu melalui Kristus. Melalui Injil, kita menyadari bahwa Kristus datang sebagai the Lord of the New Covenant, menggantikan Yahweh sebagai the Head of the Covenant. Hanya Allah yang datang mengambil peranan ini, sehingga jelaslah bahwa di dalam hal ini Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Allah di dalam rupa manusia. Ia adalah the Lord of the Covenant yang datang untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Namun, new covenant ini tidak melibatkan seluruh umat manusia. New covenant ini hanya melibatkan orang-orang yang telah ditebus dan masuk menjadi anggota Gereja (invisible church) yang memiliki iman di dalam Kristus, menerima anugerah keselamatan, dan berkat dari covenant tersebut. Di dalam new covenant juga terdapat aspek universal karena anugerah keselamatan Allah ditujukan juga untuk pengutusan gereja dalam memberitakan Injil kepada dunia, menjadikan murid-murid dari berbagai bangsa, dan menggenapi janji-janji Allah. Di dalam new covenant-lah seluruh kegenapan covenant Allah terpenuhi secara tuntas.

John Frame menjelaskan lebih lanjut bahwa ketiga jenis covenant ini terkait satu dengan lainnya secara perspektif. The eternal covenant (normative perspective) mengatur peranan dari universal covenant dan new covenant. The universal covenant (situational perspective) memaparkan relasi Allah dengan setiap fakta dari ciptaan, termasuk umat Allah di sepanjang sejarah, interpretasi dari fakta tersebut yang terkait dengan kekekalan. The new covenant (existential perspective) menjamin, berdasarkan eternal dan universal covenant, bahwa tidak ada satu pun yang dapat memisahkan setiap umat pilihan Allah dari kasih Kristus (Rm. 8:35-39). Karena keterkaitannya secara perspektif, maka kita tidak dapat mengerti salah satu tanpa ada kaitannya dengan yang lain. Ketiga jenis covenant ini harus dimengerti di dalam kaitan satu dengan lainnya. Frame menyatakan demikian, “The three are perspectives for thinking about God’s comprehensive redemptive Lordship: an eternal plan formulated by God’s eternal wisdom, carried out by God’s mighty power in history, applied to the hearts of the people whom the Father has given to the Son.”

Christian Identity
Sebagai orang Kristen, kita harus benar-benar menyadari apa artinya identitas kita sebagai umat Allah. Manusia tidak pernah diciptakan untuk dengan seenaknya menggunakan hidup mereka. Kita semua diciptakan dengan suatu ikatan covenant, di mana kita memiliki hidup yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah. Bukan hanya kehidupan sebagai manusia secara umum saja, kita yang sudah menerima anugerah penebusan Kristus memiliki ikatan covenant yang lebih khusus lagi, yaitu hidup sebagai umat Allah. Ketika kita menerima Kristus menjadi Juruselamat dan Tuhan atas hidup kita, berarti hidup ini bukan lagi untuk kehidupan yang “bebas diperhamba oleh dosa mana pun”, tetapi hidup ini adalah hidup yang bebas untuk menjadi hamba Kristus untuk menjalankan perintah dan kehendak-Nya. Hanya di dalam kehidupan seperti inilah identitas sejati kekristenan dapat jelas terpapar bagi dunia ini.

Di sepanjang tahun ini artikel-artikel di Buletin PILLAR akan membahas mengenai kitab nabi-nabi kecil. Melalui pembahasan ini kita akan melihat bagaimana relasi Allah dengan umat-Nya digambarkan dalam kitab-kitab ini dan implikasinya terhadap kehidupan kita sebagai umat Allah yang hidup di zaman ini. Sedangkan artikel ini akan membahas beberapa tema besar di dalam theologi Perjanjian Lama, salah satunya adalah covenant theology, sebagai fondasi untuk kita dapat lebih mengerti kisah-kisah di dalam Perjanjian Lama, sekaligus implikasinya terhadap kehidupan kita di dalam zaman ini. Kiranya Tuhan menolong kita untuk makin mengerti kebenaran-kebenaran yang Ia sudah nyatakan di dalam Alkitab melalui kehidupan umat Allah pada masa Perjanjian Lama.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Januari 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

Apa indikator bahwa gerakan Pentakosta Kharismatik dapat disebut sebagai gerakan pemulihan berikutnya?

Selengkapnya...

Saya diberkati oleh tulisan ini. Tapi pada akhir-akhir tulisan ada bbrp hal yang mengganggu saya, kenapa tulisan2...

Selengkapnya...

Terimakasih atas renungannya sangata memberkati

Selengkapnya...

Terima kasih..sangat memberkati!

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲