Artikel

Reformation 500: Fungsi Interpretasi dalam Konteks Postmodern

I. Ilah Zaman
Zaman ini adalah zaman di mana inovasi dan teknologi berkembang dengan begitu pesatnya.[1] Hampir tidak ada bagian hidup yang tidak tersentuh oleh dahsyatnya perkembangan ini. Perkembangan-perkembangan terjadi di berbagai bidang, baik itu bioteknologi, teknologi informasi, transportasi, manufaktur, dan media. Contoh-contohnya begitu nyata di sekeliling kita, misalkan saja:

Jumlah data yang dihasilkan dua tahun (2012-2013) telah melebihi jumlah yang dihasilkan sejak permulaan peradaban manusia sampai tahun 2011. Data yang begitu berlimpah ini menjanjikan berbagai manfaat besar jika dapat digunakan dengan optimal. Misalkan saja, sebuah perusahaan pesawat terbang menggabungkan dan menganalisis data dari sistem internal, demografi kota, media sosial, kondisi cuaca, dan suhu ruangan secara real-time untuk memastikan servis dan reparasi pesawat secara preventif, efektif, dan tepat waktu, yang berdampak langsung kepada ketahanan kondisi mesin pesawat dan keselamatan penumpang.
Inisiatif Smart City di mana tata kota, perencanaan, dan infrastruktur kota digabungkan dengan kemajuan teknologi (terutama sensor) sehingga telah menghasilkan berbagai terobosan dan kemudahan. Berbagai manfaat dari aspek kesehatan, transportasi, lingkungan, keamanan bisa dirasakan dari inisiatif ini. Misalkan saja durasi lampu lalu lintas yang bisa otomatis disesuaikan tergantung padatnya lalu lintas dan waktu, juga intensitas terang lampu jalan yang otomatis berubah untuk mencegah terjadinya tindakan kriminal pada waktu dan daerah tertentu.
Human Genome Project yang dilaksanakan untuk memetakan genom manusia sampai tingkat nukleotid atau base pair dan untuk mengidentifikasi seluruh gen yang ada di dalamnya. Proyek ini diharapkan akan menghasilkan berbagai terobosan dalam bidang kesehatan.
Sebuah Mobile Phone yang begitu ringkas dan selalu tersedia dalam genggaman saat ini, memiliki kapasitas yang jutaan kali jauh lebih canggih dibandingkan dengan gabungan seluruh perangkat komputer NASA yang digunakan pada tahun 1969.
Perkembangan riset Artificial Intelligence, salah satunya adalah solusi IBM Watson, yang diharapkan bisa memberikan solusi automasi konsultasi (termasuk aspek tanya jawab) dan diterapkan secara masif di bidang kesehatan, hukum, pendidikan, dan perbankan.
Perencanaan visi transportasi Hyperloop yang dirancang dengan prinsip sebagai berikut: tidak dipengaruhi cuaca, memiliki kecepatan dua kali lipat pesawat terbang biasa, dan konsumsi energi yang rendah. Hyperloop bergerak dengan menciptakan tekanan rendah yang memungkinkan kapsul kendaraan bergerak dengan kecepatan yang amat tinggi. Meskipun masih mendapat berbagai perdebatan, pada tahun 2013, dilakukan estimasi jarak Los Angeles dan San Fransisco dapat ditempuh dalam waktu 35 menit.

Sadar atau tidak, manusia abad ini telah begitu tergantung terhadap teknologi.[2] Sangat sederhana cara kita menguji ketergantungan ini. Betapa mudah manusia menjadi begitu gelisah kalau dalam waktu satu minggu terpisah dari internet, telepon genggam, dan kendaraan. Hidup manusia seolah langsung menjadi kacau balau dan “hancur berkeping-keping” begitu terpisah dari tiga hal tersebut. Dari sudut pandang ini, penulis sedikit menyinggung definisi dasar mengenai ilah.

Ilah bukan saja suatu patung yang disembah, juga bukan hal-hal mengerikan/buruk yang menjerat/meracuni manusia semata. Ilah sesungguhnya bisa dimengerti sebagai hal yang lumrah, baik, dan normal, namun hal tersebut telah menggantikan posisi Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup manusia. Ilah bisa saja mengambil bentuk ambisi seseorang, keluarga, teman dekat, harta kekayaan, perasaan ingin dihormati, penampilan fisik, bakat/talenta, dan tentu saja, teknologi. Kebanyakan manusia zaman ini sepertinya lebih merasa membutuhkan teknologi dibandingkan Allah. Dengan mengerti atau memiliki teknologi tertentu, manusia merasa mendapatkan stabilitas, kemudahan, keamanan, akses, dan berbagai kemungkinan yang dapat terbuka lebar. Tidak heran, manusia dalam zaman ini begitu berlomba-lomba untuk membeli berbagai bentuk alat/teknologi yang paling baru/mutakhir.

Neil Postman dalam bukunya yang berjudul Technopoly juga memberikan berbagai peringatan dan analisis kristis mengenai teknologi.[3] Menurut Postman, perkembangan kebudayaan manusia dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tipe, dan teknopoli adalah tipe yang terakhir. Tiga tipe tersebut adalah sebagai berikut: pengguna teknologi (tool-using culture), teknokrasi (teknologi menjadi semakin dominan dan bersifat otonom), dan teknopoli. Nantinya dalam era teknopoli, masyarakat tidak lagi menggunakan teknologi sebagai alat pembantu semata (support system). Namun lebih jauh lagi, teknologi menjadi pusat, pembentuk, pemberi nilai, dan memiliki dampak masif dalam aspek politik, seni, edukasi, dan bahkan memberikan definisi ulang mengenai apa itu kebenaran. Dalam fase ini, manusia akan berada dalam status ketergantungan mutlak terhadap teknologi.

Dalam buku Transforming Vision oleh Brian Walsh dan Richard Middleton, dijelaskan ada tiga ilah utama yang bisa menelan umat manusia, yakni scientism, technicism, dan economism. Ilmu pengetahuan, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi dilihat sebagai motor utama yang menggerakkan seluruh masyarakat modern. Tiga elemen inilah yang sangat dipegang oleh kaum modern dan sekuler, dan banyak orang Kristen yang langsung menerima mentah-mentah tiga hal ini tanpa menggumulkan dan mempertimbangkan lebih jauh. Walsh dan Middleton menggunakan analogi patung pengelihatan Nebukadnezar dalam menjelaskan tiga hal ini, dan technicism dikaitkan dengan dada dan lengan patung yang terbuat dari perak. Technicism menjanjikan bahwa teknologi akan memberikan kebebasan yang lebih, akses kepada komoditas yang lebih, dan akhirnya membawa kepada kepuasan dan kebahagiaan yang lebih. Teknologi diangkat sedemikian tinggi dan tidak diteliti lebih jauh mengenai kebahayaannya. Padahal yang terjadi, manusia justru bisa merasa kesepian dan hidupnya tidak bermakna ketika dikelilingi oleh berbagai teknologi (handphone, TV, komputer, mobil) yang begitu canggih. Belum lagi dampak negatif seperti ketergantungan, pencemaran lingkungan (seperti electronic waste yang berbahaya dan sulit didaur ulang) dan berbagai kemungkinan penyalahgunaan teknologi. Bagi Walsh dan Middleton, jelas bahwa teknologi bukanlah juruselamat umat manusia.[4]

Lebih dalam lagi, sosiolog asal Prancis, Jean Baudrillard, mengatakan bahwa bahkan kehidupan realitas ini sudah tidak jelas lagi maknanya apa, asalnya dari mana, sumbernya di mana karena kerumitan dan kompleksitas lapisan-lapisan yang ada. Teknologi dan media massa memiliki peranan besar dalam menciptakan lapisan-lapisan ini. Lapisan realitas yang tadinya hanyalah merupakan simulasi dari media massa bahkan telah berkembang menjadi pensimulasi berbagai realitas baru yang tidak kunjung habis. Dasar-dasar analisis dan pemikirannya ia sampaikan sebagai berikut:

“We live in a world where there is more and more information, and less and less meaning.”

“The media represents world that is more real than reality that we can experience. People lose the ability to distinguish between reality and fantasy. They also begin to engage with the fantasy without realizing what it really is. They seek happiness and fulfilment through the simulacra of reality, e.g. media and avoid the contact/interaction with the real world.”

“Today abstraction is no longer that of the map, the double, the mirror, or the concept. Simulation is no longer that of a territory, a referential being, or a substance. It is the generation by models of a real without origin or reality: a hyperreal.”

(Simulacra and Simulation)

II. Konteks Singkat Postmodern
Zaman ini, di mana teknologi dan inovasi berkembang begitu rupa, kerap disebut juga dengan zaman postmodern. Istilah postmodern dicetuskan sekitar akhir abad ke-20, dan bermula dari bidang filsafat, seni, dan arsitektur. Contoh di bidang seni adalah John Watkins Chapman yang memberikan istilah “Postmodern Style of Painting” sebagai keputusannya untuk meninggalkan Impressionisme Prancis. Dalam lingkup sejarah, Arnold J. Toynbee pernah mencetuskan teori umum yang diberi nama “Our own Post-Modern Age has been inaugurated by the general war of 1914-1918”. Pada tahun 1949, gerakan postmodern muncul di bidang arsitektur sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap arsitektur modern. Masa-masa itu juga adalah momen yang sangat sulit karena berbagai dampak negatif masif dari Perang Dunia II. Dari perspektif postmodern, suatu pengetahuan pasti akan dijelaskan dari bias sudut pandang tertentu, lengkap dengan segala ketidakpastian dan kompleksitas. Pandangan postmodern cenderung memegang cara interpretasi yang skeptis terhadap budaya, seni, filsafat, sejarah, dan ekonomi. Dari perspektif filsafat, postmodern muncul sebagai reaksi terhadap zaman modern, terutama berbagai hasil pemikiran abad Pencerahan (Enlightenment). Sosok seperti Søren Kierkegaard dan Friedrich Nietzsche juga memberikan rangsangan dan pengaruh akan lahirnya filsafat postmodern.[5] Nantinya, tokoh-tokoh seperti Jean Baudrillard, Jean-François Lyotard, Jacques Derrida, dan Michel Foucault yang dianggap sebagai tokoh berpengaruh/signifikan yang memberikan pengembangan lebih jauh.

Pengaruh dari pandangan postmodern telah menjalar ke berbagai bidang, seperti politik, agama, seni, filsafat, sejarah, teknologi, dan relasi sosial. Cukup panjang dan menantang untuk memberikan definisi detail atau karakteristik komprehensif dari gerakan postmodern. Dalam cakupan artikel ini, berikut adalah berbagai gejala/ciri-ciri umum dari postmodern:

Tidak ada kebenaran absolut. Kebenaran dianggap sebagai ilusi, atau sebagai buah dari orang atau institusi yang memiliki kuasa. Kebenaran bisa berubah sesuai dengan pihak yang sedang memiliki kekuasaan.
Kebenaran dan kesalahan sebenarnya sama (synonymous). Perspektif postmodern cenderung menyangkal eksistensi dari fakta. Sesuatu yang sekarang disebut fakta, akan disebut sebagai suatu kesalahan (false) di kemudian hari.
Menentang metodologi logika dan objektivitas yang begitu diagungkan oleh kaum modern.
Sensitif dan curiga terhadap otoritas. Otoritas dianggap akan selalu korup, salah, menindas, dan menyalahgunakan wewenang/kekuasaan yang dimiliki. Penganut postmodern cenderung menghindari institusi-institusi yang memegang kekuasaan. Mereka lebih memilih berkumpul secara personal, informal, dan tanpa dasar (label) identitas/otoritas yang jelas.
Memandang rendah dan curiga terutama akan janji-janji yang dikumandangkan oleh sains, tradisi, pemerintah, dan agama.
Moralitas dan etika bersifat relatif dan tergantung dari masing-masing orang. Tidak ada satu ukuran yang paling benar dalam bertindak. Pandangan postmodern cenderung mempertanyakan aturan-aturan dan nilai-nilai moral secara tradisional.
Nasionalisme dianggap sebagai pemecah dan penyebab konflik/perang. Pandangan postmodern memiliki visi internasional agar perbedaan-perbedaan negara bisa dilebur.

III. Interpretasi: Dasar Filsafat dan Theologi
Dalam membahas lebih jauh mengenai tema interpretasi dalam konteks postmodern, pembahasan ini tidak bisa dilepaskan dari pertimbangan mengenai worldview dan teknologi, khususnya teknologi informasi.[6] Baik secara sadar ataupun tidak, setiap orang pasti memiliki cara pandang tertentu dalam mengartikan segala realitas yang ia lihat dan alami. Cara seseorang memberikan interpretasi dan berespons terhadap realitas, sangatlah tergantung dari berbagai faktor seperti kepercayaan (agama), pembawaan, pembentukan masa kecil, pendidikan, faktor lingkungan, komunitas/masyarakat sekitar, dan lain-lain. Segala hal tersebut memberikan sumbangsih penting dalam membentuk worldview seseorang. Di dalam zaman postmodern ini, teknologi informasi dan media massa memberikan pengaruh yang semakin signifikan, terutama dalam membentuk pemikiran dan persepsi seseorang, baik dalam level individu maupun komunitas.

Perkembangan teknologi informasi telah begitu memudahkan manusia untuk menyimpan, mengolah, menginterpretasi, dan memaparkan informasi.[7] Dalam bidang ilmu informatika, terdapat pembagian antara data, information, knowledge, wisdom (DIKW).[8] Mulai dari data yang bersifat paling “mentah”, sampai kepada wisdom di mana ada pertimbangan yang kompleks dari berbagai faktor, terutama dalam pengambilan keputusan strategis. Pembagian DIKW ini sangat kental dengan elemen konteks dan interpretasi. Segala macam tren teknologi mengenai big data, analytics, internet of things, artificial intelligence, smart city, secara esensi adalah mengolah berbagai jenis dan variasi data mentah sehingga bisa berguna dalam pengambilan keputusan secara cepat dan tepat, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar/luas.[9] Dalam konteks suatu organisasi, manajemen yang baik dan peka, biasanya tidak akan terbuai atau percaya mentah-mentah akan laporan atau visualisasi akhir yang mereka terima. Mereka sangat sadar bahwa dalam usaha dalam mengolah data, menjadi information dan knowledge, sangatlah mungkin terjadi bias, blindspot, atau kesalahan asumsi.[10]

Berikut adalah dua contoh piramida yang memberikan gambaran umum mengenai DIKW.

Gambar 1. Piramida Ilustrasi DIKW

Gambar 2. Piramida Ilustrasi DIKW

Dalam ilmu filsafat sendiri, ada cabang mengenai epistemologi yang mempelajari mengenai pengetahuan (theory of knowledge).[11] Cabang ilmu ini menggali berbagai hal seperti berikut: natur pengetahuan, dasar pengetahuan, bagaimana seseorang bisa tahu, batasan dari pengetahuan yang bisa diserap, pembahasan mengenai kebenaran (truth). Nantinya berbagai arus filsafat memiliki cara pandang tersendiri dalam membahas mengenai epistemologi, misalkan saja arus empirisisme, rasionalisme, idealisme, konstruktivisme, dan postmodernism. Perbandingan lengkap dan detail dari berbagai arus filsafat dalam aspek epistemologi bukan menjadi cakupan/pembahasan utama dari artikel ini. Salah satu contoh perbandingan secara umum adalah seperti tabel di bawah ini. Berbeda dengan berbagai arus pemikiran filsafat, iman Kristen percaya kepada Pribadi Yesus Kristus, Sang Anak Allah yang inkarnasi ke dunia menjadi manusia, sebagai the subjectivity of Truth in Person.[12] Dan Kebenaran itu memiliki sifat yang membebaskan, bukan membelenggu atau menindas seperti tuduhan pemikiran postmodern.  

Dari perspektif theologi, Theologi Reformed tidaklah asing lagi dalam melihat fungsi manusia sebagai pemberi interpretasi (fungsi kenabian/prophetic). Secara lebih spesifik, justru hanya Theologi Reformed yang secara unik dan lengkap melihat Kristus sebagai Raja, Imam, dan Nabi yang sejati, dan menjelaskan bahwa setiap manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah juga memiliki tiga fungsi tersebut. Tiga jabatan ini juga dikenal dengan sebutan threefold office atau munus triplex.[13] Nabi memiliki peran mendengarkan suara Tuhan dan mewakili Tuhan dalam menyampaikannya kepada segenap umat Tuhan. Seorang nabi harus bisa melihat dan menginterpretasi realitas melalui terang firman Tuhan.[14] Nabi cenderung dekat dengan prinsip hikmat dan pengetahuan (wisdom/knowledge). Raja memiliki peran bertanggung jawab di hadapan Allah untuk menaklukkan dan mengelola ciptaan. Raja cenderung dekat dengan prinsip kebenaran keadilan (righteousness). Imam memiliki peran dan tanggung jawab berdoa dan mempersembahkan korban kepada Allah sebagai perwakilan umat Allah. Imam cenderung dekat dengan prinsip kekudusan (holiness). Yohanes Calvin menjelaskan dengan lebih detail mengenai tiga (3) fungsi ini dalam buku Institutes of Christian Religion Book 2 Chapter 15: Three Things Briefly to be regarded in Christ - His Offices of Prophet, King, and Priest.[15]

Secara lebih spesifik, nabi memiliki penekanan kuat akan hati yang peka akan suara Tuhan dan sekaligus keberanian untuk memberitakannya. Nabi harus sangat sensitif dalam membedakan suara Tuhan dengan suara hati, pikirannya sendiri, dan bahkan suara setan. Ketika seorang nabi sudah berfirman atas nama Tuhan, jika yang dinyatakan tidak benar atau tidak terjadi, nabi harus siap menanggung konsekuensi hukuman mati. Ketika pesan dari Tuhan sudah jelas, nabi harus berani memberitakan pesan itu dengan tegas dan setia, tanpa ditambah ataupun dikurangi. Tidak peduli seberapa keras/buruk pesan tersebut, dan tidak peduli kepada siapa pesan itu harus dinyatakan (baik kepada imam, ahli Taurat, tua-tua, panglima, bahkan raja sekalipun). Dalam Injil, perkataan yang begitu keras dan menusuk juga kerap Kristus lontarkan kepada orang-orang Farisi, misalkan saja dalam Yohanes 8 ketika Yesus mengatakan kepada orang-orang Farisi bahwa bapa mereka adalah Iblis.

IV. Berbagai Pembahasan mengenai Fungsi Nabi
Selain Yohanes Calvin, pemikiran theologis mengenai fungsi nabi juga terus digali dan dikembangkan, misalnya saja dalam Westminster Shorter Catechism, juga buku-buku yang ditulis belakangan ini seperti Prophet, Priest, and King: The Roles of Christ in the Bible and Our Roles Today (Richard P. Belcher Jr.), King, Priest, and Prophet: A Trinitarian Theology of Atonement (Robert J. Sherman), dan salah satu bagian dari buku What is Reformed Theology? (R. C. Sproul). Pembahasan mengenai fungsi nabi juga termasuk dalam cakupan beberapa buku theologi sistematika, misalkan saja Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief (John Frame), Reformed Dogmatics, Vol. 3: Sin and Salvation in Christ (Herman Bavinck), dan Systematic Theology (Louis Berkhof). Westminster Shorter Catechism menekankan fungsi kenabian Kristus dari aspek pewahyuan rencana keselamatan Allah melalui firman dan Roh-Nya, yang disarikan dari dua ayat berikut:

Bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu, yang mula-mula diberitakan oleh Tuhan dan oleh mereka yang telah mendengarnya, kepada kita dengan cara yang dapat dipercayai (Ibr. 2:3)

Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. (1Pet. 1:11)

Pribadi Kristus hadir sebagai puncak dari nabi-nabi yang pernah ada sebelumnya. Kristus adalah objek dan sekaligus subjek dari segala nubuatan mengenai rencana keselamatan Allah.[16] Nabi-nabi selain Kristus hanya bisa memberikan penggalan-penggalan nubuat mengenai kelahiran, kehidupan, pelayanan, penderitaan, dan kematian Sang Juruselamat. Kristus hadir sebagai penggenap nubuatan-nubuatan tersebut, sekaligus memberikan interpretasi sesungguhnya terhadap berbagai nubuatan dan tulisan di dalam Perjanjian Lama. Seperti halnya nabi-nabi di Perjanjian Lama, Kristus juga memberikan nubuat mengenai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi, misalkan saja kehancuran kota Yerusalem yang tertulis di dalam Matius 24:1-28.

Gambar 3. Bagan Empat Fungsi Kenabian menurut Vern Poythress

Sama seperti nabi-nabi yang peka dan bergumul dalam mendengarkan firman Allah, dan melihat segala realitas berdasarkan kebenaran firman, demikianlah setiap orang Kristen juga memiliki tanggung jawab demikian dalam menghayati fungsi nabi. Seperti yang tertulis dalam Roma 11:2, orang Kristen tidak boleh menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi harus berubah oleh pembaruan budi, sehingga nantinya dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.[17] Dalam setiap zaman, akan selalu muncul penyesatan dan arus-arus yang tidak sesuai dengan prinsip firman Tuhan. Seperti nasihat Paulus di surat Kolose 2:8, orang Kristen tidak boleh ditawan dengan filsafat-filsafat yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia.

Di tengah-tengah dunia ini yang dipenuhi dengan begitu banyaknya pemikiran dan ideologi yang sangat bertentangan dengan firman Tuhan, orang Kristen sungguh memerlukan suatu pengertian yang komprehensif, yang sanggup menyentuh sampai level worldview, dan harus berpusatkan pada firman Tuhan.[18] Sadar ataupun tidak sadar, orang Kristen mungkin sering menyatakan ketidaksetujuan hanya pada hal-hal yang lebih bersifat fenomena saja. Namun di balik segala fenomena-fenomena yang ada, ada hal-hal tidak kelihatan yang terus menopang dan berperan di belakang layar. Di sinilah letak keunikan dan kekuatan dari Theologi Reformed. Dengan semangat untuk setia dan sepenuhnya kembali kepada Alkitab, Theologi Reformed tidak hanya berperang dan menerangi dalam level fenomena saja, melainkan terus masuk sampai tahap yang lebih mendasar.[19] Theologi Reformed dengan ketat memberikan tuntunan bahwa segala sesuatu harus dimulai dengan pengenalan Allah yang sejati, Allah Tritunggal. Hanya dengan pengenalan yang sejati ini, akhirnya manusia dapat menjalankan fungsi kenabiannya dengan beres dan bertanggung jawab.

Dalam buku What Are Spiritual Gifts, Vern Poythress menyoroti fungsi kenabian (prophetic) dalam empat level: (i) Yesus sebagai Mesias, (ii) Rasul, (iii) para pelayan (gembala. Pengajar, diaken, tua-tua), dan (iv) setiap orang Kristen.[20] Pada bagian ini, penulis hanya akan menyinggung fungsi nabi dalam level keempat, yakni bagi setiap orang Kristen (tanpa terkecuali). Poythress sangat menekankan hukum terutama yang menjadi inti dari hukum Taurat dan kitab para nabi. Arah hati yang mengasihi dan tertuju pada Tuhan adalah fondasi paling mendasar bagi setiap orang Kristen dalam menjalani fungsi kenabian.

Gambar 3. Bagan Empat Fungsi Kenabian menurut Vern Poythress

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat. 22:37-40)

Poythress juga membahas dengan teliti fenomena-fenomena seperti bahasa Roh dan fungsi bernubuat yang terjadi pada saat ini. Poythress melihat berbagai perdebatan yang ada terjadi karena perbedaan label yang diberikan terhadap fenomena tersebut.[21] Ada yang memberi label “not-prophecy”, sedangkan ada yang memberi label “prophecy”. Poythress melihat adanya esensi yang sama dari dua label ini, yakni keduanya memiliki sifat tidak mutlak dan bisa salah (fallible). Segala karunia bernubuat harus tunduk dan diuji berdasarkan kebenaran firman Tuhan. Hanya fungsi kenabian dari Kristus dan rasul yang memiliki otoritas ilahi (divine authority).

V. Menghidupi Fungsi Nabi dalam Zaman Postmodern
Dalam membahas poin inti mengenai fungsi nabi dalam zaman postmodern, penulis sebelumnya akan membahas berbagai tokoh sepanjang sejarah. Contoh-contoh yang diambil adalah tokoh-tokoh yang memiliki cara interpretasi realitas yang unik, sesuai dengan firman Tuhan, yang mungkin tidak lumrah bagi pandangan orang-orang di sekitar mereka. Melalui kisah dari tokoh-tokoh tersebut, baru akan ditarik pembelajaran/prinsip untuk diterapkan dalam konteks zaman postmodern.

Warisan dan Fondasi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Lama, contoh pertama adalah sosok Daud. Berbeda dengan Saul dan tentara Israel yang gemetar ketakutan, Daud justru berani maju berperang menghadapi Goliat. Mata Daud tidak tertutup hanya kepada sosok Goliat yang berperawakan besar dan bersenjata lengkap. Interpretasi Daud terhadap realitas sekitarnya justru mendorong Daud untuk langsung berhadapan muka dengan sang raksasa. Daud melihat dengan jelas bahwa Allah tidak boleh dihina dan Allah yang ia sembah akan sanggup melepaskannya dari cengkeraman tangan Goliat. Contoh kedua adalah Elisa. Suatu kali Elisa dan Gehazi sedang terkepung dan berdiam dalam tembok kota. Sang bujang Elisa begitu ketakutan ketika melewati momen ini. Elisa justru tetap tenang dan memohon agar Tuhan mencelikkan mata Gehazi untuk dapat melihat begitu banyaknya bala tentara sorga yang hadir dan melindungi mereka. Contoh ketiga dari Perjanjian Lama adalah Daniel. Bagi orang dalam zaman Daniel, sangatlah mungkin mereka melihat Babilonia dan Persia sebagai kerajaan yang begitu besar, kukuh, tidak tergoncangkan, dan superpower. Daniel tidak pernah terhanyut dalam pandangan yang memutlakkan kerajaan-kerajaan ini. Bagi Daniel jelas, hanya Allah yang bertakhta di atas segala kerajaan dunia, dan suatu hari Kerajaan Allah akan datang dengan segala kepenuhannya dan menundukkan segala kerajaan di dunia.[22]

Dalam Perjanjian Baru, penulis tertarik membahas mengenai Kristus yang diurapi dengan minyak narwastu. Dalam pandangan orang “normal”, peristiwa ini sepertinya sangat salah dan tidak pada tempatnya. Untuk apa minyak narwastu yang begitu mahal dan berharga langsung dipecahkan dan dihabiskan dalam sekejap saja? Mengapa minyak ini tidak dijual dan dibagi-bagikan kepada orang miskin? Pertanyaan lantang Yudas Iskariot seolah menjadi wakil dari “aspirasi publik” pada waktu itu. Dalam situasi ini, Yesus langsung memberikan interpretasi dan koreksi yang jelas. Minyak narwastu tersebut tercurah sebagai momen kairos sebelum Sang Juruselamat dibunuh dengan kejam di atas kayu salib. Suatu peristiwa yang hanya terjadi satu kali sepanjang sejarah umat manusia. Contoh kedua adalah mengenai sikap Paulus di Atena. Pada saat itu, seluruh warga Atena sepertinya dengan tenang dan ‘biasa’ melakukan berbagai kegiatan mereka: berdagang, mendiskusikan ide/pemikiran paling mutakhir, menyampaikan program-program pemerintah, sampai dengan penyembahan berbagai patung ilah/dewa pujaan mereka. Sangat berbeda dengan seluruh warga Atena, ketika melihat suasana tersebut (khususnya patung-patung di Atena), emosi Paulus berkecamuk. Ada gejolak emosi marah, dukacita, kecemburuan, dan sekaligus belas kasihan dalam hati Paulus.[23] Suatu interpretasi yang sangat berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Suatu perasaan yang muncul karena Paulus sadar, penyembahan ilah-ilah tersebut adalah sia-sia, dan tidak akan membawa masyarakat Atena ke dalam kepenuhan sesungguhnya, yakni suatu kepenuhan yang hanya dapat diberikan oleh Yesus Kristus.

Warisan dan Fondasi dalam Sejarah Kekristenan
Teladan hidup dari hamba-hamba Tuhan yang setia sepanjang sejarah juga terus bermunculan. Dalam cakupan bagian ini, hanya empat tokoh yang akan diangkat, yakni Agustinus, Yohanes Calvin, Abraham Kuyper, dan Herman Bavinck. Ketika Agustinus hidup, orang Kristen mendapatkan tuduhan berat sebagai penyebab hancurnya Kerajaan Romawi. Orang Kristen menjadi sasaran empuk dan menjadi kambing hitam atas peristiwa ini. Sebagai orang yang melihat rencana Allah atas zaman, Agustinus memberikan pembelaan melalui buku The City of God.[24] Agustinus menegaskan bahwa kekristenan justru memberikan sumbangsih atas perkembangan Kerajaan Romawi. Dan lebih dalam lagi, orang Kristen tidak berharap hanya kepada kerajaan lahiriah semata, namun kepada Kerajaan Allah yang bersifat kekal. Contoh kedua adalah Yohanes Calvin. Ia pernah mengalami berbagai macam kesulitan selama hidupnya, mulai dari hidup sebagai pelarian, ditinggal oleh orang yang dikasihi, kesehatan yang semakin menurun, dituduh oleh orang-orang yang memusuhinya, dan lain-lain. Sangatlah lumrah untuk orang yang mengalami hal-hal yang demikian sulit untuk akhirnya menjadi pahit dan apatis. Namun Calvin menginterpretasi segala peristiwa-peristiwa sulit tersebut dengan berbeda. Di tengah-tengah situasi yang demikian genting, ia tetap jelas melihat Allah sebagai yang berdaulat, menopang, dan peduli terhadap umat-Nya.

Dua contoh berikutnya adalah tokoh Reformasi di Belanda. Yang pertama adalah sosok Abraham Kuyper dalam melihat tatanan sosial/masyarakat. Masyarakat dan pemerintahan bukanlah suatu area yang sekuler, di mana tidak tersentuh oleh unsur-unsur agama. Kuyper melihat bahwa Kristus harus bertakhta atas aspek masyarakat dan pemerintahan. Dengan demikian, prinsip-prinsip kekristenan dapat diterapkan untuk terciptanya masyarakat yang teratur dan harmonis. Contoh kedua adalah sosok Herman Bavinck dalam bidang pendidikan/edukasi. Ia begitu peka dalam memperhatikan arus pendidikan sekuler pada zamannya. Arus sekuler cenderung melihat seorang anak/murid sebagai pusat, dan memiliki asumsi bahwa manusia pada dasarnya adalah baik. Dengan peka, Bavinck memandang secara serius aspek kejatuhan total dalam diri manusia. Dengan demikian, aspek pekerjaan Roh Kudus dan disiplin sangatlah sentral dalam prinsip pendidikan Bavinck. Suatu pendidikan harus memiliki aspek kedisiplinan, yang kemudian akan berbuah pengendalian diri. Dan elemen pengendalian diri akan memberikan kebebasan yang sesungguhnya bagi diri murid tersebut.

Interpretasi dalam Konteks Postmodern
Dari berbagai contoh di atas, jelas bahwa orang-orang yang Tuhan pakai sepanjang zaman telah memiliki pemahaman yang jelas akan firman Tuhan dan kedalaman pengenalan akan Allah. Dalam setiap zaman, orang-orang tersebut mampu melihat kebahayaan/blindspot dari arus dunia, dan memberikan interpretasi sesuai dengan yang Tuhan kehendaki. Dalam konteks zaman postmodern, justru orang Kristen harus semakin teguh memegang otoritas Alkitab. Tantangan dan serangan terhadap Alkitab bukanlah hal yang baru. Berbagai arus pemikiran menganggap bahwa Alkitab akan disingkirkan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.[25] Banyak zaman yang berusaha menggeser Alkitab sebagai otoritas tertinggi, namun akhirnya justru Alkitab yang menggeser zaman-zaman tersebut ke dalam sejarah.

Zaman postmodern menekankan bahwa setiap orang memiliki kisahnya tersendiri. Arus postmodern menekankan keunikan dan autentisitas dari setiap orang, tanpa melihat gambaran yang lebih menyeluruh. Kepingan dan keterpisahan kisah ini nantinya bisa membawa manusia kehilangan makna hidup. Tidak heran, berbagai macam gerakan/ideologi ekstrem muncul sebagai respons balik dari kekosongan yang diakibatkan oleh fragmentasi-fragmentasi ini.[26] Alkitab justru dengan jelas memberikan gambaran besar kisah (meta-narasi) mengenai Creation-Fall-Redemption-Consummation.[27] Setiap orang (baik Kristen maupun non-Kristen) akan tercakup dan berbagian dalam bagian kisah ini. Kekristenan tidak membuang keunikan pribadi yang dicipta unik sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Di saat yang sama, Allah telah merencanakan setiap umat-Nya untuk dapat berbagian dalam Kerajaan Allah, dalam pekerjaan-pekerjaan baik yang sudah disiapkan sebelumnya. Kekristenan menawarkan suatu rajutan indah antara rencana besar Allah dan peran unik dari masing-masing orang yang berbagian di dalamnya.

Klaim kebenaran selalu dicurigai dalam konteks postmodern. Bahkan filsafat postmodern cenderung mempertanyakan adanya kebenaran itu sendiri. Pembahasan mengenai power of truth dan truth of power menjadi topik yang kembali dipikirkan dan ditelusuri lebih jauh.[28] Seandainya ada, kebenaran dituduh memiliki sifat menekan dan memaksa orang tunduk dibawahnya. Sebenarnya secara tidak sadar, pemikiran postmodern sendiri memiliki berbagai asumsi dasar yang harus mereka percaya sebagai “kebenaran mutlak”.[29] Misalkan saja: “kebenaran” bahwa tidak ada kebenaran, “kebenaran” bahwa setiap orang berhak menentukan kebenaran bagi dirinya sendiri, dan “kebenaran” bahwa otoritas cenderung bersifat buruk dan semena-mena. Lebih jauh lagi, kekristenan menawarkan kebenaran yang bukan bersifat mengekang atau menindas, namun justru membebaskan. Filsafat postmodern cenderung mempertanyakan otoritas/kekuasaan, apalagi konsep Allah yang mutlak/berdaulat. Ada semacam trauma terhadap otoritas (sosok tokoh atau institusi) yang bertindak semena-mena. Padahal kekristenan bukan menawarkan konsep Allah yang diktator atau kejam. Meskipun berdaulat mutlak, Allah Kristen adalah Allah yang rela turun ke dunia, mengosongkan diri, dan bahkan mati bagi umat-Nya. Allah adalah Pribadi yang begitu mengasihi umat-Nya, meskipun mereka berkali-kali menyakiti hati-Nya.

Dalam zaman postmodern, teknologi, inovasi, ilmu pengetahuan, dan media berkembang begitu pesat. Ada semacam asumsi dasar bahwa teknologi bisa menjadi jawaban atas permasalahan umat manusia. Muncul antusiasme dan dorongan kuat untuk selalu mengikuti teknologi-teknologi terbaru. Orang Kristen seharusnya sadar bahwa teknologi tidak akan mungkin untuk menggantikan posisi Allah dari tempat tertinggi dan menyelesaikan seluruh masalah umat manusia. Walaupun membanjirnya berbagai informasi melalui media, juga kecanggihan perkembangan data analytics, orang Kristen seharusnya sadar dan peka akan posisi dan keterbatasan aspek-aspek tersebut. Suatu media tidak mungkin bersifat netral. Media pasti memiliki asumsi, ideologi, dan tujuan yang ingin disampaikan. Walaupun ada berbagai kecanggihan perkembangan teknologi informasi dalam memprediksi, menganalisis, dan memberikan rekomendasi berbagai hal, tetap akan memiliki keterbatasan dalam hal tertentu, misalkan saja dalam memberikan “rekomendasi” mengenai makna hidup manusia. Orang Kristen tidak boleh hanya berhenti/puas ketika ia mendapatkan hasil analisis atau interpretasi yang didapat dari berbagai kecanggihan teknologi informasi. Seorang Kristen justru harus mengejar lebih jauh untuk memberikan interpretasi realitas dari sudut pandang Allah yang berdaulat atas sejarah dan seluruh alam semesta.[30] Orang Kristen sudah selayaknya sadar bahwa perkembangan teknologi bermula dari perintah Allah kepada manusia untuk menaklukkan dan mengelola alam. Dalam proses pengelolaan ini, manusia sebagai gambar dan rupa Allah kemudian menemukan berbagai macam alat (teknologi) untuk membantu manusia dalam menaklukkan alam. Manusia seharusnya menginterpretasi seluruh alam semesta sesuai dengan perspektif Allah, mengelola alam, dan mengembalikan seluruh kemuliaan kembali kepada Allah. Sungguh mengenaskan ketika pada zaman ini, manusia yang jatuh dalam dosa akhirnya diperalat (kecanduan/ketergantungan) oleh alat (teknologi) dan mengembalikan kemuliaan kepada alat (teknologi) atau diri manusia sendiri.[31]

Refleksi dan Aplikasi
Dalam menghayati fungsi nabi, orang Kristen bisa memikirkan seberapa jauh kerinduan dan kepekaan dalam mendengar suara Allah. Hal ini bisa dimulai dari seberapa sungguh umat Tuhan mengkhususkan waktu untuk membaca, merenungkan, dan merindukan firman Tuhan. Kristus yang adalah Anak Allah kerap dituliskan menyendiri pagi-pagi benar untuk berdoa dan berelasi dengan Bapa. Selain itu, penghayatan fungsi nabi juga bisa terefleksi dalam keseriusan dan kesungguhan dalam berkata-kata. Sebab apa yang terpancar keluar melalui perkataan, bersumber dari kedalaman hati. Melalui lidah yang kecil terkandung kuasa yang begitu besar, baik itu kuasa untuk membangun, dan kuasa untuk menghancurkan. Dalam konteks masyarakat yang plural dan relatif, ini tentunya menjadi tantangan frontal dalam memberitakan keunikan Pribadi Kristus. Pribadi Kristus sebagai satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup menjadi suatu kesulitan besar untuk diterima dan dimengerti bagi masyarakat plural dengan rupa-rupa pandangannya.[32] Penghayatan akan fungsi nabi seharusnya memberikan dorongan dan keberanian dalam memberitakan Injil. Terakhir, sejalan dengan penekanan Dr. Vern Poythress, orang Kristen harus selalu bertanya, menggumulkan, dan melakukan refleksi mengenai cintanya kepada Allah. Sebab dalam totalitas mengasihi Allah (hukum terutama) inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

VI. Penutup
Theologi Reformed membahas dengan teliti mengenai Kristus sebagai Raja, Imam, dan Nabi yang sejati. Demikian pula seharusnya dengan umat Allah, yang dicipta sesuai dengan gambar dan rupa Allah, juga ditebus dengan darah-Nya yang mahal, sudah seharusnya orang Kristen menggumulkan fungsi raja, imam, dan nabi dalam keseharian hidup. Sangat kontras dengan kecurigaan pandangan postmodern akan otoritas, Theologi Reformed sangat jelas mengenal sifat kedaulatan Allah, otoritas Allah atas seluruh alam semesta, sekaligus kelimpahan kasih setia dan anugerah Allah atas manusia melalui pengorbanan tuntas di atas kayu salib. Di zaman yang bengkok dan penuh dengan berbagai macam filsafat kosong, interpretasi tanpa dasar dan tidak berujung, orang Kristen dengan jelas mengenal Pribadi Yesus Kristus sebagai Subjectivity of Truth in Person. Sepanjang zaman, selalu muncul pandangan-pandangan yang menentang dan mempertanyakan otoritas firman Tuhan. Namun seperti teladan-teladan iman yang Tuhan bangkitkan sepanjang sejarah, kiranya kita boleh sama-sama berdoa dan memohon anugerah Tuhan agar dapat melihat seluruh realitas alam semesta melalui sudut pandang Allah dan berespons dengan benar di hadapan-Nya.

Juan Kanggrawan
Pemuda GRII Singapura

Referensi:

  • Bavinck, Herman, Essays on Religion, Science, and Society (Baker Academic, 2008).
  • Bavinck, Herman, Christian Education.
  • Bavinck, Herman, The Philosophy of Revelation.
  • Butler, Christopher, Postmodernism: A Very Short Introduction.
  • Calvin, John, Institutes of Christian Religion.
  • Chaplin, Jonathan, Herman Dooyeweerd: Christian Philosopher of State and Civil Society.
  • Eswine, Zack, Preaching to a Post-Everything World: Crafting Biblical Sermons That Connect with Our Culture.
  • Hall, David, The Legacy of John Calvin: His Influence on the Modern World.
  • Hansen, Collin, Young, Restless, Reformed: A Journalist’s Journey with the New Calvinists.
  • Hicks, Stephen, Explaining Postmodernism: Skepticism and Socialism from Rousseau to Foucault.
  • Hill, Jonathan, The History of Christian Thought, IVP Press, 2003.
  • Horton, Michael, Where in the World Is the Church? : A Christian View of Culture and Your Role in It.
  • Keller, Timothy, Center Church: Doing Balanced, Gospel-Centered Ministry in Your City.
  • Kuyper, Abraham, Lectures on Calvinism.
  • Nash, Ronald, Faith and Reason.
  • Peter S. Heslam, Creating a Christian Worldview: Abraham Kuyper’s Lectures on Calvinism.
  • Platinga, Alvin, Reason and Belief in God.
  • Postman, Neil, Technopoly.
  • Poythress, Vern, Redeeming Science.
  • Poythress, Vern, Redeeming Sociology.
  • Poythress, Vern, What Are Spiritual Gifts.
  • Smith, James, Who’s Afraid of Postmodernism? : Taking Derrida, Lyotard, and Foucault to Church.
  • Volf, Miroslav, Exclusion dan Embrace: A Theological Exploration of Identity, Otherness, and Reconciliation.
  • Walsh, Brian dan Middleton, Richard, Transforming Vision.

Endnotes:
[1] Sekilas Visi Gereja Reformed Injili Indonesia
“Gerakan ini berada di dalam gelombang transisi dari masyarakat agrikultural (pertanian) menuju masyarakat industrialisasi dan juga menuju masyarakat informasi. Itulah sebabnya gerakan ini tidak mudah diikuti oleh orang yang belum biasa dengan kedahsyatan gelombang transisi ini.”
[2] Salah satu contoh film yang mengggambarkan hal ini adalah film WALL-E.
[3] Berikut adalah contoh kutipan dari buku ini: “Technopoly is a state of culture. It is also a state of mind. It consists in the deification of technology, which means that the culture seeks its authorization in technology, finds its satisfactions in technology, and takes its orders from technology.”
[4] Di Tiongkok, pernah ada seruan untuk menjadikan sains dan demokrasi (Mr. Science dan Mr. Democracy) sebagai juruselamat Tiongkok. Seruan ini tercakup dalam gerakan New Culture Movement (新文化运动) yang muncul sekitar tahun 1915-1921.
[5] Nietzsche banyak membahas tema antara knowledge dan power yang menjadi salah satu pembahasan utama dalam pemikiran postmodern.
[6] Berikut adalah contoh definisi mengenai worldview: “Fundamental orientation of an individual or society encompassing the entirety of the individual or society’s knowledge and point of view. A worldview can include natural philosophy; fundamental, existential, and normative postulates; or themes, values, emotions, and ethics.” (Palmer, 1996)
[7] Contoh dari pendekatan tersebut adalah metode ETL (Extract Transform Load):In computing, Extract, Transform, Load (ETL) refers to a process in database usage and especially in data warehousing. The ETL process became a popular concept in the 1970s. Data extraction is where data is extracted from homogeneous or heterogeneous data sources; data transformation where the data is transformed for storing in the proper format or structure for the purposes of querying and analysis; data loading where the data is loaded into the final target database, more specifically, an operational data store, data mart, or data warehouse.”
[8] Dari perspektif teknologi informasi, manusia berusaha mencapai tahap tertinggi, yakni hikmat (wisdom), namun Alkitab menekankan bahwa hikmat bermula dari sikap hati yang takut akan Allah.
[9] Berikut adalah contoh dari inisiatif Smart Nation di Singapura:
About Smart Nation
Singapore strives to become a Smart Nation to support better living, stronger communities, and create more opportunities, for all. And “smartness” is not a measure of how advanced or complex the technology being adopted is, but how well a society uses technology to solve its problems and address existential challenges. Citizens are ultimately at the heart of our Smart Nation vision, not technology!”
[10] Berikut adalah contoh tulisan yang menyoroti hal ini:
Can Your Data Be Trusted?
You have an important decision that must be made within two weeks, and you’ve just learned of some new data that, when combined with existing data, could offer potentially game-changing insights. But there isn’t a clear indication whether this new information can be trusted. How should you proceed?”
[11] Berikut adalah salah satu definisi mengenai epistemologi: “Epistemology is the study of knowledge and justified belief. As the study of knowledge, epistemology is concerned with the following questions: What are the necessary and sufficient conditions of knowledge? What are its sources? What is its structure, and what are its limits? As the study of justified belief, epistemology aims to answer questions such as: How we are to understand the concept of justification? What makes justified beliefs justified? Is justification internal or external to one’s own mind? Understood more broadly, epistemology is about issues having to do with the creation and dissemination of knowledge in particular areas of inquiry.”
[12] Kalimat ini bersumber dari kutipan khotbah Dr. Stephen Tong. Dari perspektif filsafat, ada berbagai diskusi mengenai sifat kebenaran yang seharusnya objektif atau subjektif.
[13] Bibit pemikiran ini dimulai dari Eusebius dari Kaesarea, dan kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Yohanes Calvin.
[14] Secara lebih mendalam, wahyu umum Allah (misalnya ciptaan) harus diterangi dan diinterpretasi oleh wahyu khusus (firman Allah). Relasi/hubungan lebih jauh mengenai wahyu umum dan wahyu khusus perlu pembahasan lebih jauh dan teliti. Misalkan saja melalui artikel seperti ini:
General and Special Revelation — A Reformed Approach to Science and Scripture
We know Him by two means: First, by the creation, preservation, and government of the universe; which is before our eyes as a most elegant book, wherein all creatures, great and small, are as so many characters leading us to see clearly the invisible things of God, even his everlasting power and divinity, as the apostle Paul says in Romans 1:20. All which things are sufficient to convince men and leave them without excuse. Second, He makes Himself more clearly and fully known to us by His holy and divine Word, that is to say, as far as is necessary for us to know in this life, to His glory and our salvation.”
[15] Institutes of the Christian Religion BOOK SECOND CHAPTER 15.
[16] Ketika Yesus di dunia, berkali-kali Ia menyatakan bahwa diri-Nya adalah Pribadi yang dimaksud dari nubuatan-nubuatan para nabi di Perjanjian Lama.
[17] Dr. Stephen Tong kerap kali menekankan hal ini: “to think after God’s thought, to feel after God’s feeling”. Orang Kristen harus mengalami perubahan dalam berbagai aspek hidup untuk semakin menyerupai Kristus.
[18] Orang Kristen tidak bisa puas hanya ketika menyentuh level fenomena, misalkan saja sebagai dokter yang sesekali memberikan pengobatan gratis kepada orang miskin. Padahal, bagaimana sebagai dokter Kristen bisa melihat manusia secara utuh, tujuan dari suatu tindakan medis, dan pengharapan sejati dalam hidup manusia. Hal-hal ini seperti ini perlu dilihat dari sudut pandang Christian Worldview.
[19] Tokoh-tokoh Reformed seperti Abraham Kuyper, Herman Bavinck, Hendrik Kraemer di Belanda; dan Charles Hodge, Archibald Hodge, B. B. Warfield, Gresham Machen, Cornelius Van Til, John Murray di Amerika telah memperlihatkan semangat tidak berkompromi, yang diturunkan dari Yohanes Calvin. Theolog-theolog Reformed dengan gigih berdiri di garis pertempuran yang paling depan untuk melawan ajaran-ajaran yang tidak setia kepada Kitab Suci. Mereka memiliki kepekaan dalam melihat pengaruh dosa yang sudah masuk dan meracuni sampai level pemikiran, ideologi, dan aspirasi umum dalam masyarakat.
[20] Buku ini dituliskan agar setiap orang Kristen dapat menyadari, memikirkan, dan menggumulkan peran dan karunia yang sudah diberikan Tuhan, termasuk dalam aspek bernubuat (fungsi prophetic).
[21] Berikut adalah kutipan langsung mengenai hal ini: “Hence, there is no need for Gaffin and Grudem to disagree about the modern phenomena. They disagree only about the label given to the phenomena (“not-prophecy” versus “prophecy”), and about whether the New Testament phenomena were identical or merely analogous to the modern phenomena. Both Gaffin and Grudem already acknowledge the fallibility of the modern phenomena. Gaffin needs only to take the additional step of integrating the modern phenomena into a theology of spiritual gifts. Given this theological integration, we find that there is an analogical justification for the use of these gifts in the church today.”
[22] Tetapi pada zaman raja-raja, Allah semesta langit akan mendirikan suatu kerajaan yang tidak akan binasa sampai selama-lamanya, dan kekuasaan tidak akan beralih lagi kepada bangsa lain: kerajaan itu akan meremukkan segala kerajaan dan menghabisinya, tetapi kerajaan itu sendiri akan tetap untuk selama-lamanya, tepat seperti yang tuanku lihat, bahwa tanpa perbuatan tangan manusia sebuah batu terungkit lepas dari gunung dan meremukkan besi, tembaga, tanah liat, perak dan emas itu. Allah yang maha besar telah memberitahukan kepada tuanku raja apa yang akan terjadi di kemudian hari; mimpi itu adalah benar dan maknanya dapat dipercayai. (Dan. 2:44-45)
[23] Berikut adalah salah satu khotbah yang membahas mengenai poin ini:
A World of Idols – Timothy Keller [Sermon]
The gospel should change not just our inner being but also the way we relate to the outside world. Paul engaged with society every day. He was distressed, indignant and compassionate about the Athenians’ beliefs, but he kept his eyes on the cross to inform his words. He recognized their idols and raised up Jesus as the only true God.”
[24] Berikut adalah salah satu kutipan dari buku ini:
The Heavenly City outshines Rome, beyond comparison. There, instead of victory, is truth; instead of high rank, holiness; instead of peace, felicity; instead of life, eternity.”
[25] Hal ini terutama muncul dalam zaman Renaissance dan Pencerahan (Enlightenment). Pada zaman ini, manusia menjunjung rasio sedemikian tinggi.
[26] Berikut adalah beberapa contoh kritik terhadap pemikiran postmodern:
Noam Chomsky has argued that postmodernism is meaningless because it adds nothing to analytical or empirical knowledge. He asks why postmodernist intellectuals do not respond like people in other fields when asked, “what are the principles of their theories, on what evidence are they based, what do they explain that wasn’t already obvious, etc.?”
The idea that we live in a postmodern culture is a myth. In fact, a postmodern culture is an impossibility; it would be utterly unliveable. People are not relativistic when it comes to matters of science, engineering, and technology; rather, they are relativistic and pluralistic in matters of religion and ethics. But, of course, that’s not postmodernism; that’s modernism!” (William Lane Craig)
[27]Metanarrative or grand narrative or mater narrative is a term developed by Jean-François Lyotard to mean a theory that tries to give a totalizing, comprehensive account to various historical events, experiences, and social, cultural phenomena based upon the appeal to universal truth or universal values.
[28] Friedrich Nietzsche adalah tokoh yang menyoroti topik ini. Miroslav Volf memberikan respons dalam buku “Exclusion and Embrace” melalui studi kasus Yesus di hadapan Pilatus.
[29] Dr. Stephen Tong kerap kali menekankan bahwa setiap pemikiran/ideologi harus memiliki “iman” atau fondasi dasar. Pemikiran yang bertentangan dengan firman Tuhan akan memiliki sifat bom waktu dan self-defeating factor.
[30] Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. (Kol. 1:15-16)
[31] Misalkan saja kasus kecanduan Social Media, mobile phone, media hiburan, dan game. Di Jepang, ada istilah Otaku untuk orang-orang semacam ini: Otaku.

Juan Intan Kanggrawan

September 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲