Artikel

Reformation 500: Nationalism among Secularism vs. Christianity

Keberadaan suatu negara adalah sebagai sebuah wadah bagi sekelompok manusia yang berinteraksi satu dengan lainnya di dalam suatu wilayah baik secara geografis maupun hukum tertentu. Di dalam interaksi antarmanusia ini, prinsip keadilan dan kebaikan bagi banyak orang adalah hal yang mendasar dan harus ada. Tetapi sejarah menyatakan bahwa dosa selalu menjadi perusak relasi tersebut. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, interaksi antarmanusia sering disusupi dan terus diwarnai oleh prinsip ketidakadilan, kehausan akan kuasa dan harta, serta keegoisan yang begitu pekat. Sehingga sejarah dipenuhi dengan kisah perebutan kekuasaan baik secara teritorial maupun takhta. Suatu kerajaan berjuang untuk menaklukkan kerajaan lain, atau seorang manusia yang berusaha keras menaklukkan manusia lain dalam sebuah kerajaan demi memperoleh takhta. Ini adalah realitas sejarah manusia yang tidak bisa kita abaikan dan terus terjadi hingga saat ini. 

Sebagai sebuah wadah, negara berada untuk menjaga keadilan dan kebaikan bagi khalayak. Oleh karena itu, pemerintahan dalam sebuah negara harus memimpin berdasar prinsip keadilan dan kebaikan bagi banyak orang. Ironisnya, institusi pemerintahan sering kali menjadi tempat terjadinya ketidakadilan dan kelaliman. Para penguasa dengan semena-mena mengubah peraturan demi kepentingan pribadi atau mempermainkan hukum yang berlaku dengan dalih bahwa seorang penguasa kebal terhadap hukum. Sebuah negara yang seharusnya menegakkan keadilan, menjadi sebuah tirani saat dipimpin oleh seorang yang fasik.

Kefasikan seorang pemimpin akan menghancurkan suatu negara, kesalehan seorang pemimpin membangun sebuah negara. Inilah prinsip yang kita akui dan pegang di dalam konteks kenegaraan. Sejarah menjadi bukti yang paling autentik dalam menyatakan hal ini. Kita dapat melihat dengan jelas, bagaimana sebuah kerajaan atau negara memasuki masa keemasan saat pemimpin mereka adalah seorang yang cinta keadilan dan memikirkan kepentingan rakyat. Sejarah juga dengan jelas mencatatkan kehancuran suatu kerajaan atau negara karena pemimpin yang fasik dan terus memikirkan kepentingan diri. Sehingga pemimpin sebuah negara akan memengaruhi kondisi sebuah negara secara signifikan.

Disadari atau tidak disadari, gejala yang sama juga terjadi pada kita sebagai warga negara. Jikalau kita berpikir bahwa kejayaan atau kehancuran sebuah negara hanya ditentukan oleh pemimpin, maka kita telah salah kaprah. Sebuah negara terdiri tidak hanya dari seorang pemimpin tetapi juga manusia atau rakyat yang ada di dalamnya. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa kejayaan atau kehancuran sebuah negara ditentukan juga oleh kesalehan atau kefasikan rakyat negara tersebut. Pemimpin memegang peranan penting tetapi rakyat pun penting bahkan paling penting dalam sebuah negara, karena masyarakatlah yang melahirkan, membentuk, dan memilih seorang pemimpin. Konteks budaya, pendidikan, etika hidup, dan pergumulan dalam suatu masyarakat akan membentuk pola pikir dan karakter dari para calon pemimpin. Sehingga semangat dan etika yang dibangun dalam sebuah masyarakat akan memengaruhi nasib hari depan negara tersebut. Semangat dan etika yang dibentuk dalam sebuah keluarga akan memengaruhi karakter dari sebuah masyarakat. Dan karakter dari sebuah keluarga dibentuk mulai dari individu. Maka, pernahkah kita berpikir jiwa atau semangat seperti apa yang harus kita miliki sebagai bagian dari keluarga, masyarakat, dan negara? Apakah sebuah istilah “nasionalisme” dapat dengan jelas menggambarkan semangat yang seharusnya kita munculkan sebagai seorang warga negara? Cara pandang atau semangat seperti apakah yang dapat mendorong terciptanya nasionalisme sejati? Pada artikel ini akan dipaparkan argumentasi untuk menyatakan bahwa hanya kekristenan yang dapat memberikan sebuah cara pandang dan semangat yang membawa kita kepada semangat nasionalisme sejati.

Nasionalisme
Nasionalisme adalah sebuah ideologi yang populer di zaman modern. Tetapi semangat ini sudah muncul sejak lama di dalam ruang lingkup dan premis yang berbeda. Pada zaman modern ini, nasionalisme adalah sebuah ideologi yang memiliki premis bahwa loyalitas dan pengabdian seorang individu kepada negara atau bangsanya melebihi individu atau kelompok lainnya. Pada masa pre-modern, pengabdian dan loyalitas sering kali diberikan kepada hal-hal yang berkaitan dengan tanah kelahiran, suku, ras, atau tradisi keluarga. Tetapi pada zaman ini, nasionalisme memiliki ruang lingkup yang lebih luas dari sekadar suku, ras, dan agama, tetapi memiliki hal yang dapat mempersatukan keberagaman menjadi satu bangsa. Hal ini berarti tidak lagi terkait dengan ras, agama, atau suku tetapi sebuah negara yang bisa mencakup multi ras, suku, dan agama. Sehingga pluralisme dan keberagaman adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam premis nasionalisme modern.

Nasionalisme memiliki berbagai bentuk, dan hal yang membedakan adalah pemersatunya. Beberapa tipe nasionalisme adalah:

Civic Nationalism
Tipe nasionalisme ini menjadikan konstitusi atau hukum sebagai pemersatu. Sehingga setiap anggota dari negara tersebut adalah warga-warga yang secara sukarela memilih untuk bergabung dengan syarat harus taat terhadap konstitusi tersebut. Konstitusi ini adalah sebuah kesepakatan secara kolektif, sebagai ideologi yang diakui bersama. Maka etika kehidupan dan nilai-nilai yang terkandung dalam konstitusi ini harus dijalankan atau dihidupkan oleh penganut nasionalisme tersebut. Pemerintahan dalam nasionalisme biasanya adalah pemerintahan yang demokratis serta mengakui atau menerima pluralisme. Isu yang sering terjadi di dalam nasionalisme ini adalah isu terkait hak asasi manusia yang merupakan bagian tak terpisahkan dari demokrasi.

Ethnic Nationalism
Berbeda dengan civic nationalism, ethnic nationalism menjadikan akar tradisi atau etnis sebagai hal yang mempersatukan. Maka, nasionalisme bentuk ini bukanlah sebuah pilihan sukarela tetapi sebuah warisan atau hereditas yang kita peroleh. Di dalam bentuk nasionalisme ini, pluralisme sulit untuk berkembang karena etnis mayoritas adalah etnis yang akan menentukan pemerintahan dalam negara tersebut. Sehingga isu-isu terkait rasialisme adalah isu yang sering kali dijumpai dalam bentuk nasionalisme tersebut.

Religious Nationalism
Relasi dalam tipe nasionalisme ini didasarkan pada sebuah iman dan kepercayaan yang spesifik. Sehingga kesamaan pengajaran atau kepercayaan memberikan kontribusi bagi semangat kesatuan. Agama menjadi pengikat yang menjadikan sebuah bangsa.

Masih banyak tipe-tipe dari nasionalisme dan tiga tipe yang disebutkan di atas adalah contoh yang mewakili nasionalisme pre-modern (2 dan 3) maupun modern (1). Tetapi pada dasarnya yang membedakan tipe nasionalisme ini adalah hal yang mempersatukannya. Sehingga demi terjaganya persatuan, hal pemersatu ini akan dipertahankan dan diutamakan melebihi kepentingan pribadi atau kelompok. Inilah pengertian dasar dari nasionalisme.

Nasionalisme dan Sekularisme
Seseorang dikatakan nasionalis, saat orang tersebut dapat mengutamakan kepentingan negaranya melebihi kepentingan pribadi atau golongan tertentu saja. Orang yang demikian adalah seorang yang memiliki semangat rela berkorban dan kerelaan tunduk terhadap otoritas yang ada. Secara prinsip, semangat ini bertentangan dengan semangat sekularisme yang berkembang pada zaman ini. Sekularisme mendorong untuk memiliki hidup yang self-centered atau egois, serta jiwa yang tidak rela untuk tunduk terhadap otoritas sehingga sulit untuk memiliki semangat nasionalisme tersebut. Permasalahannya adalah semangat dari sekularisme sudah memengaruhi seluruh lapisan masyarakat, baik yang berada pada bangku pemerintahan maupun warga negara. Sehingga relasi antara pemerintah dan warganya menjadi relasi saling memanfaatkan demi keuntungan diri. Hal ini menunjukkan realitas dosa di dalam pemerintahan maupun masyarakat.

Pemerintahan adalah medan perebutan kekuasaan karena bangku pemerintahan memiliki kewenangan yang sangat besar dalam mengatur sebuah negara. Dengan memanfaatkan kewenangan ini, seseorang dapat melakukan banyak hal termasuk mengubah peraturan agar sesuai dengan keinginan pribadi. Sehingga, kepentingan pribadi atau kelompok tertentu dapat mendompleng kepentingan negara melalui posisi pemerintahan ini. Jikalau kepentingan sebuah negara sudah didompleng oleh kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, apakah kita tetap harus memberikan pengabdian terhadap negara tersebut sebagai wujud nasionalisme kita? Apakah itu tetap bisa dikatakan sebagai nasionalisme atau justru menjadi sebuah perbudakan?

Di sisi lain, kita sebagai warga negara pun tidak terlepas dari realitas dosa. Kita mungkin tidak memiliki kesempatan untuk berada di bangku pemerintahan untuk menjalankan ambisi berdosa. Tetapi sebagai warga negara kita pun memanifestasikan ambisi berdosa ini dalam bentuk yang lain. Secara aktif kita bisa melakukan hal-hal yang melanggar sekaligus menentang pemerintahan yang ada, dengan melanggar peraturan yang berlaku seperti perpajakan, perizinan, standar kualitas produk, dan seterusnya. Kita mungkin beralasan bahwa aturan pemerintahan yang berlaku tidak relevan, tidak realistis, atau tidak adil. Memang peraturan pemerintah bukanlah peraturan yang mutlak dan sangat mungkin memiliki kesalahan. Hal ini terjadi baik karena unsur kesengajaan dengan adanya kecurangan, maupun tidak sengaja karena kelemahan dalam melihat side effects dan relevansi dengan realitas. Tetapi yang menjadi masalah adalah saat kita merasionalisasi ambisi berdosa kita yang rakus dengan dalih bahwa peraturan pemerintah yang tidak benar sehingga kita dapat berbuat seenaknya. Ambisi berdosa ini juga dapat termanifestasikan secara pasif dengan ketidakpedulian kita terhadap pemerintahan karena tidak memberikan keuntungan apa pun bagi kita. Inilah semangat dari sekularisme yang mendorong manusia untuk menjadi self-centered.

Nasionalisme yang sudah dipengaruhi oleh sekularisme hanyalah sebuah nasionalisme yang palsu. Nasionalisme hanya dijadikan topeng untuk menutupi kerakusan diri atau untuk mendapatkan dukungan dari kelompok lain. Semangat yang hanya memikirkan keuntungan diri dan mengabaikan kepentingan orang banyak tidak mungkin menjadi dasar bagi nasionalisme sejati. Lebih parahnya lagi, agama pun dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari nasionalisme hanya demi meraih kekuasaan. Permasalahannya adalah semangat sekularisme ini menyebar hampir ke setiap lapisan maupun kelompok masyarakat. Semangat sekularisme hanya akan melahirkan ketidakadilan baik dalam pemerintahan maupun masyarakat.

Nasionalisme dan Kekristenan
Salah satu pemikiran yang paling penting dalam kekristenan berkaitan dengan nasionalisme adalah pemikiran dari John Calvin. Berkaitan dengan politik dan pemerintahan, Abraham Kuyper meringkaskan bahwa ada tiga poin utama pemikiran Calvin:

“It is therefore a political faith which may be summarily expressed in these three theses: 1. God only, and never any creature, is possessed of sovereign rights, in the destiny of nations, because God alone created them, maintains them by his Almighty power, and rules them by his ordinances. 2. Sin has, in the realm of politics, broken down the direct government of God, and therefore the exercise of authority, for the purpose of government, has subsequently been invested in men, as a mechanical remedy. 3. In whatever form this authority may reveal itself, man never possess power over his fellow man in any other way than by the authority which descends upon him from the majesty of God.”

Dari tiga poin utama ini, Calvin ingin mengembalikan prinsip paling mendasar dari kehidupan bahwa otoritas tertinggi berada di tangan Allah bukan manusia dan manusia tidak memiliki otoritas atas manusia lain kecuali otoritas yang dimandatkan Allah. Calvin ingin mengembalikan ordo di dalam kehidupan ini kembali kepada ordo yang Tuhan telah ciptakan, yaitu alam diciptakan bagi manusia dan manusia diciptakan bagi Allah Sang Pencipta.

Meskipun pemerintahan sipil harus tunduk di hadapan Allah, Calvin tetap menekankan pentingnya orang Kristen untuk menghargai pemerintahan sebagai institusi yang ditetapkan oleh Allah. Bagi Calvin, pemerintahan sipil adalah “the most sacred and by far most honourable of all calling in the whole life of mortal men.” Tanpa adanya pemerintahan maka kehidupan bermasyarakat hanya akan menjadi kehidupan yang chaotic. Calvin mengatakan bahwa seburuk-buruknya pemerintahan, masih lebih baik dibanding tidak ada pemerintah. Calvin menyatakan tugas dari pemerintahan sipil sebagai berikut:

“Magistrates may hence learn what their vocation is, for they are not to rule for their own interest, but for the public good; nor are they endued with unbridled power, but what is restricted to the well-being of their subjects; in short, they are responsible to God and to men in the exercise of their power. For as they are deputed by God and do his business, they must give an account to him: and then the ministration which God has committed to them has a regard to the subjects, they are therefore debtors to them.”

Calvin menekankan bahwa tugas utama dari pemerintahan adalah public good and well-being of their subjects. Dalam menjalankan tugas ini, pemerintah bertanggung jawab kepada Allah dan kepada masyarakat yang mereka layani. Selain untuk kebaikan publik, pemerintah berhak untuk menghukum setiap orang yang berbuat kejahatan atau ketidakadilan. Inilah pandangan secara umum kekristenan mengenai pemerintahan.

Di sisi lain Calvin juga membahas mengenai peranan kita sebagai warga negara. Calvin meringkas kewajiban dari warga negara dalam satu kata yaitu, “Obedience”. Dalam Institutio, ia menyatakan demikian:

with hearts inclined to reverence their rulers, the subjects should prove their obedience toward them, whether by obeying their proclamations, or by paying taxes, or by undertaking public offices and burdens which pertain to the common defence, or by executing any other commands of theirs.

Kepatuhan yang Calvin ajarkan bukan hanya kepatuhan terhadap pemerintah yang bijaksana dan saleh tetapi juga saat dipimpin oleh pemerintah yang lalim. Calvin melarang kita untuk melakukan intervensi langsung terhadap pemerintahan, tetapi harus melalui jalur yang tepat seperti melalui bagian institusi pemerintah yang lain (lesser magistrate), bukan dengan tindakan anarkis secara pribadi. Bahkan Calvin mendorong orang percaya untuk berdoa agar Tuhan mengubah hati pemimpin tersebut dan membiarkan Allah yang berdaulat menyatakan keadilan-Nya. Calvin mendukung revolusi terhadap pemerintahan lalim yang sudah menjadi tirani, karena seorang pemimpin yang tidak sinkron terhadap otoritas Allah, tidak lagi layak untuk disebut sebagai pemimpin. Revolusi yang dimaksudkan oleh Calvin adalah bukan revolusi yang bersifat merusak tetapi melalui jalur yang tepat dan konstruktif.

Theologi Reformed percaya bahwa Allah berdaulat atas sejarah dan juga atas manusia. Sehingga bangkit maupun turunnya seorang raja atau sebuah pemerintahan, berada di dalam kendali kedaulatan Allah. Jikalau kita dipimpin oleh seorang yang bijaksana, takut akan Allah, dan saleh, maka itu adalah anugerah Allah bagi negara kita. Tetapi saat pemimpin kita adalah seorang yang lalim dan tidak adil, bisa jadi itu adalah hukuman atau didikan Tuhan atas kita. Tetapi sebagai orang Kristen, kita memiliki kewajiban untuk patuh terhadap pemerintahan dan juga turut berpartisipasi dalam membela negara.

Semangat nasionalisme yang sejati adalah semangat pengabdian terhadap kebenaran dan keadilan Allah, bukan terhadap manusia. Tetapi di sisi lain kita pun harus menyadari bahwa pemerintahan ditunjuk oleh Allah sebagai institusi yang mewakili otoritas Allah, secara terbatas, di dunia ini. Oleh karena itu, kita tetap menghargai, menghormati, dan patuh terhadap pemerintah.

Conclusion
Semangat nasionalisme yang dipengaruhi oleh sekularisme hanya akan membawa masyarakat menjadi masyarakat yang oportunis dan jiwa yang memanfaatkan orang lain bagi kepentingan diri. Hal ini karena sekularisme mengajarkan manusia untuk menjadi manusia yang egois dan berjiwa anti otoritas atau pemberontak demi kepuasan diri. Semangat inilah yang menjatuhkan seorang pemimpin dari posisinya dan membuat seorang warga negara lari dari tanggung jawabnya. Sehingga semangat nasionalisme yang ditunjukkan oleh dunia ini hanyalah nasionalisme yang sering kali disusupi oleh kepentingan pribadi atau golongan tertentu yang berdosa, karena pada dasarnya dunia ini mengajarkan semangat yang anti terhadap kebenaran dan keadilan Allah.
Kekristenan mengajarkan semangat yang tunduk terhadap Allah. Segala kebenaran dan keadilan yang Allah nyatakan adalah hal yang kita harus taati dengan sepenuh hati, bahkan itu adalah kesukaan bagi orang percaya. Selain tunduk terhadap otoritas Allah, kekristenan pun memiliki teladan kasih yang berkorban dari Kristus. Kita dididik dan dibentuk oleh Tuhan untuk menjadi pribadi yang saling memberikan diri untuk menjadi berkat bagi orang lain. Hati yang mau patuh terhadap otoritas Allah akan memimpin kita untuk menghormati dan taat terhadap pemerintahan karena kita tahu bahwa pemerintahan dibangkitkan untuk menjadi wakil Allah di dalam dunia ini. Jiwa yang rela berkorban untuk menjadikan diri alat Tuhan dalam menyalurkan berkat bagi orang lain, akan menjadikan kita pribadi yang selalu mengedepankan kebaikan bagi umat manusia. Maka, seharusnya semangat yang diajarkan oleh Alkitab akan menjadikan orang Kristen seorang nasionalis sejati. Seorang Kristen yang merelakan hidupnya untuk dipakai Tuhan, pasti memiliki kehidupan yang bukan hanya memuliakan Allah tetapi menjadi berkat dan teladan bagi sesama manusia. Hal inilah yang seharusnya menjadi dasar dari semangat nasionalisme sejati dari seorang Kristen.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Referensi:
1. Lectures on Calvinism – Abraham Kuyper.
2. Institutes of Christian Religion – John Calvin.
3. Calvin in the Public Square – David W. Hall.

Simon Lukmana

Agustus 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲