Artikel

Reformation 500: Reformation and Secularism in Society

Dunia Barat diwakili oleh dua benua besar yaitu Eropa dan Amerika Utara, yang di mana kekristenan adalah mayoritas. Hampir seluruh literatur Kristen berasal dari penulis-penulis di dua benua tersebut. Tokoh-tokoh penting kekristenan mulai dari para Reformator seperti Luther dan Calvin, kaum Puritan, lalu theolog-theolog modern penting seperti Herman Bavinck, Abraham Kuyper, J. Gresham Machen, dan Cornelius Van Til adalah tokoh-tokoh yang lahir di dua benua ini. Tetapi pengajaran-pengajaran yang menggerogoti iman kita seperti atheisme, rasionalisme, empirisisme, konsumerisme, dan sekularisme, juga lahir dari dua benua ini. Ajaran-ajaran ini secara perlahan tetapi pasti menghancurkan di dalam segala aspek kehidupan penduduk di dua benua ini. Hal-hal yang dahulu dianggap tabu, seperti LGBT, aborsi, dan obat-obatan terlarang, karena merupakan dosa, namun pada saat ini dengan terang-terangan mereka membanggakan bahkan dengan gigih diperjuangkan legitimasi hukumnya atas nama HAM (hak asasi manusia). 

Saat kita melihat kehidupan sekarang menggunakan “kacamata” abad ke-17 s/d 18, kita pasti akan terkejut dan sulit untuk menerima kenyataan bahwa kedua benua ini menjadi benua yang mayoritas penduduknya mengesampingkan iman kekristenan dari kehidupan mereka. Kedua benua ini menjadi benua yang menjual iman mereka kepada sekularisme demi kenikmatan hidup yang palsu. Celakanya, kondisi ini juga menular kepada kita yang hidup di dunia Timur. Meskipun dunia Timur memiliki akar budaya beragama yang kuat, tetap saja kita tidak kebal terhadap sekularisme. Semakin lama, kehidupan beriman semakin ditinggalkan dan diganti dengan kehidupan yang mengagungkan diri dengan menjadi seorang sekuler.

Kondisi ini sangat jauh dari apa yang diharapkan oleh semangat Reformasi. Dengan semangat sola scriptura, seperti yang sudah dibahas dalam artikel sebelumnya, kita dibawa untuk kembali tunduk kepada Allah karena itulah natur kita yang sesungguhnya sebagai manusia. Hal ini bertolak belakang dengan sekularisme yang membawa kita untuk memberontak kepada Allah dan menolak untuk hidup di bawah otoritas Allah. Celakanya, banyak orang Kristen, mungkin termasuk kita, yang tidak sadar kalau kita sudah terjerat dan sedang ditarik semakin menjauh dari Allah. Kita tidak sadar bahwa jebakan dan tipuan dari sekularisme ini ada di sekitar kita, dekat dengan kehidupan kita yang selama ini kita anggap sebagai hal yang wajar. Pada artikel ini, kita akan melihat bagaimana sekularisme sesungguhnya adalah perwujudan dari tipuan si Iblis untuk menjerat kita agar hidup dalam pemberontakan kepada Allah.

Secularism: Man’s Rebellion of God’s Authority
Sekularisme adalah sebuah gerakan yang muncul setelah zaman Reformasi. Gerakan ini muncul sebagai sebuah reaksi terhadap dominasi agama yang sangat luas hingga ke dalam ranah pemerintahan. Reaksi ini muncul karena banyak kerusakan baik secara etika maupun pemikiran yang terjadi di bawah dominasi agama pada saat itu. Pembahasan mengenai perkembangan sekularisme di dalam sejarah pemikiran dari Abad Pertengahan hingga saat ini akan kita bahas pada artikel bulan depan. Tetapi yang perlu ditekankan pada artikel ini adalah semangat dari sekularisme yang berkembang secara signifikan sebagai reaksi atau antithesis dari agama atau lebih tepatnya pemberontakan terhadap otoritas Allah.

Bagi kekristenan, semangat sekularisme sudah ada sejak manusia memutuskan untuk memberontak kepada Allah dengan memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Ketika di dalam hatinya manusia memutuskan untuk tidak lagi mau takluk kepada otoritas Allah, di saat itu jugalah benih dari sekularisme lahir di dalam hatinya. Sehingga sekularisme adalah ekspresi manusia berdosa yang ingin menjadikan dirinya fokus dari kehidupan sebagai oposisi atau perlawanan terhadap agama yang menjadikan Allah sebagai fokusnya. Berdasarkan konsep ini, kita semua secara sadar maupun tidak sadar sudah terjerat dalam sekularisme. Ketika kita memiliki keinginan untuk berbuat dosa demi kenikmatan diri, di saat itu juga sekularisme mulai tumbuh di dalam diri kita.

Secara keberadaannya sebagai sebuah arus pemikiran atau arus budaya, sekularisme baru berkembang setelah Abad Pertengahan. Perkembangan ini semakin subur di zaman modern, terlebih lagi di zaman postmodern, sekularisme berkembang dengan sangat cepat dan menjadi suatu arus yang sangat merusak iman maupun kehidupan. Kita yang hidup pada zaman ini harus menyadari bahwa kita sedang berada di dalam situasi yang kental dengan pengaruh sekularisme. Pengaruh ini juga sudah masuk ke dalam gereja sehingga banyak hal yang kita pikir adalah hal yang benar atau Alkitabiah tetapi sebenarnya hanyalah sebuah tipuan dari sekularisme. Secara perlahan, kita dibawa bukan semakin mendekat kepada kebenaran malah menjauh darinya. Berikut beberapa hal terkait sekularisme yang perlu kita ketahui:

Sekularisme sebagai ekspresi keberdosaan manusia yang ingin menjadi Allah
Alkitab menyatakan bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa bukan hanya sekadar sebuah keberhasilan dari tipu muslihat si Iblis. Kejatuhan ke dalam dosa adalah sebuah pemberontakan yang secara sadar manusia lakukan karena keinginannya menjadi sama seperti Allah. Semenjak peristiwa kejatuhan, sifat pemberontakan kepada Allah sudah menjadi natur manusia berdosa. Mereka ingin lepas dari otoritas Allah dan ingin menjadi allah atas dirinya sendiri. Jikalau manusia pertama mengekspresikan hal ini dalam bentuk memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, maka pada zaman ini kita mengekspresikannya melalui segala bentuk usaha untuk mengaktualisasikan diri sehingga diri terlihat hebat dan dengan sombong membanggakan diri (pride).

Pdt. Stephen Tong menjelaskan bahwa manusia yang adalah gambar dan rupa Allah diciptakan dengan sifat penguasaan. Sifat penguasaan ini adalah bagian dari fungsi manusia sebagai raja. Manusia diciptakan dengan suatu otoritas yang diberikan Allah untuk berkuasa atas alam, menggarapnya, dan mempersembahkannya bagi kemuliaan Tuhan. Sifat penguasaan atau fungsi sebagai raja ini adalah sebuah anugerah besar yang Tuhan berikan kepada manusia tetapi harus dijalankan dengan tetap bersandar atau takluk kepada otoritas Allah. Hal ini berarti otoritas manusia adalah otoritas yang berasal dari Allah dan harus dijalankan secara sinkron dan harmonis dengan tunduk kepada otoritas Allah. Tanpa ketertundukan, fungsi ini akan bersifat destructive (penghancur) bagi sekitar kita maupun diri kita sendiri. Sehingga sekularisme adalah penyimpangan yang dilakukan oleh manusia, yang dengan sadar memberontak kepada Allah demi kekuasaan diri sendiri, tetapi secara tidak sadar sedang merusak diri sendiri dan sekitarnya.

Goal of Secularism: Pride
Manusia yang memiliki semangat sekularisme bertujuan memperoleh suatu rasa kebanggaan atas diri, baik karena pencapaian maupun pujian dan pengakuan dari sekitar. Manusia yang jatuh ke dalam dosa tidak lagi mampu melihat kepuasan atau kebanggaan diri di dalam hidup yang takluk kepada otoritas Allah. Mereka menganggap hal itu sebagai sebuah kebodohan, pelecehan, dan penghinaan. Bagi mereka, manusia seharusnya dipuji dan dihargai karena setiap manusia itu unik dan memiliki potensi yang besar. Potensi ini dapat digarap secara maksimal ketika bebas dari kekangan Allah. Inilah pola berpikir dari manusia yang sudah terpengaruh oleh secularism. Demi kebanggaan diri, manusia membuang identitasnya yang sejati sebagai gambar Allah. Demi pengakuan atas dirinya, mereka mengabaikan berkat yang Tuhan sudah berikan dengan begitu berlimpah. Manusia yang meninggalkan Allah adalah manusia yang kehilangan signifikansinya yang sejati. Sehingga mereka selalu berusaha untuk mengembalikan signifikansinya ini melalui hal-hal yang justru semakin menghancurkan diri dan martabatnya sebagai manusia di hadapan Allah.

Motive of Secularism: Sinful Pleasures
Dalam sekularisme, kenikmatan atau nafsu berdosa menjadi pendorong atau motivasi dalam memperjuangkan sekularisme. Seorang yang materialis akan berpikir bahwa kepemilikan harta yang berlimpah akan memberikan suatu kenyamanan dan ketenangan hidup. Seorang hedonis didorong untuk menikmati segala bentuk kenikmatan yang disediakan dunia ini. Setiap orang akan didorong untuk mengejar apa yang menjadi kenikmatan bagi diri mereka. Mungkin saja orang-orang ini melakukan kebaikan bahkan berani untuk mengorbankan dirinya demi “kemanusiaan” tetapi tetap di dalam hatinya mereka memiliki motivasi kenikmatan yang berdosa yaitu self-centeredness. Perbuatan yang baik jikalau tidak lahir dari hati yang mau bersandar dan takluk kepada Allah, akan menjadi perbuatan yang seperti kain kotor.

Method of Secularism: Exploit Everything
Demi mencapai kebanggaan bagi diri dan memuaskan keinginan atau kenikmatan berdosa, para sekularis akan menggunakan berbagai cara sebagai metode mereka. Seorang materialis akan melegalkan segala sesuatu demi mendapatkan harta yang ia banggakan. Hal ini terlihat jelas di dalam kondisi kita saat ini. Mulai dari kerusakan alam karena eksploitasi yang berlebihan, hingga persahabatan yang harus terkoyak demi keuntungan dalam berbisnis. Bahkan, ikatan persaudaraan dalam keluarga harus hancur karena perebutan harta atau kekuasaan. Inilah fakta yang terjadi di sekitar kita. Seorang sekularis pada dasarnya seorang yang tidak mau tunduk kepada suatu hukum kecuali yang ia bangun sendiri. Sifat pemberontakannya yang menolak tunduk kepada otoritas menjadikan dirinya hidup berdasarkan apa yang ia anggap benar. Ia menjadikan dirinya sebagai fokus atau pusat dari seluruh hidupnya. Konsekuensinya, ia hidup dengan mengeksploitasi segala sesuatu demi dirinya walaupun harus menggunakan berbagai cara berdosa sekalipun.

Dari keempat hal ini kita bisa melihat bahwa seorang sekularis membangun prinsip etika kehidupannya sendiri yang bisa digambarkan dalam Ilustrasi 1.

Biblical Way of Life vs Its Counterfeit (Secularism)
Sebagai orang Kristen kita harus menyadari bahwa secularism ini adalah sebuah peperangan rohani yang harus kita hadapi. Kita sebagai manusia berada di dalam peperangan ini, yaitu antara Allah dan Iblis. Keberadaan Allah dan Iblis bersifat antithesis. Walaupun keberadaan si Iblis bergantung kepada Allah, ia tetap dengan gencar melakukan penipuan kepada manusia. Iblis melakukan serangannya dengan membuat berbagai tiruan dari kemuliaan Allah yang sejati. Hal ini dipaparkan oleh Vern Poythress bahwa dalam Kitab Wahyu terdapat tiruan dari Allah Tritunggal. Ia memaparkannya seperti demikian:

“Satan is preeminently a counterfeit of God the Father. The Beast, a kind of pseudo-incarnation of Satan, is a counterfeit, unholy warrior opposed to Christ the holy warrior (compare 13:1-10 to 19:11-21). The False Prophet is a counterfeit of the Holy Spirit. By his deceiving signs the False Prophet promotes worship of the Beast. His actions are analogous to the manner in which the Holy Spirit works miracles in Acts to promote allegiance to Christ. Babylon the Harlot is a counterfeit for the church, the bride of Christ.”

Lebih lanjut Poythress menyatakan bahwa counterfeit ini menyatakan dirinya pada zaman ini di dalam berbagai wujud yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah secularism. Ia menyatakan bahwa secularism itu sendiri pada dasarnya adalah sebuah penyembahan terhadap berhala. Poythress menyatakan seperti demikian:

“Secularization has supposedly freed us from the power of religions and therefore from idolatry. But, as Jacques Ellul and Herbert Schlossberg perceive, the truth is that secularization dispenses with gross physical idols in order to make way for more subtle idols. We give whole-souled commitment and blind trust to technique or state power or progress or revolution or sex or money. The more recent demons may be worse than the earlier ones (Matt. 12:43-45). And the new idolatry travels in its subtlety through institutions. The institutions of power include civil government, industry, and the channels controlling money. But the “knowledge industry” has also more than ever developed institutions of power: the mass media, advertising, political propaganda, and educational institutions. The False Prophet is at work. These large-scale institutions give out a message that is reinforced by the voices of friends and neighbours. Too often the friends and neighbours advocate and obey the same view of the world that the large institutions represent.”

Kita harus benar-benar menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di sekitar kita saat ini bisa jadi sebuah jebakan yang membawa kita menjauh dari Allah. Sebagai orang percaya, kita harus selalu waspada dan kritis terhadap segala hal yang zaman ini tawarkan. Jikalau hati kita sudah tertawan kepada sekularisme, maka kita akan menjadi orang yang semakin hari hanya menunjukkan kebobrokan hati bukan kemuliaan Tuhan.

Dengan gamblang Alkitab menyatakan bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan yang meneladani Kristus sepenuhnya. Kita dipanggil untuk mengikuti apa yang Allah kehendaki dengan meneladani hidup Kristus yang adalah representasi manusia yang berkenan di hadapan Allah. Maka orang Kristen memiliki etika hidup yang berbeda dengan apa yang dunia ini tawarkan, khususnya melalui sekularisme. Secara umum kita bisa membandingkannya seperti Ilustrasi 2.

Dari kedua gambar ini kita bisa dengan kontras melihat perbedaan cara hidup Kristen yang Alkitab ajarkan dibandingkan dengan cara hidup dunia dengan sekularismenya. Jikalau sekularisme mendorong manusia untuk mengejar atau membangun kebanggaan diri, maka Alkitab menyatakan bahwa kita harus rendah hati mengikuti Kristus dan takluk kepada otoritas pimpinan-Nya sebagai puncak wahyu Allah. Jikalau sekularisme mendorong dunia ini melalui motivasi yang ingin memuaskan nafsu diri yang berdosa, maka Alkitab mengajarkan kita untuk menyangkal diri melakukan panggilan Allah demi kemuliaan-Nya. Jikalau sekularisme mengajarkan kita untuk mengeksploitasi bagi diri dengan menggunakan berbagai cara, maka Alkitab menyatakan bahwa di dalam mengikuti Kristus metode kita adalah memikul salib yang Tuhan berikan kepada setiap kita umat pilihan-Nya.

Kita harus menyadari bahwa sekularisme adalah arus zaman yang begitu berbahaya karena akan semakin menjerat kita hidup di dalam dosa bukan hidup memuliakan Allah. Ini adalah sebuah peperangan rohani yang kita harus waspadai dan terus gumulkan di hadapan Allah. Jikalau kita ingin sungguh-sungguh hidup memuliakan Allah, maka kita harus menjaga segala kemurnian hidup kita dari jeratan sekularisme tersebut. Pada artikel selanjutnya kita akan membahas hal yang lebih ironis, yaitu arus zaman sekularisme menjadi besar justru muncul semenjak Reformasi terjadi. Sebagai orang Reformed, kita harus waspada terhadap hal ini karena mungkin saja bibit sekularisme itu sudah ada di dalam diri kita pada saat ini, menanti waktunya untuk menjadi subur. Setelah melihat telusuran secara sejarah, kita akan membahas implikasinya terhadap kehidupan sehari-hari yang kita akan kritisi secara lebih konkret.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Juni 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲