Artikel

Reformation 500: Reformation, History, and Our Responsibility

“Standing on the shoulders of giants”, ungkapan ini adalah sebuah metafora yang menyatakan bahwa keberhasilan atau pencapaian saat ini dikarenakan adanya para pendahulu yang telah memulai perjuangan. Metafora ini juga yang dapat kita saksikan dalam sejarah perkembangan Reformasi. Keberadaan kita saat ini sebagai Gerakan Reformed Injili adalah karena Tuhan sudah terlebih dahulu berkarya melalui pendahulu-pendahulu kita. Begitu banyak tokoh penting yang bisa kita pelajari di dalam sejarah, baik pemikiran, pelayanan, maupun perjuangan dalam kisah hidup mereka. Tetapi sangat disayangkan banyak orang Kristen, bahkan orang Reformed, yang tidak lagi menghargai perjuangan mereka. Sehingga kita menjadi generasi yang “take it for granted”, melupakan bahkan menganggap sepi perjuangan tokoh-tokoh Reformasi.

Tahun ini adalah tahun yang sangat penting karena kita merayakan “Reformation 500”. Kita diajak untuk mengingat kembali peristiwa yang sangat penting dan terjadi 500 tahun lalu. Sebuah momen di mana Martin Luther memakukan 95 tesis di pintu gerbang gereja di Wittenberg. Semangat ini muncul bagaikan ledakan yang secara tiba-tiba memutarbalikkan arus sejarah. Sebuah seruan kecil dan dipandang sebelah mata, tetapi di dalam waktu singkat melanda seluruh Eropa bahkan dunia. Pengaruhnya masih dirasakan hingga saat ini dan menjadi salah satu arus pemikiran dalam kekristenan yang paling penting. Tetapi pertanyaannya, “Apakah gerakan dan semangat ini berhasil?”

Apakah Reformasi Berhasil atau Justru Gagal?
Seorang sejarawan, yang mendedikasikan enam tahun hidupnya untuk meneliti sejarah Reformasi Jerman, bernama Gerald Strauss memberikan sebuah kesimpulan seperti demikian:

If it was the objective of the Reformation to complete the breaking up of the medieval church, it succeeded. If its goal was to rationalize ecclesiastical administration and co-ordinate it with the goals of the early modern state, it definitely succeeded. If it sought to channel the religious energies of an intellectual elite, it was in large part successful. But if it was its central purpose to make people – all people – think, feel, and act as Christians, to imbue them with a Christian mind-set, motivational drive, and way of life, it failed.”

Pernyataan dari Strauss ini seharusnya menggelitik kita untuk kembali merenungkan akan perjuangan Reformasi. Apakah setelah 500 tahun, cita-cita yang diharapkan Reformasi sudah tercapai? Apakah arti dari perjuangan panjang ini, yang melibatkan banyak tokoh besar selama 500 tahun, bagi perkembangan sejarah umat manusia? Dan pertanyaan yang lebih krusial adalah “Masihkah perjuangan ini berarti untuk dilanjutkan pada masa ini?”

Mari kita berkaca dengan melihat kondisi dunia saat ini. Benua Eropa dan Amerika adalah dua benua yang secara mayoritas memperoleh pengaruh Reformasi secara langsung. Martin Luther dibangkitkan untuk melakukan Reformasi di negara Jerman. Di daerah Swiss dan Perancis, bangkit beberapa tokoh besar seperti Martin Bucer, Huldrych Zwingli, dan John Calvin. Pengaruh Reformasi yang diberikan oleh Calvin tidak hanya bagi Swiss dan Perancis saja, tetapi hampir seluruh Eropa mendapatkan buah dari pelayanan Calvin. Lalu, William Tyndale adalah Reformator yang dibangkitkan di negara Inggris. Di Skotlandia, ada seorang tokoh besar yang bernama John Knox. Untuk Amerika, Tuhan membangkitkan tokoh-tokoh kebangunan rohani yang melakukan penginjilan di hampir seluruh wilayah Amerika berdasarkan Theologi Reformed, di antaranya seperti Jonathan Edwards dan George Whitefield.

Masih banyak tokoh penting lain yang Tuhan bangkitkan seperti kaum Puritan. Tetapi pertanyaannya adalah, “Bagaimana dengan iman dari masyarakat Eropa dan Amerika saat ini?” Bukankah kedua benua ini sedang mengalami krisis iman yang besar? Gereja-gereja begitu kosong, hanya tersisa orang tua yang sudah berambut putih dan sekelompok kecil anak muda yang sudah padam semangatnya. Mayoritas penduduk kedua benua ini sudah menjual dirinya kepada sekularisme. Hidup jauh dari Tuhan, berfoya-foya di dalam kenikmatan dunia, bahkan perjuangan untuk melegalkan perbuatan-perbuatan yang selama ini Alkitab nyatakan sebagai hal yang berdosa. Singkatnya, kehidupan mereka semakin hari semakin menunjukkan pemberontakan terhadap Allah. Inikah warisan perjuangan Reformasi?

Pasang Surut Sejarah Umat Allah
Jikalau kita menelusuri lebih detail mengenai sejarah gereja, kita akan menjumpai bahwa sejarah umat Kristen ditandai dengan pasang surut iman dari umat Allah, yang diikuti dengan kebangkitan atau keruntuhan sebuah negara. Karena di mana kebangunan rohani terjadi, di situ berkat Tuhan akan diberikan. Berkat ini diberikan kepada umat-Nya secara khusus tetapi akan berdampak kepada lingkungan sekitarnya. Gereja yang dengan setia berteriak mengumandangkan firman Allah dan teguran atas dosa, akan menghambat kebusukan masyarakat sekitarnya. Teriak kebenaran ini berfungsi sebagai hati nurani bagi masyarakat. Sehingga cepat atau lambat negara tempat gereja itu berada akan menjadi negara yang menegakkan keadilan dan memikirkan kesejahteraan penduduknya.

Masalahnya adalah kemurnian iman dari gereja sering kali pudar. Generasi yang memulai perjuangan akan berjuang untuk mempertahankan kemurnian iman, tetapi generasi yang meneruskan, yang tidak menyaksikan langsung perjuangan pendahulunya, menjadi generasi yang “take it for granted” dan cepat atau lambat luntur imannya. Sehingga, ketika pengajaran atau filsafat dunia datang menghantam, mereka akan kompromi dan menjual “hak kesulungannya”. Akibatnya, teriakan kebenaran lambat laun akan hilang, hati nurani masyarakat akan berhenti berfungsi, dan negara secara perlahan akan digerogoti oleh amoralitas atau dosa, lalu mereka memasuki masa yang kelam.

Di dalam masa kelam itu, kita akan menyaksikan bahwa seluruh perjuangan iman seolah menjadi sia-sia. Injil yang disebarkan dan menghasilkan banyak pertobatan seakan sirna tak berbekas ketika kehidupan berdosa merebak di mana-mana. Kebenaran serta otoritas firman Allah yang ditegakkan dan menerangi setiap aspek kehidupan manusia kembali menjadi redup bahkan hilang ditelan kegelapan ambisi manusia yang memberontak kepada Allah. Seluruh perjuangan hidup dalam kebenaran dan tunduk kepada Allah mengalami sebuah “reset”. Segala yang sudah dibangun kembali dimulai dari titik nol. Kita dibuat untuk menantikan saat di mana Tuhan berbelaskasihan untuk kembali melakukan perbuatan-Nya yang ajaib dan melakukan kebangunan rohani di tengah negara tersebut.

Pasang Surut Sejarah Reformasi
Pola pergerakan sejarah seperti inilah yang kita jumpai di dalam sejarah gereja. Kebobrokan yang dilawan oleh Martin Luther dengan Gerakan Reformasi pada awal abad ke-16, secara ironis terulang kembali (dengan bentuk yang berbeda) di dalam kubu Lutheran sendiri (hal ini adalah side-effect dari terlalu menekankan anugerah tetapi mengabaikan tanggung jawab). Hal ini membangkitkan sebuah gerakan yang dinamakan pietism, pada abad ke-17, yang menekankan kehidupan saleh. Tetapi pietism ini pun meredup dan sirna di sekitar abad ke-19, karena rapuhnya doktrin yang mereka miliki. Di saat pietism mulai meredup, muncul sebuah gerakan yang dipelopori oleh John Wesley, Charles Wesley, dan George Whitefield di sekitar abad ke-18, yang bernama Methodism. Walaupun kaum Methodist masih dapat kita jumpai hingga saat ini, pengaruh mereka sudah tidak sesignifikan dahulu.

Pengaruh dari penyebaran Theologi Reformed, terutama dari ajaran John Calvin, membangkitkan gereja-gereja serta tokoh-tokoh penting Reformed di Jerman, Belanda, Inggris, dan Amerika. Pada masanya mereka memiliki pengaruh yang besar bagi negaranya. Misalnya kaum Puritan di Inggris yang sangat memengaruhi terbentuknya budaya di Inggris. Contoh lain adalah kelompok Reformed Belanda yang secara signifikan memengaruhi negara, bahkan salah satu Perdana Menteri di Belanda adalah tokoh penting Reformed, yaitu Abraham Kuyper. Tetapi signifikansi mereka bagi negaranya saat ini sudah tidak lagi sebesar pendahulunya, bahkan negara-negara ini semakin hari semakin menjadi bobrok. Inilah fakta sejarah yang kita jumpai saat ini.

Allah yang Bekerja melalui Sejarah
Sejarah memang memperlihatkan adanya pasang surut di dalam perjuangan semangat Reformasi ini. Tetapi kalau kita lihat lebih saksama lagi, di balik pasang surut ini Tuhan tetap bekerja memelihara semangat Reformasi dari zaman ke zaman melampaui batas ruang dan waktu. Semangat yang dimulai di Eropa pada sekitar abad ke-16, masih tetap memberikan pengaruh yang signifikan hingga saat ini bahkan kita yang berada di Indonesia pun bisa merasakannya. Meskipun Barat semakin merosot dan semakin jauh meninggalkan Tuhan, namun jejak sejarah pengaruh Reformasi tetap menjadi warisan berharga yang bisa kita pelajari dan teladani. Ini adalah salah satu bentuk campur tangan Tuhan di dalam memelihara semangat perjuangan untuk kembali kepada kebenaran.

Alkitab adalah bukti pemeliharaan Allah di dalam sejarah. Pasang surut kesetiaan umat Allah terus terjadi di sepanjang sejarah keselamatan. Nabi demi nabi Tuhan bangkitkan untuk menegur dan memulihkan umat Allah, tetapi hal ini selalu diikuti dengan kejatuhan ke dalam dosa dan pemberontakan bangsa Israel kepada Allah. Seolah-olah apa yang Tuhan kerjakan tidak membuahkan hasil bahkan bisa dikatakan gagal. Tetapi saat kita melihat secara utuh pekerjaan Tuhan dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian baru, kita akan melihat pemeliharaan Tuhan bagi sejarah keselamatan. Apa yang Tuhan ingin kerjakan bagi umat-Nya, secara sempurna tergenapi melalui Kristus. Pemeliharaan Tuhan terus berlanjut ke masa Perjanjian Baru bahkan hingga gereja di zaman ini. Hal ini membuktikan bahwa Tuhan terus berkarya dan memelihara apa yang Ia sudah kerjakan di dalam sejarah. Pemeliharaan Allah inilah yang menjamin keberhasilan dari pekerjaan-Nya. Sehingga semua ini membuktikan ketidakmampuan manusia tetapi juga kedaulatan Allah.

Maka peringatan 500 tahun Reformasi adalah sebuah peristiwa penting yang kita semua harus hargai. Ini menjadi sebuah momen yang tepat untuk kembali merenungkan intervensi Allah di dalam sejarah melalui Reformasi. Semangat yang Tuhan sudah bangkitkan akan terus Ia pelihara melalui orang-orang yang berespons dengan tepat di dalam setiap konteks sejarah. Oleh karena itu pembelajaran akan sejarah sangatlah penting untuk kita berjuang di masa kini. Kita perlu melihat bagaimana Tuhan bekerja di dalam setiap zaman melalui anak-anak-Nya yang Ia bangkitkan untuk dengan setia mengerjakan panggilan-Nya. Jikalau kita mempelajari satu per satu kisah tokoh-tokoh Kristen yang dibangkitkan, khususnya dalam konteks Reformasi, mereka berjuang untuk meneruskan obor yang Tuhan sudah berikan. Mereka membawa semangat yang diturunkan dari generasi ke generasi melewati zaman demi zaman dengan tantangannya masing-masing. Sehingga dalam memperingati 500 tahun Reformasi kita dapat melihatnya di dalam 3 perspectives: semangat yang diperjuangkan (normative perspective), konteks zaman yang dihadapi (situational perspective), dan pribadi atau kelompok yang Tuhan bangkitkan untuk dipakai dalam zamannya (existential perspective).

Apa yang Harus Kita Perjuangkan?
Di Indonesia, pengaruh Theologi Reformed sudah lama ada, yaitu saat masa penjajahan Belanda. Walaupun sudah lama ada, sejarah pengaruh dari Theologi Reformed di dalam negara ini masih sangat minor. Tidak banyak tokoh maupun dampak Theologi Reformed yang dapat kita jumpai dalam sejarah Indonesia. Kita mungkin hanya mendengar adanya beberapa penginjil besar dari kalangan Injili yang masuk ke Indonesia atau misionaris-misionaris yang menjadi alat Tuhan untuk membawa masuk Injil ke Indonesia. Tetapi jejak pengaruh Reformasi cukup sulit untuk kita temukan di dalam sejarah Indonesia.

Pengaruh Theologi Reformed di Indonesia paling besar diberikan melalui Gerakan Reformed Injili. Tuhan bangkitkan Pdt. Stephen Tong untuk memengaruhi Indonesia dengan menegakkan Theologi Reformed dan semangat Injili. Melalui 60 tahun pelayanannya sebagai seorang hamba Tuhan, pengaruh Theologi Reformed di Indonesia mulai terlihat dampaknya baik di dalam gereja, theologi, musik, pendidikan, bahkan hingga ke dalam pemerintahan. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah, “Apakah semangat Reformed Injili ini akan terus berlanjut ke generasi-generasi selanjutnya?”, “Apakah yang harus kita lakukan sebagai pemuda Gerakan Reformed Injili di zaman ini, khususnya di dalam konteks memperingati 500 tahun Reformasi?” Ini adalah pertanyaan bagi kita para pemuda di dalam gerakan ini. Kita akan menggumuli pertanyaan-pertanyaan ini dengan menggunakan 3 perspectives yang sudah disebutkan di atas.
Normative Perspective (semangat yang diperjuangkan): sola scriptura, sola fide, sola gratia, solus Christus, dan soli Deo gloria
Situational Perspective: Konteks zaman yang kita hadapi saat ini
Existential Perspective: Keberadaan kita sebagai pemuda Gerakan Reformed Injili

Di dalam beberapa bulan ke depan kita akan membahas satu per satu topik-topik di atas. Kita akan melihat bagaimana pemikiran lima sola melewati berbagai zaman, sebagai semangat yang juga harus kita perjuangkan di zaman ini (normative). Lalu kita juga akan menelusuri perjuangan di dalam konteks zaman ini, terutama semangat atau pemikiran dunia yang berbahaya bagi kita - para pemuda (situational). Dan kita juga akan melihat apa yang harus kita lakukan atau respons kita setelah kita mempelajari lima sola dan konteks zaman yang kita hadapi (existential).

Dari zaman ke zaman Tuhan sudah membangkitkan anak-anak-Nya satu per satu untuk meneruskan semangat perjuangan Reformasi, mulai dari Luther yang menancapkan semangat ini 500 tahun lalu hingga kepada zaman ini ada Pdt. Stephen Tong. Maka sebagai pemuda Reformed Injili, kita bertanggung jawab untuk dapat memberikan respons yang tepat terhadap anugerah Tuhan ini. Jikalau kita masih hidup hingga saat ini, bahkan kita secara langsung menyaksikan karya Tuhan melalui Gerakan Reformed Injili di zaman ini, maka kita pasti akan dituntut pertanggungjawaban oleh Tuhan. Anugerah Tuhan diberikan bukan untuk kita bersenang-senang dengan berpangku tangan, apalagi menjadikan anugerah itu sebagai hal yang layak kita terima. Itu adalah sebuah dosa yang sering kali tidak disadari telah kita lakukan sebagai pemuda Reformed Injili. Kita harus bertobat dan kembali sadar akan perjuangan yang seharusnya kita kerjakan. Kita harus kembali menyadari perjuangan Reformasi yang sudah Tuhan pelihara di sepanjang sejarah, sebagai perjuangan yang harus kita wariskan dan terus perjuangkan di zaman ini, karena itu adalah tanggung jawab kita di hadapan Tuhan.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Februari 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

Halo Jones, Saya sendiri juga melayani dalam wadah sekolah minggu (SD). Tanggapan singkat saja dari saya. Untuk...

Selengkapnya...

Bagaimana caranya kita menerapkan pemahaman alkitab terhadap anak anak seperti saudara kita yang belajar di mda misalnya

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲