Artikel

Reformation 500: Reformation, Protestantism, and the Challenge of Secularism in Our Age

Perkembangan sejarah pemikiran yang sudah diulas dalam beberapa artikel yang lalu memberikan sebuah kesimpulan, yaitu semakin lama manusia semakin berani dan gamblang menyatakan pemberontakannya kepada Allah. Pemberontakan ini dimulai dengan keraguan manusia terhadap otoritas Allah, lalu secara konsensus menyempitkan relevansi otoritas Allah sehingga hanya berlaku di aspek iman dan membangun otoritas rasio yang dianggap berlaku di aspek pengetahuan. Kemudian, semenjak Immanuel Kant, sejarah pemikiran ini berubah porosnya dari pencarian kebenaran objektif menjadi kebenaran subjektif manusia. Poros inilah yang menjadi dasar atau pola dari pemikiran zaman ini. Zaman yang tidak lagi terlalu peduli dengan kebenaran konsensus atau kebenaran yang berlaku secara universal, melainkan hanya peduli dengan kebenaran menurut sudut pandang masing-masing pribadi. Ini adalah salah satu ciri utama dari semangat zaman di mana kita hidup saat ini, yang dikenal sebagai postmodern.

Konteks semangat zaman postmodern merupakan ladang yang sangat subur bagi berkembangnya sekularisme. Hal ini bisa dirasakan dalam realitas hidup sekitar kita. Jikalau kita membandingkan konteks kehidupan beragama pada saat ini dengan konteks semangat zaman modern atau pre-modern, maka kita akan melihat perbedaan yang signifikan. Seorang yang tidak beribadah pada zaman pre-modern akan dianggap aneh dan cenderung dikucilkan. Saat zaman modern, manusia memang mulai meragukan agama, tetapi secara mayoritas tetap datang untuk beribadah. Namun, pada zaman postmodern manusia secara terang-terangan menantang agama, melecehkan agama sebagai hal yang kuno, bahkan ada yang dengan kelicikannya memanfaatkan agama bagi kepentingan diri. Pergeseran ini terjadi sebagai efek samping dari berkembangan semangat postmodern.

Pergeseran demi pergeseran ini menjadi indikasi bahwa kehidupan Kristen yang mempertahankan kesejatian iman adalah kehidupan yang akan semakin menantang. Kita tidak lagi mungkin bertahan dengan menjadi “ordinary Christian” yang berpikir bahwa iman Kristen hanyalah salah satu aspek dari kehidupan. Namun, kita semakin dituntut menjadi seorang “devoted Christian” yang menjadikan iman Kristen sebagai fondasi atau dasar satu-satunya dari seluruh aspek hidup kita. Maka, secara fundamental terdapat 2 golongan besar dalam umat manusia, yaitu golongan yang patuh dan tunduk sepenuhnya kepada Allah, dan golongan yang memberontak kepada Allah.

Ketaatan kita kepada Allah tidak dapat dibuktikan hanya melalui kerajinan dalam aktivitas rohani. Bahkan, kerajinan ini bisa jadi perwujudan semangat pemberontakan kita kepada Allah, karena aktivitas rohani pada saat ini sering kali dijadikan sebagai ajang untuk menunjukkan kehebatan diri. Ironisnya, hal ini tidak banyak disadari oleh orang-orang Kristen pada zaman ini. Bahkan ada juga yang berani untuk memperalat otoritas Allah sebagai perisai atau rasionalisasi dari dosa-dosanya. Maka, sesungguhnya kengerian dosa yang kita lihat terjadi di luar gereja, dapat juga kita jumpai di dalam gereja dengan kedok yang lain dan justru lebih berbahaya. Kita semua harus menyadari bahwa sekularisme tidak hanya terjadi di luar gereja, tetapi juga terjadi di dalam gereja. Maka pada artikel kali ini, kita akan melihat beberapa ciri semangat postmodern yang sangat berkaitan dengan semangat sekularisme, lalu kita akan melihat efeknya terhadap kondisi kekristenan pada saat ini.

Postmodernism as Anti-Modernism
Semangat postmodern lahir sebagai reaksi terhadap modern. Awalnya istilah ‘postmodern’ lahir sebagai kritik dalam bidang arsitektur, yaitu sebagai upaya dalam mencari pluralisme gaya arsitektur. Salah satu peristiwa yang dianggap sebagai titik awal postmodern dalam arsitektur adalah diledakkannya perumahan Pruitt-Igoe di St. Louis pada tahun 1972, dan dimulailah pengembangan karya arsitektur dengan berbagai karakter. Namun, istilah postmodern ini menjadi populer setelah François Lyotard menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1979). Melalui tulisan Lyotard inilah postmodern dimengerti sebagai sebuah semangat dalam mengkritik semangat modern. Arus filsafat modern dianggap telah mengabaikan sisi humanisme dan menggantinya dengan semangat materialisme dan konsumerisme yang cenderung merusak lingkungan dan masyarakat.

Lyotard menyatakan bahwa semangat postmodernism adalah semangat revolusi kehidupan yang menentang dan tidak percaya kepada narasi besar (Grand Narrative). Mereka menolak paradigm yang diberikan oleh filsafat modern, seperti: rasionalisme Descartes, empirisisme Locke, metode ilmiah Francis Bacon, dan sebagainya. Bersamaan dengan penolakan terhadap grand narrative, postmodern membuka ruang bagi berkembangnya narasi kecil, lokal, tersebar, dan beragam untuk disoroti dan diketahui oleh publik. Hal ini bisa disebut juga sebagai kebangkitan dari subjektivisme. Semangat inilah yang terlihat di dalam kritik dari Friedrich Nietzsche terhadap modernism.

Nietzsche menyatakan bahwa modernisme telah melakukan kecurangan dengan mengklaim dirinya sebagai kebenaran yang tetap, netral, dan objektif, padahal semua hal itu tidaklah mungkin terjadi. Senada dengan Michel Foucault, Nietzsche menganggap sains bukan sebagai disiplin ilmu yang netral, karena terdapat banyak persaingan dan kompetisi dalam mengklaim kebenaran di dalam sains itu sendiri. Di sisi lain Jean Baudrillard menyatakan kecurigaannya kepada media massa yang telah banyak melakukan kebohongan dengan menyatakan dirinya sebagai pemberi fakta, tetapi sesungguhnya mereka sedang mengarahkan opini publik melalui interpretasi yang mereka kemas dalam berita yang memaparkan fakta.

Bagi postmodern, segala sesuatu yang dibanggakan oleh modern hanyalah omong kosong dan realitasnya mereka penuh dengan kegagalan. Ilmu pengetahuan yang dibangga-banggakan hanya membawa umat manusia ke dalam berbagai bencana seperti aborsi, perang dunia, kecanduan obat-obatan terlarang, dan lain-lain. Kemajuan ekonomi yang terkesan menggiurkan hanya menjadikan manusia terjerat dalam konsumerisme dan mereka hidup menjadi manusia yang memangsa sesamanya.

Ada beberapa ciri yang bisa kita lihat dari filsafat postmodern.

Memudarnya kepercayaan terhadap agama yang bersifat transenden (metanarasi) dan penerimaan terhadap pandangan pluralisme dan relativisme kebenaran.
Kritikan postmodern terhadap modern adalah klaim mereka atas kebenaran universal yang harus dipatuhi oleh semua orang. Namun, postmodern menganggap hal ini absurd dan adalah sebuah pembunuhan karakter karena mengekang kebebasan dalam membangun kebenaran diri. Selain itu, mereka pun menyaksikan bahwa hal yang dianggap sebagai kebenaran universal ini ternyata penuh dengan tipu muslihat dari para penguasa. Oleh karena itu mereka menganggap kebenaran objektif adalah kemustahilan, dan yang ada hanyalah kebenaran yang subjektif dan relatif.

Semakin terbukanya ruang bagi kelompok marginal untuk berekspresi secara bebas.
Filsafat modern mencoba membangun grand narrative yang dapat berlaku universal. Namun, postmodern menganggap hal itu adalah sebuah kemustahilan, sehingga mereka membangun kisah-kisah kecil yang selama ini tidak dianggap penting oleh filsafat modern. Maka tidaklah mengherankan jikalau kisah-kisah kaum marginal atau hal-hal yang bersifat minoritas sangat menarik untuk disorot oleh media massa pada saat ini. Kelompok-kelompok yang selama ini diam karena sindrom minoritas, maka pada zaman postmodern mereka berani bersuara dengan lantang, menyatakan kebebasannya sebagai manusia. Hal ini tidak terlepas dari semangat humanisme yang berkembang juga di zaman postmodern.

Pesatnya perkembangan media massa yang memiliki pengaruh dalam membentuk masyarakat, melebihi agama.
Salah satu katalisator terbesar dalam perkembangan postmodern adalah media massa. Penyebaran informasi atau opini yang cepat dan masif menjadi kunci utama dalam perkembangan postmodern ini. Akibatnya, kita dengan mudah terbawa arus berbagai tulisan yang belum teruji kebenarannya. Terutama dalam perkembangan media sosial saat ini, kita dapat menerima berbagai informasi yang kalau dikaitkan satu dengan lainnya, kita akan menjumpai berbagai kontradiksi. Hal ini tidak terlepas dari subjektivisme yang subur berkembang pada masa postmodern ini. Sehingga, media massa bukan lagi ada sebagai media untuk menyatakan realitas yang terjadi saja, tetapi pada dasarnya menjadi media yang digunakan untuk membawa arus opini publik kepada sudut pandang tertentu.

Semangat pemberontakan terhadap otoritas (objektivitas) dan bangkitnya otonomi diri (subjektivitas).
Ciri yang lain dari postmodern ini adalah ketidakrelaan untuk tunduk terhadap otoritas. Hal ini tidak terlepas dari kekecewaan terhadap modernisme yang menyebarkan pengaruhnya dengan cara yang otoritatif, tetapi berakhir dengan kegagalan. Akibatnya, hal-hal yang bersifat otoritatif dianggap sebagai sebuah arogansi atau penindasan terhadap hak asasi manusia. Untuk melawan otoritas ini, postmodern memberikan ruang bagi setiap individu untuk berdiri secara otonom. Mereka diajak untuk menjadikan diri sebagai tuan yang menentukan segala sesuatu dalam hidup tanpa adanya sifat kebertundukan terhadap pribadi yang memang seharusnya berotoritas. 

Dari keempat ciri ini saja kita dapat melihat bahwa semangat postmodern memberikan angin segar atau menjadi ladang yang subur untuk berkembangnya semangat sekularisme dan menyatakan pemberontakan terhadap kebenaran yang sejati. Kita dipengaruhi untuk menjadi individu yang menyatakan hal-hal yang kita anggap benar, meskipun kita belum tentu sungguh-sungguh mengerti apa yang kita nyatakan. Akibatnya, sebuah pernyataan yang salah bisa dipelintir sebagai pandangan dalam perspektif yang lain. Manusia ditarik semakin jauh dari kebenaran yang sejati, didorong untuk bernyali dalam membangun kebenaran diri, lalu menyatakannya dengan berani kepada publik sebagai ekspresi kebebasan, tidak peduli hal itu benar atau tidak. Inilah semangat sekularisme yang berkembang pada masa hidup kita saat ini di zaman postmodern.

Protestantism and Postmodern Secularism
Semangat sekularisme ini bukan hanya memengaruhi kelompok non-Kristen, tetapi juga memengaruhi orang Kristen terutama Kristen Protestan. Perkembangan Kristen Protestan dimulai dari Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther. Sering kali semangat Reformasi Luther diinterpretasi sebagai keberanian dalam menyatakan pemberontakan terhadap otoritas yang sudah sewenang-wenang dalam memimpin gereja dan memanfaatkan kebenaran. Namun, banyak orang Kristen, yang menganggap semangat anti terhadap otoritas sebagai hal yang sama dengan semangat memperjuangkan kebenaran. Semakin seseorang mengerti kebenaran, semakin orang itu berani untuk menyatakan pemberontakannya terhadap otoritas yang ia anggap salah. Hal ini menjadi salah satu ciri yang sering terjadi di dalam Kristen Protestan, sehingga kabar mengenai perpecahan gereja lalu keluar dan membentuk gereja baru sering kali kita dengar. Di satu sisi semangat memperjuangkan kebenaran adalah semangat yang baik, tetapi perjuangan ini bukan berarti sama dengan semangat anti terhadap otoritas. Kita harus menyadari bahwa semangat anti terhadap otoritas adalah semangat yang justru mematikan gereja dan menghambat proses pembelajaran kita sebagai anak Allah.

Kebahayaan yang paling besar berada pada kelompok pemuda Reformed. Di satu sisi kita dilatih untuk mengerti kebenaran dengan ketat, bahkan pengertian theologi kita dapat menyaingi sebagian hamba Tuhan. Namun di sisi lain, sebagai pemuda, kita sangat rentan terhadap semangat zaman postmodern yang memiliki semangat pemberontakan dan anti terhadap otoritas. Sehingga, dengan kebenaran yang telah dipelajari, kita dapat menyatakan pemberontakan atau anti-otoritas. Kita merasionalisasi segala tindakan kita menggunakan kebenaran yang dimengerti, padahal dibaliknya adalah semangat yang tidak mau tunduk untuk belajar kebenaran. Kita bisa menggunakan berbagai alasan yang begitu humanis dan dibalut dengan istilah-istilah theologis, tetapi sesungguhnya egoisme kitalah yang sedang kita perjuangkan, bukan kebenaran.

Di dalam Gerakan Reformed Injili, kita berkali-kali diajarkan untuk menjadi seorang pemuda yang menyangkal diri dan rela memikul salib Tuhan untuk menjalankan segala kehendak Allah. Kita berkali-kali mendengar khotbah bahkan menyaksikan langsung perjuangan dari pemimpin gerakan ini, Pdt. Stephen Tong, dalam menyatakan kehendak Allah di dalam dunia ini melalui hidupnya. Namun, kita sering kali berpikir bahwa kehidupan yang seperti beliau adalah kehidupan yang terlalu idealis. Kita berpikir bahwa perjuangan para Reformator dan tokoh-tokoh kekristenan lainnya adalah panggilan yang sangat spesial dan khusus bagi orang-orang tertentu saja dan bukan bagi kita yang adalah “ordinary Christian”. Perjuangan mereka hanyalah berlaku pada konteks zaman mereka hidup. Semangat mereka hanyalah keunikan khusus yang Tuhan berikan kepada mereka. Tidak ada grand narrative, inilah semangat yang kita adopsi dari postmodernism sambil menyatakan bahwa kita adalah pemuda Reformed. Kita lebih memilih untuk menjadi orang Kristen yang “biasa-biasa saja”, menjalankan hidup seperti orang pada umumnya (rujukan kita kepada mayoritas orang Kristen tanpa dedikasi dan non-Kristen), tetapi tetap rajin beribadah seminggu sekali dan hidup baik-baik menurut pandangan kita. Namun, kita perlu menyadari bahwa pemikiran seperti ini adalah buah dari semangat postmodern. Pemikiran ini sebetulnya perlahan sedang menarik kita untuk menjauh dari sebuah kebenaran bahwa seharusnya kita hidup menyangkal diri dan memberikan diri seluruhnya demi menyatakan kehendak Allah di dalam hidup ini. Kita dipanggil untuk menjadi pemuda Kristen yang sesungguhnya, yang tunduk kepada otoritas Allah dan merelakan diri untuk melakukan kehendak-Nya, bukan kehendak diri. Maka sebenarnya kita perlu merenungkan kembali “Apa itu artinya menjadi seorang pemuda Reformed yang benar-benar setia kepada Allah?” Tanpa perenungan yang mendalam dan serius, kita akan gampang ditarik dan dipengaruhi oleh semangat zaman, kita akan ditaklukkan untuk menjadi pengikut “grand narrative” ala postmodern, dan tidak lagi takluk di bawah grand narrative Allah. Alkitab mengatakan, hanya ada dua macam perhambaan, perhambaan di bawah Kebenaran atau perhambaan di bawah dosa. Postmodern menipu kita dengan slogan kebebasan yang tidak ada perhambaan, sama seperti tipuan Iblis di Taman Eden yang dicatat dalam Kejadian 3.
Pertanyaan di atas akan kita bahas secara lebih mendalam di dalam artikel bulan depan sebagai kesimpulan di dalam pembahasan kita mengenai tantangan sekularisme. Kita akan memikirkan kembali semangat Reformasi yang seharusnya kita—para pemuda Kristen—mengerti dan perjuangkan di dalam hidup kita.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

November 2017

2 tanggapan.

1. Hansen dari Jakarta berkata pada 4 December 2017:

Apakah postmodern yang akan semakin berkembang kedepan harus Kita tolak sebagi orang Kristen? Karena mungkin saja Ada zaman yang lebih buruk dari itu di Masa depan.

2. Hansen dari Jakarta berkata pada 4 December 2017:

Apakah postmodern yang akan semakin berkembang kedepan harus Kita tolak sebagi orang Kristen? Karena mungkin saja Ada zaman yang lebih buruk dari itu di Masa depan.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi yang telah menjangkau 17 kota di Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Allah menghendaki agar semua orang selamat bukan sebagian orang, 1 Timotius 2:4 yang menghendaki supaya semua orang...

Selengkapnya...

Apakah postmodern yang akan semakin berkembang kedepan harus Kita tolak sebagi orang Kristen? Karena mungkin saja Ada...

Selengkapnya...

Apakah postmodern yang akan semakin berkembang kedepan harus Kita tolak sebagi orang Kristen? Karena mungkin saja Ada...

Selengkapnya...

Bila ALLAH tidak mem-predstinasi maka semua manusia masuk neraka. Karena ALLAH mem-predestinasi maka ALLAH mengutus...

Selengkapnya...

Saya sangat diberkati artikel ini. Seharusnya orang kristian itu berbuah dan terus berbuah.Tuhan mmeberkati kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲