Artikel

Reformation 500: Sola Scriptura under Fire #2

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berotoritas tetapi juga harus tunduk di bawah otoritas. Manusia berotoritas untuk mengatur dan mengelola dunia ini, tetapi otoritas ini bukanlah dari diri manusia itu sendiri melainkan pemberian Allah. Sehingga saat manusia menjalankan otoritasnya tanpa referensi kepada otoritas Allah, hasilnya adalah penyimpangan atau dosa. Penyimpangan ini berakibat dengan kematian di dalam fungsi manusia sebagai wakil Allah. Keberdosaan ini atau penyalahgunaan otoritas atau eksekusi otoritas tanpa referensi Sumber Otoritas sejati ini mengakibatkan kerusakan di dalam setiap aspek kehidupan manusia, baik di dalam relasinya terhadap alam, sesama manusia, maupun dirinya sendiri. Manusia menjadi pribadi yang melakukan abuse terhadap otoritas yang diberikan kepadanya dan hal ini menjadi “bumerang” bagi diri manusia sendiri. Sejarah dunia mencatatkan begitu banyak manusia yang menyalahgunakan otoritasnya, seperti raja atau pemimpin yang lalim, dan mereka harus menanggung konsekuensinya yang merusak diri dan lingkungan sekitarnya. Seluruh hal ini menyatakan bahwa manusia tidak mungkin dapat hidup “baik-baik saja”, saat mereka terlepas dari Allah Sang Kebenaran.

Ironisnya, manusia memilih hidup terlepas dari Allah dan menyatakan pemberontakannya terhadap kebenaran meskipun sudah mengetahui konsekuensi darinya, yaitu kematian. Pemberontakan ini manusia kumandangkan hanya demi sebuah “utopia kebebasan”, yaitu kebebasan untuk menentukan sendiri apa itu kebaikan dan kejahatan. Manusia lebih memilih kebebasan dengan segala konsekuensinya dibanding hidup tunduk dipimpin oleh Allah. Hal ini jelas terpapar di sepanjang sejarah umat manusia hingga saat ini. Para pemberontak kebenaran terus-menerus berusaha untuk menghancurkan Alkitab sebagai wahyu khusus Allah yang berotoritas. Meskipun zaman Reformasi sudah mengumandangkan semangat “sola scriptura”, namun pergumulan semangat ini belum tuntas hingga saat ini. Setiap zaman selalu melahirkan semangat-semangat pemberontakan yang berusaha menggugurkan semangat Reformasi ini. Pada artikel sebelumnya, kita sudah membahas pergumulan ini secara singkat pada zaman Gereja Mula-mula dan Abad Pertengahan, dan secara khususnya pergumulan di zaman Reformasi. Di artikel kali ini kita akan membahas pergumulan semangat sola scriptura, di zaman Modern. Kita akan melihat bagaimana pemujaan terhadap rasio dan pengalaman manusia menjadi tantangan yang serius terhadap kepercayaan Kristen akan otoritas Alkitab.

Pergumulan Kebenaran di Kekristenan Abad Modern
Luther, Calvin, dan para Reformator lainnya, berhasil di dalam menghadapi tantangan zamannya, yaitu penyalahgunaan otoritas kepausan. Tetapi keberhasilan ini bukanlah sebuah keberhasilan yang disertai dengan “happily ever after”. Keberhasilan mereka langsung disambut dengan tantangan berikutnya di zaman modern yaitu rationalistic biblical criticism. Semangat dari zaman modern ini menanamkan benih keraguan atau kecurigaan terhadap teks dari Alkitab, yang mempertanyakan kebenaran dari wahyu Allah ini. Pada zaman Reformasi, kita diajarkan untuk mempelajari Alkitab dengan perasaan kagum dan hormat karena berhadapan dengan firman Tuhan. Tetapi pada zaman modern, spiritualitas ini dibuat menjadi tumpul karena kita diajarkan untuk memisahkan antara tulisan dari kesaksian manusia (para penulis Alkitab) dan firman Tuhan itu sendiri. Sehingga Alkitab dianggap sebagai kumpulan tulisan atau kitab yang mungkin mengandung kesalahan, dan tidak lagi dianggap sebagai firman Allah. Tugas dari para cendekiawan modern adalah untuk “menyelamatkan” Alkitab dari berbagai asumsi theologis dengan modern scientific methods. Pendekatan seperti ini membawa kita untuk meragukan keabsahan dari Alkitab dan kekristenan ditarik semakin jauh dari kebenaran. Inilah semangat zaman modern. Matthew Barrett menyatakan bahwa semangat zaman modern ini menunjukkan semangat yang semakin berani melawan kebenaran. Pada zaman Reformasi dan sebelumnya, mereka masih mengakui keabsahan Alkitab sebagai wahyu Allah, dan yang menjadi tantangan pada saat itu adalah kecukupan (sufficiency) dari Alkitab. Maka pada zaman modern ini, mereka meragukan keabsahan Alkitab (inerrancy) itu sendiri. Jikalau keabsahan Alkitab diragukan, konsekuensi logisnya adalah semangat sola scriptura menjadi semangat yang tidak lagi diperlukan, bahkan dianggap berbahaya karena dianggap belum teruji secara scientific. Pola berpikir seperti ini masih cukup kental kita temui, khususnya di kalangan akademis pada saat ini. Oleh karena itu, kita perlu mempelajari pemikiran di zaman modern dan bagaimana semangat ini menjadi tantangan bagi semangat sola scriptura.

Enlightenment Spirit
Have courage to use your own reason” adalah slogan yang menggambarkan semangat dari enlightenment. Individu di dalam semangat ini percaya bahwa manusia memiliki rasio yang masih murni, sehingga ia dapat memisahkan hal-hal tradisi gerejawi yang hanyalah mitos untuk menekan atau menindas masyarakat pada zaman dahulu. Mereka percaya bahwa pada zaman modern ini mereka berada di dalam zaman intelektual yang dapat membebaskan mereka dari berbagai asumsi yang diwariskan dari masa lalu. Melalui rasionya yang masih murni, manusia dapat menemukan kebenaran untuk dirinya sendiri, dan membuka jalan bagi mereka menuju pencerahan. Rasio dianggap sebagai kunci utama menuju kehidupan yang objektif dan bebas dari ambiguitas.

Cara pandang terhadap manusia yang begitu optimistik ini, menuntun kepada cara pandang yang mempertanyakan necessity dari Alkitab. Jikalau dengan rasionya manusia dapat menganalisis dan menginvestigasi Allah sehingga ia mengetahui tujuan dan kehendak-Nya, kenapa kita tetap harus mempelajari wahyu Allah? Bukankah dengan rasio saja sudah cukup? Inilah arogansi yang manusia tunjukkan pada abad Enlightenment. Semangat ini menarik fokus dari kehidupan manusia bukan lagi kepada Allah tetapi kepada manusia, atau disebut juga sebagai semangat anthropocentrism. Cara pandang yang membuat manusia semakin menyombongkan dirinya ini, berakibat dengan manusia yang semakin jauh meninggalkan Tuhan.

Akar dari semangat anthropocentrism berasal dari pemikiran seorang filsuf bernama René Descartes. Pemikiran dari Descartes membangun sebuah sistem berpikir yang mencari akan kepastian dengan bersandarkan kepada rasio manusia. Ia memulai pemikirannya dengan meragukan segala hal (termasuk Alkitab dan tradisi gereja) dengan harapan dapat menemukan dasar atau hal yang tidak bisa diragukan lagi. Descartes pada akhirnya menyatakan bahwa hal yang paling dasar yang tidak bisa diragukan lagi adalah diri yang sedang berpikir atau yang kita kenal dengan slogan “Cogito Ergo Sum” – I think, therefore I am. Sistem berpikir dari Descartes ini membawa arus pemikiran yang memisahkan manusia dari wahyu. Manusia mulai berpikir secara otonom dengan rasionya, terlepas dari otoritas wahyu khusus Allah. Melalui arus pemikiran inilah doktrin kekristenan ortodoks mendapatkan tantangan yang serius. Bahkan, memengaruhi sebagian kelompok dari kekristenan ortodoks, sehingga mereka berkompromi. Terkait dengan pengaruh dari semangat Enlightenment ini terhadap kekristenan tradisional, Alister McGrath membaginya menjadi 3 tahapan:

1. Pada tahap pertama, iman Kristen dianggap rasional, yang berarti apa yang dipercayai oleh kekristenan adalah hal yang teruji dan rasional. Hal ini terlihat saat John Locke mengatakan bahwa kekristenan adalah “reasonable supplement to natural religion”.

2. Saat kekristenan diakui sebagai hal yang rasional, iman Kristen dianggap sebagai iman yang dapat dibangun dengan menggunakan rasio. Anggapan ini adalah sebuah pergeseran, karena ide mengenai wahyu Allah dianggap tidak lagi diperlukan. Sehingga kekristenan tidak lebih dari sebuah agama natural. Hal yang dianggap sebagai pewahyuan hanya sebuah konfirmasi secara rasional dari hal yang sudah ada di dalam alam ini. Kekristenan menjadi agama yang naturalistik seperti yang dipercayai oleh para penganut deisme. Inilah tahap yang kedua.

3. Pada tahap yang ketiga, rasio diagungkan lebih tinggi dari wahyu Allah, bahkan rasio dipakai menjadi hakim bagi wahyu Allah. McGrath mengatakan, “As human reason was omnicompetent, it was argued that it was supremely qualified to judge Christian beliefs and practices, with a view to eliminating any irrational or superstitious elements.” Dengan rasionya, manusia menyatakan bahwa banyak hal yang tidak rasional di dalam Alkitab, sehingga Alkitab dianggap memiliki banyak kesalahan.

Ketiga tahap ini menunjukkan bagaimana dengan semangat zaman, manusia mencoba untuk menggerus otoritas Alkitab dan menggantikannya dengan rasio. Jikalau kekristenan tidak memiliki fondasi yang kokoh dan semangat untuk selalu setia kepada Alkitab, cepat atau lambat kita pasti akan kompromi dengan semangat zaman. Hal ini terjadi pada zaman modern ini. Sedikit demi sedikit, sistem kepercayaan Kristen yang selama ini dipercayai secara “take it for granted” satu per satu digugurkan dengan menggunakan otoritas rasio. Ada beberapa arus pemikiran yang menjadi sorotan pada zaman modern ini yang akan kita bahas.

Deisme
Deisme dimulai oleh seorang tokoh bernama Lord Herbert of Cherbury yang dikenal sebagai “the father of deis”. Pemikiran ini percaya bahwa Allah menciptakan dunia ini untuk dijalankan dengan sendirinya, tanpa memerlukan intervensi Allah secara supranatural. Kaum deis tidak setuju, bahkan sangat keras menentang, keberadaan wahyu khusus Allah. Herbert menyerang agama yang berlandaskan wahyu Allah dan menyatakan bahwa seharusnya rasio manusia menjadi hakim bahkan atas Alkitab sekalipun. Bagi mereka, kebenaran adalah hal-hal yang konsisten dengan rasio atau masuk akal. Banyak dari kaum deis yang menganggap doktrin-doktrin Kristen tidak masuk akal, seperti doktrin Tritunggal, inkarnasi, penebusan, kebangkitan, dosa asal, dan kepercayaan akan mukjizat. Sehingga kaum deis tidak percaya akan otoritas Alkitab. Beberapa tokoh deis menyatakan sebagai berikut:

•     John Toland menyatakan bahwa baginya wahyu Allah hanyalah hamba dari rasio. Segala sesuatu yang ada di dalam Alkitab, yang terbukti tidak sesuai dengan rasio, harus dibuang karena tidak rasional.

•     Matthew Tindal berargumen bahwa wahyu umum Allah di dalam ciptaan sudah cukup dan sempurna untuk seluruh manusia dan bagi seluruh zaman. Wahyu yang lebih dari itu tidaklah diperlukan. Bagi Tindal, Alkitab hanyalah pengulangan dari wahyu Allah di dalam ciptaan, tidak lebih dari itu. Sehingga Tindal percaya bahwa seluruh yang dikatakan Alkitab harus tunduk kepada kebenaran rasio manusia.

Pada dasarnya, deisme ingin menggeser signifikansi Alkitab sehingga tidak lagi memiliki otoritas atas hidup manusia. Alkitab yang tidak lagi memiliki unsur-unsur “supra-logika” hanyalah menjadi kitab yang berisi prinsip moral saja. Pengaruh dari deisme ini bergerak dari Eropa hingga ke Amerika, dan memengaruhi tokoh-tokoh penting, salah satunya Thomas Jefferson. Pengaruh dari deisme ini masih bisa kita rasakan hingga saat ini, khususnya di dalam dunia akademis. Cara pandang naturalistik, yang melihat dunia ini hanya di dalam mekanisme hubungan sebab-akibat saja, masih kuat berkutat di dalam ilmu pengetahuan yang kita pelajari. Pengaruh dari deisme ini bukan hanya dirasakan kuat dalam bidang studi ilmu eksak, tetapi juga mulai memengaruhi hidup ke dalam ilmu sosial dan humaniora yang semakin kental dengan pendekatan scientific (contoh: predictive analysis).

Rationalist Biblical Criticism
Rationalist Biblical Criticism (RBC) adalah suatu pendekatan terhadap Alkitab dengan meninggikan rasio untuk menghakimi dan mengkritik Alkitab. Pendekatan ini memiliki presuposisi yang tidak percaya kepada hal-hal supranatural di dalam mempelajari Alkitab. Pendekatan ini muncul melalui seorang tokoh bernama Baruch Spinoza. Pemikiran Spinoza sangat mirip Desiderius Erasmus yang merupakan “lawan” dari pemikiran Martin Luther ditulis dalam the bondage of the will. Bagi Erasmus, doktrin dan pengajaran dari Alkitab tidak jelas dan multi-interpretasi, sehingga baginya perdebatan doktrin adalah hal yang sia-sia, tidak penting, dan hanya bersifat spekulatif. Erasmus diekskomunikasi oleh Gereja Katolik pada tahun 1559 karena pendekatannya dianggap radikal dalam mengkritik Alkitab, berbeda dengan Luther yang berpegang teguh terhadap sola scriptura.

Cara pandang terhadap Alkitab yang kritis dan radikal dari Erasmus dapat kita rasakan juga di dalam pemikiran Spinoza. Ia adalah seorang yang pertama kali mengubah sejarah kritik Alkitab menjadi sebuah ilmu. Baginya, sistem kepercayaan yang dibangun oleh kekristenan hanya sebuah takhayul, sehingga kekristenan harus tunduk kepada rasio untuk menyelesaikan masalah ini. Spinoza mengatakan, “Natural light from autonomous, universal human reason, will be our captain, sailing us to the island of true religion.” Spinoza ingin menanamkan suatu mindset yaitu, “Faith and piety belong to realm of theology. While rational truth is gripped by philosophy.” Dan baginya Alkitab dapat memberikan etika bagi kehidupan tetapi terkait pengetahuan akan Allah dan alam, hanya filsafatlah yang dapat memberikannya.

Di dalam interpretasi Alkitab, Spinoza mengatakan bahwa kita harus memisahkan antara kebenaran dan makna (truth and meaning). Baginya, kebenaran (truth) adalah hal yang memiliki signifikansi universal dan untuk kita memperoleh kebenaran ini, kita harus menggunakan rasio untuk mengurai kebenaran yang bersifat universal ini. Berbeda dengan kebenaran, makna (meaning) terikat oleh ruang dan waktu. Makna selalu berkait dengan ekspresi atau atribut dari suatu budaya. Sehingga saat kita membaca Alkitab dan berjumpa dengan mukjizat dan wahyu (nubuat), hal ini bukan berkait dengan kebenaran tetapi hanyalah makna. Mereka dibungkus oleh budaya pada zaman Alkitab itu, oleh karena itu kita harus mengurainya dengan rasio kita untuk memperoleh kebenaran. Spinoza mengajak kita untuk menganalisis dan mengkritisi Alkitab seperti yang kita lakukan terhadap buku lain. Baginya, Alkitab mengandung banyak kesalahan, omong kosong, dan ketidakkonsistenan. Oleh karena itu, atribut keabsahan dan ketidakbersalahan Alkitab harus dicabut. Hal ini menjadikan Alkitab tidak lagi memegang otoritas tertinggi dalam kehidupan orang Kristen.

Pemikiran Spinoza tidak menarik banyak pengikut pada zamannya, tetapi pemikirannya mendorong munculnya liberalisme. Pemikirannya memengaruhi tokoh-tokoh seperti Gotthold Lessing dan Friedrich Schleiermacher yang adalah tokoh besar dalam aliran liberalisme. Hal ini menimbulkan kekacauan yang lebih besar di dalam kekristenan, karena Schleiermacher mengadopsi pemikiran sekuler dari Spinoza dan menjadikannya sebagai doktrin resmi dari iman Kristen. Liberalisme lahir sebagai arus di dalam kekristenan yang menggerogoti gereja dari dalam. Wajah kekristenan di Eropa serta Amerika pada saat ini adalah dampak, salah satunya, dari liberalisme yang diadopsi masuk ke dalam gereja. Saat gereja meninggalkan otoritas Alkitab dan mengadopsi pemikiran sekuler atau filsafat dunia, di saat itu juga gereja sedang menanamkan bom waktu di dalam diri mereka sendiri. Hasilnya, kekristenan ditinggalkan bahkan dihina oleh orang-orang di Eropa dan Amerika.

Liberalisme
Kemunculan liberalisme adalah sebuah usaha dari sekelompok orang yang ingin “menyelamatkan” kekristenan dari tantangan zaman yang ada. Tetapi sayangnya usaha mereka adalah sebuah usaha yang sia-sia, bahkan menjadi malapetaka bagi kekristenan. Cara dari liberalisme dalam mengakomodasi semangat dari Enlightenment, tentu saja hal ini dilakukan dengan mengkritisi semangat zaman tersebut. Tetapi yang mereka lakukan tetap saja merupakan suatu usaha “menukarkan hak kesulungan demi semangkuk kacang merah”. Kompromi yang dilakukan justru merupakan bom waktu bagi kekristenan.

Salah satu yang diadopsi dari semangat Enlightenment adalah semangat anthropocentric optimism, dan berdasarkan semangat ini liberalisme membangun suatu pendekatan di dalam theologi yang dinamakan “theology from below”. Pendekatan ini bertolak belakang dengan pendekatan ortodoks yang selama ini dianut yaitu “theology from above”, yang melihat wahyu Allah sebagai Christian’s norm. Sedangkan “theology from below” melihat pengalaman manusia sebagai Christian’s norm. Di dalam Theologi Liberal, seseorang memperoleh pengenalan akan Allah melalui pengalaman manusia. Walaupun wahyu Allah masih memiliki peranan di dalam sistem Theologi Liberal, tetapi tetap saja wahyu ini harus tunduk di bawah pengalaman manusia. Seorang Kristen liberal menuliskan seperti demikian, “Liberalism sought to be genuinely Christian without being based upon eternal authority. It was an effort to make Christianity modern and progressive, and the scriptures were now interpreted from the standpoint of modern knowledge and experience.” Sehingga yang menjadi penentu di dalam theologi bukan lagi Alkitab melainkan pengetahuan dan pengalaman religius.

Pendekatan dari Theologi Liberal ini menempatkan Alkitab bukan lagi sebagai firman Allah tetapi hanya sebagai literature manusia yang mungkin salah. Metode yang mereka gunakan dalam menafsirkan Alkitab adalah dengan historical-critical method. Hal-hal yang supranatural di dalam Alkitab dijelaskan dengan cara yang ordinary. Sebagian besar kisah Perjanjian Lama dianggap sebagai mitos belaka, beberapa tokoh-tokoh Alkitab dianggap hanya sebuah cerita dan tidak pernah ada, dan beberapa peristiwa dianggap hanya kisah buatan saja, bahkan kisah Kristus banyak yang dianggap tidak akurat, inilah hasil analisis dari liberalisme terhadap Alkitab.

Salah satu tokoh yang menjembatani semangat Enlightenment dengan munculnya liberalisme adalah Friedrich Schleiermacher, yang dikenal juga sebagai the father of modern theology. Di bawah pengaruh dari Schleiermacher theologi mengalami perubahan cara pandang yang signifikan. Wahyu khusus Allah tidak lagi berada di atas takhta yang memegang otoritas tetapi diganti menjadi pengalaman manusia. Theologi bukan lagi mengenai pengajaran yang benar atau Alkitabiah tetapi jadi mengenai pengalaman spiritual atau feeling of absolute dependency. Sehingga agama bukanlah apa yang kita terima dari keberadaan di luar diri kita (melalui wahyu) tetapi dengan apa yang ditemukan di dalam diri. Di dalam konteks ini Schleiermacher bukan hanya memperoleh pengaruh dari semangat zaman Enlightenment, yang meninggikan rasio, tetapi juga pengaruh dari semangat Romanticism, gerakan yang menekankan perasaan dan intuisi, sebagai anti-thesis dari Enlightenment yang dianggap gagal. Sehingga menurut Schleiermacher, Alkitab adalah buku yang sangat berharga tetapi bukan sebagai firman Allah, hanya sebagai buku yang mengarahkan kita untuk menyadari keberadaan Allah dan kita bisa bergaul dengan-Nya. Theologi atau pengenalan kita akan Allah tidak lagi dimulai dari Alkitab tetapi dari pengalaman religius kita sebagai manusia.

Pengaruh dari Schleiermacher sangat besar bagi abad-abad selanjutnya dan menimbulkan arus-arus pemikiran lain di dalam liberalisme. Sekitar akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19 muncul arus Biblical criticism di Jerman (German Higher Criticism), dengan tokoh-tokoh seperti Johann Semler, Christian Gottlob Heyne, dan Johann Philipp Gabler. Lalu ada juga arus dari Tübingen School, dan tokoh-tokoh besar liberalisme lainnya seperti Albrecht Ritschl dan Adolf von Harnack. Pemikiran-pemikiran mereka tidak akan kita bahas tetapi seorang sejarawan liberalisme menyimpulan gerakan ini seperti demikian, “The essential idea of liberal theology is that all claim to truth, in theology as in other disciplines, must be made on the basis of reason and experience, not by appeal to external authority. Christian Scripture may be recognized as spiritually authoritative within Christian experience, but its word does not settle or establish truth claims about matters of fact.”

Response on Liberalism: Neo-Orthodoxy
Jikalau liberalisme melakukan pendekatan dalam theologi dengan memulainya dari manusia (theology from below), Karl Barth ingin mengembalikan theologi yang dimulai dari Allah (theology from above). Barth menuliskan demikian: “Bible tells us not how we should talk with God but what he says to us; not how we find the way to him, but how he has sought and found the way to us…. It is this which is within the Bible. The word of God is within the Bible.” Kalimat yang dikatakan oleh Karl Barth ini mengembalikan titik awal dari theologi kembali kepada Allah, ia ingin mengembalikan cara pandang theologi yang dianut oleh kekristenan ortodoks sebelum lahirnya semangat zaman Enlightenment. Tetapi pemikiran Barth tidak berhenti sampai di sini, ia memiliki cara pandang yang tidak ortodoks terkait Alkitab dan firman Allah.

Bagi Karl Barth wahyu tertinggi Allah adalah Kristus, dan melalui-Nya Allah berbicara secara langsung kepada kita. Alkitab adalah instrumen yang penting dalam menyampaikan firman-Nya, tetapi tidak bisa disebut sebagai firman Allah, setidaknya tidak bisa disamakan dengan Kristus yang adalah Firman Allah. Ia melanjutkan bahwa firman Allah tidak bisa diikat bersama dengan Alkitab. Barth mengatakan, “The Bible is God’s Word to the extent that God causes it to be His Word, to the extent that He speaks through it.” Sehingga baginya, Alkitab sebenarnya bukan firman Allah, tetapi hanya menjadi firman Allah saat Roh Kudus memakainya untuk memperkenalkan Kristus. Bagi Karl Barth, pandangan yang mengatakan Alkitab adalah firman Allah, adalah pandangan yang membatasi kebebasan Allah dan memperbudak Alkitab di bawah kontrol manusia. Wahyu Allah tidak bisa diikat oleh Alkitab karena wahyu adalah sebuah peristiwa. Bagi Barth, Alkitab mungkin salah karena penulis Alkitab adalah orang berdosa yang sangat mungkin berbuat salah. Meskipun demikian, Barth tetap percaya bahwa Tuhan dapat menggunakan tulisan yang mungkin bersalah ini untuk menyatakan kehendak-Nya dan mengumandangkan nama Kristus, tetapi hal ini terjadi saat Roh Kudus bekerja. Kesimpulan dari pemikiran Karl Barth adalah Alkitab dapat menjadi firman Allah saat Allah sendiri bekerja menggunakannya, tetapi ini bukan berarti bahwa Alkitab adalah firman Allah.

Pandangan Karl Barth mengenai Alkitab ini mendapat perlawanan dari kaum Injili pada zaman itu dan juga saat ini. Salah satu argumentasi datang dari Kevin Vanhoozer yang mengatakan, “To say that Scripture only becomes God’s word when God in his freedom makes use of it is, to return to the Christological heresies, what adationists said about Logos taking on Humanity.” Di dalam hal ini Vanhoozer mengaitkan hal ini dengan konsep inkarnasi Kristus. Barth berasumsi bahwa yang terbatas (Alkitab) tidak mungkin mewakili yang tidak terbatas (firman Allah). Tetapi inkarnasi membantah akan hal ini. Memang di satu sisi, yang terbatas tidak mungkin secara tuntas mewakili yang tidak terbatas, karena kedua hal ini memiliki perbedaan kualitatif. Tetapi inkarnasi memberikan fakta lain berkaitan dengan hal ini. Saat Sang Allah Anak yang kekal dan tidak terbatas mengambil bagi diri-Nya rupa manusia sehingga Ia tidak hanya Allah yang sejati tetapi juga manusia yang sejati, kita mendapatkan suatu bukti bahwa yang terbatas dapat menerima yang tidak terbatas. Jikalau Kristus yang tidak terbatas telah berbicara, di dalam daging, melalui perkataan manusia, maka tidak diragukan bahwa kita memiliki perkataan Allah. Sehingga kita tidak bisa lagi memisahkan Alkitab dan firman Allah karena Alkitab adalah firman Allah.

Reformed Response on Liberalism: J. Gresham Machen
Pengaruh dari liberalisme meluas bukan hanya di dunia pendidikan tetapi juga hingga khotbah di atas mimbar, mendorong tokoh-tokoh Reformed pada saat itu untuk menyatakan reaksinya. Reaksi saat itu muncul dari Old Princeton Theological Seminary dengan Westminter Confession of Faith, lalu ada juga tokoh seperti Charles Hodge, Benjamin B. Warfield, dan J. Gresham Machen. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Gresham Machen yang dengan tegas menentang liberalisme. Argumentasi Machen terhadap liberalisme cukup sederhana. Ia mengatakan bahwa Protestant Liberalism bukanlah tipe kekristenan yang berbeda, tetapi agama yang sepenuhnya berbeda. Liberalisme tidaklah netral karena mereka dikendalikan oleh presuposisi naturalistik yang mengganti cara pandang orang terhadap Alkitab termasuk terhadap pribadi dan karya dari Kristus. Liberalisme bukan hanya menciptakan konsep Kristus yang lain tetapi juga menciptakan Alkitab yang lain.

Machen melanjutkan argumentasinya dengan mengatakan bahwa pengalaman dalam kehidupan Kristen memegang peranan yang penting dan berguna sebagai respons terhadap pesan Injil. Tetapi yang diajarkan oleh liberalisme sudah salah total dengan mengatakan pengalaman ini tidak bergantung kepada kebenaran kisah sejarah Alkitab. Pengalaman yang terpisah dari kebenaran kisah Alkitab hanyalah sebuah pengalaman religius tetapi bukan pengalaman seorang Kristen yang sejati. Karena pengalaman Kristen yang sejati adalah seperti yang Paulus katakan di dalam 1 Korintus 15, yaitu jikalau kebangkitkan Kristus bukanlah suatu peristiwa sejarah yang benar maka “I am of all men most miserable, for I am still in my sins.” Sehingga kehidupan seorang Kristen sangat bergantung sepenuhnya pada kebenaran dari Alkitab.

Selain itu bagi Machen juga, Alkitab yang diwahyukan dan ketidakbersalahan Alkitab adalah dua hal yang tidak mungkin dipisahkan. Ia mengatakan, “Bible not only is an account of important things, but that account itself is true, the writers having been so preserved from error, despite a full maintenance of their habits of thought and expression, that the resulting Book is the infallible rule of faith and practice.” Machen pun mengatakan bahwa para penulis Alkitab ini disertai oleh Roh Kudus, sehingga pemikiran mereka terjaga dari kesalahan yang mungkin timbul ketika penulisan Alkitab. Ia mengaitkan inspiration dan inerrancy dengan sola scriptura. “Since the Bible is God-breathed and its account is a true account, the Bible is the infallible rule of faith and practice.”

Dari argumentasi ini, Machen mengingatkan kita bahwa kebenaran firman Tuhan berdasarkan kepada sifat Allah itu sendiri bisa dipercaya. Alkitab adalah firman Allah karena Allah yang kita percayai adalah Allah yang benar. Sebuah pernyataan Machen yang sangat penting di dalam menanggapi liberalisme adalah sebagai berikut:

The Reformation of the sixteenth century was founded upon the authority of the Bible. Yet it set the world aflame. Dependence upon a word of man would be slavish, but dependence upon God’s Word is life. Dark and Gloomy would be the world, if we were left to our own devices, and had no blessed Word of God. The Bible, to the Christian is not a burdensome law, but the very Magna Charta of Christian Liberty. It is no wonder, that Liberalism is totally different from Christianity, for the foundation is different. Christianity is founded upon the Bible. It bases upon the Bible both its thinking and its life. Liberalism on the other hand is founded upon the shifting emotions of sinful men.”

Refleksi dari Perjuangan “Sola Scriptura” di Zaman Modern
Pergumulan di zaman modern menjadi pembelajaran sangat penting bagi kita orang-orang Reformed di masa ini. Ketika kita tidak lagi mau tunduk sepenuhnya di bawah otoritas firman Allah, kita akan menjadi orang-orang yang dengan rasio kita mencoba untuk menggantikan kebenaran dengan kelaliman. Liberalisme lahir dimulai dari ketidakmauan untuk tunduk di bawah otoritas Alkitab, tetapi berakhir dengan kehancuran yang begitu menyedihkan dan mengerikan. Gereja yang semakin kosong dan hanya bersisa orang-orang yang sudah tua menjadi pemandangan yang kita saksikan di kekristenan Amerika dan Eropa saat ini. Lalu hal ini diikuti dengan moralitas masyarakat yang semakin merosot dan jauh meninggalkan Tuhan. Semuanya ini adalah buah dari sebuah tindakan kompromi dan meninggalkan otoritas Alkitab.

Tuhan sudah membangkitkan Gerakan Reformed Injili di Indonesia ini. Gerakan yang dengan setia memerangi dan memilih untuk tidak mau kompromi terhadap semangat liberalisme di Indonesia. Maka kita sebagai pemuda, marilah kita terus memelihara api yang Tuhan sudah berikan ini. Mari kita berjuang menjaga kemurnian firman, hidup taat sepenuhnya di bawah otoritas Alkitab (sola scriptura), dan juga berjuang melawan setiap semangat zaman yang berusaha menggerogoti kekristenan. Pada artikel selanjutnya kita akan membahas tantangan dari postmodernism yang begitu dekat dengan kehidupan kita saat ini. Lalu kita akan memikirkan bagaimana seharusnya kita berespons terhadap hal ini.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

April 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲