Artikel

Reformation 500: Sola Scriptura under Fire #3

“Kita hidup di zaman yang lebih berat dibanding dengan Martin Luther, karena kita menghadapi begitu banyak tantangan filsafat zaman.” Kalimat ini berkali-kali Pdt. Stephen Tong ucapkan dari atas mimbar. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa pada zaman Luther masih belum ada evolutionism, communism, relativism, logical positivism, dan lain-lain. Pemikiran ini mungkin aneh bahkan dianggap arogan dan terlalu meremehkan pergumulan Luther pada zamannya. Tetapi kita harus menyadari bahwa kalimat ini lahir bukan dari motivasi untuk membanding-bandingkan siapa yang lebih berat menghadapi tantangan hidup. Kalimat ini lahir sebagai sebuah teriakan untuk menyadarkan kekristenan yang tertidur di dalam impian kosong dan kenaifan mereka. Kalimat ini adalah alarm yang berbunyi nyaring untuk membangkitkan kewaspadaan kita terhadap tantangan zaman yang sedang kita hadapi saat ini.

Zaman di mana kita hidup memang memerlukan seruan yang menyadarkan seperti ini. Zaman ini adalah zaman yang penuh dengan arus pemikiran yang melawan Alkitab. Di sisi lain, sebagian besar orang Kristen sedang mengalami degradasi iman dan berkompromi dengan ajaran-ajaran yang berkembang di dalam gereja karena pengaruh zaman. Selain liberalisme yang menggerogoti banyak gereja Injili untuk mengabaikan otoritas Alkitab dan pentingnya penginjilan, Karismatik pun muncul sebagai sebuah gerakan yang sangat rapuh di dalam penafsiran Alkitab dan lebih mengutamakan “pengalaman rohani” dibanding penyelidikan Alkitab. Dua gerakan ini membuat kekristenan tidak kuat berakar dan juga berbuah dengan limpah, sehingga yang tersisa hanyalah keberadaan yang begitu rapuh. Pengajaran atau semangat zaman yang berkembang di dunia ini dapat dengan mudahnya masuk memengaruhi karena kerapuhan gereja ini.

Di tengah kondisi kekristenan yang seperti ini, semangat sola scriptura sangatlah relevan bahkan perlu untuk terus dikumandangkan. Tidak ada cara lain bagi kekristenan untuk menghadapi tantangan-tantangan di zaman ini selain kembali kepada apa yang Alkitab ajarkan. Pada artikel kali ini, kita akan melihat pergumulan semangat sola scriptura menghadapi tantangan zaman ini, khususnya mengenai biblical inerrancy dan postmodern. Salah satu ciri tantangan yang dihadapi pada zaman ini adalah kompleksitas dari berbagai ajaran yang berada di zaman ini. Selain masih kuatnya akar dari ajaran-ajaran warisan dari zaman modern, kita juga berhadapan dengan munculnya arus pengajaran baru sebagai produk dari zaman postmodern, serta kembalinya pemikiran-pemikiran zaman dahulu yang sudah lama ditinggalkan. Kita hanya akan membahas beberapa tantangan utama yang dipandang perlu untuk menjadi sorotan bagi kita yang hidup pada zaman postmodern ini.

Pergumulan mengenai Biblical Inerrancy
Pergumulan yang dihadapi pada zaman modern masih meninggalkan masalah bagi zaman ini. Salah satu masalah yang serius adalah perdebatan mengenai biblical inerrancy. Hal ini berkait dengan komitmen dari kaum Injili untuk tetap berpegang terhadap authority and sufficiency of scripture atau high view of scripture, yang dianggap sebagai fondasi paling dasar dari iman kepercayaan mereka. Hal ini dianggap sebagai hal yang tidak bisa diterima oleh para pemikir zaman modern atau yang memiliki low view of scripture. Sehingga orang-orang yang percaya kepada authority and sufficiency of scripture, disebut sebagai biblicism yang dituduh melakukan bibliotary atau bible worship.

Bagi penganut low view of scripture, biblicists memiliki empat poin berkaitan dengan cara pandang terhadap Alkitab:

Tidak dapat melihat nilai atau kebenaran informasi dari hal di luar Alkitab, sehingga mengabaikan wahyu umum.
Percaya bahwa Alkitab adalah science, philosophy, political, or economic textbook.
Menolak tradisi pengakuan iman gereja, dengan tujuan membangun sistem kepercayaan pribadi.
Mengabaikan sejarah.

Berdasarkan mereka, biblicism adalah suatu cara pandang yang meninggikan Alkitab sampai menyalahgunakannya dan memimpin orang-orang ke dalam intelektual yang dangkal. Keempat poin di atas adalah poin-poin yang mendapatkan kritikan keras dari penganut low view of scripture.

Tentu saja kritik yang diberikan berkait biblicism ini tidak benar, karena sangat sedikit yang menganut cara pandang seperti empat poin di atas, dan mereka tidak mewakili cara pandang semangat sola scriptura. Semangat sola scriptura bukan berarti meninggikan Alkitab sampai mengabaikan wahyu umum, sejarah, dan tradisi gereja yang memang sudah baik dan sesuai Alkitab. Semangat ini adalah semangat yang ingin mengembalikan Alkitab kepada otoritas yang memang seharusnya, tidak melebihkan atau menguranginya. Terkait poin ini, akan dibahas pada bagian akhir artikel ini sebagai poin aplikasi dari semangat sola scriptura pada zaman ini.

Cap biblicism yang diberikan oleh zaman modern terhadap semangat sola scriptura, memperuncing gap atau pertikaian antara iman dan pengetahuan. Kepercayaan terhadap Alkitab dianggap sebagai hal yang cocok hanya di dalam wilayah iman saja tetapi tidak relevan untuk wilayah pengetahuan atau rasio. Cara pandang ini mengarahkan kita untuk hidup secara dualis antara hal rohani dan duniawi. Hal ini mendorong berkembangnya semangat pengkritikan dan penyelidikan terhadap Alkitab untuk membuktikan bahwa Alkitab bisa salah dan hal itu wajar karena penulisannya dimaksudkan untuk kerohanian saja, sedangkan keabsahan Alkitab secara sejarah dan scientific dianggap tidak ada. Sehingga keabsahan yang berkaitan erat dengan ketidakbersalahan (inerrrancy) Alkitab menjadi topik yang hangat diperdebatkan, bahkan sampai beberapa sekolah theologi utama di Barat pun akhirnya mengompromikan dasar kepercayaan mereka, seperti Princeton Theological Seminary, Fuller Thelogical Seminary, menjadi sekolah theologi yang berkompromi terhadap liberalisme.

Salah satu kutipan dari pengakuan iman di Fuller pada tahun 1947 menyatakan seperti demikian:

The books which form the canon of the Old and New Testaments as originally given are plenarily inspired and free form all error in the whole and in the part. These books constitute the written Word of God, the only infallible rule of faith and practice.”

Dari pernyataan ini kita bisa melihat komitmen yang masih kental terhadap semangat sola scriptura. Mereka dengan jelas menyatakan komitmen kepercayaan terhadap biblical inerrancy. Tetapi pada tahun 1972, pengakuan iman dari Fuller berubah menjadi seperti demikian:

“Scripture is an essential part and trustworthy record of this divine self-disclosure. All the books of the Old and New Testaments, given by divine inspiration, are the written word of God, the only infallible rule of faith and practice. They are to be interpreted according to their context and purpose and in reverent obedience to the Lord who speaks through them in living power.”

Mereka mencabut bagian yang menyatakan biblical inerrancy. Hal ini menimbulkan perdebatan yang sengit antara penganut biblical inerrancy dan limited inerrancy. Penganut limited inerrancy membatasi pengaruh otoritas Alkitab hanya di dalam wilayah rohani atau yang berkaitan dengan iman saja. Cara pandang ini memiliki pengaruh yang cukup luas di gereja-gereja Injili, terutama gereja yang menekankan penginjilan tetapi kurang dalam pengajaran firman Tuhan. Tetapi di sisi lain ada cara pandang biblical inerrancy secara menyeluruh. Cara pandang ini banyak dipegang oleh kalangan kaum Injili yang masih berkomitmen kuat terhadap Theologi Reformed. Mereka dengan ketat menjaga semangat dan pengajaran yang diwariskan dari zaman ke zaman. Bahkan ada yang dengan lantang mengatakan bahwa orang Kristen yang tidak percaya kepada biblical inerrancy secara total, tidak bisa lagi menyebut dirinya sebagai kaum Injili.

Perdebatan ini berlanjut hingga pada tahun 1978, sekelompok hamba Tuhan Injili berkumpul dan berdiskusi lalu menghasilkan sebuah pernyataan yang dikenal sebagai Chicago Statement on Biblical Inerrancy (CSBI). Di antara mereka hadir tokoh-tokoh penting kekristenan yang kita kenal seperti James Boice, Edmund Clowney, J. I. Packer, Francis Schaeffer, R. C. Sproul, dan tokoh lainnya. Beberapa pernyataan mereka adalah seperti demikian:

God, who is Himself truth and speaks truth only, has inspired Holy Scripture in order thereby to reveal Himself to lost mankind through Jesus Christ as Creator and Lord, Redeemer and Judge. Holy Scripture is God’s witness to Himself.
Those human authors who wrote Holy Scripture were prepared and superintended by His Spirit. Therefore, God’s Word is of infallible divine authority in all matters upon which it touches.
Since it is wholly and verbally God-given, Scripture is without error or fault in all its teaching, no less in what it states about God’s acts in creation, about the events of world history, and about its own literary origins under God, than in its witness to God’s saving grace in individual lives.
We affirm that the written Word in its entirety is revelation given by God. We deny that the Bible is merely a witness to revelation, or only becomes revelation in encounter, or depends on the responses of men for its validity.
We deny that Biblical infallibility and inerrancy are limited to spiritual, religious, or redemptive themes, exclusive of assertions in the fields of history and science.

Kelima poin di atas menyatakan bahwa biblical inerrancy tidak hanya berlaku di dalam aspek rohani saja tetapi juga di dalam setiap hal yang dicatatkan di dalam Alkitab. Hal ini sesuai dengan yang Alkitab katakan di dalam 2 Timotius 3:16, bahwa seluruh tulisan Alkitab diilhamkan oleh Allah. Walaupun Alkitab ditulis oleh banyak orang dari berbagai zaman, latar belakang, dan budaya, Alkitab tetap absah karena seluruh bagian di dalam Alkitab dinafaskan oleh Allah. Hal ini juga berarti kebenaran penulisan Alkitab bukan hanya di dalam aspek implikasi rohani saja tetapi setiap detail sejarah dan hal-hal ilmiah yang ada di dalamnya adalah benar.

Cara pandang yang membatasi keabsahan Alkitab pada dasarnya adalah sebuah penolakan terhadap otoritas total dari Alkitab dan menjadikan rasio manusia penentu dari otoritas Alkitab. Manusia menjadikan rasionya sebagai penentu sampai batasan mana Alkitab memiliki otoritas, artinya kebenaran Alkitab harus tunduk di bawah rasio manusia. Cara pandang ini sangat bertentangan dengan semangat sola scriptura. Semangat untuk kembali kepada Alkitab adalah semangat yang menuntut seluruh aspek hidup kita. Tanpa adanya semangat sola scriptura, tidak mungkin kita dapat memuliakan Allah secara utuh melalui hidup kita.

Tantangan Zaman Postmodern
Postmodern lahir sebagai antitesis dari semangat modern. Zaman modern berasumsi bahwa manusia mampu mendapatkan kebenaran yang objektif melalui kemampuan kognitif mereka. Seluruh realitas dapat ditundukkan dengan kemampuan rasio dan semua bisa diselidiki melalui standpoint yang netral. Sedangkan zaman postmodern memiliki cara pandang yang sangat berbeda dengan modern, beberapa cara pandang utama dari postmodern adalah sebagai berikut:

Pertama, relativism. Bagi penganut postmodernisme, tidak ada kebenaran yang objektif. Mereka melihat realitas ini tidak memiliki inti, hanya perbedaan di dalam sudut pandang dan perspektif. Seorang filsuf Amerika, Richard Rorty, mengatakan demikian, “Truth is established neither by the correspondence of an assertion with objective reality nor by the internal coherence of the assertions themselves.” Bagi postmodernist, tidak ada satu pun cara pandang yang dapat menginterpretasi realitas secara objektif, yang ada hanyalah keberagaman pandangan. Sehingga kita diperhadapkan dengan berbagai interpretasi dan setiap interpretasi ini dianggap valid secara merata. Setiap kebenaran seseorang hanyalah produk dari komunitas di mana ia lahir dan dibesarkan. Jikalau ada seseorang atau sekelompok orang yang mengklaim pengertiannya sebagai satu-satunya kebenaran, mereka akan dianggap sangat arogan dan sedang mematikan kebebasan.

Cara pandang relativism dari zaman postmodern ini mendorong perkembangan pluralisme agama di dalam masyarakat. Setiap agama harus diperlakukan setara dan dianggap benar, kendati sangat tidak cocok satu dengan lainnya. Sehingga pada zaman ini kita akan sering berjumpa dengan istilah, “Apa yang benar menurut saya belum tentu benar menurutmu, begitu juga sebaliknya apa yang benar menurutmu belum tentu benar menurut saya.” Bahkan kebenaran di dalam suatu situasi mungkin adalah sebuah masalah atau ketidakbenaran di dalam situasi yang lain.

Kedua, deconstructionism. Zaman modern berasumsi bahwa manusia memiliki common, invariant structure di dalam arti dan bahasa. Maka pada zaman postmodern, di dalam cara pandang deconstructionism, menganggap, “Meaning is not inherent in a text itself, but emerges only as the interpreter enters into dialogue with the text. Because the meaning of a text is dependent on the perspective of the one who enters into dialogue with it, it has as many meanings as it has readers (or readings).” Jadi bagi penganut cara pandang ini, tidak ada landasan yang kukuh bagi makna. Implikasinya, dunia ini tidak memiliki makna, tidak ada makna bagi keseluruhan realitas yang dapat menjadi pusat atau rujukan (metanarratives). Sehingga, postmodern disebut juga sebagai “signals the death of metanarratives”. Bagi deconstructionist, tidak ada satu pun interpretasi akan realitas dunia ini yang dapat memberikan makna secara objektif. Zaman ini mengakui banyak interpretasi, tetapi tidak ada satu pun interpretasi yang dapat mengklaim memiliki interpretasi sesuai cara pandang Allah. Dari cara pandang ini kita dapat melihat adanya dua poin presuposisi dari postmodernism:

Postmodern melihat seluruh penjelasan mengenai realitas sebagai konstruksi sosial yang berguna tetapi tidak benar secara objektif.
Postmodern membantah bahwa kita memiliki kemampuan untuk keluar dari konstruksi diri kita akan realitas.

Kebenaran di zaman postmodern adalah kebenaran yang ditetapkan berdasarkan komunitas dan komunitas menetapkan kebenaran berdasarkan apa yang baik atau berguna bagi mereka. Sehingga saat membaca sebuah tulisan, makna orisinal bukan berada pada penulisnya tetapi pembaca yang mendefinisikan makna tulisan tersebut.

Konsep berpikir ini menjadikan prinsip hermeneutical mengalami pergeseran. Kevin Vanhoozer menyatakan demikian, “There is something prior to interpretation, something ‘there’ in the text, which can be known and to which the interpreter is accountable.” Tetapi pada zaman postmodern, “They deny that meaning precedes interpretive activity; the truth of an interpretation depends on the response of the reader.” Sehingga akhirnya otoritas Alkitab tidak lagi dipertimbangkan bagi postmodernists. Bagi mereka tulisan hanyalah sebuah kaca atau ruangan agar diri dapat melihat dirinya sendiri dan mendengar suara kita sendiri.

Selain itu pergeseran dalam hermeneutics ini mendorong juga semangat anti-authority. Bagi mereka, memercayai bahwa makna itu berasal dari penulis atau dari tulisan itu sendiri berarti kita sedang membawa diri kita ke dalam perbudakan hermeneutics. Gaya penafsiran yang harus tunduk kepada maksud dari si penulis dianggap sebagai pelanggaran terhadap kebebasan di dalam penafsiran. Kevin Vanhoozer merangkum pandangan ini seperti demikian, “The death of the author becomes a necessary step in refusing to assign a real meaning to the text…. No longer reduced to a single message with a single correct interpretation, the text is opened to a pluralism of readings; meaning is effectively destabilized, and authority withers on the textual vine.”

Semangat dari zaman postmodern sangat bertentangan dengan semangat dari sola scriptura. Jikalau sola scriptura ingin membawa kita kembali tunduk kepada otoritas Allah di dalam Alkitab, postmodern ingin membawa kita anti terhadap otoritas. Sola scriptura ingin membawa kita kembali kepada penafsiran Alkitab yang benar dan sesuai dengan apa yang Allah ingin nyatakan, maka postmodern mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin dan kita hanya akan berhenti di dalam penafsiran yang menurut pribadi kita berguna. Sehingga, para postmodernists menganggap semangat Reformasi sebagai semangat yang arogan karena menanggap diri paling benar. Kevin Vanhoozer memberikan pendapatnya tentang dampak postmodern terhadap kepercayaan kita mengenai Alkitab, seperti demikian:

“Postmodernists effectively strip Bible of any stable meaning so that it cannot state a fact, issue a command, or make a promise. Furthermore, without the author to serve as touchstone of the distinction between meaning and significance, every interpretation becomes just as authorized a version as another. A text that cannot be set over against its commentary is no authority at all. Finally, Biblical authority is undermined by instability of meaning because if nothing specific is said, the text cannot call for any specific response. Interpreters can give neither obedience nor belief to texts that lack specificity. If there is no meaning in the text, then there is nothing to which the reader can be held accountable.”

Apresiasi Postmodern
Setiap semangat zaman harus kita tanggapi dengan kritis di satu sisi, tetapi juga dengan apresiasi di sisi yang lain. Semangat dari postmodern memiliki beberapa poin yang harus kita apresiasi dari sudut pandang Theologi Reformed:

Postmodern menyadarkan kita dari jebakan modern berkenaan dengan mitos netralitas dari modern. Semangat modern begitu optimis terhadap manusia, sehingga berpikir bahwa dengan rasio manusia dapat menggapai kebenaran yang objektif. Semangat ini mengabaikan fakta bahwa sebagai manusia kita tidak mungkin terlepas dari aspek subjektivitas. Latar belakang kehidupan, keluarga, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup, semua itu secara otomatis akan membentuk cara pandang kita termasuk cara bagaimana rasio kita berpikir. Sehingga saat kita menggali kebenaran, kita tidak mungkin terlepas dari aspek subjektivitas. Hal inilah yang disoroti oleh semangat postmodern.

Postmodern menyadarkan kita dari ikatan individualisme modern untuk melihat nilai dari komunitas. Kenaifan modern dalam ambisinya menggapai objektivitas sering kali membutakan para penganutnya untuk memiliki kepekaan terhadap konteks. Meskipun Alkitab mengajarkan kita untuk selalu mencari kebenaran yang sejati, tetapi Alkitab mengajarkan kita juga untuk mengerti kebenarannya di dalam konteks kita hidup atau berada. Bahkan Alkitab sendiri ditulis di dalam suatu konteks budaya pada zaman para penulis Alkitab, maka kita yang mempelajari Alkitab pun harus peka bahwa pengertian kita adalah pengertian yang juga terikat di dalam tanggung jawab secara komunitas. Nilai inilah yang dilupakan atau diabaikan oleh modern.

Postmodern juga menyadarkan kita akan kenaifan dari objektivitas modern yang bersifat reduktif. Kebenaran yang diklaim oleh modern sebagai kebenaran yang objektif sering kali justru adalah subjektivitas yang dipaksakan menjadi objektif. Sehingga kebenaran yang seharusnya berlimpah, dipandang secara sempit dan kelimpahan dari kebenaran itu jadi sulit untuk dilihat. Postmodern yang menekankan pluralisme atau keberagaman interpretasi, membukakan kita suatu fakta bahwa kebenaran yang selama ini kita anggap benar, menurut kacamata modern, masih terlalu sempit. Alkitab justru mengajarkan kita bahwa kebenaran yang sejati sesungguhnya adalah kebenaran yang begitu berlimpah.

Melalui tiga poin di atas, setidaknya kita menyadari bahwa zaman modern bukanlah wadah bagi semangat sola scriptura. Begitu juga zaman postmodern tidak bisa menjadi wadah bagi sola scriptura, seperti yang sudah dipaparkan dalam bagian sebelumnya.

Sola Scriptura and Our Response
Penelusuran secara singkat pergumulan dari semangat sola scriptura dari zaman ke zaman seharusnya menyadarkan kita akan tantangan demi tantangan yang kita hadapi adalah tantangan yang semakin kompleks. Pdt. Stephen Tong menyatakan bahwa kita memerlukan semangat yang lebih besar dari semangat Martin Luther pada zamannya karena tantangan yang kita hadapi saat ini jauh lebih berat. Tetapi ironisnya, banyak pemuda yang justru tidak menyadari tantangan zaman yang sedang dihadapinya saat ini. Jikalau kita tidak menyadari tantangan ini, kita akan menjadi pemuda yang terbawa arus zaman dan dibawa semakin jauh dari kebenaran dan semangat sola scriptura. Kita akan menjadi pemuda yang dicuri kesempatannya, terbawa arus zaman, dan ironisnya banyak orang yang sadar saat segala sesuatunya sudah terlambat. Oleh karena itu, ada beberapa poin berkaitan dengan semangat sola scriptura yang harus kita sadari:

Sola scriptura berarti kita mau tunduk di bawah otoritas Allah dalam mengerti kebenaran. Sikap tunduk dan kerelaan untuk mau taat dan dibentuk adalah hal yang sangat penting di dalam proses pembelajaran kita. Semangat kebebasan dan anti terhadap otoritas adalah semangat yang justru akan menghancurkan kita cepat atau lambat. Saat seseorang rela tunduk di bawah otoritas, maka orang tersebut akan memiliki kerendahan hati untuk belajar banyak hal. Tetapi seorang yang tidak mau tunduk, akan menjadi orang yang begitu keras hatinya di dalam belajar, dan akhirnya ia tidak belajar apa pun karena merasa dirinya sudah mampu padahal belum tahu apa-apa. Oleh karena itu, kita harus kembali kepada semangat yang diajarkan pada saat Reformasi, yaitu dengan memiliki hati yang kagum dan rela dididik saat kita mempelajari Alkitab. Sikap hati seperti inilah yang akan dipakai Tuhan dalam mendidik kita, umat-Nya.

Sola scriptura adalah semangat yang ingin membawa kebenaran bukan hanya di dalam aspek rohani tetapi seluruh aspek termasuk ilmu pengetahuan. Tentu saja, Alkitab bukanlah buku manual atau textbook yang menjelaskan ilmu terapan, walaupun ada beberapa hal-hal praktis yang diajarkan Alkitab yang dapat langsung kita jalankan. Pengertian yang diajarkan Alkitab mendidik kita untuk memiliki suatu cara pandang di dalam mempelajari realitas yang Allah ciptakan ini. Sehingga kita dituntut untuk kritis melihat semangat atau cara pandang akan realitas yang diajarkan oleh ilmu terapan yang kita geluti. Lalu semangat atau cara pandang ini kita kritisi berdasarkan yang Alkitab ajarkan. Dan semua ini kita pakai untuk membangun ilmu pengetahuan yang sinkron dengan ajaran Alkitab. Oleh karena itu, semangat sola scriptura bukan hanya di dalam aspek rohani tetapi juga ke dalam aspek dunia intelektual.

Sola scriptura mengajarkan kita untuk kembali kepada otoritas Allah yang tertinggi yaitu Alkitab. Dengan kembalinya kita kepada yang Alkitab ajarkan, kita pasti akan menghargai wahyu umum Allah. Karena kedua wahyu ini, wahyu khusus dan umum, tidak mungkin dipisahkan. Semakin kita ingin kembali kepada kebenaran Alkitab, semakin kita menghargai karya Tuhan di dalam alam, sejarah, bahkan diri manusia itu sendiri. Karena semangat sola scriptura yang benar seharusnya membawa kita untuk semakin melihat keluasan dan keutuhan wahyu Allah.

Semangat sola scriptura adalah semangat yang semakin hari semakin mendorong kita untuk terus menggali kebenaran yang Allah nyatakan (baik khusus maupun umum). Sehingga seluruh aspek kita sebagai umat Allah tidak terombang-ambing oleh semangat zaman yang melawan Allah, tetapi semakin hari semakin kukuh berdiri dan murni demi kemuliaan Allah.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Mei 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲