Artikel

Reformation 500: The Rise of Secularism #1

Semenjak kejatuhan manusia ke dalam dosa, sejarah umat manusia terbagi menjadi dua arus besar, yaitu kelompok yang takluk di bawah otoritas Allah dan kelompok yang memberontak kepada Allah. Suka tidak suka, disadari atau tidak disadari, kita hidup di antara salah satu dari kedua arus ini. Kita harus memilih apakah kita mau hidup di tengah arus yang taat kepada Allah atau arus yang melawan Allah. Celakanya kekristenan sering kali tidak sadar akan keberadaan dua arus ini, atau mungkin juga mereka menyadari secara pengetahuan saja namun tidak memiliki kewaspadaan dan kepekaan akan bahaya yang ada. Sehingga banyak orang yang secara eksplisit mengaku diri Kristen, bahkan Reformed, tetapi sebenarnya masih hidup di dalam sekularisme.

Pada artikel bulan lalu kita membahas bahwa sekularisme adalah sebuah semangat pemberontakan kepada Allah dan hal ini berada sebagai counterfeit yang dibuat oleh si Iblis. Keberadaan counterfeit ini dapat dengan mudahnya menipu orang Kristen. Kita berpikir bahwa hal yang kita lakukan adalah hal yang biasa dan wajar tetapi sebenarnya hal itu adalah sebuah jebakan yang menjerat kita ke dalam bahaya besar: kita dijebak agar menjadi musuh Allah. Keberadaan counterfeit ini tidak pernah absen di sepanjang sejarah pemikiran. Saat kita menelusuri sejarah pemikiran dunia Barat, kita akan melihat pertentangan yang sengit antara kedua arus ini. Pertentangan antara arus pemikiran Kristen dan arus pemikiran sekuler yang diwakili oleh filsafat dunia. Kita akan membahas secara ringkas beberapa ciri khas umum dari pemikiran setiap zaman yang dikontraskan dengan pemikiran Alkitab. Pembahasan ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana keberadaan counterfeit ini begitu jelas di setiap zaman, bahkan keberadaannya bisa jadi memiliki kemiripan secara tampak luar sehingga kita mudah sekali terhasut dan terjerat.

Filsafat Yunani
Pemikiran dunia Barat memiliki dua akar utama yang membentuknya yaitu tradisi filsafat Gerika (Yunani) dan tradisi pemikiran Alkitab. Ada tokoh-tokoh yang berusaha untuk menyatukan dua tradisi pemikiran ini, tetapi juga ada yang memandangnya sebagai antithesis. Kita harus mengakui bahwa tradisi pemikiran Yunani memberikan kontribusi yang besar dalam bidang arts, architecture, science, politik, warfare, education, poetry, history, and philosophy. Tetapi adalah kesalahan yang serius jikalau kita ingin menyatukan (synthesize) filsafat Yunani dengan wawasan dunia Alkitab. Dengan jelas Alkitab menyatakan penolakannya terhadap pemikiran dunia (Rm. 12:1-2). Secara umum John Frame memberikan beberapa ciri dari pemikiran filsafat Yunani:
The supreme authority of human reason
The consequent attempt to make rational claims about nature of reality
The consequent claim that all reality is basically one
The continuing problem of dualism: antagonism between impersonal fate and the shapeless stream of life
The shapeless stream challenges the power of reason to grasp reality
The Philosopher inability to maintain the rationality of their enterprise indicates failure of their attempt to understand the world autonomously
These difficulties invalidate much of what they say about the soul, ethics, and society

Dari ciri-ciri ini, terlihat bahwa filsafat Yunani berusaha untuk membangun otonomi dari rasio mereka. Ini adalah sisi rasionalisme dari filsafat Yunani. Tetapi di sisi lain mereka harus mengakui bahwa rasio mereka terbatas dan bisa saja salah. Terdapat area atau aspek yang tidak bisa dijelaskan dengan analisis rasional sehingga pada dasarnya area ini tidak bisa diketahui. Itu adalah sisi chaos dari “shapeless stream” (illusion, nonbeing, or nothingness). Ini adalah sisi irasionalisme dari filsafat Yunani. Sehingga dari kedua sisi ini terdapat kontradiksi dalam sistem berpikir mereka, karena sisi irasional mereka mengalahkan sisi rasional mereka. Saat mereka memaksakan sisi rasionalnya, mereka berakhir dengan membantah akan sisi rasionalnya itu dengan menyatakan bahwa dunia ini adalah sebuah chaos or shapeless stream. Kesimpulannya, proyek mereka adalah membangun otonomi dari rasio di dunia yang irasional. Hal ini seperti yang Cornelius Van Til katakan bahwa di dalam setiap pemikiran non-Kristen akan terdapat kontradiksi antara sisi rasional dan irasional. Kontradiksi ini yang menjadi bukti bahwa sistem berpikir sekularisme ini tidak bisa diharapkan.

Satu-satunya pola berpikir yang bisa diharapkan adalah wawasan dunia Kristen seperti yang diajarkan oleh Alkitab. Kekristenan memercayai absolute-personality theism. Kita percaya kepada Allah, keberadaan yang paling ultimat dan absolut sebagai keberadaan yang berpribadi. Kita juga percaya bahwa dunia ini diciptakan Allah sebagai dunia yang bisa dipahami oleh manusia yang juga adalah ciptaan Allah. Manusia diberikan kemampuan untuk memahami ciptaan ini walaupun tetap ada aspek yang misterius bagi manusia karena kita adalah ciptaan terbatas. Hal yang tidak bisa dipahami ini bukan karena adanya “shapeless stream”, tetapi karena Allah adalah Sang Pencipta yang tidak terbatas sedangkan manusia adalah ciptaan yang terbatas. Adanya perbedaan kualitatif (qualitative difference) antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya.

Dengan melihat perbedaan kontras yang mendasar antara filsafat Yunani dan wawasan dunia Kristen, maka usaha untuk menyatukan kedua wawasan dunia ini adalah hal yang seharusnya tidak dilakukan. Sebagai orang Kristen kita harus menghindari seluruh pemikiran yang bermotivasikan membangun otonomi manusia. Tetapi sangat disayangkan bahwa pada Abad Pertengahan dan selanjutnya, banyak theolog Kristen yang bersandar kepada filsafat Yunani – seperti pemikiran Neo-Platonisme dan Aristotelian – dalam membangun kerangka pemikiran mereka. Dan tentu saja hal ini menjadi sebuah permasalahan yang muncul di abad-abad selanjutnya.

Abad Pertengahan
Salah satu pemikir Kristen yang penting pada abad mula-mula adalah Agustinus. Pemikiran Agustinus memiliki pengaruh yang sangat kuat bahkan memengaruhi pemikiran filsafat dunia pada zaman itu. Tetapi saat kematiannya di sekitar tahun 430, dunia Barat memasuki era baru. Di dalam era baru ini masyarakat dan budaya Barat sangat bergantung kepada gereja. Tetapi hal yang sangat ironis terjadi pada era ini. Pada abad-abad awal, gereja bergumul dengan masalah penganiayaan dan bertahan hidup di tengah pengaruh filsafat dan budaya dunia tetapi theologi Kristen sangat berkembang dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap dunia. Ironisnya, pada Abad Pertengahangereja memiliki kekuatan untuk mendominasi masyarakat, tetapi theologi kekristenan berhenti berkembang, malahan berkompromi dengan filsafat dunia. Di masa yang relatif damai, gereja justru membangun konflik di dalam dirinya sendiri. Inilah Abad Pertengahan yang menyatukan (sintesis) theology and philosophy.

Sintesis ini bermula dari suatu tendensi para penulis Kristen zaman itu yang mencari kehormatan secara akademis. Pada saat itu akademis yang sangat dihormati adalah orang-orang yang mengerti dan ahli dalam filsafat Yunani. Beberapa tokoh penting seperti Boethius, adalah tokoh yang mencoba menyajikan sebuah model pemikiran yang mengakomodasi interaksi antara filsafat dan theologi tanpa ada referensi terhadap wahyu kekristenan. Ada juga tokoh seperti Pseudo-Dyonisius yang dihormati sebagai seorang theolog meskipun pemikirannya banyak yang sudah meninggalkan Alkitab. Ini adalah salah satu ciri dari kekristenan pada Abad Pertengahan.

Semangat akomodasi antara theologi dan filsafat mendorong bangkitnya suatu arus yang dinamakan scholasticism. Arus ini dimulai dengan sebuah motivasi untuk menyelesaikan perbedaan pendapat antara tokoh-tokoh kekristenan (Bapa-bapa Gereja) bahkan dengan pemikiran dunia sehingga menjadi sebuah pemikiran yang konsisten satu dengan lainnya. Penyelesaian ini dilakukan dengan mengadopsi berbagai pendapat maupun pemikiran dari dunia filsafat. Jikalau pada zaman Agustinus dan Erasmus mengatakan bahwa “I believe in order to understand” atau “faith seeking understanding”, maka pada Abad Pertengahan, Peter Abelard menyatakan, “One cannot believe what he does not understand.” Bagi Abelard, theologi dibangun sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah baik tulisan Alkitab maupun pemikiran dari refleksi filosofis.

Tokoh utama yang menjadi sorotan adalah Thomas Aquinas. Ia adalah theolog yang juga berusaha untuk merekonsiliasi pemikiran dari para pemikir sebelumnya. Bagi Aquinas, baik iman maupun rasio adalah hal yang penting bagi pemikiran manusia. Bagi Aquinas, kedua hal ini harus dibedakan secara jelas dan diidentifikasi sphere yang tepat bagi masing-masing komponen ini berada dan berfungsi tanpa gangguan yang lain. Di dalam hal ini Aquinas membagi dua wilayah pembelajaran yang berbeda yaitu filsafat dunia yang merupakan wilayah rasio, serta sacred doctrine yang dipimpin oleh iman.

Grace

Nature

Revelation
Faith
Scripture
Eternal Life
Salvation
The Church

Natural Reason (Philosophy)
Aristotle
Form and Matter
This World
The State

Pemisahan yang Aquinas lakukan merupakan sebuah pemisahan yang memberikan ruang bagi otonomi rasio manusia atas wilayah yang seharusnya Allah tetap berdaulat. Ia menganggap wilayah dari grace bukan sebagai God’s Lordship directing all of life, tetapi hanya sebagai pelengkap dari wilayah nature yang tunduk di bawah otonomi rasio manusia.

Abad Pertengahan juga membuka jalan bagi Renaissance dan Reformation. Pada abad-abad selanjutnya, wilayah otonomi dari nature akan membebaskan dirinya dari wilayah grace dan akan membangkitkan sekularisme yang baru seperti filsafat Yunani dan tanpa hambatan dari kekristenan. Tetapi di sisi lain, wilayah grace akan membebaskan dirinya dan menjadi semangat Reformasi yang memiliki cara berpikir Alkitab yang lebih murni. Sehingga pada masa-masa selanjutnya pertentangan pemikiran Kristen dengan non-Kristen akan semakin sengit, tetapi di sisi lain juga membuka celah untuk kompromi yang lebih besar lagi. Inilah peperangan rohani yang terus terada di dalam dunia pemikiran Barat hingga saat ini.

Renaisans dan Reformasi
Renaisans adalah sebuah abad yang mengubah budaya secara drastis di Eropa (1350-1650). Tokoh-tokoh penting seperti Dante, da Vinci, Michelangelo, Raphael, Shakespeare, Galileo, dan Columbus, lahir pada masa ini. Tetapi perkembangan dalam dunia pemikiran tidaklah sesignifikan perkembangan dalam budaya. Hanya ada dua gerakan yang perlu diperhatikan pada zaman ini yaitu antiquarianism dan humanism.

Antiquarianisme adalah sebuah gerakan yang mengajak untuk mengembalikan pemikiran-pemikiran agung pada masa lampau (terutama tulisan-tulisan zaman Yunani dan Roma). Gerakan ini didasari dengan sebuah semangat yaitu “Ad Fontes” (to the sources). Tulisan-tulisan yang kembali mereka pelajari adalah tulisan filsafat, arsitektur, seni, dan bentuk pemerintahan. Semangat ini didukung juga dengan penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg. Sehingga melalui semangat Ad Fontes dan teknologi percetakan ini, umat manusia mengalami perubahan drastis yang memampukan mereka untuk berbagi pengetahuan baik melalui literature dari masa lalu maupun penemuan-penemuan baru.

Gerakan utama lainnya adalah humanism. Gerakan humanisme ini berbeda dengan gerakan humanisme modern yang merupakan sebuah gerakan deifikasi manusia. Gerakan humanisme Renaisans adalah gerakan yang didorong oleh semangat kekristenan dalam memandang manusia sebagai gambar Allah. Cara pandang Renaisans lebih memikirkan kehidupan dunia pada saat ini berbeda dengan Abad Pertengahan yang memandang hidup ini sebagai persiapan untuk kehidupan di sorga. Sehingga secara kebudayaan, Renaisans jauh lebih berkembang dibanding Abad Pertengahan. Misalnya saja, science pada masa Renaisans ini tidak menaruh pemikirannya kepada pola berpikir Aristoteles tetapi membangun pola berpikir baru yang mengoneksikan cara pandang kita dengan pengalaman yang aktual. Begitu juga dengan perkembangan filsafat pada Renaisans yang lebih melihat realitas (political realism – Machiavelli dan existential subjectivity – Montaigne).

Arus berpikir antiquarianism mengajak untuk kembali kepada masa lalu dan membawa cara berpikir rasionalisme dari filsafat Yunani bagi zaman ini. Tetapi di sisi lain, humanisme membangun pemikirannya berdasarkan irrasional confusion of human subjectivity, yang membuka ruang bagi subjektivisme. Sehingga abad Renaisans ini tetap berada pada dilema rationalism – irrationalism, dan hal ini menjadikan arus berpikir ini tidak dapat memberikan jawaban maupun harapan yang tuntas bagi umat manusia. Selain itu arus berpikir pada zaman Renaisans ini membawa umat manusia untuk membangun hidupnya dengan bersandarkan otonomi diri dan bukan dengan tunduk kembali kepada otoritas Allah. Berbeda dengan gerakan Reformasi yang ingin mengembalikan umat manusia untuk tunduk kepada otoritas Allah. Gerakan zaman Renaisans ini merupakan gerakan yang mendorong atau membuka perkembangan sekularisme radikal pada zaman modern.

Jikalau kita buat perbandingan antara Renaisans dan Reformasi, maka perbandingannya adalah seperti demikian:

ReformationRenaissance
Reformation Antiquarianism: Biblical Authority Renaissance Antiquarianism: Human Authority – Rationalism from the past
Reformation Humanism: Individual SalvationRenaissance Humanism: Human Subjectivity

Melalui perbandingan ini kita dapat kembali melihat sebuah peperangan zaman yang terus berlangsung bahkan semakin tajam terlihat perbedaannya. Reformasi merupakan sebuah gerakan yang ingin mengembalikan seluruh aspek hidup manusia kembali tunduk kepada otoritas Allah, sedangkan Renaisans melanjutkan pengaruh dari arus yang ingin melawan Tuhan dengan membangun otonomi manusia. Reformasi membuka jalan bagi manusia untuk berkembang dengan kembali kepada kebenaran, sedangkan Renaisans membuka jalan bagi manusia untuk berkembang dengan bersandarkan otonomi intelektual manusia.

Kedua arus ini menjadi sebuah pertanyaan kembali kepada kita, “Jalan manakah yang engkau mau pilih?” Jalan yang menawarkan pengharapan dengan membuka kesempatan manusia untuk membangun kemuliaannya secara bebas dan terlepas dari Allah, itu adalah jalan lebar yang ditawarkan oleh sekularisme tetapi berujung kepada maut. Atau jalan yang memberikan pengharapan untuk manusia kembali kepada naturnya yang asli yaitu sebagai gambar Allah, dengan tunduk kepada otoritas Allah, inilah jalan kebenaran yang sempit dan begitu banyak tantangan dan kesulitan tetapi jalan ini berujung kepada kehidupan kekal bersama Allah.

Ulasan singkat sejarah perkembangan sekularisme, yang dikontraskan dengan pemikiran Kristen, dalam dunia pemikiran Barat akan kita lanjutkan pada artikel dua bulan lagi. Bulan depan kita akan membahas tema khusus dari sekularisme yang dikaitkan dengan semangat nasionalisme (di dalam rangka perayaan kemerdekaan Republik Indonesia di bulan Agustus). Kita akan membahas bagaimana nasionalisme dapat berkembang dengan sehat bukan di dalam semangat sekularisme, melainkan di dalam cara pandang kekristenan.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Juli 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk NRETC 2017 yang telah diadakan pada tanggal 15-18 Juni 2017. Bersyukur untuk setiap remaja yang telah mengikuti acara ini, kiranya melalui NRETC ini, Tuhan membangkitkan sekelompok generasi muda Kristen yang mengerti akan firman Tuhan yang sejati, yang mengerti akan kehendak Allah, dan memperjuangkannya di dalam hidup mereka.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Musik dan alat musik adalah ekspresi budaya. Bagi penyelera musik klasik silakan berselera. Tidak perlu memperalat...

Selengkapnya...

Terimakasih pejelasannya, baru ini saya tau makna bapak kami.selama ini hanya diucapkan saja sebagai doa hapalan.

Selengkapnya...

materi yang bagus...jika ada materi yang lebih lengkap mengenai penginjilan pribadi mohon kirim ke email saya. saya...

Selengkapnya...

shalom, saya mau ada tugas di gereja untuk mecari bahan khotbah yang bertema MERAIH UPAH MELALUI UJIAN IMAN , saya...

Selengkapnya...

Ytk penulis, Saya sering mendengar banyak orang berdoa dengan menyebutkan Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam penyebutan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲