Artikel

Reformation 500: The Rise of Secularism #2

Abad Pertengahan atau zaman Medieval adalah masa di mana arus pemikiran Kristen dan filsafat dunia bercampur menjadi cara pandang atau worldview dunia Barat pada zaman itu. Walaupun kekristenan terlihat mendominasi pada masa itu, ajaran dan pemikirannya sudah tidak lagi murni berdasarkan Alkitab. Pemikiran Kristen pada saat itu banyak yang mengadopsi pemikiran filsafat sekuler seperti pemikiran dualisme Plato. Akibatnya, banyak ritual keagamaan yang dilakukan tidak memiliki dasar Alkitab. Namun, Reformasi muncul sebagai titik balik lahirnya kembali wawasan dunia Kristen yang kembali kepada Alkitab. Melalui Reformasi seluruh aspek dalam wawasan dunia Kristen dibangun kembali berdasarkan pemikiran yang ada di dalam Alkitab dan tidak berkompromi terhadap filsafat dunia. Di dalam wawasan dunia yang Alkitabiah, kekristenan membangun konsep metafisika, epistemologi, dan etika yang berbeda dari dunia. Dampaknya, kekristenan dapat membangun sistem berpikir dan nilai hidup yang secara jelas berbeda dari sistem berpikir dunia yang berdosa.

Di sisi yang lain, Renaissance muncul pada saat yang berdekatan dengan Reformasi. Berbeda dengan Reformasi, Renaissance menjadi gerbang munculnya pemikiran sekularisme modern. Ciri utama dari arus pemikiran sekularisme modern adalah pemikiran yang didasarkan atas otonomi diri. John Frame mengatakan bahwa kemunculan arus pemikiran modern senada dengan kemunculan dari filsafat Yunani. Kedua arus pemikiran ini memiliki semangat yang sama yaitu keinginan menjadi pengganti dari cara berpikir tradisional dan pemikiran yang didasarkan iman kepercayaan atau takhayul. Kedua arus ini, baik filsafat Yunani maupun filsafat modern, sama-sama ingin membangun konsep berpikir mereka berdasarkan rasio manusia. Mereka memandang rasio manusia sebagai autonomous, self-authenticating, and as the chief arbiter of all philosophical controversies.

Pada artikel bulan Juli sudah dipaparkan perbedaan antara arus pemikiran Reformasi dan Renaissance. Kedua arus ini menjadi perwakilan dari dua jalan hidup, yaitu Reformasi sebagai jalan kehidupan yang taat dan takluk kepada otoritas Allah, dan Renaissance sebagai jalan kehidupan yang otonomi dan memberontak terhadap otoritas Allah. Pemberontakan terhadap otoritas Allah ini mulai terlihat jelas pada zaman modern. Kita akan melihat bagaimana arus pemikiran sekularisme ini semakin kental dengan usaha untuk mandiri dan terlepas dari otoritas Allah.

Modern Thought
Pada periode awal dari zaman modern terdapat dua arus epistemologi yang mendominasi, yaitu rasionalisme dan empirisisme. Secara umum mereka membedakan antara reason dan sense experience. Sense experience yang dimaksud di sini adalah apa yang kita lihat, rasa, cicipi, cium, atau hal-hal yang berkaitan dengan panca indra. Reason adalah hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan rasio dalam mengklasifikasi, mengurutkan, mengategorikan, dan memahami segala informasi yang kita terima. Ketika terjadi ketegangan atau konflik di antara kedua hal ini, rasionalis akan menyelesaikannya dengan mengutamakan reason, sedangkan empirisis akan lebih mengutamakan sense experience. Berikut beberapa perbedaan antara rasionalisme dan empirisisme:

Rationalism:
Pengetahuan adalah sebuah proses deduksi, kesimpulan diambil berdasarkan aksioma yang jelas.
Pengetahuan pada dasarnya adalah sebuah a priori, pengetahuan tentang prinsip yang sudah diketahui dan hal inilah yang mengatur penyelidikan kita.
Rasionalis percaya bahwa prinsip a priori ini adalah bawaan manusia sejak dilahirkan.
Rasionalis memulai pemikirannya dari prinsip metafisik yang selanjutnya dideduksi menjadi prinsip epistemologi dan etika.

Empiricism:
Pengetahuan adalah proses induksi, sebuah akumulasi pengalaman yang diperoleh dari panca indra.
Pada dasarnya pengetahuan bersifat a posteriori, informasi diperoleh berdasarkan penyelidikan empiris.
Berbeda dengan rasionalis yang percaya pengetahuan bawaan, empirisis percaya bahwa setiap manusia ketika dilahirkan dalam kondisi “empty slate” (tabula rasa).
Empirisis memulai pemikirannya dari epistemologi dan menggunakannya untuk membangun metafisika dan etika.

Kedua arus epistemologi modern ini memang memiliki cara pandang yang bertolak belakang, tetapi kedua arus ini sama-sama mempunyai semangat untuk membangun pengetahuan dan kebenaran mereka di atas dasar otonomi manusia. Kita akan me-review pandangan tokoh utama dari setiap arus berpikir tersebut.

René Descartes
Titik awal munculnya filsafat modern sangatlah dekat dengan penyelidikan Descartes terkait pengetahuan. Descartes menginginkan sebuah dasar dari pengetahuan yang pasti secara absolut, pengetahuan yang clearly and distinctly perceived to be true. Demi mendapatkan hal ini, metode yang ia gunakan adalah dengan meragukan segala sesuatu yang ia anggap tidak memberikan kepastian yang absolut. Ia meragukan segala sesuatu bahkan ilmu matematika yang ia sangat senangi. Ia menyatakan bahwa mungkin saja kita ditipu oleh “evil genius” yang membuat kita memercayai bahwa “1+1=2”.

Solusi dari keraguan Descartes ini sangatlah menarik, yaitu keraguan itu sendirilah yang menjadi jawabannya. Ia bisa meragukan segala sesuatu, tetapi ia tidak bisa ragu bahwa ia sedang meragukan segala sesuatu. Seandainya ia adalah korban dari “evil genius” yang membuatnya ragu, ia tidak bisa ragu akan keraguannya itu. Namun, apa itu keraguan? Keraguan adalah sebuah aktivitas atau proses berpikir, sehingga keraguan membuktikan keberadaan dari pikiran, dan hal ini membuktikan adanya keberadaan yang berpikir. Berdasarkan pola berpikir ini René Descartes mengemukakan kalimatnya yang sangat terkenal, “Cogito, ergo sum (I think, therefore I am).”

Dengan argumen tersebut, Descartes menyatakan akan kepastian dari keberadaan diri. Berangkat dari kepastian akan keberadaan diri, Descartes menyatakan kepastian akan keberadaan Allah. Terdapat dua argumen yang ia gunakan untuk membuktikan keberadaan Allah. Pertama adalah cosmological argument yang didasarkan kepada adanya pemikiran mengenai Allah di dalam pikiran kita. Descartes percaya bahwa hanya Allah yang sungguh-sungguh ada yang dapat menyebabkan kita untuk berpikir mengenai keberadaan-Nya. Argumen kedua adalah ontological argument yang mengatakan bahwa keberadaan adalah bagian dari konsep Allah. Seperti keberadaan 3 sudut yang merupakan bagian dari konsep segitiga, maka konsep Allah di dalam pikiran kita mengindikasikan keberadaan Allah.

Descartes melanjutkan argumen ini dengan mengatakan bahwa jikalau Allah berada, maka Ia memiliki semua kesempurnaan. Hal ini berarti keberadaan “evil genius” dianggap sebagai kemustahilan karena Allah bukan penipu dan Ia akan menyingkirkan keberadaan yang melakukan penipuan. Akibatnya, seluruh keraguan yang ada dapat dikesampingkan dengan keberadaan Allah tersebut dan kita bisa memercayai seluruh intuisi dan pengalaman kita.

Buah pikiran dari Descartes ini adalah titik awal dari kemunculan pemikiran yang otonomi (autonomous reasoning). Cara berpikir ini merupakan sebuah lompatan di dalam sejarah karena Descartes mengubah haluan berpikir dari tradisi Medieval dan Renaissance. Mereka memiliki kecenderungan untuk membandingkan dan membedakan otoritas yang ada seperti: Alkitab, tradisi gereja, filsafat Yunani. Namun, Descartes memulai suatu pola berpikir yang baru dengan mengesampingkan tradisi, agama, dan kepercayaan lama dan menggantikannya dengan rasio saja. Akibatnya, para pengikut Descartes menempatkan rasio sebagai fungsi utama dalam manusia mengerti kebenaran. Hal-hal yang tidak bisa diterima sebagai rasio, tidak bisa dianggap sebagai kebenaran. Dengan pijakan inilah, kaum rasionalis membangun dasar epistemologi dan etika mereka.

Semangat membangun otonomi diri yang dilakukan Descartes bukanlah sebuah pemberontakan pada awalnya. Ia masih menganggap dirinya sebagai seorang Katolik yang setia. Ia hanya ingin membangun dasar yang jelas dan tak terguncangkan dari iman kepercayaan yang selama ini dipegang. Namun, semangat dari Descartes ini memicu semangat pemberontakan dari penerusnya. Mereka bukan hanya meragukan otoritas yang sudah ada, tetapi juga menggeser dan menggantinya dengan otoritas diri. Inilah bibit dari sekularisme modern yang dampaknya masih bisa kita rasakan hingga saat ini.

John Locke
Salah satu ciri dari pemikiran empirisisme adalah membangun pemikirannya dimulai dari epistemologi dan menggunakan hal ini untuk membangun pemahamannya akan metafisika dan etika. Berbeda dengan rasionalisme, seperti yang kita lihat dalam pemikiran René Descartes, yang membangunnya mulai dari metafisika dan setelah itu epistemologi dan etika. Ciri khas dari kaum empiris ini tercermin juga dalam pemikiran dari John Locke.

Locke berargumen bahwa hal yang utama dalam pengetahuan adalah pengetahuan tentang ide kita atau isi dari pikiran kita. Ia percaya bahwa pengetahuan tentang dunia ini dilakukan melalui mental equipment kita, sehingga pengetahuan kita tentang dunia bukanlah pengetahuan langsung, melainkan pengetahuan melalui kapasitas diri kita (existential knowledge). Namun, hal ini bukan berarti Locke memercayai adanya innate ideas atau a priori knowledge, karena kapasitas ini dimiliki manusia sejalan dengan pertumbuhannya. Seorang bayi tidak memiliki kemampuan untuk memformulasikan prinsip logika, tetapi ketika menjadi dewasa, orang tersebut melakukannya. Ia menyatakan bahwa kehidupan manusia itu pada awalnya tidak ada pengetahuan sama sekali (tabula rasa), tetapi pengetahuan ini terbentuk atau diisi melalui pengalaman manusia. Prinsip inilah yang menjadi ciri khas dari arus pemikiran empirisisme.

Berkait dengan ide yang dihasilkan dari pengalaman, Locke melanjutkannya dengan membagi antara simple and complex ideas, dan antara primary and secondary qualities. Pertama mengenai simple and complex ideas. Simple ideas adalah ide yang dihasilkan secara pasif kepada akal budi kita melalui indra atau melalui proses refleksi. Sedangkan complex ideas adalah hasil dari akal budi yang secara aktif membawa simple ideas kepada berbagai relasi antara satu dan yang lainnya dengan menyatukan, memisahkan, mengabstraksi, dan lain-lain. Kedua, mengenai perbedaan primary and secondary qualities. Primary qualities is the power in an object to produce any idea in our mind. Dengan kata lain, primary qualities berada di dalam objek itu sendiri. Sedangkan secondary qualities menghasilkan ide di dalam pikiran kita yang tidak memiliki keserupaan di dalam objek. Misalnya sebuah apel memiliki primary qualities dalam bentuknya, kepadatannya, dan lain-lain, sedangkan secondary qualities-nya adalah warna, rasa, wangi, dan lain-lain. Berdasarkan semua hal inilah, kita dapat mengumpulkan ide-ide yang membentuk pengetahuan kita. Melalui pengetahuan inilah kita membangun metafisika dan etika hidup.

The Rise and Fall of Secularism in Modern Philosophy
Kita sudah membahas sepintas pemikiran dari René Descartes yang mewakili rationalism dan John Locke yang mewakili empiricism. Kedua arus berpikir ini membawa manusia untuk mulai membangun kebenarannya sendiri sebagai alternatif dari kebenaran yang selama ini diberikan melalui otoritas gereja. Sejarah memang mencatat bahwa dua arus besar dalam filsafat modern tersebut memberikan perubahan yang sangat signifikan di dalam sejarah pemikiran manusia, bahkan dampaknya masih bisa kita rasakan hingga saat ini. Berikut beberapa dampak positif yang dapat kita lihat:

Kemajuan teknologi. Salah satu peristiwa yang memberikan dampak besar di dalam sejarah umat manusia adalah revolusi industri. Semenjak revolusi ini, kemajuan teknologi yang kita alami berkembang dengan sangat pesat. Kalau kita bandingkan standar hidup manusia di dalam 1-2 abad belakangan ini, seharusnya kita menyadari perubahan yang sangat drastis. Hal ini karena manusia diberikan ruang atau kebebasan untuk bereksplorasi dan berkreasi. Berbeda dengan zaman sebelumnya yang cenderung mengekang manusia di bawah otoritas yang sedikit memberikan ruang untuk kreativitas manusia.

Penegakan hak asasi manusia. Beberapa tokoh dalam arus empirisisme adalah tokoh-tokoh penting dalam dunia politik, yaitu Thomas Hobbes dan John Locke. Mereka adalah bagian dari kelompok yang mendukung teori kontrak sosial. Bahkan John Locke adalah seorang yang memperjuangkan hak asasi manusia (HAM).

Perjuangan terhadap HAM mendorong perubahan yang signifikan dalam sistem pendidikan. Di zaman modern, kesempatan untuk memperoleh pendidikan terbuka bagi semua kalangan. Selain itu, metodologi dalam pendidikan juga mendorong kemajuan dalam berbagai aspek, karena pendidikan menjadi tempat di mana riset-riset yang berkontribusi bagi kemajuan dilakukan.

Masih banyak dampak positif yang terjadi di dalam zaman modern. Kita harus mengakui bahwa pemikiran modern ini adalah pemikiran yang cukup menghargai manusia. Pemikiran ini mendorong manusia untuk menggunakan kemampuannya di dalam mengelola alam ini. Cara berpikir rasionalisme yang deduktif maupun empirisisme yang induktif membuka berbagai kemungkinan bagi manusia untuk melakukan penemuan-penemuan yang kontributif bagi perkembangan budaya. Di dalam kacamata Theologi Reformed, kita memandang hal ini sebagai anugerah umum Allah yang terkandung di dalam pemikiran zaman modern ini. Apresiasi terhadap manusialah yang menjadi anugerah umum Allah bagi filsafat modern ini. Namun, side effects atau dampak negatif tetap ada di dalam arus modern ini. Dampak negatifnya adalah:  

Kerusakan moralitas yang semakin lama semakin parah. Ketika manusia diberikan kebebasan, salah satu side effect yang muncul adalah pelampiasan nafsu berdosa. Kemajuan di dalam teknologi bukan hanya memperbaiki standar kualitas hidup manusia, tetapi juga membuka ruang terhadap kemungkinan manusia untuk melakukan dosa. Akibatnya, kita bisa melihat degradasi moral yang signifikan terjadi dalam beberapa abad ini.
Kerusakan lingkungan. Keinginan manusia untuk membangun kebenarannya sendiri merupakan bagian dari ambisi manusia dalam membuktikan signifikansi diri. Namun, ambisi ini membutakan manusia dalam mempertimbangkan efek samping dari setiap keputusannya. Akibatnya, lingkungan menjadi rusak karena manusia terus mengeksploitasi alam tanpa memeliharanya. Hal ini menjadi bumerang terhadap hidup manusia itu sendiri. Bencana alam yang akhir-akhir ini sering terjadi disebabkan, salah satunya, oleh ulah manusia yang melalaikan kewajiban dalam memelihara alam.

Alienasi. Manusia yang membangun kebenarannya masing-masing memiliki kecenderungan untuk hidup di dalam keegoisan. Mereka akan berjuang untuk mempertahankan kebenarannya masing-masing dan tidak rela untuk tunduk kepada kebenaran di luar dirinya. Akibatnya, manusia semakin lama semakin hidup di dalam dunianya masing-masing dan semakin teralienasi dari sesama manusia yang lain.

Masih banyak dampak-dampak negatif dari pemikiran zaman modern. Beberapa semangat yang menjadi masalah dalam filsafat modern adalah anti terhadap otoritas dan arogansi yang membuang sejarah demi membangun kebenaran diri. Dua ciri inilah yang akan kita jumpai di dalam sekularisme yang berkembang hingga saat ini. Sekularisme memang mendorong kemajuan dan pencapaian di dalam berbagai aspek, tetapi kemajuan ini justru menjadi bom waktu bagi manusia itu sendiri. Hal ini terjadi karena ada perkembangan di dalam pengetahuan (epistemologi dan metafisika), tetapi tidak disertai perkembangan di dalam aspek etika. Hal ini akan kita bahas dalam artikel terakhir mengenai sekularisme yang akan membahas tantangan sekularisme pada zaman kita dan tanggapan Theologi Reformed terhadap hal tersebut. Artikel bulan depan akan dipaparkan mengenai bagaimana sekularisme menjadi sebuah autonomous reasoning yang lengkap di bawah pengaruh dari pemikiran Immanuel Kant.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

September 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲