Artikel

Reformation 500: The Rise of Secularism #3

Pada artikel bulan lalu kita mempelajari sekilas mengenai filsafat modern, yang dipelopori oleh René Descartes. Hal ini mendorong pergeseran semangat zaman yang sebelumnya tunduk terhadap otoritas divine revelation menjadi autonomy atau anti terhadap otoritas. Saat berbicara mengenai validitas kebenaran, filsafat modern tidak bisa menerimanya hanya dengan alasan bahwa itu adalah mandat dari yang berotoritas atau dari Allah. Mereka menuntut adanya dasar atau argumentasi yang jelas secara reason atau sense experience. Hal ini berarti penentu kebenaran bergeser dari otoritas Allah menjadi otoritas manusia. Hal ini tercermin jelas saat kita berbicara mengenai iman dan pengetahuan. Bagi zaman modern, pengetahuan ditentukan oleh rasio atau sense experience, dan agama tidak memiliki andil atau otoritas dalam menentukan. Akibatnya, saat kita berbicara mengenai pengetahuan, agama akan dianggap sebagai hal yang tidak relevan dan iman dijadikan sebagai hal yang tidak boleh dicampurkan dengan pengetahuan.

Filsafat modern memengaruhi kita untuk menyingkirkan iman dan agama dari ranah pengetahuan. Kebenaran yang dinyatakan oleh Alkitab, dianggap sebagai kebenaran yang subjektif dan tidak bisa dijadikan sebagai acuan atau kebenaran objektif. Akibatnya, dunia pendidikan semakin lama semakin mengesampingkan pendidikan agama dan menjadikannya sebagai aspek pendidikan moral saja. Namun, ketika berbicara mengenai pengaruh dari agama bagi ilmu pengetahuan, pendidikan akan menganggapnya sebagai hal yang absurd dan tidak akademis. Inilah yang menjadikan kehidupan manusia di zaman modern terlihat begitu maju dan terdidik, tetapi timpang di dalam aspek etika. Zaman ini adalah zaman yang begitu menghargai orang-orang yang outstanding secara akademis, tetapi gagal untuk menyadari bahwa intelektual yang tidak dibarengi dengan etika akan menjadi bom waktu. Hal ini terbukti dengan terjadinya Perang Dunia I dan II yang begitu menghancurkan umat manusia secara masif di dalam berbagai aspek.

Namun, kerusakan yang lebih parah ditimbulkan bukan oleh buah pemikiran para filsuf modern awal. Pemikiran yang nantinya lebih merusak bagi umat manusia dipelopori oleh seorang yang terkenal di zaman enlightenment, yaitu Immanuel Kant. Kant menjadikan autonomous reasoning yang lebih komprehensif dibandingkan dengan filsuf modern seperti René Descartes atau John Locke. Pemikirannya membawa arus perubahan yang sangat signifikan, sehingga menjadi gerbang bagi munculnya postmodern yang memperparah tantangan sekularisme di zaman kita. Artikel ini akan membahas beberapa pemikiran utama Kant dan pengaruhnya bagi perkembangan sekularisme.

An Overview of Kant’s Philosophy
Epistemologi Kant didasarkan kepada cara pandang metafisikanya yang membagi realitas menjadi 2 dunia, yaitu dunia fenomena dan noumena. Dunia fenomena adalah dunia yang tampak dan bisa kita rasakan, sedangkan dunia noumena adalah dunia yang sebenarnya. Kita tidak bisa mengetahui dunia noumena; kalaupun kita dapat mengetahui keberadaan dunia ini, itu adalah bagian dari pengalaman kita atau dunia fenomena. Segala pengetahuan yang kita miliki saat ini adalah bagian dari dunia fenomena. Berdasarkan pemisahan dua dunia ini, Kant menyatukan ketegangan antara rasionalisme dan empirisisme. Kant menggabungkan dua cara pandang ini menjadi sebuah cara pandang yang lebih utuh. Ia menamai pandangannya sebagai transcendental method.

Jikalau para filsuf pendahulunya memulai pemikirannya dengan sebuah dasar lalu mengembangkannya, maka Kant memulainya dengan mempertanyakan fondasi tersebut. Kant tidak membiarkan dirinya terjebak di dalam polemik antara self-evident axiom (rationalism) atau sense experience (empiricism). Ia memilih untuk mengambil langkah mundur dan mulai bertanya sebuah pertanyaan yang penting: “Granted that knowledge is possible, what are the conditions that make it possible? That is, if we are capable of knowing the world (including our selves), what must the world be like?” Inilah yang Kant namakan sebagai transcendental method. Ini adalah sebuah metode yang tidak mengikuti impresi dari pengalaman indrawi atau juga langkah-langkah deduksi, tetapi mempertanyakan presuposisi dari aktivitas ini. Dengan pertanyaan ini Kant tidak sedang membuktikan bahwa pengetahuan itu mungkin dimiliki, tetapi ia mengasumsikan bahwa itu mungkin, lalu bertanya apa yang mengikuti asumsi tersebut.

Jawaban Kant bagi pertanyaan ini dimulai dengan menyatakan bahwa “There is no knowledge in advance of experience, no knowledge that we can bring to experience, no knowledge that governs experience.” Hal ini berarti pengalaman hanya sekumpulan data yang random dan tidak memiliki prinsip yang mengaturnya. Kant menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh bukan dengan bersandar hanya kepada sense experience, sehingga sebagian dari pengetahuan ini haruslah bersifat a priori. Pemikiran yang menyangkal pentingnya aspek a priori dalam pengetahuan, adalah pemikiran tidak berguna. Oleh karena itu, Kant percaya bahwa akal budi tidak bersifat tabula rasa seperti yang dikatakan oleh John Locke, tetapi akal budi memiliki aspek yang berkontribusi terhadap pengalaman yang diperoleh.

Namun, cara pandang Kant tentang innate knowledge berbeda dengan para filsuf sebelumnya. Baik rasionalis maupun empirisis, percaya bahwa pengetahuan adalah konfirmasi akal budi terhadap data dari dunia di luar akal budi. Kant memiliki cara pandang yang sangat berbeda dengan mereka. Kant percaya bahwa pengetahuan itu datang bukan dengan world’s impressing it on the mind, but by the mind’s impressing it on the world. Pengalaman adalah hasil dari respons akal budi dengan berbagai konsepnya terhadap data mentah yang diberikan oleh dunia noumena.

Untuk memahami konsep pemikiran Kant, Gordon Clark memberikan sebuah ilustrasi yang sederhana. Bayangkan ada sebuah rak di pantry yang berisi toples yang cerdas. Toples-toples cerdas menyimbolkan para filsuf yang berargumen satu dengan lainnya mengenai “mengapa agar-agar di dalam diri mereka selalu berbentuk silinder”. Mereka coba untuk menjawab pertanyaan ini dengan mempelajari aspek fisik dan kimia dari agar-agar, tetapi tidak ada satu pun penyelidikan ini yang dapat memberikan alasan jelas mengapa seluruh agar-agar di dalam toples tersebut berbentuk silinder. Namun, ada sebuah toples yang brilliant mengajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kalau bentuk agar-agar ini tidak disebabkan oleh apa pun yang ada di dalam agar-agar tersebut, tetapi disebabkan oleh bentuk dari toples, yaitu bentuk diri kita sendiri?”

Dari ilustrasi ini, kita dapat melihat bahwa pemikiran Kant memberikan sebuah turning point yang besar di dalam arus pemikiran filsafat pada zaman itu. Bahkan, Kant sendiri mengatakan bahwa pemikiran ini adalah sebuah “Copernican revolution” dalam filsafat. Revolusi dari pemikiran Immanuel Kant ini adalah menjadikan manusia, dan bukan alam ataupun Allah, sebagai sumber dari kebenaran yang menyediakan pengetahuan yang murni. John Frame menjelaskan pemikiran Kant yang revolusioner seperti demikian:

Kant distinguished, as his predecessors had, between sense perception and rational operations. The empiricists thought that philosophy was the analysis of sense perception; the rationalists thought that it was the analysis of our rational operations. But Kant saw that the two inseparable: “concepts without percepts are empty; percepts without concepts are blind.” A concept without sense perception is a concept of nothing; a perception without rational understanding is just a random impression, with no meaning. Sense perception and rational understanding coincide, because the mind organizes both into an intelligible field of experience. And neither sense nor reason is intelligible until this happens.”

An Overview of Kant’s Theology
Bagi Kant, “Religion is performing our ethical duties as if they were divine commands.” Pemikiran Kant ini menjadikan agama sepenuhnya adalah etika. Kant percaya bahwa manusia memiliki kehendak yang mengarah kepada hal yang benar, dan dapat memilih kebaikan secara bebas. Namun, secara misterius manusia suka memilih untuk memaksakan kehendaknya dan memilih untuk melanggar hukum moral. Kant menyebut hal ini sebagai radical evil. Oleh karena itu, manusia harus memaksakan kewajibannya sebagai manusia kepada dirinya. Kita tidak perlu lagi memperdebatkan kebenaran sebuah ajaran agama, kita anggap saja itu benar sehingga kita dapat hidup dengan benar. Bagi Kant, yang lebih penting bukanlah untuk membuktikan atau menyatakan keabsahan sebuah kebenaran, tetapi aspek praktis dari kepercayaan ini yang lebih penting. Bagi Kant yang penting dari sebuah agama adalah implikasi atau efeknya bagi kehidupan etika seorang manusia. Akibatnya, kebenaran dan akurasi dari sebuah ajaran tidak lagi penting, tetapi efek ajaran tersebut kepada kehidupan moral yang lebih penting. Kant memberikan kesimpulan seperti demikian: “True religion is to consist not in the knowing or considering of what God does or has done for our salvation but in what we must do to become worthy of it.

The Implication of Kant’s Philosophy and Theology to the Development of Secularism
Pemikiran dari Immanuel Kant ini memiliki implikasi seperti demikian:

1. Pemikiran filsafat Kant menjadikan subjek sebagai penentu kebenaran. Pemikiran pada masa sebelum Kant, didominasi oleh arus yang menyatakan bahwa sebuah kebenaran harus dapat dibuktikan secara objektif. Hal ini seperti yang dijelaskan di atas bahwa kebenaran dari persepsi akal budi dikonfirmasikan melalui kesesuaiannya terhadap objek di luar akal budi yang sedang diteliti. Namun, pemikiran Kant menggeser pola ini dan menjadikan kita, yang melakukan penyelidikan terhadap alam tersebut, yang menentukan kebenaran ini. Hal ini berarti objektivitas sebuah kebenaran tidak lagi penting, tetapi respons atau persepsi dari kita yang menyelidikinyalah yang penting. Akibatnya, seluruh filsafat yang muncul setelah Kant menjadikan subjek sebagai penentu kebenaran. Inilah cikal bakal berkembangnya postmodern.

2. Pemikiran theologi Kant menjadikan agama sebagai hal yang hanya bersifat etika dan hal ini menjadi cikal bakal berkembangnya pragmatism. Pemikiran dari Kant menjadi tanah yang subur untuk berkembangnya theologi Liberal. Usaha-usaha yang ingin menjadikan kekristenan hanya sebagai ajaran untuk memperbaiki moralitas, didorong oleh pemikiran dari Immanuel Kant tersebut. Akibatnya, semenjak berkembang theologi Liberal, kekristenan begitu digerogoti di dalam aspek pengajarannya. Doktrin yang murni dan kukuh mulai ditinggalkan dengan dalih bahwa yang penting adalah hidup yang baik atau beretika.

Berdasarkan dua implikasi ini, kita dapat melihat bahwa pemikiran Kant mendorong sekularisme bukan hanya untuk melepaskan diri dari otortias Allah, tetapi juga menjadikan manusia itu sendiri sebagai allah yang menentukan kebenaran secara subjektif. Ajaran ini memengaruhi manusia untuk melihat kebenaran bukan di dalam sudut pandang bagaimana kebenaran itu seharusnya dipahami, tetapi memahami kebenaran sebagaimana yang dinginkan oleh manusia itu. Inilah yang menjadi ciri khas utama di dalam sekularisme yang ada di zaman ini. Manusia memahami dan menginterpretasikan kebenaran secara individualis. Kita tidak lagi terlalu peduli apakah kebenaran yang kita pahami itu sudah absah, tetapi kita menginterpretasikan kebenaran itu berdasarkan keinginan pribadi masing-masing. Kita harus menyadari bahwa sekularisme tidak lagi diidentikkan dengan orang-orang yang secara terang-terangan menentang otoritas Allah, tetapi juga orang-orang yang berada di dalam gereja bisa jadi adalah orang-orang yang hidup secara sekuler. Bahkan kita yang mengaku sebagai orang Reformed pun, bisa jadi kita hanyalah reformed yang ‘abal-abal’, karena sesungguhnya yang kita hidupi adalah semangat sekularisme. Hal ini akan kita bahas lebih detail pada artikel bulan depan yang akan membahas mengenai tantangan sekularisme pada zaman ini dan bagaimana kita sebagai orang Reformed harus berespons terhadap hal ini.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Oktober 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲