Artikel

Reformation, The Spirit of Incarnation, and the Challenge of Young Generation in This Secular Age

Di dalam Konvensi Reformasi 500 di RMCI yang baru saja lewat, ada sebuah pernyataan dari salah satu pembicara yang mungkin membuat gentar banyak peserta yang mendengarnya. Pernyataan ini diucapkan dalam salah satu sesi dari Dr. Richard Pratt yang mengatakan bahwa kaki dian sedang berada di Asia dan ia mengatakan, “This is your century.” Lebih lanjut, Pratt menjelaskan bahwa kekristenan di dunia Barat sedang mengalami “bad season” atau sedang “declining” dan penyebab dari hal ini adalah karena mereka kompromi terhadap dunia. Pernyataan-pernyataan ini seharusnya menyadarkan kita betapa mengerikannya hidup sebagai orang Kristen. Reformasi terjadi di benua Eropa, tetapi saat ini kekristenan di Eropa menuju kehancuran. Selanjutnya Tuhan memberkati Amerika dan menjadikan kekristenan di sana berkembang dengan pesat, tetapi beberapa abad kemudian kekristenan tenggelam. Coba perhatikan kekristenan di Eropa dan Amerika saat ini, apakah mereka masih berpengaruh? Mungkin orang Kristen masih banyak di Amerika, tetapi berapa banyak dari massa tersebut yang masih memiliki iman yang murni? Bukankah iman mereka semakin tergerus oleh arus zaman dan pengajaran-pengajaran dari dalam gereja yang begitu menyimpang dari kebenaran? Seberapa banyak orang yang masih mempertahankan kesejatian iman? Seberapa besar kelompok anak-anak muda yang masih berjuang bagi kebenaran iman Kristen yang murni? Coba perhatikan dan renungkan, maka engkau akan menyadari “masa keemasan” kekristenan di dunia Barat sudah berlalu. Inilah sebuah fakta yang tidak bisa kita pungkiri lagi. Maka tidaklah mengherankan jikalau Dr. Richard Pratt mengatakan bahwa kekristenan dunia Barat sedang dalam masa “bad season”.

Lalu bagaimana dengan Asia yang dikatakan sedang dalam “masa keemasan” kekristenan? Bagaimana seharusnya kita berespons terhadap pernyataan ini? Patutkah kita berbangga atau justru harus merasa tidak layak? Patutkah kita merasa gembira atau justru gentar? Respons yang salah terhadap pernyataan ini akan menjadi celaka bagi diri kita sendiri bahkan berdampak terhadap perkembangan kekristenan khususnya di Indonesia. Namun realitas menunjukkan sebuah kondisi yang kita, sebagai pemuda Gerakan Reformed Injili, harus waspadai bahkan kita harus bertobat, karena tidak banyak pemuda yang menyadari akan kondisi ini. Banyak pemuda yang “take it for granted” berkat yang Tuhan berikan bagi gerakan ini, dan menjadi kendor di dalam iman dan kehidupannya. Banyak pemuda gerakan ini yang disadari atau tidak disadari sedang terjerat dalam sekularisme dan perlahan berkompromi dengan semangat zaman atau dunia ini. Inilah bibit-bibit yang akan membawa kekristenan menuju kepada “bad season”. Pada artikel terakhir mengenai sekularisme ini, kita akan membahas mengenai respons apa yang harus kita berikan sebagai pemuda Gerakan Reformed Injili dalam menghadapi tantangan sekularisme tersebut. Sebelum itu, kita akan memikirkan aspek apa saja yang menjadi jebakan sekularisme dalam pemuda saat ini.

Tantangan dari Luar Gereja
Jebakan sekularisme yang ada pada saat ini tersebar di berbagai aspek kehidupan yang begitu dekat dengan diri kita. Sering kali kita menganggap hal ini sebagai hal yang wajar, biasa, bahkan hal-hal yang kita kira adalah hal yang benar untuk dilakukan. Kewajaran ini bisa muncul di dalam diri kita karena hal-hal ini adalah aktivitas umum yang dilakukan atau dikejar oleh banyak orang, bahkan orang Kristen sekalipun. Namun, jikalau kita tidak peka terhadap hal-hal ini, maka kita akan menjadi seseorang yang secara tidak sadar sudah terjerat masuk ke dalam sekularisme. Beberapa aspek yang umum kita jumpai adalah:

Economics: Autonomy through Materialism and Consumerism
          Semenjak dijadikannya uang sebagai alat tukar universal, kehidupan manusia dikendalikan oleh hal tersebut. Segala sesuatu yang mereka kerjakan diorientasikan kepada aspek materi tersebut. Hal ini diperkeruh dengan perkembangan dalam dunia industri maupun teknologi informasi yang menjadikan pergerakan dunia bisnis dan ekonomi menjadi semakin cepat. Sebagai orang Kristen, kita tidak masalah dengan perkembangan teknologi seperti ini karena perkembangan itu sendiri merupakan mandat yang Tuhan berikan. Namun yang menjadi masalah adalah manusia berdosa yang mengotori perkembangan ini dengan ambisi berdosanya, sehingga semakin berkembang dan maju peradaban manusia, semakin rusak dan mundur manusia di dalam segi moral, kebijaksanaan, bahkan di dalam iman. Akibatnya, perkembangan dunia bisnis dan ekonomi menjadikan manusia jauh dari Allah dan terjerat dalam kehidupan yang mengejar harta. Harta disamaratakan dengan kekuasaan, sehingga benarlah yang Alkitab katakan bahwa sulit bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam sorga. Alasannya, karena mereka membangun otoritas diri berdasarkan harta dan kebahagiaan diri berdasarkan tingkat konsumsi. Mereka sulit sekali untuk tunduk kepada kebenaran dan hidup takluk kepada Allah, karena bagi mereka kebenaran dapat dipermainkan dengan harta. Inilah aspek sekularisme yang banyak sekali menjerat pemuda saat ini. Semakin tingginya tuntutan standar hidup, menjadikan para pemuda memiliki pemikiran yang berorientasi hanya kepada materi. Ketika memasuki dunia kerja, banyak pemuda yang mengurangi porsi pelayanan dengan dalih pekerjaan pun adalah pelayanan bagi Tuhan. Padahal, ambisi dari dalam hatinya hanyalah untuk membangun kerajaannya bukan Kerajaan Allah. Ini adalah aspek autonomy yang pertama.

Technology: Autonomy through Social Media
          Aspek lain yang sangat berpengaruh dalam dunia pemuda saat ini adalah social media. Kehidupan pemuda saat ini hampir tidak dapat terlepas dari dunia media sosial. Perkembangan teknologi dalam aspek media sosial merupakan sebuah penerobosan dalam dunia komunikasi karena dapat meringkas aspek jarak di dalam komunikasi. Namun, media sosial yang ada saat ini bukan hanya menjadi sebuah media komunikasi, tetapi juga menjadi wadah bagi seseorang untuk membangun identitas, dunia, bahkan kebenarannya sendiri. Salah satu aspek yang menjadi kebahayaan dalam media sosial adalah kebebasan dalam menyatakan segala sesuatu dan kebebasan menjadi siapa pun. Segala bentuk informasi, bahkan informasi yang menyesatkan pun (hoax), dapat dianggap sebagai kebenaran tergantung interpretasi dan keputusan dari pembaca. Akibatnya, kebenaran adalah kebenaran yang bergantung kepada subjek pembacanya. Di sisi lain, kita pun diberikan ruang untuk membangun diri kita untuk menjadi siapa pun yang kita mau. Jadi para pemuda diberikan ruang di dunia media sosial untuk membangun otoritas dirinya dan menjadi penentu dalam segala sesuatu yang ingin dia kerjakan tanpa perlu tunduk kepada otoritas lain. Inilah pemanfaatan media sosial yang menyimpang dan menjerat para pemuda untuk menjauh dari kebenaran sejati yang seharusnya menjadi dasar dalam membentuk kehidupan mereka.

Social: Autonomy through Community Care
          Salah satu efek samping dari filsafat postmodern adalah munculnya kelompok-kelompok yang mengakomodasi hal-hal yang dianggap marginal, tabu, bahkan dianggap sebagai kriminalitas. Beberapa tahun lalu kita pernah mendengar adanya kelompok pedofil di dalam media sosial yang berkumpul membentuk komunitas. Selain itu baru saja merebak karena mendapatkan angin secara legalitas adalah kelompok LGBT. Ini adalah bentuk-bentuk kelompok yang secara etika dahulu dianggap sebagai tidak etis bahkan kriminalitas. Namun, pada saat ini mereka membentuk komunitas yang menunjukkan solidaritas bagi sesamanya. Selain kelompok seperti ini, masih banyak bentuk kelompok lain yang membentuk komunitas-komunitas solidaritas bagi sesama, yang mengakomodasi berbagai tipe orang. Akibatnya, setiap orang dengan berbagai pribadi dan karakter akan memiliki wadah untuk mengaktualisasikan dirinya, bahkan untuk hal berdosa sekalipun. Hal ini menjadi lampu hijau bagi generasi muda untuk menjadi dirinya sendiri tanpa ada suatu desakan untuk mengubah dirinya menjadi seorang yang berkenan dan memuliakan Tuhan. Akibatnya, kita akan berhadapan dengan sekelompok pemuda yang tidak peduli dengan berbagai ajaran firman Tuhan, karena merasa dirinya tidak perlu diubah dan tetap ada yang mau menerimanya.

Tourism and Leisure: Autonomy through Adventure
          Industri pariwisata adalah industri yang mengalami pertumbuhan sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir ini. Menurut analisis beberapa pakar, hal ini disebabkan gaya hidup dari kaum millennial yang cenderung menyukai petualangan ke berbagai tempat. Ada yang senang bertualang ke berbagai negara, ada juga yang senang melihat pemandangan-pemandangan alam yang eksotis. Di sisi lain, pemanfaatan leisure time dengan berbagai macam hobi pun menjadi tren yang merebak saat ini. Semua hal ini menunjukkan sebuah semangat zaman yang ingin menekankan generasi muda untuk “enjoying yourself”, sehingga mereka bereksplorasi merasakan berbagai macam hal demi kepuasan diri. Namun, hal ini menjadi sebuah ironi karena segala bentuk petulangan maupun pemuasan yang mereka lakukan hanya bersifat sementara dan sebuah pelarian dari realitas hidup. Ada seseorang yang mengatakan demikian, “They are going everywhere, but in reality they go nowhere. They are enjoying everything, but in reality they enjoy nothing.” Kalimat ini menggambarkan kondisi dari pemuda-pemudi saat ini. Mereka pikir sedang menikmati petualangan dan waktu luang mereka, tetapi sebetulnya mereka sedang menghabiskan waktu hidupnya dalam kesia-siaan. Mereka pikir hidup mereka adalah realitas, tetapi sesungguhnya mereka sedang lari dari realitas yang sesungguhnya, yaitu hidup taat dan memuliakan Tuhan.

Church: Autonomy through Church Community
          Komunitas gereja sering kali dianggap sebagai komunitas yang baik “by default”. Orang-orang yang belajar doktrin maupun rajin pelayanan dianggap sebagai orang yang suci, baik, dan jauh dari dosa ataupun ajaran yang tidak benar. Namun, realitas menyatakan hal yang lain, justru gereja mungkin saja dijadikan sebagai tempat untuk mengaktualisasikan diri di dalam berbagai bentuk yang ada. Semakin rajin melayani, semakin merasa diri berguna, lalu pada akhirnya dibungkus semua itu demi kemuliaan Tuhan. Semakin banyak belajar doktrin, semakin merasa diri hebat dan merasa semakin dekat dengan Tuhan karena tahu banyak doktrin. Benarkah pengetahuan doktrin dan kerajinan melayani menjadi ukuran relasi kita dengan Tuhan? Atau justru itu hanyalah sebuah media untuk memperalat Tuhan bagi aktualisasi diri?

Beberapa dari sekian aspek yang dibahas memiliki sebuah pola yang sama, yaitu melakukan semuanya bagi kepuasan, kebanggaan, ataupun aktualisasi diri. Kehidupan yang pada intinya adalah kehidupan self-centered. Maka kembali pertanyaannya adalah, “Diperhadapkan dengan realitas tersebut, apakah yang menjadi respons kita sebagai pemuda Reformed Injili?”

Reformation and The Spirit of Incarnation
Reformasi tercetus dengan semangat memberikan diri bagi Tuhan. Semangat ini bertolak belakang dengan sekularisme yang menarik seluruh perhatian di sekitarnya bagi diri, bahkan Tuhan pun diperalat bagi kepentingan diri. Para Reformator adalah orang-orang yang tidak lagi peduli kepentingan, kenikmatan, atau pencapaian ambisi diri. Keinginan hati mereka adalah kehendak Tuhan dinyatakan di atas dunia ini, tidak peduli konsekuensi yang harus mereka tanggung. Inilah semangat sejati dari kekristenan, memberikan diri bagi pekerjaan Allah dan menjadi berkat bagi sesama. Semangat ini adalah semangat yang juga Kristus lakukan ketika Ia berinkarnasi untuk menjalankan kehendak Sang Bapa. Ia tidak lagi menganggap segala yang Ia miliki sebagai hal yang patut dipertahankan. Ia secara aktif menaati kehendak Sang Bapa. Pdt. Stephen Tong mengatakan hal ini adalah keaktifan untuk menjadi pasif atau aktif untuk tunduk kepada Bapa. Inilah semangat yang seharusnya dimiliki oleh para pemuda di tengah godaan sekularisme. Semangat untuk mau takluk kepada Allah dan memberikan diri untuk menjalankan kehendak Allah. Natal adalah momen untuk kita merenungkan kembali akan seluruh hidup kita sebagai pemuda. Apakah hidup kita selama ini adalah kehidupan yang God-centered atau justru menjadi self-centered? Biarlah kita meneladani Kristus yang merelakan diri-Nya mengambil rupa seorang hamba dan sepenuhnya taat hingga Ia disalibkan.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Desember 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Bersyukur untuk Konvensi Internasional 500 Tahun Reformasi yang telah diadakan pada tanggal 14-20 November 2017 di Jakarta.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Sangat memberkati. Kondisi zaman ini membuktikan kemajuan pengetahuan theologia meningkat, keterampilan dalam...

Selengkapnya...

Praise God! I am always refreshed and strengthen by the devotions or article in the PILLAR bulletin. Thank you and...

Selengkapnya...

Pak Wong Ma'ruf.. saya tidak sedang menyampaikan bahwa anda telah membandingkan alquran dan alkitab. Saya hanya...

Selengkapnya...

Segara Kamu salah besar kalau saya membandingkan al Quran dengan alkitab.Saya tida pernah menyajikan ayat2 al...

Selengkapnya...

Seru ya membaca tanggapan, perdebatan ttg pengetahuan alkitab antara Pak Wong Ma ruf dan bpk Siringoringo ini....

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲