Artikel

Reformed Theology and Economics (10): Redeeming Our View of Money

“Uang bukan segalanya, tetapi segala sesuatu butuh uang.” Ini adalah salah satu pernyataan mengenai uang yang sering kita dengar. Kalimat ini di dalam batasan tertentu bisa menggambarkan situasi kita saat ini. Kalimat ini menyatakan bahwa keberadaan uang, khususnya bagi masyarakat metropolitan saat ini, sangatlah krusial. Coba perhatikan sekitar kita, mayoritas aktivitas di dalam kehidupan ini tidak terlepas dari uang. Mulai dari kebutuhan dasar (sandang, pangan, dan papan) hingga hal-hal yang sifatnya pelengkap (hobi, hiburan, atau bahkan aktivitas sosial lainnya) menjadikan uang sebagai bagian dari aktivitasnya. Sehingga keberadaan uang bukan lagi sebagai simbol dalam pertukaran barang saja, tetapi juga simbol kenikmatan, kebahagiaan, kelas sosial, rasa aman, dan lain-lain. Konsep ini dengan kuat mengakar di dalam konsep berpikir bahkan sistem kepercayaan masyarakat pada saat ini. Sederhananya, saat ini uang dipandang sebagai bagian dari gaya hidup bahkan menjadi identitas bagi masyarakat.

Keterikatan atau kebergantungan kepada uang ini sangat jelas terlihat di dalam bidang ekonomi, khususnya dalam perkembangan ekonomi belakangan ini. Perkembangan ini terlihat jelas, baik di dalam kedua sektor penopang ekonomi, yaitu sektor riil dan sektor keuangan. Di dalam sektor keuangan, kita melihat perkembangan dunia investasi dengan semakin berani dan piawainya para pelaku ekonomi bermain dengan risiko, melalui permainan saham, pertukaran mata uang, money games, dan sebagainya. Di sektor riil, kita melihat perkembangan dalam inovasi yang menarik di dalam “business start-up”, yang dinilai menjanjikan untuk memberikan benefit yang besar di masa yang akan datang. Perkembangan dan harapan untuk mendapatkan benefit yang besar melalui dua sektor ini begitu diharapkan. Lihatlah perputaran dana di dalam dua komponen ini (dunia investasi pasar uang dan dunia investasi business start-up), begitu besar investasi yang diberikan dalam dua area tersebut. Sehingga tidaklah mengherankan jikalau orang berlomba-lomba untuk mengembangkan usaha mereka di dalam dua area tersebut. Buktinya, dana yang digelontorkan ke dalam dua area ini begitu spektakuler. Perkembangan ini tidak terlepas dari cara pandang para pelaku ekonomi saat ini terhadap uang.

Orang-orang Kristen pun tidak kebal terhadap cara pandang ini. Alkitab berkali-kali memperingatkan akan kebahayaan dari uang atau harta. Di dalam beberapa perikop, Alkitab menggambarkan kekayaan identik dengan kehidupan yang fasik atau melawan Tuhan. Tetapi di sisi yang lain Alkitab pun menceritakan tokoh-tokoh Alkitab yang kaya tetapi Tuhan pakai dengan luar biasa. Sehingga menurut Alkitab, uang dan kekayaan tidak selalu dikaitkan dengan berkat (seperti Abraham, Daud, dan Salomo) tetapi juga dengan kutuk atau kehidupan yang justru sedang ditinggalkan oleh Tuhan (orang kaya dalam kisah Lazarus, orang-orang yang makmur di dalam doa Asaf, dan lain-lain). Oleh karena itu sebagai orang percaya kita harus memiliki cara pandang yang tepat mengenai apa itu uang, dan bagaimana kita harus menggunakannya.

Uang dan Perkembangannya
Uang sebagai Alat Tukar
Di dalam ekonomi klasik, uang adalah alat tukar. Uang dipakai sebagai nilai tukar yang ekuivalen atau dapat mewakili nilai sebuah komoditas (sejumlah uang dapat dipakai untuk membeli suatu barang). Karena nilai tersebut, uang dapat diinvestasikan ke dalam sektor riil untuk mendapatkan keuntungan. Model pertukaran seperti ini dinilai lebih memadai dan lebih objektif dibanding dengan sistem yang lebih tradisional, yaitu dengan cara barter. Berkaitan dengan hal ini David Hume mengatakan bahwa uang adalah keutamaan artifisial yang disepakati untuk mencegah afeksi subjektif/egosentris individu dari pola barter. Sederhananya, Hume ingin mengatakan penetapan uang sebagai alat tukar adalah sebuah konsensus untuk menilai suatu komoditi dengan lebih objektif.

Sebagai ekuivalensi bagi sebuah komoditas, uang bisa dikatakan memiliki “nilai di dalam dirinya sendiri” walaupun itu karena konsensus. Tetapi nilai dari uang bukan hanya ditentukan oleh aspek ini saja, tetapi juga karena uang ini memiliki perbedaan dengan uang atau sistem uang lainnya. Konsep ini mirip dengan sistem nilai di dalam bahasa yang diungkapkan oleh Saussure (seorang linguis abad 19), yang menyatakan bahwa nilai sebuah kata melibatkan dua unsur yaitu hal yang tidak sama (dissimilar) dan hal yang sama (similar). Begitu juga dengan sistem nilai uang yang dipengaruhi oleh kedua unsur tersebut. Berdasarkan konsep ini, kita dapat mengerti lebih lanjut mengenai karakteristik sistem nilai di dalam uang. Meskipun uang memiliki sistem nilai yang dipercaya lebih objektif, tetap saja nilai ini tidak mutlak atau masih dapat berubah-ubah sesuai dengan unsur-unsur yang membentuknya. Inilah alasan perubahan nilai dari suatu nominal uang dari waktu ke waktu dibandingkan dengan nilai dari komoditas atau ditukarkan dengan mata uang lain.

Uang sebagai Tujuan
Saat uang menjadi standar dalam melakukan pertukaran komoditas, maka perlahan uang bergeser dari alat atau fungsi untuk mencapai tujuan menjadi tujuan itu sendiri. Jikalau sebelumnya, komoditas menjadi objek atau tujuan yang ingin dicapai dan uang ada sebagai alat untuk mencapai tujuan ini, maka pada perkembangan selanjutnya uang itu menjadi tujuan. Pergeseran cara pandang mengenai uang inilah yang menjelaskan beberapa hal yang kita alami saat ini. Banyak orang saat ini mengejar untuk memiliki uang, bahkan lebih mengherankan lagi saat uang itu sudah terkumpul, ada orang-orang yang enggan menggunakannya dengan alasan “sayang kalau uang ini digunakan”. Di satu sisi mungkin memang mereka ingin menabung, tetapi jikalau menabung itu sudah menjadi tujuan akhir, masih adakah makna dari menabung tersebut? Jikalau pengejaran akan uang itu sudah menjadi tujuan akhir, masih adakah makna bagi pengejaran uang ini?

Uang sebagai Simbol
Pertanyaan-pertanyaan di atas membawa cara pandang terhadap uang bergeser lagi menuju cara pandang yang lebih luas lagi mengenai uang. Selain uang sebagai alat tukar dan tujuan, maka uang pada saat ini pun dimengerti sebagai simbol. Seperti yang disebutkan di awal artikel ini, uang pada saat ini dimengerti sebagai simbol bagi relasi-relasi abstrak manusia. Uang membentuk pola pikir manusia, seperti keberhasilan hidup manusia diukur dari jumlah kekayaan yang dimilikinya. Uang juga bisa memengaruhi relasi antarmanusia, misalnya orang-orang yang memiliki harta banyak cenderung lebih mudah diterima oleh masyarakat. Selain itu uang dapat membentuk identitas manusia itu sendiri, cobalah perhatikan dari aspek kepercayaan diri. Banyak orang yang kepercayaan dirinya terbentuk saat ia memiliki uang dan hancur saat ia tidak memiliki uang yang cukup. Bahkan yang lebih parah lagi, uang direlasikan dengan kebebasan. Semakin banyak uang yang dimiliki, semakin bebas seseorang menentukan pilihan hidupnya. Inilah pergeseran lebih lanjut dalam cara pandang mengenai uang.

Uang sebagai Hasrat
Pergeseran cara pandang mengenai uang ini memberikan dampak yang signifikan bagi terbentuknya kebudayaan, yaitu menjadikan masyarakat saat ini sebagai masyarakat yang haus akan uang. Mereka menjadikan hasrat akan uang sebagai sebuah kewajaran bahkan sebuah “kenormalan” di dalam hidup. Cara pandang inilah yang akhirnya mendorong manusia untuk mengabdikan hidupnya demi uang atau sederhananya, manusia menjadi hamba uang. Ini adalah kondisi yang Alkitab gambarkan terjadi pada manusia di zaman akhir, yaitu manusia yang mencinta uang. Kecintaan akan uang ini menjadikan manusia tidak pernah puas akan kehidupannya, ia menjadi seorang yang tidak pernah mengerti arti kata cukup di dalam kehidupan. Inilah yang disebut sebagai abad keserakahan (Age of Greed).

Hiper-Realitas Uang
Selain perkembangan dalam cara pandang mengenai uang, pengaruh yang tidak kalah pentingnya adalah perkembangan teknologi informasi. Kedua perkembangan ini membawa konsep mengenai uang menuju kepada satu konsep, yang disebut sebagai “hiper-realitas uang”. Menurut Piliang (seorang filsuf kontemporer Indonesia), hiper-realitas uang adalah kondisi ketika uang telah melampaui fungsinya sebagai alat tukar, dengan memutus rantai hubungan antara sektor moneter dan sektor riil. Dengan memutus rantai hubungan ini berarti uang dipakai untuk sektor moneter (keuangan) saja. Jikalau sebelumya uang dipakai untuk mendapatkan komoditas, maka pada saat ini uang dipakai untuk mendapatkan uang. Sederhananya uang telah berubah menjadi alat tukar sekaligus juga komoditas.

Jikalau kita menggunakan konsep dua unsur pembentuk nilai yang dikemukan oleh Saussure, maka unsur pembentuk nilai dari uang dalam konteks hiper-realitas, hanyalah dari unsur similar. Menilai uang berdasarkan uang yang lain, contohnya adalah perbedaan kurs mata uang. Inilah akar dari hiper-realitas ekonomi, yaitu kondisi di mana dimensi struktural (moneter) menjadi bersifat otonom, dengan mengesampingkan dimensi referensial (riil), sehingga ekonomi ini bergantung pada perputaran uang “murni” di sektor moneter itu sendiri. Di dalam konsep ekonomi ini komoditas utamanya adalah uang dan bentuk-bentuk yang kita lihat saat ini adalah saham, obligasi, produk-produk financial derivatives, hingga money games. Ciri khas dari ekonomi ini adalah menjadikan investasi dengan keuntungan yang cepat (melebihi sektor riil), tetapi sifatnya adalah spekulatif (memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dibanding sektor riil). Ekonomi mengandalkan perputaran uang di dalam sektor moneter.

Baudrillard menyatakan beberapa efek dari konsep ekonomi hiper-realitas:

Destructuring of Value. Konsep nilai dalam ekonomi menjadi nilai yang mengapung (floating value) dan tidak memiliki fondasi kekuatan ekonomi yang jelas. Jikalau kita pernah mengamati pergerakan nilai saham atau kurs mata uang, nilai mereka dapat berubah setiap saat. Walaupun ada teori yang mendasari, tetap saja prediksi yang dibuat sifat nilainya mengapung.

Destabilize Market and Real Sector. Ekonomi ini juga membuat kondisi pasar dan sektor riil mengalami kondisi yang semakin tidak stabil. Kita bisa kembali berkaca pada beberapa krisis moneter yang terjadi di dalam beberapa negara, khususnya krisis 2008. Goncangan ekonomi yang terjadi di dalam sektor moneter selalu berdampak besar kepada kondisi pasar di sektor riil.

Speculation-based Economy (free from economy theory). Ketidakstabilan yang dihasilkan oleh ekonomi hiper-realitas ini menunjukkan bahwa dasar dari perekonomian ini adalah spekulasi. Aktivitas dalam perdagangan saham maupun foreign exchange (terutama yang bersifat short-term trading) hampir tidak bisa dibedakan dengan kita bermain judi, prinsip yang mendasari mereka adalah probability atau spekulasi.

Bentuk praktis dari ekonomi hiper-realitas dapat kita lihat di dalam perdagangan saham, obligasi, forex (pertukaran mata uang), dan money games. Prinsip yang menjadi benang merah dari semua ini adalah spekulasi. Mereka menggunakan sejumlah uang, yang cukup besar, untuk diputarkan di sektor moneter dengan harapan dapat memberikan keuntungan yang cepat dan tingkat pengembalian yang tinggi. Tetapi yang harus digarisbawahi pada semua aktivitas ekonomi ini hanyalah spekulasi sehingga memiliki risiko yang sangat tinggi. Konsep yang harus kita mengerti dari bentuk-bentuk ekonomi ini adalah “high risk high return, low risk low return”. Hasil secara makro yang diperoleh dari konsep ekonomi hiper-realitas ini adalah krisis demi krisis yang kita alami. Bahkan saat ini frekuensi krisis yang kita alami menjadi semakin sering dan masa krisis itu sendiri berlangsung semakin panjang, hal ini menunjukkan kerapuhan dari konsep nilai pada konteks ekonomi hiper-realitas ini.

The Meaninglessness of Money in Hyper-Reality Context
Pergeseran demi pergeseran dari cara pandang mengenai ini membawa konsep nilai uang menjadi semakin tidak berarti. Jikalau kita kembali kepada konsep awal keberadaan uang, yaitu sebagai alat tukar. Kita akan kembali menyadari signifikannya keberadaan komoditas sebagai pemberi nilai atau makna bagi keberadaan uang. Saat uang mencoba membangun nilainya terlepas dari nilai komoditas yang seharusnya ia wakili, maka yang kita lakukan adalah sedang menggerus nilai uang menuju kondisi meaningless. Hal ini tidak jauh berbeda dengan seorang manusia yang mencoba membangun arti hidupnya dengan melepaskan diri dari Sang Pencipta. Perlahan manusia akan kehilangan nilai hidupnya. Begitu juga dengan uang, perlahan akan menjadi semakin tidak berarti.

Kondisi inilah yang kita hadapi dalam perekonomian saat ini. Inflasi yang semakin tinggi mengindikasikan nilai yang semakin tergerus. Maksudnya, semakin lama nominal uang yang sama memiliki nilai yang semakin menurun dibandingkan dengan nilai komoditas yang didapatkan. Dan pendorong utama dari inflasi ini adalah krisis-krisis ekonomi yang terjadi. Efek sampingnya adalah terbentuknya masyarakat yang semakin hari semakin rakus akan uang. Bahkan kerakusan ini menjadikan manusia semakin berani untuk melakukan perbuatan dosa demi memperoleh uang. Cobalah perhatikan perkembangan produk-produk keuangan yang ditawarkan saat ini, kasus penipuan dari produk keuangan ini semakin merebak di mana-mana. Konsep keuangan yang menjanjikan, tingkat pengembalian yang tinggi seperti money games, berujung pada kasus-kasus kriminal yang merugikan orang-orang yang terlalu rakus untuk memperoleh harta yang banyak dengan instan. Semua hal ini membuktikan apa yang dikatakan oleh Alkitab dari jauh-jauh hari, yaitu, “Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan.” Pengejaran akan uang tidak akan pernah memberikan makna atau nilai yang sejati, tetapi hanya akan memberikan ketidakbermaknaan bagi hidup kita. Karena itulah semakin kita mengejar uang, semakin kita merasa ketidakpuasan.

Biblical View on Money and Wealth
Alkitab tidak melarang seseorang memiliki uang atau harta yang berlimpah. Tetapi Alkitab juga cukup memberikan peringatan untuk berhati-hati dengan harta yang berlimpah, karena jikalau kita tidak hati-hati, maka uang ini akan menjadi jerat yang membawa kita jauh dari Tuhan. Di dalam Alkitab kita dapat mempelajari banyak tokoh yang kaya tetapi dipakai Tuhan. Abraham yang begitu diberkati Tuhan tetapi ia hidup sebagai bapa dari orang beriman. Boas juga adalah seorang yang kaya tetapi kekayaan itu justru Tuhan pakai untuk memelihara yang menjadi jalan bagi garis keturunan yang akan melahirkan Kristus. Kita juga mengenal seorang Ayub yang begitu kaya tetapi hidupnya saleh di hadapan Tuhan, bahkan ketika kekayaan diambil darinya, Ayub tetap beribadah kepada Tuhan. Di dalam Perjanjian Baru kita mengenal juga tokoh seperti Barnabas yang kekayaannya dipakai untuk memperkembangkan gereja mula-mula. Masih banyak tokoh lain yang Alkitab ceritakan. Dari semua tokoh-tokoh ini terdapat satu kesamaan, mereka tidak pernah membiarkan diri mereka diikat oleh kekayaan. Mereka tidak menghambakan hati mereka kepada uang, bahkan mereka menggunakan uang mereka untuk menjadi hamba bagi pekerjaan Tuhan.

Tetapi Alkitab juga menceritakan tokoh-tokoh yang pada akhirnya terjerat oleh perhambaan uang dan justru memiliki akhir hidup yang menyedihkan. Kita mengenal seorang muda yang kaya yang akhirnya memilih untuk mempertahankan kekayaannya dibanding mengikut Kritus. Kita juga belajar mengenal kisah Ananias dan Safira yang karena kekayaannya harus mengalami kematian mendadak karena mereka berbohong kepada para rasul mengenai persembahan mereka. Di dalam Perjanjian Lama kita juga membaca kisah keluarga Lot yang menjadi rusak karena memilih untuk tinggal di kota Sodom dan Gomora yang makmur. Bahkan ketika Tuhan perintahkan untuk meninggalkan kota tersebut, istri Lot harus menerima hukuman Tuhan karena hatinya tidak rela untuk meninggalkan harta kekayaannya. Ini adalah beberapa contoh orang-orang yang hatinya terjerat oleh uang.

Sehingga kita bisa melihat bahwa Alkitab tidak mempermasalahkan harta tetapi perhambaan terhadap uang yang menjadi masalah. Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap mengenai uang? Di dalam pengajaran Yesus, ada sebuah perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur. Salah satu poin utama yang diapresiasi dari bendahara ini adalah ia dapat menggunakan uang dengan cerdik untuk mengantisipasi masalah yang mungkin ia alami di waktu yang akan datang. Sederhananya ia bisa memperhamba uang demi hal yang lebih penting dan bukan menjadi hamba uang. Konsep seperti ini yang seharusnya kita pelajari di dalam relasi kita dengan uang. Kita harus mengembalikan fungsi dari uang, kembali sebagai alat untuk mencapai tujuan, bukan sebagai tujuan itu sendiri. Kita harus menggunakan uang sebagai media untuk kita menjalankan kehendak Tuhan dan bagi kemuliaan Tuhan. Dan hal ini berarti mulai dari motivasi, cara, dan tujuan dari relasi kita dengan uang harus kita bereskan.

Kesimpulan
Pola berpikir Alkitab sangat kontras dengan yang dunia ini pikirkan. Dunia ini mengajarkan bahwa nilai terbaik dari uang diperoleh saat kita dapat menggunakannya untuk mendapatkan uang yang memiliki nilai lebih besar. Konsep dunia ini pada akhirnya hanya membawa uang menjadi semakin kehilangan maknanya. Uang yang menjadi standar pertukaran di dalam dunia ini, semakin kehilangan nilainya, karena konsep hiper-realitas uang terus diterapkan. Hal ini karena nilai uang yang seharusnya menjadi standar malah semakin direlatifkan. 

Kita harus menyadari bahwa uang adalah anugerah yang Tuhan berikan bagi kita dan yang harus kita pertanggungjawabkan. Alkitab menyatakan bahwa nilai terbaik uang adalah saat uang itu dipakai untuk hal yang memiliki nilai lebih besar yaitu dengan menggunakannya bagi pekerjaan Tuhan yang kekal. Saat kita dianugerahkan oleh Tuhan dengan uang yang berlimpah, hal itu juga merupakan ujian dari Tuhan bagi kita. Akankah kita dapat dengan bijaksana menggunakannya bagi hal yang memiliki nilai lebih besar atau justru kita malah menggunakannya untuk merusak diri bahkan orang-orang lain di dalam lingkup yang lebih besar? Dapatkah kita memakai uang yang adalah titipan Allah untuk menggenapkan kehendak Allah yang menitipkan uang tersebut kepada kita? Dapatkah kita mengenal rencana Allah dan tentunya Allah sendiri, melalui uang yang Allah titipkan dalam hidup kita? Kiranya kita menjadi orang yang bijaksana dalam hal mengerti makna uang, mengenal tujuan dititipkannya uang itu kepada kita, dan bahkan lebih lagi, mampu bertumbuh dalam berelasi dengan Sang Pemberi Anugerah melalui relasi kita dengan anugerah-Nya, yakni uang.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Referensi:
1. Campbell R. McConnell, Stanley L. Brue, and Sean M. Fynn, Economics: Principles, Problems, and Policies (New York, McGraw-Hill, 2009).
2. John E. Stapleford, Bulls, Bears and Golden Calves: Applying Christian Ethics in Economics (Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 2015).
3. David E. Hall and Matthew D. Burton, Calvin and Commerce (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2009).
4. John Calvin, Institutes of Christian Religion (Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2006).
5. John M. Frame, The Doctrine of Christian Life (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2008).
6. John M. Frame, A History of Western Philosophy and Theology (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2016).
7. John M. Frame, Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2015).

Simon Lukmana

November 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲