Artikel

Reformed Theology and Economics (11): Sharing of God's Gift (Christmas Special Edition)

Ekonomi sering kali dijadikan wadah untuk mewujudkan impian atau ambisi manusia. Jikalau kita melakukan survei mengenai motivasi orang-orang yang terjun ke dalam bidang ekonomi, kita akan menjumpai kemiripan. Secara mayoritas mereka ingin membangun kerajaannya di dalam bentuk gedung-gedung pencakar langit atau nominal aset yang spektakuler. Hal ini sering kali menjadi motivasi dalam berekonomi karena memang itulah yang menjadi ukuran keberhasilan dari dunia ini. Kota atau negara yang dianggap maju adalah kota yang memiliki banyak gedung pencakar langit beserta dengan infrastruktur kota yang tertata rapi. Seorang yang dinilai sebagai orang berhasil adalah yang memiliki kekayaan berlimpah.

Konsep berpikir seperti ini adalah konsep berpikir yang sangat wajar dalam dunia ekonomi: Sebuah perjuangan yang dimulai dari bawah bahkan titik nol hingga akhirnya berhasil menjadi seorang kaya dan terpandang bahkan diakui dunia. From zero to hero... Bukankah kisah-kisah seperti ini begitu digandrungi? Buku-buku yang menceritakan kisah hidup seorang yang berhasil secara ekonomi adalah kisah-kisah yang populer. Dan orang-orang seperti ini begitu disegani, dihormati bahkan setiap perkataan mereka dianggap sebagai nasihat yang bijaksana. Oleh karena itu tidak mengherankan jikalau jalan hidup seperti itu sangat diidamkan.

Tetapi sadarkah kita bahwa konsep berpikir ini bertentangan dengan Alkitab? Dunia mengajarkan untuk membangun kehidupan dengan menguras segala sesuatu di sekitar kita bagi diri sendiri. Kita diajarkan untuk menjadi orang yang pintar membaca kesempatan agar dapat mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya (sikap hidup seorang oportunis). Kita dididik untuk menjadi kanibal yang memakan sesama demi kepentingan pribadi dan, mengerikannya, kita tidak pernah merasa puas dengan segala sesuatu yang kita kuras tersebut.

Celakanya pola pikir ini mengakar begitu kuat di dalam diri kita orang-orang percaya. Bahkan saat kita bertobat dan lahir baru pun, pola berpikir ini tidak serta-merta terselesaikan. Sehingga banyak sekali orang percaya yang secara mulut berkata bahwa ia percaya kepada Allah dan mau menjalankan kebenaran firman Tuhan, tetapi pada praktiknya tetap hidup menjalankan prinsip “homo homini lupus”. Disadari atau tidak disadari, inilah yang menjadi prinsip dasar dalam ekonomi saat ini, yang tidak disadari bahkan oleh banyak orang Kristen sekalipun. Dan prinsip inilah yang menghasilkan permasalahan demi permasalahan, bukan hanya dalam bidang ekonomi tetapi merambat ke dalam bidang-bidang lain seperti sosial dan lingkungan. Akar masalah dalam perekonomian saat ini adalah act of greediness.

Kebanyakan kita berpikir bahwa act of greediness adalah hal yang tak terhindarkan dari hidup kita sebagai manusia. Padahal act of greediness adalah tindakan yang bukan hanya merusak lingkungan dan aspek-aspek kehidupan manusia, tetapi juga merusak jati diri manusia sebagai image of God. Manusia yang sejati adalah manusia yang di dalam hidupnya menyatakan Allah Tritunggal. Dengan kata lain Allah Tritunggal adalah archtype dari kehidupan manusia sebagai ectype. Sehingga seluruh aspek hidup kita, termasuk ekonomi, harus menyatakan kebenaran Allah Tritunggal. Salah satu prinsip dasar yang bisa kita terapkan dalam bidang ekonomi adalah sharing of God’s gift yang memiliki konsep yang bertolak belakang dengan act of greediness. Kita bisa memahami hal ini dengan merenungkan akan makna sejati Natal, yaitu inkarnasi Kristus.

God the Trinity Sharing His Greatest Gift in the First Noel
Banyak yang tidak menyadari bahwa Natal memiliki makna yang jauh lebih agung dari sekadar perayaan pesta pora maupun ibadah Natal rutin tahunan yang terus berulang. Natal adalah turning point sejarah umat manusia, dari dosa menuju kepada hidup kekal bersama Allah, dari pemujaan terhadap diri kembali untuk memuliakan Allah karena Sang Allah Anak berinkarnasi. In the first noel, man found again his hope for reconciliation with God. In the first noel, redemption reached its climax stage. In the first noel, the course of history was turned back towards the eschaton in God’s glory. Therefore, incarnation convinces us that in the first noel, God shared His greatest gift for mankind. Signifikansi Natal seperti inilah yang sering kali tidak disadari oleh orang percaya bahkan orang Reformed sekalipun. Ini adalah salah satu karya terbesar di dalam sejarah umat manusia, yang pernah dilakukan oleh Allah Tritunggal. Hal ini dapat dijabarkan seperti demikian:

God the Father Sharing His Greatest Gift: His Only Son
He who did not spare His own Son but gave Him up for us all, how will he not also with Him graciously give us all things?” (Rom. 8:32). Paulus menyatakan kalimat ini bagi jemaat Roma yang berada di dalam konteks penganiayaan. Salah satu pertanyaan yang akan muncul di tengah penganiayaan adalah “Di manakah anugerah Tuhan di tengah penderitaan ini? Apakah Tuhan sudah tidak mau beranugerah lagi?” Ayat ini adalah salah satu bagian dari jawaban Paulus, bahwa Allah sudah memberikan anugerah terbesar bagi kita yaitu “His only begotten Son”. Kalimat ini adalah sebuah pertanyaan reflektif sekaligus ajakan untuk jemaat Roma mengingat kembali apa yang Allah sudah berikan di dalam sejarah. Jikalau Kristus sudah rela diberikan bagi kita yang berdosa, masihkah kita meragukan belas kasihan Allah? Dengan pertanyaan ini Paulus mengajak jemaat Roma untuk kembali melihat akan Allah yang setia menggenapkan janji-Nya, bahkan saat Ia harus merelakan Anak-Nya yang tunggal. Inilah pemberian terbesar Sang Allah Bapa bagi orang percaya.

God the Son Sharing His Greatest Gift: Revealing Greatness, Love, and Righteousness of God the Father
“The words I say to you are not just my own. Rather, it is the Father, living in me, who is doing his work” (John 14:10). Sang Allah Anak hadir di dalam dunia sebagai puncak penggenapan karya penebusan Allah. Melalui Kristus, pewahyuan Allah mencapai puncaknya karena Kristus adalah Mediator Allah yang sempurna. Ini adalah pemberian yang terbesar dari Sang Allah Anak. Ia merelakan hidup-Nya dipakai menyatakan pribadi Sang Allah Bapa. Melalui mujizat dan khotbah-Nya, kita bisa mengenal kebesaran dan kemahakuasaan Sang Allah Bapa. Melalui darah-Nya yang tercurah untuk menghapuskan dosa-dosa kita, kasih Allah Bapa bagi umat-Nya dapat dengan jelas kita saksikan. Melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, kita menyadari bahkan keadilan dan kebenaran Allah tidak bisa dikompromikan. Tentu saja pengenalan mengenai Sang Allah Bapa yang Kristus berikan bukan sekadar informasi saja, tetapi firman Tuhan yang berkuasa mengubahkan seluruh hidup kita secara progresif.

God the Holy Spirit Sharing His Greatest Gift: Make Mankind Rejoice because Son of God Incarnated
“When the Spirit of truth comes, he will guide you into all the truth, for he will not speak on his own authority, but whatever he hears he will speak, and he will declare to you the things that are to come. He will glorify me, for he will take what is mine and declare it to you.” (John 16:13-14). Karya penebusan Allah tidak akan sempurna jikalau tidak diterapkan dan akan menjadi karya yang tidak relevan. Selain menurunkan Firman dari sorga, inilah tugas Roh Kudus, mengaplikasikan atau menerapkan karya keselamatan ke dalam setiap pribadi umat pilihan. Sehingga setiap kita yang percaya dapat merasakan sukacita dan akan bersyukur atas seluruh karya yang Kristus sudah kerjakan. Kita dapat bersukacita saat kita menyadari bahwa Sang Allah Anak berinkarnasi pada Natal yang pertama. Inilah pemberian yang terbesar dari Sang Allah Roh Kudus, yaitu membawa kita untuk mengenal Kristus dan bersukacita atas setiap karya yang Ia sudah kerjakan bagi kita umat-Nya.

Dari ketiga karya yang dikerjakan oleh setiap pribadi dalam Allah Tritunggal, kita dapat belajar mengenai kehidupan yang membagi-bagikan berkat. Jikalau Allah Tritunggal sudah sharing His greatest gift, maka sebagai image of God kita harus meneladani hal tersebut, yaitu sharing of God’s gift.

Sharing of God’s Gift as the Basic Principle of Biblical Economics
Setiap manusia diciptakan dengan berbagai berkat yang Tuhan berikan. Berkat yang dimaksudkan di sini bukan sekadar kemampuan tetapi juga kesempatan, bahkan seluruh pemberian Allah yang kita peroleh di dalam hidup ini. Berkat-berkat ini diberikan bukan untuk kita nikmati secara egois tetapi harus kita bagikan kepada sesama kita (sharing of God’s gift). Prinsip yang sama juga berlaku di dalam bidang ekonomi. Kita menjalankan praktik ekonomi bukan untuk mengeruk seluruh berkat Allah hanya bagi diri kita sendiri tetapi untuk kita bagikan kepada manusia lainnya. Inilah kehidupan manusia yang sejati atau kehidupan yang manusiawi yaitu kehidupan yang saling berbagi.

Tetapi konsep sharing of God’s gift ini sangat berbeda dengan konsep memberi yang dunia ini juga lakukan secara umum. Terdapat perbedaan yang fundamental antara yang Alkitab ajarkan dan yang dunia ini jalankan. Sebagai kerangka di dalam menjalankan prinsip Alkitab dari sharing of God’s gift, kita dapat menggunakan kerangka yang dibangun berdasarkan pekerjaan Allah Tritunggal dalam sharing of His greatest gift, sudah dijabarkan di atas. Berikut penjelasan mengenai kerangkanya:

Normative Perspective: Realization of God’s will
Saat berbagi, kita harus menyadari bahwa pemberian ini adalah untuk menjalankan kehendak Allah. Sebagaimana perumpamaan talenta yang mengajarkan kita untuk menggunakan dan mengembangkan pemberian Allah, kita pun harus menjalankan hal tersebut. Dan orang-orang yang menjalankan hal ini disebut oleh Allah sebagai hamba yang setia. Karena tidak ada hal yang lebih buruk selain menahan atau menguburkan anugerah Tuhan dan tidak menggunakannya demi kebaikan. Manfaat terbesar dari anugerah Tuhan adalah saat kita menggunakannya dan membagikannya untuk memperlebar Kerajaan Allah. Sharing of God’s gift adalah wujud nyata dari pengakuan kita, bahwa keberadaan manusia bukanlah untuk mengejar ambisi atau nafsu pribadi tetapi untuk menjalankan kehendak Allah.

Situational Perspective: Reflection of God’s Attribute
Sebagai gambar Allah, manusia diciptakan sebagai pribadi yang hidup di dalam konteks sosial. Pernyataan manusia sebagai gambar Allah semakin nyata saat manusia hidup di dalam relasi saling berbagi dengan lainnya. Keagungan sifat-sifat Allah dinyatakan saat kita sebagai manusia kita berbagi karena menyadari nilai manusia sebagai gambar Allah. Salah satu pembelajaran sejarah yang patut kita renungkan adalah hal-hal yang memicu bangkitnya filsuf-filsuf modern seperti Karl Marx ataupun Ludwig Feuerbach. Mereka memberikan kritikan tajam kepada agama karena mereka melihat ketidakadilan yang dijalankan oleh orang-orang Kristen pada saat itu. Kehidupan mereka yang berlimpah dengan harta tetapi membiarkan bahkan memeras manusia lainnya yang hidup dalam kesulitan secara ekonomi. Oleh karena itu sharing of God’s gift adalah perwujudan dari penghargaan kita atas manusia sebagai gambar Allah yang harus menyatakan keagungan Allah baik dalam konteks individu maupun komunal.

Existential Perspective: Representation of God’s Presence
Sharing of God’s gift juga menyatakan bahwa keberadaan kita hanyalah untuk menyatakan otoritas Allah atas dunia ini. Sebagai umat Allah, kita dipanggil untuk berbagian dalam membangun Kerajaan Allah. Tetapi tujuan utama dari Kerajaan Allah adalah untuk menyatakan keberadaan Allah yang berotoritas atas ciptaan ini, bukan untuk membangun supremasi diri. Melalui sharing of God’s gift, kita mengnyinergikan anugerah Tuhan yang beragam diberikan kepada setiap orang. Dan sinergi ini memungkinkan manusia untuk mengerjakan suatu pekerjaan yang besar. Kalau kita berkaca kembali melalui peristiwa manusia yang membangun Menara Babel, kita melihat kemampuan manusia yang begitu besar saat manusia dapat saling berbagi dan bekerja sama. Tetapi dalam konteks Menara Babel, manusia bekerja sama membangun hal yang berdosa. Maka dalam konteks saat ini, kita dipanggil untuk bersama-sama membangun Kerajaan Allah untuk menyatakan kehadiran Allah atas dunia ini, yang tentu saja harus dibangun dalam kebenaran. Sharing of God’s gift adalah perwujudan kesatuan umat manusia yang dipanggil untuk melakukan pekerjaan Allah sebagai pernyataan kehadiran dan juga otoritas Allah atas dunia ciptaan ini.

Conclusion
Ketiga perspektif di dalam sharing of God’s gift ini seharusnya menyadarkan kita untuk mau bertobat dari praktik berekonomi kita saat ini. Kita sering berpikir bahwa ekonomi yang Alkitabiah adalah mengerjakan segala sesuatu yang menghasilkan uang, dan pada akhirnya uang itu dipersembahkan untuk pekerjaan Tuhan. Pola pikir ini adalah pola pikir yang menjalankan mandat budaya hanya dengan menambahkan embel-embel “dalam nama Yesus”, setelah itu kita berkata bahwa kita sudah menjalankan mandat budaya. Pola berpikir seperti ini memiliki kebahayaan besar, karena sangat memungkinkan perbuatan berdosa “dikuduskan” di dalam nama Yesus dan akhirnya dikatakan sebagai perbuatan yang benar.

Segitiga dalam sharing of God’s gift ini mengajak kita untuk membangun konsep ekonomi dengan membereskannya dari hal yang paling mendasar. Membangun ekonomi bukan atas dasar ambisi untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, tetapi untuk menggarap setiap pemberian Allah di dalam ciptaan-Nya, membagikannya untuk menjadi berkat bagi orang lain, demi membangun dan memperluas Kerajaan Allah di dunia ini. Selama kerakusan masih menjadi dasar dalam berekonomi, lupakan pencapaian akan kesejahteraan yang adil bagi umat manusia. Hanya dengan membangun ekonomi di atas konsep sharing of God’s gift inilah kita dapat menciptakan umat manusia yang sejahtera dan adil.

Marilah kita merayakan Natal dengan membongkar seluruh konsep dasar kita dalam berekonomi. Jikalau Allah Tritunggal sudah memberikan hadiah-Nya yang teragung bagi umat manusia, masih enggankah kita untuk belajar membagikan diri kita kepada orang lain? Jikalau Kristus sudah berinkarnasi dan merendahkan diri-Nya sedemikian rupa bagi kita manusia berdosa, masihkah kita bernafsu untuk membangun keangkuhan hidup melalui harta yang bisa hilang setiap saat? Biarlah Natal ini menyadarkan kita untuk mulai membangun aspek ekonomi kehidupan kita berdasarkan teladan yang Allah Tritunggal sudah nyatakan di dalam Alkitab. Selamat Hari Natal!

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Referensi:
1. Campbell R. McConnell, Stanley L. Brue, and Sean M. Fynn, Economics: Principles, Problems, and Policies (New York, McGraw-Hill, 2009).
2. John E. Stapleford, Bulls, Bears and Golden Calves: Applying Christian Ethics in Economics (Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 2015).
3. David E. Hall and Matthew D. Burton, Calvin and Commerce (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2009).
4. John Calvin, Institutes of Christian Religion (Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2006).
5. John M. Frame, The Doctrine of Christian Life (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2008).
6. John M. Frame, A History of Western Philosophy and Theology (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2016).
7. John M. Frame, Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2015).

Simon Lukmana

Desember 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲