Artikel

Reformed Theology and Economics (3): Creational View - Reformed Epistemology

Hidup sebagai seorang Kristen pada zaman ini mudah sekali untuk jatuh atau terjebak di dalam cara pandang yang sempit, yaitu memandang kekristenan hanya sebagai aktivitas religius dan kehidupan etika umum. Saat disodorkan ayat 1 Korintus 10:31, kebanyakan kita akan gagal dalam melihat bagian ini sebagai panggilan untuk memuliakan Allah dalam setiap aspek kehidupan. Kita cenderung mengidentikkan bagian ini dengan moralitas umum saja tetapi gagal untuk melihat aspek lain, seperti dunia pemikiran juga perlu dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan. Bukan hanya kehidupan yang Alkitabiah, tetapi juga terdapat ilmu pengetahuan yang Alkitabiah, dan itulah salah satu tugas dan panggilan kita sebagai orang Reformed dalam melakukan mandat budaya.

Hal ini berlaku juga dalam bidang ekonomi. Untuk menjalankan mandat budaya dalam ilmu ekonomi, kita tidak bisa asal terima ilmu yang sudah ada, langsung memakainya dengan ditempelkan embel-embel untuk kemuliaan Tuhan, lalu kita berkata bahwa kita sudah menjalankan mandat budaya. Kita harus membangun secara holistik mulai dari etika dan metafisika, seperti yang sudah kita bahas dalam dua artikel sebelumnya, hingga epistemology (theory of knowledge) yang akan kita bahas pada artikel ini.

Presupposition in Building Reformed Epistemology

Membangun Reformed Epistemology berarti menegakkan kembali supremasi Alkitab sebagai dasar atau fondasi dari ilmu pengetahuan, karena Alkitab adalah sumber segala pengetahuan dan kebijaksanaan Allah (Kol. 2:3, 1Kor. 1-3). Berkaitan dengan hal ini Cornelius Van Til menggunakan istilah Receptively Reconstructive, atau dengan kalimat lain adalah thinking after God’s own Thought. Ada juga yang mengatakan bahwa pengetahuan Allah adalah pengetahuan archetypal dan pengetahuan kita adalah ectypal. Terdapat perbedaan antara pencipta dan ciptaan dalam konteks pengetahuan. John Frame menjabarkan perbedaannya seperti demikian:

  • God’s knowledge is original, ours derivative from His.
  • God’s knowledge is exhaustive, ours is limited.
  • God’s knowledge serves as the ultimate criterion of truth and right; our knowledge must observe those standards.
  • God never needs information or illumination from outside himself. We cannot know anything without the help of God and our experience of the world outside ourselves.
  • God knows what he knows without process, simply by being what he is. His knowledge has sometimes has been described as an eternal intuition. But our knowledge often requires hard efforts to accumulate facts and to figure out logical deductions.
  • God’s knowledge of the facts of creation precedes the existence of the facts. But the facts precede our knowledge of them.
  • God’s interpretation of the facts precedes the existence of the facts; our interpretation is a reinterpretation of God’s prior interpretation. So the facts of our experience are not “brute” or uninterpreted facts, as if human interpretation were the first. Rather, the facts are already interpreted before we come to know them. And God’s interpretation is the normative interpretation that should govern ours.

Ilmu pengetahuan yang sejati adalah ilmu yang kembali kepada wahyu Allah. Sebagai garam dan terang dunia, kita harus membawa kebenaran ini ke dalam setiap bidang pengetahuan. Menegakkan firman Tuhan sebagai induk dari seluruh pengetahuan, membangun ilmu pengetahuan yang sejati, yang memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi umat manusia.

Berdasarkan pengertian ini, maka justifikasi kebenaran suatu pengetahuan bukan terletak pada otoritas manusia, bukan juga pada relevansi pengetahuan itu bagi suatu konteks zaman atau juga kesesuaiannya dengan teori atau hukum yang berlaku, tetapi kepada firman Tuhan. Hal ini bukan berarti Reformed epistemology membawa pengetahuan menjadi ilmu alien yang tidak bisa dipahami dan tidak relevan, tetapi Reformed epistemology membawa pengetahuan menjadi ilmu yang dapat menjawab kebutuhan yang sebenarnya dari umat manusia serta tantangan yang ada di dalam zaman itu berdasarkan interpretasi kebenaran firman Tuhan. Hal ini juga bukan berarti kita membuang semua tools yang tersedia, seperti logika, statistika, sejarah perkembangan ilmu, dan sebagainya, tetapi kita menggunakan semua ini di dalam metodologi, tujuan, dan motivasi yang benar.

Epistemology on Economics
Ekonomi adalah bidang yang cukup bergantung kepada metode empiris dalam pembentukan teorinya. Dimulai dengan mempelajari gejala sekitar lalu mengambil kesimpulan, setelah melalui proses pengujian barulah kesimpulan itu menjadi teori. Proses ini menunjukkan bahwa pengujian validitas atau justifikasi ilmu ekonomi berada pada relevansinya menjawab kebutuhan suatu konteks zaman. Pendekatan ilmu ekonomi seperti ini adalah pendekatan yang berkembang pada konteks zaman modern hingga saat ini, khususnya bermula dari pemikiran Adam Smith. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan scientific atau dalam ekonomi hal ini disebut sebagai positive approach of economy.

Teori-teori ekonomi yang kita pelajari di dalam dunia akademis adalah positive economy. Teori supply-demand, kebijakan fiskal dan moneter, makroekonomi maupun mikroekonomi, semua itu adalah teori-teori yang kita peroleh melalui pendekatan positive economy. Positive economy berkaitan dengan deskripsi (what is) mengenai ekonomi sehingga statistika, empiris, dan metodologi penelitian adalah tools yang digunakan untuk membangun teori ekonomi. Pendekatan ini sangat membantu para pelaku ekonomi untuk membuat keputusan, karena ekonomi digambarkan sebagai sebuah sistem yang pergerakannya bisa diperkirakan dengan memerhatikan trend yang terjadi dalam indikator-indikator ekonomi. Walaupun bisa diperkirakan, tetap saja ada faktor eksternal yang memungkinkan terjadinya suatu kejutan atau fenomena yang tidak pernah terjadi di dalam sistem tersebut, sehingga sifatnya bukanlah suatu kepastian tetapi sebuah kemungkinan.

Pendekatan yang lain dalam ekonomi adalah normative approach. Dalam pendekatan ini kita belajar mengenai bagaimana seharusnya ekonomi itu dijalankan (how should) dengan memerhatikan aspek etika, moralitas, serta keunikan setiap manusia. Ini adalah pendekatan yang melihat ekonomi sebagai ilmu humaniora atau seni yang begitu fleksibel bergantung dengan konteks yang dihadapi. Pendekatan ini adalah pendekatan yang juga valid dalam perkembangan ilmu ekonomi karena objek dari ekonomi adalah manusia yang dinamis dan memiliki keunikan dari setiap pribadinya, sehingga perdekatan yang lebih personal dan luwes dapat relevan.

Analysis on Economy Epistemology
Kedua pendekatan ini sering kali dipisahkan saat kita mempelajari ekonomi. Misalnya saja, saat mempelajari keuangan kita akan dipaparkan mengenai mekanisme dalam mengelola dan mengembangkan keuangan dalam organisasi maupun pribadi dengan segala mekanisme yang tersedia seperti saham, forex, bahkan dalam money games yang masih diperdebatkan dalam aspek etikanya. Sedangkan saat kita mempelajari etika bisnis, kita dibawa untuk melihat sisi moralitas tanpa meninjau ulang mekanisme bisnis dan ekonomi atau sisi scientific. Dengan kata lain, apa yang terjadi dalam dunia ekonomi saat ini adalah dualisme antara etika dan epistemology.

Membangun positive economy yang terlepas dari normative economy tidaklah mungkin dilakukan. Sebagaimana science yang terlepas dari sistem nilai adalah sebuah mitos atau kemustahilan dalam realitas. Berikut beberapa poin yang menunjukkan ketidakmungkinan pemisahan antara positive dan normative economy:

  • Sebuah riset ekonomi tidak dapat mengatur data yang ia dapatkan. Dalam riset, data yang diambil begitu beragam. Data ini bisa berasal dari berbagai latar belakang budaya, waktu yang berbeda, kondisi makroekonomi yang berbeda. Bahkan struktur pertanyaan, metode, dan media yang digunakan akan memengaruhi seluruh hasil riset tersebut. Semua hal ini menunjukkan bahwa sebuah riset yang scientific sangat bergantung kepada konteks atau latar belakang budaya dan etika yang sedang belaku.
  • Riset itu sendiri pun dijalankan dengan setumpuk aturan dan etika yang harus dipatuhi. Dalam dunia riset kita mungkin pernah mendengar slogan “riset boleh salah tetapi tidak boleh berbohong”, kejujuran seorang peneliti akan menentukan validitas dan relevansi riset tersebut. Karena itu pembentukan ilmu ekonomi sangat erat dengan konteks etika.
  • Positive economy yang tidak dibatasi dengan normative economy dapat menjadi salah satu bentuk usaha manusia di dalam membangun supremasi diri sebagai allah yang dapat memprediksi apa yang akan datang atau bahkan mengendalikan apa yang akan terjadi. Walaupun usaha ini hanya akan membuahkan kesia-siaan tetapi usaha menjaring angin ini harus dibatasi dan diperingatkan dengan adanya aturan atau hukum. Sehingga dengan adanya normative economy dapat menjadi pembatas atau pagar yang membatasi sekaligus pembimbing dari berkembangnya positive economy.
  • Begitu juga sebaliknya, normative economy yang berkembang tanpa disertai dengan positive economy hanya menjadikan ilmu ekonomi sebagai ilmu yang terbatas bagi kepentingan diri atau kelompok kecil orang tetapi sulit untuk menjadi ilmu yang berguna untuk khalayak. Atau dengan kata lain hanya menjadikan ilmu ini sebagai ilmu yang egois tanpa memikirkan effect maupun side-effect dari keputusan ekonomi diri atau sekelompok tertentu saja.

Selain poin-poin ini, secara sejarah perkembangannya juga, ekonomi tidak terpisah dari etika dan moral. Ilmu ekonomi itu sendiri bermula dari filsafat moral. Sejak zaman Aristotle hingga Thomas Aquinas, ekonomi masih merupakan bagian dari filsafat moral. Baru pada zaman Adam Smith, ilmu ini berkembang menjadi ilmu yang lebih scientific.

Reformed Epistemology and Economy
Menerapkan Reformed epistemology ke dalam ilmu ekonomi berarti kita ingin mengembalikan pengujian atau justifikasi dari ilmu ekonomi kepada kebenaran. Hal ini tidak hanya bisa dilakukan dengan menyatukan positive dan normative economy menjadi sebuah ilmu ekonomi yang utuh tetapi kita harus membangun kerangka yang lebih komprehensif dan sesuai dengan apa yang Alkitab katakan. Dalam artikel ini penulis akan memakai triperspectivialism dari John Frame sebagai kerangka utamanya.

Normative perspective: Obedience to God’s norm holistically
Kita sudah membahas, dalam artikel sebelumnya dalam Reformed metaphysics, mengenai beberapa prinsip dasar dari iman kekristenan dan implikasinya bagi ilmu ekonomi. Prinsip-prinsip dapat menjadi guideline di dalam menguji validitas ilmu ekonomi. Salah satu prinsip yang harus dipegang adalah creator-creature distinction. Berdasarkan prinsip ini, maka kita harus menyadari bahwa positive economy memiliki keterbatasan. Usaha manusia untuk memiliki pengetahuan melampaui batasan sebagai ciptaan, adalah sebuah usaha yang berdosa. Hal ini bukan berarti perencanaan atau antisipasi terhadap apa yang akan terjadi di masa yang akan datang tidak perlu dilakukan. Perencanaan dan persiapan adalah hal yang perlu dan baik, tetapi sebagai orang percaya, kita harus beriman kepada Allah yang memelihara seluruh ciptaan. Oleh karena itu, positive economy adalah tools yang relevansinya terbatas di dalam konteks cara kerja Allah yang bersifat regularities.

Secara naturnya, ekonomi lebih dekat dengan konteks ilmu humaniora dan seni, karena ilmu ini sangat berkaitan dengan manusia. Sebagaimana ilmu sosial maupun politik yang tetap memiliki prinsip umum tetapi fleksibel dalam penerapannya, begitu juga dengan ilmu ekonomi.

Pemberdayaan sisi positive maupun normative tetap akan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu ekonomi. Sebagai contoh: dalam teori hukum permintaan, inovasi dalam teknologi akan mengubah sisi permintaan dalam pasar, sehingga konteks ekonomi yang selama ini ada akan mengalami perubahan.

Kesimpulan ini didapatkan melalui pendekatan positive economy. Dengan kesimpulan ini, sebagai pelaku ekonomi kita bisa mengantisipasi perubahan yang mungkin terjadi bila terjadi inovasi. Perubahan ini cepat atau lambat akan mendorong dan membongkar kenyamanan di dalam konteks ekonomi yang lama menuju konteks yang baru dengan segala konsekuensi yang mungkin terjadi. Tetapi untuk mengetahui apakah dampak ini memberikan efek positif atau negatif, kita perlu meninjaunya dari sisi normative economy. Seberapa jauh benefit yang diberikan melalui perubahan ini? Seberapa besar cost baik dari sisi sosial, budaya, maupun lingkungan yang harus dibayar demi terjadinya perubahan ini? Semua ini dapat dijawab dengan melihatnya dari sisi normative economy. Sehingga keutuhan ilmu ekonomi hanya dapat terjadi dengan menggabungkan sisi normative maupun positive dari ekonomi.

Situational perspective: Relevancy for all ages
Pergerakan waktu dan sejarah yang terbentuk di dalamnya berada di dalam kedaulatan Tuhan. Baik sejarah keselamatan yang adalah karya agung Allah, maupun sejarah keberdosaan yang Tuhan reka-rekakan bagi kebaikan orang percaya, semua itu adalah bagian dari kedaulatan Allah. Maka kita dipanggil untuk menjawab setiap tantangan zaman bukan hanya dalam konteks theologi tetapi juga dalam ilmu ekonomi. Kegagalan kita untuk menjawab tantangan aspek ekonomi dalam suatu zaman, berarti juga kegagalan kita untuk menjalankan panggilan sebagai orang percaya secara komprehensif. Karena itu, sejauh mana ilmu ekonomi itu relevan menjawab tantangan perubahan zaman baik itu budaya, teknologi, sosial, politik, dan aspek lainnya, akan menjadi salah satu penguji validitas ilmu ekonomi tersebut.

Sebagai contoh: ketegangan antara bisnis yang berbasis aplikasi dan bisnis tradisional sebagai dampak dari perkembangan teknologi. Pertikaian antara kelompok pelaku ekonomi modern dan ekonomi yang lebih tradisional menunjukkan keterbatasan atau mulai kedaluwarsanya ilmu ekonomi yang berlaku. Ekonomi yang mengajarkan bahwa keunggulan itu ditunjukkan dengan kepemilikan sumber daya menjadi teori yang usang dengan berkembangnya ekonomi yang mengajarkan bahwa dengan berbagi sumber daya justru optimisasi penggunaan sumber daya dapat tercapai bahkan dengan tingkat efisiensi yang lebih baik. Fenomena ini mendorong baik pemerintah maupun pelaku bisnis untuk melakukan penyesuaian baik dalam kebijakan maupun praktik bisnis mereka untuk mengakomodasi perkembangan tersebut.

Existential perspective: Answering needs in every uniqueness or speciality
Ilmu ekonomi berada untuk menjawab kebutuhan umat manusia di dalam segala keunikannya. Ekonomi yang Alkitabiah tidak membenarkan keberpihakan hanya kepada kesejahteraan pribadi atau golongan tertentu. Baik mayoritas maupun minoritas bahkan yang memiliki kebutuhan khusus pun adalah kelompok yang harus dilayani dalam ilmu ekonomi. Terutama di dalam konteks postmodern, di mana kelompok-kelompok marginal menjadi topik yang hangat untuk diangkat. Keunikan atau kekhususan yang dimaksud di sini adalah keunikan yang sudah ada secara natural sebagai anugerah dari Tuhan dan kebutuhan khusus yang muncul sebagai efek dari kejatuhan seperti cacat sejak lahir karena suatu penyakit atau kelemahan tubuh, bukan karena nafsu keberdosaan dalam konteks moralitas.

Contoh yang bisa diangkat adalah produk-produk yang memiliki segmentasi pasar yang kecil seperti alat-alat support untuk anak-anak yang terkena Down syndrome. Produk-produk seperti ini bukanlah produk yang dapat memberikan profit besar, bahkan di dalam beberapa kasus bukan profitable business. Tetapi hal ini tetap dijalankan karena ilmu ekonomi harus menjawab kebutuhan tersebut.
Conclusion
Dalam tiga artikel mengenai Reformed theology and economics, sudah dipaparkan bagaimana Theologi Reformed membawa kita untuk melihat ilmu ekonomi di dalam kerangka yang utuh. Baik dari sisi etika, metafisika, maupun epistemologi. Pembahasan yang diberikan masih merupakan introduksi untuk memicu pemikiran lebih lanjut mengenai integrasi iman dan ilmu khususnya dalam bidang ekonomi. Dalam artikel selanjutnya kita akan melihat bagaimana efek kejatuhan dan juga karya penebusan memberikan perspektif yang lebih jelas lagi mengenai realitas yang terjadi dan apa yang menjadi tugas kita sebagai umat tebusan Allah di dalam menjadi garam dan terang melalui bidang ekonomi. Biarlah kita semakin menyadari bahwa supremasi Kristus perlu ditegakkan dalam setiap ilmu pengetahuan.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Referensi:
1. John E. Stapleford, Bulls, Bears & Golden Calves: Applying Christian Ethics in Economics (Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 2015)
2. David E. Hall & Matthew D. Burton, Calvin and Commerce (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2009)
3. John M. Frame, The Doctrine of Christian Life (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2008)
4. John M. Frame, A History of Western Philosophy and Theology (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2016)
5. John M. Frame, Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2015)

Simon Lukmana

April 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲