Artikel

Reformed Theology and Economics (4): The Effect of the Fall in Ethic

Banyak peristiwa yang terjadi di dalam sejarah, tetapi untuk peristiwa yang memiliki dampak luas serta efek yang semakin besar, meluas hingga kepada setiap orang dan berkelanjutan hingga saat ini tidaklah banyak. Peristiwa seperti Perang Dunia adalah peristiwa yang besar terjadi di dalam sejarah, tetapi dampaknya mungkin sudah tidak lagi dirasakan oleh generasi-generasi baru di zaman ini. Mungkin yang termasuk dalam kategori ini adalah Revolusi Industri. Dampak yang diberikan oleh peristiwa ini memberikan kemajuan teknologi yang semakin besar (dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi saat ini), meluas (setiap orang mendapatkan manfaat, sekaligus efek negatifnya), dan berkelanjutan (perkembangannya masih terus bergulir).

Tetapi ada sebuah peristiwa di dalam sejarah yang torehannya terus berdampak hingga saat ini. Dampak yang semakin meluas, membesar, berkelanjutan, bahkan sadar ataupun tidak sadar, dampaknya ini sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Inilah peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa. Semua manusia yang pernah hidup di dunia ini merasakan dampak kejatuhan ini. Tidak peduli suku bangsa, agama, kekayaan, ataupun kedudukan, semua manusia adalah manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Bahkan setiap aspek dalam kehidupan manusia sudah tercemari oleh dosa, termasuk aspek ekonomi. Rusaknya aspek ekonomi dalam diri manusia berarti di dalam mengambil keputusan-keputusan dalam hidupnya, akan terdistorsi pertimbangannya sehingga hati manusia cenderung untuk berbuat dosa.

Keberdosaan pada esensinya adalah permasalahan etika. Inilah yang diserukan oleh Cornelius Van Til yang mengatakan agar kita tidak mereduksi permasalahan dosa dari urusan etika kepada hal metafisika. Maksud dari perkataan Van Til ini adalah keberdosaan terjadi bukan karena manusia adalah ciptaan yang memiliki cacat bawaan sehingga mau tidak mau mereka harus berdosa. Tetapi keberdosaan adalah tindakan yang sepenuhnya merupakan keputusan dari manusia di dalam segala kesadaran dan kebebasan mereka. Sehingga permasalahan dosa adalah permasalahan etika manusia yang memiliki intensi ingin menjadi sama dengan Allah atau dengan kata lain tidak mau tunduk di bawah otoritas Allah dan ingin menjadikan diri sebagai Allah. Bermula dari etika, keberdosaan ini dilakukan oleh manusia, tetapi dampak dari pemberontakan ini merambah juga ke bidang metafisika dan epistemologi.

Pada tiga artikel sebelumnya kita sudah mempelajari secara singkat mengenai penerapan cara pandang Kristen, khususnya Theologi Reformed, di dalam bidang ekonomi yang dilihat dari tiga sudut pandang, yaitu: etika (value theory), metafisika (theory of being), dan epistemologi (theory of knowledge). Maka pada dua artikel yang akan datang, kita akan membahas mengenai efek kejatuhan manusia ke dalam dosa terhadap bidang ekonomi, dilihat dari ketiga sudut padang yang telah disebutkan di atas.

The Fall of Ethics in Economy
Di dalam penciptaan, manusia diberikan oleh Tuhan prinsip-prinsip kehidupan yang merupakan bagian penting bagi tugas manusia dari sisi ekonomi. Beberapa di antara prinsip-prinsip ini adalah: fairness and righteousness, benevolence, diligence, dan work with enjoyment. John Calvin mengatakan, “If we were all like angels, blameless, and freely able to exercise perfect self-control, we would not need rules or regulations.” Tetapi karena keberdosaan, kita diberikan banyak hukum dan peraturan dikarenakan kecenderungan hati manusia yang jahat sehingga, selain penebusan, diperlukan batasan untuk menahan keberdosaan. Berikut beberapa hal yang terjadi para diri manusia setelah kejatuhan:

From Fairness to Greediness
Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 2008, yang dikenal sebagai sub-prime mortgage crisis, adalah krisis ekonomi yang salah satu penyebabnya adalah keserakahan. Secara sederhana apa yang terjadi pada krisis ini adalah demi keuntungan yang lebih banyak, maka seleksi untuk kredit cicilan rumah dipermudah tanpa melihat kemampuan sang pemohon kredit dalam membayar cicilan serta tidak memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi karena dibutakan oleh keuntungan yang menarik. Saat manusia tidak lagi mengerti apa arti kata cukup, di saat itulah manusia menjadi serakah.

Pola berpikir seperti ini muncul sejak kejatuhan pertama kali, manusia tetap menginginkan buah pengetahuan yang baik dan jahat walaupun sudah diberikan seluruh buah di Taman Eden. Tuhan dengan adil memberikan Taman Eden dengan segala keindahan dan kelimpahannya. Tetapi hal itu dinilai tidak cukup, sehingga saat digoda oleh si Iblis, manusia langsung merespons positif. Mereka ingin menjadi seperti Allah. Mereka lupa bahwa mereka adalah ciptaan dan tidak mungkin untuk seorang ciptaan menjadi Pencipta, namun tetap mereka inginkan. Inilah keserakahan, tidak menyadari siapa dirinya dan ingin menggapai hal yang sudah di luar batas.

Keserakahan inilah yang merasuk ke dalam hati banyak orang pada saat ini. Keinginan untuk berhasil dalam hal materi, menikmati segala macam kesenangan yang bisa diperoleh dengan kekayaan, itulah yang didambakan banyak orang pada saat ini. Ironisnya pemikiran seperti ini juga meracuni banyak orang Kristen. Di dalam kondisi seperti ini, pertanyaan “How much is enough?” adalah sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, yang sangat mewakili polemik permasalahan keserakahan manusia.

From Diligence to Laziness
Kemalasan adalah permasalahan yang timbul sebagai akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Salah satu contoh nyata yang bisa kita pelajari adalah bangkrutnya negara Yunani. Bangkrutnya sebuah negara adalah hal yang sulit diterima oleh akal sehat. Bagaimana mungkin sebuah negara bisa bangkrut, apalagi hal ini terjadi bukan di dalam konteks peperangan? Tetapi inilah realitas yang terjadi. Secara sederhana, krisis yang terjadi di Eropa adalah karena utang negara Yunani yang begitu tinggi. Utang ini diperlukan untuk menutupi anggaran negaranya yang begitu tinggi tetapi tidak disertai pemasukan bagi negara yang tinggi juga. Hal ini dikarenakan masyarakat Yunani yang tidak lagi produktif bekerja sehingga hanya menambah pengeluaran bagi negara tetapi tidak menambah pemasukan. Bila kita mencari lagi apa yang menjadi akar permasalahan, maka kemalasanlah yang menyebabkan hal ini. Penduduk negara Yunani terbuai oleh tunjangan besar yang diberikan oleh negara, memiliki masalah dalam etos kerjanya yang begitu rendah. Kemalasan para penduduknya menyebabkan krisis yang merambat bukan hanya satu negara tetapi satu benua (salah satu masalah krisis Eropa adalah kebangkrutan negara Yunani).

Kemalasan adalah masalah karena dengan demikian manusia sedang melawan kodratnya. Sebagaimana yang telah kita pelajari, manusia diciptakan untuk bekerja, atau dengan kata lain pekerjaan adalah salah satu bagian yang menjadikan manusia sebagai manusia. Oleh karena itu, di saat manusia memilih untuk menjadi malas, maka satu per satu masalah akan muncul. Banyak masalah yang timbul dalam bidang ekonomi adalah karena kemalasan manusia. Mulai dari rendahnya produktivitas hingga ketimpangan sosial yang terjadi karena tidak meratanya pertumbuhan ekonomi. Di satu sisi memang banyak orang kaya yang hidup di dalam keserakahan, tetapi ada fakta lain yang harus kita akui bahwa sebagian dari orang-orang kaya ini adalah orang-orang yang memperolehnya melalui kerja keras. Di saat orang lain sedang bermalas-malasan, mereka sedang membanting tulang berusaha untuk meningkatkan taraf hidupnya. Lalu orang yang bermalas-malasan ini menyalahkan orang-orang kaya ini untuk nasib mereka yang tidak kunjung membaik. Inilah fakta kemalasan manusia yang beberapa di antaranya berujung pada meningkatnya kriminalitas.

Salah satu isu dalam dunia ekonomi saat ini yang merupakan wujud dari kemalasan manusia adalah slogan “financial freedom”. Di satu sisi hal ini terlihat baik karena sering kali kita diiming-imingi dengan kekuatan finansial yang meningkat, kita bisa berbuat banyak kebaikan seperti meringankan pekerjaan orang tua, membantu orang yang berkekurangan, bahkan menggunakan uang tersebut untuk pekerjaan Tuhan. Tetapi sadarkah kita bahwa konsep “financial freedom” ini adalah wujud lain dari kemalasan yang justru merusak perekonomian?

Kita semua pasti pernah mendengar mengenai “money games”. Salah satu yang menjadi tawaran mereka adalah financial freedom. Tetapi sadarkah kita bahwa ini adalah penipuan yang dikemas dengan cara yang menarik dan kelihatan baik? Mereka menawarkan sebuah investasi dengan tingkat pengembalian (return) yang sangat tinggi. Pada awalnya bunga masih diterima dengan baik karena mereka masih menggunakan cara “menutupi lubang dengan menggali lubang” atau membayar bunga dengan uang dari orang lain yang melakukan investasi. Tetapi hingga jangka waktu tertentu mereka pasti tidak sanggup membayar lagi karena bunga yang begitu tinggi, sehingga akhirnya pencetus dari money games ini akan membawa lari uang hasil dari investasi banyak orang. Hal ini sudah terjadi bahkan dibawa hingga ke ranah hukum. Tetapi konyolnya, masih banyak orang yang mau mengikuti penipuan ini. Mengapa? Karena mereka semua menginginkan “easy money”, memperoleh uang dengan cara yang mudah atau kalau perlu dengan bersantai-santai sudah bisa mendapatkan uang. Inilah bentuk kemalasan yang begitu meracuni manusia pada saat ini.

From Benevolence into Selfishness
Manusia diciptakan bukan sebagai individu tetapi sebagai sebuah komunitas, oleh karena itu sudah menjadi naturnya untuk seorang manusia hidup bukan hanya bagi diri tetapi juga bagi orang lain. Tetapi ironisnya, zaman di mana kita hidup sekarang adalah zaman yang menjadikan manusia semakin terisolasi dari sesamanya, menjadi manusia yang begitu egois. Keegoisan ini adalah salah satu penyebab adanya ketimpangan atau ketidakmerataan ekonomi, di mana yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Sistem ekonomi yang berjalan sekarang adalah sistem yang membuka kesempatan yang lebar bagi pemilik modal tetapi kecilnya kesempatan bagi yang tidak memiliki modal. Oleh karena itu, terjadilah konglomerasi dan para pemula dalam dunia bisnis akan semakin kesulitan untuk bisa berhasil karena ia sering kali dijegal oleh pemain lama yang sudah memiliki kekuatan. Bahkan di dalam teori-teori yang berkembang baik dalam bidang marketing maupun strategy management, salah satu cara untuk mempertahankan keberhasilan adalah dengan mematikan pesaing. Setiap pemain baru dalam bidangnya akan ditekan sedemikian rupa hingga mengalami kepailitan. Inilah realitas kerasnya persaingan di dalam dunia ekonomi.

Mengapa bisa terjadi demikian? Semua ini terjadi karena mayoritas manusia hidup dengan banyak berpikir bagi dirinya sendiri tetapi sedikit berpikir untuk menjadi berkat bagi orang lain. Jikalau ada orang yang mendedikasikan hidupnya menjadi berkat bagi orang lain, maka orang ini akan dianggap inspiratif dan begitu agung. Padahal, seharusnya manusia hidup seperti itu karena memang kita diciptakan untuk hidup secara berkomunitas. Tetapi karena keegoisan, manusia hidup demi keamanan diri walaupun harus membiarkan orang lain menderita atau yang lebih parah saat keamanan diri diraih dengan membuat orang lain menderita.

Usaha yang mematikan pesaing, menjegal pemain baru untuk berkembang, semua ini adalah wujud nyata dari selfishness manusia. Homo homini lupus (manusia memakan sesamanya) adalah sebuah slogan yang sangat tepat menggambarkan dampak keberdosaan bagi manusia.

From Enjoyment to Weariness
Hilangnya rasa syukur ketika bekerja adalah salah satu efek dari keberdosaan. Manusia pada awalnya diciptakan untuk bekerja tetapi sekaligus menikmati pekerjaan ini. Karena dengan bekerja, manusia mengaktualisasikan potensi yang Tuhan sudah berikan kepada manusia. Sehingga semakin manusia bekerja, semakin ia menemukan dirinya di dalam Tuhan. Ia semakin mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dan semakin memuliakan Tuhan semakin ia dapat menikmatinya. Tetapi keberadaan dosa menjadikan manusia harus bersusah payah agar bisa menghasilkan sesuatu. Kenikmatan yang sebelumnya ada, menjadi hilang. Jikalau kenikmatan di dalam bekerja hilang, manusia akan mendapatkan kelelahan sebagai gantinya. Kelelahan ini bukan hanya karena kecondongan hati manusia untuk berdosa, tetapi juga karena Tuhan sendiri sudah memberikan hukuman kepada manusia dan alam dikarenakan keberdosaan kita.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jikalau kita sering mendengar keluh kesah orang-orang dalam bekerja. Padahal keluh kesah ini tidak bisa mengubah apa pun. Pekerjaan yang kehilangan sisi kenikmatannya, menjadikan manusia semakin enggan untuk dapat memberikan usaha yang terbaik. Manusia tidak lagi hidup untuk menjalankan kehendak Allah, tetapi manusia hidup dengan terpaksa menjalankan pekerjaannya dan kenikmatan bekerja yang semakin lama semakin memudar.

Sehingga tidaklah mengherankan jikalau pada saat ini seminar-seminar motivasi berjamuran di mana-mana. Tiba-tiba saja muncul begitu banyak motivator yang kalaupun kita telusuri latar belakangnya, kita akan meragukan kemampuannya. Karena pada faktanya banyak motivator ini hanyalah orang-orang yang pandai merangkai kata tetapi tidak memiliki isi di dalamnya. Orang-orang bisa menikmati dan kembali diberikan semangat untuk bekerja, tetapi celakanya hal ini hanya sementara, atau bisa dibilang hanya sebuah letupan emosi sesaat saja. Karena masalah utamanya bukan pada motivasi itu sendiri, tetapi memang manusia sulit untuk menikmati panggilannya karena distorsi dosa.

Kita melihat bahwa dengan rusaknya etika manusia, segala keputusan hidup manusia tidak lagi dikendalikan oleh kebenaran tetapi keserakahan, kemalasan, keegoisan, dan kelelahan bekerja yang mendistorsi pertimbangan manusia. Sehingga kehidupan ini dipenuhi dengan keputusan-keputusan hidup manusia yang konyol, sembrono, dan bodoh. Tidaklah mengherankan jikalau ekonomi dunia ini tidak kunjung membaik, karena begitu banyak keputusan yang tidak bijaksana diambil dan dijalankan, mulai dari keputusan ekonomi seorang individu, keputusan sebuah negara, hingga keputusan asosiasi dari negara-negara dunia. Jikalau kita menyelidiki dengan saksama, setiap polemik yang terjadi dalam pengambilan keputusan, diwarnai dengan motivasi berdosa dan menjadikannya masalah yang sulit diselesaikan. Realitas ini seharusnya memicu dan menggugah kita sebagai orang Reformed untuk terus memikirkan bagaimana kita menyuarakan dan menunjukkan teladan di tengah-tengah dunia berdosa ini, menjadi cahaya yang menerangi kegelapan dunia yang berdosa.

Di dalam artikel ini kita bisa melihat sebagian dari efek keberdosaan terhadap etika manusia khususnya dalam bidang ekonomi. Pada artikel selanjutnya kita akan membahas efek keberdosaan terhadap ekonomi dilihat dari sudut pandang metafisika dan epistemologi.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Referensi:
John E. Stapleford, Bulls, Bears, & Golden Calves: Applying Christian Ethics in Economics (Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 2015).
David E. Hall & Matthew D. Burton, Calvin and Commerce (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2009).
John M. Frame, The Doctrine of Christian Life (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2008).
John M. Frame, A History of Western Philosophy and Theology (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2016).
John M. Frame, Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2015).

Simon Lukmana

Mei 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

Halo Jones, Saya sendiri juga melayani dalam wadah sekolah minggu (SD). Tanggapan singkat saja dari saya. Untuk...

Selengkapnya...

Bagaimana caranya kita menerapkan pemahaman alkitab terhadap anak anak seperti saudara kita yang belajar di mda misalnya

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲