Artikel

Reformed Theology and Economics (6): An Overview of Economics Thought

Pada umumnya, ilmu ekonomi dimengerti sebagai ilmu yang membantu manusia mencapai kesejahteraan hidup. Banyak orang yang menekuni bidang ini, berharap masa depannya memiliki standar hidup yang lebih layak. Metodologi demi metodologi dikembangkan agar harapan ini dapat tercapai. Salah satu indikator yang sering diasosiasikan dengan kesejahteraan adalah pertumbuhan ekonomi (economic growth). Seperti yang dikatakan oleh McConnell, Brue, dan Flynn:

Growth is a widely held economic goal. The expansion of total output relative to population results in rising real wages and incomes and thus higher standards of living. An economy that is experiencing economic growth is better able to meet people’s wants and resolve socioeconomic problems. Rising real wages and income provide richer opportunities to individuals and families – a vacation trip, a personal computer, and a higher education – without sacrificing other opportunities and pleasures. A growing economy can undertake new programs to alleviate poverty, embrace diversity, cultivate the arts, and protect the environment without impairing existing levels of consumptions, investment, and public good production.

In short, growth lessens the burden of scarcity. A growing economy, unlike a static economy, can consume more today while increasing its capacity to produce more in the future. By easing the burden of scarcity – by relaxing society’s constraints on production – economic growth enables a nation to attain its economic goals more readily and to undertake new endeavors that require the use of goods and services to be accomplisher.”

Dari deskripsi di atas, kita bisa melihat adanya suatu optimisme yang sangat tinggi terhadap ekonomi. Peningkatan dalam ekonomi dipercaya dapat memberikan dampak yang sangat positif bagi kehidupan umat manusia. Permasalahan socioeconomic dapat diselesaikan, meningkatkan kesejahteraan dari masyarakat sehingga mereka bisa mengembangkan aspek-aspek kehidupannya yang lain, seperti hobi, seni, dan sebagainya. Harapan seperti inilah yang dipakai menjadi dasar dari perkembangan ilmu ekonomi.

Dari zaman ke zaman ilmu ekonomi berkembang di dalam metodologinya masing-masing demi mencapai impian akan kesejahteraan hidup. Secara sepintas kita melihat setiap ilmu ini memiliki motivasi yang baik, yaitu demi meningkatkan kesejahteraan seluruh umat manusia. Tetapi kalau kita lihat dari side effect maupun realitas yang terjadi saat penerapannya, terdapat kecacatan-kecacatan yang justru menjadi penghambat tercapainya kesejahteraan manusia. Karena kita harus menyadari bahwa kerusakan akibat kejatuhan dalam dosa merambat di setiap aspek kehidupan manusia, termasuk epistemology. Sehingga perkembangan ilmu pengetahuan akan selalu disertai dengan kerusakan dan kesesatan yang muncul dari motivasi berdosa manusia.

Artikel ini akan menelusuri beberapa arus pemikiran dalam economics, yang memberikan pengaruh bagi perkembangan ilmu ekonomi. Reformed Theology melihat setiap perkembangan ilmu pengetahuan dari 2 sudut pandang. Sudut pandang common grace, di mana setiap pemikiran memiliki kebenaran dan efek positif yang diberikan. Pada sudut pandang yang lain, kita melihat efek keberdosaan yang memberikan efek destruktif pada setiap buah pemikiran. Berdasarkan 2 sudut pandang ini, kita akan melihat apa yang menjadi kelebihan dan kelemahan dari beberapa arus pemikiran utama dalam ekonomi. Serta kita akan melihat permasalahan utama dari setiap pemikiran adalah kegagalan untuk mengintegrasikan ilmu ekonomi dengan etika sehingga banyak kerusakan yang terjadi adalah isu-isu yang berkaitan erat dengan etika.

Mercantilism – Growing through Pillage
Konsep ilmu ekonomi tradisional yang cukup lama mendominasi di dunia Barat pada zaman kuno adalah mercantilism. Tradisi pemikiran ini memiliki konsep bahwa ekonomi dunia ini tidak berkembang dan jumlah kekayaannya tetap. Sehingga ekonomi suatu negara atau daerah dapat bertumbuh dengan merugikan negara atau daerah lain. “The profit of one man is the damage of another. No profit whatever can possibly be made at the expense of another.” Konsep ini yang dikenal sebagai Zero Sum Games. Inilah ciri khas dari perekonomian zaman kuno hingga Abad Pertengahan. Pada masa itu, praktik-praktik perbudakan dan penjajahan marak dilakukan oleh negara-negara di daerah Eropa. Hal ini dilakukan demi memperbesar kekayaan mereka, walaupun harus membuat orang lain sengsara. Kekayaan pada masa ini dapat didefinisikan sebagai berikut, “Wealth was therefore based on seizure and exploitation.

Di dalam sistem mercantilist, kekayaan diidentikkan dengan seberapa banyak emas dan perak yang dimiliki. Sehingga dilakukanlah usaha-usaha agresif seperti penjajahan suatu daerah untuk mengeksploitasi kekayaannya. Ekonomi bertumbuh dengan cara menjadi predator. Selain itu, dari sisi perdagangan, sistem ini lebih mendorong ekspor dan tidak mendukung melakukan impor. Cara ini diharapkan akan semakin memperkaya negara. Selain eksplotiasi kekayaan alam, dengan menguasai banyak daerah yang dijadikan koloni, negara akan semakin diperkaya oleh ketersediaan tenaga kerja karena populasi penduduk yang semakin banyak. Hal ini berarti ketersediaan tenaga kerja menjadi tinggi sehingga upah pekerja akan menjadi murah. Upah tenaga kerja yang murah akan menyebabkan rendahnya biaya suatu barang sehingga arus masuk emas akan semakin meningkat karena margin yang semakin besar. Untuk mewujudkan semuanya ini, pemerintahannya harus bersifat sentralisasi sehingga penerapan kebijakan seluruh negara menjadi seragam di setiap bagian negara tersebut. Selain itu mereka juga perlu memiliki kekuatan militer yang besar untuk melakukan ekspansi dan menjaga stabilitas negara tersebut. Kekuatan yang besar dari pemerintahan memberikan hak kepada mereka untuk menetapkan tarif dan pajak yang tinggi.
Di satu sisi kita harus mengakui bahwa mercantilism ini menjadi media yang Tuhan pakai untuk menyebarkan Injil. Melalui ekspansi yang didorong oleh konsep ini, banyak daerah yang dapat memperoleh berita Injil, termasuk Indonesia salah satunya. Melalui konsep ini juga, jalur-jalur perdagangan dapat terbuka dan jalur-jalur ini menjadi pijakan bagi perkembangan ekonomi pada masa-masa berikutnya. Perdagangan lintas daerah ini yang menjadi pijakan awal terbentuknya perdagangan internasional.

Di sisi lain, sistem ini juga adalah contoh dari ilmu ekonomi yang dibangun berdasarkan konsep metafisika yang salah. Memandang dunia ini memiliki sumber daya yang terbatas, sehingga mendorong negara-negara untuk saling berkompetisi menguasai sumber daya di dunia ini. Memang dunia ini terbatas, tetapi kegagalan dari sistem mercantilism ini adalah tidak bisa melihat kelimpahan dunia yang masih bisa digarap. Dunia ini Tuhan ciptakan dengan terbatas tetapi juga dengan sangat berlimpah. Kelimpahan inilah yang harus kita garap. Dalam sistem mercantilism peperangan dan penindasan tidak terhindarkan. Hal ini dilakukan demi kepemilikan emas yang banyak. Adam Smith memberikan kritikan yang tepat bagi kaum mercantilist, bahwa kekayaan dari sebuah negara dan dasar dari sebuah pertumbuhan ekonomi bukanlah emas tetapi dengan meningkatkan kapasitas produksi. Kelemahan lain dari sistem ini adalah sangat rentan di dalam sisi motivasi atau etika. Hal yang menggerakkan suatu kelompok atau individu melakukan ekspansi adalah karena keserakahan, dan keinginan diri menjadi seperti Allah agar memiliki kuasa yang besar. Hal ini dikarenakan kepemilikan kekayaan yang besar pada masa ini akan begitu dihormati dan disegani. Motivasi dan pola berpikir seperti ini hanya akan membawa permasalahan yang lebih besar di dalam jangka panjang.

Classical School of Economics – Growth through Trade
Konsep Ilmu Ekonomi Klasik dimulai sekitar tahun 1776 saat Adam Smith memublikasikan karyanya, yaitu The Wealth of Nations. Kemunculan mazhab ini dipengaruhi oleh 2 revolusi besar pada masa itu. Pertama adalah scientific revolution, revolusi ini memengaruhi pola pikir zaman itu untuk melihat bahwa di dalam alam semesta ini terdapat hukum alam yang mengatur mekanismenya. Karena hukum alam yang diciptakan Allah ini, maka seluruh alam semesta dapat bergerak secara harmonis dan otomatis tanpa intervensi. Di dalam konteks sosial, pola pikir ini dikenal sebagai konsep laissez-faire. Revolusi kedua adalah industrial revolution. Revolusi ini terjadi karena didorong oleh penemuan-penemuan di dalam science sehingga memungkinkan bisnis mengubah pola kerjanya. Perkembangan yang signifikan dalam industri dengan penggunaan mesin, mampu menekan biaya produksi secara signifikan. Di sisi lain, perkembangan teknologi dalam dunia medis menyebabkan pertumbuhan populasi penduduk yang meningkat karena dapat menekan angka kematian. Hal ini berdampak dengan rendahnya harga buruh karena ketersediaan tenaga kerja dalam jumlah besar. Kedua revolusi inilah yang memengaruhi munculnya classical economics.

Pemikiran mazhab ini dikenal juga dengan economic liberalism, karena mendasarkan pemikirannya pada kebebasan pribadi, kepemilikan pribadi, inisiatif individu, atau dikenal juga dengan natural liberty. Kebebasan individu ini sangatlah kontras dengan pemikiran mazhab mercantilism yang memberikan begitu banyak batasan-batasan kepada individu di dalam melakukan aktivitas ekonomi. Secara umum classical economics berpegang kepada beberapa prinsip ini:

Minimal government involvement. Di dalam mazhab ini, pemerintahan yang baik adalah pemerintah yang memiliki sedikit campur tangan terhadap ekonomi. Hukum alam, atau Adam Smith menggunakan istilah “the invisible hand”, akan mengatur produksi, perdagangan, dan distribusi. Tugas pemerintahan lebih untuk menjaga hak kepemilikan pribadi, menyediakan pertahanan nasional, dan pendidikan bagi masyarakat.
Self-interested economic behavior. Self-interested behavior diasumsikan sebagai tingkah laku yang alami bagi classical economics. Para pengusaha dan pedagang menyediakan barang dan jasa karena keinginannya untuk mendapatkan profit, para pekerja menawarkan jasanya untuk mendapatkan upah, dan konsumen membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Inilah self-interested behavior yang dimaksudkan. Dengan adanya perilaku ini, ekonomi secara alamiah dapat bergerak tanpa perlu intervensi dari pemerintah. Inilah pola berpikir yang dipercayai oleh mazhab ini.
Harmony of interest. Para pemikir pada mazhab ini menekankan mengenai harmoni secara alamiah antarkepentingan pribadi di dalam ekonomi. Adam Smith mengatakan, “Every individual is continually exerting himself to find out the most advantageous employment of whatever capital he can command. He intends only his own gain, and his is in this, as in man other cases, led by an invisible hand to promote an end which has no part of his intention. Nor is it always the worse for the society that it was no part of it. By pursuing his own interest he frequently promotes that of society more effectually than when he really intends to promote it.” Mereka memercayai bahwa kepentingan individu secara alamiah akan mengarah kepada kepentingan society. Inilah yang dimaksudkan dengan harmony of interest.
Importance of all economic resources and activities. Sistem pemikiran ekonomi klasik memandang setiap sumber daya (tanah, tenaga kerja, modal) maupun seluruh aktivitas ekonomi (agrikultur, perdagangan, produksi, dan perdagangan internasional) memiliki peranan yang penting bagi perekonomian. Cara pandang ini berbeda dengan mercantilism yang hanya memandang perdagangan sebagai aktivitas yang paling penting.
Economic Laws. Kontribusi terbesar dari mazhab ini adalah analisis mengenai teori atau hukum ekonomi yang eksplisit. Kita mengenal beberapa teori seperti Labor Theory of Value, Law of Diminishing Returns, dan sebagainya. Mereka memercayai hukum ekonomi ini bersifat universal dan tidak berubah.
Secara jangka panjang, prinsip berpikir mazhab ini memberikan dampak yang baik di dalam aplikasinya karena mendorong permodalan usaha yang semakin besar serta pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Pertumbuhan ekonomi yang berkali-kali lipat, terjadi hanya di dalam beberapa abad saja sejak kemunculan pemikiran ekonomi ini. Hal ini karena konsep pertumbuhan mereka bukan seperti mercantilism yang memercayai sumber daya dunia ini bagaikan kue pai yang harus dibagi-bagi, tetapi konsep classical economics adalah memperbesar diameter pai sehingga setiap orang memperoleh porsi yang lebih besar juga. Hal ini bisa terjadi karena mereka menggunakan konsep perdagangan.

Konsep perdagangan ini bertolak belakang dengan mercantilism yang menutup diri untuk melakukan impor. Mazhab classic justru mendorong untuk melakukan impor bagi barang-barang yang bukan menjadi keunggulan bagi negara tersebut. Pemikiran ini memercayai bahwa setiap daerah memiliki keunggulannya masing-masing dan dengan berfokus pada keunggulan ini, efektivitas maupun efisiensi secara global dapat tercapai karena sumber daya difokuskan pada keunggulannya masing-masing. Perdagangan juga semakin gencar dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Pola berpikir yang sama juga diterapkan dalam konteks sistem bekerja manusia, yang kita kenal dengan konsep division of labor. Konsep ini mendorong peningkatan yang signifikan dalam produktivitas karena setiap orang difokuskan untuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Pekerjaan yang berulang akan semakin melatih orang tersebut, sehingga kecepatan menyelesaikan pekerjaan semakin bertambah. Selain itu perkembangan teknologi mendorong industri untuk melakukan produksi secara massal, sehingga harga produk menjadi lebih murah karena efisiensi. Implikasinya, dengan nilai yang sama pada masa lalu, masyarakat bisa memperoleh barang yang lebih banyak. Hal inilah yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Classical economics, secara umum terbukti meningkatkan kesejahteraan umat manusia yang kita rasakan hingga saat ini. Tetapi keberhasilan ini bukan tanpa cacat. Konsep natural liberty menaruh optimisme besar kepada manusia, tetapi membutakan fakta natur keberdosaan manusia. Manusia memperalat kebebasan ini untuk membenarkan segala hal yang ia lakukan, padahal semua itu lahir dari hati yang rakus akan harta dan kekuasaan. Sehingga natural liberty, yang adalah anugerah dari Tuhan dan harus kita gunakan dengan penuh tanggung jawab, menjadi alat untuk manusia melakukan keinginan hati yang berdosa. Fakta inilah yang tidak disadari, sehingga beberapa kali di dalam sejarah perekonomian terjadi krisis yang dikarenakan kerakusan manusia yang diselubungi oleh slogan yang mengatasnamakan kebebasan.

Di sisi lain fakta pun menyatakan bahwa natural liberty itu sendiri dialami secara terbatas. Maksudnya, tidak semua orang dapat merasakan natural liberty ini dan kalaupun mengalaminya, tidak selamanya anugerah kebebasan ini akan ada. Natural liberty ini kebanyakan hanya dialami oleh pemilik capital atau modal, dengan pendapatan yang semakin besar mereka dapat menikmati banyak hal. Tetapi pekerjaan yang berhasil pasti menuntut waktu kerja yang lebih. Sehingga permasalahan sosial terjadi, proporsi terbesar hidup kita banyak dihabiskan untuk bekerja, sementara kehidupan sosial baik dengan keluarga maupun kerabat lainnya, menjadi semakin berkurang. Dan lama-kelamaan, manusia mengalami alienasi karena tuntutan pekerjaannya yang tinggi.

Hal lain dialami oleh kaum buruh. Selain terkekang oleh tuntutan jam kerja, mereka harus terbiasa melakukan pekerjaan yang monoton dan upah yang rendah. Pekerjaan yang terindustrialisasi membuat mereka harus melakukan pekerjaan menggunakan mesin yang berulang-ulang demi meningkatkan produktivitas (efek dari konsep division of labor). Hal ini menjadikan para pekerja mudah mengalami kejenuhan dan kebosanan. Ditambah dengan upah yang rendah, menjadikan pekerjaan bagi kaum buruh jauh dari yang namanya kesejahteraan hidup, walaupun standar hidup secara umum meningkat dibanding dengan masa pre-industrialisasi. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan yang besar antara pemilik modal dan kaum buruh. Selain kesenjangan ekonomi, para buruh juga kerap kali tidak diperlakukan secara manusiawi karena jam kerja yang berlebihan dan minimnya tunjangan bagi kehidupan mereka. Hal inilah yang memicu bangkitnya kaum socialist.

Socialism - Growth through Social Concern
Dengan berkembangnya industri-industri besar, dampak terhadap lingkungan maupun sosial tidak terhindarkan. Di lingkungan sekitar industri ini sering kali muncul permasalahan seperti permukiman yang kumuh, penyakit, kriminalitas, kelaparan, dan kehidupan yang begitu menyedihkan. Hal ini timbul karena payung hukum maupun dukungan politik terhadap pekerja industri masih belum terbentuk. Sehingga ketidakadilan bagi para buruh terjadi di dalam masa industrialisasi tersebut. Saat produktivitas bermasalah atau gaya baru industrial yang menyingkirkan gaya lama menyebabkan para pekerja dipecat karena sudah tidak memiliki nilai guna bagi industri. Tidak mengherankan kalau John Stuart Mill mengatakan, “hitherto it is questionable if all the mechanical inventions yet made have lightened the day’s toil of any human being. They have enabled a greater population to live the same life of drudgery and imprisonment, and an increased number of manufacturers and others to make fortunes.” Kemunculan kaum sosialis adalah sebuah gerakan yang mengajak para penganut classical economics bergabung dalam humanitarian movement.

Socialism memiliki bentuk yang beragam, di antara bentuk-bentuk ini mungkin hanya beberapa yang cukup dikenal secara luas, seperti aliran Marxism, Communism, State Socialism. Di dalam keberagaman ini tetap terdapat kesamaan yang diakui bersama. Beberapa poin kesamaan mereka adalah:
Semua aliran sosialis tidak memercayai prinsip harmony of interest dari kaum classical economist. Mereka percaya terdapat kelas-kelas sosial yang berbeda, dan keinginan dari setiap kelas ini berbeda-beda bahkan bertentangan dengan kelas lainnya.
Semua aliran juga menentang konsep laissez-faire. Kaum sosialis melihat pemerintahan sebagai keberadaan yang berpotensi untuk merepresentasikan keinginan kaum buruh yang sering kali ditindas oleh para pemilik modal. Kaum sosialis dianggap sebagai kaum yang memperjuangkan kesejahteraan kaum buruh.
Sosialisme juga memandang manusia sebagai makhluk sosial yang dapat dibentuk melalui situasi sosial. Cara pandang ini berbeda dengan kaum klasik yang melihat manusia secara kaku dan mekanis. Kaum sosialis melihat manusia lebih fleksibel, multifacet, dan terus berevolusi menjadi semakin baik. Kita bisa menjadi seseorang yang rakus maupun murah hati, tergantung dari bentukan sosial sekitar kita. Karl Marx mengatakan, “the human essence is no abstraction inherent in each single individual. In its reality it is the ensemble of social relations.” Menurut kaum sosialis, apa yang menjadikan kita manusia bukan hanya kemampuan untuk berubah seperti lingkungan yang terus berubah, tetapi juga kemampuan untuk membentuk komunitas yang baru dan berbeda serta beradaptasi dengan komunitas sosial tersebut.
Kaum sosialis juga mendukung kepemilikan publik bagi industri demi kebaikan bersama. Sehingga kepemilikan usaha dikendalikan oleh pemerintahan pusat, pemerintahan lokal, atau bentuk perusahaan koperasi.
Walaupun pemikiran kaum sosialis tidak bertahan diuji oleh waktu, pemikiran ini cukup memberikan kontribusi besar bagi ilmu ekonomi. Bisa dikatakan dengan kebangkitan pemikiran kaum sosialis ini, pemikiran kaum klasik dapat semakin dipertajam sekaligus dampak negatifnya dapat berkurang. Kita bisa melihat beberapa kontribusi positif dari pemikiran kaum sosialis.

1. Beberapa program yang saat ini dijalankan oleh kaum klasik berasal dari warisan kaum sosial, contohnya: keamanan sosial, kompensasi bagi kaum buruh, kompensasi bagi kaum pengangguran, upah minimum dan kompensasi untuk kerja lembur, serta hukum keamanan dan kesehatan saat bekerja. Dengan kata lain, kaum sosialis membangkitkan kesadaran sosial bagi kaum buruh sehingga kesenjangan antara pemegang modal dan kaum buruh dapat mulai dijembatani. Walaupun kalau kita lihat realitas pada saat ini, kesenjangan ini tetap ada dan masih menjadi polemik, tetapi setidaknya kesejahteraan bagi kaum buruh mulai diperjuangkan. Sehingga penindasan bagi kaum buruh dipandang sebagai tindakan yang tidak beradab.

     Di sisi lain penerapan pemikiran kaum sosialis mengenai kaum buruh tetap tidak menyelesaikan masalah. Dukungan yang diberikan kepada kaum buruh menjadi angin segar bagi mereka. Tetapi tetap saja kaum buruh itu sendiri adalah orang berdosa yang memiliki nafsu akan kekuasaan dan kekayaan. Sehingga dukungan ini sering kali dijadikan kesempatan untuk memperjuangkan kemalasan mereka. Memperjuangkan agar mendapatkan penghasilan yang lebih tanpa perlu bekerja dengan keras. Inilah realitas yang kita jumpai dalam tuntutan para kaum buruh kepada pemerintahan.

2. Selain ini, sistem sosialis juga menyadarkan kita untuk melihat sisi komunitas. Manusia tidak bisa hidup sebagai seorang individu dengan sikap yang egois. Sikap egois ini adalah salah satu efek negatif dari pemikiran kaum klasik. Penekanan yang berlebihan kepada unconstrained self-interest menjadikan penganut pemikiran ini sangat berfokus kepada pribadi, karena berdasarkan logika pemikiran ini, self-interest akan memimpin kepada kepentingan bersama. Tetapi harus diakui bahwa keberdosaan manusia bisa menjadikan self-interest ini tidak berbeda dengan konsep predator kaum mercantilist. Di dalam konteks inilah komunitas bisa menjadi “common grace” yang dapat menjaga sikap individu agar tidak berdosa lebih parah. Inilah salah satu kontribusi dari kaum sosialis yang dapat melihat anugerah Tuhan bagi manusia, yang disampaikan melalui interaksi sosial dalam komunitas. Seperti yang Alkitab katakan, “Manusia menajamkan sesamanya.”

     Tetapi kita pun harus melihat bahwa penerapan konsep manusia yang diusung oleh kaum sosialis adalah konsep yang tetap memiliki sisi yang tidak benar dan bertentangan dengan Alkitab. Konsep komunitas ini tidak melihat manusia secara individu sebagai pribadi yang unik dan berharga. Mereka hanya bagian dari komunitas di mana saat mereka masuk ke dalam komunitas, keunikan pribadi melebur jadi satu dan hilang signifikansinya. Sehingga konsep ini menekankan unity tetapi menghilangkan diversity.

3. Berkaitan dengan batasan otoritas dari pemerintahan. Peranan pemerintah yang minim seperti diajarkan oleh kaum klasik dapat mendatangkan permasalahan karena pergerakan ekonomi tidak semekanis yang dipikirkan oleh kaum klasik. Hal ini terbukti dengan adanya kesenjangan sosial dan ekonomi antara pemegang modal dan kaum buruh. Konsep berpikir kaum klasik yang cenderung lebih naturalis mereduksi akan realitas dunia ini. Alkitab menyatakan bahwa dunia ini tidak bergerak secara mekanis, tetapi Tuhan bekerja baik secara langsung maupun melalui media yang ada. Ia bekerja baik secara mekanis maupun dinamis. Realitas dunia yang mungkin secara tiba-tiba bergerak di luar kebiasaan, adalah realitas yang gagal ditangkap oleh kaum klasik.

     Di sisi lain, pemikiran kaum sosialis dengan memberikan otoritas yang besar kepada pemerintahan, tidak dapat juga menyelesaikan semua permasalahan. Konsep sentralisasi ini rentan untuk mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh kaum mercantilist. Pemerintahan yang memiliki otoritas besar rentan untuk disalahgunakan oleh keinginan yang berdosa, menjadi pemerintahan yang korup dan diktator. Secara praktis pun, konsep sentralisasi sering menimbulkan permasalahan dari segi relevansi untuk menjawab kebutuhan atau permasalahan yang terjadi. Hal ini karena pemerintahan belum tentu mengerti permasalahan yang sesungguhnya terjadi. Sehingga kebijakan yang diambil pun bisa jadi tidak relevan dengan kebutuhan di lapangan.

Dari pembahasan di atas, kita dapat melihat insight maupun kerusakan dalam sejarah pemikiran ekonomi. Setiap pemikiran ini memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Dan kalau kita perhatikan dengan saksama, permasalahan ini karena kerusakan baik dalam etika maupun kesalahan dalam mengerti realitas dunia ini. Epistemologi yang salah dibangun untuk melegalkan keinginan yang salah. Epistemologi yang salah terbentuk karena kita memiliki asumsi yang salah. Sebaliknya, epistemologi yang salah akan membuat kita semakin berani melakukan tindakan yang tidak etis karena ada dukungan teori. Epistemologi yang salah juga bisa merusak cara pandang kita dalam melihat realitas dunia ini. Inilah kegagalan sejarah ilmu ekonomi di dalam mengerti kebenaran secara luas dan utuh serta dinamika yang ada di dalamnya. Dan inilah yang menjadi tugas kita orang-orang Reformed untuk menyatakan kebenaran yang hidup di dalam keluasan dan keutuhannya.

Classical economics maupun socialism gagal untuk menjadi fondasi yang komprehensif bagi ilmu ekonomi. Classical economics mendasarkan filsafatnya kepada naturalism. Socialism mendasarkan filsafatnya kepada evolutionism. Kedua filsafat ini, baik naturalism maupun evolutionism, adalah pemikiran yang memiliki close system atau sistem berpikir yang tidak bisa melihat kaitan dunia ini dengan Allah. Pemikiran yang gagal untuk melihat relasi realitas dunia dengan Allah akan menjadi pemikiran yang sempit, dan cepat atau lambat akan bertemu dengan jalan buntu. Konsekuensinya, permasalahan di dalam dunia ini tidak dapat terselesaikan dengan baik. Kemungkinan yang terjadi adalah antara masalah itu bertambah besar atau timbulnya permasalahan di aspek yang lain atau hanya memindahkan masalah karena adanya side effect yang membayangi setiap pemikiran. Realitas dunia ini hanya dapat dipahami di dalam relasinya dengan Allah. Inilah fondasi yang sejati dan tepat bagi ilmu ekonomi. Di atas fondasi inilah seharusnya kita membangun ilmu ekonomi, agar terbentuk ilmu yang lebih komprehensif dan dinamis.

Artikel selanjutnya akan menganalisis pemikiran ekonomi dari sudut pandang pemikiran lain yang coba menjembatani pemikiran classical economics dan socialism. Pembahasan akan difokuskan untuk melihat 2 sudut pandang ilmu ekonomi yang kita pelajari hingga saat ini, yaitu mikroekonomi dan makroekonomi. Biarlah pemaparan singkat ini dapat semakin membuka mata kita untuk melihat signifikansi Reformed Theology bagi ilmu ekonomi.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Referensi:
1. Campbell R. McConnell, Stanley L. Brue, and Sean M. Fynn, Economics: Principles, Problems, and Policies (New York, McGraw-Hill, 2009).
2. John E. Stapleford, Bulls, Bears and Golden Calves: Applying Christian Ethics in Economics (Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 2015).
3. David E. Hall and Matthew D. Burton, Calvin and Commerce (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2009).
4. John M. Frame, The Doctrine of Christian Life (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2008).
5. John M. Frame, A History of Western Philosophy and Theology (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2016).
6. John M. Frame, Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2015).
7. Stanley L. Brue, Randy R. Grant, The Evolution of Economic Thought (South-Western, Cengage Learning, 2013).

Simon Lukmana

Juli 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

Halo Jones, Saya sendiri juga melayani dalam wadah sekolah minggu (SD). Tanggapan singkat saja dari saya. Untuk...

Selengkapnya...

Bagaimana caranya kita menerapkan pemahaman alkitab terhadap anak anak seperti saudara kita yang belajar di mda misalnya

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲