Artikel

Reformed Theology and Economics (7): An Overview of Economics Thought - Micro- and Macroeconomics

Waktu adalah penguji yang paling autentik. Prinsip ini sering kita dengar dan juga sangat relevan bagi perkembangan dunia pemikiran. Saat sebuah arus pemikiran tidak lagi menjawab permasalahan, cepat atau lambat pasti akan digugurkan oleh sejarah. Dengan gugurnya sebuah pemikiran, pasti akan memunculkan arus pemikiran berikutnya, yang sering kali menjadi antitesis bagi pemikiran sebelumnya.

Pola yang sama terjadi dalam sejarah pemikiran ekonomi. Relevansi suatu pemikiran dan masalah-masalah yang timbul sebagai konsekuensi dari suatu pemikiran adalah dasar pemicu bangkitnya pemikiran yang lain. Dari pola ini kita bisa melihat betapa rapuhnya pemikiran yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa semua pemikiran yang tidak sesuai atau melawan firman Tuhan memiliki 2 unsur yaitu time bomb dan self-defeating factor. Hal ini harus selalu kita sadari saat mempelajari sejarah perkembangan pemikiran, termasuk di dalamnya pemikiran ekonomi. Di dalam setiap arus pemikiran yang tidak sesuai Alkitab, ada side-effect yang membayangi. Sehingga motivasi yang baik dari sebuah usaha tidaklah cukup, harus dilengkapi dengan strategy yang sinkron dengan standard kebenaran firman Tuhan dan goal yang jelas. Ketiga elemen ini, motive, standard, dan goal, harus berjalan dengan sinkron dan benar. Ketimpangan pada salah satu elemen akan merusak seluruh sistem pemikiran. Pola ini dapat kita lihat di dalam beberapa pemikiran yang akan dibahas pada artikel ini.

Marginalism – Growing through Subjective Value
Sistem yang ditawarkan oleh mazhab classical economics tidak menyelesaikan permasalahan ekonomi dan sosial bahkan sampai ratusan tahun setelah terjadinya Revolusi Industri. Walaupun produktivitas mengalami peningkatan tetapi kemiskinan tetap merajalela di seluruh pelosok. Hal ini disebabkan distribusi kekayaan yang tidak merata dan peningkatan biaya hidup yang tidak disertai dengan peningkatan di dalam sisi penghasilan. Kondisi ini menimbulkan ketidakpuasan yang besar. Permasalahan sosial merebak di mana-mana bahkan di dalam tingkat yang semakin kompleks. Socialism bangkit untuk mengatasi permasalahan ini.

Cara kaum sosialis adalah membuat gerakan kaum proletariat yang menjadi arus lawan dari kaum noble yang merenggut kesejahteraan para buruh. Tetapi cara yang diusung oleh kaum sosialis seperti meminta pemerintahan untuk memegang kendali perekonomian negara, adalah cara-cara yang tidak disetujui oleh kaum yang dinamakan “marginalists”. Para pengikut mazhab marginalism ini berkesimpulan bahwa, teori ekonomi klasik memang tidak akurat di dalam hal nilai dan distribusi tetapi mereka memiliki sudut pandang kebijakan yang sudah tepat. Sehingga yang dilakukan oleh mazhab ini adalah perombakan dan peningkatan dari teori ekonomi klasik.

Beberapa pandangan dasar mereka adalah seperti demikian:

Focus on Margin. Fokus dari mazhab ini mengenai dasar dalam seseorang mengambil sebuah keputusan ekonomi. Mereka akan berfokus kepada margin atau nilai tambah. Konsep ini memberikan perubahan sudut pandang filsafat nilai yang cukup drastis. Poin ini yang akan kita bahas pada artikel ini.

Rational Economic Behavior. Salah satu asumsi dari arus pemikiran ini adalah manusia bisa melakukan pertimbangan yang rasional di dalam membuat keputusan. Tindakan rasional ini memampukan manusia untuk melakukan pertimbangan antara kenikmatan dan pengorbanan yang harus diberikan, nilai tambah antara beberapa pilihan produk, serta antara kebutuhan saat ini dan masa mendatang.

Demand-Oriented Price Theory. Bagi kaum ini, permintaan adalah aspek yang paling utama dalam menentukan harga. Cara pandang ini sangat bertolak belakang dengan aliran ekonomi klasik yang menekankan biaya produksi sebagai penentu harga yang paling signifikan.

Emphasis on Subjective Utility. Menurut kaum marginalis, kekuatan permintaan bergantung pada nilai tambah manfaat yang diberikan oleh suatu barang atau jasa. Hal ini berarti kekuatan permintaan bergantung pada sistem nilai yang lebih subjektif dan fenomena psikologis.

Equilibrium Approach. Marginalis juga percaya bahwa ekonomi akan selalu bergerak menuju titik keseimbangan atau ekuilibrium. Walaupun ada perubahan yang menyebabkan pergeseran, secara otomatis ekonomi akan mendorong untuk kembali kepada titik seimbang.

Minimal Government Involvement. Meneruskan yang dipercayai oleh aliran ekonomi klasik, marginalis tetap berpegang pada kebijakan yang meminimalkan campur tangan pemerintahan.

Using Mathematics for Theory Presentation. Beberapa tokoh utama dalam marginalism menggunakan matematika sebagai metodologi dalam menganalisis perekonomian dan mengomunikasikannya.

Ciri khas utama dari pemikiran kaum marginalis adalah pendekatan teori nilai dengan marginal utility. Pendekatan marginal utility ini dikenal juga sebagai subjective theory of value yang berbeda dengan pendekatan labor theory of value atau dikenal juga sebagai objective theory of value. Salah satu topik yang menjadi permasalahan adalah mengenai the paradox of value.

The Paradox of Value
Paradox of value, atau yang dikenal juga sebagai diamond-water paradox, adalah permasalahan mengenai perbandingan dua benda yang terlihat berkontradiksi. Permasalahannya adalah seperti demikian. Air memiliki manfaat yang lebih tinggi, di dalam konteks bertahan hidup, dibanding berlian, tetapi berlian memiliki harga yang jauh lebih tinggi di pasar dibanding air. Adam Smith mencoba menjelaskan dilema ini dengan membedakan antara value in use dan value in exchange, ia berkata,

What are the rules which men naturally observe in exchanging them (goods) for money or for one another, I shall now proceed to examine. These rules determine what may be called the relative or exchangeable value of goods. The word VALUE, it is to be observed, has two different meanings, and sometimes expresses the utility for some particular object, and sometimes the power of purchasing other goods which the possession of that object conveys. The one may be called “value in use”, the other, “value in exchange.” The things which have the greatest value in use have frequently little or no value in exchange; on the contrary, those which have the greatest value in exchange have frequently little or no value in use. Nothing is more useful than water: but it will purchase scarcely anything; scarcely anything can be had in exchange for it. A diamond, on the contrary, has scarcely any use-value; but a very great quantity of other goods may frequently be had in exchange for it.

Secara sederhana Smith mengatakan bahwa ada barang yang memiliki nilai guna (value in use) yang sangat tinggi tetapi secara harga (value in exchange) sangat murah bahkan gratis, sedangkan di pihak lainnya ada barang yang hampir tidak memiliki nilai guna justru memiliki harga yang sangat tinggi. Bagi Adam Smith, value in exchange ditentukan oleh biaya produksi, jerih payah, dan kesulitan yang harus diberikan untuk menghasilkan suatu barang. Baginya tidak ada kaitan antara harga dan nilai guna suatu barang. Sehingga berdasarkan pengertian ini, harga suatu barang ditentukan oleh biaya input untuk produksi tersebut (secara umum ditentukan oleh upah buruh). Inilah konsep value yang didasarkan kepada nilai intrinsik atau objective value theory.

Kelemahan konsep ini adalah kesulitan dalam memperhitungkan profit atau kerugian, maupun biaya, selain input produksi. Sehingga konsep nilai ini ditinggalkan oleh para ekonom semenjak hadirnya pemikiran dari kaum marginalis.

Kaum marginalis memiliki jawabannya bagi permasalahan tersebut. Aliran ini mengatakan bahwa harga suatu barang bukan terletak pada banyaknya pekerja yang diperlukan untuk memproduksi barang tersebut, dan bukan juga bergantung pada nilai gunanya. Mereka percaya bahwa harga seharusnya ditentukan oleh marginal utility. Marginal utility dari suatu barang adalah tingkat penambahan kepuasan yang dapat dirasakan setiap pengguna barang tersebut. Bukan total utility (value in use) dari berlian atau air yang menentukan harga tetapi manfaat yang diberikan dari setiap unit (marginal utility) air atau berlian. Secara total utility, air memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding berlian karena kita memerlukan air untuk keberlangsungan hidup kita. Tetapi karena jumlah air di dunia ini sangat banyak, maka marginal utility atau tingkat kepuasan yang diperoleh dari setiap penambahan unit air memiliki tingkat yang rendah. Berbeda dengan berlian, walaupun secara total utility memiliki tingkat yang rendah, tetapi secara marginal utility memiliki tingkat yang sangat tinggi. Oleh karena itu, pengguna berlian berani membayar jauh lebih mahal dibanding segelas air. Inilah konsep subjective value theory yang mendasarkan harga suatu barang pada penambahan nilai guna (marginal utility).

Kaum marginalis mengemukakan theory of diminishing marginal utility untuk lebih menjelaskan lagi rendahnya marginal utility air dibanding berlian. Menurut teori ini, semakin banyak kita mengonsumsi suatu barang, marginal utility dari barang tersebut akan semakin mengecil, bahkan bisa menjadi negatif. Total utility dari barang tersebut akan semakin bertambah setiap kali dikonsumsi tetapi dalam kondisi diminishing rate. Karakter inilah yang terdapat pada air. Tetapi berlian memiliki karakter yang berbeda. Berlian memiliki marginal utility yang sangat tinggi sehingga bertambahnya kepemilikan berlian akan meningkatkan kepuasan penggunanya. Berdasarkan teori ini dapat disimpulkan bahwa kita lebih memilih untuk memiliki semua air di dunia ini dan tidak memiliki berlian dibanding hal sebaliknya yang terjadi; tetapi kita lebih memilih untuk menambah jumlah berlian dibanding air di saat jumlah air banyak.

Bila pada labor theory of value mengatakan bahwa biaya input produksi menentukan harga produk tersebut, marginal utility menyatakan bahwa nilai input produksi didasarkan kepada potensi harga pasar suatu produk. Konsep nilai marginalis dipercaya dapat memberikan kesempatan yang lebih bagi para buruh untuk memiliki pendapatan yang lebih baik, karena upah mereka akan bergantung kepada potensi harga pasar dari produk yang mereka hasilkan.

Suatu Analisis
Teori nilai yang dikemukakan oleh kaum marginalis menjadi sebuah paradigm shift di dalam menilai. Nilai sebuah barang tidak lagi ditentukan hanya dengan total biaya produksi yang diperlukan, tetapi juga membuka ruang bagi pengguna barang memberikan apresiasinya. Optimisme yang diberikan kepada manusia di dalam memberikan nilai tidak terlepas dari pengaruh semangat zaman enlightenment. Semangat zaman ini sangat menekankan aspek rasio dan individualism, sehingga setiap individu dipercaya dapat memberikan penilaian yang rasional bagi barang atau jasa yang dihasilkan. Kita harus mengakui bahwa pendekatan ini memberikan angin segar bagi barang atau jasa yang tidak bisa dinilai dengan mempertimbangkan faktor produksi, seperti logam mulia dan karya seni. Logam mulia seperti emas maupun permata seperti berlian, sebelum memasuki proses produksi pun sudah memiliki nilai yang tinggi. Begitu juga dengan karya seni, nilainya tidak dapat dihitung berdasarkan lama waktu yang diperlukan sang pelukis. Bahkan ada karya-karya seni yang begitu agung hingga memiliki nilai yang sangat tinggi, melebihi biaya input produksinya. Dengan terbukanya ruang bagi apresiasi secara pribadi, banyak sisi perekonomian dapat berkembang karena mendapatkan apresiasi.
Di sisi lain, kita harus menyadari bahwa konsep ini tetap memiliki side-effect, beberapa di antaranya adalah:

Konsep marginalis mengubah mindset dari para pelaku ekonomi. Kalau dahulu lebih memikirkan mengenai konsep efektivitas dan efisiensi dalam produksi, pasca marginalis berubah menjadi konsep market-oriented. Dengan menjadikan sisi permintaan sebagai aspek utama penentu harga, maka konsep usaha jadi berorientasi untuk mencari kebutuhan dan keinginan pasar (apresiasi pasar). Konsep inilah yang menjadi cikal-bakal bertumbuhnya konsep marketing. Pada hakikatnya, marketing adalah ilmu komunikasi yang mempertemukan nilai dari suatu produk atau jasa dengan kebutuhan atau keinginan pelanggan. Tetapi pada realitasnya, praktik marketing saat ini dipenuhi dengan kegiatan yang manipulatif. Marketing menjadi usaha untuk membuat pelanggan merasa butuh tetapi pada sesungguhnya tidak. Bahkan mempresentasikan suatu barang atau jasa dengan begitu menarik dan indahnya, tetapi itu hanyalah harapan palsu jika dibanding dengan barang aslinya. Hal ini membuktikan bahwa manusia pada dasarnya hanya ingin memuaskan nafsu kedagingan dan tidak melakukan keputusan ekonomi dengan pertimbangan rasio yang sehat. Ekonomi tidak lagi menjadi ilmu untuk kemuliaan Allah dan berkat bagi sesama. Ekonomi hanya menjadi ranah untuk mendidik manusia konsumerisme yang saling “memakan” satu dengan lainnya (homo homini lupus – a man is a wolf to another man) dengan menggunakan berbagai cara, bahkan menipu sekalipun.

Money is the measure of everything. Dengan dihubungkannya value in use (nilai) dengan value in exchange (price), manusia berdosa memiliki kecenderungan untuk melihat segala sesuatu berdasarkan nominal uang. Semakin tinggi nominal harga suatu barang atau jasa, dianggap semakin bernilai hal tersebut. Bahkan keberhasilan hidup seseorang dipandang sebagai kehidupan yang berhasil dan bernilai jikalau memiliki nominal uang yang besar. Inilah suatu cara pandang hidup yang akhirnya merusak sistem nilai kita sebagai manusia. Cara pandang yang semakin lama semakin membawa kita terperosok ke dalam jebakan materialism, yaitu kehidupan yang mencintai uang. Alkitab dengan jelas berkata bahwa cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan. Seorang yang sudah terjebak di dalam materialisme memiliki hidup yang justru semakin miskin karena mereduksi kelimpahan hidup ini hanya di dalam hal kekayaan materi saja. Orang ini juga akan semakin jauh dari Tuhan dan tidak mungkin ada pikiran untuk memiliki kehidupan yang murni mau memuliakan Tuhan.

Keynesian School – Growing through Stimulation
Walaupun konsep macroeconomic pertama kali dikemukakan bukan oleh John Maynard Keynes, tetapi ia adalah seorang yang memopulerkan pemikiran ini. Salah satu yang memengaruhi pemikiran Keynes adalah seorang tokoh yang penting dalam aliran marginalis yang bernama Alfred Marshall. Pemikiran Marshall membuka gerbang untuk berkembangnya aliran makroekonomi. Ia memercayai bahwa teori ekonomi terbentuk bukan karena natural law (hukum alam) tetapi karena social tendencies (kecenderungan sosial), sehingga situasi perekonomian dapat diubah melalui perubahan perilaku seluruh oknum dalam ekonomi.

Konsep ini adalah pengaruh dari teori psikologi yang bernama behaviorism. Selain pengaruh dari Alfred Marshall, mencuatnya pemikiran Keynes sehingga terjadi paradigm shift dalam teori ekonomi adalah peristiwa The Great Depression yang terjadi pada tahun 1930. Dengan turunnya pertumbuhan ekonomi, turunnya pertumbuhan populasi penduduk, sudah dihuninya seluruh bagian bumi sehingga tidak ada tempat untuk dilakukan ekspansi, kelebihan pendapatan dari produksi sehingga savings pun meningkat, dan tidak ada lagi penemuan dalam teknologi yang dapat memajukan investasi modal, masalah-masalah perekonomian menjadi serius dan kompleks pada saat itu dan Keynes pun hadir sebagai pembawa pemikiran yang merevolusi konsep berpikir ekonomi saat itu.

Beberapa pemikiran utama dari Keynesian School adalah:

Macroeconomic Emphasis. Hal yang menjadi konsentrasi adalah total atau aggregate dari konsumsi, saving, income, output, dan employment. Mereka tidak tertarik untuk membahas perusahaan secara individual dalam kaitan dengan keputusan untuk profit-maximizing.

Demand Orientation. Aliran Keynesian menekankan pentingnya effective demand (aggregate expenditure) sebagai penentu langsung dari pendapatan nasional, pengeluaran, dan employment. Aggregate expenditure terdiri dari total konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintahan, dan pengeluaran ekspor bersih.

Instability in the Economy. Keynesian mengatakan bahwa pergerakan ekonomi selalu memiliki titik puncak maupun titik bawah karena level investasi dapat berubah tanpa diduga. Perubahan pada nilai investasi akan memberikan dampak yang signifikan terhadap level pendapatan atau pengeluaran nasional. Kondisi ini menyebabkan ketidakstabilan dalam ekonomi.

Active Fiscal and Monetary Policies. Keynesian mendukung intervensi pemerintahan di dalam ekonomi. Mereka dapat secara aktif terlibat melalui kebijakan fiskal maupun moneter agar tercapai full employment, price stability, dan economic growth. Pemerintah bisa menstimulasi atau menahan pergerakan ekonomi dengan mengatur pajak, tingkat bunga, maupun pengeluaran pemerintah.

Pemikiran Keynes ini mampu mendorong perekonomian agar bertumbuh. Perekonomian beberapa negara bangkit dari krisis, berkat pemikiran Keynes yang berfokus kepada makroekonomi. Kita harus mengakui bahwa keberhasilan teori ini dalam mendorong perekonomian dikarenakan cara pandangnya yang lebih melihat ekonomi secara luas dan lebih integratif dibanding aliran teori ekonomi lainnya. Sudut pandang yang luas ini memampukan para pelaku ekonomi untuk melihat dinamika pergerakan ekonomi secara lebih holistic. Inilah salah satu keunggulan dalam mazhab Keynesian yang harus kita apresiasi. Bahkan prinsip-prinsip Teori Ekonomi Keynes masih terus berpengaruh hingga saat ini.

Suatu Analisis
Aliran ini tidak terlepas dari pengaruh kejatuhan manusia dalam dosa. Beberapa kerusakan yang ditimbulkan baik secara langsung maupun sebagai side-effect dari pemikiran tersebut adalah:

Efek yang ditimbulkan melalui teori Keynesian cenderung hanya short-term. Kebijakan fiskal maupun moneter yang dilakukan dapat mendorong pergerakan ekonomi tetapi sifatnya hanya sementara. Sebagai contoh, pemerintah menurunkan suku bunga dengan harapan masyarakat lebih memilih untuk menggunakan uangnya untuk konsumsi daripada menabungnya. Untuk jangka pendek mungkin tingkat konsumsi yang tinggi dapat memajukan perekonomian tetapi efek hanya akan berlangsung singkat karena peredaran uang yang meningkat di pasar akan mendorong terjadinya inflasi yang lebih tinggi, sehingga nilai uang pun akan tergerus. Di dalam jangka panjang, hal ini hanya mendorong peningkatan secara harga saja tetapi tidak untuk kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Bahkan cita-cita full employment pun tidak akan tercapai.

Berkaitan dengan hal ini, Chicago school yang dikenal juga sebagai aliran new classic menyatakan bahwa peningkatan ekonomi yang baik adalah dengan peningkatan permanent income bukan yang sifatnya sementara. Hal ini berarti kebijakan makroekonomi harus mendorong pertumbuhan sektor riil atau efek positif secara mikroekonomi yang bersifat permanen. Kita harus belajar membangun perekonomian di dalam fondasi yang kokoh bukan yang rapuh.

Stimulasi ekonomi jangka pendek sering kali menjadi permasalahan pada jangka panjang. Salah satu contoh yang pernah dibahas pada artikel sebelumnya adalah mengenai bail-out dana untuk menstimulasi perekonomian melalui peningkatan pinjaman luar negeri pemerintah. Dengan menyuntikkan dana ke pasar, roda perekonomian secara jangka pendek mungkin akan terstimulasi untuk bergerak, tetapi secara jangka panjang akan menimbulkan kesulitan karena pemerintah memerlukan dana besar untuk menutupi jatuh tempo utang negara. Inilah side-effect dari suatu pemikiran dan tindakan. Kondisi ini yang terjadi dengan beberapa negara Barat pada saat ini. Mereka mencoba meningkatkan kesejahteraan saat ini dengan menggunakan dana masa depan (melakukan pinjaman atau utang). Tetapi yang sesungguhnya terjadi adalah kita sedang merampas potensi kesejahteraan orang-orang yang akan hidup di masa yang akan datang. Menghadapi realitas ini, kembali kita dapat merenungkan dan belajar dari perkataan Paulus mengenai dirinya di dalam Filipi 4:11, “mencukupkan diri dalam segala keadaan”.

Cara pandang yang hanya berfokus secara makro memang bisa memberikan gambaran yang lebih umum mengenai hal-hal yang sedang terjadi. Tetapi cara pandang ini cenderung reduktif, sehingga menggeneralisasi dan menyederhanakan banyak permasalahan. Hal ini menyebabkan solusi yang diberikan pun tidak menjawab akar permasalahannya. Kita harus belajar melihat di dalam keluasan dan keutuhannya.

Usaha pembangunan ekonomi yang diusung dalam pemikiran Keynes tidak memberikan solusi pertumbuhan ekonomi yang memiliki keberlangsungan. Stimulus yang diberikan hanya suntikan penguat sistem imun tubuh sehingga bisa melakukan aktivitas lebih berat tetapi hanya bersifat sementara. Untuk menjadikan stimulasi ini permanen, diperlukan tindakan-tindakan yang bersifat aplikatif secara mikro dan bersifat permanen, salah satunya adalah pembangunan sektor riil atau peningkatan jaminan sosial bagi pekerja.

Pengejaran untuk pertumbuhan ekonomi memang dapat meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan yang lebih layak bagi masyarakat. Tetapi kesejahteraan hidup tidak ada artinya jikalau manusia tidak menyadari akan nilai hidup yang sesungguhnya, yang dapat mendatangkan kedamaian sejati bagi dirinya. Kita tidak bisa serta-merta mendukung konsep ilmu yang dapat memberikan pertumbuhan ekonomi. Karena sejarah menyatakan bahwa kesejahteraan ekonomi tidak menyebabkan orang semakin menyadari panggilan hidupnya untuk memuliakan Tuhan tetapi justru banyak orang yang semakin nyaman hidupnya semakin jauh dari Tuhan. Mungkin secara taraf kehidupan terlihat begitu sejahtera dan jauh dari huru-hara, jasmaninya terpelihara dengan baik. Tetapi jikalau rohaninya menjadi mati, tidaklah ada gunanya kesejahteraan hidup itu. Realitas ini harus kita sadari sebagai orang Reformed. Bukan kenyamanan atau kenikmatan diri yang diutamakan tetapi kemuliaan Tuhan yang harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Apakah artinya jikalau kita memperoleh seluruh dunia ini, tetapi kehilangan hidup kita yang sejati? (Mat. 16:26). Oleh karena itu kita harus kembali kepada Alkitab, membangun pertumbuhan ekonomi berdasarkan prinsip yang Alkitab katakan, bukan dengan mengikuti ajaran yang dunia ini tawarkan.

Pada beberapa artikel selanjutnya kita akan membahas dari sudut pandang redemption. Kita akan mempelajari beberapa prinsip Alkitab yang harus kita pegang di saat menjalankan panggilan di dalam bidang ekonomi ini. Serta kita akan membahas beberapa isu terkait praktik ekonomi kontemporer dan populer (saham dan investasi, risk management, start-up business), serta respons kita sebagai orang Reformed di dalam memandang isu-isu tersebut.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Referensi:
1. Campbell R. McConnell, Stanley L. Brue, and Sean M. Fynn, Economics: Principles, Problems, and Policies (New York, McGraw-Hill, 2009).
2. John E. Stapleford, Bulls, Bears and Golden Calves: Applying Christian Ethics in Economics (Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 2015).
3. David E. Hall and Matthew D. Burton, Calvin and Commerce (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2009).
4. John M. Frame, The Doctrine of Christian Life (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2008).
5. John M. Frame, A History of Western Philosophy and Theology (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2016).
6. John M. Frame, Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2015).
7. Stanley L. Brue, Randy R. Grant, The Evolution of Economic Thought (South-Western, Cengage Learning, 2013).

Simon Lukmana

Agustus 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲