Artikel

Reformed Theology and Economics (8): Redeeming Our Heart

Kita telah membahas dalam tiga artikel pertama mengenai prinsip-prinsip dasar Alkitab bagi ilmu ekonomi dalam tiga sudut pandang yaitu metafisika, epistemologi, dan etika, kemudian dilanjutkan dengan empat artikel yang membahas mengenai efek kejatuhan terhadap ilmu ekonomi. Maka pada tiga artikel berikut ini, kita akan membahas konteks penebusan, menerapkan prinsip kebenaran firman Tuhan di tengah-tengah realitas kerusakan yang ada di dalam dunia ekonomi. Penerapan prinsip firman Tuhan dalam ilmu ekonomi sering kali bertemu dengan jalan buntu. Bahkan untuk menjadi seorang pelaku ekonomi yang memiliki etika sesuai Alkitab saja, sudah dianggap sebuah impian di siang bolong, apalagi kalau berbicara dalam konteks metafisika dan epistemologi. Saat ini, rasanya tidak banyak yang berpikir ke arah sana, kebanyakan dari kita berhenti hanya menjadi seorang yang menjalankan ekonomi secara jujur dan bermoral baik secara umum.

Lalu, hal apakah yang paling sulit dalam membangun ilmu ekonomi yang berdasarkan firman Tuhan? Mengapa hingga saat ini praktik ekonomi terlihat jauh dari kebenaran Alkitab? Sudah banyak theolog, ekonom, bahkan filsuf Kristen yang berusaha membangun ekonomi yang Alkitabiah, tetapi rasanya semua hal itu seperti impian yang tidak mungkin tercapai. Apa yang salah? Apakah membangun ekonomi yang Alkitabiah adalah hal yang mustahil? Kalau mungkin untuk dikerjakan, hal apa yang harus kita – sebagai orang Reformed – lakukan untuk membawa kembali ekonomi ke dalam prinsip kebenaran firman Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang mungkin muncul dari dalam hati setiap kita yang bergumul untuk menebus ekonomi bagi kemuliaan Allah.

Theologi Reformed memandang konsep penebusan secara holistik, bukan hanya dalam area moralitas tetapi seluruh aspek kehidupan. Di sisi lain, kita juga memercayai bahwa penebusan itu terjadi dengan konsep “already and not yet”, sehingga gap yang masih terus kita rasakan antara realitas dan yang Alkitab ajarkan adalah hal yang akan kita alami hingga akhir zaman. Tetapi hal ini tidak boleh menjadi alasan untuk mengendurkan perjuangan kita dalam mengaplikasikan penebusan ke dalam setiap aspek hidup.

Melakukan aplikasi penebusan ke dalam area yang kita gumuli bukan sekadar menjaga kekudusan pribadi, tetapi juga memberikan dampak bagi sekitar dengan segala konsekuensi. Kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia yang menyingkapkan kegelapan dan kebobrokan dunia, lalu membawa mereka kepada Sang Terang Sejati yaitu Kristus. Penyingkapan akan kegelapan dan kebobrokan pasti akan menuai kebencian dari orang-orang yang tidak mau bertobat, pertentangan ini adalah konsekuensi yang harus siap kita jalani sebagai anak-anak terang. Pertanyaannya adalah, “Siapkah kita untuk mengaplikasikan penebusan ini di dalam seluruh aspek hidup kita, termasuk ekonomi, dengan segala konsekuensinya?” Permasalahan utama yang menghambat kita adalah ketidaksiapan hati kita menjalankan panggilan Tuhan, khususnya dalam bidang ekonomi. Alkitab memberikan beberapa kisah yang dapat kita renungkan berkaitan dengan hal ini.

Seorang Muda yang Kaya (Mat. 19:16-26, Mrk. 10:17-27, Luk. 18:18-27)
Sosok pemuda dalam perikop ini bisa dikatakan sebagai sosok seorang pemuda idaman. Seorang yang dari usia muda tetapi sudah menjadi seorang yang kaya adalah sebuah hal yang sangat langka pada zaman itu. Bahkan di dalam konteks hidup saat ini pun, kita jarang menemukan seorang muda yang sudah kaya. Bukan hanya itu, jikalau kita memparalelkannya dengan Kitab Lukas, dikatakan bahwa pemuda ini juga seorang pemimpin. Memiliki harta, jabatan, dan usia muda, sungguh seorang pemuda yang luar biasa bukan? Tidak berhenti sampai di situ. Kalau kita perhatikan kembali sikapnya di hadapan Tuhan Yesus, dapat disimpulkan bahwa ia adalah seorang pemuda yang saleh. Hampir seluruh Hukum Taurat ia lakukan. Sungguh sosok idaman dari seorang pemuda.

Tetapi seluruh kehebatannya hancur saat Tuhan Yesus memerintahkan pemuda ini untuk menjual seluruh hartanya, lalu membagikannya kepada orang miskin, dan mengikut Tuhan Yesus. Di akhir kisah, dikatakan bahwa pemuda ini pergi dengan sedih karena hartanya banyak. Di saat sebuah pilihan hidup yang begitu krusial datang, yaitu memiliki harta atau hidup mengikut Kristus, pemuda ini lebih memilih hartanya dan meninggalkan Yesus. Keputusan ini menghancurkan seluruh yang sudah ia bangun di masa lalu dan juga masa depannya, karena ia lebih memilih harta dibanding Tuhan. Inilah kebahayaan yang sangat besar, yang menghantui semua orang di setiap zaman. Suatu pola pikir dan semangat zaman yang membuat orang-orang berani untuk menolak Tuhan demi memperoleh harta. Suatu semangat zaman yang kita kenal sebagai materialisme.

Paulus mengatakan di dalam 2 Timotius 3:2, bahwa pada zaman akhir manusia akan mencintai dirinya sendiri (humanisme) dan menjadi hamba uang (materialisme). Kehidupan seperti orang muda yang kaya adalah gambaran yang mewakili kondisi ini. Banyak orang yang ingin menjadi kaya, tetapi tidak sadar kalau ia sedang menjual dirinya kepada kebinasaan dengan ambisinya. Kerusakan ekonomi dimulai dari orang-orang yang memiliki hati serong, tidak mau lagi hidup beribadah kepada Tuhan tetapi mengejar kekayaan dan kenyamanan diri. Bisa saja kita adalah seorang yang rajin beribadah dan memiliki kehidupan yang tampaknya saleh, tetapi kecintaan hati kita terhadap uang akan menjadi kebusukan dari dalam diri yang lambat laun akan menggerogoti seluruh kehidupan rohani kita. Dan kalau hal ini sudah terjadi, maka menebus ilmu ekonomi adalah hal yang mustahil untuk dikerjakan.

Kisah seorang pemuda yang kaya ini adalah suatu tanda bahaya yang seharusnya menyadarkan kita akan kerusakan dari materialisme. Cara pandang ini telah menggeser pengertian/perspektif manusia akan nilai hidup. Dari perspektif materialisme, paradigma ini memandang bahwa konsep makna hidup yang abstrak sebagai sebuah ilusi, dan membawa para penganutnya untuk melihat kepada hal yang lebih konkret atau bisa dilihat dan dirasakan secara langsung yaitu kepada materi. Sehingga segala sesuatu dipandang bernilai saat hal itu dapat memberikan timbal balik secara materi. Konsep inilah yang mengendalikan konsep perekonomian saat ini, memandang baik buruknya suatu perekonomian berdasarkan besaran materi yang dapat dihasilkan. Oleh karena itu tidak heran jikalau penggiat ekonomi banyak yang meninggalkan kerohanian sejati karena dianggap tidak dapat memberikan keuntungan. Inilah kerusakan pada zaman ini.

Secara ironis bagian mengenai seorang muda yang kaya ini dikontraskan dengan kisah seorang yang bernama Bartimeus, seorang yang buta lalu disembuhkan oleh Yesus. Saat ia disembuhkan, dengan rela ia menanggalkan satu-satunya harta yang ia miliki, yaitu jubahnya, dan mengikuti Yesus. Di dalam kisah yang lain, kita pun mendapatkan kisah seorang pemungut cukai yang juga kaya, yang bernama Zakheus. Ia memberikan respons yang tepat saat berjumpa dengan Tuhan Yesus. Ia merelakan separuh kekayaannya untuk orang miskin dan mengganti empat kali lipat harta orang-orang yang sudah ia peras. Jikalau kita telusuri lebih jauh lagi, kebanyakan tokoh-tokoh Alkitab yang setia kepada panggilan Tuhan adalah orang-orang yang merelakan miliknya dan mengikut Tuhan Yesus dengan segala konsekuensinya. Dari kisah-kisah ini kita bisa menyimpulkan bahwa mengikuti Yesus harus disertai dengan merelakan segala yang sudah menjadi milik kita, termasuk hak dan kesempatan untuk memiliki harta yang lebih besar di masa mendatang. Ini berarti kita mengikatkan hidup kita hanya kepada Allah, bukan dengan harta dan segala kenikmatan dunia.

Kisah seorang muda yang kaya ini menjadi perenungan untuk kita semua yang bergumul di dalam bidang ekonomi. Ke manakah kita akan mencondongkan hati kita? Apakah seperti anak muda ini yang mencondongkan hatinya kepada kekayaan? Atau mau merelakan seluruh kekayaan dan kenyamanan hidup dan mengikut Kristus? Ini sebuah keputusan hidup yang terlihat sederhana tetapi begitu krusial bagi kita yang dipanggil untuk bergumul dalam bidang ekonomi. Jikalau hati kita condong kepada kekayaan, maka seluruh usaha untuk menebus ilmu ekonomi hanya akan berakhir pada kesia-siaan. Tetapi hati yang murni mau mengikut Yesus, rela melepaskan seluruh ikatan dirinya kepada harta dan kenyamanan hidup, orang-orang seperti inilah yang Tuhan akan pakai untuk menerapkan penebusan di dalam ilmu ekonomi. Kebijaksanaan dari Tuhanlah yang akan membimbing kita langkah demi langkah melalui setiap pergumulan kita dalam ilmu ekonomi.

Orang Kaya yang Bodoh (Luk. 12:13-21)
Perikop ini kembali menceritakan mengenai seorang kaya. Kisah ini adalah sebuah perumpamaan yang Yesus ceritakan sebagai respons-Nya terhadap permintaan seorang pendengar-Nya berkaitan tentang pembagian harta warisan. Sebelum perumpamaan ini diceritakan, Yesus mengangkat tema mengenai kewaspadaan terhadap ketamakan. Bukankah ini juga yang sedang kita hadapi pada zaman ini? Zaman yang disebut sebagai “the age of greed”. Terhadap ketamakan, Tuhan Yesus menyatakan bahwa hidup kita tidaklah tergantung pada kekayaan. Inilah yang menjadi tema utama dari perumpamaan ini.

Perumpamaan ini menyajikan kehidupan seorang yang sangat sukses, kehidupan yang didamba-dambakan oleh kebanyakan dari kita. Ia adalah seorang petani karena kekayaannya adalah hasil tanah. Dikatakan bahwa kekayaan yang ia miliki sangat berlimpah sampai-sampai ia tidak memiliki tempat untuk menyimpan kelimpahan hasil tanahnya. Bagi bangsa Yahudi, usaha pertanian adalah usaha yang sangat bergantung pada belas kasihan Allah. Oleh karena itu, kalau ada seorang yang berhasil dalam usaha bertani, maka ia akan dianggap sebagai orang yang sangat diberkati oleh Allah. Dan ia juga akan dianggap sebagai seorang yang hidupnya berkenan di hadapan Allah. Bukan hanya itu, dikatakan juga bahwa orang kaya ini adalah orang yang memiliki kemampuan management yang baik. Hal ini terlihat dari cepat tanggapnya terhadap situasi yang ia hadapi. Di dalam kelimpahannya ia dapat dengan segera berpikir untuk memperluas lumbungnya untuk menampung gandum dan barang-barangnya. Hal ini berarti keberhasilannya bukan seperti mendapatkan durian runtuh tetapi juga karena ia adalah seorang yang memiliki kemampuan dan ketekunan dalam bekerja. Bukankah kondisi seperti ini juga yang kita sangat apresiasi pada saat ini? Seorang yang berhasil dalam usahanya, memiliki kemampuan yang mumpuni, dan hidupnya terlihat sangat diberkati Tuhan. Lalu apa yang menjadi masalah dari orang tersebut?

Orang kaya ini melontarkan sebuah pemikiran di dalam dirinya (ay. 19), yang menyatakan bahwa jiwanya tenang karena dia memiliki persediaan yang banyak. Ia menjadi kaya dan dengan kekayaannya ia bisa bersenang-senang menikmati hidup tanpa perlu mengkhawatirkan hal lainnya. Inilah impian kebanyakan orang pada zaman ini, menjadi kaya dan bersantai-santai menikmati hidup. Keadaan hidup seperti ini dianggap sebagai kehidupan yang penuh dengan berkat dan kelimpahan. Inilah impian yang dikejar-kejar oleh kebanyakan orang yang bergelut dalam bidang ekonomi.

Tetapi ironisnya Tuhan Yesus mengungkapkan sebuah realitas yang mengejutkan. Pada ayat 20 dikatakan bahwa secara mendadak orang ini mengalami kematian. Semua harta yang ia pikir menjadi tempat perlindungan untuk ia berteduh dengan tenang, menjadi sia-sia dan tidak mampu menjaganya dari kematian. Kisah ini menyimpulkan tema utama yang Tuhan Yesus katakan di awal sebelum perumpamaan ini, bahwa hidup tidak tergantung dari kekayaan kita.

Perumpamaan ini mengajarkan beberapa hal bagi kita yang bergumul dalam bidang ekonomi:

Betapa mudahnya seorang untuk terbuai dalam kekayaan yang pada akhirnya menjadi jeratan dosa. Orang yang kaya ini menjadi lupa akan Allah saat ia mencapai keberhasilan. Ia lupa bahwa seluruh kelimpahannya adalah berkat yang Tuhan berikan. Ia menjadi seorang yang “take it for granted” dengan kelimpahannya, dan menaruh kedamaian hatinya kepada harta, bukan kepada Tuhan. Oleh karena itu, menjadi kaya tidak tentu identik dengan mendapatkan berkat Tuhan, karena Alkitab berkali-kali memberikan kisah mengenai kekayaan yang justru menjadi kutukan bagi orang yang mendapatkannya. Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan bahwa orang-orang yang terlanjur dilahirkan di dalam keluarga kaya adalah sebuah celaka, jika tidak mempunyai hati yang takut akan Tuhan.

Dengan kekayaan seseorang dapat melebarkan ruangnya melalui kesempatan-kesempatan yang semakin terbuka. Tetapi semakin luas ruang hidup seseorang semakin terkikis waktu yang ia miliki. Seorang yang kaya sering kali terbuai dan menghabiskan waktu hidup dengan sia-sia. Inilah kecelakaan yang menjebak orang-orang kaya. Di dalam konteks ini, kita harus mengerti bahwa kekayaan bukan suatu berkat yang bisa kita nikmati dengan seenaknya, tetapi itu adalah sebuah tanggung jawab yang harus kita jalankan dengan kegentaran di hadapan Tuhan. Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi orang kaya, karena kekayaan adalah berkat yang Tuhan berikan untuk dipakai kembali bagi kemuliaan Tuhan, bukan bagi kenikmatan diri. Sehingga orang-orang yang tidak disiapkan untuk menjadi seorang kaya pada akhirnya hanya akan menghancurkan hidupnya. Inilah sudut pandang yang harus kita ubah. Kekayaan adalah anugerah yang Tuhan berikan dengan sebuah tuntutan tanggung jawab, karena semua itu diberikan demi kemuliaan Tuhan dan berkat bagi sesama, bukan untuk kepentingan diri sendiri. Ini adalah konsep stewardship Alkitab yang harus kita jalankan dalam berekonomi.

Motivasi pendorong untuk kita melakukan aktivitas ekonomi seharusnya bukan kekhawatiran hidup yang menuntun pada keserakahan. Tuhan Yesus secara jelas mengatakan bahwa hidup ini tidak tergantung pada kekayaan tetapi kepada Tuhan yang adalah sumber kehidupan. Kekayaan dapat dengan mudah mengaburkan cara pandang kehidupan kita. Kekayaan dipandang sebagai juruselamat kehidupan. Kehadiran harta memberikan ketenangan tetapi kehadiran Kristus tidak kita anggap penting. Inilah kecelakaan dunia. Ilmu ekonomi dijadikan jalan keselamatan hidup yang menggantikan Kristus. Ironisnya banyak orang Kristen yang juga terjerat dalam cara berpikir ini. Kisah orang kaya yang bodoh ini mengajarkan kita untuk terbebas dari kebodohan cara padang hidup seperti ini. Kita disadarkan untuk melihat kembali bahwa hidup ini hanya dapat disandarkan kepada Allah yang hidup, bukan kepada harta yang mati. Harta dapat lenyap setiap saat, tetapi Allah yang kekal akan setia memelihara hidup kita.

Redeeming Our Heart
Melalui dua perikop Alkitab yang dibahas di atas, masihkah kita mau menjadikan kekayaan sebagai motivasi pendorong kita melakukan kegiatan ekonomi? Kalau kekayaan tetap menjadi motivasi kita, lupakanlah pemikiran untuk melakukan penebusan dunia ekonomi. Karena hati yang masih condong kepada mammon hanya akan menghancurkan perekonomian, bukannya membangun ekonomi berdasarkan kebenaran. Jikalau kita tidak mau mengubah hati kita kembali kepada Allah, maka kita hanya akan menjadi garam yang hilang keasinannya dan terang yang sudah redup, tidak ada guna. Hati yang taat kepada Allah adalah fondasi dasar dalam kita menegakkan kembali kebenaran dalam ilmu ekonomi.

Ilmu ekonomi bukan ranah untuk memuaskan keserakahan kita, tetapi ini adalah suatu ladang yang Tuhan sediakan untuk kita memuliakan-Nya. Kekayaan bukanlah hak yang bisa dengan seenaknya digunakan, tetapi ini adalah berkat yang Tuhan berikan agar kita dapat memuliakan Dia dan menjadi berkat yang lebih luas melalui kesempatan-kesempatan yang terbuka lebar. Penebusan ilmu ekonomi adalah sebuah panggilan yang Tuhan berikan kepada orang-orang yang sudah Ia siapkan. Kekayaan adalah tanggung jawab yang Tuhan titipkan kepada sebagian orang untuk digarap dengan penuh tanggung jawab dalam mengekspresikan ketaatannya kepada panggilan Tuhan dan kesetiaannya kepada kepercayaan Tuhan baginya. Inilah yang sering kita mengerti sebagai ruang kehidupan yang Tuhan bukakan melalui kekayaan diberikan agar kita dapat menggunakan waktu hidup ini untuk kemuliaan-Nya.

Kembali kepada prinsip yang dikemukakan dalam artikel pertama, the foundation of economics is not profit-oriented motive but God’s justice, righteousness, and fairness. Semua ini dikerjakan dengan tujuan untuk memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama. Maka, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan pada paragraf kedua dari artikel ini adalah hati kita. Hati manusia yang serakah adalah penghambat utama dari penebusan ilmu ekonomi. Oleh karena itu, maukah kita bertobat dan kembali kepada Tuhan, menyerahkan seluruh hidup kita bukan lagi demi harta dan diri tetapi demi kehendak Allah dan kemuliaan Allah? Redeeming our heart for God’s glory. Maukah kita belajar untuk membangun aspek ekonomi dalam hidup kita dengan kesadaran bahwa ilmu ini bukan jalan menuju kelimpahan hidup tetapi ladang untuk menyatakan Tuhan dan kemuliaan-Nya?

Artikel selanjutnya akan mengulas “Pillars of a just and abundant society” sebagai framework sistem ekonomi yang adil dan benar.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Referensi:
1. Campbell R. McConnell, Stanley L. Brue, and Sean M. Fynn, Economics: Principles, Problems, and Policies (New York, McGraw-Hill, 2009).
2. John E. Stapleford, Bulls, Bears and Golden Calves: Applying Christian Ethics in Economics (Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 2015).
3. David E. Hall and Matthew D. Burton, Calvin and Commerce (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2009).
4. John M. Frame, The Doctrine of Christian Life (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2008).
5. John M. Frame, A History of Western Philosophy and Theology (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2016).
6. John M. Frame, Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2015).
7. Stanley L. Brue, Randy R. Grant, The Evolution of Economic Thought (South-Western, Cengage Learning, 2013).

Simon Lukmana

September 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲