Artikel

Reformed Theology and Economics (9): Redeeming Our Society

Banyak revolusi yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Di dalam konteks ekonomi, kita mempelajari beberapa revolusi besar. Salah satu yang penting adalah revolusi industri. Revolusi ini penting dikarenakan perubahan yang signifikan terjadi pada masa pra- dan pasca-revolusi ini terjadi. Perekonomian yang dahulu bergantung pada sektor agrikultur bergeser menjadi ketergantungan pada sektor manufaktur. Hal ini dikarenakan penemuan-penemuan yang penting terjadi di sekitar masa revolusi industri ini. Selain revolusi industri, salah satu yang membawa perubahan signifikan adalah revolusi teknologi informasi. Revolusi ini ditandai dengan penemuan komputer. Perubahan yang signifikan terjadi hanya di dalam beberapa dasawarsa, khususnya pada bidang informasi, komunikasi, dan teknologi. Kita bisa merasakan perubahan drastis ini, dahulu komunikasi dilakukan menggunakan telepon kabel di rumah masing-masing. Tetapi saat ini komunikasi dapat dilakukan di mana-mana menggunakan handphone. Bukan hanya itu, informasi dapat beredar hanya dalam sekejap mata via internet. Revolusi informasi ini mengubah tatanan perekonomian yang ada sebelumnya. Kita bisa melihat munculnya model-model bisnis berbasiskan teknologi informasi yang mengejutkan model bisnis konvensional (kasus GO-JEK-Blue Bird). Setiap revolusi ini selalu disertai dengan konsekuensi yang tak terhindarkan. Selain perubahan drastis dalam aspek ekonomi, dampak terhadap sosial dan budaya dapat jelas dirasakan. Apalagi perubahan yang kita alami pada zaman ini. Kecepatan perubahan yang terjadi pada zaman ini mengalami akselerasi, sehingga konteks sosial dan budaya yang kita alami pun berubah semakin dinamis.

Dua revolusi ini dianggap sebagai dua tonggak di dalam sejarah yang membuktikan kemajuan peradaban manusia. Revolusi industri memajukan manusia melalui penemuan-penemuan mesin dan berbagai peralatan yang berguna bagi manusia. Revolusi teknologi informasi memajukan manusia melalui terobosan di dalam media komunikasi dan pertukaran informasi. Dua kemajuan ini membawa perubahan di dalam beberapa aspek. Secara ekonomi, manusia saat ini dapat merasakan standar hidup yang jauh lebih baik dibanding masa pra-revolusi. Dari sudut pandang teknologi, kita dapat menikmati limpahnya variasi produk atau jasa, hasil dari perkembangan teknologi. Secara sosial, kita dapat menikmati jalur-jalur interaksi sosial yang baru serta terbukanya peluang untuk berinteraksi dengan manusia lain tanpa memperhitungkan masalah jarak. Dari sisi keragaman budaya, kita dapat mempelajari bahkan merasakan keragaman budaya yang lebih limpah dari berbagai sudut negara melalui media komunikasi saat ini. Kemajuan demi kemajuan ini dapat kita rasakan sebagai buah dari hasil karya manusia.

Keberhasilan yang dicapai oleh manusia ini dimulai dari sebuah konsep yang diangkat oleh Adam Smith yaitu ‘Natural Liberty’ yang berarti kebebasan untuk bekerja, berinvestasi, atau bertindak dari hambatan oleh pemerintah. Smith mengatakan, “To prohibit a great people from making all that they can of every part of their own produce, or from employing their stock and industry in the way that they judge most advantageous to themselves, is a manifest violation of the most sacred right of mankind.” Dukungan Adam Smith terhadap kebebasan ini tentu saja berbeda dengan konsep kebebasan yang diteriakkan pada zaman ini. Konsep Smith bukanlah kebebasan yang liar tetapi tetap di dalam kendali. Pada bagian lain ia mengatakan, “Every man, as long as he does not violate the laws of justice, is left perfectly free to pursue his own interest his own way, and to bring both his industry and capital into competition with those of any other man or order of men.” Terdapat keseimbangan antara kebebasan dan kepatuhan pada hukum. Dukungan terhadap kebebasan inilah yang membuka pintu gerbang bagi kemajuan yang kita alami saat ini. Kehidupan masyarakat yang melimpah dapat tercapai salah satunya adalah saat mereka diberikan kebebasan untuk berkarya. Kita harus apresiasi mengenai hal ini.

Tetapi sejarah tidak hanya mencatatkan keberhasilan yang dicapai; kegagalan atau side-effect dari aplikasi konsep ini pun tercatat di dalam sejarah. Seperti yang sudah kita bahas dalam artikel ke-6, salah satu permasalahan yang timbul adalah kesenjangan sosial yang semakin melebar antara kaya dan miskin. Permasalahan inilah yang memicu kemunculan antithesis dari konsep Adam Smith ini yaitu socialism. Beberapa konsep utama yang diangkat oleh sosialisme adalah konsep keadilan sosial. Mereka menilai bahwa penerapan konsep kebebasan Adam Smith menciptakan ketidakadilan bagi kaum yang tertindas. Salah satu cara yang didukung oleh kaum sosialis adalah memberikan pemerintahan otoritas untuk mengatur tingkah laku pasar melalui hukum-hukum yang pemerintah tetapkan.

Kaum sosialis memperjuangkan keadilan sosial demi ditegakkannya kemanusiaan, Adam Smith dengan arus pemikiran ekonomi klasik memperjuangkan kebebasan demi kemanusiaan juga. Sehingga, kedua kubu ini sama-sama memperjuangkan kemanusiaan tetapi mereka melihat dari dua sisi yang berbeda dan sering kali dipertentangkan. Di satu sisi, kebebasan mendorong masyarakat menuju kehidupan yang berlimpah (abundant society), tetapi riskan terjadinya ketidakadilan. Di sisi yang lain, penegakan hukum mendorong terciptanya masyarakat yang adil, tetapi riskan terhadap pelanggaran atas hak asasi manusia yaitu kebebasan untuk menggali potensi dirinya sehingga menghambat terciptanya kehidupan masyarakat yang berlimpah.

Dilema ini masih terus terjadi hingga saat ini. Negara-negara yang lebih mengutamakan kebebasan pada umumnya adalah negara yang mengalami kemajuan tetapi juga sering kali disertai dengan keliaran dan kesenjangan sosial yang besar. Sedangkan negara-negara yang lebih mengutamakan keadilan sosial melalui kontrol pemerintah memiliki kehidupan bermasyarakat yang terlihat lebih teratur tetapi tidak memiliki kemajuan yang signifikan. Hampir tidak ada negara yang secara mutlak menjalankan kebebasan masyarakat sepenuhnya tanpa adanya kontrol dari pemerintahan ataupun sebaliknya kontrol pemerintahan yang mutlak tanpa adanya kebebasan masyarakat. Kebanyakan negara pada saat ini berada di antara dua ekstrem ini. Contoh negara paling ekstrem mendukung kontrol pemerintahan yang absolut adalah Korea Utara, berbeda secara signifikan dengan saudaranya, yaitu Korea Selatan, yang lebih mendukung kebebasan masyarakat. Di sisi yang lain, daerah yang sangat mendukung kebebasan masyarakat adalah Hong Kong. Berhadapan dengan realitas ini, apakah yang menjadi respons dari Theologi Reformed? Prinsip Alkitab seperti apakah yang dapat kita terapkan di dalam sistem ekonomi sehingga menjadi sistem ekonomi yang memiliki “warna” Theologi Reformed?

Reformed View on Christian Freedom
Sekitar dua abad sebelum Adam Smith, konsep kebebasan sudah diangkat oleh tokoh reformator yang sangat terkenal, yaitu John Calvin. Konsep kebebasan yang dibangun oleh Calvin memiliki pemikiran yang lebih komprehensif. Calvin melihat kebebasan di dalam dua sisi. Di satu sisi kebebasan ia pandang sebagai anugerah Tuhan bagi manusia sehingga kebebasan adalah hak dari setiap manusia. Tetapi di sisi lain Calvin pun menyadari realitas keberdosaan manusia sehingga kebebasan bisa saja disalahgunakan dan menjadi boomerang bagi manusia itu sendiri. Selain itu konsep kebebasan Calvin harus dimengerti dengan latar belakang pemerintahan Zaman Medieval dan pemikiran Katolik pada saat itu. Istilah kebebasan sangatlah asing pada masa hidup Calvin. Masyarakat yang hidup di bawah otoritas absolut dari pemerintahan dan gereja pada saat itu menjadikan mereka tidak memiliki arti kebebasan seperti kita saat ini.

Setidaknya ada dua lingkup yang Calvin hadapi dengan konsep kebebasannya. Pertama adalah civil sphere. Calvin hidup di dalam pemerintahan yang menganut sistem monarki, sehingga kebebasan adalah istilah yang sangat jauh dari kehidupan masyarakat ini. Kehidupan di bawah pemerintahan seorang raja menjadikan masyarakat sangat minim kebebasan di dalam hidupnya. Kedua adalah sphere of church government. Masa sebelum terjadinya Reformasi adalah masa kehidupan yang juga tunduk di bawah otoritas Gereja Katolik Roma pada saat itu. Sehingga kebebasan mereka didasarkan kepada yang dikatakan oleh gereja. Dengan latar belakang kehidupan bermasyarakat yang seperti ini, konsep kebebasan yang Calvin bangun adalah sebuah penerobosan besar. Bahkan tulisan Calvin mengenai kebebasan Kristen di dalam Institutio adalah konsep kebebasan yang paling komprehensif dan kokoh yang pernah ada.

Calvin memulai pandangannya dengan mengaitkan kebebasan dan pembenaran. Kebebasan yang sejati adalah anugerah yang Tuhan berikan bersama dengan karya penebusan Kristus. Keterkaitan ini menunjukkan ketajaman Calvin di dalam mengemukakan kebebasan di tengah realitas keberdosaan manusia. Jikalau kebebasan dilepaskan dari konteks penebusan Kristus, maka kebebasan itu akan menjadi alat untuk menyalurkan nafsu keberdosaan manusia. Inilah perbedaan yang kontras dari konsep kebebasan Calvin dengan konteks kebebasan humanisme pada zaman ini. Konsep humanisme zaman ini adalah perjuangan akan kebebasan tetapi terlepas dari iman dan pengertian keadilan yang sejati. Sehingga kebebasan menjadi wadah untuk melakukan keberdosaan.

Konsep kebebasan yang Calvin ajarkan memiliki tiga bagian:
Kebebasan hati nurani di dalam kaitannya dengan Hukum Allah. Maksud Calvin adalah orang percaya yang sudah dibenarkan oleh Allah dan dibebaskan dari tuntutan hukum, harus belajar melihat kepada belas kasihan Allah. Sehingga mereka tidak lagi bergantung kepada perbuatan baik demi keselamatan mereka. Bagi Calvin kebebasan hati nurani sama pentingnya dengan kebebasan bermasyarakat dan hal ini dimulai dari pengertian yang tepat mengenai konsep pembenaran.

Kebebasan untuk orang percaya mematuhi hukum dari motivasi yang berbeda. Seseorang yang sudah lahir baru akan tetap menaati hukum Allah tetapi secara sukarela bukan karena takut. Berespons terhadap kepatuhan sebagai ucapan syukur atas kasih Allah, dan dari sinilah kebebasan yang sejati mengalir.

Kebebasan dari keharusan melakukan ritual keagamaan yang hanyalah warisan hukum seremonial dari Perjanjian Lama. Hal ini dimaksudkan agar kita dapat hidup bebas dari takhayul dan belajar untuk melihat hukum moral yang ada di balik semua hukum seremonial agama.

Dari ketiga poin di atas kita dapat melihat bahwa tujuan utama dari kebebasan yang Calvin kemukakan adalah untuk memberikan kedamaian kepada hati nurani yang ketakutan karena kehidupan yang berdosa. Sehingga konsep kebebasan ini adalah kebebasan yang dilakukan di dalam keteraturan. Konsep ini sangat jelas berbeda dengan konsep kebebasan libertarian yang banyak dianut oleh masyarakat pada zaman ini, sebagai jalan untuk pemuasan nafsu berdosa mereka. “Liberty of the spirit is greatly preferable to the liberty of the flesh.

Untuk mempertajam pengertian mengenai kebebasan, Calvin memberikan hierarki di dalam kebebasan untuk membantu di dalam membuat keputusan. Prinsip yang diberikan Calvin adalah sebagai berikut:

“Kebebasan yang sejati harus tunduk kepada law of charity, dan law of charity harus tunduk kepada purity of faith.”

Seorang Kristen sejati harus menjalankan kebebasannya di dalam batasan. Ia harus rela untuk menahan dirinya dalam menjalankan kebebasan agar tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Kebebasan adalah anugerah dari Tuhan, tetapi kebebasan ini bukanlah kebebasan yang absolut tetapi harus dilihat dalam perspektif. Kebebasan harus dilihat di dalam harmoni dengan law of charity dan purity of faith. Law of charity yang dimaksudkan Calvin berkaitan erat dengan hubungan antara sesama manusia. Prinsip yang ingin ditekankan dalam hukum ini adalah konsep keadilan. Sedangkan purity of faith berkaitan dengan pembenaran yang Roh Kudus kerjakan di dalam hati orang percaya dan ketekunan orang tersebut di dalam mengaplikasikan penebusan ini di dalam setiap aspek kehidupannya.

Berkaitan dengan law of charity, Calvin memiliki konsep yang jauh lebih luas dibanding sekadar memberi kepada orang miskin atau berkekurangan. Calvin melihat charity ini di dalam beberapa sudut pandang:

Menghargai dan membantu orang lain dalam menjaga milik atau hak orang tersebut. Seperti yang pernah dibahas dalam artikel pertama, yaitu mengenai justice, righteousness, dan fairness. Justice berarti setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang diusahakannya, sedangkan righteousness berarti melakukan sesuatu secara benar dan memikirkan dampaknya secara komunal, serta fairness adalah setiap orang mendapatkan haknya yang sama sebagai manusia. Hal ini bisa kita aplikasikan ke dalam banyak hal seperti relasi pengusaha dengan pekerja, penerapan hukum yang tidak manusiawi atau memiliki unsur kecurangan di dalamnya. Inilah sudut pandang pertama yang Calvin maksud dari law of charity.

Kedua, perpuluhan dan bentuk pemberian lainnya yang ditujukan bagi yang berkekurangan atau berkebutuhan khusus. Calvin menekankan konsep pemberian melalui perpuluhan karena pada zamannya bentuk amal masih sangat sederhana dan salah satunya adalah melalui gereja. Sehingga selain untuk keperluan pelayanan, perpuluhan pun digunakan untuk membantu yang kekurangan. Tetapi pada prinsipnya Calvin mendorong orang-orang yang kelebihan berbagi dengan yang kekurangan. God’s gifts (including our wealth) are given for His glory and to edify others.

Ketiga, personal security and future generation. Sudut pandang ini adalah salah satu keunikan dalam pemikiran Calvin. Baginya menabung atau berinvestasi adalah salah satu bentuk dari charity. Tujuan dari Calvin adalah mengajarkan kita untuk tidak memikirkan diri sendiri atau kenikmatan sesaat, tetapi mengajarkan kita memikirkan kesiapan di dalam menghadapi hari yang akan datang seperti keluarga yang Tuhan akan percayakan kepada kita. Cara pandang ini akan menghindarkan kita dari selfishness dan shortsightedness, yang bagi Calvin adalah sebuah keberdosaan.

Perspektif yang diberikan oleh Calvin mengenai law of charity begitu juga dengan purity of faith akan menjaga kita dari konsep kebebasan yang salah. Menjaga keseimbangan di dalam ketiga hal ini (Christian liberty, law of charity, and purity of faith) akan membawa kita kepada konsep kebebasan yang sejalan dengan keadilan yang sejati. Konsep inilah yang menjadi kunci untuk menerapkan prinsip Theologi Reformed di dalam sistem ekonomi.

The Pillars of a Just and Abundant Society
Claar dan Klay di dalam bukunya Economics in Christian Perspective mengemukakan sebuah pemikiran yang mereka ambil konsep dasarnya dari seorang yang bernama Michael Novak. Mereka mengemukakan bahwa sebuah society (di dalam konteks ekonomi) terbentuk dari tiga institusi yaitu, Government/pemerintah, Market/pasar, dan institusi yang ketiga adalah: institutions of private and collective action that are free to fund, teach and exercise their values for the benefit of the society (seperti gereja, sekolah, dan museum). Walaupun mereka tidak mengaitkan konsep ini dengan pemikiran Calvin mengenai Christian liberty, tetapi kerangka mereka dapat diintegrasikan untuk menjadi kerangka berpikir membangun sistem ekonomi yang sejalan dengan Theologi Reformed. Karena relasi dari tiga institusi ini sebenarnya sudah ada di dalam pemikiran John Calvin, bahkan ini adalah salah satu pemikirannya yang paling terkenal.

Salah satu kontribusi yang diakui oleh dunia ini adalah konsep dua bentuk pemerintahan manusia, yaitu “spiritual government that is internal and trains the conscience in matters of piety and worship”dan “civil government refers to external matters”. Konsep ini lahir di tengah konsep Zaman Medieval yang memiliki dua pemerintahan (pemerintahan sipil dan gereja). Otoritas dua pemerintahan ini saling bersinggungan bahkan berebut kekuasaan untuk memerintah masyarakat pada zaman itu. Kondisi ini menjadikan gereja begitu rusak karena nafsu untuk menguasai negara, begitu juga pemerintahan sipil yang memanfaatkan gereja demi kepentingan politiknya. Kondisi inilah yang ingin direformasi oleh Calvin, sehingga ia melahirkan pemikiran untuk memisahkan lingkup dari pemerintahan sipil dan gereja. Keberadaan pemerintahan sipil dan gereja sama-sama memiliki otoritas yang Tuhan mandatkan tetapi dengan area yang berbeda. Pemerintahan sipil berkaitan dengan kepentingan kehidupan sosial, politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain yang sifatnya praktikal. Sedangkan gereja berkaitan dengan ibadah serta kerohanian dan aspek-aspek lainnya tetapi hanya di dalam lingkup filosofis atau konseptual. Sehingga gereja tidak terlibat secara langsung di dalam hal-hal praktis dan pemerintahan sipil tidak mengatur lingkup kerohanian. Berdasarkan konsep Calvin ini kita mengerti bahwa terdapat relasi antara tiga institusi, yaitu: Masyarakat yang menjalankan aktivitas ekonomi (market), pemerintahan (government), dan gereja (termasuk institusi-institusi non-profit lainnya yang berbasiskan nilai atau ideologi). Untuk menjadikan sebuah masyarakat yang adil dan makmur (just and abundant society), ketiga institusi ini harus berdiri sebagai the three pillars of a just and abundant society.

Ketiga institusi ini berada sebagai wadah untuk menjalankan konsep Christian liberty yang diajarkan oleh Calvin, sebagai prinsip penting tercapainya masyarakat yang adil dan makmur. Seperti yang disebutkan di atas, bahwa kunci utama dalam menjalankan konsep ini adalah keseimbangan dari tiga elemen ini (Christian liberty, law of charity, and purity of faith). Oleh karena itu, kita perlu melihat konsep ini di dalam perspektif yang saling melengkapi sebagai satu keutuhan (menggunakan triperspectivalism John Frame).

Pillar 1: Church as God’s Authority (Purity of Faith) – Normative Perspective
Gereja berada di tengah dunia untuk menyatakan God’s Authority atas seluruh ciptaan melalui firman yang diberitakan. Pernyataan otoritas Allah ini menuntut respons iman yang murni dari jemaat-Nya. Iman yang menuntun mereka untuk memiliki ketaatan total kepada Allah di dalam segala aspek, termasuk ekonomi. Gereja harus menjadi institusi yang bukan hanya mengajarkan kebenaran firman Tuhan, tetapi juga dapat membaca tanda-tanda zaman. Gereja menjadi mercusuar yang menerangi arah perjalanan suatu masyarakat sekaligus mengawasi situasi sekitar dan langsung memberikan peringatan tanda bahaya jikalau ancaman datang mendekat. Oleh karena itu, kemurnian pemberitaan firman oleh gereja adalah hal yang sangat krusial. Firman yang murni adalah suara Allah yang menegur keberdosaan dan juga menuntun kepada kebenaran.

Realitas keberdosaan tidak akan pernah hilang sampai Kristus datang kedua kali. Bahkan semakin lama, keberadaan dosa akan semakin merusak sebuah masyarakat. Keberadaan gereja yang sejati bagaikan hati nurani yang memberikan kegelisahan ketika kita berbuat dosa. Gereja yang sejati bagaikan garam yang menghambat proses pembusukan. Jikalau di dalam sebuah masyarakat tidak ada lagi gereja yang sejati maka masyarakat itu akan menuju kepada kerusakan yang semakin parah.

Sebuah masyarakat yang sudah rusak oleh keberdosaan tidak mungkin memiliki konsep keadilan yang sejati. Coba perhatikan negara-negara Barat pada saat ini. Negara-negara yang dulu bertumbuh dengan pesat bahkan menjadi mercusuar bagi konsep keadilan sosial, pada saat ini menjadi negara yang begitu rusak moralnya dan jauh dari cita-cita masyarakat adil dan makmur. Semua ini dimulai dari kemurnian iman yang dikompromikan dan berita firman yang direduksi.

Jika firman dan iman yang murni ditinggalkan, masyarakat itu akan semakin kehilangan arah, dan juga manusia-manusia yang takut akan Allah serta yang memiliki hati untuk memperjuangkan keadilan sosial. Jikalau manusia, yang adalah bagian terpenting di dalam suatu sistem ekonomi, adalah manusia yang corrupt, sistem ekonomi sebaik apa pun akan menjadi sebuah sistem yang rusak. Oleh karena itu, keberadaan gereja yang sejati sangatlah krusial di dalam masyarakat.

Pillar 2: Democratic Government as God’s Agent (Law of Charity) – Existential Perspective
Pemerintah ditunjuk oleh Tuhan untuk menyatakan keadilan-Nya. Orang-orang yang dipilih untuk masuk di dalam lingkup pemerintahan seharusnya adalah orang-orang yang memang memiliki kapasitas yang memadai, disertai kematangan pribadi dan rohaninya. Hal ini penting karena pemerintah ada sebagai wakil Allah. Pemerintahan benar adalah pemerintahan yang menyatakan God’s Presence di dalam sebuah masyarakat. Kita dapat mempelajari di dalam Alkitab, bahwa raja-raja yang benar adalah raja-raja yang menjalankan kehendak Allah. Sehingga setiap hal yang dikerjakan oleh pemerintahan yang benar bagaikan Allah yang secara langsung memimpin pergerakan bangsa tersebut.

Bentuk awal pemerintahan yang kita pelajari di dalam Alkitab adalah Theokrasi (Allah yang memimpin pemerintahan tersebut). Pada masa-masa awal bangsa Israel, mereka dipimpin oleh orang-orang yang secara khusus Tuhan persiapkan untuk menjadi wakil-Nya. Bentuk demokrasi awal yang dicatatkan Alkitab justru dicatatkan sebagai momen kejatuhan Israel. Secara demokratis mereka memilih Saul yang justru adalah seorang pemimpin yang melawan Tuhan. Hal ini mengajarkan kita bahwa demokrasi tidak selalu bentuk pemerintahan yang ideal. Pdt. Stephen Tong menyatakan bahwa salah satu syarat demokrasi yang sehat adalah kematangan dari masyarakatnya di dalam segala aspek (pendidikan, politik, kesadaran sosial, dan lain-lain). Pemilihan Saul sebagai raja bangsa Israel adalah sebuah contoh yang menggambarkan buah dari penerapan demokrasi di dalam masyarakat yang masih premature. Sehingga bukan keadilan sosial yang dijalankan, tetapi kerusakan demi kerusakan karena hati Saul yang egois. Oleh karena itu, kita harus melihat bentuk pemerintahan ini secara dinamis, bergantung pada konteks masyarakat yang dipimpin, dengan tujuan menerapkan keadilan sosial.

Penerapan keadilan sosial dalam sebuah pemerintahan dapat dilihat dari dua sisi yaitu negatif maupun positif. Secara negatif, berarti pemerintah hadir untuk mencegah terjadinya ketidakadilan sebagai kesadaran bahwa dosa akan selalu ada di dalam sebuah masyarakat. Di dalam konteks ini, pemerintah diberikan otoritas untuk mengontrol masyarakat demi mencegah kerusakan yang lebih parah dalam sebuah masyarakat. Di sisi lain, kehadiran pemerintah dapat dilihat secara positif, maksudnya adalah pemerintah hadir untuk menjamin masyarakat dapat menjalankan kebebasannya sebagai seorang manusia.

Salah satu contoh adalah membuka kesempatan-kesempatan bagi masyarakatnya untuk menyalurkan kemampuan yang mereka miliki, melakukan intervensi pasar untuk menstabilkan harga, mengeluarkan kebijakan fiskal serta moneter, dan memberikan dukungan sebagai bentuk bantuan pemerintah kepada masyarakat yang berkekurangan. Semua ini dilakukan demi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur.

Pillar 3: Market Economy as God’s Control Reflector (Christian Liberty) – Situational Perspective
Dengan ditegakkannya purity of faith dan law of charity sebagai guideline bagi kebebasan, konsep market economy dapat dijalankan. Kita harus mengapresiasi konsep mekanisme pasar yang memberikan prinsip yang baik dalam menjalankan sebuah perekonomian. Konsep ini memberikan ruang bagi setiap pelaku ekonomi untuk menyalurkan kemampuannya dan melakukan pertukaran. Konsep pertumbuhan ekonomi yang berbasiskan kebebasan untuk melakukan pertukaran kemampuan memiliki konsep yang sejalan dengan Alkitab. Setiap manusia memiliki berkat secara natural (talenta, kesempatan, pengaruh lingkungan, budaya, dan lain-lain) yang berbeda-beda. Perbedaan inilah yang memungkinkan manusia untuk melakukan pertukaran satu dengan lainnya untuk dapat saling melengkapi kebutuhannya. Konsep inilah yang dinamakan Exchanging God’s Gift. Konsep ekonomi pasar memberikan kebebasan bagi manusia untuk menggali segala potensi yang Tuhan sudah berikan. Dengan potensi ini manusia dapat menghasilkan produk atau jasa yang ia bisa tawarkan di pasar untuk ditukarkan dengan orang lain yang juga memiliki kelebihan di dalam hal yang lain. Dengan Exchanging God’s Gift, kita sebagai ciptaan-Nya dapat menjalankan fungsi kita sebagai gambar Allah, menyatakan akan God’s Control atau kuasa Allah di dalam diri kita.

Konsep pertukaran seperti ini akan memberikan hasil yang sangat baik, karena kedua belah pihak akan saling mendapatkan keuntungan dan kepenuhan. Dan melalui konsep inilah masyarakat dapat membangun kemakmurannya. Di sini kita bisa melihat konsep kebebasan yang mendorong terbentuknya masyarakat yang makmur. Dengan tunduknya kebebasan ini kepada purity of faith dan law of charity, maka masyarakat yang adil pun dapat mulai terbentuk.

Kesimpulan
Kita harus mensyukuri akan sebuah gerakan yang begitu agung yang Tuhan nyatakan di dalam sejarah. Sebuah gerakan yang merevolusi seluruh aspek kehidupan umat manusia secara fundamental. Gerakan ini kita kenal sebagai Gerakan Reformasi. Sebuah warisan sejarah yang sudah ditinggalkan oleh gereja-gereja pada saat ini, tetapi justru memiliki signifikansi dan relevansi yang sangat penting bagi pergumulan zaman ini. Penerapan pemikiran John Calvin di dalam the three pillars of a just and abundant society adalah langkah awal di dalam membangun sistem ekonomi yang berbasiskan Theologi Reformed. Hal ini harus kita usahakan secara utuh untuk menyatakan the Lordship of God (God’s Authority, God’s Presence, dan God’s Control) di dalam bidang ekonomi. Kita harus terus mengingat bahwa membangun masyarakat yang adil dan makmur bukanlah tujuan akhir dari ekonomi. Itu hanya sebagian dari tujuan yang merupakan side-effect dari tujuan akhir yang sesungguhnya, yaitu untuk kemuliaan Tuhan. Biarlah artikel ini dapat memicu setiap kita untuk lebih lanjut memikirkan penerapan Theologi Reformed di dalam bidang ekonomi. Kiranya semangat yang lahir pada 499 tahun yang lalu, “A spirit that takes the whole church with the whole heart back to the whole Bible,” membawa kebenaran untuk menerangi seluruh aspek kehidupan manusia. Semangat yang rindu seluruh bagian hidup ini memuliakan Tuhan. Semangat-semangat seperti inilah yang perlu kita bawa ke dalam bidang ekonomi. Harap peringatan Hari Reformasi ini mengingatkan kita kembali akan tugas dan panggilan kita sebagai Umat Allah.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Referensi:
1. Campbell R. McConnell, Stanley L. Brue, and Sean M. Fynn, Economics: Principles, Problems, and Policies (New York, McGraw-Hill, 2009).
2. John E. Stapleford, Bulls, Bears and Golden Calves: Applying Christian Ethics in Economics (Downers Grove, IL: Inter Varsity Press, 2015).
3. David E. Hall and Matthew D. Burton, Calvin and Commerce (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2009).
4. John Calvin, Institutes of Christian Religion (Louisville, Kentucky: Westminster John Knox Press, 2006).
5. John M. Frame, The Doctrine of Christian Life (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2008).
6. John M. Frame, A History of Western Philosophy and Theology (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2016).
7. John M. Frame, Systematic Theology: An Introduction to Christian Belief (Phillipsburg, NJ: P&R Publishing, 2015).

Simon Lukmana

Oktober 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲